Available online at : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/gjik Gladi : Jurnal Ilmu Keolahragaan 11 (02) 2020, 151-164 Permalink/DOI: https://doi.org/10.21009/GJIK.112.08 HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN PELATIH DENGAN PRESTASI ATLET TAEKWONDO Geraldi Novian 1 , Ira Purnamasari Mochamad Noors 1 1 Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Jawa Barat, Indonesia 40154 Corresponding author. Email : geraldi.novian@gmail.com Abstrak. Permasalahan yang penulis ajukan pada penelitian ini mengenai gaya kepemimpinan pelatih yang merupakan salah satu dari sekian banyak faktor yang berhubungan dengan prestasi atlet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang gaya kepemimpinan yang digunakan pelatih dalam menangani atlet taekwondo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah atlet taekwondo peserta pertandingan Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) V Banten tahun 2018 yang berjumlah 145 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling, sehingga sampel dalam penelitian ini berjumlah 145 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket gaya kepemimpinan pelatih dan data prestasi atlet yang diperoleh dari hasil pertandingan. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo; (2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan authoritarian dengan prestasi atlet taekwondo; (3) terdapat hubungan positif namun tidak signifikan antara gaya kepemimpinan democratic, people-centered, dan task-oriented dengan prestasi atlet taekwondo. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan Pelatih; Prestasi; Atlet Taekwondo. Abstract. The problem that the writer poses in this study is about the coach's leadership style which is one of the many factors related to an athlete's performance. The purpose of this study was to determine the relationship between the coach's leadership style and the athlete's taekwondo performance. Besides, this study was conducted to obtain in-depth information about the leadership styles used by coaches in dealing with taekwondo athletes. This research uses a descriptive method. The population of this study was 145 taekwondo athletes participating in the Provincial Sports Week (PORPROV) V Banten competition in 2018. The sampling technique used in this study was total sampling, so the sample in this study amounted to 145 people. The instrument used in this study was a coach leadership style questionnaire and athlete achievement data obtained from the results of the competition. Based on the results of data processing and analysis, it can be concluded that: (1) there is a positive and significant relationship between the coach's leadership style and the athlete's taekwondo performance; (2) there is a positive and significant relationship between authoritarian leadership style and taekwondo athlete achievement; (3) there is a positive but insignificant relationship between democratic, people-centered, and task-oriented leadership styles and the achievements of taekwondo athletes. Keywords: Coach’s Leadership Style, Achievement, Taekwondo Athletes. Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 152 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors PENDAHULUAN Fungsi pelatih sebagai pemimpin menarik untuk dikaji dan dievaluasi, terdapat berbagai macam paradigma positif dan negatif yang siap untuk dibahas. Kita tahu bersama bahwa salah satu kunci utama keberhasilan atlet terdapat pada bagaimana pelatih dalam memimpin, baik pada diri sendiri maupun orang lain (dalam hal ini atletnya). Dieffenbachia, et al. (2002) dalam Pilus, et al. (2009) berpendapat bahwa, “An important aspect of a good coach-athlete relationship is the coach’s ability to understand each athlete as an individual and to tailor his/her coaching style and atention to suit those need”. Martens (2004) dalam Khalaj, Khabiri, et al. (2011) juga berpendapat bahwa, “Coaching is an occupation different from other occupations in the society and the coach is expected to give gentle and good persons to the society”. Pendapat ini memperkuat bahwa pelatih memang benar diharapkan memberikan dampak baik bagi atletnya secara spesifik berupa keberhasilan melalui interaksi yang terjadi antara pelatih dengan atletnya. Hasil interaksi antara pelatih dengan atlet dapat tercermin dari berbagai hal, salah satunya adalah kepuasan diri atlet itu sendiri. Caliskan & Baydar (2016) mejelaskan bahwa kepuasan diri atlet merupakan “The important outcome to a variety of psychological variables define as a positive, affective state resulting from a complex evaluation of the structures, processes, and outcomes associated with the athletic experience or may express concern about athletes performance and the degree to which it reaches or fails to achieve expected levels”. Burns, Jasinski, et al. (2012) menjelaskan bahwa, “Athlete satisfaction represents how happy, or content, athletes are with their athletic experience”, yang berarti bahwa kepuasan atlet merupakan wujud dari seberapa bahagia atlet dengan pengalaman atau hal yang terjadi dalam diri mereka. Dari penjelasan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan atlet merupakan salah satu wujud dari kepuasan diri yang tidak bisa diperoleh atlet dengan begitu saja. Keberhasilan atlet tersebut merupakan prestasi yang diraihnya. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah tipe pelatihnya. Maghsoudi (2009) dalam Khalaj, Khabiri, et al. (2011) menjelaskan bahwa, “Type of coach's behavior and ethics may influence athlete's satisfaction; therefore, one of important factors in Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 153 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors coaching is gaining athlete's satisfaction”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, “The most important aspect of effective leadership is to improve performance, motivate athletes, and give them sports satisfaction” (Nizam, Shapie, et al., 2016). Pendapat tersebut memiliki arti bahwa aspek yang paling penting dari kepemimpinan yang efektif adalah untuk meningkatkan performa, memotivasi atlet, dan memberi mereka kepuasan dalam olahraga. Keberhasilan atlet tersebut atau biasa kita kenal dengan prestasi, merupakan harapan bagi setiap pelatih karena secara tidak langsung akan mencerminkan dirinya sendiri. Namun, perlu diperhatikan bahwa pencapaian prestasi olahraga pada dasarnya merupakan hasil akumulatif dari berbagai aspek atau unsur yang mendukung tercapainya prestasi tersebut. Bagaimana cara atau gaya kepemimpinan dari pelatih pun sangat berhubungan dengan pencapaian prestasi atlet. Penelitian yang dilakukan Khooran, et al. (2008) dalam Khalaj, Khabiri, et al. (2011) memperoleh hasil, “A positive relation between leadership behaviors realized by athlete (exercise and training, democratic behavior, social support and positive feedback) with athlete's satisfaction”. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Nizam, Shapie, et al. (2016) menemukan bahwa, “There was positive correlation between coaching leadership styles (training and instruction, democratic and social behaviors) and athlete satisfaction”, yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang positif antara gaya kepemimpinan pelatih (instruksi dan pelatihan, perilaku sosial dan demokratis) dan kepuasaan atlet. Dimana perlu diingat bahwa salah satu indikator atlet merasa puas adalah terbayarnya proses panjang yang ditempuh selama proses pelatihan dengan prestasi. Penelitian ini berangkat dari masalah yang ditemukan penulis di lapangan dan juga hasil observasi dari berbagai pihak. Banyak orang termasuk para atlet yang beranggapan bahwa rendahnya prestasi merupakan salah pelatih dalam fungsinya sebagai pemimpin, hal ini menyebabkan atlet yang memiliki potensi menjadi putus asa dan menghentikan proses latihannya. Walaupun tidak sedikit juga yang menilai bahwa pencapaian prestasi atlet berasal dari latar belakang pelatihnya. Penulis secara khusus melakukan observasi terhadap dua atlet taekwondo, satu orang atlet berasal dari kiblatnya taekwondo di Indonesia yaitu provinsi Jawa Barat, dan satu orang atlet lagi berasal dari provinsi Banten. Kedua atlet ini sama-sama memiliki latar belakang pelatihan dan track record yang baik, namun sayang disayangkan terdapat perbedaan pencapaian Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 154 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors prestasi ketika mereka membela tim A dan tim B. Ketika membela tim A, atlet mampu meraih prestasi maksimal, yaitu medali emas. Namun, ketika membela tim B, atlet tidak mampu meraih prestasi maksimal, padahal mengalami proses latihan yang sama beratnya dan tingkat pertandingan yang diikuti lebih rendah dari pada ketika membela tim A. Setelah diteliti lebih dalam, diketahui bahwa pelatih yang menangani atlet tersebut pada setiap timnya berbeda-beda. Penulis berasumsi bahwa hal ini sangat berhubungan erat dengan bagaimana cara si pelatih menangani atlet tersebut. Penulis juga merasa resah akan minimnya raihan prestasi provinsi tempat penulis dilahirkan, yaitu provinsi Banten. Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi yang minim raihan prestasi pada cabang olahraga taekwondo di tingkat Nasional. Sebagai contoh, pada pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat tahun 2016 silam, raihan prestasinya masih jauh dari kata baik, masih belum maksimal. Seperti yang diketahui bersama bahwa ajang PON merupakan ajang yang sangat baik bagi setiap praktisi olahraga, khususnya atlet. Mendapatkan prestasi pada ajang PON merupakan hal yang sangat membanggakan, karena PON adalah multy- event olahraga terbesar di Indonesia. Untuk dapat berlaga pada PON, ada jenjang yang harus dilewati atlet, dari mulai tingkat kota/kabupaten, provinsi, babak kualifikasi hingga akhirnya berkesempatan berlaga pada PON. Gambar 1. Klasemen PON XIX Jawa Barat tahun 2016 Cabang Olahraga Taekwondo Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa provinsi Banten hanya berada pada posisi 13 dengan raihan 3 medali perunggu. Berdasarkan data yang penulis peroleh melalui bidang pembinaan dan prestasi (binpres) pengurus provinsi Taekwondo Indonesia Banten, tim taekwondo Banten pada ajang PON XIX ditangani oleh tim pelatih yang terdiri dari 3 pelatih kyorugi (tarung) dan 1 pelatih poomsae (seni). Dari data yang diberikan, pelatih-pelatih dalam tim tersebut memiliki pengalaman- pengalaman yang menurut penulis sudah sangat hebat, mulai dari prestasi semasa menjadi atlet hingga karir melatih tim Taekwondo Banten baik kategori junior maupun senior sejak tahun 2008 silam. Pelatih-pelatih tersebut juga memiliki latar Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 155 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors belakang yang baik secara akademis maupun lisensi/sertifikasi. Penulis merasa resah akan keadaan ini, karena penulis menyadari bahwa setiap provinsi dari sabang sampai merauke pasti memiliki atlet-atlet potensial, tidak terlepas provinsi Banten. Sungguh disayangkan jika atlet- atlet potensial tersebut ditangani oleh pelatih yang kurang mengetahui bagaimana cara menanganinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang gaya kepemimpinan yang digunakan pelatih dalam melatih atlet taekwondo. Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi untuk menangani atlet taekwondo berikutnya dan juga bahan evaluasi bagi pelatih maupun pengurus. Gaya Kepemimpinan Pelatih. Kepemimpinan merupakan dasar kata dari pemimpin atau dalam arti luas adalah seorang yang mampu menjadi sosok pengatur dan pembimbing seseorang atau kelompok. Dalam pelaksanaannya, setiap pelatih memiliki cara untuk memimpin tim guna mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Cara memimpin antara satu pelatih dan pelatih yang lainnya belum tentu sama atau bisa dikatakan berbeda- beda. Cara memimpin itulah yang disebut dengan gaya kepemimpinan. Yuki dan Van Fleet (Chelladurai, 2006, hlm. 190) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses yang memengaruhi tujuan, memengaruhi strategi tugas sebuah kelompok atau organisasi, memengaruhi orang-orang di dalam organisasi untuk mengimplementasikan strategi, memengaruhi budaya organisasi, memengaruhi pemeliharaan bentuk dan identifikasi kelompok, serta memenuhi tujuan tersebut. Gaya kepemimpinan pelatih sendiri dijelaskan oleh Veithzal (2004) bahwa, “Gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya”. Gaya kepemimpinan pelatih umumnya memiliki kesamaan dengan gaya-gaya kepemimpinan lainnya, seperti: gaya mengajar pada guru, gaya kepemimpinan seorang manajer perusahaan, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa hal khusus yang terdapat pada gaya kepemimpinan pelatih ini. Harsono (2017) mengemukakan bahwa pada umumnya terdapat empat jenis gaya kepemimpinan yang standar dan yang dianut oleh para pelatih, yaitu gaya authoritarian (otokratis/otoriter), gaya demokratis, gaya yang lebih memerhatikan Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 156 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors anak buah/atlet (people-centered/person- centered) dan gaya yang lebih menekankan pada tugas (task-oriented). Prestasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dikerjakan. Dalam dunia olahraga, prestasi merupakan gambaran tingkat pencapaian dari suatu kegiatan pertandingan/perlombaan yang telah diikuti. Prestasi seorang atlet tidak diraih dengan mudah, melainkan melalui proses latihan yang dilakukan secara terprogram, sistematis, terarah dan berkesinambungan sesuai dengan cabang olahraganya. Lutan (1988) berpendapat bahwa, “Tidak semua atlet akan mencapai prestasi tinggi meskipun dia telah mengikuti latihan berat. Faktor-faktor seperti anatomi, fisiologi dan pernafasan berpengaruh langsung terhadap limit seseorang”. Lutan (1988) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi pencapaian prestasi dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu: 1) Faktor endogen dan, 2) Faktor eksogen. Yang dimaksud faktor endogen ialah atribut atau ciri-ciri yang melekat pada aspek fisik dan psikis seseorang, sementara faktor eksogen diartikan semua faktor di luar dari individu baik yang terdapat di lingkungan yang lebih umum pengertiannya. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi tidak dapat diraih dengan semudah membalikkan telapak tangan, namun diperlukan proses yang panjang dan tidak mudah. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam metode ini adalah metode deskriptif, karena penulis tidak memberikan perlakuan terhadap sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta pertandingan Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) V Banten tahun 2018 yang berjumlah 145 atlet. Penulis menggunakan teknik total sampling untuk pengambilan sampel, sehingga sampel merupakan seluruh populasi. Alasan penulis memilih sampel ini adalah karena masalah yang ditemukan berada pada sampel, dan juga karena PORPROV/PORDA adalah multy-event berjenjang untuk dapat bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON). Instrumen penelitian yang digunakan ada dua, yaitu: (1) Kuesioner gaya kepemimpinan pelatih yang telah dilakukan uji coba sebelumnya, terdiri dari 39 soal valid dengan cronbach’s alpha 0,901; dan (2) Data hasil pertandingan pada Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) V Banten tahun 2018. HASIL DAN PEMBAHASAN Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 157 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors Hasil. Data yang diperoleh merupakan data mentah sehingga perlu diolah dan dianalisis terlebihdahulu. Adapun data diolah dan dianalisis menggunakan bantuan software Statistical Product and Service Solution (SPSS) 24. Kemudian data disajikan data bentuk tabel. Tabel 1. Deskripsi Data Variabel GK. Authoritarian GK. Democratic GK. People- Centered GK. Task- Oriented Prestasi Atlet TKD N Valid 145 145 145 145 145 Missing 0 0 0 0 0 Mean 23,43 50,18 46,39 31,40 63,17 Median 24,00 50,00 45,00 32,00 64,00 Std. Deviation 2,134 5,434 3,550 2,462 6,860 Minimum 18 37 38 26 52 Maximum 29 63 59 38 73 Dari tabel di atas, kita dapat melihat nilai mean, median, standar deviasi, minimal, dan maksimal untuk setiap indikator. Dapat dilihat bahwa, tidak ada satupun data yang hilang. Setelah melakukan deskripsi data, penulis melakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Variabel Asymp. Sig. (2-tailed) Keterangan GK. Authoritarian ,000 c Tidak Normal GK. Democratic ,000 c Tidak Normal GK. People-Centered ,000 c Tidak Normal GK. Task-Oriented ,000 c Tidak Normal Prestasi Atlet TKD ,000 c Tidak Normal Berdasarkan hasil uji normalitas, diperoleh bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga penulis menggunakan uji statistik non-parametrik dengan analisis korelasi sederhana (bivariate correlation) Spearman Rank Correlations. Dalam melakukan uji korelasi, penulis menguji variabel gaya kepempinan pelatih secara keseluruhan dengan prestasi atlet taekwondo dan menguji setiap indikator variabel gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo. Tabel 3. Hasil Uji Korelasi Variabel GK. Keseluruhan GK. Authoritarian GK. Democratic GK. People- Centered GK. Task- Oriented Prestasi Atlet TKD Positif dan Signifikan Positif dan Signifikan Positif dan Tidak Signifikan Positif dan Tidak Signifikan Positif dan Tidak Signifikan Correlation Coefficient ,287** ,339 ** ,151 ,078 ,100 Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif yang Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 158 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors signifikan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo; (2) terdapat hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan authoritarian dengan prestasi atlet taekwondo; (3) terdapat hubungan positif namun tidak signifikan antara gaya kepemimpinan democratic, people-centered, task-oriented dengan prestasi atlet taekwondo. Pembahasan. Melatih dapat didefinisikan sebagai “A set of strategies designed to increase a coach’s ability to influence the behaviour of team members and athletes more effectively” (Smith, 2010, dalam Moen, 2014). Moen (2014) menjelaskan lebih lanjut bahwa, “Therefore, coaches need to reflect upon their own behaviour and understand the motivation behind the behaviour of others”. Secara sederhananya, “A good coach must be able to see each athlete as a unique individual and adapt his/her performance enhancement system to each athlete’s particular needs” (Kristiansen, Tomten, et al., 2012 dalam Moen 2014). Oleh karena itu, pelatih perlu meningkatkan kemampuannya dalam melatih serta mengetahui bagaimana diri sendiri dan atlet yang ditangani agar dapat memberikan dampak positif bagi atletnya. West, LaShell (2016) menjelaskan bahwa, “Motivated athletes tend to perform well if they perceive more positive communications with the coach” yang berarti bahwa atlet yang termotivasi cenderung memberikan performa yang baik jika mereka merasakan komunikasi yang lebih positif dengan pelatihnya. West, LaShell (2016) juga berpendapat bahwa, “The most important leadership skill is the ability to communicate effectively”. Hubungan pelatih berada pada urutan yang penting untuk menumbuhkan dan mengolah atlet-atlet yang berpotensi dalam dunia olahraga. “Functional relationships between coaches and athletes are found to be crucial in order to cultivate and growan athlete’s potential in sport” (Jones, 2006; Jowett, 2007; Jowett & Ntoumanis, 2004; Lyle & Cushion, 2010 dalam Moen, 2014). Nizam, Shapie, et al. (2016) mengemukakan bahwa, “There was positive correlation between coaching leadership styles (training and instruction, democratic and social behaviors) and athlete satisfaction”. Pencapaian prestasi dalam olahraga pada dasarnya merupakan hasil akumulatif dari berbagai aspek atau unsur yang mendukung tercapainya prestasi. Terdapat empat aspek atau unsur yang mendukung tercapainya prestasi, yaitu: teknik, fisik, taktik dan psikologis. Jika salah satu aspek tersebut diabaikan, maka pencapaian prestasi akan semakin sulit terjadi dan pelatih adalah sosok yang memiliki pengaruh besar dalam Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 159 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors menentukan pencapaian prestasi seorang atlet. Hal ini dijelaskan juga oleh Harsono (2017) bahwa, “Pelatih adalah sosok yang penting artinya bagi setiap atlet, oleh karena tanpa bimbingan dan pengawasan dari seorang pelatih, prestasi yang tinggi akan sukar dicapai”. Teknik, fisik, taktik dan psikologis merupakan aspek latihan yang dimana antara satu dengan lainnya saling berhubungan. Atlet yang memiliki kondisi fisik yang baik belum tentu dapat memberikan performa yang baik juga pada saat pertandingan karena kondisi fisik yang baik tidak menjamin keadaan psikologis juga baik. Psikologis pada atlet salah satunya bergantung pada sosok yang sering menjadi lawannya dalam berinteraksi, yaitu pelatihnya. Kemampuan atau karakter atlet sangat dipengaruhi oleh pelatih, secara khusus oleh bagaimana pelatih memperlakukan atletnya. Gaya kepemimpinan authoritarian pada dasarnya merupakan gaya kepemimpinan yang cenderung negatif, karena secara sederhananya tidak memberikan ruang yang besar bagi atlet. Namun, pada penelitian ini gaya kepemimpinan authoritarian memiliki tingkat hubungan yang paling tinggi jika dibandingan dengan gaya kepemimpinan yang lain. Penulis berasumsi bahwa hal ini diakibatkan cabang olahraga yang diteliti, yaitu beladiri taekwondo. Hal ini disebabkan karena adanya unsur-unsur khusus pada cabang olahraga taekwondo, yaitu: disiplin, tanggungjawab, respect, dan lain sebagainya. Secara khususnya, unsur- unsur tersebut tertuang dalam janji Taekwondo Indonesia. Gaya kepemimpinan democratic merupakan gaya kepempimpinan yang bertolak-belakang dengan gaya kepemimpinan authoritarian. Gaya kepemimpinan ini cenderung positif karena sangat memberikan ruang yang luas bagi atlet. Namun, pada penelitian ini gaya kepemimpinan democratic tidak memperoleh angka yang tinggi. Gaya kepemimpinan democratic berada pada satu tingkat di bawah gaya kepemimpinan authoritarian. Gaya kepemimpinan people- centered merupakan gaya kepemimpinan yang tidak cenderung ke positif maupun netral, artinya gaya kepempimpinan ini abu-abu atau berada pada sisi netral. Berpusat pada individu/person ternyata tidak memiliki angka korelasi yang tinggi bagi prestasi atlet taekwondo. Bahkan, gaya kepemimpinan ini memiliki angka korelasi yang paling rendah diantara gaya kepemimpinan lainnya. Gaya kepemimpinan task-oriented adalah gaya kepemimpinan yang berpusat pada tugas/program latihan yang harus dijalankan atlet. Gaya kepemimpinan ini Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 160 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors memiliki nilai interpretasi keeratan sangat rendah. Sama halnya dengan gaya kepemimpinan people-centered, gaya kepemimpinan task-oriented tidak cenderung ke sisi positif maupun negatif, artinya gaya kepempimpinan ini abu-abu atau berada pada sisi netral. Mengacu pada penyelesaian tugas ternyata sama halnya dengan berpusat pada individu, memiliki angka korelasi yang tidak jauh berbeda, yaitu hanya berada satu tingkat di atasnya. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nizam, Shapie, et al. (2016) yang mengemukakan bahwa, “There was positive correlation between coaching leadership styles (training and instruction, democratic and social behaviors) and athlete satisfaction”. Penelitian ini membuktikan bahwa pendapat di atas memang benar adanya. Untuk mempermudah, hasil analisis data dari setiap gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo disajikan dalam bentuk diagram di bawah ini. Gambar 2. Persentase Hasil Hasil yang berbeda pada setiap gaya kepemimpinannya menunjukkan bahwa atlet taekwondo tidak dapat dilatih dengan satu gaya kepemimpinan pelatih, artinya pelatih harus mampu menerapkan gaya yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi. Angka tertinggi juga berada pada gaya kepemimpinan authoritarian, penulis berasumsi hal ini disebabkan oleh cabang olahraga dari sampel yang diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa pada cabang olahraga beladiri taekwondo, gaya kepemimpinan authoritarian ini yang mendominasi kecocokan bagi atlet dalam pencapaian prestasi. Namun, hal ini tentunya tidak dapat dijadikan acuan mutlak untuk memperoleh prestasi maksimal karena terdapat faktor lain yang mempengaruhinya, seperti: fisik, teknik, strategi, peralatan, luck, motivasi, dan lain sebagainya. Kekurangan pada sampel saat pengisian kuesioner juga menjadi bahan pertimbangan sendiri dalam hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Terdapat banyak kasus di lapangan khususnya pada cabang olahraga taekwondo yang membuktikan bahwa penampilan atlet dapat menjadi kurang maksimal karena terjadi kekurangan pada psikologisnya, seperti: anxiety, kurang konsentrasi, takut, kurang percaya diri dan lain sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan penampilan atlet kurang Authoritaria n 51% Democratic 22% People Centered 12% Task Oriented 15% GAYA KEPEMIMPINAN PELATIH Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 161 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors maksimal walau telah berlatih keras. Kuan & Roy (2007) dalam Komarudin (2016) menegaskan bahwa, “Salah satu faktor yang sering berhubungan dengan performa yang baik dalam sebuah kompetisi adalah ketahanan mental dan ketahanan mental tersebut termasuk faktor keterampilan mental”. Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh beberapa ahli lainnya bahwa mental sangat penting untuk meningkatkan performa atlet (Veakey, 1988; Rushall, 2008; Chee, 2010; dalam Komarudin, 2016). Dalam konteks penelitian ini, perlu diperhatikan bahwa gaya kepemimpinan pelatih memiliki konstelasi dengan kondisi atau attitude atlet taekwondo. Konstelasi ini berkaitan dengan taksonomi psikomotorik (Harrow, 1971) secara spesifik yaitu kemampuan perseptual (perceptual abilities). Kemampuan perseptual membantu seseorang menafsirkan stimuli secara tepat sehingga individu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan dapat menghasilkan perilaku yang efektif dan efisien (Mahendra, 2007). Kemampuan ini membantu individu dalam menginterpretasikan stimulus yang menjadikannya mampu membuat penyesuaian terhadap lingkungan. Kemampuan perseptual menunjuk pada semua modalitas perseptual individu yang berperan dalam menerima rangsangan yang datang padanya serta membawanya ke pusat otak yang lebih tinggi untuk diinterpretasikan. Hasil dari interpretasi inilah yang kemudian digunakan untuk mengambil keputusan pemberian respons oleh otak pusat otak (Mahendra, 2007). Selain hal di atas, konstelasi antara gaya kepemimpinan pelatih dengan kondisi atau attitude atlet taekwondo ini juga berkaitan dengan teori belajar, secara khususnya yaitu teori stimulus respon. Belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku (Paul, 1997). Hergenhahn dan Olson (1993) dalam Mahendra (2007) mendefinisikan belajar sebagai “A relatively permanen change in behavioral potentiality that occurs as a result of reinforced practice”. Salah satu tokoh penggagas teori behavioristik yang berasal dari Amerika Serikat bernama Edward L. Thorndike (1874 - 1919) mengemukakan bahwa, “Belajar adalah sebuah proses interaksi antara stimulus dan respon” (dalam Budiningsih, 2005). Thorndike memplokamirkan teori belajar, ia mengungkapkan bahwasanya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Teori Thorndike ini memiliki Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 162 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors beberapa sebutan lain yang lazim, yaitu: S – R Bond Theory, Connectionism Theory, Trial and Error. Stimulus adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan individu ketika menerima respon, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan. Skinner (dalam Slavin, 2000) mengemukakan bahwa, “Hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku”. Menurutnya stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi, yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Penjelasan di atas menjadi dasar dan juga penguat bagi penulis untuk mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan pelatih ini berkonstelasi dengan kondisi atau attitude atlet taekwondo. Jika cara atau gaya yang digunakan oleh seorang pelatih dalam menangani atlet cenderung asal atau tidak sesuai, maka hal tersebut berpengaruh terhadap kondisi atau attitude atlet berikutnya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa pelatih memiliki tingkat keintiman yang tinggi dengan atlet dalam proses latihan, dan proses latihanpun merupakan sebuah proses belajar. Kemungkinan besar kondisi atau attitude atlet akan terbentuk dengan sendirinya melalui interaksi- interaksi yang terjadi. Jika stimulus yang diberikan pelatih baik, maka atlet juga akan memberikan respon yang baik. Namun sebaliknya, jika stimulus yang diberikan pelatih buruk, maka atlet juga akan memberikan respon yang buruk. Maka, pelatih harus sangat memperhatikan cara atau gaya yang akan digunakan, karena itu merupakan stimulus yang akan direspon oleh atlet melalui kondisi atau attitude atlet dalam kehidupannya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan pelatih dengan prestasi atlet taekwondo; 2. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan authoritarian dengan prestasi atlet taekwondo; 3. Terdapat hubungan positif namun tidak signifikan antara gaya kepemimpinan democratic, people-centered, task- oriented dengan prestasi atlet taekwondo; Saran. Berdasarkan penelitian yang Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 163 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors telah dilakukan, penulis dapat memberikan beberapa saran, yaitu: 1. Selain pemahaman dan penerapan program latihan yang tepat, seorang pelatih juga sangat penting memperhatikan gaya yang digunakan dalam pelatih, karena hal ini akan berpengaruh pada psikologis atlet dan tim itu sendiri, dan tentunya aspek ini cukup berperan dalam menunjang prestasi atlet. 2. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan tidak akan pernah lepas dari salah. Maka, diperlukan adanya komunikasi yang membangun, baik antara atlet dengan pelatih maupun pengurus dengan pelatih. Hal ini dimaksudkan agar pelatih bisa lebih mengetahui hal baik untuk menunjang prestasi atlet. 3. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan agar lebih dapat mengembangkan penelitian dengan cakupan yang lebih luas dan kajian yang lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA Berg & Karlsen. (2016). A Study of Coaching Leadership Style Practice in Projects. Management Research Review, 1-22. Burns, Jasinski, et al. (2012). Athlete Identity and Athlete Satisfaction: The Nonconformity of Exclusivity. Journal Personality and Individual Differences, 52, 280-285. Caliskan & Baydar. (2016). Satisfaction Scale For Athlete (SSA): A Study of Validity and Reliability. European Scientific Journal, 12 (14), 13-26. Eliadis, A. (2016). Coaching as a Leadership Style: The Perceived Benefits of a Leader Adopting a Coach Approach Leadership Style. (Thesis). University of Texas at Dallas. Harsono. (2017). Teori dan Metodologi Kepelatihan Olahraga. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ibrahim, R. (2015). Psikologi Kepelatihan. Bandung: Red Point. Kao dan Tsai. (2016). Transformational Leadership and Athlete Satisfaction: The Mediating Role of Coaching Competency. Journal of Aplied Sport Psychology, 1533-1571. Khalaj, Khabiri, et al. (2011). The Relationship between Coaches Leadership Styles & Player Satisfaction in Women Skate Championship. Procedia Social and Behavioral Sciences, 15, 3596– 3601. Komarudin. (2016). Psikologi Olahraga. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mahendra, A. (2007). Teori Belajar Motorik. Bandung: Red Point. Ma’mun, A. (2011). Kepemimpinan dan Kebijakan Pembangunan Olahraga. Bandung: Red Point. Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 11 (02), Oktober- 164 Geraldi Novian, Ira Purnamasari Mochamad Noors Moen, F. (2014). The Coach-Athlete Relationship and Expectations. International Journal of Humanities and Social Science, 4, (11), 29-40. Nizam, Shapie, et al. (2016). The Correlation between Leadership Coaching Style and Satisfaction among University Silat Olahraga Athletes. Ido Movement For Culture: Journal of Martial Arts Anthropology, 16, (3), 34-39. Pilus & Saadan. (2009). Coaching Leadership Styles and Athlete Satisfactions Among Hockey Team. Journal of Human Capital Development, 2, (2), 77-87. Rivai, Veithzal. (2004). Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sabri, Yen, et al. (2012). Athletes’ Satisfaction with The Coaches Leadership Styles in Schools’ High Performance Sports Programme. (Paper). Faculty of Sport Science and Recreation, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Samah & Omar. (2013). Athletes’ Satisfaction, Intrinsic Motivation and Performance of Archers in Malaysia. Graduate Research in Education, 166-171. Shanta, H. (2012). The Leader Coach: A Model of Multi-Style Leadership. Journal Practical Consulting, 4, (1), 22-31. West, L. (2016). Coach-Athlete Communication: Coaching Style, Leadership Charcteristics, and Psychological Outcomes. (Paper). School of Human Movement, Sport, and Leisure Studies, Bowling Green State University.