PENGEMBANGAN MODEL LATIHAN STROKES BULUTANGKIS BERBASIS FOOTWORK UNTUK ANAK USIA PEMULA (U-15) Randi Nandika1* Dimas Trisno Hadi2 Zulfikar Ali Ridho3 1 Universitas Negeri Siliwangi 2 Universitas Pendidikan Indonesia, SMK AL Falah Tanjungjaya3 Jl. Siliwangi No. 24 Kota Tasimalaya Jawabarat, Indonesia *Corresponding Author. Email: randinandika19@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk pengembanagan model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork memberikan keefektifan untuk meningkatkan keterampilan strokes bulutangkis. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian pengembangan Research & Development (R&D). Penelitian ini dilaksanakan pada PB. Megantara Majalengka. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata hasil latihan strokes bulutangkis berbasis footwork sebelum diberikan model latihan adalah 81.485 dan setelah diberikan perlakuan dengan model latihan strokes adalah 94.685 artinya bahwa nilai rata-rata adanya peningkatan dan Dalam uji signifikansi perbedaan dengan SPSS 16 didapat hasil t-hitung p-value = 0.000 < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan latihan strokes bulutangkis sebelum dan sesudah adanya perlakuan model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork. Kata Kunci: Model Latihan, Strokes Bulutangkis This study focuses on whether the development of the footwork-based badminton strokes model of training provides the effectiveness to improve the skills of badminton strokes. Research method used in this research is Research method of development Research & Development (R & D). This research was conducted at PB. Megantara Majalengka. Based on the output results using SPSS 16 that the average value of football strokes training result based on footwork before the given model of exercise is 81.485 and after being given treatment with strokes exercise model is 94.685 means that the mean value On the difference of significance test with SPSS 16 got result of t-count p-value = 0.000 <0.05 which means there is significant difference of badminton strokes training before and after the treatment of footwood strokes training model based on footwork. Keywords : exercice model, badminton’s strokes Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) Available online at : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/gjik Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan 08 (02) 2017, 7 103- 111 Permalink/DOI: https://doi.org/10.21009/GJIK.082.03 mailto:randinandika19@gmail.com mailto:randinandika19@gmail.com http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/gjik Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 104 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) PENDAHULUAN Dewasa ini perkembangan olahraga di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat hal ini dapat dilihat dari even-even olahraga mulai dari tingkat lokal, nasional maupun di kancah internasional. Olahraga telah berkembang menjadi fenomena sosial yang tersebar di seluruh dunia. Olahraga menjadi latihan, tontonan, pendidikan, mata pencaharian, kesehatan bahkan olahraga juga telah menjadi kebudayaan. Hal ini terjadi karena pemerintah maupun masyarakat semakin sadar dan mengerti akan pentingnya kegiatan olahraga, baik itu dilakukan atau diselenggarakan untuk tujuan rekreasi, kesehatan, maupun olahraga yang dilakukan untuk tujuan meningkatkan prestasi. Bahkan seiring dengan berjalannya waktu, ilmu-ilmu tentang keolahragaan pun semakin berkembang dan banyak dipelajari. Bagi bangsa Indonesia, olahraga bulutangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak digemari semua lapisan masyarakat. Olahraga ini dapat dimainkan oleh golongan anak-anak sampai dewasa, baik pria maupun wanita. Selain dijadikan olahraga rekreasi, peran bulutangkis tidak perlu diragukan lagi karena telah mampu membawa bangsa Indonesia ke puncak prestasi tingkat dunia. Terbukti dari berbagai kejuaraan tingkat dunia, baik perorangan maupun beregu, Indonesia mampu memboyong beberapa lambang supremasi bidang olahraga tersebut. Bulutangkis adalah olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang untuk tunggal atau dua pasangan untuk ganda yang saling berlawanan. Mirip dengan tenis, bulutangkis bertujuan memukul shuttlecock melewati jaring net agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan dan berusaha mencegah lawan melakukan serangan balik. Permainan bulutangkis saat ini telah mengalami perkembangan dari tipe permainan lama menjadi permainan modern. Perubahan ini dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang sangat memperhatikan faktor kecepatan dan akurasi. Jika tipe lama lebih menekan pada faktor keindahan dalam meraih kemenangan, maka tipe modern lebih mengutamakan bagaimana dapat menang dalam waktu singkat. Dampak ini dipengaruhi oleh pandangan orang tentang aspek-aspek yang perlu diutamakan pengembangannya secara maksimal dalam proses latihannya. Untuk menjadi pemain bulutangkis yang berprestasi maka seorang atlit harus menguasai teknik- teknik dasar pendukung pencapaian prestasi, diantaranya seperti teknik, fisik, taktik, dan mental yang harus dikuasai oleh setiap pemain. Teknik adalah keterampilan yang harus dikuasai oleh seseorang untuk bisa bermain salah satu cabang olahraga. Teknik dasar bulutangkis artinya keterampilan yang harus dimiliki oleh Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 105 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) seseorang supaya bisa bermain bulutangkis. Teknik dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemain diantaranya adalah pukulan (strokes). Jenis-jenis pukulan yang harus dikuasai adalah servis, underhand, dropshot, smash, netting dan drive (PBSI, 2001). Diantara teknik dasar Strokes bulutangkis tersebut, beberapa diantaranya sangat berperan pada saat defensive dan offensive. Underhand merupakan pukulan yang bisa dilakukan dengan cara forehand grip maupun backhand grip, biasanya dilakukan bila pemain berada dibawah jaring dan garis servis pendek. Karena biasanya pukulan ini merupakan balasan untuk pukulan drop shot, dan pukulan underhand juga dilakukan untuk mengembalikan pukulan net yang tipis dengan tujuan untuk mengamankan kembali permainan. Seringkali pukulan ini dilakukan lebih rendah dari ketinggian jaring, malah kadang- kadang hanya beberapa centimeter dari permukaan lapangan. Underhand merupakan salah satu pukulan yang sangat berpengaruh pada saat seorang pemain berada di posisi defensive. Sedangkan pukulan Drive, adalah pukulan yang biasa digunakan menekan lawan untuk tidak memberikan kesempatan kepada lawan mendapatkan bola-bola yang melambung sehingga lawan tidak memperoleh kesempatan untuk menyerang dengan pukulan atas (Donie, 2009). Drive juga dapat diartikan sebagai pengembalian atau pukulan yang mengarahkan bola dalam lintasan yang relatif datar, sejajar dengan lantai, tetapi dipukul cukup tinggi melewati net. Selain Underhand dan Drive, salah satu strokes yang mempunyai peranan penting dalam permainan bulutangkis adalah Netting. Netting merupakan pengembalian pukulan di depan net. Pukulan netting merupakan salah satu pukulan yang penting karena membutuhkan kecermatan dan kesabaran sehingga betul-betul menuntut feeling atau perasaan yang baik untuk bisa menghasilkan pukulan net yang tipis. Walaupun tidak menuntut tenaga yang besar, namun butuh keberanian dalam mengambil keputusan untuk melakukannya, apalagi jika posisi lawan juga sama-sama berada didepan net. Hasil observasi di lapangan pada atlet bulutangkis PB. Megantara Majalengka masih memerlukan pelatihan yang lebih baik agar latihan strokes bulutangkis berbasis footwork yang dalam hal ini berupa pukulan underhand, drive dan netting ini lebih bervariatif. Melihat begitu pentingnya teknik underhand, drive dan netting ini diharapkan kepada seluruh pelatih mampu memberikan suatu perubahan agar dapat meningkatakan perkembangan prestasi olahraga bulutangkis. Hal ini akan mengangkat nama baik klub, provinsi maupun negara Indonesia. Dengan ini, maka penulis ingin memberikan suatu Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 106 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) perubahan dan kontribusi dalam prestasi olahraga bulutangkis dengan pengembangan model latihan. Pengembangan model latihan merupakan proses jangka panjang secara continue dan berubah secara terus-menerus, karena model latihan akan berkembang berkaitan dengan pengembangan atletnya (Johansyah, 2013). Model tersebut harus dievaluasi dan dimodifikasi secara continue dalam melihat respons ilmu pengetahuan baru, level perkembangan atlet, dan pengukuran kemajuan atlet. Berdasarkan fenomena keadaan perkembangan latihan pada cabang olahraga bulutangkis dimana masih banyak pelatih yang tidak memberikan variasi dalam latihan, hal ini berdampak banyak pada atlet bulutangkis yang kurang memiliki kemampuan dalam melakukan pukulan dan pengetahuan bagaimana melakukan teknik gerakan pukulan underhand, drive dan netting dengan baik dan benar, karena teknik pukulan yang baik akan membuat atlet tersebut bisa mengendalikan serangan dari lawan dan memenangkan pertandingan. Di PB. Megantara Majalengka belum banyak model latihan yang diterapkan oleh pelatih khususnya pukulan underhand, drive dan netting. Dari hasil observasi tersebut bahwa model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork yang dalam hal ini berupa pukulan underhand, drive dan netting memang sudah ada, akan tetapi, bentuk-bentuk latihan yang diberikan pada atlet kurang bervariatif dan belum ada pengembangan bentuk latihan yang sesuai dengan perkembangan olahraga bulutangkis di klub saat ini. Hal ini membuat atlet merasa jenuh dengan bentuk latihan tersebut karena dirasa kurang menarik sehingga perlu adanya pengembangan model-model latihan baru yang dapat mengasah keterampilan teknik dasar strokes bulutangkis berbasis footwork yang berupa pukulan underhand, drive dan netting pada pemain bulutangkis. Pukulan drive merupakan pukulan menyamping yang keras dan mendatar, yang dianggap sebagai pukulan menyerang. Pukulan drive dapat dimainkan pada sisi forehand maupun backhand dan lebih sering dipakai dalam permainan ganda daripada tunggal. “The forehand and backhand drives provide a chance to work on footwork because the stroke is generally executed between shoulder and knee height to the left or right of centercourt. Therefore, it emphasizes reaching for the shuttle by shuffling or sliding the feet into position (Tony Grice, 2008). Pukulan forehand drive dipukul disisi tubuh dan melintasi net dengan lintasan datar kepada lawan. Posisi shuttlecock dekat pada sisi kiri Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 107 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) atau kanan si pemukul, daerah sasarannya adalah belakang lapangan lawan. Pukulan drive bisa dilakukan secara lurus ataupun menyilang, pukulan dimulai dari lengan atas, siku dan pergelangan tangan, shuttlecock dipukul pada posisi tertinggi, posisi lutut sedikit ditekuk agar keseimbangan ketika memukul shuttlecock lebih terjaga. Pukulan backhand drive dipukul dengan posisi lengan horizontal setinggi dada di depan tubuh, posisi kaki yang baik sejajar di samping satu sama lain (dengan lutut sedikit ditekuk) atau kaki kiri sedikit menekuk ke depan sedikit kekiri, shuttlecock dipukul dengan kuat baik itu posisi shuttlecock di bawah atau pun di atas yang penting shuttlecock melewati net. The Drive is an attacking shot in which the sutllecock is hit do fast that the opponentbarely has time to react. The drive is played from near the left and right sidelines, about halfway between the net and the back of the court. The player start thisstroke with a lunge and it can be played as a forehand (on the right of the body) and a backhand (on the keft of the body). The shuttle travels quickly and flat over the net (Brahms, 2010). Netting adalah pukulan yang dilakukan dekat net, diarahkan sedekat mungkin ke net, dipukul dengan sentuhan halus sekali (Hermawan Aksan, 2012). Karakteristik dari tekhnik dasar netting ini sendiri adalah shuttlecock senantiasa jatuh bergulir sedekat mungkin dengan jaring/net di daerah lapangan lawan. Sedangkan menurut Sapta Kunta netting merupakan pukulan pendek yang dilakukan di depan net dengan tujuan untuk mengarahkan bola setipis mungkin jaraknya dengan net di daerah lawan (Sapta Kunta, 2010). Pukulan netting merupakan salah satu pukulan yang penting karena membutuhkan kecermatan dan kesabaran sehingga betul-betul menuntut feeling atau perasaan yang baik, untuk bisa menghasilkan pukulan net yang tipis. Jenis pukulan underhand dalam permainan bulutangkis termasuk pukulan yang paling sering digunakan. Pukulan ini sering digunakan dan seperti pada pukulan bulutangkis yang lainnya, selalu bertumpu pada topangan kaki. Pukulan underhand biasa dilakukan bila pemain berada diantara net dan garis servis pendek. Karena biasanya pukulan ini merupakan balasan untuk pukulan drop shot. Seringkali pukulan ini dilakukan lebih rendah daripada ketinggian net, malah terkadang hanya beberapa centimeter dari muka lantai. Fungsi pukulan Underhand menurut Hermawan Aksan adalah untuk mengembalikan pukulan pendek atau permainan net lawan, selain itu sebagai cara bertahan akibat pukulan serang lawan. Dalam situasi tertekan dalam permainan, seorang pemain harus melakukan pukulan Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 108 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) penyelamatan dengan cara mengangkat shuttlecock tinggi ke daerah belakang lapangan lawan (Hermawan Aksan, 2012). METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork pada anak pemula (U-15). Secara khusus yang akan digunakan peneliti dlam memberikan materi latihan strokes bulutangkis berbasis footwork. Penelitian pengembangan model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dari Borg dan Gall. Metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2013). Penelitian dan pengembangan ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, yang merupakan pendekatan dengan tujuan menemukan jawaban dari masalah melalui rumusan masalah yang telah dirumuskan dalam Bab I yaitu model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork untuk anak pemula (U-15). Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pegembangan Research & Development (R & D) dari Borg dan Gall yang terdiri dari sepuluh langkah antara lain : (1)Research and information, (2)Planning, (3)Develop preliminary form of product, (4)Preliminary field testing, (5)Main product revision, (6)Main field testing, (7)Operational product revision, (8)Operational field testing, (9)Final product revision, (10)Dissemination and implementation (Borg & Gall, 2007). Penelitian ini dilaksanakan di salah satu klub bulutangkis di kabupaten Majalengka. Waktu yang diperlukan dalam penelitian dan pengembangan ini mengacu pada penelitian riset dan pengembangan dari Borg dan Gall yang direncanakan selama dua bulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Model latihan strokes bulutangkis bebasis footwork untuk anak pemula (U-15) ini ditulis dalam bentuk naskah yang menyajikan bentuk-bentuk Model latihan strokes bulutangkis bebasis footwork untuk anak pemula (U-15) dalam bentuk latihan yang dimodifikasi dengan pendekatan model variasi latihan. Analisis dilakukan untuk mengetahui seberapa penting model latihan yang akan dikembangkan. Peneliti melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2017, peneliti melakukan observasi menggunakan instrumen penilaian keterampilan strokes bulutangkis dan wawancara terhadap pelatih bulutangkis mengenai model-model latihan strokes bulutangkis. Dari hasil analisis kebutuhan tersebut dapat diketahui bahwa: (a) atlet mengalami Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 109 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) 3400 3200 3000 2800 2600 pretest posttest kesulitan dalam latihan memukul, (b) pelatih menyatakan perlunya variasi model latihan strokes bulutangkis berbasis footowork untuk dimasukan dalam proses latihan, khususnya saat latihan teknik. Paparan hasil penelitian awal analisis kebutuhan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pentingnya variasi model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork untuk anak pemula (U-15). Hasil ujicoba kelompok kecil yang dilakukan terhadap 86 model latihan strokes bulutangkis bagi anak pemula (U-15) yang dievaluasi oleh ahli, berdasarkan hasil analisis tiap- tiap model didapatkan model latihan yang kurang efektif, lalu dilakukan evaluasi kemudian diperbaiki dan digunakan untuk ujicoba kelompok besar. Setelah hasil model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork bagi anak pemula (U-15) diuji cobakan dalam skala kecil dan telah direvisi, maka tahap selanjutnya adalah melakukan ujicoba kelompok besar (field group try out). Berdasarkan hasil ujicoba terbatas (ujicoba kelompok kecil) yang telah dievaluasi oleh para ahli, kemudian peneliti melakukan revisi produk awal dan memperoleh 63 model yang akan digunakan dalam ujicoba kelompok besar (field group try out). Langkah selanjutnya setelah model mengalami revisi tahap II dari ahli maka dilanjutkan dengan menguji cobakan produk pada kelompok besar (field group try out) dengan menggunakan penelitian sebanyak 35 subyek. Langkah selanjutnya setelah model mengalami revisi tahap II, maka dilanjutkan dengan mengujicobakan produk kepada kelompok efektifitas dengan menggunakan subyek penelitian sebanyak 35 subyek anak pada klub bulutangkis PB Megantara Majalengka. Setelah uji ahli dilaksanakan maka hal yang berikutnya harus dilakukan adalah mencari hasil dari pre test dan hasl dari sesudah diberikannya treatment dengan cara pengukuran melalui post test. Berikut perbandingan rata-rata dari tingkat tes strokes bulutangkis sebelum pemberian treatmen dan sesudah pemberian perlakuan dengan model-model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork dengan diagram batang pada gambar berikut ini : Berdasarkan hasil penelitian terdapat perbedaan antara hasil Pretest dan Posttest yang diperoleh dari hasil uji coba kelompok besar Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 110 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) yang sebelumnya telah dilakukan Pretest dan Posttest yang dilakukan pada anak pemula (U-15). Sebelum model-model latihan strokes bulutangkis diterapakan, peneliti melakukan Pretest atau tes awal untuk mengetahui tingkat kemampuan dasar strokes bulutangkis yang dimiliki oleh subyek yang akan diteliti. Hasil Pretest yang diperoleh adalah 2852. Setelah itu treatment diberikan dengan menggunakan model-model latihan strokes bulutangkis yang telah dikembangkan. Setelah treatment diberikan maka subyek di tes kembali menggunakan tes yang sama dengan tes keterampilan strokes bulutangkis seperti sebelumnya. Tes ini dinamakan Posttest yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan keterampilan strokes bulutangkis setelah pemberian treatment berupa model-model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork untuk anak pemula (U-15), maka diperoleh angka sebesar 3314. Berdasarkan keterangan tersebut dapat dikatakan bahwa model latihan strokes bulutangkis berbasis footwork untuk anak pemula (U-15) yang dikembangkan efektif dan meningkatkan keterampilan strokes bulutangkis. Produk yang dikembangkan ini bertujuan untuk membentuk dan meningkatkan tercapainya tujuan latihan strokes bulutangkis untuk anak pemula (U-15). Setelah dikaji produk ini terdapat beberapa kelemahan yang perlu pembenahan sesuai diatas maka dapat disampaikan beberapa keunggulan produk ini antara lain: 1. Anak lebih aktif dalam mengikuti proses latihan yang aman. 2. Anak terlihat gembira dan antusias. 3. Model latihan dilakukan dari yang mudah ke yang sulit. 4. Bisa dilaksanakan ditempat dan waktu yang diinginkan. KESIMPULAN Berdasarkan data yang didapat dari hasil uji coba skala kecil, uji coba skala besar, dan efektivitas serta pembahasan hasil penelitian dapat disimpulakn bahwa : a. Semua variasi latihan dapat dilakukan dan diterapkan, akan tetapi harus disesuaikan dari tingkatan yang mudah ke yang sulit agar kemampuan strokes bulutangkis anak dapat meningkat. b. Pada saat melakukan model-model strokes, anak cenderung terburu-buru untuk secepat mungkin menyelesaikan tugasnya, maka pelatih harus memberikan arahan supaya anak melakukan tugasnya dengan benar agar timing yang diinginkan sesuai serta hasil yang diharapkanpun tercapai. Berdasarkan kelebihan dan kelemahan model yang dikembangkan, keberagaman situasi dan kondisi dari tempat pengembangan, keberagaman kemampuan para pengguna model yang dikembangkan ini, maka perlu dirumuskan saran dalam penggunaan model ini agar bisa berlangsung Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 08 (2), Oktober 2017 - 111 Randi Nandika, Dimas Trisno Hadi, Zulfikar Ali Ridho Copyright © 2017, Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, ISSN 1693-1556 (print), ISSN 2597-8942 (online) secara efektif dan efisien. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut : DAFTAR PUSTAKA PBSI. Pedoman Praktis Bermain Bulutangkis. Jakarta: PBSI. 2001. Donie. Pembinaan Bulutangkis Prestasi. Padang: Wineka Media, 2009. Lubis, Johansyah. Panduan Praktis Penyusunan Program latihan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa. 2013. Grice, T. Badminton: Step to success. Amerika: Human Kinestetics, 2008. Borg, W, R & Gall, M, D. Educational Research and Introducation. New York: Logman, 2007. Purnama, Sapta Kunta. Kepelatihan Bulutangkis Modern. Surakarta: Yuma Pustaka, 2010. Brahms, Badminton Handbook. UK: Mayer &Mayer Sport, 2010. Aksan, Hermawan. Mahir Bulutangkis. Bandung: Nuansa Cendekia, 2012. Borg, Walter R & Meredith D. Gall. Fourth Edtion Educational Research an Introduction. USA: Longman,1983. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2013.