Available online at : http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/gjik Gladi : Jurnal Ilmu Keolahragaan 09 (02) 2018, 134-145 Permalink/DOI: https://doi.org/10.21009/GJIK.092.06 NILAI AMBILAN OKSIGEN MAKSIMAL ( ) DARI HASIL BLEEP TEST PADA ATLET JUNIOR SEPAKBOLA LAKI-LAKI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Ruliando Hasea Purba Program Studi Ilmu Keolahragaan Konsentrasi Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Jakarta, Jl. Pemuda 10 Rawamangun, Jakarta Timur *Corresponding Author. Email: ruliando@unj.ac.id Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Nilai Ambilan Oksigen Maksimal pada atlet sepakbola junior laki-laki di Universitas Negeri Jakarta. Ambilan oksigen maksimal (VO2maks) merupakan salah satu komponen penting dalam dunia olahraga, VO2maks merupakan komponen vital dalam keberhasilan mencapai prestasi puncak. VO2maks juga merupakan alat ukur seorang atlet, berapa besar daya tahan tubuh yang dimiliki seorang atlet tersebut. Uji latih ini akan menunjukan proses dan hasil dari uji latih laboratorium dan Bleep Test. Penelitian ini menggunakan metode survei. Dalam uji latih ini akan menggunakan subjek yaitu atlet terlatih dari cabang olahraga sepak bola. Dalam penelitian ini atlet terlatih akan diseleksi sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Atlet yang terpilih akan mengisi formulir berupa biodata atlet, serta mulai diukur tinggi badan dan berat badannya. Setelah itu dilanjutkan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh petugas di laboratorium Universitas Negeri Jakarta. Setelah melakukan tes laboratorium atlet terlatih menjalankan Bleep Test terdapat perbedaan Rata-rata pada Denyut Nadi Maksimal (HRmaks) dan Ambilan Oksigen Maksimal (VO2maks) pada Treadmill dengan pada Bleep Test. HRmaks pada Treadmill didapat rata-rata sebesar 189.36, HRmax pada Bleeptest didapat rata-rata sebesar 191.64. VO2maks pada Treadmill didapat rata-rata sebesar 48,47 dan VO2maks pada Bleeptest didapat rata-rata sebesar 44.62. Kata kunci : VO2maks, Bleep Test, Atlet Junior Laki-laki, Sepakbola Abstract. This study aims to determine the Maximum Oxygen Uptake for male junior soccer athletes at Jakarta State University. Maximum oxygen uptake (VO2max) is one of the important components in sports, VO2max is a vital component in the success of achieving peak performance. VO2max is also an athlete's measuring instrument, how much endurance an athlete has. This training test will show the process and results of the laboratory test and the Bleep Test. This study used a survey method. The subject in this study were trained soccer athletes in Universitas Negeri Jakarta. In this study trained athletes will be selected according to the specified criteria. Selected athletes filled the form in the form of athletes' biodata, and begin to measure their height and weight. After that, a medical examination was carried out by a Laboratory assistant at the State University of Jakarta. After performing a laboratory test the athlete run the Bleep Test. The result obtained a difference in the Average of Maximum Pulse Rate (HRmax) and Maximum Oxygen Balance (VO2max) on the Treadmill with the Bleep Test. HRmaks on the Treadmill obtained an average of 189.36, HRmax in Bleeptest obtained an average of 191.64. VO2max on Treadmill obtained an average of 48.47 and VO2max for Bleeptest obtained an average of 44.62 Keyword : VO2max, Bleep Test, Male Junior Athlete, Soccer Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 135 Ruliando Hasea Purba PENDAHULUAN VO2maks merupakan sebuah komponen penting untuk melihat atau mengetahui kemampuan daya tahan jantung atlet dan merupakan komponen vital dalam keberhasilan mencapai prestasi puncak terutama pada cabang olahraga yang memerlukan daya tahan jantung yang tinggi seperti sepak bola. VO2maks disebut sebagai maximal oxygen consumption, maximal oxygen uptake, peak oxygen uptake atau maximal aerobic capacity (VO2maks) didefinisikan sebagai kemampuan untuk mentranspor dan menggunakan oksigen selama kerja otot yang maksimal. American College of Sports Medicine (ACSM) telah memublikasikan rumus untuk menghitung perkiraan VO2maks ketika berjalan, lari, atau melangkah, demikian juga dengan ergometer pada lengan atas dan lengan bawah. Tes lapangan merupakan alternatif untuk mengukur VO2maks pada atlet, antara lain Harvard Step Test, Cooper Test, Balke Test dan Bleep Test. Metode pengujian VO2maks yang mudah digunakan dan memiliki nilai validitas yang cukup tinggi adalah Bleep Test. Chatterjee et al, 2008 melakukan penelitian memvalidasi pemeriksaan VO2maks dengan Multi Stage Fitness Test (MSFT)/Bleep Test pada anak tidak terlatih dan sprinter junior usia 13–16 tahun di Kolkata India. Dari hasil pemeriksaan didapatkan perbedaan secara statistik (p < 0,01) pada anak yang tidak terlatih hasil Treadmill Test VO2maks = 42,99 ± 5,16 mL/kg/min dan hasil MSFT/Bleep Test = 42,69 ± 5,06 mL/kg/min. Pada sprinter junior diperoleh perbedaan secara statistik (p < 0,01) dengan Treadmill VO2maks = 52,31 ± 3,04 mL/kg/min dan MSFT/Bleep Test = 51,97 ± 2,92 mL/kg/min. Tahun 2008 melakukan penelitian memvalidasi MSFT/Bleep Test pada wanita di India dengan usia antara 20–25 tahun. Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil Treadmill Test VO2maks = 32,84 ± 2,92 mL/kg/min dan hasil MSFT/Bleep Test VO2maks = 32,60 ± 3,40 mL/kg/min. Dari hasil pemeriksaan ada perbedaan hasil nilai VO2maks tapi tidak secara statistik (p > 0,10). Tahun 2010 melakukan penelitian memvalidasi MSFT/Bleep Test pada laki- laki di India dengan usia antara 20–25 tahun. Dalam penelitian itu didapatkan hasil Treadmill Test VO2maks = 39,29 ± 1,98 mL/kg/min dan hasil MSFT/Bleep Test Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 136 Ruliando Hasea Purba VO2maks = 39,20 ± 2,27 mL/kg/min. Dari hasil pemeriksaan terlihat ada perbedaan hasil nilai VO2maks tetapi tidak secara statistik (p > 0,10). Rumus yang digunakan untuk menilai hasil Bleep Test adalah VO2maks = 18,043461 + (0,3689295 x TS) + (- 0,000349 x TS x TS). TS adalah jumlah Total Shuttle. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ambilan oksigen maksimal pada atlet junior sepakbola dan melihat perbedaan hasil dari bleep test dan hasil laboratorium. Hasil dari penelitian ini akan digunakan untuk pelatih agar mengetahui kondisi VO2maks atlet nya sehingga dapat menyusun program latihan endurance sesuai dengan kondisi masing-masing atlet. Pengertian Vo2maks Asupan maksimal oksigen (VO2maks) merupakan jumlah oksigen yang dihirup, ditransportasikan, dan digunakan, tingkat VO2maks didefinisikan pula sebagai jumlah oksigen yang diinspirasi dikurangi dengan jumlah oksigen yang diekspirasi. VO2maks dinyatakan dalam milliliter (mL) konsumsi oksigen per kilogram (kg) berat badan per menit (menit) (mL.kg-1.min-1). Berdasarkan satuan yang digunakan maka VO2maks dapat didefinisikan sebagai jumlah oksigen maksimal yang digunakan oleh tubuh per menitnya untuk melakukan aktivitas fisik. (Cooper, 1968) Pengukuran VO2maks menggunakan metode tes laboratorium merupakan metode paling akurat untuk mengukur kapasitas aerobik perorangan, namun demikian untuk melakukan pengukuran tersebut terbilang mahal, membutuhkan banyak waktu, membutuhkan motivasi tinggi responden, serta sulit digunakan untuk mengukur subjek dalam jumlah besar.(Ted A, 2017) Eksperimen dilakukan dengan menggunakan alat treadmill yang akan memberikan beban pada otot bawah tubuh, serta membebankan pada tumpuan kaki untuk mempertahankan posisi tubuh karena berdiri dan kemiringan treadmill akan membuat beban tersendiri bagi tubuh sehingga dapat dikatakan bahwa tes menggunakan treadmill lebih lengkap namun kelemahannya adalah tidak terlalu membebani punggung dan lengan. (Mackenzie, 2005) Protokol Treadmill yang dilakukan adalah menggunakan protokol uji maksimal. Metode maksimal mengharuskan subjek untuk mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai konsumsi oksigen maksimumnya. Pengukuran metode tes lapangan adalah suatu metode pengukuran VO2maks melalui metode estimasi Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 137 Ruliando Hasea Purba (prediction). Jenis tes kebugaran lapangan ini seperti berjalan, berjalan-berlari, berlari, bersepeda, berenang, dan sebagainya. (Burger,1990) 1. Pemeriksaan maks di Laboratorium Pemeriksaan VO2maks cara langsung menggunakan treadmill atau ergocycle berdasarkan protokol tes yang direkomendasikan oleh BASS (British Association of Sports Science) yaitu denyut jantung diukur menggunakan ECG S&W Medical Cardio Aid (Type CB600M), konsumsi oksigen diukur menggunakan Hans Rudolph 2700 valve, dan tubing standar yang disambung ke douglas bag menggunakan masker yang terbuat dari bahan rubber. Selanjutnya gas-gas dianalisis menggunakan PK Morgan CO2 analyser type 810A, dan Taylor Servomex O2 analyser type 570A. Volume diukur menggunakan Parkinson Cowan Volume Meter.(Mackenzie,2005) 2. Multi Stage Fitness Test (MTSF) / Bleep Test Tes ini dilakukan di lapangan tertutup atau terbuka dengan permukaan sintetis yang datar. Subjek berlari satu garis sepanjang 20 meter bolak balik menyesuaikan dengan suara dari media audio (kaset dan lain-lain) sebagai penanda. Frekuensi penanda dari media audio semakin cepat setiap menitnya. Tes diberhentikan ketika subjek tidak lagi mampu mengimbangi frekuensi dari penanda media audio dan tidak dapat mencapai garis target dalam tiga kali kesempatan berturut-turut. Dalam tes ini terdapat 21 tingkatan dengan 16 balikan yang digunakan untuk memprediksi VO2maks.(Mackenzie,2005) Prosedur pelaksanaan Bleep Test adalah sebagai berikut. a. Bleep Test dilakukan dengan lari menempuh jarak 20 meter bolak-balik, yang dimulai dengan lari pelan-pelan secara bertahap yang semakin lama semakin cepat hingga atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari, berarti kemampuan maksimalnya pada level bolak-balik tersebut. b.Waktu setiap level 1 menit. c. Pada level 1 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 8,6 detik dalam 7 kali bolakbalik. d.Pada level 2 dan 3 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 7,5 detik dalam 8 kali bolak-balik. Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 138 Ruliando Hasea Purba e. Pada level 4 dan 5 jarak 20 meter ditempuh dalam waktu 6,7 detik dalam 9 kal bolak-balik, dan seterusnya. f. Setiap jarak 20 meter telah ditempuh, dan pada setiap akhir level, akan terdengar tanda bunyi 1 kali. g.Start dilakukan dengan berdiri, dan kedua kaki di belakang garis start. Dengan aba- aba “siap ya”, atlet lari sesuai dengan irama menuju garis batas hingga satu kaki melewati garis batas. h.Bila tanda bunyi belum terdengar, atlet telah melampuai garis batas, tetapi untuk lari balik harus menunggu tanda bunyi. Sebaliknya, bila telah ada tanda bunyi atlet belum sampai pada garis batas, atlet harus mempercepat lari sampai melewati garis batas dan segera kembali lari ke arah sebaliknya. i. Bila dua kali berurutan atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari berarti kemampuan maksimalnya hanya pada level dan balikan tersebut. j. Setelah atlet tidak mampu mengikuti irama waktu lari, atlet tidak boleh terus berhenti, tetapi tetap meneruskan lari pelan-pelan selama 3-5 menit untuk cooling down. b. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Vo2maks 1. Berat Badan Nilai VO2maks biasanya menggunakan satuan berat badan (mililiter oksigen per menit per kilogram berat badan). Kira-kira seseorang dengan berat badan 100 kilogram diperkirakan akan mengangkut oksigen dua kali lebih banyak dari pada seseorang yang memiliki berat badan 50 kilogram. (Edvardsen E,2014) 2. Umur VO2maks anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional, kira-kira sebesar 0,8 - 1% per tahun. Penelitian cross-sectional dan longitudinal nilai VO2maks pada anak usia 8-16 tahun yang tidak terlatih menunjukkan kenaikan progresif dan linier hingga puncak kemampuan aerobik, terkait dengan umur kronologis pada anak perempuan dan laki- laki. VO2maks anak laki-laki dapat meningkat mulai umur 10 tahun, walaupun ada yang berpendapat latihan ketahanan tidak memengaruhi kemampuan aerobik sebelum usia 11 tahun. Puncak nilai VO2maks dicapai kurang lebih pada usia 18- 20 tahun pada kedua jenis kelamin. (Edvardsen,2014) Umumnya, VO2maks Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 139 Ruliando Hasea Purba menurun secara bertahap hingga usia lanjut, dan tingkat penurunan sekitar 10% per dekade setelah usia 25 tahun, dan menjadi 15% antara usia 50 dan 75. Selain itu, pada penelitian meta-analisis digambarkan bahwa penurunan yang berkaitan dengan usia terhadap VO2maks adalah sekitar berturut-turut 0,40, 0,39 dan 0,36 ml / kg / min per tahun untuk populasi laki – laki yang aktivitas menetap, aktif dan dilatih serta 0,35, 0,44, 0,62 mL / kg / min per tahun untuk populasi perempuan yang aktivitas menetap, aktif dan dilatih. Penurunan VO2maks terkait usia merupakan hasil dari beberapa faktor, antara lain penurunan kemampuan jantung maksimal dan stroke volume, pengurangan volume darah akibat penggabungan dari aktivitas pompa otot yang kurang efektif pada katup ekstremitas, dan kekakuan dari kedua katup jantung serta penebalan dan pengerasan dinding arteri, dapat mengurangi ekstraksi oksigen perifer dan perbedaan jumlah maksimal oksigen di arteri dan vena. Berkurangnya massa otot (sarcopenia) juga tampaknya memainkan peran penting dalam penurunan VO2maks.(Hale,1988) 3. Jenis Kelamin Penelitian dari Jackson AS et al. menemukan bahwa penurunan rata-rata VO2maks per tahun adalah 0,46 mL/kg/menit untuk pria (1.2%) dan 0,54 mL/kg/menit untuk wanita (1.7%). Penurunan ini terjadi karena beberapa hal, antara lain penurunan denyut jantung maksimal dan isi sekuncup jantung. Rata- rata kemampuan aerobik perempuan sekitar 20% lebih rendah dibandingkan dengan laki laki pada usia yang sama. Hal ini dikarenakan perbedaan hormonal yang menyebabkan wanita memiliki konsentrasi hemoglobin lebih rendah dan lemak tubuh lebih banyak. (Roy JLP, 2015) 4. Genetik Faktor genetik berpengaruh terhadap kapasitas jantung dan paru, postur tubuh, berat tubuh, hemoglobin dan serat otot. * Kemampuan untuk mengembangkan kapasitas kebugaran terkait dengan genetik, misalnya seseorang mempunyai potensi yang lebih besar dari orang lain untuk mengonsumsi oksigen lebih tinggi, mempunyai kapasitas paru yang lebih besar, menyuplai hemoglobin dan sel darah merah yang lebih banyak, serta mempunyai pembuluh kapiler yang lebih baik terhadap otot. (Ceaser, 2015) Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 140 Ruliando Hasea Purba 5. Komposisi Tubuh Perbedaan komposisi tubuh seseorang menyebabkan konsumsi oksigen yang berbeda. Otot yang lebih besar akan memiliki VO2maks yang lebih tinggi dibandingkan tubuh yang memiliki kandungan lemak yang lebih banyak. Jaringan lemak menambah berat badan, namun tidak mendukung kemampuan untuk secara langsung menggunakan oksigen selama olah raga berat. (Edvardsen,2014) 6. Denyut Jantung Tertinggi Perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem kardiovaskular sebagai respons terhadap latihan berupa: peningkatan kontraktilitas miokardium, peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah sistolik, peningkatan curah jantung dan vasokontriksi perifer secara umum pada otot karena stimulasi serabut otot skeletal yang melibatkan respons sistem saraf simpatis. Derajat respons sejalan dengan massa otot yang terlibat dan intensitas latihan. Respons kardiovaskular yang paling utama terhadap perubahan aktivitas fisis adalah peningkatan cardiac output. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan isi sekuncup jantung maupun denyut jantung yang dapat mencapai ± 95% dari tingkat maksimalnya. Karena pemakaian oksigen oleh tubuh tidak dapat lebih dari kecepatan sistem kardiovaskular menghantarkan oksigen ke jaringan, maka dapat dikatakan bahwa sistem kardiovaskuler dapat membatasi nilai VO2maks. (Sherwood, 2008) 7. Suhu dan Kelembaban Pada lingkungan tropis, suhu lingkungan yang tinggi dan kelembaban udara yang tinggi, akan menyebabkan pembuangan panas melalui evaporasi atau berkeringat menjadi kurang efektif sehingga keringat akan menetes dari kulit oleh karena tidak terjadi penguapan melalui kulit. Suhu dan kelembaban relatif yang lebih tinggi mempercepat perubahan fungsi tubuh ke arah yang merugikan, sehingga orang tidak mengalami aklimatisasi terhadap lingkungan yang baru. Oleh karena itu, aklimatisasi terhadap lingkungan khususnya panas dan kelembaban perlu diperhatikan agar keadaan patologis dapat dihindari. Pengaturan suhu tubuh penting untuk mempertahankan homeostasis yaitu menjaga kondisi cairan tubuh agar tubuh tetap berfungsi dengan baik. (Che Muhamed AM, 2016) Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 141 Ruliando Hasea Purba 8. Jumlah Shuttle Jumlah shuttle pada Bleep Test yang dimaksud adalah lari menempuh jarak 20 meter bolak – balik, yang dimulai dengan lari pelan-pelan secara bertahap yang semakin lama semakin cepat hingga atlet tidak mampu mengikuti waktu irama lari, hal ini menunjukkan kemampuan maksimal aerobik atlet pada level tersebut. Penelitian Aanstad, 2011 mengemukakan bahwa untuk mendapatkan validitas dari pengukuran VO2maks di laboratorium ataupun di lapangan perlu memperhatikan banyak variabel yang memengaruhi pengukuran ini. Terdapat juga pendapat bahwa hasil dari tes ini dapat bervariasi dan menetap, bergantung pada adaptasi lingkungan dari individu setelah berulang kali melakukan tes ini. c. Atlet Junior Sriwahyuniati dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh latihan interval training terhadap perubahan kemampuan fisik atlet bola voli junior memasukkan kriteria atlet junior adalah atlet yang berusia 16–19 tahun. Cabang olah Raga triathlon di Amerika Serikat (USA triathlon membagi atlet muda menjadi 2 kriteria yaitu youth (usia 7-15 tahun) dan Junior (usia 16-19 tahun). Namun, federasi Ski Nasional Norwegia memasukkan kriteria atlet junior pada usia 17 - 19 tahun. Chatterjee memasukkan kriteria junior dalam penelitiannya adalah usia 13–16 tahun. Nurjaya dalam tulisannya menjelaskan ada tahap-tahapan dalam membina atlet dalam jangka panjang (Long Term Athletes Development) disingkat LTAD. LTAD merupakan model yang telah dikembangkan oleh Istvan Balyi yang merupakan ahli di bidang perencanaan, periodisasi dan peningkatan prestasi melalui program latihan jangka pendek dan jangka panjang. METODE Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ambilan oksigen maksimal pada atlet junior. Desain yang digunakan adalah uji potong lintang yang bertujuan untuk menilai perbedaan antara nilai prediksi ambilan oksigen maksimal (VO2maks) berdasarkan tes laboratorium dengan nilai prediksi VO2maks berdasarkan Bleep Test. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey deskriptif. Populasi target adalah atlet yang berasal dari klub olahraga prestasi sepakbola Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 142 Ruliando Hasea Purba Universitas Negeri Jakarta. Pemilihan sampel adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria penerimaan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria umur 16-19 tahun. Subjek diambil dengan cara purposif yaitu atlet yang sesuai dengan kriteria penerimaan pada klub olahraga di Jakarta. Subjek yang bersedia mengikuti penelitian wajib menandatangani surat informed- consent yang sudah disediakan Pengumpulan data awal dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Jenis data yang diambil adalah data primer. Data umur didapat dengan menanyakan langsung pada subjek atau melihat kartu tanda penduduk bagi yang sudah memiliki. Jenis kelamin didapat dari pengamatan ciri fisik subjek. Jumlah latihan perminggu ditanyakan untuk melihat apakah atlet rutin dalam berlatih. Tinggi badan diukur dalam satuan meter dengan pengukur tinggi badan merek Senoh ® . Subjek berdiri tegak dengan punggung bersandar pada tiang dan posisi kaki pada tempat yang telah ditentukan. Berat badan diperoleh dari timbangan merek Yamato ® . Berat badan ditampilkan dalam kilogram. IMT dihitung berdasarkan berat badan per tinggi badan kuadrat. Bleep Test menghasilkan total shuttle, denyut jantung tertinggi pada lintasan. Jumlah total shuttle yang didapat kemudian dimasukkan ke dalam rumus sehingga didapatkan nilai maks. Pada saat dilakukan Bleep Test subjek memakai Polar dengan tujuan menghitung denyut nadi tertinggi. Polar dipakai setinggi prosesus xiphoideus terhubung dengan receiver polar pada pergelangan tangan. Data denyut nadi pada saat tes akan terekam pada receiver polar ® termasuk denyut nadi tertinggi pada saat tes. Nilai maks tes laboratorium (Treadmill Test) diperoleh dari CPEX (Cardio Pulmonary Exercise) Merek Cosmed ® dengan sungkup menutup hidung dan mulut. Subjek diminta untuk berjalan hingga berlari sesuai dengan kecepatan dari treadmill. Sebelum tes subjek memakai polar sehingga dapat terukur denyut nadi. Pada tes ini menggunakan protokol 10 kilometer. Tekanan darah diperiksa sebelum dan sesudah tes dengan menggunakan Tensimeter merek Riester. Suhu laboratorium diukur dengan menggunakan termometer ruangan. Hasil pengukuran dalam Celcius. Kelembaban laboratorium Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 143 Ruliando Hasea Purba diukur dengan alat higrometer. Hasil pengukuran dalam persen. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Data Tinggi Badan Hasil penelitian menunjukkan data tinggi badan dengan diperoleh rentang dari 154 hingga 182 dengan nilai rata-rata sebesar 167,45 serta simpangan baku sebesar 5,61 dan varian sebesar 31,5. Di bawah ini disajikan distribusi frekuensi tinggi badan. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tinggi Badan 2. Data Berat Badan Hasil penelitian menunjukkan berat badan diperoleh rentang 51 hingga 73 dengan nilai rata-rata sebesar 60.18 serta simpangan baku sebesar 6,03 dan varian sebesar 36,35. Di bawah ini disajikan distribusi frekuensi berat badan. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berat Badan No Kelas Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 51 – 55,4 53,2 4 18.2% 2 55.5 – 59,9 57,7 8 36.4% 3 60 – 64,4 62,2 4 18.2% 4 64.5 – 68,9 66,7 4 18.2% 5 69 – 73,4 71,2 2 9.1% Jumlah 22 100% 3. Data Indeks Masa Tubuh (IMT) Hasil penelitian menunjukkan data IMT dengan diperoleh rentang dari 18,13 hingga 25 dengan nilai rata-rata sebesar 21,47 serta simpangan baku sebesar 1,8 dan varian sebesar 3,25. Di bawah ini disajikan distribusi frekuensi Indeks Masa Tubuh (IMT). Tabel 3. Distribusi Frekuensi IMT No Kelas Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 18.13 - 19.50 18.81 3 13.6% 2 19.51 - 20.89 20.20 6 27.3% 3 20.90 - 22.27 21.58 6 27.3% 4 22.28 - 23.66 22.96 5 22.7% 5 23.67 - 25.04 24.35 2 9.1% Jumlah 22 100% 4. Data Denyut Nadi Istirahat Hasil penelitian menunjukkan data denyut nadi istirahat dengan diperoleh rentang dari 55 hingga 99 dengan nilai rata-rata sebesar 73,32 serta simpangan baku sebesar 16,15 dan varian sebesar 260,8. Di bawah ini disajikan distribusi frekuensi denyut nadi. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Denyut Nadi Istirahat No Kelas Nilai Frekuensi No Kelas Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 154 - 160 156.8 1 4.5% 2 160 - 165 162.5 6 27.3% 3 165 - 171 168.2 12 54.5% 4 171 - 177 173.9 2 9.1% 5 177 - 182 179.6 1 4.5% Jumlah 22 100% Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 144 Ruliando Hasea Purba Interval Tengah Absolut Relatif 1 55 – 63.8 59.4 11 50% 2 63.9 – 72.7 68.3 0 0 3 72.8 – 81.6 77.2 3 13.6% 4 81.7 – 90.5 86.1 4 18.2% 5 90.6 – 99 95 4 18.2% Jumlah 22 100% 5. Data Apparent Leg Length Hasil penelitian menunjukkan data Apparent Leg Length dengan diperoleh rentang dari 87 hingga 101 dengan nilai rata-rata sebesar 93,14 serta simpangan baku sebesar 3,56 dan varian sebesar 12,69. Di bawah ini disajikan distribusi frekuensi Appaerent Leg Length. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Appaerent Leg Length No Kelas Interval Nilai Tengah Frekuensi Absolut Relatif 1 55 – 63.8 88.4 5 22.7 2 63.9 – 72.7 91.3 10 45.5 3 72.8 – 81.6 94.2 4 18.2 4 81.7 – 90.5 97.1 1 4.5 5 90.6 – 99 100 2 9.1 Jumlah 22 100% Tabel 6. perbedaan Rata-rata pada Denyut Nadi Maksimal (HRmax) dan Ambilan Oksigen Maksimal (VO2max) Resp. Tread Mill Bleep Test HRMax Vo2Max HRMax Vo2Max 1 191 51.6 196 42 2 197 39.6 199 41.1 3 191 57.2 195 47.4 4 186 47.5 188 48.4 5 181 49.4 187 43.9 6 188 49.4 190 47.7 7 188 47.8 189 47.1 8 189 46.8 196 47.4 9 189 44.8 180 50.2 10 198 49.8 194 46.5 11 203 47.1 202 42 12 188 47.9 191 43.9 13 186 44.3 174 35 14 188 55.1 198 48.4 15 192 54.2 195 52 16 178 49 181 43.3 17 185 51.2 195 44.2 18 193 46.8 193 42 19 192 50.2 202 47.7 20 182 43.2 183 33.9 21 191 47.4 202 46.8 22 190 46.1 186 40.8 Jumlah 4166 1066.4 4216 981.7 Rata- Rata 189.36 48.47 191.64 44.62 Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan Rata-rata pada Denyut Nadi Maksimal (HRmax) dan Ambilan Oksigen Maksimal (VO2max) pada Treadmill dengan pada Bleep Test. HRmax pada Treadmill didapat rata-rata sebesar 189.36, HRmax pada Bleeptest didapat rata-rata sebesar 191.64. VO2max pada Treadmill didapat rata-rata sebesar 48,47 dan VO2max pada Bleeptest didapat rata-rata sebesar 44.62 KESIMPULAN Dari hasil penelitian pada nilai ambilan oksigen maskimal (VO2max) dari hasil bleep test pada atlet Sepakbola Universitas Negeri Jakarta yang telah dilaksanakan, diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi nilai VO2max seperti usia, suhu, kelembaban, tinggi badan, berat badan, hingga denyut nadi maksimal. Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan, 09 (2), Oktober - 145 Ruliando Hasea Purba Perbedaan yang cukup signifikan juga terlihat pada perbedaan rata-rata yang didapat dari hasil keseluruhan VO2max yang diukur menggunakan treadmill yaitu sebesar 48,47 dan bleep test sebesar 44,62. Tidak hanya itu, rata-rata denyut nadi maksimal pada treadmill didapat 189.36 dan pada bleep test didapat 191.64. DAFTAR PUSTAKA Chatterjee P, Banerjee AK, Das P, Debnath P. A Regression Equation for the Estimation of Maximum Oxygen Uptake in Nepalese Adult Females. Asian J Sports Med. 2010 Mar; 1(1) 41–5. Mackenzie B. 101 performance evaluation tests. London: Electric Word plc. 2005; Cooper KH. A Means of Assessing Maximal Oxygen Intake: Correlation Between Field and Treadmill Testing. JAMA. 1968 Jan 15; 203(3), 201–4. Ted A. Baumgartner, Andrew S. Jackson, Matthew T. Mahar, & David A. Rowe. Measurement for Evaluation in Kinesiology. Google Books. [cited 2017 Jun 6]. Mackenzie B. 101 performance evaluation tests. London: Electric Word plc. 2005; Edvardsen E, Hem EJ, Anderssen SA. End criteria for reaching maximal oxygen uptake must be strict and adjusted to sex and age: a cross- sectional study. PLoS ONE [Internet]. 2014 Jan 14 [cited 2017 Jun 6]; Available from: https://brage.bibsys.no/xmlui/han dle/11250/225880 Roy JLP, Hunter GR, Fernandez JR, McCarthy JP, Larson-Meyer DE, Blaudeau TE, et al. Cardiovascular factors explain genetic background differences in VO2max. Am J Hum. 2015. Biol. 18:454–60. Ceaser T, Hunter G. Black and White race differences in aerobic capacity, muscle fiber type, and their influence on metabolic processes. Sports Med Auckl NZ. 2015 May;45(5):615–23. Sherwood L. Human Physiology: From Cells to Systems. Cengage Learning; 2008. 973 p. Che Muhamed AM, Atkins K, Stannard SR, Mündel T, Thompson MW. The effects of a systematic increase in relative humidity on thermoregulatory and circulatory responses during prolonged running exercise in the heat. Temp Austin Tex. 2016;3(3):455– 64. https://brage.bibsys.no/xmlui/handle/11250/225880 https://brage.bibsys.no/xmlui/handle/11250/225880