Wida Rahayuningtyas(4).indd 27 MAKNA SIMBOLIS LAKON KANGSA ADU JAGO DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA *Wida Rahayuningtyas, **Endang Woro SDP, ***Tjitjik Sri Wardhani *Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, email whed_tari@yahoo.co.id **Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, email endang_woro_um @ yahoo.co.id ***Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang, email iriaji_tarium@yahoo. co.id Abstrak Berdasarkan data evaluasi terhadap kemampuan mahasiswa dalam pemahaman dan ket- erampilan gerak tari gaya Malangan masih sangat rendah. Metode penelitian meng- gunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Subjek penelitian adalah mahasiswa prodi Seni Tari semester 4 Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pencantrikan terbimbing yang menggunakan media pembe- lajaran audio visual sebagai metode pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar dan meningkatkan pula prestasi hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Repertoar I. Media audio visual tersebut berisi ragam-ragam gerak dari materi tariannya. Abstract Based on an evaluative data conducted, it showed that students’ ability in understanding and mas- tering Malay dancing style is still inadequate. The research method used Action Research in two cycles. The subject of research was the fourth semester students of Dancing program at Malang State University. The result showed that the audio-visual learning method of guided apprenticeship could increase the students’ learning interest as well as improve their achievement in Repertoar I course. The audio-visual media contains various dancing styles and movements. Keywords: metode pembelajaran, pencantrikan terbimbing, audio visual Audio-Visual Learning Method od Guided Apprenticeship PENDAHULUAN Program Studi Pendidikan Seni Tari adalah salah satu dari program studi yang berada di bawah naungan Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Kurikulum program studi memi- liki 147 sks, yang terdiri dari kelompok MPK (mata kuliah pengembangan kepribadian). MKK (mata kuliah keilmuan dan ketrampi- lan), MKB (mata kuliah keahlian berkarya) dan MBB (mata kuliah berkehidupan berma- syarakat). Matakuliah Repertoar 1 termasuk di dalam kelompok mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB), adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan meng- hasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan ber- dasarkan dasar ilmu dan ketrampilan yang dikuasai. Adapun deskripsi mata kuliah Rep- ertoar I adalah: memahami pengetahuan dan ketrampilan tentang konsep gerak tari tradisi Wayang Topeng Malang, kesejarahan, struk- tur, melalui nara sumber pemangku tradisi dan dapat mempergelarkan serta mendoku- mentasikan hasil karya studi Wayang Topeng Malang. Mata Kuliah Repertoar I tersebut harus ditempuh oleh mahasiswa pada semester ke 4 (empat) dengan prasyarat mata kuliah Vokasi Tari malang. Tujuan daripada perkuliahan Repertoar I adalah: (1)Meningkatkan pen- getahuan tentang konsep gerak tari tradisi Wayang Topeng Malang, (2)Memberi penge- tahuan tentag sejarah tari tradisi Wayang To- HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201128 peng, (3)Meningkatkan pengetahuan tentang struktur gerak tari tradisi Wayang Topeng malang, (4)Meningkatkan ketrampilan teknik gerak tari tradisi Wayang Topeng Malang, (5)Memahami cara penggalian dan cara pen- dataan tari tradisi Wayang Topeng Malang, (6)Memperoleh pengalaman nyata dari nara- sumber, (7)Mempergelarkan tari tradisi Way- ang Topeng Malang. Selain itu, tujuan pengiring yang hen- dak dicapai dalam proses pembelajarannya adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan dan ketrampilan mengidentifi kasi ragam gerak tari tradisi yang bergaya Malangan. Gaya adalah sifat pembawaan tari, menyang- kut cara bergerak tertentu yang merupakan ciri pengenal dari gaya yang bersangkutan (Sedyawati, 1981). Gaya tari tidak hanya dit- ampakkan dari cara pembawaan, tetapi juga nampak pada teknis dan penyajian. Setiap narasumber memiliki gaya tari yang berbeda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan data evaluasi yang di- lakukan terhadap kemampuan mahasiswa dalam pemahaman dan ketrampilan gerak tari gaya Malangan melalui materi Wayang Topeng Malang, diperoleh data bahwa pen- guasaan ketrampilan teknis yang dicapai oleh mahasiswa masih sangat rendah. Rendahnya kualitas ketrampilan teknis tersebut nam- pak dalam ketrampilan teknik yang meliputi wiraga, wirasa dan wirama yang kurang di- kuasai oleh mahasiswa. Rendahnya kualitas ketrampilan tersebut juga nampak pada ke- mampuan menghafal ragam gerak, struktur urutan gerak dan ketepatan membawakan tarian. Rendahnya kualitas ketrampilan teknis dalam menguasai materi tari gaya Malangan yang dicapai oleh mahasiswa tersebut di atas dimungkinkan sebagai akibat penggunaan metode pembelajaran yang salah, pengorgan- isasian materi belajar yang tidak tepat atau bahkan media pembelajaran yang kurang te- pat. Indikasi lain yang kemungkinan menjadi faktor penyebab yaitu: kejenuhan mahasiswa terhadap model pembelajaran konvensial dan verbal dari proses pembelajaran materi oleh narasumber, kurangnya semangat dan motivasi dari mahasiswa yang bersangkutan diakibatkan faktor-faktor internal mahasiswa yang bersangkutan, sulitnya membayangkan dan memahami penjelasan serta contoh gerak yang diberikan oleh narasumber, kurangnya kesungguhan dari mahasiswa ketika menyi- mak penjelasan, kurang maksimalnya perte- muan antar mahasiswa dengan narasumber dan atau bahkan media pembelajaran yang tidaak tepat dan kurang mendukung proses pembelajaran. Untuk melakukan perbaikan prestasi belajar pada matakuliuah Repertoar I secara simultan, diperlukan serangkaian kegiatan yang diantaranya adalah pemanfaatan au- dio visual sebagai media pembelajaran guna meningkatkan kualitas pembelajarannya. Dengan memanfaatkan audio visual sebagai media pembelajaran diharapkan para ma- hasiswa akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan nyata terhadap gaya tari dan ragam gerak dari tari tradisi Wayang Topeng Malang yang dipelajarinya sebagai materi perkuliahan. Perlu diketahui bahwa mata ku- liah Repertoar I ini adalah mata kuliah para- ktek dimana mahasiswa mempelajari satu tarian bentuk yang merupakan bagian dari dramatari Wayang Topeng Malang secara langsung dari berbagai narasumber yang ada di Malang. Proses pembelajaran sebagaima- na yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut dinamakan pencantrikan. Tetapi keterbatasan waktu menyebabkan paara mahasiswa tidak bisa selamanya berada di lokasi nara sumber, sehingga perlu dibuat rekaman audio visual tentang materi tarian yang akan digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses pencantrikan terbimbing oleh dosen pembina matakuliah dalam kegiatan perkuliahan di kelas. Melalui rekaman audio visual tersebut mahasiswa dengan bimbingan dosen pembi- na mata kuliah akan bersama-sama mencer- mati gaya, ragam, struktur dan konsep gerak dari materi yang dipelajari oleh mahasiswa. Secara teknis kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama ini yaitu: peserta matakuliah dibagi dalam beberapa kelompok kecil dan kelompok tersebut memilih nara sumber tradisi yaitu seniman topeng Malan- gan, dimana mereka akan belajar menari. Atau dengan kata lain, mahasiswa “nyantrik” pada seniman topeng Malang, untuk mem- pelajari tari topeng malang. Metode pem- belajaran yang digunakan selama ini masih menggunakan metode pembelajaran praktek Wida Rahayuningtyas. dkk, Metode Pembelajaran Pencantrikan 29 secara konvensial tradisional dimana seni- man yang bertindak sebagai guru, mentrans- fer materi dengan cara mendemonstrasikan tarian, selanjutnya peserta yang “nyantrik” tersebut menirukan gerakan yang dilakukan oleh “guru” tersebut. Metode ini dikenal se- bagai pentransferan ilmu dengan menggu- nakan sistem aprentinsip atau apprenticeship system (Soeharjo, 2005). Sistem aprentisip merupakan proses penularan komponen ma- hir berkesenian dari master ke apretis. Yang dimaksudkan dalam penelitian ini, master adalah seniman topeng Malang dan aprentis adalah mahasiswa peserta mata kuliah Rep- ertoar 1. Dengan metode ini, kualitas hasil penu- laran sangat terganting kepada kualitas mas- ter baik dalam kaitannya dengan kemam- puan ketrampilan seni, maupun kedalaman pandangan fi losofi (Soeharjo, 2005). Dengan demikian semakin tinggi kualitas keseni- manan sang master akan semakin tinggi pula kualitas kesenimanan aprentis. Pada kenyata- annya, seniman tradisi kelompok wayang to- peng Malang belum memiliki kualitas teknik penularan berkesenian yang bagus sehingga mahasiswa sulit menangkap materi yang diajarkan. Akibatnya, mahasiswa kurang terampil dalam membawakan teknik gerak, ragam gerak,penjiwaan tarian dan penyelar- asan dengan musik tarian. Maka, metode pembelajaran Repertoar 1 perlu diperbaiki dengan pemanfaatan audio visual sebagai media pembelajaran pencant- rikan terbimbing sebagaiman diuraikan dia- tas. Dengan audio visual yang dipergunakan sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran maka para siswa diharapkan akan dapat menangkap gaya tari yang me- liputi: bentuk gerak, ragam gerak, struktur urutan gerak tari secara rinci dan detail. Den- gan demikian harapannya, mahasiswa akan dapat membawakan tarian dengan baik, te- pat sesuai dengan tuntutan substansi wiraga, wirama dan wirasa yang terkandung dalam gaya tari topeng Malangan tersebut. Prestasi belajar siswa dalam menem- puh mata kuliah Repertoar 1 beberapa tahun berselang menunjukkan kualitas hasil belajar yang sangat rendah dengan rentangan taraf penguasaan ketrampilan membawakan tar- ian sekitar 60%-70% saja, atau jika ditranslet dalam bentuk huruf, penguasaan ketrampi- lan teknis siswa dalam menyajikan kembali tarian hasil pencantrikan hanya mencapai taraf penguasaan dengan nilai C-B saja. Pa- dahal seharusnya jika merujuk pada kompe- tensi lulusan prograam yakni sebagai tenaga pengajar bidang seni maka setidaknya taraf penguasaan mahasiswa mencapai 75%-90% atau rentangan nilai B sampai dengan A mi- nus (A-). METODE Penelitian ini dirancang dengan meng- gunakan pendekatan Penelitian Tindakan Ke- las (PTK). Subyek dari penelitian ini adalah para mahasiswa program studi pendidikan seni tari semester ke 4, yang menenmpuh matakuliah Repertoar 1 dan tim pengajar mata kuliah praktek Repertoar 1 pada pro- gram studi pendidikan seni tari. Prosedur penelitian dalam matakuliah Repertoar 1 ini dilakukan dalam 2 siklus kegiatan. Tiap sik- lus kegiatan dilakukan esuai dengan masing- masing rancangan dan informasi yang akan dikumpulkan. Hasil observasi dan evalu- asi tindakan pada setiap siklus dihasilkan re- fl eksi yang dipergunakan untuk merancang tindakan kelas selanjutnya sebagai tindakan perbaikan. Secara rinci langkah-langkah PTK yang dilaksanakan ini adalah: Siklus pertama, dalam tahap perenca- naan, mahasiswa diberi penjelasan tentang RPS, tugas-tugas dan kewajiban serta format- format yang harus diisi serta kegiatan yang harus dilakukan selama 1 semester. Tahap pelaksanaan, mahasiswa dibagi dalam kelompok dan segera untuk men- datangi nara sumber yang berada di wilayah Malang selatan yang berada di desa Jatiguwi kecamatan Sumber Pucung, desa Jambuwer kecamatan Kromengan dan dusun Kedung- monggo kecamatan Pakisaji. Nara sumber yang berada di wilayah Malang Barat yakni desa Jabung kecamatan Jabung, dan dusun Glagahdowo kecamatan Tumpang. Tahap pengamatan, mahasiswa mel- aporkan dan melakukan konsultasi dengan dosen pembina mata kuliah. Tahap refl eksi dilakukan peninjauan terhadap hasil belajar yang sudah dicapai oleh mahasiswa. HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201130 Siklus kedua dimulai pada pertemuan ke 9. Jika pada tahap perencenaan siklus per- tama mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, maka pada siklus kedua ini maha- siswa dibagi dalam 2 kelompok besar. Tahap pelaksanaan pada siklus kedua, kelompok 1 melakukan pencantrikan di desa Jambuwer kecamatan Kromengan, sedang- kan kelompok 2 melakukan pencantrikan di dusun Kedungmonggo kecamatan Pakisaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tindakan siklus 1 di- peroleh hasil bahwa pemahaman terhadap penguasaan ragam gerak, gaya pembawaan dan struktur gerak serta ciri karakteristik penyajian tari Topeng Malang dari masing- masing narasumber yang berbeda-beda tersebut belum dapat dipahami oleh maha- siswa. Demikian pula ketrampilan teknik membawakan tarian topeng Malang yang dipresentasikan dihadapan dosen pembina maupun narasumber belum mencapai taraf maksimal. Ini dibuktikan dari skor rata-rata mahasiswa pada kegiatan siklus 1 menun- jukkan hasil rentangan skor antara 50-60 saja yang jika dikonferensikan dengan pedom- man penilaian Universitas Negeri Malang artinya C. Hal tersebut disebabkan pencantrikan dilakukan oleh mahasiswa secara konvensial, yaitu mahasiswa mengamati demonstrasi tarian yang dilakukan oleh nara sumber di tempat pencantrikan, selanjutnya maha- siswa menirukan tarian yang didemonstrasi- kan oleh nara sumber tersebut. Keterbatasan waktu yang hanya 2 kali pertemuan yaitu 12 jam tatap muka atau 12 x 50 menit kemung- kinan adalah merupakan faktor penyebab kurang jelasnya penyerapan materi yang diterima mahasiswa selama melakukan pen- cantrikan. Faktor lain adalah jarak pencant- rikan yang cukup jauh. Ketidak maksimalan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran se- bagaimana rencana dapat dieliminir dengan mengembangkan metode pembelajaran yang dilakukan. Salah satunya dengan mengubah metode pembelajaran pencantrikan, jika pada siklus 1 para mahasiswa melakukannya pen- cantrikan secara konvensial dan mandiri maka pada siklus ke 2, strategi pembelajaran ditingkatkan dengan menggunakan metode pencantrikan terbimbing. Dalam siklus ke 2, pencantrikan ter- bimbing yang dilaksanakan dalam penelitian ini, menggunakan media pembelajaran audio visual sebagai metode pembelajaran. Media audio visual tersebut berisi tentang ragam-ra- gam gerak dari materi tariannya. Dengan ad- anya media audio visual ini diharapkan taraf penguasaan pemahaman adanya perbedaan adanya perbedaan dan gaya pembawaan ser- ta ketrampilan teknik menarikan tari Topeng Malang akan meningkatkan dan secara tidak langsung akan meningkatkan pula prestasi hasil belajar mahasiswa secara umum. Dari hasil evaluasi yang sudah dilaku- kan pada siklus 1, dan mencermati perolehan skor, sehingga selayaknya harus ada tindakan yang dilakukan dalam siklus ke 2 ini dalam kaitannya untuk meningkatkan hasil belajar. Dan salah satu tindakan nyata yang diharap- kan menjadi motivasi perubahan ketrampi- lan adalah penggunaan media pembelajaran. Karena materi tarian ada 5 buah maka seha- rusnya semua materi tari Topeng dibuat reka- mannya sehingga bisa dijadikan sebagai alat bantu mengajar. Tetapi karena keterbatasan dana dan waktu yang ada maka penelitian PTK kali ini, media pembelajaran tari hanya dipersiapkan satu materi tari yaitu tari Topeng Klono baik yang berasal dari desa Jambuwer maupun dari dusun Kedungmonggo. Tarian Topeng Klono dari dua wilayah tersebut memiliki perbedaan ciri karakteristik yang khas dan spesifi k, baik model penyajian struktur uru- tan geraknya, maupun penyajian ragam ger- aknya. Hal ini menyebabkan dua tari tersebut bisa dikatakan memiliki gaya dan genre yang berbeda. Perbedaan inilah yang seharusnya dipahami oleh mahasiswa, sehingga bisa me- nampilkan tari dengan tepat dan benar sesuai dengan gaya dan genre tari tersebut. Pada siklus 2 ini ketrampilan teknik membawakan tari topeng Malang yang di- presentasikan dihadapan dosen pembina maupun narasumber sudah cukup memadai sebagai sebuah sajian tari bernafaskan tradisi dengan masa waktu pencantrikan yang relatif singkat. Ini dibuktikan dari skor rata-rata ma- hasiswa pada kegiatan siklus 2 menunjukan hasil rentangan skor antara 70-85 yang jika Wida Rahayuningtyas. dkk, Metode Pembelajaran Pencantrikan 31 dikonfersikan dengan pedoman penilaian UM artinya B sampai dengan A-. Dengan demikian dapat disimpul- kan bahwa penggunaan media audio visual dalam kegiatan belajar tari Topeng pada mata kuliah Repertoar 1 memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indra, juga terhadap pemahaman isi pelajaran. Drngan demikian dapat dikemukakan bahwa dengan peng- gunaan media tersebut lebih menjamin ter- jadinya pemahaman yang lebih baik pada peserta didik. Pembelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya ingatan bertahan, dibandingkan dengan pembelajar yang bela- jar lewat melihat atau sekaligus mendengar- kan dan melihat. Pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat membangkitkan keingi- nan dan minat baru, meningkatkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan berpengaruh secara psikologis kepada peser- ta didik (Hamalik, 1986). Selanjutnya diungkapkan bahwa peng- gunaan media pengajaran akan sangat mem- bantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian informasi (pesan dan isi pela- jaran) pada saat itu. Kehadiran media dalam pembelajaran juga dikatakan dapat mem- bantu peningkatan dan pemahaman peserta didik, penyajian data/ informasi lebih men- arik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Jadi dalam hal ini dikatakan bahwa fungsi media adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar. Jika dibandingkan perolehan skor nilai yang dicapai oleh mahasiswa pada siklus 1 dan siklus ke 2, terdapat kenaikan yang cu- kup signifi kan. Sehingga dapat ditarik kesim- pulan bahwa perubahan metode pembelaja- ran dari metode pencantrikan (konvensional dan mandiri) menjadi metode pencantrikan terbimbing ternyata mendorong ketercapa- ian hasil pembelajaran yang lebih optimal, ini sesuai dengan rekomendasi Majid (2009) bah- wa keberhasilan proses pembelajaran dapat didukung oleh beberapa faktor diantaranya adalah ketepatan metode pembelajaran yang dipergunakan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pem- bahasan disimpulkan bahwa proses pembela- jaran dengan metode pencantrikan yang di- laksanakan secara mandiri dan konvensional sebagaimana yang sudah dilakukan selama beberapa tahun di dalam matakuliah Reper- toar 1 ternyata kurang dapat membantu ma- hasiswa mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan metode pem- belajaran yang tepat yang dapat membantu mahasiswa mencapai hasil belajar yang op- timal. Proses pembelajaran dengan metode pencantrikan terbimbing memerlukan media pembelajaran yang dapat mendukung proses yakni memanfaatkan audio visual sebagai media pembelajaran. Penelitian membukti- kan pemanfaatan media audio visual sebagai media pembelajaran dalam proses pembela- jaran dengan metode pencantrikan dapat me- ningkatkan prestasi belajar mahasiswa Pro- gram studi Tari Universitas Negeri Malang dalam mata kuliah Repertoar 1. DAFTAR PUSTAKA Hamalik, O. 1994. Media Pendidikan, cetakan ke-7. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Majid, A. 2009. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standart Kompetensi Guru. Cetakan ke lima. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Moleong, L. 1994. Metodologi Penelitian Kuali- tatif, Cet. Ke 5. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Sedyawati. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjuk- kan. Cetakan pertama. Jakarta: PT. Djaya Pirusa. Soehardjo. 2005. Pendidikan Seni. Buku satu. Malang: Balai Kajian Seni Dan Desain Fakuktas Sastra Universitas Negeri Malang. Sudjana, N. & Rivai, A. 1992. Media Pengaja- ran. Bandung: Penerbit CV. Sinar Baru Bandung.