harmonia vol.1 Juni 2011.indb 68 MODEL PEWARISAN KOMPETENSI DALANG M. Jazuli Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunungpati, Semarang Email : muhjaz@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran (pewarisan) kompe- tensi dalang. Untuk mengetahui model pembelajaran digunakan pendekatan pembelajaran tidak langsung dari Roger yaitu non-directive interview. Untuk mengetahui persyaratan dalang yang kompeten itu digunakan pendekatan strukturasionistik. Setting penelitian adalah jagat pedalangan, sedangkan lokasi penelitian bersifat situasional yakni bergan- tung dimana dan kapan siswa belajar mendalang. Hasil penelitian menemukan tiga model pembelajaran dalang. Pertama, model pembelajaran dalang di Sekolah dengan sistem dan aturan yang ketat, seperti kurikulum, jadwal belajar, memiliki standar kompetensi dan standar kelulusan. Kedua, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah, yaitu lembaga kursus. Ketiga, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah yang berbentuk Sanggar Seni. Abstract This study aims to describe the learning model (inheritance) of dalang competence. Efforts to over- come the problems of the study used qualitative research paradigms. To determine the learning model it was used an indirect approach of Roger namely a non-directive interview. To fi nd out the requirements for competent dalang it was used structurasionistic approach. Setting of the reseach is world of puppetry, while research sites are situational, ie, depends where and when students learn a performer. The reseach founded three dalang learning models. First, the dalang learning model school system and the strict rules, such as a curriculum, a schedule of learning, competency stan- dars and graduation standards. Second, learning models are in out of school (non-formal school), for instance in the course institution. Third, the dalang learning model in out of school (non-formal school) named art studios. Keywords: model pewarisan, kompetensi, dalang Inheritance Model of the Dalang (Puppeteer) Competence PENDAHULUAN Studi ini dimotivasi oleh tiadanya mod- el pembelajaran bagi calon dalang agar men- jadi dalang yang kompeten dan berkualitas. Hampir semua dalang yang eksis sekarang ini berasal dari keluarga dalang, seperti anak dalang, adik dalang dan saudara dalang. Seorang dalang yang tidak berasal dari ke- luarga dalang nyaris tidak terlihat. Jumlah dalang di Jawa Tengah ada sekitar 300 orang, yang bukan berasal dari keluarga dalang bisa dihitung dengan jari, tidak lebih dari 10 orang. Dari 20 orang dalang terkenal atau populer di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta hanya 2 orang dalang yang tidak berasal dari keturunan dalang, melainkan dari anak seniman pengrawit, masih terkait dengan dunia pewayangan (Murtiyoso, 1995; Jazuli, 2000). Hal ini mengindikasikan bahwa proses transformasi kemampuan dalang han- ya berlangsung dalam keluarga dalang saja. Pertanyaannya adalah: mengapa orang dari luar keluarga dalang tidak mampu menjadi dalang? Mengapa sistem pembelajaran calon dalang hanya berlangsung di dalam keluarga dalang. Apakah orang yang menjadi dalang harus keturunan dalang? M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 69 Urgensi studi ini manakala pertunju- kan wayang purwa yang oleh kalangan ma- syarakat pedalangan sering disebut dengan istilah pakeliran merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa yang sangat pop- uler dan fungsional. Bahkan pada tahun 2004 wayang telah memperoleh penghargaan dari UNESCO sebagai Master Piece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, sebuah karya agung bangsa Indonesia. Dalam pertunjukan wayang Sang dalang menduduki posisi sen- tral, yaitu sebagai pelaku utama dan sekal- igus sutradara. Peranannya yang akomoda- tif dan komunikatif dalam menyampaikan pesan-pesan untuk tujuan tertentu sehingga dirinya ditempatkan pada posisi yang terhor- mat (Lihat Anderson, 1965; Moeljono, 1975; Moertono, 1968/1983; Magnis-Suseno, 1984; Kayam, 1991; Amir, 1991; Walujo, 1994). Po- sisi terhormat semacam itu sangat tampak ketika Orde Baru memegang tampuk kekua- saan di negeri ini. Kini peran dalang banyak dimanfaatkan oleh partai-partai politik mau- pun perusahaan (iklan produk) untuk mem- propagandakan kepentingan mereka. Beberapa hasil penelitian yang melan- dasi penelitian ini di antaranya adalah: Per- tama, Clara van Groenendael (1987) yang mengkaji Dalang di Balik Wayang. Isi ka- jian mencakup posisi dalang sebagai pelaku utama pertunjukan wayang dan posisi sos- ial yang terhormat di masyarakat. Dia juga mengulas sedikit tentang sistem pendidikan dalang di sebuah perkumpulan; Kedua, Amir (1991) mengulas Nilai-nilai etis dalam Way- ang. Amir banyak membicarkan nilai-nilai eti- ka pedalangan dan persyaratan bagi seorang dalang, tetapi dalang masa lampau dan bu- kan dalang sekarang; Ketiga, Walujo (1994) yang meneliti “Peranan Dalang dalam Me- nyampaikan Pesan Pembangunan”, banyak berbicara mengenai cara dalang menyampai- kan pesan dari program pemerintah melalui tokoh Punakawan. Di sini jelas posisi dalang sebagai corong pemerintah; Keempat, Bam- bang Murtiyoso (1995) dalam tesisnya menge- nai ”Faktor-faktor Popularitas Dalang” ban- yak membicarakan cara dalang menggapai kepopuleran dalang; Kelima, Jazuli (2000) dalam disertasinya mengkaji Ideologi Dalang yang sarat dengan kepentingan dalang un- tuk memperoleh prestise sosial, keuntungan ekonomi, dan agen budaya. Ada tiga varian ideologi dalang, yaitu ideologi konservatif, pragmatis, dan ideologi progresif. Di sini se- dikit dibahas mengenai upaya dalang menca- pai kualitas kemasan yang bisa diterima oleh masyarakat sekarang, tetapi belum mengarah ke industrialisasi pertunjukan wayang. Bertolak dari paparan hasil penelitian di atas tampak, bahwa model pembelajaran (pewarisan kompetensi) dalang belum di- kaji atau belum menemukan bentuknya. Per- syaratan dalang berkualitas memang sudah dibahas, tetapi untuk dalang tradisi masa lampau, sedangkan dalang yang mampu mengatasi kebutuhan zaman belum dikaji. Apalagi memikirkan industrialisasi pertunju- kan wayang agar mampu menjadi media al- ternatif dalam menghadapi kemajuan media teknologi informasi yang canggih seperti sek- arang ini. Pemikiran dalang masih bertumpu bagaimana dirinya bisa eksis, populer, dan menarik perhatian khalayak, belum ada econ- omis recovery dan entertaiment industry. Pada hal pertunjukan wayang akan selalu melibat- kan perlengkapan dan peralatan yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu. Misalnya perajin pembuat wayang, perajin gamelan, perajin busana adat Jawa, dan sebagainya. Selain itu juga melibatkan profesi lain, seperti pesin- den, pengrawit, operator tata suara, dan se- bagainya. Dengan uraian tersebut, penelitian ini mengakaji pada sisi lain yang belum ter- jamah oleh penelitian yang telah dilakukan. Berangkat dari paparan di atas, masalah penelitian difokuskan pada model pewarisan (transmisi, pembelajaran) kompetensi dalang, dan persyaratan yang diperlukan untuk men- jadi dalang yang kompeten. Konsep pewarisan (inheritance) men- gadopsi dunia riil yakni suatu entitas/obyek dapat mempunyai entitas/obyek turunan. Dengan konsep inheritance, sebuah class dapat mempunyai class turunan. Suatu class yang mempunyai class turunan dinamakan parent class atau base class. Sedangkan class turunan itu sendiri seringkali disebut subclass atau child class. Jadi suatu subclass adalah tidak lain hanya memperluas (extend) parent class-nya. Dengan demikian pemaknaan pewarisan adalah melalui proses genetis. Oleh karena itu pewarisan juga merupakan pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201170 orang tuanya (Soemanto, 2006). Dalam dunia pendidikan, konsep pewarisan di atas dapat diidentikkan den- gan konsep pembelajaran, transmisi atau transformasi pengetahuan (transfer of knowl- wdge) karena pada prinsipnya mencakup proses pengalihan kompetensi dari generasi ke generasi, dalam hal ini dari guru kepada murid. Pengalihan itu dapat berupa karak- teristik, pengetahuan, keterampilan, dan atau kompetensi lainnya. Oleh karena itu konsep pewarisan dalam penelitian ini lebih dimak- nai sebagai proses pembelajaran, yaitu proses interaksi antara siswa dengan guru dan sum- ber belajar pada suatu kondisi yang sengaja diciptakan agar terjadi perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dimaksud menyangkut perubahan yang terjadi secara sadar, kontinyu dan fungsional, bersifat posi- tif dan aktif serta tidak bersifat sementara, memiliki tujuan atau terarah, dan perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Dalam pembelajaran terdapat berbagai model dengan pengkategorian yang beragam. Misalnya pengkategorian model pembela- jaran dengan nama: model interaksi sosial, model pengolahan informasi, model person- al-humanistik, dan model modifi kasi tingkah laku. Ada pula yang mengklasifi sikan model pembelajaran dengan sebutan: tidak langsung (non-directive teaching), pelatihan kesadaran (awareness training), dan pertemuan kelas (classroom meeting). Sungguhpun demikian, model pembelajaran pada dasarnya meru- pakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru (Uno, 2009). Jadi model pem- belajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran, dan evaluasi. Kompetensi adalah kemampuan yang memadai atas pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang harus dimiliki dan dikembangkan pada diri setiap orang (siswa maupun guru). Orang yang memiliki kompe- tensi dapat dikatakan orang kompeten. Kom- petensi yang penting dikembangkan dalam pendidikan (pembelajaran seni pedalangan) adalah kemampuan yang dapat menjem- batani dan mendukung pencapaian tujuan pendidikan serta memberikan kesempatan setiap orang untuk meningkatkan pendidi- kan sepanjang hayat. Kompetensi pedalan- gan mencakup dua faktor, yakni internal dan eksternal. Faktor internal menyangkut pema- haman dan penguasaan tentang sanggit dan pakem. Faktor eksternal menyangkut tentang pergaulan (relasi) sosial dalang serta komit- men dalang atas dharma pedalangan. Sanggit dan pakem merupakan faktor utama pakeli- ran (pertunjukan wayang), yang bila dikuasi mampu merefl eksikan kemampuan dalang sehingga dianggap sebagai dalang yang kom- peten dan berkualitas. Sanggit adalah kreati- vitas dalang dalam menafsirkan cerita, melo- di sulukan, gerakan wayang sesuai dengan rasa kemantaban pribadinya. Barangkali ini- lah sifat khas seni lisan tradisional, pada satu sisi membawa batas-batas yang ketat dan konservatif, pada sisi lain setiap pembawaan juga mempunyai kebebasan untuk ditafsir- kan kembali (Feinstein, 1986). Bagi dalang sanggit sebagai wahana pembawa pesan dan penggarapan aspek pakeliran meliputi: garap lakon (kerangka dasar lakon), garap adegan (urutan adegan), garap tokoh (dramatik dan kehidupan tokoh), garap catur (ginem atau dialog, janturan dan pocapan atau narasi), ga- rap sabet (gerak boneka wayang), dan garap iringan (musik sebagai pendukung suasana) (Murtiyoso, 1995; Subono, 1996; Jazuli, 2000). Pengertian garap adalah kegiatan mengo- lah secara artistik, bernilai seni. Dari sinilah peran kreativitas dalang ditunjukkan melalui pakeliran atau pertunjukan wayang. Untuk mengetahui model pembelaja- ran digali informasi tentang tujuan, materi, strategi (metode dan teknik), proses, dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu digunakan pendekatan pembelajaran tidak langsung yang oleh Roger diistilahkan non-directive interview (wawancara/pembelajaran tanpa menggurui), yaitu tatap muka antara guru dan siswa. Selama proses pembelajaran, guru berperan sebagai kolaborator dan fasilitator dalam proses penggalian jati diri dan pem- ecahan masalah siswa. Inilah yang dimak- sud dengan ‘tanpa menggurui (non-directive). Teknik pembelajaran untuk membimbing siswa dalam menyelesaikan karyanya den- gan cara mencarikan topik-topik pelajaran tertentu yang menarik bagi siswanya. Menu- rut Roger untuk menciptakan iklim belajar gur harus memenuhi empat syarat, yaitu: 1) M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 71 guru harus menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa, 2) guru harus mampu membuat siswa mengek- spresikan perasaannya tanpa tekanan, 3) siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaannya, dan 4) proses konsel- ing (wawancara) harus bebas dari tekanan dari manapun. Untuk memahami dalang yang kom- peten, dilakukan kajian tentang kompetensi dalang yang meliputi: kemampuan keseni- manan, komitmen terhadap dharma pedalan- gan, gaya pribadi yang khas, dan pergaulan sosial dalang. Untuk itu digunakan pendeka- tan strukturasionistik dari Giddens (1984). Adapun karakteristik strukturasi, yaitu: (1) memperlakukan manusia sebagai makhluk yang aktif, kreatif dan komunikatif, dalam hal ini calon dalang maupun dalang sebagai pelaku budaya, knowledgeable agent; (2) cara bertindaknya bergantung dari cara mema- hami dan memberi makna pada perilaku; (3) proses bertindaknya ada kaitannya dengan motivasi tertentu, seperti seperangkat mak- na, alasan, dan kehendak karena manusia sebagai subjek yang bertindak dan berpikir ikut menciptakan dunia sekitarnya; (4) sub- stansi dunia sosial adalah interaksi manusia, proses negosiasi makna intersubjektif; (5) pola reguler muncul dalam interaksi manusia dan memusatkan perhatian pada kenyataan yang penting serta sikap yang wajar (natural attitude). Dengan demikian tidak semua as- pek makna harus dinegosiasi secara konstan, meskipun dalam praktiknya sering terbing- kai oleh virtual order (tatanan bayangan) dan generalizable prosedure (prosedur umum) yang ada dalam masyarakat, seperti norma, aturan, jaringan, skenario, dan pengambilan keputu- san tertentu; (6) memberikan deskripsi dan eksplanasi pengalaman sosial keseharian dan pandangannya dalam skala mikro METODE Dalam upaya mengatasi problem penelitian digunakan paradigma penelitian kualitatif. Setting penelitian ini adalah jagat pedalangan. Pada satu sisi, yakni model pem- belajaran dan perspektif siswa (calon dalang) yang terekspresi pada proses pembelajaran- nya. Pada sisi lain adalah kompetensi yang harus dimilki oleh seorang dalang yang ter- ekspresi dalam pakelirannya maupun per- gaulan sosialnya. Adapun lokasi penelitian adalah wilayah Jawa Tengah, khususnya Surakarta. Subjek penelitian adalah para siswa calon dalang, guru dalang, dan dalang yang dianggap kompeten. Guru dalang meliputi Poniran dan Sri Raharjo (guru SMKN 8 Sura- karta), Mujiono (guru dalang bocah di sang- gar Sarotomo Surakarta), Suparno Hadiat- mojo (guru dalang di sanggar Ngesti Budaya Semarang). Dalang yang kompeten adalah Ki Anom Soeroto, Ki Manteb Soedarsono, dan Ki Purba Asmoro. Strategi pengumpulan data dan anali- sis data dilakukan secara simultan di lapan- gan penelitian guna memperoleh kedalaman dan keluasan cakupan penelitian. Adapaun teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Observasi dilakukan dengan cara men- gamati proses pembelajaran, yaitu tindakan guru yang meliputi pendekatan, strategi, ma- teri ajar, dan evaluasi dalam proses pembela- jaran. Selain itu juga observasi untuk mema- hami dalang yang kompeten melalui aspek praktik pakeliran sebagai wahana ekspresi simbolik, yaitu garap lakon, garap sabet, ga- rap catur, dan garap iringan, beserta analisis wacananya dengan teknik refl eksi diri. Hal seperti itu juga diterapkan pada siswa calon dalang dalam proses pembelajaran. Wawancara mendalam (in depth in- terview) untuk mendapatkan kesahihan ter- hadap respons dan pemahaman siswa atas tindakan guru dalam proses pembelajaran. Selain itu juga untuk memahami makna atas kompetensinya yang diungkapkan dalang dalam pergelarannya. Dalam telaah dokumen dilakukan den- gan melihat program pembelajaran, seperti kurikulum, jadwal, dan dokumen lain yang diperlukan. Untuk lebih memahami dalang yang ditempuh dengan menelaah hasil reka- man penyajian pakeliran dalang. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh secara konstan dan berdimensi luas. Hal ini men- jadi teknik dan prinsip sepanjang proses penelitian guna menemukan pola pembela- jaran yang dapat dirumuskan sebagai model HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201172 pembelajaran. Pada sisi lain juga menemukan ‘peta’ kompetensi dalang, spesifi kasi dalang, dan makna khas, semacam structural question yang diajukan Spradly (1979). Data yang di- peroleh diolah dengan cara pengecekan ke- lengkapan data, pengkategorian (komponen pembelajaran serta aspek-aspek dalam pak- eliran), triangulasi sumber data, pemeriksaan teman sejawat (peer debrifi ng) melalui diskusi, dan analisis data. Analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif kualitatif. Pertama, berhubungan dengan pembelajaran seperti tujuan, materi ajar, strategi, proses pembelajaran dan eval- uasinya. Kedua, berhubungan dengan kom- petensi dalang yang terefl eksi dalam aspek pakeliran seperti garap lakon, garap sabet, ga- rap catur, dan garap iringan, komitmen dalang dan pergaulan sosialnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Dalang Pendidikan dalang di Jawa Tengah dis- elenggarakan di Sekolah (formal) dan Luar Sekolah (nonformal). Pendidikan di sekolah dalang dapat dijumpai pada Institut Seni In- donesia (ISI) Surakarta dan Sekolah Menen- gah Kejuruan Negeri 8 (SMKN8) Surakarta. Kedua lembaga tersebut memiliki Jurusan Pedalangan yang bertujuan mencetak para calon dalang. Pendidikan dalang di Luar Sekolah diselenggarakan oleh Pasionaon Dalang ing Mangkunagaran (PDMN) Sura- karta, Pasinaon Dalang Keraton Surakarta (Padasuka), Sanggar Seni Sarotomo Surakar- ta, Sanggar Seni Ngesti Budaya Semarang. Pendidikan dalang di sekolah formal sebagaimana yang disebutkan sudah mem- punyai ketentuan dalam hal standar kompe- tensi, standar kelulusan, strategi pembelaja- ran (kurikulum, jadwal, pendekatan, metode, teknik) dan sistem evaluasi yang telah mapan dan terukur. Berbeda dengan sekolah non- formal yang berbentuk kursus keterampilan, yang sebagian memang telah memiliki stan- dar kompetensi, standar kelulusan, strategi pembelajaran, dan sistem evaluasi, meskipun tidak terlalu rinci dan pelaksanaannya tidak seketat sebagaiman sekolah formal. Hal ini terutama terjadi pada pembelajaran yang disebut Pasinaon. Sedangkan bentuk kursus di sanggar-sanggar seni belum memiliki stan- dar kompetensi, standar kelulusan, strategi pembelajaran (kurikulum, jadwal, pendeka- tan, metode, teknik) dan sistem evaluasi yang mapan, bahkan masih bersifat improvisasi. Artinya program pembelajarannya menye- suaikan kehendak (minat) dan keinginan siswa yang belajar. Barangkali pembelajaran di sanggar seni inilah yang dimaksudkan dalam penelitian Groenendael (1987) masih bersifat improvisasi atau tidak berpola. Pendidikan di Sekolah Menengah Keju- ruan Negeri 8 Surakarta Semula Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 Surakarta (SMKN 8) bernama Seko- lah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) sebagai lembaga pendidikan memiliki tu- juan yang selaras dengan tujuan Pendidikan Nasional. Di SMKI terdapat jurusan karawi- tan, tari, dan pedalangan dengan masa studi di SMKI adalah empat tahun. Para guru di SMKI banyak yang berasal dari keraton, sep- erti empu karawitan, empu pedalangan, dan empu tari. Hal ini berlangsung sejak tahun 1960an sampai tahun 1980an, dan setelah itu banyak guru yang diangkat oleh pemerintah, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berasal dari lulusan SMKI maupun STSI (sekarang ISI) Surakarta. SMKN 8 memiliki lima program keahl- ian (jurusan), yaitu seni pedalangan, seni tari, seni musik, seni rupa, dan seni teater. Jumlah siswa program keahlian seni pedalangan se- tiap tahun rata-rata 8 sampai 12 orang, sedan- gkan guru bidang keahlian seni pedalangan berjumlah 8 orang. Tujuan program keahlian seni pedalan- gan sebagai berikut: 1)Siap memasuki lapan- gan kerja sektor formal dan informal serta mengembangkan sikap profesional dibidang Seni Pedalangan; 2) Mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengem- bangkan diri dibidang Seni Pedalangan; 3) Menjadi tenaga kerja Seni Pedalangan tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri seni, pada saat ini dan masa yang akan dating; 4) Menjadi warga negara yang normatif, adaptif, produktif, kre- atif dan inovatif dibidang Seni Pedalangan. Struktur kurikulum terdiri atas tiga kat- egori, yaitu mata pelajaran, muatan lokal, dan M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 73 pengembangan diri. Mata pelajaran terbagi dalam tiga sifat yakni kelompok normatif, adaptif, dan produktif. Muatan lokal berupa pembelajaran bahasa Jawa. Pengembangan diri berupa pembelajaran dalam konteks ekstrakurikuler dan bimbingan konseling. Kurikulum seni pedalangan harus disele- saikan oleh siswa dalam waktu 3 tahun yang dijabarkan berdasarkan standar kompetensi, kompetensi dasar beserta indikator pencapa- innya. Standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat dikemukakan seperti berikut ini. Standar Kompetensi (SK) meliputi: 1) Me- mainkan wayang / cepeng sabet pedalangan dengan Kompetensi Dasar (KD) yakni me- nyiapkan berbagai macam wayang , melak- sanakan teknik pemegangan wayang, dan melaksanakan teknik memegang wayang, 2) Melaksanakan Antawacana / sastra pedalan- gan dengan KD melakukan intonasi ber- dasarkan karakter wayang dan melakukan dialog berdasarkan jenis wayang, 3) Melaku- kan Olah Vokal pedalangan dengan KD mel- antunkan nada, memilih laras, dan mempre- sentasikan sulukan, 4) Melakukan iringan pedalangan dengan KD menginterpretasikan ritme, warna, dan gerak wayang, menyiap- kan peralatan ricikan gamelan, dan memain- kan gending iringan wayang, 5) Melakukan teknik dasar dodogan dan keprakan dengan KD memilih bentuk dan warna dodogan/ke- prakan, memainkan dodogan, 6) Memainkan cerita pedalangan dengan KD memyiapkan berbagai macam wayang, menyiapkan ben- tuk iringan, dan menyiapkan naskah cerita, 7) Menulis cerita ringkas/padat dengan KD menentukan tema cerita, membuat struktur cerita, dan menulis naskah cerita, 8) Menulis cerita utuh pedalangan dengan KD menen- tukan tema cerita, membuat struktur cerita, dan menulis naskah cerita, 9) Merencanakan dan mendemonstrasikan pentas pedalangan dengan KD merencanakan kegiatan pentas, menyiapkan baha, peralatan dan lokasi, serta melaksanakan pentas wayang. Pendekatan yang digunakan adalah klasikal – siswa belajar secara bersama dalam satu kelas dengan seorang guru. Dengan kata lain bahwa pendekatan lebih berbasis pada guru karena harus mengajar sejumlah siswa dalam satu ruangan. Sungguhpun seorang guru harus membelajarkan satu kelas siswa tetapi dalam pelaksanaannya telah menun- jukkan perannya sebagai fasilitator dan mo- tivator. Artinya lebih banyak melayani siswa untuk mengembangkan pemahaman atas meteri ajar yang diterima, menemukan ma- salahnya sendiri, serta mengekspresikan per- asaannya sendiri. Strategi Pembelajaran dalang diatur melalui sistem penjenjangan, yaitu tingkat I, tingkat II, dan tingkat III. Setiap tingkat ter- diri dari dua semester, yakni semester gasal dan genap yang harus ditempuh oleh siswa dalam waktu satu tahun. Dari Pembagian jenjang per tingkat dan per semester tersebut kemudian diisi dengan materi ajaran sesuai program kurikulum yang telah ditentukan. Metode ceramah utamanya digunakan oleh guru dalam bentuk lisan satu arah untuk menyampaikan materi yang bersifat kognitif. Metode ceramah yang disertai diskusi (tanya jawab) sering digunakan pada materi ajaran teori (pengetahuan pedalangan). Dalam pros- es pembelajaran materi ajaran teori sering dilengkapi dengan pemberian tugas atau uji- an tengah semester, dan pada akhir pembe- lajaran diadakan ujian tertulis sebagai bentuk evaluasi. Dalam pembelajaran praktik keter- ampilan mendalang metode peragaan dan diskusi merupakan cara yang utama digu- nakan guru. Guru memberikan contoh per- agaan (mempraktikkan) yang ditunjukkan kepada para siswanya kemudian para siswa menirukan, seperti peragaan sabet (mem- gang wayang, menancapkan wayang, per- agaan peperangan) catur (pocapan, ginem, sulukan, senggakan), dan iringan (membu- nyikan gamelan seperti kendang, bonang, dhodhogan). Peniruan atas peragaan guru tersebut terutama terjadi pada tahap pelaja- ran dasar. Pada proses pembelajaran praktik sering disisipkan metode diskusi, seperti tu- kar pendapat, membahas persoalan tertentu sehingga ada interaksi dan komunikasi antar- siswa maupun antara siswa dan guru. Dari proses diskusi itulah mendorong siswa untuk memperkaya apresiasi, yaitu siswa diminta untuk selalu mengamati pertunjukan way- ang. Ketiga metode tersebut sesungguhnya senantiasa terintegrasi dan saling melengkap dalam pembelajaran praktik maupun teori. Dalam pembelajaran klasikal seorang HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201174 guru memberi materi sesuai dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang telah ditetapkan pada setiap tingkat dan setiap semesternya. Pembelajaran dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Namun dalam pelaksanaannya terutama pada mata ajaran praktik, guru tampak hanya memberi- kan contoh seperlunya saja, dan lebih ban- yak memberikan motivasi kepada siswa un- tuk berkreasi sendiri atau mengembangkan dasar-dasar materi ajar yang telah diteriman- ya. Misalnya ketika guru memberikan contoh mata ajaran sabet, seperti bedolan, adegan per- ekan atau jenis peragaan gerak wayang yang lain, siswa mengamati kemudian diharapkan mau mencoba dan berusaha mengembang- kan menurut kemantapan rasa pada dirinya tanpa mengesampingkan prinsip dasar dari sabet itu sendiri. Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pembelaja- ran praktik pedalangan di SMKN-8 Surakarta cenderung masih melanjutkan sistem dan proses pembelajarn yang dilaksanakan oleh para guru dalang tradisional di pendidikan dalang nonformal. Hal ini dapat dimaklumi, sebab sistem dan proses pembelajaran dalang pertama di SMKI (sekarang SMKN 8) telah disusun oleh para guru dari PDMN dan abdi dalem dalang dari keraton, seperti yang akan disampaikan di bagian belakang bab ini. Sistem evaluasi sebagaimana pada sekolah formal lainnya, yakni ada evalusi tengah semester dan akhir semester. Materi evaluasi bertolak dari kurikulum yang diber- lakukan, baik yang teori maupun praktik. Pendidikan di Pasinaon Dalang Mangkun- agaran (PDMN) Surakarta Pasinaon merupakan salah satu sistem pendidikan tradisi (nonformal) yang memi- liki kontribusi besar dalam meningkatkan sumber daya manusia, terutama peranan- nya dalam menciptakan insan yang kompe- ten dalam bidang tertentu. Pasinaon Dalang Mangkunagaran (PDMN) telah menghasilk- an sumbangan positif bagi siswa calon dalang wayang kulit purwa, yakni tenaga-tenaga ter- ampil sebagai dalang wayang kulit, sepert Ki Sudjarno (Wonogiri) dan Ki Panut Darmoko (Nganjuk), dan Ki Manteb Soedarsono (Ka- ranganyar). Hal inilah yang menjadi alasan mengapa sistem pendidikan tradisi perlu diungkap untuk dijadikan dokumen budaya maupun sebagai bahan pengembangan pen- didikan yang bermuatan budaya lokal. Pasinaon Dalang Mangkunagaran merupakan tempat belajar dalam bentuk kursus untuk menjadi dalang. PDMN adalah milik Pura Mangkunagaran Surakarta yang berada di Jalan RM. Said nomor 111 Pungga- wan Rt 02 Rw 04 Banjarsari Surakarta. PDMN berdiri pada masa pemerintahan Mangkun- agara VII (tahun 1932-an). Pendirian PDMN dilatar belakangi oleh menurunnya kualitas kompetensi para dalang di wilayah Kadipat- en Mangkunagaran yang meliputi kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sragen, dan Sukoha- rjo. Berdasarkan alasan tersebut, kemudian pada dalang dikumpulkan di Mangkunaga- ran untuk menerima pendidikan (ditatar) tentang kawruh pedalangan oleh para pakar pada masa itu, seperti Kanjeng Patih Partana, Ki Sutarta Harjawahana, Ki Mangundriya dan Kanjeng Adipati Mangkunagara VII ikut memonitor. Setelah penataran kawruh pedalangan semakin mapan kemudian dina- makan Pasinaon Dalang ing Mangkunaga- ran, disingkat PDMN. Puncak keemasan PDMN diraih pada sekitar tahun 1960-an ketika seorang siswan- ya yang juga abdi dalang Ki Ng. Wignyo- sutarno memperoleh popularitas di ma- syarakat luas. Ng. Wignyosutarno kemudian menjadi guru di PDMN dan berkat keteku- nannya telah menghasilkan para dalang yang kompeten dan tersohor, seperti Ki Sudjarno (Wonogiri) dan Ki Panut Darmoko (Ngan- juk). Semenjak Ki Wignyosutarno mening- gal (1966) “pamor” atau popularitas PDMN menjadi menurun. Penurunan popularitas ini lebih dimungkinkan lagi setelah SMKI (seka- rang SMKN 8) Surakarta dan STSI (sekarang ISI) Surakarta secara formal telah membuka program pendidikan pedalangan. Perlu dis- ampaikan di sini bahwa semua guru dalang PDMN, sampai akhir 80-an, telah diangkat menjadi tenaga pengajar (honorer) di Jurusan Pedalangan kedua lembaga formal tersebut. Mereka adalah: Ki Wignyosutarno, Ki Surat- no Gunomiharjo, Ki Suratno, Ki Darsomar- tono, dan Ki Suyatno Wignyosarono. Tujuan pendidikan dalang di PDMN an- tara lain adalah: 1) menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja di bidang pedalan- M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 75 gan secara profesional, 2) menyiapkan siswa agar kompeten dan mampu mengembangkan diri di bidang seni pedalangan, 3) menyiap- kan lulusan kursus menjadi pengembang budaya, utamanya bidang pedalangan yang produktif, kreatif, normatif, dan adaptif. Adapun pendekatan pembelajaran yang digunakan di PDMN adalah pendeka- tan berbasis siswa, artinya kegiatan pembela- jaran selalu memfokuskan atau memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk menyatakan diri secara bertanggung jawab. Penggunaan pendekatan seperti itu dipan- dang proporsional mengingat pembelajaran seni pedalangan merupakan pembelajaran ekspresi kreatif – harus muncul dari dalam diri siswa sendiri. Ekspresi kreatif dapat men- imbulkan sifat yang unik, alamiah, dan tidak mengenal istilah benar-salah. Dalam Strategi pembelajaran, materi ajar pedalangan di PDMN pada intinya me- liputi tiga aspek pakeliran, yakni catur, sabet, iringan. Untuk mendukung kemampuan ke- tiganya diberikan mata ajaran Pengetahuan Pedalangan. Bila ketiga aspek pakeliran dapat berlangsung baik dan mampu dikuasi oleh para siswa akan ditambah materi tentang la- kon dan sanggit. Berdasarkan ketiga materi pokok itu ke- mudian dikembangkan dalam suatu kuriku- lum yang diatur berdasarkan tingkat keahlian dengan penggolongan, yakni tingkat purwa warana (tingkat I), madya warana (tingkat II), dan tingkat wasana warana (tingkat III). Ketiga jenjang pembelajaran tersebut diselenggara- kan dalam waktu tiga tahun. Pada tingkat I berisi pembelajaran dasar-dasar pedalangan, khususnya subgaya pedalangan khas Mang- kunagaran. Tingkat II dan III pembelajaran teknik keterampilan aspek pakeliran sampai pada tingkatan terampil, krasa manteb dan mampu menarik penonton. Sungguhpun demikian kurikulum tidak tersusun secara terinci sebagaimana pada sekolah formal. Untuk mendukung kemampuan intele- ktualnya, para siswa atau biasa disebut den- gan istilah “cantrik” PDMN dibekali beber- apa mata ajaran teori (pengetahuan), seperti Pengetahuan Pedalangan, Pengetahuan Way- ang, Apresiasi Seni, Sastra Pedalangan, Pen- getahuan Lakon, dan Pengkayaan Sanggit. Metode ceramah sering digunakan pada materi ajaran teori (pengetahuan pedalan- gan), meskipun kadang juga digunakan un- tuk menunjang pada materi ajaran praktik keterampilan.Metode peragaan adalah cara yang digunakan guru dalam praktik ket- erampilan mendalang. Guru memberikan contoh peragaan (mempraktikkan) untuk ditunjukkan kepada para siswanya, seperti peragaan sabet (misal: memgang wayang, menancapkan wayang, peragaan peperan- gan( catur, pocapan, ginem, sulukan, seng- gakan), dan iringan (membunyikan gamelan seperti kendang, bonang, dhodhogan). Pada tengah-tengah penggunaan kedua metode tersebut sering disisipkan metode diskusi, seperti tukar pendapat, membahas persoalan tertentu sehingga antarsiswa maupun siswa dan guru ada interaksi dan komunikasi. Ke- tiga metode tersebut sesungguhnya senantia- sa terintegrasi dan saling melengkap dalam pembelajaran praktik maupun teori. Apalagi tujuan pembelajaran pedalangan di PDMN mengarah pada profesionalitas, keteladanan, dan pengembangan moral. Adapun teknik penyampaian materi ajar menggunakan bahasa Jawa, baik jenis ngoko maupun krama. Penggunaan bahasa Jawa sebagai pengantar pembelajaran cukup beralasan. Mengingat wayang kulit purwa berlatar belakang budaya Jawa yang sarat dengan idiom simbolis dan fi losofi s budaya Jawa. Selain itu itu bahasa yang digunakan dalam pakeliran mayoritas bahasa Jawa, mes- ki ada bahasa Kawi dan sedikit bahasa San- sekerta. Proses pembelajarannya, Keberlang- sungan proses pembelajaran didasarkan pada pengaturan jadwal yang telah ditentukan oleh PDMN. Berdasarkan pengaturan jadwal per semester (gasal maupun genap) menandakan bahwa proses pembelajaran berlangsung se- cara teratur dan dapat dikontrol keberadaan- nya. Mengenai siapa pengampunya, materi ajar apa yang diberikan, kapan dan dimana tempat pembelajarannya telah tertata dengan baik sehingga para siswa dan guru sudah mengetahuinya. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran di PDMN ber- langsung relatif tertib. Sungguhpun demiki- an tidak jarang terdapat proses pembelajaran berlangsung di luar jadwal yang ditentukan. Hal ini terjadi terutama pada pelajaran prak- HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201176 tik, banyak siswa yang mengikuti pelajaran praktik di studio (ruang yang didesain sep- erti panggung pertunjukan wayang yang ses- ungguhnya), di luar jadwal yang terprogram. Proses ini terjadi karena siswa biasanya telah melakukan kontak dengan Sang guru untuk meluangkan waktunya dan berkenan mem- beri pelajaran tambahan. Namun tidak jarang siswa sendiri yang datang ke stodio untuk latihan sendiri guna mengasah dan mem- perkaya kemampuan keterampilan prak- tiknya dan atau sebagai wahana persiapan para siswa yang akan mengadakan pentas di luar. Kegiatan penambahan pelajaran sep- erti itu biasanya berlangsung di luar jadwal pembelajaran yang telah terprogram. Para siswa biasanya datang ke studio pada pagi sampai siang hari karena jadwal pembelaja- ran dalang di PDMN berlangsung jam 16.00 sampai 21.00 WIB. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran di PDMN juga dapat berlangsung tidak formal. Perpaduan proses pembelajaran yang formal dan tidak formal ini menunjukkan tiadanya konsisten- si waktu pembelajaran. Namun hal ini juga menunjukkan bahwa model pembelajaran dalang di PDMN memiliki karakteristik yang justu sangat kondusif bagi keberlangsungan pembelajaran dalang – karakteristik yang ti- dak kaku dalam hal pengaturan waktu bela- jar bagi siswanya. Evaluasi dilaksanakan dalam dua cara, yaitu evaluasi proses dan produk. Evaluasi proses untuk materi ajar praktik dilakukan ketika proses pembelajaran tengah berlang- sung, sedangkan evaluasi untuk materi ajar teori dilakukan dengan tes lisan. Evaluasi produk untuk materi ajar praktik dilakukan pada setiap akhir semester, yaitu siswa dim- inta memeragakan materi yang telah diajar- kan secara integratif, sedangkan untuk mata ajar teori dilakukan dengan tes lisan dan kadang tes tertulis tergantung Sang guru. Pendidikan di Sanggar Seni Sarotomo Surakarta Sanggar Seni Sarotomo Surakarta meru- pakan sebuah tempat untuk menempa setiap orang, khususnya anak-anak yang ingin bela- jar seni tari, karawitan, dan yang paling me- nonjol adalah seni pedalangan. Sanggar ini merupakan tempat pembelajaran pedalangan yang unik. Siswa yang sebagian besar terdiri atas anak-anak, tidak dikenakan persayaratan apa pun, kecuali gemar atau senang pada ke- senian tradisional Jawa, khususnya pedalan- gan. Siswa diberi kebebasan seluas-luasnya datang ke sanggar untuk belajar mendalang, sesuai dengan kesempatan waktu dan bidang apa yang diminatinya. Menurut Mujiono se- laku ketua sanggar bahwa siswa juga tidak diwajibkan untuk membayar sejumlah uang agar menjadi anggota sanggar. Artinya anak- anak yang tidak mampu tidak harus mem- bayar, dan mereka yang mampu juga tidak ditentukan berapa besar harus membayar. Dengan kata lain mereka yang mampu mem- bayar boleh membayar secara suka rela. Pembiayaan sanggar biasanya berasal dari para donatur, seperti lembaga pemerin- tah maupun swasta, orang-orang yang peduli kepada pendidikan anak, dan sebagian sum- bangan orang tua siswa maupun sponsor lainnya. Tujuan pembelajaran pedalangan di Sanggar Seni Sarotomo Surakarta bertujuan: 1) untuk memperoleh pengalaman awal ber- kesenian kepada para siswa khususnya para anak-anak setingkat TK, SD, dan SLTP; 2) agar para siswa lebih mencintai dan meng- hargai (mengapresiasi) bidang seni tradis- ional sejak usia dini; 3) agar siswa memiliki keseimbangan antara kemampuan emosional dan perkembangan intelektualnya. Sebab dalam pembelajaran selalu diselipkan etika, tata krama dan norma budaya Jawa agar mer- eka mempunyai budi pekerti yang baik. Pendekatan yang digunakan pendeka- tan berbasis siswa, artinya kegiatan pembela- jaran selalu memfokuskan atau memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk menyatakan (mengeksprsikan) diri sesuai minat dan keinginan siswa tanpa tekanan dari orang dewasa atau gurunya. Penggu- naan pendekatan seperti itu dipandang tepat mengingat pembelajaran seni bagi anak-anak memang harus mempedulikan minat, keg- emaran (selera), keinginan, dan dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan siswa (anak-anak). Sebab tujuan utamanya adalah untuk membekali/mendasari siswa agar lebih mencintai dan menghargai bidang seni tradisional sejak dini. Strategi pembelajaran cenderung lebih M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 77 merupakan arena bermain bagi anak-anak usia TK, SD, dan SLTP. Dengan demikian di Sanggar Seni Sarotomo Surakarta belum dirasa perlu penjenjangan seperti yang di- lakukan di tempat pembelajaran pedalangan yang lain. Secara sederhana, siswa hanya dipilah menjadi dua bagian, yaitu anak baru dan anak lama. Pembagian sepeprti itu pun sering terjadi tumpang tindih, artinya dalam beberapa kasus para siswa dapat berbaur an- tara anak baru dan lama dalam kegiatan ber- sama, misalnya pentas. Strategi pembelajaran di lingkungan Sanggar Seni Sarotomo Sura- karta lebih tepat disebut ajang asah, asih, dan asuh. Azas kekeluargaan sangat menonjol. Berdasarkan uraian di atas, Sanggar Seni Sarotomo Surakarta tidak menerapkan kurikulum secara ketat, layaknya pada lem- baga pembelajaran pada umumnya. Sung- guhpun demikian, materi pokok pedalangan yang dibelajarkan tetap berorientasi pada aspek catur, sabet, dan iringan yang dimulai dari yang paling dasar, seperti teknik mena- buh gamelan, memegang wayang, mengenal titi laras gamelan, dan sebagainya. Mengenai lakon dan sanggit diarahkan (dibuatkan) oleh guru pelatihnya. Metode peragaan (demonstrasi) den- gan nuansa bermain menjadi cara pembe- lajaran yang utama. Sungguhpun metode diskusi atau tanya jawab turut menunjang dalam proses pembelajaran. Untuk mendu- kung latihan praktik mendalang, para ang- gota sanggar juga diarahkan untuk menge- nal praktik dasar menabuh gamelan, dodogan atau keprakan, dan sabetan wayang, sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Dengan demikian metode pembelajaran yang diterap- kan cenderung mengarah pada belajar berke- senian sambil bermain. Dengan cara ini, para siswa diharapkan lebih santai, nyaman, dan bebas dalam belajar mendalang bagian-ba- gian tertentu, sesuai dengan tingkat pemiki- ran dan kegemaran masing-masing siswa. Untuk melengkapi pengetahuan apre- siasi mereka, terutama untuk keperluan pen- tas bersama, para siswa diminta untuk saling membantu kepada temannya yang hendak pentas. Misalnya menjadi waranggana, me- nabuh gamelan, dan mempersiapkan per- lengkapan pentas pedalangan lainnya. Bah- kan tidak jarang juga didatangkan pelatih tari untuk memberikan contoh sejumlah reper- toar gerak tari yang diperlukan, kerampakan, serta pengaturan pola lantai. Pada awal proses pembelajaran, ma- sing-masing siswa diberi kebebasan untuk memilih tokoh wayang yang paling dige- mari, kemudian pelatih memberikan contoh sabet (gerak-gerak wayang) sederhana sesuai dengan karakternya. Selanjutnya, para peser- ta sanggar menirukannya. Cara demikian ini dilakukan berulang-ulang sampai memiliki tingkat ketrampilan cukup dan sesuai den- gan hasil yang dicapai anak. Apabila satu ragam gerak dan karakter wayang sudah dikenal dengan baik dan secara teknis telah dikuasai anak, maka dilanjutkan dengan penjelajahan tokoh-tokoh wayang yang lain. Dari sinilah pelatih/guru selalu memotivasi siswa mengekspresikan perasaannya positif maupun negatif tanpa tekanan. Siswa secara bertahap mengembangkan pemahaman (ke- sadaran) akan dirinya, dan mereka berusaha menemukan makna dari pengalamannya. Pelatih hanya memberi nasehat dari belakang siswa serta membantu mengklarifi kasi alter- natif-alternatif yang diajukan oleh siswa, dan bila diperlukan juga memberikan alternatif. Dengan demikian komunikasi antara pela- tih dan siswa terlihat hangat, tidak ada jarak, bahkan terkesan saling bermain-main. Bagi anak yang tidak sedang praktik sabet, oleh pelatih diarahkan untuk berlatih gamelan. Berlatih gamelan ini dipandang perlu untuk mengenal berbagai jenis irama dan nada gamelan. Pelatihan gamelan dimu- lai dari membunyikan ricikan pada bentuk melodi yang paling sederhana sampai pada sejumlah repertoar gending yang cocok bagi perkembangan usia dan/atau jiwa anak. Para pelatih memberikan arahan kepada para siswa jenis ricikan (instrumen gamelan) yang paling sesuai dengan kemampuan anak. Se- bagian siswa ada yang belajar nembang (me- nyanyi lagu Jawa) dan belajar catur (suluk, ginem, pocapan). Posisi pelatih (guru) cen- derung mengikuti kemauan dan keinginan siswa, kemudian mengarahkan sesuai karak- ter tokoh wayang yang sedang diekspresikan atau diperagakan oleh siswa. Jadi guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator saja. Sebagaimana yang dikatakan Mujiono (9 Agustus 2009) bahwa: “Ngajari lare menika HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201178 kedah sabar lan ngertos karepe bocah ... ya wis ben arep dikapakake wayange. Lha mangke menawi sampun rumangsa bingung (ora ngerti) kula nem- be paring pituduh “(membelajarkan anak men- dalang harus sabar dan memahami keinginan anak ... biarkan saja apa yang mereka ingink- an, mau diapakan wayangnya terserah. Lha kalau sudah merasa bosan, bingung karena tidak tahu, saya baru mengarahkannya). Evaluasi pembelajaran dilakukan den- gan cara sangat sederhana, baik dalam saat proses maupun hasil pencapaiannya. Evalu- asi proses dilakukan agar anak menguasai teknik-teknik dasar yang tepat bagi minat mereka. Kadang-kadang kompetisi interak- tif di antara para anak (peserta didik) telah terjadi. Sering terjadi anak yang memiliki ketrampilan lebih menonjol (senior), secara akrab, telah menegor sekaligus memperbaiki “kesalahan” yang dilakukan oleh juniornya, dengan cara memberikan contoh langsung dengan praktik. Di luar proses pembelajaran, anak- anak golongan senior, kadang-kadang sudah mempunyai jadwal pentas sendiri untuk be- bagai keperluan di masyarakat (misalnya: ulang tahun, perpisahan sekolah, peringatan hari besar, khitanan, dan hajadan yang lain). Untuk persiapan pentas inilah, biasanya se- luruh anggota sanggar dilibatkan dan digu- nakan untuk memberikan evaluasi terhadap kemajuan yang dicapai oleh masing-masing anak. Setiap satu kali pentas biasanya meli- batkan tiga anak atau lebih sebagai dalang Tabel 4. Model Pembelajaran Indikator Model SMK Negeri 8 Pasinaon Dalang Mangkunagara Sanggar Seni Sa- rotomo Tujuan 1. Siap memasuki lapan- gan kerja sektor for- mal dan informal serta mengem-bangkan sikap profesional dibidang Seni Pedalangan 2. Mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengem- bangkan Seni Pedalan- gan 3.Menjadi tenaga kerja Seni Pedalangan tingkat menengah untuk men- gisi kebutuhan dunia usaha dan industri seni. 4.Menjadi warga negara yang normatif, adaptif, produktif, kreatif dan inovatif dibidang Seni Pedalangan 1. .menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja di bidang pedalangan secara profesional, 2. menyiapkan siswa agar kompeten dan m a m p u m e n g e m - bangkan diri di bi- dang seni pedalan- gan, 3. menyiapkan lulu- san kursus men- jadi pengembang budaya, utamanya bidang pedalangan yang produktif, kreatif, normatif, dan adaptif. 1. untuk memperoleh pengalaman awal berkesenian kepada para siswa khusus- nya para anak set- ingkat TK, SD, dan SLTP; 2. agar para siswa lebih mencintai dan meng-hargai (men- gapresiasi) bidang seni tradisional sejak usia dini; 3. agar siswa memiliki keseimbangan antara kemampuan emo- sional dan perkem- bangan intelektual- nya. M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 79 Pendekatan Berbasis kelas Syarat menjadi siswa adalah lulus SLTP, tes ke- sehatan, tes bakat. Berbasis siswa, Syarat menjadi siswa: sehat jasmani-rohani, memiliki minat dan motivasi, dan senang dengan pedalangan Berbasis siswa dengan teknik bermain, Syarat menjadi siswa hanya minat, motivasi kemauan, dan senang Strategi Pembelaja- ran 1. Ada penjenjangan t yakni tingkat I, II, dan tingkat III 2. Lama studi 3 tahun 3. Kurikulum berlaku ketat 4. Materi: sabet, catur, ir- ingan, teori dan fi lsafat pedalangan 5. Sarana pembelajaran sangat lengkap hingga untuk pertunjukan 1. Metode ceramah, per- agaan dan diskusi; 6. Pengantar pembelajaran campuran bahasa Jawa dan Indonesia; 2. Ada penjenjan- gan tingkat yakni I (purwa warana) II (madya warana), dan III (wasana wa- rana) 3. Lama studi 3 tahun 4. Ada kurikulum tetapi tidak berlaku ketat 5. Materi: sabet, catur, iringan, pengeta- huan pedalangan 6. Sarana cukup untuk pertunjukan seder- hana 7. Metode ceramah, peragaan, diskusi; 8. Pengantar bahasa Jawa 1. Tidak ada penjengan 2. Lama studi tidak ada batasan tergantung minat dan kemauan siswa 9. Materi sebagian be- sar praktik sabet, ca- tur, iringan, penge- tahuan pedalangan 3. Sarana sederhana, hanya bisa untuk latihan saja, 4. Metode peragaan dan bermain 5. Pengantar bahasa Jawa Proses Pembelaja- ran 1. Menurut jadwal dan mata ajaran, dan dilak- sanakan pada jam 07.00- 13.00 2. Pembelajaran praktik di studio (ruang praktik) dan teori di kelas teori; 3. Peran guru sebagai tu- tor, fasiltatorr, motiva- tor; 4. Pembelajaran di kelas sangat serius dan ketat dengan aturan yang berlaku 1. Menurut jadwal ses- uai mata ajaran dan dilaksanakan pada jam 16.00-21.00 2. Pembelajaran di stu- dio (ruang praktik) dan teori di per- pustakaan 3. Peran guru sebagai fasilitatordan moti- vator; 4. Pembelajaran serius tetapi tidak ketat 1. Jadwal latihan satu minggu 3 kali: jam 14.00-18.00, khusus mimggu jam 11.00- 17.00 2. Pembelajaran prak- tik di pendapa sang- gar 3. Peran pelatih seb- agai tutor dan moti- vator; 4. Pembelajaran santai dan sambil bermain Dalang yang Kompeten Berdasarkan data yang diperoleh dari para informan dan sumber-sumber ter- tulis dalang yang kompeten adalah dalang yang mampu memenuhi persyaratan sebagai berikut: Pertama, memiliki kemampuan ke- senimanan dalang, yaitu berkait dengan as- pek pakeliran meliputi: garap lakon (kerangka dasar lakon), garap adegan (urutan adegan), garap tokoh (dramatik dan kehidupan to- koh), garap catur (ginem atau dialog, janturan dan pocapan atau narasi), garap sabet (gerak boneka wayang), dan garap iringan (musik sebagai pendukung suasana). Kedua, komit- HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201180 men terhadap dharmanya yang bersumber pada sesanti ‘mamayu hayuning bawana, ma- mayu hayuning bangsa, mamayu hayuning diri (sasama)’’, artinya selalu berupaya ikut men- ciptakan ketertiban dan kedamaian bagi du- nia, bagi negara-bangsa, dan bagi sesama umat manusia tanpa melupakan kepentingan pribadi. Darma dalang mencakup pengua- saan dan penjiwaan lima darma yang disebut pancadarma. Kelima darma yang dimaksud adalah pengetahuan tentang hakekat kebena- ran (kagunan), berbagai norma yang disepak- ati secara budaya (kasusilan), keberanian dan berjiwa besar (kasudiran), bersikap bijaksana dan rendah hati (anuraga), dan selalu waspada (sambegana). Selain itu juga komitmen terha- dap Trikarsa berisi tekad untuk melestarikan, mengagungkan, dan mengembangkan way- ang. Pancagatra mencakup seni pentas yang bermutu, yaitu: (1) menampilkan pergelaran yang bermutu (seni pentas), (2) mengolah iringan sesuai dengan tatanan yang berlaku dan berakar dari tradisi (seni karawitan), (3) membanggakan masyarakat pemiliknya (seni kriya), (4) mencakup aspek pendidikan dan falsafah (seni widya), (5) memiliki kreativitas yang tinggi tanpa melanggar nilai adiluhung pedalangan (seni ripta). Ketiga, mempunyai gaya pribadi yang khas, Dalang yang dianggap kompeten bila di dalam dirinya memiliki gaya yang khas. Gaya yang khas dalam mendalang selain men- gandung nilai kekhususan tersendiri karena membedakan dengan dalang lainnya, juga merupakan manifestasi keunggulan. Con- tohnya Ki manteb Soedarsono dengan keung- gulan pada aspek sabet (permainan boneka wayang). Kelebihannya dalam berolah sabet inilah beliau pernah memdapatkan sebutan “dalang setan”, dalam arti memiliki keter- ampilan yang luar biasa dalam memainkan boneka wayang. Ki Anom Soeroto mem- peroleh predikat “dalang suluk”, Ki Purba Asmoro dikategorikan “dalang udanegara”, Ki Joko hadiwijaya memiliki predikat “dalang edan”. Predikat atau sebutan semacam itu erat kaitannya dengan kekhasan kemampuan seorang dalang dalam gaya pedalangannya Keempat, memiliki pergaulan sosial yang luas. Pergaulan sosial dalang di sini dik- aji melalui hubungan antardalang, hubungan dalang dengan budaya lingkungannya, dan hubungan dalang dengan pihak lain. SIMPULAN Sehubungan dengan model pembe- lajaran dalang telah ditemukan tiga model. Pertama, model pembelajaran dalang di Sekolah dengan sistem dan aturan yang ketat sebagaimana sekolah formal lainnya, seperti ada kurikulum, ada jadwal belajar, memiliki standar kompetensi dan standar kelulusan. Barangkali karena pendekatan yang digunak- an bersifat klasikal sehingga nampak kurang bisa memotivasi siswa untuk mengembang- kan kreativitas dan keberanian mencoba secara lebih jauh. Di antara penyebabnya adalah tingkat kepatuhan siswa kepada guru sangat tinggi sehingga guru lebih dipandang sebagai tutor (sumber belajar) daripada fasili- tator dan motivator Kedua, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah, dalam hal ini lembaga kursus. Model pembelajaran dalang di lembaga kur- sus juga sudah memiliki kurikulum dan jad- wal belajar sehingga tampak tertib. Standar kelulusannya sebatas siswa mampu pentas pakeliran saja, sedangkan kualitas kompeten- si diserahkan pada pengembangan diri siswa sendiri. Pendekatan proses pembelajaran yang berbasis siswa mengakibatkan hubun- gan komunikasi antara guru dan siswa tam- pak akrab, meskipun demikian masih tampak kepatuhan terhadap guru maupun aturan- aturan yang berlaku. Siswa memandang guru sebagai fasilitator dan motivator, hal ini tam- pak dalam proses komunikasinya yang lebih terbuka daripada di lembaga Sekolah. Ketiga, model pembelajaran dalang di Luar Sekolah, yang berbentuk Sanggar Seni. Model pembelajaran dalang di sanggar tam- pak lebih terbuka dan luwes dalam hal ko- munikasi antara guru dan siswa, seperti tidak ada jarak dan berkesan sebagaimana anak bermain. Demikian pula dalam penyampaian materinya, tiada tekanan dari guru sehingga kreativitas siswa lebih mudah muncul dan berkembang. Apalagi siswa terlihat sangat diprioritaskan dalam memilih materi yang diminati dan diinginkan. Pendekatan yang berbasis siswa tampak lebih tepat bagi ket- erbukaan siswa terhadap gurunya, terutama M. Jazuli, Model Pewarisan Kompetensi Dalang 81 dalam menyampaikan kesulitan yang di- hadapi siswa. Kelemahan model pembelaja- ran dalang di sanggar seni terutama tampak kurang tertib atau siswa terlihat sangat bebas. Dalam hal materi yang disampaikan terlihat tidak runtut dan sistematis, bahkan terkesan kurang terencana atau improvisasi. Namun hal ini bisa dipahami mengingat model ini lebih mengutamakan pada peningkatan mo- tivasi dan kreativitas siswa. Model Pembelajaran dalang di Luar Sekolah tampak lebih sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Roger dengan empat syaratnya, yaitu: 1) guru harus menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa, 2) guru harus mampu mem- buat siswa mengekspresikan perasaannya tanpa tekanan, 3) siswa harus bebas mengek- spresikan secara simbolis perasaannya, dan 4) proses konseling (wawancara) harus be- bas dari tekanan dari manapun. Pada sisi lain, model pembelajaran di Sekolah tampak kurang bisa optimal dalam memenuhi hara- pan Roger. Namun lebih tertib dalam pelak- sanaan pembelajarannya dan lebih terukur kompetensi siswanya karena memilki stan- dar yang jelas, siswa menunjukkan atau mel- aporkan hasil tindakannya (hasil belajarnya), dan kurikulumnya berlaku ketat. Bertolak dari ketiga model pembelaja- ran di atas, nampaknya masalah kewirausa- haan belum terprogramkan. Hal ini terutama terlihat dari kurikulumnya, seperti bagaima- na cara membuat wayang, sungging wayang yang baik, bentuk kemasan panggung yang representatif, dan sebagainya. Pada hal seper- ti itu akan melibatkan industri lain yang ter- kait dengan pertunjukan wayang. Di PDMN orientasi industri baru sebatas semangat, ori- entasi industri di Sarotomo dan di SMKN 8 belum ada, tetapi ada potensi bila mampu mendayagunakan melalui program kerja yang terencana secara sistematis. Sehubungan dengan dalang yang kom- peten. Penelitian ini menemukan beberapa faktor yang mampu menunjukkan dalang yang kompeten. Pertama kemampuan kes- enimanan seorang dalang. Kemampuan ini berkait erat dengan persyaratan teknis dan keterampilan dalam jagat pakeliran, seperti garap lakon, garap, adegan, garap catur, garap to- koh, dan garap iringan. Dalang yang kompeten harus mampu memahami dan mempraktik- kan aspek-aspek pakeliran tersebut. Dalang harus mampu menggambarkan wewayangan- ing wong ngaurip lewat ekspresi pakelirannya. Kedua komitmen dalang terhadap darma pedalangan. Komitmen terhadap Pancadarma, yaitu pengetahuan tentang hakekat kebenaran (kagunan), berbagai norma yang disepakati secara budaya (ka- susilan), keberanian dan berjiwa besar (ka- sudiran), bersikap bijaksana dan rendah hati (anuraga), dan selalu waspada (sambegana). Komitmen terhadap Trikarsa berisi tekad untuk melestarikan, mengagungkan, dan mengembangkan wayang. Komitmen terha- dap Pancagatra mencakup seni pentas yang bermutu, yaitu: (1) menampilkan pergelaran yang bermutu (seni pentas), (2) mengolah iringan sesuai dengan tatanan yang berlaku dan berakar dari tradisi (seni karawitan), (3) membanggakan masyarakat pemiliknya (seni kriya), (4) mencakup aspek pendidikan dan falsafah (seni widya), (5) memiliki kreativitas yang tinggi tanpa melanggar nilai adiluhung pedalangan (seni ripta). Terakhir komitmen terhadap fungsi sosial yang dimaksud adalah dalang sebagai komunikator, fasilitator, ako- modator, motivator, dinamisator, emansipa- tor, dan inovator. Ketiga dalang harus memiliki gaya pribadi yang khas, artinya seorang dalang ha- rus memiliki ciri khusus yang membedakan dengan dalang lainnya. Ciri khusus erat kai- tannya dengan tingkat keahlian dan keung- gulan atas aspek-aspek pakeliran. Contohnya Ki Manteb Soedarsono disebut “dalang se- tan” karena memiliki keterampilan luar biasa dalam meengolah gerak wayang. Keempat pergaulan sosial dalang. Hal ini berkaitan dengan gaya hidup, kedalaman wawasan sebagai akibat dari keluasannya dalam pergaulan di tengah masyarakat luas. Dengan saling berhubungan dan berkomuni- kasi antardalang, dalang dengan pihak lain yang terkait dan dapat menunjang pertun- jukan wayang, serta hubungan dalang den- gan lingkungan sosialnya, para dalang akan memeroleh dan mengembangkan wawasan- nya sehingg dapat meningkatkan kualitas pedalangannya. Dalang yang luas pergaulan- nya akan mudah menangkap suatu fenomena penting yang berlangsung di masyarakat dan HARMONIA, Volume XI, No.1 / Juni 201182 mudah meresponsnya. Berdasarkan paparan hasil penelitian dan pembahasannya, maka dimajukan saran sebagai berikut. Pertama, berkaitan dengan model pembelajaran dalang. Dalam pembelajaran dalang perlu dilengkapi dengan materi ajar yang berkaitan dengan kewirausahaan (enter- preneurship) sehingga dapat mengembangkan sektor/bidang lain, seperti industri kerajinan wayang, gamelan, busana adat Jawa, dan in- dustri perlengkapan pertunjukan wayang lainnya. Selain itu juga mampu mendayagu- nakan profesi lain yang mendukung pertun- jukan wayang, seperti pengrawit, pesinden, dan para penata lain yang dibutuhkan dalam pertunjukan wayang. Hal ini perlu ada pem- belajaran secara khusus dan profesional. Kedua, untuk meningkatkan kompe- tensi dalang. Para dalang perlu belajar dan menguasai teknologi informasi yang terus berkembang pesat dan canggih agar dapat dimanfaatkan dalam mengemas pertunjukan wayang. Tak pelak bila kemasan pertunjukan wayang selalu melibatkan teknologi cang- gih, boleh jadi akan selalu bisa diterima oleh masyarakat luas. Tentu saja tetap harus men- jaga atau mempertahankan esensi visi dan misi wayang sebagai media tontonan dan tuntunan, tanpa melupakan faktor lain yakni tatanan dan tantangan yang senantiasa me- nyertainya. DAFTAR PUSTAKA Amir, Hazim. 1991. Nilai-nilai Etis dalam Way- ang. Jakarta: Sinar Harapan. Berger, Peter L. & Luckmann Thomas. 1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Terjema- han Hasan Basri. Jakarta: LP3ES. Bryant, Christopher G.A & David Ivevy. 1991. Gidden’s Theory of Structuration: A Critical Appreciation. New York: Rout- ledge. Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society: Outline of The Theory of Structur- ation. Cambridge: Polity Press. _____. 1991. Structuration Theory: Past, Pre- seny, and Future, dalam Bryan, Christo- pher GA and David Jarry (ed),. Giddens’ Theory of Structuration: A Critical Appre- ciation. London: Routledge,. p. 201-221. Groenendael, Clara van. 1986. The Dalang Behind The Wayang. Dordrect-Holand: Foris Publication. Jazuli, M. 2000. Dalang Pertunjukan Wayang Kulit Purwa. Studi Ideologi Dalang dalam Perspektif Hubungan Masyara- kat dan Negara. Disertasi Universitas Airlangga Surabaya. _____. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidi- kan Seni. Surabaya: Unesa Press. Kayam, Umar. 1993/1994. Contemporary Wayang Performance: Its Development and Spreading. Report of the First-Year Project Toyota Foundation. Tokyo Japan. Lincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. 1985. Naturalistic Inquiry. Newbury Park California: SAGE Publicatin Ltd. Magnis-Suseno, Frans. 1984. Etika Jawa: Se- buah Anallisa Falsafi tentang Kebijaksa- naan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia. Murtiyoso, Bambang. 1995. “Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang”. Te- sis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. ------- dan Suratno. 1992. Studi Repertoar La- kon Wayang Yang Beredar Lima Ta- hun Terakhir di Daerah Surakarta. Laporan Penelitian. Surakarta: Yayasan Musikologi Indonesia. Ritzer, George. 1980. Sociology: A Multiple Paradigm Science. Boston, London, Syd- ney, Toronto: Allyn and Bacon, Inc. -------. 1996. Sociologi Modern Theory. New York: Alfred A. Knofpf. Soedijarto. 1997. Memantabkan Kinerja Sistem Pendidikan Nasional Dalam Menyiasati Manusia Indonesia Memasuki Abad Ke-21. Jakarta: Proyek Perencanaan Terpadu dan Ketenagaan Diklusepora. Soemanto, Wasty. 2009. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Indonesia. Ja- karta: Rineka Cipta. Spradley, James P. 1979. The Ethnographic In- terview. New York: Holt, Reinhart and Wiston. Uno, Hamzah B. Model Pembelajaran: Mencip- takan Proses belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara. Waluyo, Kanthi. 1994. Peranan Dalang Dalam Menyampaikan Pesan Pembangunan. Jakarta: Ditjen Pembi- naan Pers dan Grafi ka Deppen.