173 DESKRIPSI KUALITATIF SEBAGAI SATU METODE DALAM PENELITIAN PERTUNJUKAN Subandi Institut Seni Indonesia Surakarta, Jl. Ki Hadjar Dewantara no.19 Surakarta E-mail: subandi_isi @ ymail.com Abstrak Seni pertunjukan merupakan salah satu manivest dari kebudayaan yang awal mu- lanya dikenal sebagai seni tontonan. Seni pertunjukan mulai menjadi perhatian setelah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan anggautanya untuk merefleksi- kan dirinya dalam berbagai medium. Diperlukan penelitian yang seksama dari ber- bagai disiplin ilmu sosial terutama sosiologi seni untuk memperkuat landasan teori yang akan dibangun. Deskripsi sebagai sebuah model penelitian kualitatif dengan pendekatan Sosiologi seni merupakan salah model analisis yang memadai. Seni per- tunjukan merupakan proses dan produk kreatifitas pencipatan seniman berkaitan erat dengan masyarakat pendukungnya. Seni Pertunjukan rentan dalam ruang, waktu dan alat, sehingga kecermatan peneliti sebagai instrumen penelitian menjadi kunci untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Qualitative Description as one Method in Performing Arts Study Abstract Performing arts is one manifestation of culture that was once known as a showbiz. Perform- ing arts began to attract people’s interest since people and their members found the need for reflecting themselves in many kinds of medium. It is necessary to have a thorough study from various social sciences especially Art Sociology to bolster theoretical foundation. Description as a qualitative research model by means of Art Sociology approach is an appropriate analysis model. Performing arts is a process and a creative product of the artist in accordance with their supporting community. Performing arts is susceptible to space, time, and tools so that a researcher’s accuracy as a research instrument becomes the key to make a correct decision. Kata kunci: pertunjukan musik, organ tunggal, dangdut, persepsi PENDAHULUAN Dalam penelitian sosial terutama sosiologi seni mengenal dua bentuk pe- nelitian, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuanti- tatif berkaitan dengan data yang dapat diukur secara kuantitatif, menggunakan simbol angka-angka, sementara peneliti- an kualitatif memerlukan data berupa in- formasi secara deskriptif. Jenis penelitian Kuantitatip seperti misalnya eksploratip, deskriptif statistik, eksplanatoris, survei, ekspreimen, komparatif, dan korelasional. Dalam penelitian kualitatif, karakteristik utama berasal dari latar belakang alami/ kenyataan di masyarakat, menggunakan metode kualitatif dengan langkah penga- matan, wawancara, dan penelaahan do- kumen. Teori dibangun berdasarkan data. Penyajian dan analisis data pada peneliti- an kualitatif dilakukan secara naratif. Jenis penelitian kualitatip seperti misalnya des- kriptif, studi kasus, fenomenologis, dan historis. Di dalam meneliti seni pertunju- HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011174 kan diperlukan keterlibatan peneliti sejak awal dimulainya perencanakan. Seni per- tunjukan memiliki memiliki sifat rentan dalam ruang waktu sehingga diperlukan berbagai alat bantu. Terdapat tiga aspek dalam seni pertunjukan yang selalu ter- kait yaitu masyarakat, seniman dan karya seni. Penelitian dapat dipusatkan pada salah satu, dua atau ketiga aspek. Macam seni pertunjukan sedemikian luas seper- ti misalnya karawitan, pedalangan, tari, drama dan teater. Jenis seni pertunjukan juga demikian luas seperti kesenian rak- yat, seni pop, seni klasik, seni massa, seni avand gard. Pada penelitian diperlukan persiapan yang matang untuk memasuki dunia penelitian seni pertunjukan sesuai dengan bidang keahliannya. Deskripsi ti- dak bermaksud mencari kebenaran fakta, akan tetapi mencandra atau melukiskan kembali semua kejadian dengan teliti. Peneliti menjadi bagian utama instrumen penelitian. Dalam penelitian seni pertunju- kan tidak harus ada sebuah hipotesa oleh karena tidak ingin membuktikan sesuatu. Keterlatihan peneliti untuk mengambil data, merumuskan masalah menganali- sis masalah, dan mengambil kesimpulan menjadi faktor utama keberhasilan pene- litian. Permasalahannya adalah bagaima- na langkah kerja penelitian deskriptif ku- alitatip untuk memperoleh pengetahuan dengan melakukan peneltian seni pertun- jukan? Penelitian merupakan bagian pen- ting untuk memperoleh kebenaran ilmu. Pengetahuan yang dicapai melalui metode yang tepat akan menghasilkan kebenaran ilmiah. Merunut kebelakang tentang asal usul seni, sesungguhnya kesenian pada awal mulanya adalah bagian dari aktivi- tas sosial dalam rangka hubungan antara manusia dengan lingkungan kosmosnya. Pada awal mulanya tidak ada satu ben- tuk kesenianpun yang berdiri sendiri. Seni dapat berasal dari ritus sosial, ritus religi atau medium produksi komunikasi antar manusia. Walaupun dapat ditonton, ke- senian bukanlah pertunjukan dalam arti yang sebenarnya. Dilihat dari aspek so- sio antropologis, kesenian adalah bagian dari tekstur budaya yang memanifestasi- kan simbol-simbol falsafah, agama, adat, moral, pandangan atau cara hidup, cara bertahan, yang mengisyaratkan kode- kode ciri kepribadian tertentu bagi suatu masyarakat tertentu. Kesenian berada da- lam konteks hakekat perjuangan hidup dan keberadaan manusia. Seni dalam con- tent simbolik kehidupan belum dimaknai sebagai primarius value. Keberadaannya menjadi bagian dari sistem budaya secara umum. Esensi ritus-ritus sosial dan religi itulah yang kemudian secara evolusioner berkembang menjadi seni termasuk seni pertunjukan (Suka Hardjana, 2000:27). Seni sebagai istilah untuk menerje- mahkan kata dalam bahasa Inggris art. Art sendiri untuk menerjemahkan dari kata la- tin ars, artis (keterampilan), menunjukkan perbuatan apapun yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu yang menga- cu pada apa yang indah (L. Bagus, 1996: 987). Seni sebagai kata berasal dari bahasa Melayu yang dapat berarti halus, tipis, ke- cil dan lembut (KBBI, 2001 : 1038). Kata seni telah mengalami perkem- bangan, seni disamping sebagai istilah juga memiliki pengertian yang lain. Seni di samping untuk menunjuk sesuatu sebagai kata benda juga sebagai sebutan kata kerja. Pengertian seni sebagai kata kerja berarti keahlian membuat karya yang bermutu di- lihat dari segi segi kehalusan/ keindahan. Kedua (kata benda) seni merupakan karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa seperti tari, lukisan, susastra (KBBI, 2001 : 1037). Manusia yang mencip- takan karya seni dinamakan Seniman. Jadi Seniman adalah orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni (pelukis, penari, penyair, penyanyi, pengrawit, dalang). Se- niman memiliki kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa yang bernilai tinggi. Seniman yang luar biasa se- ring disebut genius dan jika berlaku pada suatu daerah tertentu disebut lokal jenius (KBBI, 2001:1038). Sebutan tentang seni The Liang Gie (1976), mengelompokkan menjadi 4 kate- gori yakni (1) Seni sebagai kemampuan. Subandi, Deskripsi Kualitatif Sebagai Satu Metode 175 Seni merupakan kemampuan dari manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah, (2) Seni sebagai kegiatan manusia, (3) Seni sebagai suatu ketrampilan (Skill) manusia untuk membuat barang-barang yang me- narik, menyenangkan dan barang-barang kerajinan, (4) Seni Indah/ fain art. Seni me- rupakan penciptaan hal-hal yang indah. Sebutan seni mengandung beberapa pengertian, (1) Kreasi manusia yang me- miliki mutu atau nilai keindahan, (2) Kete- rampilan yang dicapai dalam pengalaman yang memungkinkan kemampuan untuk menyusun, menggunakan secara sistema- tis dan intensional sarana-sarana fisik agar memperoleh hasil yang diinginkan me- nurut prinsip-prinsip estetis, baik ditang- kap secara intuitif atau kognitif, (3) Sua- tu bentuk kesadaran sosial dan kegiatan insani yang merefleksikan realitas dalam gambar-gambar artistik dan merupakan cara yang amat penting dalam menyelami dan memotret dunia, (4) Pekerjaan, suatu pencaharian yang menjadi sumber ilham bagi kreasi artistik dan merupakan sum- ber dari proses awal membentuk rasa dan kebutuhan estetis manusia, (5) Daya untuk melaksanakan tindakan-tindakan tertentu yang dibimbing oleh pengetahuan khusus dan istimewa dan dijalankan dengan ke- terampilan. Seni merupakan kemampuan istimewa untuk melakukan atau mengha- silkan sesuatu menurut prinsip-prinsip es- tetis (Lorenz Bagus, 1996:988). Seni pertunjukan di indonesia da- lam arti yang sebenarnya baru ada sekitar satu setengah abab yang lalu. Seni semula sebagai fenomena sosial, sebagai alat dan ekspresi untuk mendidik kepekaan sosial terhadap peristiwa tertentu. Seni pertun- jukan sebagai perkembangan dari kebutu- han manusia untuk mencukupi kebutuhan tertentu terutama hiburan, ekonomi dan penyegaran rohani. Berbagai bentuk seni pertujukan seperti sandiwara dardanela, Opera van Java, ketoprak, wayang orang baru sebagai petunjukan sekitar tahuan seribu sembilan ratusan. Seni tradisi yang juga sering dikenal seni Klasik semula di- ciptkanuntukk kepentingan ritual keraton, meskipun ditonton oleh para sentana, ke- rabat keraton bahkan ditonton pembesar Belanda. Wayang Orang di Yogyakarta adalah semula sebagai tari ritual untuk peringatan jumenengan raja sehingga juga bersifat ritual. Wayang kulit purwa dahu- lu juga sebagai ritual para saman untuk membasmi berbagai wabah penyakit yang menghinggapi masyarakat pada suatu da- erah tertentu. Tari tayub dahulu bahkan hingga sekarang masih sering digunakan untuk ritual seperti contohnya Tayub janggrungan yang baru saja dipentaskan di Wonosoco Undaan Kudus. Tayub di- gunakan untuk upacara ritual Nyiwer Sa- wah agar terhindar dri hama tikus tahun 2010. Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, hampir semua seni pertunjukan adalah digunakan sebagai alat perjuangan, pengumpul masa, identitas masyarakat. Sepeti contohnya tari Kuntulan di Pucang miliran Klaten. Rodat desa Nganti Sragen. Setelah kemerdekaan Indonesia seni pertunjukan masih digunakan sebagai ba- gian alat politik sehingga muncul Lesbu- mi, LKN dan sejenisnya. Baru setelah orde baru seni pertunjukan digunakan sebagai media pemerintah untuk menyampaikan programnya (Suparno, 2009:39). Seni per- tunjukan sebagai disiplin pengetahuan masih memerlukan perjuangan para pa- kar. Ilmuwan perlu untuk merenungkan kembali maknanya sehingga diperlukan penelitian yang lebih luas dan mendalam. Membangun sebuah disiplin diperlukan berbagai landasan teori untuk memper- kuat posisinya. Seni petunjukan Indonesia sangat beragam dalam wilayah yang luas dan didukung oleh masyarakat setempat, diperlukan alat yang tepat untuk dapat memahami maknanya. Gejala seni pertun- jukan sebagai sebuah wacana berdiri sen- diri setelah munculnya Taman Sri Wedari yang dahulu dikenal sebutan Kebun Raja. Di tengah areal kebun raja berdiri berbagai macam hiburan yang salah satunya adalah gedung Wayang orang yang secara ko- mensial dipelopori oleh warga Tionghoa keturunan Jawa. Di beberapa daerah ke- mudian muncul berbagai kesenian komer- sial seni sebagai pertunjukan seperti misal- nya Opera van Java, sandiwara dardanela, HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011176 ketoprak, wayang orang keliling, wayang kulit purwa, wayang besi berani dan ber- bagai pertunjukan kelilingyang lain. Deskripsi dalam Penelitian Kualitatif Penelitian tentang Seni Pertunjukan pada jenis penelitian yang tidak menggu- nakan kuantitas angka-angka statistik me- rupakan penelitian kualitatif. Bogdan dan Tailor seperti yang dikutip oleh Moeleong, mendefinisikan metodologi kualitatif se- bagai prosedur penelitian yang mengha- silkan data deskriptif berupa kata-kata ter- tulis atau lisan atau dari bentuk tindakan kebijakan (Moeleong, Lexy J. 2002:112). Dalam penelitian seni pertunjukan beru- saha untuk mencandra/ mendeskripsikan kegiatan kesenian yang biasanya berupa karya seni pertunjukan, baik Pedalangan, Karawitan maupun Tari sebagai bagian dari upaya untuk memperoleh pengeta- huan. Pendekatan yang digunakan adalah bersifat kualitatif yang memiliki karakte- ristik bersifat deskriptif. Data yang yang dikumpulkan berupa pertama langsung dari sumbernya, peneliti menjadi bagian dari instrumen pokok analisisnya, kedua data berupa kata-kata dalam kalimat atau gambar yang mempunyai arti (Sutopo 2006: 40). Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi foto, rekaman karawitan/ lagu dan karya tulisan lain yang sejenis. Berkaitan dengan data, dapat dibagi jenis data-datanya ke dalam kata-kata dan tin- dakan, sumber data tertulis, foto dan sta- tistik. Sumber data yang diambil dalam penelitian antara lain seni pertunjukan wayang kulit, Karawitan garap baru, tari ritual dan seni jenis lain dalam rangka ke- giatan akademis. Beberapa data lama jika meruapakan peneltian lanjutan sebagian telah tersimpan pada pengelolaan pan- dang dengar/bagian audio visual. Bahan koleksinya terdiri dari: kaset audio, kaset video, piringan hitam dan pita reel, VCD. Alat yang digunakan untuk mengopera- sikan berupa: tape recorder, televisi, tape video, compact disk dan Slide Proyektor. Koleksi yang dimiliki merupakan barang langka, sehingga pengguna dan atau peneliti yang menghendaki koleksi untuk didengarkan maka cukup memin- ta petugas untuk mencari dan memutar- kannya. Apabila pengguna menginginkan copy koleksi , maka pengguna dapat me- minta kepada petugas untuk mengganda- kan koleksi yang dimaksud dengan meng- ganti biaya penggandaan. Data ini berupa data sekunder sebagai pelengkap dari data yang diambil secara langsung oleh pene- liti. Teknik Pengambilan Data Observasi Observasi, adalah melakukan penga- matan terhadap obyek penelitian. Obser- vasi dapat lakukan dengan dua cara yaitu pertama observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung pene- liti mengamati obyek seperti pertunjukan wayang dalam rangka bersih desa, ritual atau hajatan penting lainya. Berbagai as- pek ikut menjadi obyek misalnya aspek ekonomi, aspek hiburan, aspek memper- kuat status. Pada saat wawancara berlang- sung juga dilakukan pencatatan serta reka- man audio visual. Maksud rekaman agar setelah wawancara tidak ada data yang terlewatkan. Observasi tidak langsung da- pat dilakukan melalui hasil rekaman pada saat penelitian maupun yang sudah dire- kam pada waktu yang lalu terlebih yang sudah tersimpan sebagai koleksi pustaka yang meliputi kumpulan buku dan/atau non buku. Koleksi buku berupa kumpu- lan buku pendukung untuk memperjelas audio visual. Koleksi perpustakaan dia- tur dan ditata secara sistematis, sehingga setiap pemustaka dapat dengan mudah mencari dan menemukan sesuai buku yang dibutuhkan. Koleksi bahan pustaka non buku berupa audio visual. Perpusta- kaan audio visual menyimpan bahan-ba- han pustaka berbentuk CD, Kaset, DVD, Kompiuter untuk memindahkan gambar. Pemanfaatan koleksi Audio Visual sa- ngat menunjang kebutuhan peneliti untuk pelaksanaan yang praktis, karena sangat Subandi, Deskripsi Kualitatif Sebagai Satu Metode 177 Dokumentasi Dalam penelitian kualitatif peran dokumentasi sangat besar, data dari do- kumentasi berguna untuk membantu me- nampilkan kembali beberapa data yang mungkin belum dapat diperoleh. Bebera- pa cataan tertulis dan gambar diperlukan untuk membantu dalam mengalisis data penelitian. Sebagian besar data audio visual be- rupa gambar harus dikelola agar berman- faat bagi peneliti lanjutan. Data yang beru- pa dokumensi berguna dalam mengecek kebenaran kembali agar lebih memudah- kan deskripsi. Validitas Data Untuk menjamin validitas data dalam penelitian digunakan teknik trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaaan keabsahan data dengan me- manfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu, untuk keperluan pengecekan atau se- bagai pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini, validitas data menggunakan trianggulasi sumber yang berarti dalam penelitian ini membanding- kan dan mengecek balik derajat keperca- yaan suatu informasi yang diperoleh me- lalui waktu dan alat yang berbeda dengan jalan (1) Membandingkan data hasil pe-Membandingkan data hasil pe- -ngamatan dengan data hasil wawancara, (2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3) Memban-Memban- dingkan keadaan dan persepsi seseorang dengan berbagi pendapat dan pandangan, (4) Instrumen Penelitian Intrumen penelitian adalah alat yai- tu peneliti sendiri atau fasilitas yang di- gunakan dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, leng- kap dan sistematis sehingga akan mudah diolah (2006:41). Beberapa tahapan dalam kegiatan pengumpulan data yaitu (1) Me- ngevaluasi koleksi data yang dimiliki yang sudah diperoleh, (2) Mencatat koleksi baik yang terpakai maupun tidak terpakai jika diperlukan sebagai media pembelajaran dan sarana referensi bagi mahasiswa un- tuk menyelesaikan tugas perkuliahannya dengan melihat dan mendengar di perpus- takaan audio visual. Observasi tidak lang- sung dilakukan oleh peneliti untuk meme- riksa data-data yang telah lama tersimpan. Penambahan dan pengurangan koleksi audiao visual dapat terjadi oleh karena ke- rusakan dan juga kurangnya sumbangan dari mahasiswa, dosen, masyarakat. Wawancara Untuk lebih memperjelas pengam- bilan data dilakukan dengan wawancara. Dalam wawancara dilkukan dengan dua cara yaitu wawancara bebas dan terpro- gram. Wawancara bebas dilakukan terha- dap beberapa informan dan nara sumber untuk memperoleh data yang sifatnya umum. Pada wawancara bebas sudah dila- kukan sejak peneliti memasuki lapangan. Wawancara meliputi riwayat pertunjukan oleh seniman, riwayat seniman, konsep dalam berkesenian,ekspresi seni seniman. Pada wawancara bebas berguna untuk menjalin keakraban dan keterbukaan sert- ta tujuan penelitian. Wawancara terprogram dilakukan untuk menggali data yang benar-benar di- perlukan dalam penelitian. Untuk wawan- cara terprogram peneliti telah menyiapkan sejumlah daftar pertanyaan yang meliputi Struktur dramatik lakon, riwayat penyaji, pendukung pertunjukan, faktor pedorong dan penghambat, lembaga penyelenggara, berbagai hambatan dan cara melakukan penyelesaian, jumlah pengunjung dan jika perlu jumlah dan asal beaya pertunjukan. Wawancara juga dialakukan tehadap se- niman lain sebagai pembanding obyek penelitian misalnya Bambang Suwarno, Nyoman Murtana, Sri Rochana, Sutrisno Haryono. Untuk sebuah penelitian alangkah baiknya jika mempunyai beberapa orang pembantu untuk pengambilan data mela- lui beberapa catatan maupun rekaman au- dio visual sehingga peneliti terpusat pada obyek penelitian. HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011178 perlu chek di perpustakaan tersebut ke da- lam tabel penyajian data berdasarkan chek- list, dan (3) Menganalisis data yang telah tercantum ke dalam tabel penyajian data untuk memperkuat kesimpulan. Teknik Analisis Data Pada saat penelitian , teknik analisis yang digunakan adalah model Analisis In- teraktif. Di dalam model ini terdapat tiga komponen yang terdiri dari reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Aktivitasnya berbentuk interaksi ketiga komponen analisis secara sistematik sebagai berikut. Reduksi Data (Data Reduction) Reduksi data merupakan cara yang dilakukan peneliti dalam melakukan ana- lisis untuk mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting dan mengatur data sedemi- kian rupa sehingga dapat menarik kesim- pulan atau memperoleh pokok temuan. Proses berlangsung hingga laporan akhir selesai atau dengan kata lain bahwa data adalah proses seleksi, penafsiran, penye- derhanaan dan abstraksi data kasar. Sajian Data (Data Display) Supaya mendapat gambaran yang jelas tentang data keseluruhan, yang pada akhirnya akan dapat menyusun kesimpu- lan, maka peneliti berusaha menyusunnya ke dalam penyajian data dengan baik dan jelas agar dapat dimengerti dan dipahami. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Draw- ing) Dalam penelitian ini seleksi data, pe- narikan kesimpulan sudah dimulai dari proses awal diperolehnya data. Oleh kare- na peneliti sebagai bagian dari instrumen penelitian, sehingga setiap data telah dicek keakuratan dan validitasnya. Dengan mo- del analisis Interaktif maka peneliti dapat mengambil sebuah kesimpulan. PENUTUP Deskripsi dalam penelitian kualitatif merupakan salah satu macam penelitian yang sesuai diterapkan untuk jenis seni pertunjukan. Pada penelitian kualtitatif jenis deskripsi tidak diperlukan hipotesa oleh karena tidak dimaksudkan untuk membuktikan sesuatu kebenaran. Des- kripsi sifatnya untuk mencandra semua peristiwa seni yang dialami oleh peneliti. Instrumen utama penelitian adalah su- byek peneliti sendiri. Data dapat diambil dari pengamatan, wawancara, dokumen- tasi. Informan diperoleh secara beranting untuk mencari data yang lebih mendalam dan relevan. Seni pertunjukan merupakan sasaran yang rentan dalam ruang waktu dan alat maka diperlukan kerja yang cer- mat dan tepat pada waktu pertunjukan berlangsaung. Kesimpulan dalam peneliti- an relatif banyak tergantung pada keahli- an peneliti DAFTAR PUSTAKA Arnold Hauser. 1979. The Sociology of Art. Trans Kenneth J.Northcott. Chicago: The University of Chicago Press. Bagus, L., 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Pu- tra gramedia Jazuli, M. 2003. Dalang Negara Masyarakat Sosiologi Pedalangan. Semarang : Limpad Moeleong, Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda- karya. Slamet Suparno, 2009. Pakeliran Wayang Purwa Dari Ritus Sampai Pasar. Solo: ISI Press. Soedarsono, 1999. Seni Pertunjukan Indo- nesia dan Pariwisata. Yogyakarta: ISI Press. Soerjono Soekanto, 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali. Suka Hardjana, 2000. Seni Pertunjukan dan Pendidikan Seni. Dalam Gelar Jurnal Ilmu dan Seni Vol. 2 No.3 Ok- Subandi, Deskripsi Kualitatif Sebagai Satu Metode 179 tober 2000. Surakarta : Gelar Sumardjo, J., 2002. Seni Pertunjukan Indone- sia. Bandung: ITB. Sutopo, HB. 2006. Metode Penelitian Kual- itatif. Surakarta: UNS.Press. Team. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. The Liang Gie, 1976. Garis garis besar Este- tik. Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Karya. Wadiyo, 2003. “Teori dan Masalah Pene- litian Seni Dalam Perspektif Sosio- Kultural”. Harmonia, Jurnal Pengeta- huan dan Pemikiran Seni Vol. IV No. 3 September–Desember FPBS UNNES. Semarang: Sendratasik.