69 BENTUK DAN ANALISIS MUSIK KERONCONG TANAH AIRKU KARYA KELLY PUSPITO Abdul Rachman Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang E-mail: dulkemplinx@gmail.com Abstrak Musik keroncong merupakan musik asli Indonesia karena tumbuh dan berkembang di Indonesia. Namun perkembangannya tidak sebaik jenis musik barat seperti pop, rock ataupun musik dangdut. Musik keroncong sering dianggap sebagai musik yang dikonsumsi kalangan orang tua saja karena memang peminat musik keroncong sebagian besar adalah orang tua. Seorang komponis keroncong asal Semarang yaitu Kelly Puspito tergugah untuk mengembangkan musik keroncong karena melihat musik keroncong sudah mulai ditinggalkan oleh para remaja. Kelly Puspito melakukan inovasi terhadap musik keroncong asli dengan cara mengembangkan harmonisasi atau progresi akor dengan menambahkan akor-akor yang sudah baku, melodi yang bervariasi bergerak melangkah dan melompat, rentangan nada yang luas, ritmis bervariasi yaitu bernilai seperempatan, seperdelapanan, hingga seperenambelasan, serta interval nada yang cukup tajam baik naik maupun turun. Hal itu sesuai dengan karakteristik remaja yaitu selalu ingin berinovasi, menyukai tantangan dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Form and Analysis of Tanah Airku Keroncong Music Written by Kelly Puspito Abstract Keroncong music is an original Indonesian music since it grew and developed in Indonesia. However, its development was not as good as western music such as pop, rock, or dangdut. Keroncong music is often regarded as music consumed only by the adults since those who like the music are mostly adults. A keroncong composer from Semarang Kelly Puspito was en- couraged to familiarize keroncong music since she noticed that the music has been abandoned by youngsters. Kelly has innovated the music by enhancing harmonization or accord pro- gression by adding standard accords, more various melodies of moving forward and skipping, extensive tone stretching, variously patterned rhythmic tone by 1/4, 1/8, and even 1/16 and a sharp tone interval either ascending or descending tones. This is relevant to youngsters’ characteristics to always innovate, take challenges, and want to experiment with new things. Kata kunci: Musik, Keroncong, Kelly Puspito. baru. Musik keroncong dikategorikan da- lam musik klasik tradisional (Sumaryo, 1981: 61) dan merupakan musik asli Indo- nesia sebagaimana diungkapkan Suharto (dalam Ladin, 2001: 3). Perkembangan musik keroncong ternyata tidak sepesat musik-musik non PENDAHULUAN Musik keroncong sudah lama ada dan berkembang di Indonesia. Musik ke- roncong merupakan peleburan dari berba- gai ragam musik yang mencoba memadu- kan beberapa jenis alat musik dalam versi HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201370 tradisional lainya , bahkan terkesan statis, monoton dan lamban. Diperkirakan bah- wa ke tiga faktor ini maka peminat mu- sik keroncong sebagian besar adalah dari kelompok orang tua, sedangkan para re- maja sangat sedikit yang menyenangi atau berminat apalagi mempelajari keroncong (Harmunah, 1994: 5). Masa remaja, menurut Ali dan As- rori (2004: 9) berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan umur 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai 22 tahun bagi pria. Remaja atau adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya “tum- buh atau tumbuh untuk mencapai ke- matangan“. Remaja ada antara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja sering kali dikenal dengan fase “ menca- ri jati diri “ atau fase “ topan dan badai “. Remaja lebih menyukai musik rock, jazz, punk, dangdut karena mereka (remaja) le- bih cenderung meniru gaya hidup musisi idolanya baik dari segi busana atau kebia- saan. Masa remaja biasanya memiliki ener- gi yang besar, Di Jawa Tengah khususnya di Sema- rang ada salah satu tokoh musik keron- cong selain sebagai pencipta juga dikenal sebagai arranger yaitu Kelly Puspito (alm). Kelly Puspito lahir dengan nama Pratik- nyo Kelly Puspito, lahir di kota Pati pada tanggal 27 Agustus 1930. Kelly Puspito juga sangat produktif dalam menciptakan lagu keroncong baik jenis keroncong asli maupun jenis langgam keroncong. Kelly Puspito berkeinginan agar mu- sik keroncong bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat terutama para remaja. Itulah salah satu keinginan Kelly Puspito semasa hidup yang pernah diucapkan ke- pada peneliti. Peneliti berasumsi bahwa keroncong asli karya Kelly Puspito memi- liki keunikan tersendiri. Keunikan keron- cong asli Kelly Puspito dapat dilihat dari segi interval nada, melodi, akor, syair, har- monisasi dan ritmis yang bervariasi. Kelly Puspito ingin menunjukkan bahwa ke- roncong asli tidak membosankan dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat baik remaja maupun dewasa. Fenomena keunikan keroncong asli karya Kelly Puspito dan keinginan Kelly Puspito agar musik keroncong bisa ber- kembang dan dapat diterima para rema- ja yang menarik perhatian peneliti untuk melakukan penelitian tentang Bentuk Aransemen Musik Keroncong Asli Karya Kelly Puspito dan Relevansinya bagi Re- maja dalam Mengembangkan Musik Ke- roncong Asli. Musik Musik adalah penghayatan isi hati manusia yang diungkapkan dalam bentuk bunyi yang teratur dengan melodi atau ritme serta mempunyai unsur atau kesela- rasan yang indah (Sunarto, 1989: 5). Musik adalah gerakan bunyi, dan musik merupa- kan totalitas fenomena akustik yang apabi- la diuraikan terdiri dari tiga pokok yaitu: (1) unsur yang bersifat material, (2) unsur yang bersifat spiritual, (3) Unsur yang ber- sifat moral (Maryoto, 1989: 9). Musik bu- kanlah sekedar emosi atau rasa akan tetapi juga rasio atau akal budi. Musik keroncong Kusbini (dalam Widjajadi, 2007: 9) mengatakan, bahwa kata keroncong me- rupakan kesan dari bunyi rangkaian dari beberapa buah butiran, berbentuk kecil, madya, dan besar yang mengisi sebuah butiran logam bulat, kecil sehingga jika digoyah-goyah akan menghasilkan bu- nyi menurut bunyi menurut besar kecil- nya butiran tersebut. Harmunah (1987: 52) mengatakan bahwa musik keroncong merupakan bagian dari musik tradisional dengan tangga nada diatonis, walaupun sering menggunakan corak tangga nada pentatonis yang merupakan ciri khas da- erah tertentu, misalnya pada langgam jawa. Menyimak repertoar musik keron- cong, ada berbagai pendapat mengenai pengelompokannya, antara lain pendapat Korn Hauser (dalam Widjajadi, 2007: 41) yang membagi menjadi lima kelompok yaitu (1) keroncong asli, (2) stambul, (3) langgam keroncong, (4) langgam jawa, (5) keroncong beat. Adapun Harmunah (1987: 54) mengatakan, musik keroncong Abdul Rachman, Bentuk dan Analisis Musik Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito 71 dibagi menjadi empat kelompok yaitu, (1) keroncong asli, (2) langgam, (3) stambul, (4) lagu ekstra, sedangkan menurut Yam- polski membagi keroncong menjadi empat kelompok pula yaitu, (1) keroncong asli, (2) stambul, (3) langgam, dan (4) langgam jawa. Bentuk Lagu Bentuk lagu adalah suatu kesatuan utuh dari satu atau beberapa kalimat de- ngan penutup yang meyakinkan. Kalimat- kalimat musik dapat disusun dengan me- makai bermacam-macam bentuk. Edmund (1996: 5-14) membagi bentuk lagu menu- rut jumlah kalimat yaitu : (1) bentuk lagu satu bagian, (2) bentuk lagu dua bagian, (3) bentuk lagu tiga bagian. Aransemen Aransemen dalam musik adalah me- nata dan memperkaya sebuah komposisi musik, melodi, atau lagu menjadi suatu gaya atau format yang baru dengan sentu- han kreatif pelaku aransemen atau arran- ger. Media yang digunakan dalam mem- buat aransemen bermacam-macam, dapat berupa alat musik tunggal, band, paduan suara, hingga orchestra. Teori-teori yang harus diketahui untuk menunjang aranse- men: 1. Melodi, Edmund (2009: 13) menuliskan bahwa melodi adalah suatu urutan nada yang utuh dan membawa mak- na. Adapun syaratnya adalah: berciri khas, berbentuk jelas, memuat suatu ungkapan dan dapat dinyanyikan. Ja- malus (1988: 16) mengatakan susunan rangkaian nada yang terdengar beru- rutan serta berirama, dan mengung- kapkan suatu gagasan disebut melodi. 2. Nada, Sukohardi (2009: 1) mengatakan nada adalah bunyi yang teratur, ar- tinya mempunyai bilangan getar (fre- kuensi) yang tertentu. Tinggi rendah- nya bunyi (suara) bergantung pada besar kecilnya frekuensi tersebut. 3. Interval, menurut Banoe (2003: 48) in- terval adalah sela atau celah antara dua objek. Di dalam pengetahuan musik, interval adalah jarak antara dua nada. 4. Harmoni dan akor, Hartayo (1994: 57) mengatakan harmoni itu sendiri pada hakekatnya berisi akor-akor serta rangkaiannya, yang membentuk pola- pola tersendiri, yang biasanya disebut kadens, sedangkan akor adalah padu- an tiga buah nada atau lebih yang me- rupakan suatu kesatuan tersendiri dan tak dapat dipisahkan. 5. Tempo, adalah kecepatan ketukan yang ada dalam sebuah lagu. Istilah- istilah untuk menunjukkan tempo sua- tu lagu biasanya dituliskan menggu- nakan bahasa Italia . 6. Birama, menurut Jamalus (1988: 10) mengatakan pengertian birama ham- pir sama dengan pengertian pulsa. Le- tak perbedaan terdapat pada adanya aksen pada birama pada pulsa tidak ada aksen. Persamaannya adalah ber- langsung secara teratur dan terus me- nerus. Ayunan rangkaian gerak ke- lompok beberapa pulsa dengan pulsa pertama beraksen, dan pula yang lain tidak beraksen disebut birama. 7. Modulasi, adalah akar pusat (Tonika) ditinggalkan dan diganti dengan akor pusat yang baru (Tonika baru). Akor pusat yang baru itu dicapai melalui suatu kadens. Kadens inilah yang di- sebut modulasi. Ini dapat terjadi: (a) sementara kemudian kembali ke toni- ka lama, (b) tetap / tidak kembali ke tonika lama. METODE Dalam penelitian tentang bentuk aransemen keroncong asli karya Kelly Puspito ini, peneliti menggunakan pende- katan penelitian etnomusikologi. Secara umum Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif analisis dan in- terpretative dengan memanfaatkan data kualitatif. Pembatasan permasalahan da- lam penelitian ini berdasarkan data-data yang bersifat kualitatif dan untuk selanjut- nya ditarik suatu kesimpulan. Sedangkan data-data adalah berupa penjelasan, urai- an serta gambaran yang nyata mengenai subyek yang diteliti. Selain menggunakan HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201372 kalimat A terdapat delapan birama ter- masuk birama gantung, dengan demikian lagu keroncong Tanah Airku karya Kelly Puspito (alm) lebih panjang satu birama jika dibandingkan dengan lagu keroncong asli pada umumnya. Kalimat B dapat dilihat pada gambar 2. metode deskriptif peneliti juga mencan- tumkan metode etnomusikologi seperti: teori musik, ilmu harmoni, aransemen, serta bentuk dan analisis musik. Data yang dibutuhkan dalam pene- litian ini adalah bersumber dari data atau informasi yang terdiri dari nara sumber, karena sudah almarhum maka informasi didapat dari keluarga, kerabat dekat, ma- hasiswa dan seniman yang memiliki pen- getahuan atau wawasan yang menunjang penelitian. Selain itu peneliti juga men- gumpulkan artikel-artikel tentang Kelly Puspito serta dokumentasi karya yang di- miliki oleh almarhum Kelly Puspito. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara (interview) dan do- kumentasi. Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data sekunder guna meleng- kapi data yang belum diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data melalui dua tahap yaitu triangulasi dan review informan. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan teknik interac- tive model analysis (Miles dan Huberman, 1992). Teknik tersebut terdiri tiga tahapan yaitu reduksi data, sajian data, dan simpu- lan (verfikasi). HASIL DAN PEMBAHASAN Keroncong Tanah Airku Bentuk Lagu Lagu keroncong Tanah airku ini me- rupakan lagu yang diikutkan sayembara cipta lagu jenis keroncong bintang radio dan televisi yang diadakan oleh RRI pu- sat pada tahun 1956. Lagu keroncong Ta- nah Airku meraih juara pertama dalam sayembara tersebut, selain itu lagu keron- cong Tanah Airku juga digunakan sebagai lagu wajib dalam sayembara bintang radio pada saat itu. Lagu keroncong Tanah Airku mem- punyai bentuk lagu 3 bagian yaitu A – B – C, kalimat pertama dilanjutkan ke kalimat ke dua dan dilanjut ke kalimat ke tiga tan- pa ada pengulangan . Keroncong Tanah Airku ini dinyanyikan dua kali. Kalimat A dari lagu Tanah Airku da- pat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. Kalimat A Pada Kalimat A lagu keroncong Ta- nah Airku karya Kelly Puspito (alm) diawa- li dari birama gantung ketukan ke-tiga dan berakhir pada birama ke-delapan, sehing- ga pada kalimat A lagu Kr. Tanah Airku karya Kelly Puspito (alm) terdapat sem- bilan birama termasuk birama gantung. Lagu keroncong asli pada umumnya pada Abdul Rachman, Bentuk dan Analisis Musik Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito 73 umumnya juga terdiri dari sepuluh birama termasuk birama yaitu diawali dari bira- ma ke-sepuluh dan berakhir pada birama ke-sembilan belas. Kalimat C pada lagu Tanah Airku dapat dilihat pada gambar 3. Kalimat B lagu keroncong Tanah Airku terdapat sepuluh birama termasuk birama yang diawali dari birama ke-sepu- luh dan berakhir pada birama ke-sembi- lan belas. Kalimat B keroncong asli pada Gambar 2. Kalimat B Gambar 3. Kalimat C kan akan terjadi kesumbangan nada atau yang sering disebut dengan istilah fals. Di dalam lagu keroncong Tanah Airku terda- pat gerak melodi melangkah naik, melang- kah turun, melompat naik dan melompat turun. Pada gerak melodi melangkah naik dan melangkah turun rasa tenang. Sedang- kan pada gerak melodi melompat naik dan melompat turun menimbulkan kesan rasa tegang. Rangkaian melodi keroncong Tanah Airku juga memiliki nilai titinada yang va- riatif, yaitu memiliki nilai titi nada satu, setengah, seperdelapan, seper enambelas dan triol kecil. Keindahan melodi juga terdapat pada birama ke tujuh, yaitu nada c1 yang di legato dengan nada c2, Hal ini menimbulkan kesan ketegangan. Ke dua nada ini hanya terdapat satu suku kata se- Pada kalimat C lagu keroncong Ta- nah Airku terdiri dari sembilan birama yaitu diawali dari birama ke-dua puluh dan berakhir pada birama ke-dua puluh delapan. Kalimat C lagu keroncong asli pada umumnya juga terdiri dari sembilan birama, yaitu diawali dari birama ke-dua puluh dan berakhir pada birama ke-dua puluh delapan. Melodi Pada lagu keroncong Tanah Airku range melodi sangat luas dan rangkaian melodinya terkadang memiliki interval yang sangat tajam sehingga dalam meny- anyikannya seorang penyanyi harus me- miliki solfegio yang sangat bagus. Karena jika tidak memiliki solfegio dalam hal ini ketepatan nada yang bagus maka dipasti- HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201374 hingga berkesan ingin menonjolkan syair atau lirik. Sistem Nada Sistem nada yang digunakan dalam lagu keroncong Tanah Airku adalah dia- tonis mayor, dengan naa dasar M mayor. Nada terendah yaitu a (mi) dan nada ter- tinggi adalah d2 (la), sehingga wilayah nada (range) pada keroncong Tanah Air- ku sangatlah luas dan penyanyi agar bisa membawakan lagu keroncong Tanah Air- ku dengan sempurna harus mempunyai wilayah suara (ambitus) yang luas pula. Pada lagu keroncong Tanah Airku juga terdapat nada-nada miring sehingga bisa memberi nuansa yang berbeda yang dapat kita lihat pada birama ke-9 nada ges1 (di), ke-10 nada b1 (fi), ke-11 nada b (fi) rendah, ke-15 nada es1 (sa), ke-18 nada ges1 (di), ke-19 nada cis1 (sel), ke-25 nada b1 (fi), dan ke-29 nada gis1 (ri). Nada ges1 pada bira- ma ke-9 terletak pada akor V, sedangkan formula atau susunan dari akor V adalah C (sol) – E (si) – G (re). Jika kita lihat pada formula akor V tersebut maka nada ges1 ini sama sekali bukan bagian dari formula akor V, sehingga rangkaian nada ini me- nimbulkan kesan nakal atau melenceng dari akor. Nada-nada miring tersebut menjadi ciri khas dan keunikan dari lagu keroncong tanah airku. Dan yang paling unik yang menjadi ciri khas karya Kelly Puspito terdapat pada birama ke-15 te- patnya nada es1 (sa) Kelly Puspito menye- butnya (le). Sedangkan nada (sa) ini ada- lah nada ke-7 dari f (do) yaitu pada akor I7. Nada sa inilah yang menjadi trade mark dari Kelly Puspito. Interval Lagu keroncong Tanah Airku me- miliki banyak sekali rangkaian melodi dengan interval yang sangat tajam. Hal itu dapat dilihat pada birama ke-7 yaitu nada c1 (sol) rendah yang diikuti dengan nada d2 (la) nada c1 dan d2 ini memiliki ja- rak interval satu oktaf lebih yaitu tepatnya berjarak 7. Pada birama ke-7 juga terdapat nada f (do) yang diikuti nada a (mi) rendah dengan jarak interval 4. Pada birama ke-11 terdapat nada a1 (mi) yang diikuti nada b (fi) rendah yang memiliki jarak interval 5. Birama ke-12 terdapat nada c1 (sol) yang diikuti nada c2 (sol) tinggi memiliki jarak interval 6 atau 1 oktaf. Birama ke-15 terda- pat nada g1 (re) yang diikuti nada a (mi) rendah memiliki jarak interval 5. Birama ke-17 terdapat nada d1 (la) yang diikuti nada d2 (la) tinggi memiliki jarak interval 6 atau 1 oktaf. Birama ke-23 dan ke-31 ter- dapat nada e1 (si) rendah diikuti nada d2 (la) memiliki jarak interval 5. Interval nada yang cukup jauh ini menyebabkan lagu keroncong Tanah Airku memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga pe- nyanyi keroncong amatir mengalami ke- sulitan untuk bisa menyanyikan lagu ke- roncong Tanah Airku dengan baik. Interval yang tajam ini juga menjadi ciri khas dari karya Kelly Puspita . Harmonisasi Pada dasarnya lagu keroncong Ta- nah Airku menggunakan harmonisasi atau progresi akor baku keroncong, akan te- tapi terjadi penambahan akor yang men- jembatani atau sebagai penghantar dari akor tonika (I) menuju akor sub-dominant (IV) yaitu menggunakan akor (I)7. Susu- nan akor (I)7 pada lagu keroncong Tanah Airku adalah f (do) – a (mi) – c (sol) – es (sa). Menurut pendapat Prier pada buku- nya Ilmu Harmoni nada tonika (do), terts (mi), kwint (sol) ditambah dengan septim (sa) maka akor tersebut dengan sendirinya akan menginginkan bergerak ke akor IV. Pergerakan akor semacam ini merupakan bentuk dari kadens sub dominan yang bisa menciptakan suatu ketegangan dan berkesan bahwa kalimat musik di sini belum selesai. Hal itu dapat dilihat pada lagu keroncong Tanah Airku pada birama ke-2, 25, dan 27. Pergerakan akor pada bi- rama ke-2. 25, dan 27 adalah I – I7 – IV – V – I. Rangkaian akor semacam ini disebut kadens lengkap. Akor (I)7 inilah yang juga merupakan salah satu keindahan dan ciri khas dari lagu-lagu keroncong karya Kelly Puspito (alm). Sedangkan pergerakan lagu keroncong asli pada umumnya pada bira- ma ke-2, 25, dan 27 adalah I – I – IV – V – I Abdul Rachman, Bentuk dan Analisis Musik Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito 75 tanpa adanya penambahan akor I7 sebe- lum masuk akor IV. Dengan demikian Harmonisasi / progresi akor pada lagu keroncong Tanah Airku adalah seperti pada gambar 4 beri- kut: Introduksi: I . I7 . IV . V . I . . . I . . . I . . . I . . . V . . . V . . . II . . . II . . . V . . . V . . . V . . . V . . . IV . . . IV . . . IV. . . IV. V . I . . . I . . . V . . . V . . . I . I7 . IV . V . I . I7 . IV . V . I . . . I . . . Gambar 4. Progresi Akor Lagu Tanah Airku Harmonisasi/ progresi akor lagu ke- roncong Tanah Airku berbeda dengan har- monisasi lagu keroncong asli pada umum- nya karena terdapat penambahan akor I7 sebagai akor sisipan yang membantuk kadens lengkap, sedangkan harmonisasi/ progresi akor lagu keroncong asli pada umumnya tidak terdapat akor I7 sebagai akor sisipan. Tempo Pada umumnya lagu-lagu keron- cong asli menggunakan tanda tempo andante, begitu juga lagu keroncong Ta- nah Airku. Lagu keroncong Tanah Airku menggunakan tempo andante yang berarti perlahan-lahan yaitu seperti orang berja- lan. Dengan tempo andante ini berkesan bahwa lagu keroncong adalah lagu yang mendayu-dayu, enak, dan ringan untuk didengarkan. Sehingga pesan syair atau li- rik dan kekuatan rangkaian melodi benar- benar ditonjolkan agar bisa diterima oleh pendengar. Berbeda dengan lagu keron- cong jenaka yang dibawakan dengan tem- po cepat (allegro) agar kesan jenaka atau riang bisa terlihat dengan jelas. Birama Lagu keroncong Tanah Airku meng- gunakan birama baku keroncong yaitu 4/4 sama seperti lagu keroncong asli pada umumnya dengan jumlah birama 28 bar. Keroncong Tanah Airku dimulai dari bira- ma gantung dan berakhir pada birama ke- 28. Keunikan lagu keroncong Tanah Airku adalah sebelum masuk bagian B (reff) me- lodi selalu berakhir pada birama ke-8, dan sudah dimulai pada birama ke-10 hitungan ke-2 yang dimainkan dalam sub-interlude akor V. Hal ini berbeda dengan lagu ke- roncong Cincin Permata karya Moch. Ojik. Lagu keroncong Cincin Permata sebelum masuk reff (bagian B) melodi lagu berakhir pada birama ke-7 dan mulai masuk syair lagu (bagian reff) pada birama ke-11 hitun- gan pertama yang dimainkan sesuai de- ngan aturan baku keroncong pada birama setelah sub-interlude yaitu pada birama ke-12 yang sudah memasuki akor IV (sub tonika). Sehingga bagian sub-interlude pada lagu keroncong Tanah Airku berjum- lah dua bar, sedangkan sub interlude pada lagu keroncong Cincin Permata berjumlah tiga bar. Dengan demikian bagian A pada lagu keroncong Tanah Airku lebih pan- jang satu bar dibandingkan dengan lagu keroncong Cincin Permata. Perbedaan kedua lagu ini dapat dili- hat pada cuplikan lagu pada gambar 5 dan 6 berikut. Gambar 5. Cuplikan Kr. Tanah Airku HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201376 Gambar 6. Cuplikan Kr. Cincin Permata Modulasi Pada lagu keroncong Tanah Airku nada dasarnya adalah tetap dan tidak ter- dapat modulasi atau perpindahan nada dasar. Tanda mula pada lagu keroncong Tanah Airku adalah satu mol atau F= do dan itu dibawakan dari intro hingga bagi- an coda. Ciri-ciri umum harmonisasinya adalah tetap yaitu membentuk kadens lengkap I – IV – V – I, dan modulasi II – V setelah modulasi ke dominan (akor V) di- lanjutkan dengan akor IV. Motif Pada umumnya lagu keroncong asli memiliki pengulangan-pengulangan motif, yaitu antara frase pertama ke frase berikutnya memiliki kemiripan bentuk. Hal ini berbeda dengan lagu keroncong Tanah Airku karya Kelly Puspito. Lagu keroncong Tanah Airku kaya akan motif, dan masing-masing motif tersebut berdi- ri sendiri tanpa ada pengulangan motif. Pengulangan itu bisa dilihat pada gambar 7 dibawah ini. Gambar 7. Motif Keroncong Tanah Airku Abdul Rachman, Bentuk dan Analisis Musik Keroncong Tanah Airku Karya Kelly Puspito 77 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Bentuk lagu keroncong asli karya Kelly Puspito adalah A-B-C kalimat A mempunyai jumlah birama Sembilan bar, kalimat B memiliki jumlah birama sepu- luh bar, dan kalimat C memiliki jumlah birama Sembilan bar. Kelly Puspito telah melakukan pengembangan terhadap mu- sik keroncong asli hal itu dapat dilihat dari melodi, sistem nada, interval, harmonisasi atau progresi akornya, dan motif asimet- ris. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini sa- ran yang disampaikan oleh peneliti yang berkaitan dengan musik keroncong ada- lah: Pemerintah hendaknya turut ber- peran serta dalam melestarikan dan men- gembangkan musik keroncong dengan cara mengadakan perlombaan-perlom- baan musik keroncong. HAMKRI sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang keroncong hen- daknya mengkoordinasi para seniman ke- roncong agar lebih mengembangkan mu- sik keroncong dan membina para remaja dengan mengadakan lomba-lomba keron- cong atau work shop tentang keroncong ke sekolah-sekolah. Para Seniman keroncong hendak- nya lebih mengembangkan kreasinya da- lam musik keroncong dan menciptakan lagu-lagu keroncong yang baru agar refe- rensi lagu keroncong terus bertambah. Media masa baik radio maupun televisi hendaknya turut mempromosikan dan mensosialisasikan musik keroncong dengan cara menyajikan acara-acara yang bertemakan keroncong agar musik keron- cong bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas. Para remaja hendaknya membu- ka diri untuk mencintai musik keroncong dengan cara belajar musik keroncong atau mengikuti lomba-lomba keroncong agar tongkat estafet penyebaran dan pelestari- an musik keroncong tetap terjaga. DAFTAR PUSTAKA Banoe, Pono. 2003. Pengantar Pengetahuan Harmoni. Yogyakarta: Kanisius. Hardjana, S. 1983. Estetika Musik. Jakarta : Depdikbud. Harmunah. 2011. Musik Keroncong. Yogya- karta : PML. Hartayo, Jimmy. 1994. Musik Konvension- al Dengan “Do Tetap”. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Karl – Edmund Prier, S. J. 1996. Ilmu B e n - tuk Musik. Yogyakarta : PML. _________. 2009. Ilmu Harmoni. Yogyakarta : PML. Sukohardi, Al. 2009. Teori Musik Umum. Yogyakarta : Pusat Musik Liturgi. Sumaryo, L. E. 1981. Komponis, Pemain Musik dan Publik. Jakarta : Pustaka Jaya. Sumaryanto, F. Totok. 2007. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Dalam Penelitian Pendidikan Seni. Semarang: UNNES Press