78 PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI SEKOLAH MELALUI PENDIDIKAN SENI TRADISI Sri Ambarwangi SMK Negeri 1 Pringapus, Jalan Raya Jatirungga Ungaran E-mail: sriambarwangi@gmail.com Abstrak Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak budaya, karakter, etnik yang tersebar di pelosok negeri. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia dianggap sangat plural. Keragaman budaya dengan berbagai karakter ini juga ternyata menjadi ancaman perpecahan yang disebabkan kurangnya kesadaran tentang makna keberagaman ini. Gesekan-gesekan yang berbau sara terus terjadi karena kurangnya kesadaran budaya masyarakatnya. Pelajaran seni tradisi di sekolah menengah bisa menjadi wahana pembelajaran multikultural bagi peserta didik. Pembelajaran multikultural ini penting bagi agar mereka siap dan sadar menjadi anggota masyarakat yang plural. Multicultural Education in Schools Through Tradition Art Education Abstract Indonesia is a country consisting of countless cultures, characters, ethnic groups spread in various regions. That’s why Indonesian community is very pluralistic. The diverse cultures with these considerable characters have threatened disunity caused by people’s conscious- ness of this diversity. The ethnic segregation and conflict have kept going because of the lack of community’s cultural awareness. Subject on tradition and art in high schools could be a medium for multicultural learning for students. This multicultural learning is important in order that they are ready and aware of being pluralistic community members. Kata kunci: pendidikan multikultural, pendidikan, seni tradisi. kan seperti Kuda Kepang, Barongan, reog, rebana, dan kesenian lain. Keadaan ini sungguh mengejutkan penulis karena selama ini penulis lebih ba- nyak memberi pelajaran pada seni modern yang berbasis seni Barat terutama mu- sik. Sementara pelajaran seni-seni tradisi hanya bersifat Pengetahuan dan kegiatan apresiastif. Yang mengejutkan dan meny- adarkan penulis adalah begitu mengha- yatinya mereka melakukan kegiatan itu. Mungkin juga karena sebagian mereka memang menggeluti kesenian itu di da- erah tempat tinggalnya. Tentu yang lebih PENDAHULUAN Tulisan ini terilhami setelah penu- lis menyaksikan pertunjukan anak-anak peserta didik di SMK tempat penulis ber- tugas. Dalam suatu ujian praktik mereka mampu menampilkan beraneka ragam pertunjukan kesenian tradisional di da- erah masing-masing di mana mereka ting- gal. Lokasi sekolah yang berada di ping- giran kota yang dekat dengan perbatasan antara Kabupaten Semarang, Salatiga dan Grobogan ternyata memberikan variasi jenis kesenian tradisi yang mereka tampil- Sri Ambarwangi, Pendidikan Multikultural di Sekolah Melalui Pendidikan Seni Tradisi 79 mengejutkan dan membanggakan adalah mereka tidak merasa malu dengan keseni- an yang dia mainkan. Yang bisa penulis petik dari hal di atas adalah mereka melakukan pertun- jukan itu dengan tidak menunjukkan persaingan di antara grup-grup mereka walaupun saat itu sedang ujian praktek pelajaran Seni Budaya. Mereka bisa saling menghargai dan saling membantu jika ada salah satu grup meminta bantuan. Di atas hanyalah contoh sederhana di tempat yang terbatas. Di even-even yang lebih besar sebenarnya ada kegiatan seni yang mempertunjukkan seni-seni tradisi dari berbagai daerah di Indonesia. Festival seperti FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) selalu diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2009 oleh Kemen- diknas. Kegiatan semacam itu diharapkan akan menjadi ajang kreasi, apresiasi, dan tentu saja pelajaran kesadaran budaya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Indo- nesia terdiri dari banyak etnis, budaya, bahasa dan berbagai macam karakter yang dimiliki masyarakatnya. Sifat plural yang dimiliki negara ini sudah disadari oleh para pendiri negara ini hingga disepaka- tilah Pancasila menjadi ideologi negara yang dianggap paling ideal. Segala macam usaha merubah ideologi negara terus di- lancarkan bagi kelompok yang ingin me- maksakan kehendaknya dan tetap gagal seiring dengan keingian kuat masyara- katnya untuk tetap eksis dengan ideologi yang dianut sampai sekarang. Kita seba- gai masyarakat pendukung dan penganut pun tetap sadar bahwa merubah ideologi Pancasila dengan yang lain misalnya ide- ologi agama, ideologi etnis tertentu yang lebih dominan, komunis, dan sebagainya berarti juga “membubarkan negara” yang berideologi Pancasila yang notabene me- nyadari kepluralan masyarakat Indonesia. Atau, jika dipaksakan maka akan terjadi pertentangan yang sangat kuat hingga ak- hirnya menimbulkan perpecahan. Penga- laman sejarah telah membuktikan hal ini. Bahkan di saat Indonesia yang masih tetap memegang teguh ideologi ini, kelompok tertentu masih berusaha memaksakan kehendaknya yang menunjukkan masih adanya kelompok tertentu belum meny- adari pentingnya pemahaman tentang hidup bersama dengan masyarakat lain yang multukultur. Akibatnya, riak-riak perpecahan terus terjadi dan menghantui negeri ini. Ideologi bila kita tengok menu- rut Sargent dalam bukunya Contempora- ry Political Ideologies yang dikutip O’neil (2001:32-33) diartikan sebagai sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fak- ta atau kebenaran oleh kelompok tertentu. Ideologi selalu menggambarkan mengenai karakteristik-karakteristik umum tentang alam dan masyarakat, serta keterkaitan antara hakikat moral, politik, dan prila- ku lainnya yang bersifat evaluative. Oleh karena itu ia tidak sekedar memberi in- formasi tetapi juga petunjuk yang bersifat imperative, bagaimana seharusnya masy- arakat bertindak. Ideologi seperti di atas yang biasanya juga menjadi suatu ideologi politik kemudian melahirkan juga ideolo- gi pendidikan. Ideologi suatu negara yang biasanya bersifat politik ini bagaimanapun akan berpengaruh pada ideologi pendidi- kannya. Karena, ideologi biasanya menca- kup juga sebuah utopia, sebuah cita-cita dan mimpi suatu negara atau bangsa. Ideologi yang merupakan pandangan- pandangan hidup suatu masyarakat atau bangsa selalu memiliki cara untuk menca- pai impian itu. Idiologi pendidikan yang dilahirkan dari sebuah masyarakat yang juga memi- liki idiologi politik negara dan tentu saja juga berasal ideologi sosial masyarakatnya tidak akan lepas dari idiologi di atasnya tersebut. Karena, jika ideologi pendidikan tidak sejalan dengan ideologi politiknya maka akan mendapat pertentangan di ma- syarakat sendiri. Indonesia yang memilih Pancasila sebagai ideologi negara maka semestinya juga memiliki ideologi pendi- dikan Pancasila, atau paling tidak ideologi yang yang memiliki nafas dan cara-cara yang tidak berbeda dengan jiwa Pancasi- la. Ideologi liberal misanya, yang menga- nut ekonomi kapitalis, tidak akan cocok dianut sebagai ideologi pendidikan bagi HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201380 negara Indonesia yang menganut Pancasi- la sebagai ideologi negara. Jika ini terjadi maka akan terjadi komersialisasi pendidi- kan dan salah satu efeknya adalah tidak meratanya pendidikan dan mahalnya biaya pendidikan, sehingga akan terping- girkan bagi masyarakat yang tidak mam- pu. Hanya masyarakat kelas menengah ke ataslah yang dapat mengenyam pendi- dikan yang berkualitas baik. Di samping itu, arah pendidikannya juga bisa jauh me- lenceng dari cita-cita negara yang berdas- arkan Pancasila. Akibatnya, akan terjadi ketidakadilan pendidikan dan sosial yang jauh dari cita-cita negara Pancasila. Pelaksanaan pendidikan seni, terma- suk pendidikan seni musik adalah sebuah implementasi dari kebijakan-kebijakan suatu sistem ideologi pendidikan sua- tu bangsa. Sistem pendidikan termasuk kurikulum tentunya juga akan mengacu pada ideologi pendidikan yang dilahirkan keadaan masyarakat yang yang memiliki cita-cita tersebut. Bangsa Indonesia yang plural ini memiliki seni budaya yang san- gat kaya yang bisa menjadi sumber inspi- rasi penyusunan kebijakan tentang isi ku- rikulum. Dengan demikian, sebenarnya sangatlah tidak perlu Indonesia mengim- por seni dari bangsa-bangsa lain sebagai bahan untuk mengkaji dan mengekspre- sikan seninya. Keberadaan seni musik misalnya, yang menyebar di seluruh In- donesia bisa menjadi materi pembelajaran seni di sekolah yang tak akan habisnya. Seni-seni Barat yang mungkin juga men- gandung ideologi Barat belum tentu cocok dengan karakter pendidikan di Indonesia. Seni musik Barat dengan sistem grama- tikal Barat yang pelaksanaannya saat ini seolah menjadi materi wajib di sekolah- sekolah perlu dikaji ulang tentang keber- manfaatannya dalam tujuan dan manfaat pembelajaran bagi anak didik di sekolah. Pelaksaaan pembelajaran musik diatonik yang hanya kulitnya saja apakah memiliki dampak positif sesuai tujuan pendidikan seni musik sekolah? Mengapa tidak meny- elenggarakan pendidikan musik dengan menggunakan musik tradisi sebagai sa- rana untuk mengkaji, ekspresi dan kreasi siswa? Nampaknya pendidikan seni kita masih terbelenggu oleh hegemoni musik Barat. Hegemoni ini telah melanda tidak hanya di bidang sosial, ekonomi tetapi juga budaya termasuk pendidikan seninya. Di dalam seni musik sebenarnya juga le- bih lama berlangsung sebelum Indonesia merdeka. Lihatlah semua lagu-lagu perju- angan, nasional bahkan lagu kebangsaan Indonesia juga menggunakan sistem dan gramatika musik Barat. Mungkin karena sejak itulah maka penggunaan sistem itu akhirnya sampai sekarang pun pembelaja- ran musik di sekolah tidak bisa lepas dari belenggu itu. Celakanya, pihak penguasa memanfaatkan keadaan ini untuk mencip- takan hegemoni baru bagi masyarakatnya demi kepentingan politiknya. Sebuah bangsa adalah “konglome- rat” sosio-politis yang sangat rumit. Dia dipersatukan oleh sejumlah alasan dan ke- pentingan. Di sisi lain, hakikat seni tidak akan pernah bisa dikaitkan dengan sebuah bangsa, kecuali bila dipaksakan oleh sis- tem politik tertentu yang bersifat otoriter (Dieter Mack, 2005). Dengan alasan un- tuk menciptakan persatuan dan kesatuan terciptalah kurikulum-kurikulum sebe- lumnya yang telah berlangsung puluhan tahun dengan menganut pendidikan mu- sik dengan sistem gramatika Barat. Pe- nyeragaman materi pelajaran pendidikan musik ini akhirnya menghilangkan eksis- tensi musik tradisi sendiri. Kita mungkin lupa bahwa musik tradisi kita sangat kaya dan bernilai tinggi dan dapat menjadi ma- teri pelajaran yang sangat membumi dan sesuai dengan karakter bangsa sendiri. Kini, sebenarnya sudah ‘terlambat’ untuk membangkitkan kesadaran bangga akan seni tradisi sendiri karena masyarakat se- jak dari generasi puluhan tahun lalu sudah dicekoki dengan musik Barat. Ini masih di- perparah dengan media dan sistem infor- masi yang bertubi-tubi menyajikan-musik musik Barat. Lebih celaka lagi musik tra- disi dianggap ketinggalan jaman sehingga masyarakat tidak merasa bangga untuk menyajikan maupun mempelajarinya. Se- hingga, tidak mustahil beberapa generasi Sri Ambarwangi, Pendidikan Multikultural di Sekolah Melalui Pendidikan Seni Tradisi 81 mendatang, jika hal ini tidak diperbaiki, keadaan akan terbalik. Kita akan mem- pelajari seni tradisi kita sendiri di negeri orang karena sudah merasa asing dan ti- dak ada lagi generasi yang mendukung dan mempelajarinya. Keadaan ini nam- paknya sudah terjadi dan berjalan pelan tapi pasti menuju ke arah itu. PERAN PENDIDIKAN SENI DI SEKO- LAH Dalam Kurikulum Tingkat Satu- an Pendidikakan (KTSP), pelajaran seni musik masuk dalam cabang mata pela- jaran Seni Budaya yang tediri dari seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater memiliki tujuan antara lain: (1) memaha- mi konsep dan pentingnya seni budaya; (2) memahami sikap apresiasi terhadap seni budaya; (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya; dan (4) menampil- kan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional maupun global. Ma- sing-masing cabang seni tersebut memiliki ruang lingkup sendiri berdasarkan bidang dan karakter seni tersebut. Seni musik memiliki ruang lingkup yang mencakup kemampuan untuk menguasai olah vo- kal, memainkan alat musik, dan apresiasi karya musik. Dari ruang lingkup inilah kemudian dijabarkan melalui SK dan KD pada setiap tingkatannya. Walaupun mata pelajaran Seni Bu- daya, termasuk seni musik, mengandung unsur kata “budaya” namun aspek bu- daya ini tidak dibahas secara tersendiri melainkan terintegrasi dalam seni. Mata pelajaran Seni Budaya merupakan pendi- dikan seni yang berbasis budaya. Budaya meliputi segala aspek kehidupan mulai dari cara hidup (style of life), keyakinan (be- lief), berbahasa, sampai pada berekspresi termasuk berkesenian. Berbicara seni tidak lepas dari budaya yang melingkupinya, seperti halnya kita belajar bahasa yang tak lepas dari budaya yang melatar belakangi- nya. Jika kita mempelajari seni suatu dae- rah tertentu maka secara otomatis mem- pelajari pula budaya yang mengasilkan karya seni tersebut. Seni budaya memiliki kekhasan atau keunikan tersendiri yang tidak dimiliki mata pelajaran lain sehingga cara pembe- lajarannya pun berbeda dengan yang lain. Hal ini sangat bermanfaat bagi kebutuhan perkembangan siswa. Dalam pendidikan seni untuk mencapai kebermaknaan ini di- kenal dengan pendekatan “belajar dengan seni”, “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni”. Kegiatan dengan pende- katan ini adalah untuk memberikan pen- galaman estetik dalam bentuk kegiatan berkreasi atau berekspresi, dan berapre- siasi. “Belajar dengan seni” mengandung makna bahwa dalam aktivitas belajar apa pun kita bisa melibatkan seni di dalamnya. Misalnya, belajar sambil mendengarakan musik. “Belajar melalui seni” bermakna bahwa seni bisa digunakan sebagai sarana untuk mempelajari hal-hal atau bidang yang lain. Misalnya, dalam mempelajari lagu, di samping belajar musik kita juga bisa sambil mempelajari sastra, sejarah, nasionalisme, sosial, agama dan lain-lain. Konsep ini menganut pendapat yang dipo- pulerkan oleh H. Read (1970) yang dikenal dengan pendekatan education through art. Dan, “belajar tentang seni” bermakna ba- hwa untuk mencapai tujuan estetis siswa bisa langsung belajar pada seni tersebut yang meliputi segala aspek yang ada da- lam seni tersebut. Misalnya, siswa belajar musik diharapkan siswa mampu mengu- asai musik atau tujuan dari pembelajaran musik tersebut agar mampu menyanyikan atau memainkan musik tersebut sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Pendidikan Seni Budaya yang memi- liki karakteristik sendiri inilah yang men- jadikan pendidikan seni budaya ini memi- liki tujuan khusus dalam mencapai tujuan pendidikan secara umum. Ada tiga sifat yang dimiliki pendidikan Seni Budaya yaitu sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual artinya dalam pengembangannya bisa dilakukan dengan berbagai cara dan media seperti seni rupa, bunyi, gerak, peran, dan per- paduan dari media itu. Multi dimensio- nal bermakna pengembangan kompetensi yang meliputi konsepsi, apresiasi, dan kreasi dengan memadukan secara harmo- HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201382 capaian tujuan secara umum. Siswa yang sudah mencapai taraf apresiasi dan kreasi yang tinggi bisa menjadi anak yang suka menghargai orang lain, kreatif, berper- asan halus, toleran, berani tampil dimuka umum, percaya diri, bahkan cerdas. Ciri- ciri manusia yang memiliki sifat tersebut bukankah merupakan bagian dari tujuan pendidikan umum yang meliputi berbagai macam jenis pendidkian? Tidak mungkin tujuan pendidikan umum hanya bisa dica- pai melalui jenis pendidikan yang melibat- kan otak kiri yang meliputi logika, berpikir analistik, sistematik, dan lain-lain tetapi juga melibatkan otak kanan yang meliputi intuisi, fantasi, inovasi, sintesa (holistis), kreasi dan lain lain yang banyak didapat melalui kegiatan seni seperti irama, nada, warna (Suharto, 1999). Siswa yang aktif dalam kegiatan paduan suara, misalnya, akan terbiasa dengan sifat bekerjasama, suka membantu, toleran dan suka meng- hargai orang lain, menyukai keharmo- nisan, memiliki rasa musikal tinggi, ber- perasan halus, percaya diri dan disiplin. Itu semua akibat langsung yang disebab- kan dalam proses latihan sampai pada penampilannya. Dan, itulah yang diharap- kan dalam tujuan pendidikan umum. PEMBELAJARAN SENI YANG BERA- KAR PADA SENI TRADISI Sudah banyak pengakuan dari dunia bahwa seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia bernilai estetis sangat tinggi baik musik, tari, rupa, maupun seni lain yang tersebar di seluruh pelososok Nusantara. Gamelan misalnya, sudah ba- nyak negara yang membuka kajian dan ju- rusan yang mempelajari musik ini. Musik yang juga menganut sistem tangga nada pentatonik yaitu pelog dan slendro memi- liki gramatika musik yang tidak kalah ru- mitnya dengan gramatika musik diatonik Barat. Kedua jenis musik ini sama-sama berasal dari musik tradisi. Musik diatonik Barat berasal dari musik rakyat dari Eropa Barat sementara musik pentatonik bisa be- rasal dari musik tradisi Jawa, Sunda, atau Bali. Mereka mengimpor musik tradisi kita dan mempe-lajarinya serta menikmati nis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Dan, multikultural bermakna bahwa pengembangan kompetensi bisa melalui kegiatan yang menimbulkan apresiasi ter- hadap keragaman budaya Nusantara dan mancanegara. Pendidikan musik yang memiliki bidang garap sendiri yang tidak sama dengan bidang lain seperti bidang mate- matika yang menggarap bidang logika. Bidang garap seni adalah rasa dan sikap apresiatif yang bisa dicapai melalui kegia- tan apresiasi dan kreasi untuk memenuhi kebutuhan pribadi peserta didik yang har- monis. Seni Budaya merupakan kelom-Seni Budaya merupakan kelom- pok mata pelajaran estetika yang memi- liki karakteristik pembelajaran yang khas dalam pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasarnya. Manusia pada hakekatnya memi- liki multi kecerdasan yang tidak hanya berdasarkan kecerdasan dan logika tetapi kecerdasan lainnya. Menurut Gardner (1993) manusia memiliki multi kecerda- saan (multiple intelligences) antara lain (1) kecerdasan linguistik (kemampuan ber- bahasa yang fungsional); (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut); (3) kecerdasan musikal (kemam-; (3) kecerdasan musikal (kemam- (3) kecerdasan musikal (kemam- puan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama); (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mentalt- entang realitas); (5) kecerdasan kinestetik- ragawi (kemampuan menghasilkan gera- kan motorik yang halus); (6) kecerdasan intra-personal (kemampuan untuk menge-personal (kemampuan untuk menge- (kemampuan untuk menge- nal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri); dan (7), kecerdasan interpersonal (social). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memeperhatikan motivasi dan tujuan mereka. kecerdasan antarprib- adi (kemampuan memahami orang lain). Guru seni musik bisa memanfaatkan sifat kecerdasan manusia ini untuk mendapat- kan konsep seni musik secara utuh de- ngan mengeksplorasi segala potensi yang ada. Segala efek yang diakibatkan dalam pendidikan seni ini di sekolah memiliki tujuan khusus yang mengarah pada pen- Sri Ambarwangi, Pendidikan Multikultural di Sekolah Melalui Pendidikan Seni Tradisi 83 musik ini sebagai bagian dari ekspresi se- ninya. Kita bahkan lebih dari itu menjadi- kan musik Barat sebagai ‘materi wajib’ di sekolah-sekolah walaupun di dalam ku- rikulum KTSP yang berlaku saat ini tidak tereksplisit berisi musik-musik Barat di dalammya. Namun, pelaksanaanya bany- ak guru yang lebih banyak memberikan musik-musik Barat karena latar belakang pendidikan formalnya adalah musik Ba- rat. Kegiatan pembelajaran musik yang menggunakan materi yang bersumber dari seni tradisi bisa melibatkan pada bebarapa aspek yaitu (1) materi pelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) karakteristik siswa, (4) kemampuan guru, dan (5) sarana atau fa- silitas yang dimiliki sekolah. Materi yang telah ditetapkan tidak bisa serta merta di- terapkan. Jika salah satu dari empat aspek itu diabaikan dan tidak tersedia maka ru- musan kegiatan pembelajaran yang ideal tidak bisa berjalan dengan baik. Memak- sakan kehendak, misalnya memaksakan dalam memberikan pembelajaran lagu tradisional Jawa, dengan membaca notasi pentatonik, padahal guru tidak mengu- asai dan tidak mampu menyanyian tangga nada pentatonik Jawa Tengah akan bera- kibat fatal. Perlu usaha keras guru untuk mempelajari sebelum memberikan materi itu pada siswa. Oleh karena itu tidak ada cara lain bagi guru musik yang telah ter- lanjur mempelajari musik diatonik Barat untuk juga mempelajari musik tradisi ka- rena itu sudah tuntutan kurikulum sendi- ri. Pelajaran Seni Budaya khususnya Seni Musik sesuai dengan ruang lingkup- nya, utamanya adalah kegiatan apresia- si dan kreasi/ekspresi. Pencapaian dua kegiatan itu memang bisa sederhana dan bisa juga sangat kompleks. Selama guru bisa memilih dan mengelola materi dan mengelola kelas dengan baik maka proses pembelajaran tetap menarik siswa. Kegiatan pembelajarannya dalam kurikulum KTSP sebenarnya hanya ada dua kelompok besar yaitu kegiatan apre- siasi dan ekspresi/kreasi. Namun de- mikian, guru perlu memahami kembali konsep-konsep apresiasi agar dalam meny- ampaikan materi tidak terbatas pada kon- seps (pengetahuan dan pemahaman) saja tetapi lebih dari itu. Pembelajaran apresia-Pembelajaran apresia- si tidak cukup dengan konsep yang diberi- kan secara teoritis tetapi juga memerlukan pengalaman estetis. Pengalaman musik adalah utama dalam pembelajaran mu- sik. Dalam kegiatan mendengarkan lagu, misalnya, guru bisa mengajak siswa un- tuk mengidentifikasi unsur-unsur musik, jenis alat musik yang digunakan, karakter lagu atau musik, kesan lagu, sifat lagu, pesan lagu, tangga nada yang digunakan, sampai pada pemberian penilaian tentang lagu yang diperdengarkan. P e m i l i h a n lagu yang bervariasi memang perlu tetapi hal itu bukan tujuan utama. Setiap pembe- rian kegiatan apa pun lagu model yang di- gunakan tidak lepas dari dua kegiatan itu. Pengalaman estetis bagi siswa lebih pen- ting sehingga tujuan musik akan tercapai. Pengalaman estetis yang berupa pengala- man musik pada hakekatnya merupakan pengalaman belajar setelah berapresiasi dan berkreasi seni musik yang melibatkan proses mental dan fisik melalui berbagai interaksi. Kurikulum KTSP khusus mata pe- lajaran Seni Budaya di Sekolah Menen- gah sebenarnya sudah cukup akomodatif jika dilihat dari SK/KD yang ada. Namun demikian ini tidak akan ada artinya jika pelaksanaanya tidak berjalan denga baik. Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya perhatian akan seni budaya bangsa Indonesia cukup terakomodasi melalui rumusan-rumusan stadar kompe- tensi maupun kompetensi dasarnya yang ada pada setiap tingkat. Sayangnya pe- laksanaannya saat ini masih mengalami kendala akibat latar belakang guru seni budaya lebih banyak terlekat baju Barat sehingga lebih suka mengajar seni Barat terutama bidang seni musik. Kini menjelang pelaksanaan kuri- kulum 2013 sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan pendidikan seni tradisi di sekolah. Isi kurikulum seni budaya harus terlihat nyata melalui rumusan-rumusan tujuan maupun dalam silabus yang renca- HARMONIA, Volume 13, No. 1 / Juni 201384 nana akan dibebankan pada pusat, bukan pada gurunya. Usaha lain bisa melalui pe- latihan guru-guru seni budaya terutama tentang keterampilan pembelajaran seni budaya setempat baik lokal maupun nu- santara atau negara lain. Diharapkan de- ngan kemampuan akan seni tradisi ini guru akan yakin memberikan pembelaja- ran seni tradisi. Berbahagialah bagi guru-guru mata pelajaran Seni Budaya karena yang sering dikuatirkan akan dihilangkan di tingkat satuan pendidikan menengah ternyata tetap dipertahankan keberadaannya. Bah- kan, mata pelajaran ini diusulkan dalam kurikulum baru itu menjadi mata pelaja- ran wajib, yang masuk kelompok B, ter- masuk Prakarya, dan pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan dengan jumlah 2 jam pelajaran perminggunya. Jumlah jam ini tentu lebih banyak dari pada kuri- kulum KTSP terutama di SMK (non-seni) yang hanya 128 jam selama tiga tahun. Pembelajaran multukultural me- lalui pendidikan seni tradisi pada awal- nya mungkin akan mengalami kendala. Namun, jiuka ini segera dimulai, maka beberapa tahun kemudian akan terlihat semaraknya anak-anak belajar seni tra- disinya bangsanya sendiri sendiri baik daerah setempat maupun daerah lain. Di masa mendatang mereka akan mulai sa- dar akan budayanya, masyarakatnya yang plural, dan tanggung jawab mereka untuk menjaga keutuhan bangsanya. Akibatnya, terjalinlah rasa persatuan rasa memiliki, dan rasa tanggung jawab sebagai warga bangsa untuk memjukannya. PENUTUP Indonesia yang memiliki kekayaan seni budaya yang kaya termasuk seni mu- siknya bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran musik di sekolah. Isi materi kurikulum KTSP yang ada sebenarnya su- dah mengakomodasi hal itu. Tetapi, pelak- sanaannya belum dijalankan sebagaimana mestinya yang disebabkan latar belakang pendidikan guru yang biasanya banyak berasal dari pendidikan musik Barat. Sua- tu hal yang sulit dilakukan oleh guru yang terbiasa dan tertanam dengan musik dia- tonik kemudian mempelajari musik pen- tatonik. Namun ini adalah suatu kenisca- yaan yang harus dilakukan guru. Karena jika tidak pendidikan musik yang berakal pada budaya sendiri tidak akan pernah di- lakukan. Akibat yang lebih parah adalah semakin ditinggalkannya pengetahuan dan pengalaman musik tradisi oleh gene- rasi penerus yang akan berakibat pula hi- langnya seni tradisi di bumi Nusantara ini di masa-masa mendatang karena generasi penerusnya sudah tidak mengenal dan ti- dak menyukainya lagi. Harus ada kemauan keras dari pe- merintah untuk menjalankan politik pen- didikan yang lebih jelas dan terarah yang memihak pada kepentingan keutuhan bangsa dengan menyadari bahwa negeri ini bersifat plural yang terdiri dari banyak seni budaya. Penyeragaman bukalah po- litik yang tepat dalam pelaksanaan pendi- dikan seni di Indonesia. Keanekaragaman materi pelajaran yang berakhar pada seni budaya setempat/tradisi bukanlah suatu ancaman. Sebaliknya, keanekaragaman adalah saripati dari keindonesiaan dan ke- merdekaan. DAFTAR PUSTAKA Gardner, H. 1993. Multiple Intelligences: From Theory to Practice. New York: Basic Books Mack, Dieter. 2005. ”Musik di antara Seni dan Politik: sebuah Dilema Abadi”. Pengantar dalam buku Ismail Mar- zuki Musik, Tanah Air dan Cinta. Jakarta:LP3ES Permendiknas, RI No 22 Tahun 2006. Ten- tang Standar Isi untuk Satiuan Pen- didikan Dasar dan Menengah. Jakar- ta: Depdiknas. Puskur Depdiknas. 2007. ”Kajian Kebija- kan Kurikulum Seni Budaya”. Ja- karta: Pusat Kurikulum Badan Pene- litian dan Pengembangan. Rohman, Arif. 2002. ”Akar Ideologis Prob- lem Kebijakan Pendidikan di Indo- nesia. Jurnal Fondasia, Volume II No 2 Sri Ambarwangi, Pendidikan Multikultural di Sekolah Melalui Pendidikan Seni Tradisi 85 2002. Sprinthall, R.C dan N.A. Sprinthall. 1977 Educational Psychology: A Develop- mental Approach, Sydney: Addison- Wesley Publishing Company Suharto. 2007. “Pengembangan Materi dan Kegiatan Pembelajarannya dalam Kurikulum KTSP bidang Musik”. Harmonia Vol 8 No 3. Semarang: Sen- dratasik Unnes Press. ___________ “Peran Seni dalam Pengopti- malan Fungsi Otak” dalam Lingua Artistika Jurnal Bahasa dan Seni FBS Unnes No 3 Tahun XXIII September 2000. O’neil, William F. 2001. Ideologi-ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pe- lajar.