132 SEJARAH MUSIK SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN ILMIAH UNTUK BELAJAR TEORI, KOMPOSISI, DAN PRAKTIK MUSIK Hari Martopo Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Parangtritis KM 6,5 Yogyakarta, Indonesia E-mail: harimartopo.isi@gmail.com Abstrak Dalam ranah pendidikan music, mata sejarah musik memiliki fungsi paling dasar dan penting sebagai pengetahuan ilmiah bagi semua mata pelajaran dan minat-minat studi yang terkait dengan bidang studi musik. Sejarah musik sangat bermanfaat untuk belajar teori-teori (musicology), atau penciptaan musik (composition), dan juga praktik-praktik vokal maupun instrumen musik (performance). Sekalipun sejarah musik penting sebagai pengetahuan ilmiah, tetapi perlu dilengkapi dengan sumber informasi tambahan antara lain pengetahuan tentang kebudayaan; sejarah filsafat; sejarah umum; perkembangan teknologi dan sains; bahkan mitologi. Artikel ini diharapkan akan dibaca dan bermanfaat bagi siapa saja terutama para pelajar musik dan juga termasuk para pengajar sejarah musik. Pembelajaran sejarah musik dapat dieksplorasi agar menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan mencapai tujuannya yakni sebagai ilmu pengetahuan ilmiah musik. History of Music as a Source of Scientific Knoledge to Learning Theories, Compositions, and Music Practices Abstract In the domain of music education — the history of music has the most basic and important function as scientific knowledge for all subjects and interests – the interests of related sub- jects with majors in music. It is very beneficial to learning theories (musicology), or music creation (composition), and also practices of vocals and music instruments (performance). Though it is important as scientific knowledge, but it needs to be complemented by additional information sources like knowledge of culture, the history of philosophy, public history, the development of technology and science, and even mythology. This article will hopefully be useful for anyone, especially the students and also teachers of music history. Learning music history can be explored in order to become more attractive and fun, and achieve the goal of learning; that is a source of scientific knowledge. Kata kunci: sejarah; musik Barat; klasik; pengetahuan ilmiah donesia Yogyakarta khususnya di Jurusan Musik sekitar 26 tahun hingga kini; penu- lis meyakini bahwa penyampaian mata pelajaran Sejarah Musik harus dilengkapi dengan berbagai informasi pengetahuan tambahan agar murid bisa memahami PENDAHULUAN Berdasarkan atas pengamatan yang cukup lama pada pengalaman mengajar- kan Sejarah Musik di Jurusan Musik pada Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni In- Hari Martopo, Sejarah Musik sebagai Sumber Pengetahuan Ilmiah untuk Belajar Teori ... 133 perkembangan musik dari setiap periode waktu dengan lengkap. Pada umumnya mata pelajaran Seja- rah Musik dipahami sebagai suatu penge- tahuan tentang musik yang berisi terutama cerita atau paparan lahir dan berkembang- nya musik-musik secara kronologis dari awal hingga kini. Ada beberapa buku Se- jarah Musik yang ditulis dengan peneka- nan yang berbeda-beda pula, misalnya pe- nulisnya lebih menekankan aspek bentuk musik (musical form), atau perkembangan gaya musik (musical style), tetapi juga ada yang memilih penekanan pada aspek pen- cipta (composer) dan gaya hidup (life style) masyarakat sekitarnya pada waktu itu da- lam suatu paparan lengkap gambaran ke- budayaannya. Bagi para pelajar musik terutama tingkat-tingkat pemula, mereka acapka- li belajar Sejarah Musik dengan sekadar mengikuti pelajaran saja, tidak berupa- ya memiliki buku, jika punya buku pun hanya dibaca dengan hafalan saja. Mem- baca buku Sejarah Musik dengan teknik membaca pemahaman sungguh belum terbiasa. Hal itu bisa dipahami karena para pelajar tingkat pemula itu belum bisa berkonsentrasi penuh membaca dengan cara memahami isi buku. Mereka masih bergulat dengan tugas-tugas praktikal ber- latih keras memainkan instrumen musik pilihannya untuk mengejar ketertinggalan atau meningkatkan kualitas psikomotorik- nya. Dari pengalaman mengajar di depan kelas bertahun-tahun, pertanyaan kepada mahasiswa baru apakah mereka masih in- gat bagian dari sejarah nasional kita, atau mereka tahu bagian dari sejarah dunia, ter- nyata mayoritas tidak menjawab. Hanya sedikit sekali yang masih mengingat ten- tang perang kemerdekaan, atau hampir tidak berminat untuk mengingat kembali apa yang sesungguhnya mereka telah pe- lajari di tingkat sekolah sebelumnya. Jika sejarah bangsa sendiri saja diabaikan, ba- gaimana dengan sejarah dunia dan atau sejarah kebudayaan dunia? Padahal Se- jarah Musik berlatarbelakang peradaban dan budaya Barat sejak periode Yunani Kuno hingga sekarang. Istilah-istilah seperti ‘Yunani’, ‘Ro- mawi’, ‘Barat’, ‘Abad Pertengahan’, ‘Rene- san’ atau nama-nama Sokrates, Plato, Aris- toteles, Alexander Agung, Paus Gregorius Agung, Napoleon dan seterusnya—ham- pir tidak diketahui para pelajar pemula. Uniknya mereka sudah mengenal sedikit tentang Mozart dan Beethoven, tetapi lebih banyak yang tahu tentang musisi-musisi sekarang dan gaya musik antara lain Pop, Rock, Jazz, dan sejenisnya. Dari pengeta- huan dasar tentang jenis dan gaya musik yang diketahui, jelas bahwa motivasi be- lajar musik pada umumnya sebatas untuk meningkatkan ketrampilan memainkan instrumen dan menguasai musik-musik kekinian saja. Namun mereka juga sadar bahwa belajar musik apa pun perlu tahu tentang musik klasik sebagai satu-satunya sumber pengetahuan musik. Ada keyakinan bahwa Sejarah Musik merupakan ilmu pengetahuan dasar yang penting dan diperlukan untuk belajar se- mua aspek musik, mata pelajaran yang wajib dikuasai sejak awal hingga purna dalam belajar musik; namun pembelajaran Sejarah Musik tidak dapat dilaksanakan sekadar membacakan isi paparan buku saja melainkan harus dilakukan penam- bahan informasi banyak hal dan pemapa- rannya pun harus lebih menarik dengan mengeksplorasikan menggunakan power- point, pemutaran musik audio-visual, film, menampilkan peta-peta wilayah, dan lain sebagainya. Defenisi dan Ruang Lingkup Sejarah Musik Sejarah Musik sesungguhnya sama seperti sejarah-sejarah pada umumnya, namun sedikit berbeda karena yang dipa- parkan adalah ‘musik’ yang mengandung aspek bunyi (audible). Sejarah yang menca- tat semua peristiwa dan fenomena penting terkait dengan adanya musik sejak zaman kuno hingga kini yang meliputi periode- periode secara kronologis: Yunani Kuno (6000 SM hingga 500 SM); Abad Perten- gahan (500 SM hingga 1200 M); Renesan (Abad ke-13 hingga Abad ke-16); Barok (Abad ke-17); Klasik (Abad ke-18); Roman- HARMONIA, Volume 13, No. 2 / Desember 2013134 tik (Abad ke-19); dan Modern (Abad ke-20 hingga Sekarang)—semua itu sesungguh- nya adalah Sejarah Musik Barat meliputi musik-musik yang berada dalam lingkup kebudayaan Eropa Barat (Western Cultu- re). Kata ‘Barat’ dalam konteks pendidi- kan seni khususnya musik acapkali masih menjadi isyu yang kurang konstruktif. Bagi orang Barat, Sejarah Musik ba- nyak ditulis mulai dari periode Abad Per- tengahan, penulisnya pasti beranggapan bahwa sejarah musik harus berisi paparan tentang musik-musik yang bisa diper- tanggungjawabkan secara historis, yak- ni memiliki bukti otentik tertulis (notasi) dan ada bunyinya yang setidaknya bisa dimainkan lagi (rekonstruksi). Sedangkan penulis lain ada yang berkeyakinan me- mulai dengan periode Yunani Kuno yang sesungguhnya belum sepenuhnya historis namun arkeologis. Pada periode Yuna- ni Kuno memang sudah terjadi perilaku orang bermusik dalam budaya mereka, namun artefak-artefak yang ditinggalkan hingga kini masih berupa gambar-gambar di kuil, batu nisan, dan pot-pot bunga, serta cerita-cerita tentang kehidupan para dewa-dewi dalam mitologi mereka. Terkait dengan dualisme model pe- nulisan Sejarah Musik itu, untuk keperlu- an pembelajaran Sejarah Musik bagi kelas pelajar pemula sebaiknya kita pilihkan yang kedua, Sejarah Musik yang dimulai dengan sedikit pengetahuan tentang peri- ode Yunani Kuno akan bermanfaat sekali untuk memberikan keluasan pandangan tentang cikal-bakal dunia Barat. Hal ini bukan atas dasar alasan agar pembelaja- ran menjadi rumit, namun perlu diketahui oleh para murid bahwa kebudayaan Yuna- ni Kuno adalah penting sebagai cikal-ba- kal kebudayaan Barat (yang kelak hingga kini mendunia) dan bisa dipahami secara seimbang. Dalam konteks filsafat, pikiran- pikiran para filsuf Yunani Kuno telah ter- bukti menjadi peletak dasar bagi adanya pengetahuan-pengetahun ilmiah (sainti- fik) kemudian hari. Bangsa Yunani Kuno sadar mereka telah menciptakan cerita- cerita khayal dalam mitologinya, namun dengan sadar pula mereka menerapkan hal itu menjadi ilmu-ilmu pengetahuan yang realistis. Mereka telah terbukti mam- pu mengalihkan pengetahuan mitologis- nya (mitos) menjadi pengetahuan-pengeta- huan logik (logos). Kata ‘Barat’ menjadi kata yang masih banyak diperdebatkan bilamana terkait dengan musik. Para pelajar musik pemu- la sering memertanyakan kata itu karena bingung dengan komentar teman atau keluarga mereka, mengapa harus belajar musik Barat dan bukannya belajar musik bangsa sendiri? Pertanyaan semacam itu terus ada terkait dengan pendidikan mu- sik, sekalipun demikian tidak terjadi bagi mereka yang belajar sastra Inggris, Peran- cis, dan bahkan bahasa Rusia. Agaknya belajar bahasa asing kini sudah biasa, te- tapi jika menyangkut belajar musik yang instrumen-instrumen musiknya seperti biola, piano, gitar, drum, trumpet, dan flu- te—bisa dianggap asing. Kata ‘Barat’ bagi bangsa kita terkadang dipersempit kono- tasinya dengan “orang bule”, ‘penjajah’, “bukan Timur seperti kita”, “bukan tradi- si kita sendiri” dan lain sebagainya yang semua sebutan itu sedikit negatif atau kurang konstruktif. Sebagian dari masya- rakat kita memang masih mengalami trau- ma berkepanjangan atas penjajahan oleh orang Barat, namun banyak juga yang se- kadar gemar menghafal slogan-slogan anti penjajah yang notabene hanya oleh Belan- da, Inggris, dan Portugis—padahal Jepang juga menjajah kita dengan sangat kejam tetapi kita sudah melupakannya. Definisi atas Sejarah Musik sudah sangat jelas seperti disebutkan di atas, sedangkan ruang lingkupnya juga demi- kian jelas. Ciri khas Sejarah Musik selain benar-benar historis namun juga memili- ki notasi musik yang bisa direkonstruksi dengan cara dimainkan lagi. Materi pem- belajaran Sejarah Musik yang lengkap bisa meliputi aspek bentuk musik, gaya musik, jenis-jenis musik, komposer, musisi, no- tasi, instrumen, budaya, tradisi, seni, dan corak sosialyang melingkupinya. Sejarah Musik sangat terkait dengan sejarah arsi- tektur dan seni rupa di Barat sejak perio- de Kuno hingga Modern. Oleh karena itu Hari Martopo, Sejarah Musik sebagai Sumber Pengetahuan Ilmiah untuk Belajar Teori ... 135 penulis artikel ini ingin menjelaskan kepa- da pembaca, bahwa pembelajaran Sejarah Musik kepada murid tidak bisa lagi hanya sekadar dengan cara memaparkan sebuah buku Sejarah Musik, namun harus disertai dengan upaya-upaya kreatif memberikan informasi-informasi lain untuk murid-mu- rid yang memang nyaris tidak pernah tahu sebelumnya. Eksplorasi Pembelajaran Sejarah Musik Rencana pembelajaran Sejarah Mu- sik bisa disusun secara kreatif dengan ber- bagai cara menambahkan dan melengkapi informasi antara lain: Periodesasi Periodesasi dan fokus pada seti- ap periode perlu ditentukan. Jika perio- de Yunani Kuno dianggap penting, maka paparan tentang era filsuf Plato sekitar 500 tahun sebelum Masehi menjadi hal penting untuk disampai secara ringkah kepada para murid yang pada umumnya belum belajar filsafat, pemikiran para fil- suf dan apa relevansinya dengan musik yang akan dipelajarinya. Sebelum mema- parkan secara historis, aspek arkeologis bisa dibuktikan bahwa musik ada seiring dengan keberadaan manusia itu sendiri. Rossi dan Rafferty (1963: 3) menyatakan musik paling awal itu tidak akan mudah diketahui. Gambar-gambar hasil guratan orang-orang primitif mengindikasikan apa yang sekarang kita pahami sebagai instrumen-instrumen musik, tetapi seper- ti apa bunyi dan melodinya tetap tidak diketahui—pengetahuan kita hanya bisa menduga dan mengkategorikan sebagai instrumen musik: perkusi, tiup kayu, pe- tik, dan lain sebagainya. Hampir dapat dipastikan bahwa ritme adalah unsur mu- sik paling awal digunakan dalam musik. Di gua-gua ada bekas telapak kaki-kaki yang memvisualkan cara orang primitif berjalan atau berlari yang bisa diterjemah- kan sebagai pola-pola irama sesuai pikiran mereka waktu itu. Gendang (drums) ada- lah instrumen perkusi yang awal sekali digunakan untuk keperluan komunikasi menggunakan pola-pola ritme antar me- reka yang tinggal bermil-mil jauhnya dan dalam upacara-upacara ritual. Fakta lain, orang-orang Indian di Amerika Utara pada waktu itu menggunakan asap yang dikepulkan dengan berbagai pola ritmik panjang-pendek berulang-ulang sebagai sinyal komunikasi. Melodi adalah unsur musik yang juga pertama digunakan oleh orang-orang primitif dalam berkata-kata dengan mengolah tinggi-rendah suaranya dalam berbagai pola. Manusia diciptakan berbeda-beda dan hal itu menciptakan warna suara yang berbagai macam pula; mereka menggunakan instrumen musik berbahan alam seperti tanduk binatang, cangkang kerang, atau seruling bambu, bahkan dengan menggetarkan sekaligus dawai-dawai dari kulit binatang—mereka telah menemukan warna suara (timbre). Dengan cara mengulang-ulang pengga- lan-penggalan bunyi atau suara, mereka menemukan bentuk (form). Berabad-abad kemudian, orang mencoba bernyanyi da- lam berbagai macam melodi sekaligus dan oleh karena itu tercipta atau ditemukan apa yang kini kita ketahui sebagai praktik musikal kontrapung (counterpoint) dan ke- mudian menjadi harmoni (harmony)—tex- ture. Konsep Musik Kata ‘musik’ yang berasal dari mi- tologi Yunani perlu dijelaskan sebagai kata bentukan dari kata bahasa Inggris: music = muse + ic, sesuatu yang bersifat muse atau seni para muse (the art of the Muses). Konon Muses adalah sebutan jamak dari para muse ialah para dewi nyanyian, mu- sik, tarian, dan ilmu pengetahuan—yang berjumlah sembilan, anak-anak dewa Zeus (god) dan dewi Mnemosyne (memo- ri). Muse (bhs. Yunani:Mousa atau Moi- sa; bhs. Latin:Musa—dalam kepercayaan mitologi Yunani-Romawi), sekelompok bersaudara dewi-dewi yang kurang jelas keterangannya tetapi benar-benar kuno, mereka tinggal di Bukit Helicon, Boeotia, Yunani. Konon mereka datang dari Pieria di Macedonia, tetapi sesungguhnya Pieria ada di Yunani. Sembilan dewi itu: (1) Clio (sejarah), (2) Euterpe (puisi lirik), (3) Tha- HARMONIA, Volume 13, No. 2 / Desember 2013136 kedudukan seni, musik dan ilmu secara historis. Tabel 1. Kronologi Bidang-bidang Pengeta- huan (disadur dari Timelines” Encyclopedia Britannica 2006) Subjek Pengetahuan Waktu Mulai Religi Awal waktu Teknologi 2600000 SM SENI Sekitar 30000 SM Ekologi Sekitar 20000 SM Kehidupan sehari-hari Sekitar 12000 SM Obat-obatan Sekitar 10000 SM Arsitektur Sekitar 7000 SM MUSIK Sekitar 6000 SM Olahraga Sekitar 5200 SM Perihal Wanita Sekitar 3500 SM Sastra Sekitar 3000 SM Eksplorasi Sekitar 2900 SM Perihal Anak Sekitar 2600 SM ILMU Sekitar 600 SM Konsep Barat Kata ‘Barat’ bisa dijadikan topik kecil untuk perenungan bagi para murid yang bisa diambil dari dari buku-buku yang re- levan. Contohnya adalah artikel berjudul “Kebudayaan Eropa Berdasar Tafsiran Jan Romein” dalam buku Brouwer: Studi Budaya Dasar (1984: 91-213) yang cukup ringkas dan jelas menggambarkan bah- wa Barat itu memang berbeda dengan Timur—oleh karena sejarahnya, bukan karena faktor-faktor lain—sekaligus tidak dalam konteks menghadap-hadapkan Ba- rat dengan Timur. Penuturan Brouwer atas teori Jan Romein tentang Kebudayaan Eropa (Barat) sungguh konstruktif dan ti- dak memihak. Jika atmosfer kurang ber- sahabat dengan kata Barat itu hingga kini masih ada, merupakan representasi dari pikiran-pikiran yang sukar maju dan tidak adil. To Thi Anh, seorang wanita Vietnam yang memiliki masa kelam dalam perang dengan Amerika, pada tahun 1974 menu- lis sebuah buku yang memuat pandangan- nya tentang hubungan Timur-Barat dari aspek budaya seperti berikut: Sepanjang sejarah, pertemuan antara Timur dan Barat lebih berbentuk per- lia (komedi), (4) Melpomene (tragedi), (5) Terspsichore (tarian), (6) Erato (puisi cin- ta), (7) Polyhymnia (himne, kemudian juga pantomim), (8) Urania (astronomi), dan (9) Caliope (puisi epik). Penyair wanita Sappho sering disebut sebagai muse ke-10. Pengetahuan tentang patung-patung me- reka hanya sedikit, tetapi cerita-cerita yang ada menunjukkan bahwa mereka terkait dengan festival yang diadakan setiap em- pat tahun sekali di Thespiae dekat Helicon dan sebuah kontes (Museia)—diduga seka- li sebagai awal dari praktik menyanyi dan bermain musik. Mereka mungkin sekali aslinya adalah dewi-dewi yang dijadikan sebagai patron dari puisi-puisi pada awal- nya, kemudian meluas termasuk kepada semua bentuk seni bebas dan sains—di sini mereka dihubungkan dengan lemba- ga-lembaga semacam museum (Mouseion, tempat tinggal Muses) di Alexandria, Me- sir (Croon, 1965: 138-139). Konsep dari seorang sufi besar In- dia bernama Hazrat Inayat Khan, bisa di- katakan mewakili dunia Timur dalam pe- mikirannya tentang musik yang berbeda dengan Barat. Ia berpikir musik itu bersifat surgawi yang bisa digunakan untuk meli- hat Tuhan bebas dari segala bentuk dan pemikiran. Bagian dari tradisi kerakyatan India meyakini bahwa kata ‘musik’ berasal ketika nabi Musa menerima perintah Tu- han di Gunung Sinai dengan kata-kata” Musa ke!—Musa mendengar, atau Musa merenungkan—dan wahyu yang diturun- kan kepadanya adalah nada dan irama. Musik diyakini dari kata musake. Menurut- nya kisah ini tidak boleh dipahami sebagai penjelasan etimologis (Khan, 2002: 3-7). Jika pertanyaan ‘kapan’ musik mulai ada, jawabnya sudah bisa didapat- kan yakni sekitar tahun 6000 SM dengan adanya gendang dan bedug tersebut. Dari 14 subjek yang kelak menjadi pengetahuan dan ilmu, Musik menempati urutan ke- 8, setelah kesadaran tentang Religi yakni sejak dunia mulai diciptakan pada urutan ke-1 dan Teknologi sebagai urutan ke-2 pada sekitar tahun 2600000 SM, dan sete- rusnya. Berikut adalah kronologi bidang- bidang pengetahuan tenatng bagaimana Hari Martopo, Sejarah Musik sebagai Sumber Pengetahuan Ilmiah untuk Belajar Teori ... 137 saingan, konflik, dan perang daripada saling mengerti, bersahabat, dan ker- jasama. Bagi kebanyakan orang Timur, “Barat” selalu dihubungkan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperial- isme. Bagi orang Barat, “Timur” selalu dikaitkan dengan kelebihan penduduk, kemiskinan, dan keterikatan pada masa lampau. Pada kedua belah pihak ada prasangka, ketidaktahuan, dan salah in- formasi (To Thi Anh, 1974: 1). Konsep Klasik Sejarah Musik selalu meliputi suatu ruang lingkup musik klasik. Kata ‘klasik’ berasal dari kata ‘kelas’ + ‘ik’ (akhiran), yang berarti ‘berkelas’. Musik klasik (kata ‘klasik’ dengan huruf ‘k’ kecil) meliputi semua musik yang sifatnya abadi, serius, seni, dan bukan untuk keseangan semata dan seadanya. Musik yang diciptakan un- tuk tujuan keindahan, bukan semata-mata untuk menghibur seperti musik hiburan. Oleh karena itu objek Sejarah Musik me- liputi semua karya musik dari zaman ke zaman yang bercirikan sifat-sifat tersebut dan abadi, sejak sebelum Kristus lahir (Se- belum Masehi) hingga era Modern Abad ke-20 dan seterusnya. Penggunaan kata ‘klasik’ untuk musik itu berbeda makna dengan penyebutan suatu periode sejarah musik Klasik Wina (Vienna Classic Style) yakni musik-musik Hydn, Mozart, Beet- hoven pada pertengahan Abad ke-18 di Austria, khususnya kota Wina. Sifat Ilmiah Musik Sifat ilmiah pada musik dapat dica- ri indikatornya justeru pada aspek seja- rahnya. Sejarah Musik hingga kini telah disusun secara sistemik oleh para sejara- wan musik yang didukung terutama oleh para arkeolog dan musikolog. Menurut Peter R. Senn, ilmu adalah suatu hasil upa- ya manusia untuk memperadab dirinya, melalui berbagai macam cara dan upaya mendapatkan kebenaran (Suriasumantri, 2009: 110). Sesuai dengan teori itu, Sejarah Musik telah menemukan jalannya sendi- ri secara logis, objektif, analitik, kronolo- gis, dan sistemik—menjadi pengetahuan ilmiah, pengetahuan yang memenuhi aspek-aspek keilmuan. Selanjutnya Senn mengajukan teori Sistem Ilmu yang men- syaratkan beberapa komponen pemben- tuk ilmu: (1) perumusan masalah; (2) pen- gamatan dan deskripsi; (3) penjelasan; dan (4) ramalan dan kontrol (Suriasumantri, 2009: 111). Untuk itu Sejarah Musik telah memenuhi sekurang-kurangnya tiga kom- ponen yang dipersyaratkan olen Senn. Se- jak periode Yunani Kuno hingga Modern, Sejarah Musik telah menyajikan rumusan- rumusan masalahnya setiap periodenya dengan jelas, memenuhi aspek penting dan kegunaan dari ciptaan-ciptaan musik itu. Penyusunan Sejarah Musik juga telah dilakukan dengan pengamatan dan des- kripsi atas semua nama dan jenis musik se- tiap periodenya. Sejarah Musik juga telah mampu secara komprehensif menjelaskan musik sebagai teks dan konteks-konteks- nya dengan sejarah umum, kebudayaan, seni lain terutama seni lukis, patung, dan arsitektur pada setiap periodenya. Hanya komponen keempat Senn yang tidak mungkin dipenuhi oleh Sejarah Musik ka- rena sifatnya yang historis berupa catatan masa lampau tentang musik. Sejarah Mu- sik tidak memiliki kewajiban untuk mela- kukan peramalan dan apalagi mengontrol atas karya cipta musik masa datang dan bagaimana gaya musik yang akan muncul. Perkembangan bentuk musik (form)dan tekstur mulai dari monofon, polifon, hing- ga homofon; sejak awal menggunakan ba- hasa Latin hingga bahasa-bahasa bangsa lain; perkembangan dari teks lagu religius ke sekular; gaya ekspresi mulai dari yang konservatif hingga dramatik; aspek kegu- naan musik untuk pujian hingga hiburan; dan praktik pertunjukan yang klasik ter- tata rapi di gedung konser hingga yang tidak resmi dan sederhana di tengah ma- syarakat. Peningkatan Teknologi Pembelajaran Peningkatan teknologi pembelajaran Sejarah Musik bisa dilakukan dengan me- manfaatkan program power-point dan di- tayangkan di layar; juga memutarkan film- film musik tentang komposer-komposer tokoh setiap periode setidaknya sejak pe- HARMONIA, Volume 13, No. 2 / Desember 2013138 riode Barok: Antonio Vivaldi (Italia) dan Johann Sebastian Bach (Jerman); periode Klasik: Franz Joseph Haydn (Austria dan Inggris) dan Wolgang Amadeus Mozart (Austria); periode Romantik Awal: Lud- wig van Beethoven (Austria dan Jerman) dan Franz Peter Schubert (Austria); perio- de Romantik Tengah: Felix Mendelssohn (Jerman) dan Frederich Chopin (Polan- dia); periode Romantik Tinggi: Johannes Brahms (Jerman) dan Peter Ilich Tchai- kovsky (Rusia); dan periode Romantik Nasionalis: Antonin Dvorak (Prancis) dan Edward Grieg (Norwegia). Ada beberapa film antara lain berjudul Amadeus yang mengisahkan tentang kehidupan Mozart di tengah kalangan ningrat Austria; film Beethoven; film Impromptu tentang Chopin berkarya dan hubungan asmaranya di Hungaria; film the Sound of Music sebagai film yang sangat bagus untuk menjelaskan bahwa kekuatan musik sangat besar bagi keluarga dan musik bisa digunakan seba- gai alat tawar politik antara Austria dengan Jerman dalam konteks perang penjajahan. Film berjudul Concierto de Aranjuez yang mengisahkan komposer Spanyol bernama Joaquin Rodrigo yang buta tetapi sangat bersemangat dalam mencipta musik-mu- siknya. Sebagai pelengkap untuk menum- buhkan atmosfer murid mempelajari mu- sik, ada film berjudul Antonio Stradivari pembuat biola terkenal di Italia. Juga ada film yang perlu sekali ditonton para murid agar mereka lebih bersemangat dalam be- lajar (praktikal) musik, film berjudul From Mao to Mozart: Isaac Stern in China yang mengisahkan peran Isaac Stern, violis klas dunia dari Amerika, yang sengaja datang ke China untuk memberikan master-klas kepada anak-anak dan pemuda-pemudi belajar biola dan musik secara benar dan penuh motivasi. Mitologi Musik Mitologi Yunani Kuno merupakan materi pelengkap yang menarik bagi para murid Sejarah Musik. Setidaknya ada be- berapa cerita mitos seperti dewa Apollo dan dewa Dionysus yang perlu dipapar- kan terkait dengan klasikisme dan roman- tikisme. Penggambaran sosok Apollo yang baik, halus, dan tenang, serta cakap, yang melambangkan harmoni dan kepandai- an—semua itu menjadi ciri-ciri khas dari seni klasik hingga Abad ke-18 di Eropa. Sebaliknya dewa Dionysus, terkadang disebut Bacchus, sosoknya digambarkan berlawanan dengan Apollo. Ia diidentikan dengan dewa tanaman anggur yang tam- pil dengan pakaian yang kurang rapi dan tingkah laku sesuka hati layaknya seorang pemabuk berat. Sifatnya yang mengagung- kan kebebasan berekspresi telah menjadi patron bagi para seniman dan musisi dari sejak Yunani Kuno hingga para Romanti- kus Abad ke-19. SIMPULAN Pembelajaran Sejarah Musik bisa lebih menarik dan bermanfaat bagi para murid untuk jika pengajar berupaya keras mengeksplorasi dengan menambahkan materi-materi informasi dari bidang-bi- dang lain. Untuk belajar teori, komposisi, maupun praktik musik, semuanya me- merlukan pengetahuan dasar perkem- bangan musik yang idealnya dipaparkan bukan secara verbal saja tetapi juga secara audio dan visual. Hambatan bahwa murid kurang memiliki pengetahuan lain di luar bidang musik bisa diatasi dengan menyi- sipkan informasi-informasi seperti kebu- dayaan, sejarah umum, mitologi, dan khu- susnya pengetahuan tentang ‘Barat’ agar mereka semakin tahu pentingnya berwa- wasan luas. DAFTAR PUSTAKA Anh, T. T. 1984. Nilai Budaya Timur dan Barat: konflik atau harmoni?, Terjema- han John Yap Pareira. Jakarta: Pener- bit PT Gramedia. Brouwer, M. A. W. 1984. Studi Budaya Dasar, Bandung: Penerbit Alumni. Croon, J. H. 1965. The Encyclopedia of The Classical World, Englewood Cliffs. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Ferris, J. 2008. Music: The Art of Listening, New York: McGraw-Hill Compa- Hari Martopo, Sejarah Musik sebagai Sumber Pengetahuan Ilmiah untuk Belajar Teori ... 139 nies, Inc. Khan, H. I. 2002. Dimensi Mistik Musik dan Bunyi. Terjemahan Subagijono dan Fungky Kusnaedy Timur dari The Mysticism of Sound and Music. Yog- yakarta: Penerbit Pustaka Sufi. Machlis, J. 1955. The Enjoyment of Music: An Introduction to Perceptive Listening, New York: W.W. Norton & Com- pany, Inc. McNeill, R. J. 1998. Sejarah Musik: Musik 1760 Sampai Dengan Akhir Abad Ke- 20, Jilid 2. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia dengan Yayasan Musik Gereja Di Indonesia. ---------. 1998. Sejarah Musik: Musik Awal Sejak Masa Yunani Kuno Sampai Akhir Masa Barok Tahun 0-1760, Jilid 1. Ja- karta: PT BPK Gunung Mulia. Nicolle, D. 2000. History of Medieval Life: A Guide to Life from 1000 to 1500 AD, London: Cancellor Press. Rossi & Rafferty. 1963. Music Through The Centuries, Boston: Bruce Humphries Publishers. Scholes, P. A. 1978. The Concise Oxford Dic- tionary of Music, Second Edition, ed- ited by John Owen Ward, London: Oxford University Press. Sukartini, S. - Djojohadikusumo. 1984. Mi- tologi Yunani. Jakarta: Penerbit Djam- batan. Suriasumantri, J. S. 2009. Ilmu dalam Perspe- ktif: Sebuah Kumpulan Karangan Ten- tang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Wright, C. 2011. Listening to Western Music, Sixth Edition. Boston: Schirmer Cen- gage Learning. Diskografi Visual: Beethoven & Brahms. Piano Concerto No. 5 op. 73 “The Emperor” and Symphony No. 3 op. 90, Orchestra della Svizzera Italiana, Conductor by Serge Baudo, Silverline Classics. Beethoven, Ludwig van. Fidelio, Wiener Staatsoper by Leonard Berstein, Deutsche Grammophon. Bocelli, Andrea. Concerto one night in Cen- tral Park, New York, Universal, TVB. Mauriat, Paul. Classical Elegance, Bossman. Mozart, W.A. Die Zauberflöte, by Wolf- gang Sawallisch, directed by August Everding, Deutsche Grammophon. Mozart, W.A. Don Giovanni, The Metropol- itan Opera by James Levine, produc- tion by Franco Zeffirelli, Deutsche Grammophon. Mozart, W.A. Le Nozze Di Figaro, Glydebourne Festival Opera, NVC Arts. Rieu, André, Under the Stars, Andre Rieu and his Johann Strauss Orchestra & Choir, Live in Maastricht V, Univer- sal. Rodrigo, Joaquin. Concierto De Aranjuez, Pepe Romero, Academy of St. Martin in the Fields, Sir Neville Marriner, Phillips. Rossini, Gioacchino. Il Barbiere di Siviglia, Teatro Real Madrid, Decca. Stern, Isaac. From Mao to Mozart: Isaac Stern in China, Musical Encounters. Stradivari, Antonio. A Gala Celebation, Master. Strauss, Johann. Famous Works, Vienna Symphonic Orchestra, Conductor by Erich Leinsdorf, Silverline Classics. The Complete Lives and Music of The Great Composers: Vivaldi, Bach, Haydn, Mozart, Beetoven, Schubert, Men- delssohn, Chopin, Brahms, Tchai- kovsky, Dvorak, Grieg. Verdi. Aida, Teatro alla Scala, Decca. Wagner, Richard. Tristan und Isolde, Chor und Orchester der Deutschen Oper Berlin, by Jiri Kout, TDK, EuroArts.