Microsoft Word - Harmonia Vol X No 1 2010.docx METAFORA DALAM CAKEPAN TEMBANG -TEMBANG JAWA S. Hesti Heriwati Email :hesti_herawati@yahoo.com Abstract The problem of metaphor is the reality of creative power of language and in the metaphor there is something spoken and compared. There is a distance between tenor and vehicle which is very interesting. The more distant the tenor and vehicle, the more expressive the meaning of metaphor is. There are four kinds of metaphors; they are anthropomorphic, animal, abstract to concrete and the opposite, and sinesthetic. These kinds of metaphor are for knowing how the perception about static space predicted as human being, animal or other creatures and there is the change of concept causing the resemblance of the perceptual and physical meanings. Metaphor is still interesting for the linguists because it is viewed as a process of transference between two conditions or experiences based on the association of each others. Several kinds of the metaphor are found in lyric of Java’s tembangs. They are tembang gedhe, tengahan, macapat, maupun tembang dolanan Kata kunci : ekspresif, cakepan, tembang Jawa PENDAHULUAN Bahasa dapat membantu manusia dalam berpikir secara teratur dan mengomunikasikannya kepada orang lain. Melalui bahasa, orang dapat mengekspresikan sikap dan perasaan. Seseorang yang berbakat dalam hal sastra dapat mengekspresikan perasaannya melaui bait-bait puisi, cerpen, novel, atau karya sastra lainya. Apa yang dilakukan pada dasarnya menggunakan media bahasa. Dengan bahasa manusia hidup dalam dunia pengalaman nyata dan dunia simbolik. Manusia mengatur pengalaman nyata dengan berorientasi kepada manusia simbolik. Jacobson (dalam Tarigan 1987:11) membeberkan bahasa sebagai fungsi emotif yaitu memusatkan perhatian pada keadaan seorang pembicara; dan serta fungsi puitik yaitu memusatkan perhatian pada bagaimana cara suatu pesan disandikan. Sebagai perwujudan komunikasi di dalam pemakaian bahasa akan dijumpai cara-cara tertentu yang dipakai oleh pembicara atau penulis untuk melahirkan buah pikirannya. Hal ini dapat memberikan suatu nilai dalam kehidupan sehingga membawa dampak adanya rasa batin yang puas dan senang. Menurut Russel (dalam Suriasumantri, 1999:174) “dunia tanpa kesukaan dan kemesraan adalah dunia tanpa nilai”. Cara mengungkapkan bahasa ada beberapa macam salah satunya melalui gaya bahasa. Gaya bahasa yaitu cara mengungkapkan pikiran melaui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa (Keraf, 1995:113). Salah satu gaya bahasa yang membahas ketidaklangsungan makna adalah metafora. Metafora bukan hanya dapat menambah kekuatan pada suatu ungkapan kebahasaan, melainkan juga sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan yang dapat membantu seseorang dalam melukiskan realitas yang sesungguhnya dengan gagasan-gagasan abstrak. Dalam karya sastra Jawa seperti: Mahabharata, Ramayana, Wedhatama, Tripama, Centhini, Babad Tanah Jawi banyak dijumpai gaya bahasa metafora. Mantra merupakan karya sastra bahasa Jawa berbentuk puisi yang tercermin hakikat sesungguhnya dari puisi, yakni terdapatnya pengkonsentrasian kekuatan bahasa yang dimaksudkan oleh penciptanya untuk menimbulkan daya magis atau kekuatan gaib. Selain mantra terdapat bentuk-bentuk karya sastera lainnya yakni: pantun, syair, parikan, wangsalan, puisi Jawa/geguritan, dan tembang Jawa. Karya puisi khususnya tembang, dapat menggunakan metafora untuk menyatakan keekspresifan dan keefektifan dalam karya puisi atau tembang yang didasarkan atas keserupaan emosi dan perseptual penyairnya terhadap dunia sekitarnya. Subroto (1989) berpendapat bahwa wajar saja jika puisi atau tembang kaya akan ungkapan-ungkapan metaforis karena beberapa ciri dunia nyata telah dialihkan ke dunia imajinasi di dalam karya puisi termasuk tembang. Tembang memiliki kharisma tersendiri baik sebagai media pendidikan maupun hiburan. Tembang kaitannya dengan seni pertunjukan tidak saja dimiliki oleh masyarakat Jawa akan tetapi masyarakat Bali dan Sunda. Tembang-tembang Jawa meliputi sekar ageng (tembang gedhe), sekar tengahan (tembang tengahan), sekar macapat (tembang macapat) dan tembang dolanan menarik untuk dikaji karena di dalamnya terkandung ajaran atau nilai yang menurut masyarakat pendukungnya dapat dijadikan acuan dalam menjalankan kehidupan. Pemakaian bahasa dalam cakepan tembang banyak menggunakan keindahan unsur bunyi seperti aliterasi dan asonansi sesuai dengan rumus- rumus tembang. Kehadiran tembang melalui cakepan (syair) terdapat pemakaian bahasa yang tidak mudah untuk dimengerti karena di dalamya banyak mengandung samudana. Sehubungan dengan masalah tersebut di atas maka tulisan ini akan mengetengahkan jenis-jenis metafora dalam beberapa tembang Jawa. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis metafora yang terdapat di dalamnya. Tulisan ini bersifat kualitatif. Data diperoleh secara simak dan catat. Sedangkan analisis data terhadap beberapa tembang Jawa menggunakan teknik padan referensial. METAFORA DAN TEMBANG Metafora sering digunakan untuk menyatakan keekspresif dan keefektifan pemakaian bahasa. Dalam karya puisi atau tembang metafora didasarkan atas keserupaan emosi dan perseptual penyairnya terhadap dunia sekitarnya. Subroto (1991) dalam Metafora dan Kemetaforaan Terhadap Analisis pada Beberapa Puisi Indonesia, antara lain menjelaskan bahwa tipe-tipe metafora dapat dilihat berdasarkan pada hubungan tenor dan wahana serta membagi tingkat keekspresifan ungkapan metaforis dalam dua hal. Ullman (1972) dalam Semantics an Introduction to the Science of Meaning, mengetengahkan istilah tenor dan vehicle sebagai ciri-ciri umum untuk membentuk dasar metafora. Susunan dasar metafora relatif sederhana. Terdapat dua istilah yakni yang dibandingkan dan hal yang membandingkan, tenor dan wahana (vehicle). Ullmann (1972:218) menyebut subjek-subjek metafora dengan barang yang sedang dibicarakan dan diperbandingkan. Ullman selanjutnya menguraikan tentang kedua hal dengan istilah tenor dan vehicle. Terdapat beberapa jenis kemetaforaan antara lain: Anthropomorphic metaphors (metafora antropomorfis), metafora kehewanan (animal metaphors), metafora yang timbul karena perpindahan pengalaman dari yang konkret ke abstrak atau sebaliknya (from concrete to abstract); dan synaestetic metaphors (metafora sinestetik). Secara lebih jelas jenis-jenis kemetaforaan dari Ullmann diuraikan sebagai berikut. 1) Anthropomorphic dengan the greater part an expressions refering to inanimate objects are taken by transfer by human body and its, from human sense and a human passions; 2) Animal metaphors adalah another perennial source of imagery is the animal kingdom, sumber terbesar lain dari perbandingan ini adalah dunia hewan; 3) From concrete to abstract yaitu timbul karena perpindahan pengalaman dari konkret ke abstrak atau sebaliknya ditegaskan sebagai berikut one of the basic tendencies in metaphor is to translate absract experiences into concrete terms. Salah satu dasar kecenderungan dalam metafora ini adalah dengan menerjemahkan pengalaman abstrak ke dalam pengertian yang konkret. 4) Synaethetic metaphors, dasar penciptaannya adalah pengalihan tanggapan, a very common type of metaphor is based on transpositions from one sense to another from sound to sight; from touch to sound etc, tipe metafora yang sangat umum didasarkan pada pengalaman pengertian satu ke pengertian yang lain; dari bunyi ke pandangan atau penglihatan dari rabaan atau sentuhan ke pendengaran dan sebagainya. Tembang menurut Martopangrawit (1967) dalam buku Tetembangan adalah vokal yang berhubungan dengan karawitan (musik Jawa) seperti: sindhenan, bawa, gerong, sulukan, sekar ageng, sekar tengahan, dan sekar macapat. Pengertian tembang dapat diartikan vokal pria atau wanita yang menyertai gendhing atau solo (menyanyi sendiri tanpa iringan karawitan) dalam suatu sajian karawitan. Adapun beberapa karya sastera yang termasuk tembang antara lain: sekar ageng, sekar tengahan, sekar macapat dan tembang dolanan. JENIS-JENIS METAFORA DALAM TEMBANG JAWA Metafora merupakan pemakaian bahasa yang efektif dan berdaya ekspresif. Hal demikian banyak dijumpai pada pemakaian bahasa kreatif terutama tembang atau puisi. Keekspresifan metafora didasarkan atas keserupaan emosi atau perseptual penyair terhadap dunia sekitarnya. Oleh sebab itu suatu tembang wajar bila di dalamnya kaya akan ungkapan-ungkapan metaforis. Berikut ini jenis-jenis metafora dalam beberapa tembang Jawa yang dimaksud. Metafora Anthropomorphic Metafora anthropomorphic atau antropomorfis lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang banyak berhubungan dengan masalah kehidupan manusia. Hal-hal yang berkaitan dengan makhluk hidup yang meliputi tingkah laku, sifat, watak/karakteristik manusia. Bagian yang lebih besar dari ekspresinya menjunjuk pada objek-objek benda mati yang diambil dengan jalan memindahkan dari tubuh manusia dan bagian-bagiannya serta dari perasaan dan nafsunya. Berikut ini metafora antropomorfis yang terdapat dalam Sekar Ageng Candra Asmara. Dhuh nyawa dene tan asung Pisungsung sangsangan sari Sarireng sru marlupa Lir pepes bayu ngong tapis Terjemahan: Aduh sukma yang tidak memberi Pemberian kalung bunga Badanku lelah sekali Bagaikan luluh semua tulangnya Kata nyawa pada contoh tembang di atas dimiliki oleh manusia dan makhluk hidup lain yang dianggap bisa berbuat sesuatu, seperti: memberi ketenangan, meminta perhatian, memilih dan memutuskan. Perbuatan demikian dapat dilakukan oleh manusia yang berakal sehat. Ungkapan nyawa tan asung telah terjadi ungkapan metaforis yang tergolong antropomorfis. Kata nyawa dianggap bisa berbuat sesuatu dan dipadankan sebagai manusia. Dengan demikian cakepan tersebut dapat disebut sebagai metafora dengan tujuan untuk memberikan daya kuat terhadap objek yang dihadapi. Perilaku nyawa dipersepsikan sebagai manusia layaknya yang dianggap dapat diperlihatkan akan perilakunya. Berikut ini metafora antropomorfis yang terdapat dalam cakepan Sekar Macapat Pocung. Nenging swara sawer musna tan kadulu Gara-gara prapta Jawah lesus kilat thathit Aliweran baledheg dhar-dhor tan pegat (Centhini I:75). Terjemahan: Heningnya suara ular musnah tidak terlihat Gara-gara angin Hujan angin disertai halilintar Bergemuruh suara halilintar tiada henti Ungkapan pada contoh tembang di atas yang bertindak sebagai tenor atau sesuatu yang dibandingkan adalah baledheg (halilintar) yang dipersepsikan sebagai manusia yang dapat bertindak, misalnya: berlari, berdiam, berkeliaran. Adapun wahana atau sesuatu yang membandingkan adalah aliweran (berkeliaran) artinya baledheg yang aliweran. Halilintar yang berkepanjangan dan menggema juga merupakan suatu pertanda dalam suasana hujan, gelap, mencekam. Baledheg dhar-dhor tan pegat (kilat yang bergemuruh tiada henti) menggema secara terus–menerus. Makna tan pegat adalah tidak sekedar putus tetapi selalu berkelanjutan. Makna secara metaforis pada baledheg tan pegat merupakan ungkapan makna bunyi kilat yang berkepanjangan. Apabila dihubungkan dengan suasana pada kilat yang bergemuruh tentu saja dalam musim penghujan. Persepsi kata pegat ‘cerai’ hanya bisa dilakukan oleh manusia tetapi dalam larik aliweran baledheg tan pegat telah terjadi persamaan persepsi. Baledheg dianggap dapat melakukan pegat. Makna secara metaforis adalah gambaran di waktu hujan deras dengan disertai kilat yang bergemuruh. Dalam istilah perhitungan astronomi Jawa hal demikian biasanya ditemukan pada mangsa kasanga. Pada musim ini ditandai dengan banyaknya suara halilintar yang berkepanjangan dan bergemuruh. Metafora antropomorfik dalam tembang dolanan dapat ditemukan dalam cakepan Witing Klapa - Tembang Dolanan berikut ini. Witing klapa jawata ing Arcapada Salugune wong wanita Adhuh ndara kula sampun njajah praja Ing Ngayogyakarta Surakarta Terjemahan: Pohon kelapa dewa di dunia Sederhananya seorang wanita Aduh, ndara saya sudah melanglang buawana Di Yogyakarta Surakarta Sebagai tenor dalam tembang di atas adalah wit klapa (pohon kelapa) yang dipersepsikan sebagai makhluk hidup (manusia) yang dapat melakukan segala aktivitas, misalnya: bertahta, sebagai raja, sebagai ratu, sebagai kepala negara, sebagai menteri, dan lain-lain. Adapun wahana atau sesuatu yang membandingkan adalah jawata (dewa) yang berdiam diri bertahta di arcapada (dunia). Ungkapan antropomorfis terletak dalam ungkapan witing klapa jawata ing arcapada; pohon kelapa dipersepsikan sebagai makhluk manusia seperti dewa yang dapat bertahta di dunia. Artinya secara metaforis adalah pohon kelapa yang banyak tumbuh di bumi seakan-akan mendominasi di samping nilai guna yang ada pada pohon tersebut. Metafora Animal (binatang) Sumber terbesar dari perbandingan ini adalah dunia binatang atau hewan. Metafora ini didasarkan atas dunia binatang dengan segala sifatnya. Dalam metafora ini yang terpenting adalah asosiasi dalam membandingkan sifat-sifat binatang dengan sifat manusia yang menyerupai. Sehubungan dengannya yang diperbandingkan tidak saja terbatas pada sifat-sifat yang dimiliki akan tetapi juga unsur-unsur tubuh. Metafora kebinatangan dibentuk berdasarkan pada dunia binatang sehingga banyak melibatkan bagian anggota tubuh, sifat dan tingkah lakunya. Metafora animal berkaitan erat dengan metafora antropomorfis karena mengaktualisasikan sesuatu makhluk bernyawa (dunia fauna) yang sebagaimana layaknya manusia. Berikut ini uraian tentang metafora animal yang terdapat dalam sekar ageng dalam cakepan Sekar Ageng Candra Asmara Urang gung kang pariswaja Mung sathithik cacatipun Wong ayu ngungkurken tresna Terjemahan: Udang besar yang berperisai baja Hanya sedikit celanya Orang cantik tidak menghiraukan cinta Sbagai referen-1 (tenor) pada contoh cakepan tembang urang gung kang pariswaja di atas adalah adalah urang gung. Sedangkan sebagai referen-2 (wahana) adalah pariswaja (perisai baja). Dalam cakepan tembang di atas, sifat pada manusia diasosiasikan dengan dunia kebinatangan yaitu urang gung (udang besar) yang mengenakan perisai baja. Keadaaan demikain dikatakan mengandung metafora animal. Penulis tembang (pujangga) tampaknya ingin mengekspresikan suatu kenyataan yang luar biasa melalui urang gung. Tentu saja urang gung sebagai binatang besar yang memakai perisai baja sebagai layaknya manusia dideskripsikan dengan kepala yang mempunyai fitur sangat keras sekeras baja. Penggambaran metafora animal lewat gambaran udang berkepala keras bagaikan memakai perisai baja. Ungkapan metafora animal dalam cakepan Sekar Macapat Gambuh. Si kidang suka ing panitipan Pan si gajah alena patinireki Si ula ing patinipun Ngandelake upase mandos (Wulangreh :4) Terjemahan: Si kijang senang dalam pengumpanan Dan si gajah tidak menghiraukan kematiannya Si Ular dalam kematiannya Mengandalkan bisanya yang berbahaya/mujarab Ungkapan si kidang suka ing panitipan, si gajah alena patinireki, serta si ula ing patinireki ngendelake upase mandos merupakan metafora animal. Metafora animal ditunjukan pada penyebutan si kidang, si gajah, si ula yang masing-masing mempunyai kehebatan dalam membuat celaka pihak lain. Kijang selalu mencelakakan seseorang atau lawan dengan memberi pancingan atau umpan terhadap barang-barang yang menjadi tujuan. Gajah merupakan binatang besar yang mengandalkan kekuatan badannya yang besar untuk mencelakakan lawan. Sedangkan ular mengandalkan racun atau bisanya untuk mencelakai makhluk hidup lainnya. Ungkapan metafora ini menganggap bahwa binatang dianggap mempunyai kekuatan sebagai layaknya manusia yang bisa berbuat atau bertindak. Ungkapan secara metaforis adalah adanya sifat sombong; adigang yakni menyombongkan kekayaaan/kesaktian, adigung menyombongkan kekuasaan, serta adiguna menyombongkan kepandaian. Berikut ini tipe metafora animal yang ungkapan metaforisnya mirip dengan contoh (3.2.1.) yang terdapat dalam cakepan Sekar Tengahan Jurudemung. Kidang banget nggone umbag Marang kebat lumpatipun Gajah ngendelake iku Si ula sru denya umuk Marang mandining kang wisa Wekasane bareng lampus. (Wulangreh : 40) Terrjemahan: Kijang sangat sombong Dengan segala lompatannya Gajah mengandalkan juga Ular yang sangat sombong Dengan racun yang berbahaya Yang akhirnya semua mati Gajah dalam dunia fauna merupakan hewan yang dikenal besar dan malas. Hal ini sering digunakan dalam cerita atau lagu dolanan anak-anak. Karena tubuhnya besar maka gajah untuk berjalanpun sangat lambat. Sifat atau perangai gajah dipersepsikan oleh pujangga bisa berperilaku seperti manusia. Gajah ngendelake artinya secara metaforis gajah sebagai binatang besar mempunyai watak ngendelake (menyombongkan, mengandalkan) dirinya. Gajah dipersepsi sebagai manusia yang dapat berbuat sesuatu layaknya orang. Makna yang terdapat dalam metafora itu adalah sikap adigang, yakni mengandalkan akan kebesaran tubuhnya. Metafora dari Keadaan Konkret ke Abstrak atau dari Abstrak ke Konkret Metafora ini timbul karena terdapat perpindahan pengalaman dari konkret ke abstrak atau sebaliknya. Salah satu kecenderungan dalam metafora ini adalah adanya penterjemahan pengalaman yang abstrak ke pengertian konkret. Pada dasarnya metafora jenis ini untuk menghidupkan suasana yang tidak atau belum nyata menjadi nyata agar mudah dimengerti. Berikut contoh dan penjelasan tentang metafora ini dalam cakepan Tembang Dolanan Kembang Mlath, seperti dalam penjelasan di atas. Tak kedhep-kedhepe katon rumangsa gumantung ing telenging jantung Tindak tanduke nengsemake mugi langgeng adadi rewange Budidaya amrih mekaring kabudayan angembangrembaka Terjemahan: Saya kedipkan tampak seperti menggantung di tengah jantung Tingkah lakunya mempesona semoga abadi menjadi teman Berkembang demi tumbuhnya kebudayaan yang berkembang subur Kata ngembangngrembaka (berkembang/tumbuh-kembang)’ merupakan kelompok kata yang bukan jenis kata kelompok tanaman. Pembentukan kata itu secara metaforis berdasarkan fitur-fitur pengalaman bahwa tanaman yang tumbuh subur, rindang menjadikan tempat teduh bagi yang berada di bawahnya. Akarnya yang kuat membuatnya tidak mudah tumbang. Sehubungan dengan uraian di atas maka ada persepsi dari keadaan konkret ke abstrak. Dari keadaan konkret terlihat dalam ungkapan angembang- angembraka kemudian dipersepsi menjadi katagori abstrak yakni dalam ungkapan budaya. Kata angembang angrembaka diterapkan untuk kata kebudayaan dengan diartikan bisa tumbuh subur seperti halnya tanaman. Ungkapan metafora pada contoh berikut ini menggambarkan suasana peperangan antara Sri Harjuna Sasra dengan Raden Sumantri yang memiliki kekuatan berimbang. Untuk memperjelas dapat dilihat pada kutipan Sekar Ageng Banjaransari berikut ini. Denira campuh prang Sri Harjunasasra Lawan raden Sumantri Aliru prabawa Tan ana kasoran Terjemahan: Mereka dalam perang Sri Harjanasasra Melawan dengan Raden Sumantri, Bertukar wibawa Tak ada yang kalah Pemakaian kata aliru prabawa (bertukar kewibawaan) merupakan ungkapan yang mengandung metafora dari konkret ke abstrak. Kata aliru (tukar) dianggap kelompok kata benda mati dan dapat dipegang atau dilihat/dirasakan. Prabawa dianggap sebagai kata konkret, dengan demikian persepsi makna aliru diterapkan untuk memaknai prabawa (kewibawaan). Ungkapan metaforis pada kata tersebut adalah saling adanya tukar kekuatan sehingga di antara keduanya tidak ada yang kalah dan menang. Kata aliru prabawa dipersepsi sebagai tukar wibawa. Kata tukar dipersepsikan dalam kata prabawa seperti halnya kata-kata aliru kalpika (tukar cincin). Terdapat kesan bahwa dalam ungkapan aliru prabawa bisa ditukarkan antara barang satu dengan lainnya. Kata prabawa sebagai kata abstrak dipredikasikan sebagai kata konkret seperti kata kalpika. Ungkapan lainnya terdapat dalam sekar tengahan yakni kata ngemban kendhine (membawa tempat air) sebagaimana tertulis dalam contoh di bawah ini. Dalam kata-kata berikut terjadi perpindahan konsep. Kata ngemban (membawa-menimang) biasanya digunakan bayi, tetapi di sini digunakan untuk kata kendhi, dengan demikian telah terjadi perpindahan konsep yang semula dan seharusnya kata ngemban digunakan untuk menggendong bayi namun dalam hal ini diperlakukan untuk kendhi. Kata kendhi merupakan sesuatu hal yang dianggap penting dalam kehidupan sebagai tempat/wadah air. Telah diketahui bahwa air merupakan sumber kehidupan manusia. Contoh sekar sebagaimana dimaksud adalah Sekar Tengahan Balabak. Nggendhong cething manggul sumbul sarwi ngemban kendhine Gya umangkat semparet agegancangan lampahe (Wulangreh : 34) Terjemahan: Menggendong ceting memanggul (sumbul) serta membawa kendi Segera berangkat secepat langkahnya Metafora Sinestetik Dasar penciptaan metafora ini adalah pengalihan tanggapan yang didasarkan pada pengalaman pengertian yang satu ke pengertian yang lain. Di samping itu perpindahan terjadi dari bunyi ke pandangan atau pengelihatan dan rabaan atau sentuhan. Cakepan tembang Sekar Ageng Bangsapatra berikut ini terdapat empat metafora sinestetis. Agar lebih jelas simak contoh berikut. Wong kuning nemu giring dhuh jiwengsun Paringa usada Esemira lir gebyaring thathit Terjemahan: Orang kuning langsat, aduh belahan jiwaku Berikanlah pengobatan Senyummu bagaikan halilintar yang bersinar Ungkapan di atas terjadi pengalihan tanggapan dari referen-1 yang berdasar pada pengertian tanaman atau biji temu giring (nama biji sebangsa kunyit) yang berwarna kuning keemasan terhadap referen-2 yaitu manusia. Tidak semua orang mempunyai jenis warna kulit yang kuning. Sementara ada pula orang yang memiliki kulit warna kuning bersih keemasan bagaikan biji temu giring. Ungkapan metaforis makna yang ditimbulkan adalah sosok seseorang yang berkulit halus, kuning, memancarkan sinar yang menjadikannya dicintai dan dikagumi oleh orang lain. Metafora sinestetik lainnya terdapat pada Sekar Macapat Megatruh sebagai berikut. Jayengsari angandika manis arum Inggih paman tembe manis Wus kerit marang Ki Buyut Lajeng tumameng ing panti Nyai Buyut gupoh-gupoh (Centhini III:43) Terjemahan: Jayengsari berkata manis harum Ya paman di kemudian hari menemui kemudahan Semuanya pergi ke Ki Buyut Lalu tiba di panti Nyai Buyut segera bergegas Kalimat metafora dalam cakepan tembang di atas telah terjadi peralihan konsep rasa manis-bau harum diterapkan pada bicara seseorang. Kata manis dan harum selalu berkaitan dengan cita rasa makanan atau minuman yang bisa ditelan. Sedangkan bau harum banyak berhubungan dengan aroma yang dihirup. Kata manis dan harum lalu diambil alih untuk menyatakan suatu pembicaraan atau perkataan seseorang dalam hal ini Jayengsari. Dalam Jayengsari angandika manis arum terdapat makna metaforis bahwa angandika (perkataan) Jayengsari terasa manis dan harum. Makna yang lainnya secara metaforis adalah pembicaraan yang selalu mempesona, sopan, dan sangat mengesankan bagi setiap yang mendengarkan. Ungkapan metafora sinestetik juga terdapat dalam cakepan Sekar Macapat Mijil sebagai berikut. Ri Jumungah apan den sajeni Kembang miwah konyoh Kinutugan kalawan patanen Pinasangan kajang sirah adi Pasren denarani Tinutup kalambu (Centhini III:71). Terjemahan: Pada hari Jumat diberi sesaji Bunga dengan perelengkapannya Membakar kemenyan dalam kamar Dipasangnya kayu kepala (bantal) yang baik Pasren disebutnya Tertutup tirai Pemakaian kata pinasangan kajang sirah adi sebagai ungkapan yang mengandung metafora dari konkret ke abstrak. Kata pinasangan kajang (dipasangkan kayu) lalu dihubungkan dengan sirah adi (di atas kepala) maknanya menjadi abstrak. Ungkapan metafora ini telah terjadi peralihan dari makna konkret ke abstrak. Dalam pinasangan kajang sirah adi berarti dipasangkan kayu di atas kepala, artinya yaitu diberi pembatas kayu, maksudnya bantal. Benda tersebut diatur sedemikian rupa diletakkan pada semacam ruang khusus untuk tempat sesajian itu berada. Melihat terjemahan keseluruhan dari larik sekar macapat ini mendapatkan gambaran pada setiap hari Jumat ada ruang khusus yang selalu diberi sesaji berupa bunga-bungaan dan membakar kemenyan di dalam ruang yang berisi persediaan padi, yang diberikan di dalam ruang khusus dengan pembatas kayu. Hal ini bisanya disebut dengan pasren (pa + asri + an), tempat mbok dewi sri berada yang biasanya ditutup dengan kain kelambu. Pada contoh lain yakni penggalan cakepan tembang dolanan Ilir-Ilir berikut ini terdapat metafora sinestetis. Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dododira Terjemahan: Kehijau-hijauan saya kira pengantin baru Anak penggembala panjatlah belimbing itu Walau licin panjatlah untuk membasuh kainku Ungkapan metafora sinestetik pada cakepan tembang tersebut yaitu peralihan tanggapan dari referen-1, tak ijo royo-royo (kehijau-hijauan), sebagai kelompok warna yang dapat dilihat, ke referen-2 yakni segala sesuatu yang menimbulkan pandangan pada sepasang pengantin baru. Kata pengantin anyar (pengantin baru) selalu diidentifikasikan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bermekarnya tumbuh-tumbuhan seperti bunga, padi, rumput yang mulai bersemi. Pemakaian daun kelapa yang masih muda (janur) sebagai lambang kedamaian, dipersepsi juga terhadap keberadaan pengantin yang dianggap masih serba baru yang penuh kedamaian. Peralihan yang dimaksud dalam cakepan tembang terletak dalam penyebutan warna hijau yang dianggap sebagai pengantin baru. Di samping itu ada pula yang memaknai sebagai perjuangan dalam menempuh ilmu yakni dalam larik lunyu-lunyu peneken ‘walau licin panjatlah’. SIMPULAN . Metafora anotropomorfik banyak berbicara tentang kehidupan manusia. Sebagian besar menunjuk pada objek benda mati dengan jalan memindahkan dari tubuh manusia dan bagian-bagiannya. Metafora animal yaitu perbandingan atas dunia binatang dengan sifat manusia yang menyerupai. Metafora sinestetik dasar penciptaannya adalah pengalihan tanggapan. Metafora dari keadaan konkret ke abstrak atau sebaliknya yaitu menerjemahkan pengalaman abstrak ke dalam pengertian konkret atau sebaliknya. Bermacam jenis metafora sebagaimana disebut banyak ditemukan dalam cakepan tembang-tembang Jawa baik tembang gedhe, tengahan, macapat maupun tembang dolanan. DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 1988. Semantik: Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru. Budiono, Heru Satoto. 1991. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta : Hanindita. Hadiwidjaja, Tardjan. 1976. Serat Centhini. Yogayakarta: UP Indonesia. Henri Guntur, Tarigan. 1987. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa Jabrohim (ed). 2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Indira Keraf, Gorys. 1995. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah. Lyons, John. 1995. Linguistics Semantics: An Introduction. Oxford: Cambridge University Press. Ortony, Andrew. 1980. Metaphor and Thought. London: Cambridge University Press. Pakubuwono XII, SISKS. 2001. “Implementasi Budaya Jawa dalam Menjaga Keutuhan dan persatuan Bangsa” dalam Seminar Nasional bertemakan Konsep Budaya Jawa Mengembangkan Kecerdasan Emosional dalam Membangun Jiwa Nasional. Surakarta, 21 Agustus 2001. Rahmad Rien T. Segers. 2000. Evaluasi Teks Sastra Yogyakarta: Adi Cita. Paku Buwono IV. Tth. Wulangreh. Sukoharjo: Cendrawasih Soetomo, WE. .2002. Sri Mangkunegara IV Sebagai Penguasa dan Pujangga 1893- 1881. Semarang: Aneka Ilmu. Sugiarto, A. 1995. Kumpulan Gendhing Nartosabdo. Semarang PKJT. Suria sumantri, Jujun. 1999. Filsafat Ilmu. Jakarta: Erlangga. Ullmann, Stephen. 1972. Semantics An Introduction to The Science of Meaning. Oxford: Basil Blackwell. Widdowson, H.G. 1975. Stylistics and the Teaching of Literature. London: Longman.