Harm Vol IX No 2 2009.pdf POPULARITAS SINDHEN M. Jazuli Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang Emai:l muhjaz@yahoo.com Abstract Apparently, the sindhèn life, today, have not been far from celebrities one or other arties with many other styles and beautiful tricked performances. Therefore, it is natural, that every sindhèn always wants to be popular, famous, and amazed by many people with the result that they can do the ways to reach what they want to. But, how to be a sindhèn, what trick to get to become a popular sindhèn, and how to hold their existence so that they constantly get interest of wide society. The questions above will be answered in this article which is a research result of popular sindhèn in Semarang by using quantitative paradigm. First, the ways to be a sindhèn has four factors, namely the way to learn, its surrounding, social associate, and laku brata. Second, the sindhèn popularity is appeared from their high stage-performance (20 to 25 times per month), the stage area reach out of province, quality of artistic trough their special style, having wide influential sponsor, and getting compensation between four to five millions each their stage. Third, the ways of sindhèn to maintain their attractive power for society attention are taken on such as : (1) maintaining pattern and increasing quality and its characteristic, namely trough the colour of their soft voices, making gregel and wiledan so that their voices always impress such as tregel, rongêh, renyah, and berak for the listeners; (2) they must be self confidence in pesindhênan, there is no other job except the sindhèn , such as langgam, campursari, and keroncong dangdut; (3) they must plait together social relation to the people who have wide influence as well as art organisations; (4) they always surrender to the god trough laku brata as their belief. Key word: sindhén, popularitas PENDAHULUAN Fenomena sindhén identik de- ngan jenis suatu kompetensi pada bi- dang tarik suara (penyanyi tembang Jawa) dalam sajian karawitan. Memiliki suara bagus, melankolis, penuh variasi yaitu memiliki céngkok, luk, gregel dan menarik hati (merak ati) yang mampu menghadirkan suasana sedih dan gem- bira, trenyuh dan sereng. Céngkok adalah pola dasar permainan instrumen atau lagu vokal, dan bisa pula diartikan sebagai gaya, satu cengkok sama de- ngan satu gongan dalam karawitan. Luk adalah teknik penyuaraan dari cengkok tertentu dengan cara mengadakan tam- bahan satu atau dua nada di atas atau di bawah nada lintasan cengkok dasar yang merupakan satu kesatuan. Gregel adalah teknik penyuaraan sebagai pe- ngembangan cengkok dasar dengan me- nambah beberapa nada lintasan. Orang yang memiliki suara semacam itu lazim disebut pesindhén, swarawati, warangga- na. Sindhén adalah solois (biasanya) puteri dalam penyajian karawitan Jawa. Pesindhén merupakan istilah yang me- nunjuk kepada personal atau pelaku vokalis utama dalam sajian karawitan, juga biasa disebut waranggana, swara- wati, penyanyi wanita (sekarang pria juga). Sedangkan Sindhénan adalah sa- lah satu bentuk solo vokal dalam kara- witan. Pada masa lampau (tahun 1960- 1980) kita dapat mengenal maestro sindhén, seperti Nyi Bei Mardusari de- ngan cengkok Mangkunegaranan dan Nyi Bei Mintalaras. Sindhén dengan fenomena suaranya yang bagus dan berkarakter memunculkan sebutan yang mengacu pada nama-nama burung, seperti Nyi Prenjak, Nyi Podhang, dan sebagainya. Pada tahun 1980-an sindhén populer di antaranya adalah Nyi Tugino, Nyi Ngatirah dan Nyi Supadmi, setelah itu sindhén yang populer adalah Sunyahni, dan kini muncul sindhén yang tengah menggapai popularitas yakni Tessi, dan Rusiati. Sindhén dalam sejarahnya men- jadi bagian tak terpisahkan dengan per- tunjukan wayang kulit, klenengan kara- witan, maupun taledhek atau ronggeng dalam seni Tayub. Dalam wayang kulit sindhén bukan saja ber-peran sebagai pendukung pertunjukan, tetapi juga berfungsi sebagai daya pikat. Bahkan menjadi bagian dari bentuk kemasan sebuah pertunjukan komersial. Tak pelak bila kesejahteraan hidup pesindhén sering bergantung (nunut kamuktèn) ke- pada Sang dalang. Sungguh pun seka- rang, tidak sedikit pesindhén yang mam- pu mandiri, bahkan popularitasnya tak kalah dengan dalang. Boleh jadi nilai tanggapan dan penghasilannya berban- ding lurus dengan dalang, atau seku- rang-kurangnya di atas rata-rata peng- hasilan peng-rawit terutama pengendang. Kita bisa melihat kemasan per- tunjukan wayang kulit sekarang, di samping dalang, duduk berdekatan pe- sindhén berparas cantik dengan penam- pilan bahenol, mengundang syaraf “te- gang”, sensual, sehingga menjadi daya tarik tersendiri dan membuat penonton betah menonton semalam suntuk. Nyi Rio Larasati seorang hamba (abdi dalem) Sultan yang dulu tersohor sebagai tale- dhek pernah bercerita tentang pengala- mannya. Pada setiap mempertunjukan kebolehannya menyanyi, menembang (nyindhén) dan menari selalu berusaha menarik perhatian salah seorang pe- nontonnya. Dengan sepenuh hati ia berusaha kontak rasa dengan penonton tadi. Setelah ada komunikasi maka se- luruh tontonan menjadi menarik dan ber-gairah, sehingga penonton lainnya juga merasakan daya tarik itu. Apa yang dilakukan Nyi Rio Larasati itu tidaklah dimaksudkan un- tuk bersungguh-sungguh agar seorang penonton tadi tertarik terus atau seba- liknya dirinya sendiri yang tertarik pada penonton tadi sampai sesudah pemen- tasan, tidak sama sekali. Nyi Rio mela- kukan itu semata-mata untuk membuat penonton bergairah (grengseng) dan sa- ma sekali tidak ada niat lain. Meskipun tak jarang terjadi kesalah-pahaman dari para penontonnya sehingga ia dipan- dang bisa dikencani seusai pemen- tasan. Sebagaimana diketahui secara luas, pada umumnya kehidupan wanita talêdhêk identik dengan kehidupan pelacur yang setiap saat bisa dibeli oleh kaum lelaki, meskipun tidak semua demikian, dan fenomena seperti itu juga bisa terjadi pada bidang profesi yang lain. Lalu pertanyaan yang muncul, apakah fenomena seperti itu masih berpengaruh terhadap kehidupan pesin- dhén sekarang? Dengan kata lain, apakah popularitas yang dimiliki oleh seorang pesindhén sekarang ada indi- kasi pada hal-hal yang sesungguhnya tidak berhubungan langsung dengan kompetensi profesi sindhen? Jawabnya tentu saja of the record bagi setiap sindhen, meskipun sebagian orang boleh dan sah menjawab ‘ya’. Kini kehidupan sindhén agaknya tak lebih dari kehidupan selebritas atau artis lain dengan berbagai gaya dan trik- trik penampilannya. Oleh karena itu, wajar bila setiap sindhén selalu ingin populer, tersohor, dikagumi sehingga bersedia menempuh berbagai cara un- tuk mencapai keinginannya itu. Secara rasional untuk menjadi sindhén yang baik harus melengkapi diri dengan ke- mampuan suara/vokal yang dipersya- ratkan, dan menghindari berbagai pan- tangan yang bisa menggangu suaranya. Namun de-mikian, konon ada pula cara yang tidak rasional yang dilakukan oleh sebagian sindhén untuk mencapai keinginannya itu, seperti memakai susuk atau sipat kandel pengasihan, dan sejenisnya. Jika demikian maka tekno- logi tradisional “mistik klenik” seperti itu masih tetap mewarnai fenomena modernitas. Untuk itu perlu diperta- nyakan pula tesis yang mengatakan, bahwa semakin modern suatu bangsa semakin rasional sikap suatu bangsa. Kini zaman telah berubah, iklim kesenian pun juga berubah sehingga orientasi terhadap seni dan pasarnya tentu turut bergeser. Profesional menja- di sikap yang harus ditempuh oleh pela- ku seni demi untuk mempertahankan eksistensinya, apalagi untuk bisa populer dan laku laris (Kundaru 2004). Untuk itulah penelitian ini mengangkat fenomena sindhén khusus-nya mengenai faktor-faktor yang mendasari popula- ritas, dan bagaimana cara sindhén mem- pertahankan suaranya agar tetap mer- du, berkarakter, dan mampu membuat orang tertarik untuk mendengarkan suaranya. Sejauh pengetahuan penulis, ba- ru tiga orang yang menulis tentang sindhén. Darmasti (2001) telah meneliti mengenai otobiografi Nyi Bei Mardusari yang memusatkan perhatian mengenai proses kesenimanan sindhén. Haninda- wan menulis tentang perjalanan Sutar- man sebagai seorang guru sindhén, dan Sri Anita Wijayanti menulis otobiografi sindhenan Nyi Supadmi (2007). Namun apa yang telah ditulis oleh ketiga penu- lis tersebut lebih fokus pada kemampu- an kesenimanan, dan bukan kepopuler- an. Pada hal mengkaji suatu kepopu- leran tidak bisa hanya didasarkan pada kemampuan kesenimanan saja, tetapi ada berbagai faktor lain yang ikut ter- libat di dalamnya. Apalagi untuk kon- disi sekarang yang materialistik dan menuntut pentingnya arti relasi dalam profesi apa pun. Tentu saja suatu peru- bahan orientasi, kepentingan, dan tan- tangan yang dihadapi tentu juga akan berlainan. Salah satu perbedaan yang muncul sekarang adalah kecenderungan sindhén tidak hanya melakukan profesi sindhén semata, melainkan telah meram- bah ke campursari, pop, dang dut, dan profesi lain yang biasanya terkait dengan profesi sindhén. Namun apakah harus dengan cara seperti itu agar bisa populer? Tulisan ini hendak membahas tentang bagaimana caranya untuk bisa menjadi sindhén? Persyaratan apa saja yang diperlukan untuk menjadi sindhén yang populer atau tenar? Bagaimana cara sindhén mempertahankan agar te- tap menarik perhatian masyarakat pen- dengarnya? Profil sindhén yang dibi- carakan dalam tulisan ini adalah Nyi Ngatirah salah seorang sindhén popular di Jawa Tengah, terpopular di Sema- rang. METODE PENELITIAN Penelitian yang bersifat kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai fenomena yang berhubungan dengan popularitas sindhén. Data peneli- tian diambil dari hasil studi pustaka, wawancara dan pengamatan langsung terhadap pementasan dilakukan oleh Nyi Ngatirah sebagai seorang sindhén populer sebagai sasaran penelitian. Data yang terkait dengan cara menjadi sin- dhén meliputi: (a) cara belajar, (b) ling- kungan, dan (c) pergaulan sosial. Data yang berkaitan dengan kepopuleran meliputi (a) frekuensi pementasan, yaitu mempunyai frekuensi pentas lebih dari 15 kali setiap bulan, (b) wilayah pentas, yaitu pementasannya menjangkau wila- yah lintas propinsi tempat tinggalnya, (c) memiliki gaya pribadi (céngkok, luk, gregel) atau kekhasan dalam olah suara, (d) memperoleh imbalan yang besar pa- da setiap kali pentas yakni minimal 3 juta sampai 5 juta rupiah. Mengenai da- ta yang relevan dengan cara sindhén mempertahankan daya tarik agar tetap memperoleh perhatian masyarakat pen- dukungnya, meliputi kualitas kepesin- dhenan dan relasi sosial. Studi pustaka berupa hasil penelitian dan literatur lain yang ber- hubungan dengan persoalan sindhén. Teknik pengamatan langsung dilakukan pada pementasan Ngatirah di daerah wilayah Jawa Tengah, khususnya Sema- rang pada tanggal 01 April 2008 dan 18 Oktober 2008. Pada saat pengamatan difokuskan pada gaya atau cengkok pribadi sebagai model garapan tembang yang dilagukan, ekspresi penampilan, dan hal-hal yang mengundang reaksi pendengar atau penontonnya, seperti permainan wiled, gregel, ambitus suara. Wiled adalah suatu teknik penyuaraan sebagai bentuk pengembangan cengkok tertentu dengan variasi melalui satu atau beberapa nada; gaya perorangan yang satu dengan lain tidak bisa sama. Selain itu, pengamatan dilakukan pada per-gaulan sosial Ngatirah dalam komu-nitas seniman karawitan. Teknik wawancara dilakukan secara langsung dan terbuka guna men- dapatkan data primer. Informannya adalah Ngatirah, Widodo BS, S.Kar., M.Sn, seorang praktisi karawitan dan dosen FBS UNNES, Prof. Dr. Slamet Suparno seorang pakar karawitan dari ISI Surakarta, dan para pemerhati/ penggemar Ngatirah, seperti Suparmi dan Budi Muhanto. Semua kegiatan wawancara dilakukan di luar pemen- tasan pada tanggal 10 Juli 2008 dan 18 Oktober 2008 dan direkam dalam audio record. Hasil rekaman kemudian dipin- dahkan ke dalam tulisan guna memu- dahkan peneliti pada saat melakukan pengelompokan, reduksi, dan analisis data. Analisis meliputi: a) data yang telah terkumpul ditelaah kemudian di- deskripsikan dengan cara menggolong- kan, mengadakan penajaman, menga- rahkan atau mengorganisasikan hasil catatan lapangan yang telah diseleksi, dipilih dan dipilahkan untuk dikelom- pokkan menjadi empat kategori, yaitu: (1) latar belakang kehidupan, (2) pergaulan sosi-al termasuk di dalamnya cara belajar dan potensi spiritual, (3) kesenimanan terutama pola khas yang dimiliki, (4) cara merintis karier popu- laritasnya; b) mereduksi data dengan cara membuat dan menyusun satuan data yang kemudian dikategorisasikan yakni memisahkan data berdasarkan topik dan kemudian dianalisis melalui proses interpretasi; c) mengadakan pe- meriksaan keabsahan data dan selan- jutnya disajikan. Pemeriksaan data dila- kukan dengan mengecek kembali data- data kepada informan dan mengadakan diskusi dengan teman sejawat (pada 10 Juni dan 18 Oktober 2008) yang me- mahami kepesindhénan; d) menyajikan dan menganalisis data secara keseluruh- an, kemudian penarikan kesimpulan (verifikasi) untuk memperoleh wawa- san umum yang bersifat hipotesis. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian hasil penelitian dan pembahasan ini akan dipaparkan ten- tang latar belakang kehidupan Ngati- rah, kesenimanan Ngatirah, dan meniti karir profesional. Latar Belakang Kehidupan Ngatirah Ngatirah lahir pada tanggal 31 Desember 1944 di kampung Karangan, Sabrang, Jurang Jero, Karanganom, kabupaten Klaten. Ayahnya bernama Djojoredjo, seorang pengrawit (penabuh gamelan Jawa). Ibunya bernama Gla- drah seorang wiraswasta yang mem- punyai usaha home industry pencetakan genting (atap rumah) di kampungnya. Gladrah adalah istri kedua Djojoredjo memiliki tiga orang anak, yaitu Sugi- yem, Ngatimin, dan Ngatirah. Perka- winan Djojoredjo dengan istri pertama mbok Nyendir tidak dikaruniai anak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan sekaligus menya- lurkan hobinya, Djojoredjo bekerja seba- gai pengendang ketoprak dan wayang wong Tobong (kemidhên). Kesenian kemidhên dalam hal ini ketoprak dan wayang wong adalah suatu pertun- jukan kesenian yang diselenggarakan di tempat yang tidak permanen, selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain dalam kurun waktu terten- tu. Gedung pertunjukannya juga tidak permanen, biasanya terbuat dari anyam- an bambu dengan atap dari dedaunan. Jangka waktu penyelenggaraan pertun- jukan tidak tentu, biasanya antara satu bulan sampai empat bulan karena ter- gantung pada animo jumlah penonton- nya. Kemampuan dan kondisi penonton juga merupakan dasar pertimbangan utama pemilihan lokasi pentas kesenian Tobong karena biaya produksi pergelar- an sangat bergantung dari hasil penjual- an tiket. Dari hasil penjualan tiket itulah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup para anggota kelom-pok kesenian Tobong serta membiayai segala perleng- kapan pergelarannya. Ngatirah sejak usia tujuh tahun sudah berafiliasi dengan lingkungan masyarakat seniman, mengikuti ayah- nya bergabung dengan kesenian To- bong yang senantiasa melakukan pentas berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Sebagai konsekuensinya, proses pendidikan Ngatirah agak ter- bengkalai, tidak lancar karena kesulitan membagi waktu antara bersekolah dan berpentas. Indikasinya, Ngatirah sering tidak masuk sekolah dengan alasan lelah, malas, dan mengantuk. Kenyata- an itu bisa dimaklumi mengingat durasi pergelaran ketoprak maupun wayang wong relatif lama antara 4 sampai 6 jam, dan biasanya pergelaran dimulai sekitar pukul 20.00. Puncak persoalan yang dihadapi Ngatirah dalam pendidikan formalnya terjadi ketika wilayah pentas berjauhan dengan lokasi sekolahnya. Segala upaya telah dilakukan Ngatirah agar tetap bisa bersekolah, di antaranya berpindah sekolah yang dekat dengan wilayah pentasnya. Hal ini dilakukan sampai tiga kali berpindah sekolah. Na- mun usaha itu akhirnya kandas sampai di kelas 3 Sekolah Rakyat (setingkat SD) karena mau tak mau Ngatirah harus memilih antara bersekolah atau menjadi pengembara berkesenian. Tentu saja hal ini merupakan pilihan yang sulit bagi Ngatirah. Jika bersekolah butuh biaya dan waktu sedangkan tingkat kemam- puan ekonomi keluarga sangat lemah. Sebagaimana dia katakan, ”kadospundi badhé sekolah kanggé mangan mawon re- kaos, wong tiyang mboten gadhah (bagai- mana mau sekolah untuk makan saja sulit, saya orang miskin, wawancara 18 Oktober 2008)”. Sungguhpun demikian Ngatirah merasa bersyukur karena dari pendidikannya yang hanya sampai ke- las 3 tersebut dia tidak buta aksara, Ngatirah mampu membaca dan menu- lis. Dengan kemampuan membaca dan menulis Ngatirah dapat belajar sindhén kepada maestro dalang Ki Narto Sabdo yang selalu memberikan materi gending dan tembang dengan notasi yang memerlukan keterampilan membaca. Pada tahun 1956 Ngatirah yang berusia 12 tahun pindah ke Semarang mengikuti ayahnya bergabung dengan grup wayang orang Ngesti Pandawa dan hidup satu rumah dengan ibu tirinya Wasiyem atau akrab dipanggil mbok Welas, istri ketiga Djojorejo. Mes- kipun harus tinggal bersama ibu tirinya, Ngatirah merasa senang menjalani hidupnya karena Wasiyem memahami aktivitasnya berkesenian dan memper- lakukan dirinya cukup baik. Dari hari ke hari aktivitas seni Ngatirah di Ngesti Pandawa semakin padat baik latihan tari, latihan nyindhén, dan pentas ber- sama kelompok Ngesti Pandawa. Kepa- datan aktivitas tersebut membuat Ngati- rah tidak sempat membantu pekerjaan rumah mbok Welas secara maksimal, bahkan jarang di rumah. Meskipun de- mikian mbok Welas tidak mempersoal- kan bahkan mendorong Ngatirah untuk mengembangkan bakat seninya. Kehadiran Ngatirah di pang- gung wayang orang Ngesti Pandawa memiliki makna penting. Berkat bim- bingan Ki Narto Sabdo (waktu itu seba- gai pakarnya karawitan di Ngesti Pan- dawa) Ngatirah menjadi seniwati yang bisa diandalkan. Kemampuan seni olah vokalnya yang terus meningkat baik, menjadi perhatian teman-temannya, bahkan menjadi sindhén andalan Ngesti Pandawa. Salah seorang yang memberi- kan perhatian yang lebih kepada Ngatirah adalah Siswanto seorang pe- muda dari Boyolali kelahiran tahun 1941 dan bintang panggung spesialis pemeran tokoh Gatutkaca dan Cakil. Siswanto tertarik kepada Ngatirah ka- rena suara emasnya, sedangkan Ngati- rah jatuh hati kepada Siswanto karena kepiawaiannya dalam memerankan to- koh Gatutkaca dan Cakil sehingga men- jadi pujaan penggemar wayang wong Ngesti Pandawa. Gayung bersambut, tumbu éntuk tutup, tahun 1960 Ngatirah dan Siswanto kemudian membina ru- mah tangga. Ketika itu Ngatirah baru berusia 16 tahun. Kesenimanan Ngatirah Seniman atau seniwati merupa- kan predikat yang diberikan kepada orang yang dianggap memiliki kompen- sasi tinggi dalam bidang seni. Kompe- tensi itu ditandai oleh kemampuan, keterampilan, kepekaan, penghayatan, dan penguasaan pada bidang seni yang spesifik secara baik. Kompetensi senan- tiasa terefleksi pada karya seni yang dihasilkan, diaktualisasikan, dan diakui kualitasnya oleh khalayak luas. Ada em- pat faktor yang mendukung keseniman- an Ngatirah, yaitu bakat, lingkungan (pergaulan sosial), pendidikan, laku bra- ta. Laku brata adalah upaya mendekat- kan diri dengan cara prihatin atau mengekang hawa nafsu, seperti mengu- rangi makan, tidur, kesenangan, dan dalam bentuk yang lain. Ngatirah memiliki bakat seni karena faktor heriditas yakni dilahirkan dari seorang ayah seniman. Ngatirah berafiliasi dengan berbagai lingkungan masyarakat seni ketoprak dan wayang wong Tobong, grup wayang orang Ngesti Pandawa, wayang kulit, dan karawitan Condhongraos maupun kara- witan RRI Semarang. Dalam pendidikan Ngatirah memiliki dua pengalaman, yaitu belajar secara autodidak tanpa guru dengan cara sering mendengarkan dan menonton, sedangkan yang kedua melalui bimbingan seorang guru. Dari kedua pengalaman pendidikan tersebut, Ngatirah merasa cara kedualah yang banyak membuahkan hasil. Ki Narto Sabdo seorang seniman lengkap dengan kemampuan sebagai dalang, pengrawit, aranger, komponis, sastrawan adalah guru Ngatirah dalam berolah suara. Menurut Sutarmi seorang sindhén Semarang dan praktisi karawitan Budi Muhanto, bahwa Ngatirah sangat tepat (pas) dan sangat menjiwai terhadap tembang-tembang céngkok Semarangan, dan hal itu menjadi salah ciri khasnya. Selain itu Ngatirah sangat rajin dan percaya diri atas kemampuan sindhenan- nya, sehingga tidak perlu menekuni bidang lain seperti menjadi penyanyi langgam, keroncong, apalagi dangdut. Ngatirah sendiri pernah mengatakan bahwa ”apapun bidang yang digeluti, bila dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh ketekunan tentu akan membuah- kan hasil.” Oleh karena itu, ia sangat senang dan merasa bangga melantun- kan tembang Jawa, khususnya tembang Semarangan, Salah satu tembang yang paling ia sukai adalah Pangkur Semarangan, pélog Nem. Bahkan menurut para ahli dan praktisi karawitan di Jawa Tengah cengkok dan wiled Ngatirah pada Pangkur Semarangan tiada duanya, tidak ada yang menandingi keindahannya. Pada hal nada-nada tembang tersebut memiliki tingkat kesulitan tinggi se- hingga membutuhkan teknik olah vokal yang tinggi pula. Mengenai struktur tembang Pangkur Semarangan, pélog Nem dapat dicermati pada contoh berikut ini. Ditinjau dari segi hereditas, Ngatirah tergolong orang yang memiliki bakat besar dalam bidang seni olah vo- kal, terutama tembang Jawa. Hal ini ter- kait dengan faktor keseniman dari ayah- nya yang nota bene seorang seniman karawitan (pengendang) profesional. Bertolak dari aspek keturunan itulah proses pergulatan Ngatirah pada dunia seni suara menunjukkan bakatnya. Faktor lingkungan dapat men- ciptakan atmosfer tertentu yang mampu mempengaruhi kepribadian seseorang. Secara sosiologis lingkungan merupa- kan konstruksi sosial, yang dapat mem- bentuk dan dibentuk oleh orang per orang, termasuk seni yang bersifat tra- disi (Jazuli, 2003). Sebagaimana telah dikemukakan bahwa pada usia tujuh tahun Ngatirah sudah berafiliasi dengan lingkungan seni tradisional, ketoprak dan wayang wong Tobong, serta dengan lingkungan masyarakat yang berbeda-beda di sekitar wilayah pentas- nya. Dengan lingkungan atau pergaulan sosial yang berbeda siapa pun orangnya akan selalu menjalin hubungan sosial, tepatnya pergaulan sosial. Demikian pula dengan Ngatirah, banyak memper- oleh pengalaman yang dapat mempe- ngaruhi dirinya. Salah satu contohnya adalah Ngatirah sering menjalankan puasa pada setiap hari kelahirannya (pasa weton). Bagi Ngatirah laku brata pasa weton bukan hanya untuk memper- oleh keridhoan atau berkah dari Tuhan, melainkan juga untuk mempertajam ke- pekaan terhadap fenomena hidup dan kehidupan manusia. Bagi orang Jawa berpuasa pada hari pasaran kelahiran- nya merupakan bentuk interaksi antara diri pribadi dengan saudaranya yang tak tampak kasat mata (kakang kawah adi ari-ari). Jadi, sadar atau tidak, diakui atau tidak, langsung atau tidak lang- sung, Ngatirah tergembleng kedewasa- annya dalam interaksi sosial maupun kematangan mental panggungnya. Ke- pekaan seni senantiasa terasah dan terlatih setiap saat karena pergaulan so- sial dengan komunitas seniman. Inten- sitas pergaulan sosial dengan lingkung- Pangkur Semarangan, Pélog Nem 3 5 5 5 3 3 2 z4c3 Ming-kar ming-kur ing u - ka - ra 3 2 3 1 6 5 4 2 4 z4c5 z3x2x.x3x2c1 a – ka –ra –na ka –re –nan mar – di si – wi 4 4 4 5 2 4 z4c3 z4x5x6x4x5x3x 2x4x5x3x2x1 x1x4x3x1x6x5x4c5 si – na –rung res – mi –ning ki – dung z1c4 4 4 4 4 z4c3 z4c3 si – nu – ba si – nu kar – ta 3 2 3 1 6 6 5 4 2 4 z5c6 z3x2x.x4x3x2c1 mrih kre – tar – ta pa –kar –ti – né ngêl – mu lu – hung 1 4 3 z1c6 z5c4 5 z6c5 kang tu – mrap ing ta – nah Ja – wi 1 4 4 4 4 z4c3 4 z5x.x6x4x5x3x.x2 x4x5x3x.xc1 an semacam itu menumbuhkan pengu- atan potensi seninya atau sekurang- kurang berpengaruh terhadap keseni- manan Ngatirah, baik yang berasal dari grup kesenian Tobong, Ngesti Pandawa, Condhongraos, dan RRI Semarang. Se- bagai bentuk kematangan, kekuatan, dan kepercayaan diri, Ngatirah tidak pernah berpaling dari profesi sindhén untuk menekuni bidang lain yang sei- rama, seperti keroncong dan langgam yang pada waktu itu juga digemari masyarakat. Profesional kesenimanan Ngati- rah lebih banyak diperoleh melalui pro- ses pendidikan nonformal. Potensi kese- nimanan Ngatirah diperoleh melalui proses belajar dari pengalaman, dia tergembleng dan terbesarkan oleh pe- ngalamannya dalam pergaulan sosial, seperti bergaul dengan para pengrawit, belajar bersama sindhén lain di antara- nya dengan Supatmi dan Sutarmi, serta mendengarkan suara sindhén lain (bela- jar nguping). Exprerince is the best teacher menjadi ungkapan yang tepat bagi per- jalanan Ngatirah dalam menggapai puncak karirnya sebagai seniwati sin- dhén. Pergaulannya dengan lingkungan seni yang berbeda-beda menuntut cara pemahaman yang berbeda pula agar pengetahuan bisa merasuk ke dalam dirinya. Meniti Karir Profesional Proses pencapaian karir Ngati- rah sebagai sindhén populer melalui jalan yang panjang, relatif tidak mulus, penuh liku-liku, dan butuh jam terbang manggung yang lama. Proses seperti itu justru membuat Ngatirah besar dan po- puler. Fase-fase penting tempat persing- gahan Ngatirah dalam perjalanan me- napaki profesi sindhén hingga menjadi populer dapat dikemukakan dalam 4 fase, yaitu bergabung dengan grup ketoprak dan wayang wong Tobong, grup wayang orang Ngesti Pandawa, menjadi anggota grup karawitan Radio Republik Indonsia (RRI) Semarang dan grup karawitan Condongraos. Ketika bergabung dengan Grup Ketoprak dan Wayang Wong Tobong, peran pertama yang dia peroleh adalah sebagai penari beksan Gambyongan. Perlu diketahui bahwa Gambyongan biasanya ditampilkan sebelum repertoar ketoprak maupun wayang wong di- mulai, dapat dikatakan sebagai ‘adegan pembuka’. Pada sajian tari (beksan) Gambyong itulah setiap penari tidak hanya menari saja, melainkan juga wajib nyindhéni (melantunkan tembang) gen- ding iringan tarinya. Dengan menari beksan Gambyong berarti melakukan dua aktivitas seni secara simultan, yakni menari sekaligus melantunkan tembang Jawa. Ngatirah tergolong orang yang cepat menangkap materi dan rajin ber- latih. Ketika itu kemampuan seni tari Ngatirah lebih menonjol daripada ke- mampuan olah suara, tembangnya. Ma- ka tak pelak bila masyarakat sekitarnya lebih mengenal Ngatirah sebagai pena- rik cilik daripada sebagai pesindhén. Meskipun sebenarnya Ngatirah juga memiliki bakat yang bagus dalam olah suara. Ngatirah memiliki warna suara yang khas yakni halus dan lembut, pan- dai membuat gregel dan wiledan sehing- ga kesan suaranya menimbulkan tregel, rongêh, renyah, dan berak. Demikian kata Widodo seorang praktisi seni karawitan dan staf pengajar FBS Universitas Nege- ri Semarang (UNNES). Menurut Slamet Suparno, ibu Ngatirah selain memiliki céngkok yang khas juga mempunyai am- bitus suara yang panjang dan tinggi se- hingga bisa melagukan sindhenan yang bernada tinggi dan wiledan (variasi yang khas) yang panjang. Maka tak heran bila bu Ngatirah menjadi kéblat (contoh/ tauladan) para pesindhén muda di Jawa Tengah. Banyak para pesindhén muda yang mencontoh céngkok, wiledan bu Ngatirah. Pada tahun 1956. ia diajak ayah- nya ke Semarang bergabung dengan grup kesenian komersial Wayang Orang Ngesti Pandawa yang berdiri pada 01 Juli 1937. Wayang Orang Ngesti Panda- wa pernah menjalani kehidupan secara berpindah-pindah (Tobong/kemidhen) selama 12 tahun. Namun sejak tahun 1949 grup ini menetap di sebuah ge- dung milik yayasan GRIS di jalan Pemu- da Semarang, dan kini telah berpindah dan menetap di TBRS jalan Sriwijaya Semarang. Proses adaptasi Ngatirah terha- dap grup Wayang Orang Ngesti Panda- wa relatif cepat, terbukti dalam hitung- an hari ia sudah dipercaya oleh pim- pinan grup yakni Ki Sastro Sabdo untuk tampil di atas panggung. sebagai penari untuk mengisi acara tarian (adegan pembuka) sebelum pergelaran wayang orang dimulai. Kemudian Ngatirah mulai diberi peran sebagai mbok emban (abdi atau pembantu putri atau istri bangsawan). Tugas utama peran mbok emban adalah menghibur Sang bendara (tuannya), yang dihibur biasanya istri atau puteri raja atau seorang pangeran. Oleh karena itu peran mbok emban harus pandai menembang. Agar bisa meme- nuhi tuntutan peran sebagai mbok emban yang bertugas menghibur bendaranya, Ngatirah harus banyak belajar gending dan belajar menembang lelagon (lagu dalam karawitan). Gending yang sering ditampilkan untuk peran mbok emban adalah Ketawang Kinanthi Sandung slén- dro manyura. Ketika Ngatirah menem- bangkan gending tersebut ternyata mampu menarik hati Ki Narto Sabdo seorang dalang yang memulai kirirnya sebagai pengendang Ngesti Pandawa. Kemudian meminta Ngatirah untuk bergabung dengan kelompok karawit- an, dan Ki Narto Sabdo sanggup me- ngajari sindhénan kepadanya. Menurut Ki Narto Sabdo, Ngatirah lebih tepat dan berbakat menjadi sindhén karena sudah memiliki dasar suara yang bagus dan warna suara yang khas. Sebaliknya Ngatirah kurang memenuhi persyaratan sebagai seorang penari, seperti bentuk tubuh yang kurang proporsional dan paras yang kurang menawan untuk di- tampilkan dalam seni komersial. Ngati- rah masih ingat perkataan Ki Narto Sabdo kepadanya pada waktu itu seper- ti berikut ini ”ora éntuk rupa, ora éntuk dedeg. Wis tak ajari nyindhén waé (tidak memiliki berparas cantik, tidak memili- ki bentuk tubuh yang baik untuk me- nari. Sudah saya ajari nyindhen saja)” (wawancara 10 Juli 2008). Perjumpaan- nya dengan Ki Narto Sabdo Sang maestro seni tradisional (karawitan) mempunyai makna penting dalam se- jarah kehidupan Ngatirah dalam meniti karir sebagai seorang seniwati. Sejak bergaul dengan Ki Narto Sabdo ia merasa dibekali gurunya untuk mengembara dan menelusuri dunia kepesindhénan, ia merasa mendapat pe- tunjuk untuk menemukan jati dirinya sebagai seorang pesindhén atau warang- gana yang profesional. Ki Narto Sabdo sangat berarti, berjasa dalam meng- orbitkan Ngatirah pada kehidupan seni- nya sehingga ia merasa berhutang budi terhadap gurunya. Ketika Ki Narto Sabdo dipanggil kepangkuan Tuhan pada hari Senin, 07 Oktober 1985, Ngatirah merasa kehilangan kekuatan yang selalu mengayominya, kaya macam kélangan siyung. Namun demikian sam- pai sekarang Ngatirah tetap selalu mengenang dan menaruh hormat atas berbagai jasa kepada dirinya, yang telah menjadikan diri sebagai orang tenar, pesindhén misuwur, sindhén legendaris. Ngatirah mengalami masa kejayaan Ngesti Pandawa pada tahun 1970-1980 an dan masa memprihatikan setelah ta- hun 1980 hingga sekarang. Mengingat jasa gurunya tersebut, sampai sekarang (1966-2008) Ngatirah tetap mengabdi kepada grup Wayang Orang Ngesti Pandawa sampai selam hayat masih dikandung badan. Selama di RRI Semarang Ngati- rah banyak melakukan latihan dan ak- tivitas lain guna mendukung kepenting- an RRI Semarang, seperti siaran lang- sung atau tidak langsung dan pentas bersama kelompok karawitan RRI Semarang. Sesungguhnya ketika masuk di RRI Semarang ia telah menjadi seorang pesindhén yang relatif sudah matang berkat bimbingan Ki Narto Sabdo selama 10 tahun. Sungguhpun ia telah menjadi karyawati RRI Semarang, kegiatan bersama Ngesti Pandawa tetap berjalan. Pada siang hari ia masuk kantor untuk memenuhi kewajiban sebagai PNS RRI Semarang, dan pada malam hari ber-gabung dengan Ngesti Pandawa, baik untuk latihan maupun pentas bersama. Melihat kondisi Ngatirah yang mendua dalam hal pekerjaan, di satu Tembang Kinudang-kudang, (Slendro Sanga) Kinudang-kudang tansah bisa leladi Narbuka rasa tentrem angayomi Tata susilo dadi tepa tuladha Sabdane dhe iku sarawungan kudu Ngrawuhi luhuring kabudayan Tinulat sakehing bangsa manca Rahayu sedya angembang rembaka pihak RRI Semarang dan dipihak lain sebagai pemain Ngesti Pandawa sangat dipahami dan dihormati oleh Ki Narto Sabdo. Dia ingat betul ucapan Ki Narto Sabdo ketika memintanya untuk ikut latihan seperti berikut ini: ”RRI ana gawéan apa ora Rah, yén ora ana ayo mêlu latihan (di RRI ada pekerjaan apa tidak Rah, bila tidak ada ayo ikut latihan). Namun sesungguhnya seberapa penting arti Ngatirah dalam perjalanan kreatif Ki Narto Sabdo? Jawaban yang pasti tentu sulit diketahui, tetapi melalui salah satu karya tembang Ki Narto Sabdo yang berjudul Kinudang-kudang berikut ini barangkali jawaban dapat ditemukan. Tembang tersebut bila dianalisis dari setiap suku kata pertama menunjuk pada bentuk sandiasma (nama yang di- sandikan, perhatikan kata yang dicetak tebal) dalam penulisan tembang sebagai karya sastra. Tembang Kinudang-kudang dengan cukup jelas menyiratkan obsesi sang pencipta terhadap seseorang yang dikagumi dari segi kemampuan sindhén- an serta dari sikap dan perilaku yang bisa menjadi tauladan bagi orang lain. Sebuah pengakuan yang bermakna penting dan sekaligus pengakuan atas kualitas Ngatirah sebagai pesindhén yang dapat diadalkan. Ngatirah menjalankan kegiatan di RRI Semarang dengan senang hati dan dijalaninya hingga pensiun. Kini di hari tuanya Ngatirah menikmati masa tuanya ber- sama uang pensiunan yang diperoleh selama bekerja di RRI Semarang. Selain itu, setiap sabtu malam masih ikut pentas di Ngesti Pandawa barangkali hal ini sebagai hiburan, refressing, sekaligus untuk mengabdi atas kecinta- annya terhadap grup Ngesti Pandawa yang membesarkannya. Pada tahun 1969 Ngatirah ber- gabung dengan Grup Karawitan Con- dhongraos yang berdiri pada 01 april 1969 dan dipelopori oleh Ki Narto Sabdo. Para anggota pendukung grup karawitan Condhongraos mayoritas ber- asal dari paguyuban karawitan Ngripta Raras Semarang ditambah beberapa orang dari RRI Semarang dan RRI Surakarta. Latar belakang berdirinya grup karawitan Condhongraos adalah untuk kepentingan senimanan Ki Narto Sabdo, khususnya untuk melayani per- mintaan rekaman dari perusahaan rekaman kaset di Surakarta Lokananta Recording. Rekaman pertamakali ber- langsung sekitar tahun 1967, ketika itu Ki Narto Sabdo meminta dua orang dari Semarang yakni Ngatirah dan Ponidi sebagai wirasuara atau sindhén dan di- iringi oleh grup karawitan RRI Surakar- ta. Selaian itu juga karena dorongan dari Ki Sastro Sabdo (ketika itu sebagai pim- pinan Ngesti Pandawa). Dengan pertim- bangan bahwa Ki Narto Sabdo telah tumbuh menjadi dalang wayang kulit purwa yang terpandang dan laku laris. Untuk mendukung karir pedalangan Ki Narto Sabdo perlu dukungan kelompok karawitan yang bisa dikoordinasi dengan mudah. Apa yang diasumsikan Ki Sastro Sabdo benar adanya. Bukan rahasia lagi pada sekitar tahun 1970 sampai 1980-an merupakan era ke- emasan Ki Narto Sabdo, ia merajai panggung pertunjukan wayang. Nama- nya demikian moncêr (tersohor) dan laku laris tanggapan. Sebagaimana yang dikatakan Ngatirah sebagai pesindhén utama Ki Narto Sabdo bahwa: ”ing wekdal punika kula dhêrêk Bapak ngantos mboten naté wangsul dateng griya, puter- puter terus, bebasan njajah desa milangkori, prasasat mboten naté lêrên (pada masa itu saya selalu mengiringi pergelaran wa- yang Bapak sampai jarang pulang ke rumah, pentas terus menerus, ibarat masuk satu desa pindah ke desa lain, hampir tidak pernah istirahat). Wilayah pentas yang sering di- singgahi Ngatirah di antaranya adalah Jakarta, Surabaya, Bandung, kota-kota di wilayah Jawa Tengah, sedangkan di luar Jawa meliputi Kalimantan dan Sumatera. Dalam penjelajahan wilayah pentas, dari pangung ke panggung, dari daerah ke daerah tentu banyak penda- patan yang diperoleh Ngatirah. Namun ketika ditanya berapa honor setiap pen- tas, beliau dengan agak tersipu dan sungkan menjawab, pinten nggih mas, pokoké kula saget kanggé nglipur keseneng- an kula (berapa ya mas, pokoknya bisa untuk bersenang-senang menyenang- kan hati). Ketika ditanya lagi beliau baru agak terbuka, nggih menawi kanggé itungan sak menika antawis gangsal ngan- tos sedosa yutanan (untuk perhitungan uang sekarang sekitar lima juta sampai sepuluh juta setiap pentas). Boleh jadi pernyataan itu benar dan bisa diper- tanggungjawabkan karena nilai tang- gapan dalang ketika itu sekitar Rp 2.000.000 – Rp 3.000.000 (dua sampai juta rupiah). Pada waktu itu nilai satu dolar Amerika adalah seribu rupiah sampai seribu lima ratus rupiah. Artinya bila nilai tanggapan dalang Rp 3.000.000 (tiga juta rupiah) pada saat itu kurang lebih sama dengan Rp 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) un- tuk kondisi sekarang. Namun sayang pendapatan yang besar tersebut tidak dapat dinikmati pada hari tuanya ka- rena ternyata Ngatirah pada waktu itu mempunyai kesenangan bermain kartu (keplek: Jawa) dan merokok, lawan uta- manya dalam bermain kartu adalah istri Ki Nartosabdo. Namun demikian kese- nangan itu sirna bersama keredupan popularitasnya. Pengakuan Ngatirah tersebut jika dibandingkan dan diperhitungkan dengan pengalaman pentas dalang se- karang laku laris, frekuensi bisa men- capai 20 kali sampai 25 kali pentas setiap bulan. Ki Manteb Soedarsono da- lam suatu kesempatan pernah menceri- takan pengalamannya pentas sampai 27 kali setiap bulan sepanjang enam bulan. Dalam tradisi pedalangan, para dalang biasa tidak banyak memperoleh tang- gapan (dikontrak) pada bulan Rama- dhan, paceklik (sepi) tanggapan. Bertolak dari cerita Ki Manteb Soedarsono terse- but, boleh jadi frekuensi pentas Ki Narto Sabdo dan Ngatirah bisa lebih dari itu karena pada masa itu tidak sedikit da- lang yang mayang (mendalang) pada siang dan malam hari. Pada tahun 1980- an Ki Narto Sabdo tampak sudah udzur karena usianya tua, Ngatirah yang ma- sih relatif muda semakin menjulang ke- populerannya. Ia sering diminta para dalang terkenal pasca Ki Narto Sabdo untuk mendukung pergelaran wayang- nya. Di antara para dalang itu adalah Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedar- sono (Surakarta), Ki Timbul Hadiprajit- no, Ki Suparman, dan Ki Hadi Sugito (Yogyakarta). Kini Ngatirah sudah berusia 64 tahun tetapi masih setia menyumbang- kan suara emasnya pada beberapa grup karawitan yang berkembang di Sema- rang, di antaranya Ngesti Pandawa dan RRI Semarang. Nama Ngatirah hingga sekarang masih dikenal oleh masyara- kat Semarang dan Jawa Tengah. Ngatirah menjadi sindhén legendaris bagi pecinta, pemerhati serta pelaku karawitan dan pedalangan di Jawa Tengah. Beberapa penghargaan berupa uang tali asih yang pernah ia peroleh di antaranya dari Mardiyanto Gubernur Jawa Tengah (sekitar tahun 2003), Soetrisno Wali Kota Semarang, dan Teater Lingkar Semarang (tahun 2008). Penghargaan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa Ngatirah dalam melestarikan, mengembangkan, loyali- tasnya kepada seni dan budaya tradisi- onal Jawa. Sekarang Ngatirah sedang menikmati hari tuanya dengan dukung- an uang pensiun pegawai negeri, hidup bersama kedua cucunya di Perumahan Tlogosari Semarang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan bebe- rapa simpulan dapat dipaparkan se- bagai berikut. Pertama, cara untuk menjadi sindhén tidak terlepas dari empat faktor, yaitu cara belajar, lingkungan, pergaul- an sosial, dan laku brata. Cara belajar Ngatirah agar bisa menjadi sindhén me- lalui dua pengalaman, yaitu belajar se- cara autodidak tanpa guru dengan cara sering mendengarkan dan mencermati (kupingan) kepada para sindhén lain, se- dangkan yang kedua melalui bimbingan seorang guru. Untuk menumbuhkan keperca- yaan diri Ngatirah selalu menjalani laku brata (dalam hal ini berpuasa) pada hari kelahirannya (weton). Lingkungan, Nga- tirah memiliki bakat seni karena faktor heriditas yakni dilahirkan dari seorang ayah seniman, dan sejak pada usia 7 tahun Ngatirah sudah berafilias dengan lingkungan seni tradisional, ketoprak dan wayang wong Tobong, serta de- ngan lingkungan masyarakat yang ber- beda-beda sesuai wilayah pentasnya. Kemudian bergabung dengan grup wa- yang orang komersial Ngesti Pandawa, grup karawitan Condhongraos, dan grup karawitan RRI Semarang. Bebera- pa lingkungan tersebut juga merupakan wahana untuk menjalin hubungan sosial sekaligus tempat untuk belajar bagi Ngatirah. Kedua, kepopuleran Ngatirah tampak dari frekuensi pentas, wilayah pentas, gaya pribadi, memiliki sponsor, dan kompensasi (honorarium) yang di- terima. Frekuensi pentas Ngatirah men- capai rata-rata 20 sampai 25 kali setiap bulan. Dengan wilayah pentas menjang- kau lintas propinsi, bahkan di luar Jawa dan di luar negeri. Kepopuleran Ngati- rah tidak terlepas dari gaya pribadi/ kekhasan (céngkok, luk, gregel) dalam olah suara. Selain ini mempunyai spon- sor yang kuat dan sangat berpengaruh, yakni gurunya sendiri Ki Narto Sabdo. Kompensasi atau imbalan yang diper- oleh relatif besar pada setiap kali pentas, yakni 4 juta sampai 5 juta rupiah. Ketiga, Upaya untuk memper- tahankan daya tarik agar tetap memper- oleh perhatian masyarakat Ngatirah memiliki kiat tertentu, yaitu (1) selalu berusaha mempertahankan pola dan meningkat kualitas serta ciri khas sin- dhénannya, yakni melalui warna suara yang khas halus dan lembut, membuat gregel dan wiledan sehingga kesan suara- nya selalu menimbulkan kesan tregel, rongêh, renyah, dan berak bagi penikmat- nya; (2) percaya diri pada bidang sin- dhén, tidak mau merambah ke bidang di luar sindhén, seperti langgam, campur- sari, dan keroncong-dangdut; (3) selalu menjalin relasi sosial dengan orang- orang yang mempunyai pengaruh luas maupun organisasi kesenian, seperti Ngesti Pandawa, Condhongraos, dan Radio Republik Indonesia Semarang; (4) selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui laku brata yang diyakini. DAFTAR PUSTAKA Darmasti, 2001. ”Nyi Tumenggung Mardusari Seniwati Serba Bisa di Lingkungan Mangkunegaran: Sebuah Otobiografi.” Tesis Pro- gram Studi Pengkajian Seni Per- tunjukan dan Seni Rupa Jurusan Ilmu-ilmu Humanioran Univer- sitas Gadjah Mada YogyAkarta. Hanindawan. 1999. Tapak Langkah SUTARMAN Guru Sindhén. Sura- karta: Kerjasama Taman Budaya Jawa Tengah dan Ford Founda- tion. Jazuli, M. 2003. Dalang, Negara, dan Masyarakat. Semarang: LimPad. Murtiyoso, Bambang. 1995. Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang. Tesis Pascasarjan Universitas Gadjah Mada. Saddhono, Kundaru (ed). 2004. Pertum- buhan dan Perkembangan Seni Pertunjukan Wayang. Surakarta: Citra Etnika. Sumandiyo Hadi, Y. 2000. Seni Ritual dalam Agama. Yogyakarta: Yaya- san untuk Indonesia. Sumardjo, Jakob, tt. Sosiologi Seniman Indonesia. Bandung: ITB. Waridi. 2001. Martopangrawit Empu Karawitan Gaya Surakarta. Yogya- karta: Yayasan Mahavira. _____. (ed). 2005. Menimbang Pendekatan Pengkajian dan Penciptaan Musik Nusantara. Surakarta: STSI Press. Wijayanti, Sri Anita. 2007. ”Supadmi Dalam Sindhénan Gaya Surakarta.” Skripsi Program Studi Seni Karawitan Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta.