Harm Vol IX No 2 2009.pdf NILAI-NILAI LUHUR DALAM LELAGON DOLANAN Widodo Jurusan Sendratasik,Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang E-mail: mas_wid@yahoo.com Abstract Lelagon dolanan (children) contains a variety of high values of national culture which is useful for building character and identity of the nation. Dewasa ini kondisi lelagon dolanan (anak) ibarat hidup segan mati tak mau. He was surrounded by a variety of industrial art products that appear more glamorous, practical, and economical. To preserve, develop, and distribute it needs to support from various parties both actors musical arts, government, media entrepreneurs, and society. Javanese gamelan music art perpetrators should be creative, innovative, creative, and productive working lelagon dolanan (children) who actually follow the new development era. The government is expected to make policy, especially through formal education institutions in favor of the preservation and development of lelagon dolanan. Employers can participate in the mass media through the production and dissemination of copyrighted works publicly lelagon dolanan. Thus, the public can access easily and cheaply lelagon dolanan products (children) Kata kunci: lelagon dolanan, nilai, luhur, pelestarian, pengembangan PENDAHULUAN Lelagon dolanan dewasa ini dalam kondisi memprihatinkan. Jenis komposisi musikal karawitan Jawa itu terkepung oleh berbagai produk seni industri yang tampil glamour, praktis, dan ekonomis. Pesona kemasan produk seni industri telah memikat masyarakat luas sebagai alternatif pilihan jenis hiburan yang murah dan mudah didapat. Intensitas tayangan produk seni industri di berbagai media masa yang hampir tiada henti pada setiap hari semakin mengibarkan seni industri populer di kalangan masyarakat luas. Di lain pihak gending-gending dolanan yang sarat kandungan nilai luhur budaya bangsa semakin terpinggirkan. Lambat laun masyarakat semakin jauh dengan lelagon dolanan. Bila dicermati, keengganan masyarakat untuk memilih, memen- taskan, bahkan sekedar menghargai gending-gending dolanan tidak hanya karena tersedia pilihan seni industri yang tampil dengan kemasan memikat, melainkan juga kurangnya perhatian dari masyarakat seni karawitan untuk melestarikan, mengembangkan, dan menawarkan secara kreatif lelagon dolanan kepada khalayak luas sejalan dengan kebutuhan mereka akan seni pertunjukan. Manakala di berbagai me- dia elektronik intensif menayangkan aneka macam seni pertunjukan industri, masyarakat karawitan hanya turut larut sebagai penonton. Mereka belum ter- gugah untuk melakukan tindakan inovatif pada lelagon dolanan agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Di tengah-tengah ketatnya persaingan produk seni yang berbasis kebutuhan seni masyarakat luas seyogyanya masyarakat karawitan Jawa bertindak secara kreatif, inovatif terhadap seni yang digeluti sehingga karya-karya karawitan mampu bersaing dengan produk seni industri. Dengan tindakan kreatif, memungkinkan seni karawitan Jawa hidup dan berkembang secara wajar serta tidak ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Orang bijak mengatakan bahwa di tengah kesulitan selalu ada peluang. Gending-gending dolanan yang kini ibarat hidup segan mati tak mau menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para kreator gending atau seniman karawitan Jawa untuk mereaktualisasi dan mempopularisasikan lelagon dolanan di tengah-tengah masyarakat luas. Bila hal ini dapat terwujud, maka selain aset seni budaya bangsa ini memiliki masyarakat pendukung juga kandungan nilai luhur pembentuk karakter bangsa dapat dikenal dan tersampaikan kepada masyarakat luas. KARAWITAN DAN GAMELAN Istilah karawitan berasal dari kata rawit berarti halus, lembut, lungit, rumit. Karawitan merupakan jenis yang memiliki kehalusan dan kompleksitas musikal tingkat relatif tinggi. Martopangrawit (1975: 1) menyebutkan bahwa karawitan ialah seni vokal maupun instrumental berlaras sléndro dan pélog. Karawitan menunjuk sistem musikal musik gamelan. Penjelasan ini untuk membedakan pemahaman antara istilah karawitan dan gamelan. Dalam budaya karawitan di Indonesia, gamelan digunakan untuk menyebut perangkat alat musik dalam seni karawitan. Di manca negara istilah gamelan tidak hanya diartikan sebagai seperangkat alat musik karawitan me- lainkan juga berbagai aspek baik musikal maupun kulturalnya. Seiring dengan semakin banyaknya ahli karawitan Jawa sebagai pengajar mau- pun pembicara di manca negara serta semakin banyaknya kelompok kara- witan Indonesia mengadakan pentas di luar negeri, pemahaman istilah kara- witan dan gamelan hampir sama dengan yang terjadi di masyarakat Indonesia (Supanggah 2002: 12-13). Lagu atau gendhing Lagu dalam dunia musik juga sering disebut melodi. Miller (2001: 33) mengatakan bahwa melodi adalah suatu rangkaian nada yang bervariasi dalam tinggi rendah dan panjang pendeknya. Seperti kata-kata dalam sebuah kalimat, nada-nada dalam sebuah melodi mem- bentuk ide musikal. Dalam karawitan Jawa lagu dapat diartikan sebagai gending (Sumarsam 2003: 345). Melodi merupakan salah satu unsur komposisi musikal. Unsur-unsur musikal lainnya antara lain: irama, bentuk dan balungan gendhing, pathet, laras, ricikan, dan lain- lain. Rustopo (2000: 34) mengatakan bahwa istilah gendhing digunakan untuk menyebut bentuk komposisi musikal karawitan di lingkungan istana (kera- ton) Surakarta dan Yogyakarta. Dalam perkembangan istilah gendhing juga digunakan untuk menyebut komposisi karawitan dari tradisi karawitan istana maupun rakyat pedesaan tanpa defe- rensiasi. Gendhing adalah susunan nada dalam karawitan yang telah memiliki bentuk (Martopangrawit 1975: 3). Ter- dapat beberapa macam bentuk gendhing, antara lain: kethuk 4 arang, kethuk 8 kerep, kerhuk 2 arang, kethuk 4 kerep, kethuk 2 kerep, ladrangan, ketewang, lancaran, sampak, srepegan ayak-ayak, kemuda dan jineman. Senada dengan Martopang- rawit, Sumarsan (2003: 345) mengatakan bahwa gendhing digunakan untuk menyebut komposisi karawitan dengan struktur formal relatif panjang, terdiri atas dua bagian pokok merong dan inggah. Struktur seperti itu menunjuk pada gendhing kethuk 2 kerep ke bentuk lebih besar. Di luar bentuk-bentuk gen- dhing tersebut langsung disebut jenis bentuknya dan nama komposisinya, misal: ladrang mugi rahayu, ketewang sinom parijatha, lancaran manyar sewu, srepeg lasem, sampak manyura dan lain- lain. Dari sisi lain Supanggah (2000: 6) menyebutkan bahwa gendhing ialah balungan (dasar, kerangka, sketsa) gen- dhing yang dimainkan bersama. Kom- posisi karawitan yang dinotasikan da- lam buku atau catatan lain yang disebut notasi gendhing sebenarnya bukan notasi gendhing melainkan notasi balungan gendhing. Balungan gendhing dapat di- sebut gendhing apabila telah dimainkan secara bersama-sama oleh para pe- nyanyi dengan segenap kreatifitasnya. Laras Sléndro Pélog Laras dalam dunia karawitan selain untuk menyebut nada juga tangga nada. Laras 1 berarti nada 1, laras 2 berarti nada 2, dan seterusnya. Sedangkan laras pélog berarti tangga nada pélog dan laras sléndro berarti tangga nada sléndro. Laras dalam arti nada adalah bunyi yang dihasilkan oleh sumber bunyi yang bergetar dengan kecepatan getar teratur (Jamalus 1988: 16). Jika sumber bunyi bergetar dengan cepat maka bunyi yang dihasilkan tinggi. Jika getaran sumber bunyi itu lambat maka bunyi terdengar rendah. Semua nada musikal terdiri atas empat unsur, yakni: (1) tinggi-rendah nada, (2) panjang-pendek nada, (3) keras-lemah bunyi nada, dan (4) warna suara (Miller 2001: 24). Dalam dunia karawitan notasi sebagai simbul laras disebut titilaras. Tangga nada oleh Jamalus (1988: 16-17) diartikan sebagai serangkaian nada berurutan dengan perbedaan tertentu membentuk sistem nada. Jika dalam jarak dua nada yang jarak perbandingan frekuensinya dua kali lipat tersusun lima buah nada yang tinggi rendahnya berbeda maka sistem nadanya dinamakan pentatonik, dan urutan nadanya dinamakan tangga nada pentatonik. Nada-nada dalam laras sléndro dan pélog dikelompokan atas dasar wilayah rasa seleh yang dikenal dengan istilah pathet. Menurut tradisi karawitan gaya Surakarta, dalam laras sléndro dan pélog masing-masing terdapat tiga macam pathet, yakni: sléndro pathet nem, sléndro pathet sanga, dan sléndro pathet manyura, dan pélog pathet lima, pélog pathet nem, serta pélog pathet barang. (Martapangrawit 1975: 28-44, Sri Hastanto 1985). Pecatatan laras dalam karawitan Jawa menggunakan notasi kepatihan yakni sitem notasi gamelan Jawa yang muncul pada jaman Adipati Sasradiningrat IV masa pemerintahan Pakubhuwana X. Nada-nada pada ga- melan Jawa ditulis dengan menggu- nakan simbol angka satu sampai tujuh. Pembacaan notasi tersebut secara berurutan yakni: 1 dibaca ji, 2 dibaca ro, 3 dibaca lu, 4 dibaca pat, 5 dibaca ma, 6 dibaca nem, dan 7 dibaca pi. Dalam laras sléndro terdapat lima nada, yakni: 1, 2, 3, 5, dan 6, sedang pélog tujuh nada yakni: 1,2, 3, 4, 5, 6, dan 7 (Pradjapangrawit 1990: 169). Hardjosoebroto (1980: 83) dalam Perbandingan Delapan Sistem Musik Dunia, yakni: laras pélog, laras purba, musik Tailand, laras Chr Hugens, musik Internasional, laras musik 17 nada, musik Hindu, dan laras sléndro mengatakan bahwa laras sléndro dan pélog merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Pada skema perbandingan laras ke-8 laras musik dunia tersebut, tempat kedua laras kita itu paling berjauhan. Laras pélog mempunyai kwint yang terkecil yakni, 666 2/3 cent, sedang laras sléndro mempunyai kwint yang terbesar yaitu 720 cent. Hardjito (2001: 4) mengatakan bahwa laras sléndro memiliki padantara 5 nada per oktaf atau gembyang. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, kelima nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 5 (ma), dan 6 (nem). Interval nada pada kelima nada laras sléndro relatif sama. Bila satu oktaf berjarak 1200 cent, maka interval nada-nada laras sléndro sekitar 240 cent. Interval nada yang demikian menjadikan laras sléndro memiliki rasa laras khas berbeda dengan tangga nada musik dunia lainnya. Kalau sléndro memiliki 5 nada dalam satu gembyang, laras pélog memiliki 7 nada. Dengan menggunakan sistem notasi kepatihan, nada-nada itu ditulis 1 (ji), 2 (ro), 3 (lo), 4 (pat), 5 (ma), dan 6 (nem), dan 7 (pi). Berbeda dengan sléndro, interval untuk laras pélog tidak berjarak relatif sama, melainkan berbeda-beda. Untuk mema- hami frekuensi dan interval nada secara lengkap periksa Hardjosoebroto (1980) dan Priadi Dwi Harjito (2001). Lelagon Dolanan Lelagon merupakan kata bentuk- an la-lagu-an. Dalam bahasa Jawa la-la biasa dibaca atau diucapkan le-la. Sedang gu-an digarba (digabungkan) menjadi gon. Kata lalagon juga sering ditulis lelagon. Lelagon selain merupakan kata benda juga kata kerja. Sebagai kata benda secara harfiah lelagon diartikan sebagai kumpulan lagu-lagu. Sedang- kan sebagai kata kerja lelagon berarti melagukan lagu-lagu. Istilah dolanan berasal dari kata dolan mendapatkan akhiran an. Dolan berarti bermain. Sedangkan dolanan memiliki dua pengertian. Pertama dolanan sebagai kata benda yang berarti permainan, kedua dolanan sebagai kata kerja yang berarti bermain. Dolanan anak dapat diartikan sebagai permainan anak. Apabila susunan katanya dibalik misalnya anak (bocah) dolanan artinya menjadi lain yakni: anak (sedang) bermain. Anak yang dimaksud dalam tulisan ini adalah fase umur seseorang antara sekitar 6 sampai 12 tahun. Lagu dolanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah komposisi musikal karawitan Jawa baik vokal maupun instrumental yang teks lagu dan garap musikalnya didesain untuk keperluan dolanan dan atau “enak” sebagai musik pendukung permainan. Lelagon dolanan sering dikaitkan dengan dunia anak. Dalam hal ini lelagon dolanan anak dicipta dan atau digarap untuk dapat dimainkan atau dinikmati oleh anak. Karena ditujukan untuk anak-anak maka komposisi musikal yang dicipta dan atau digarap mempertimbang-kan kondisi pisik dan psikis anak. Nilai Rader dalam buku Arti Nilai dan Seni (terj. Johny Prasetyo 1976: 1) mengatakan bahwa nilai adalah hasil yang dicapai atau kepuasan yang diperoleh dari adanya kepentingan. Mengejar kepentingan hidup menjadi menarik. Kepuasan yang diperoleh dari berbagai kepentingan menjadikan hidup lebih indah. Beragam kepen- tingan hidup melahirkan bergam nilai. Kepentingan hidup yang bermacam- macam seperti: kesehatan, keamanan, ekonomi, persahabatan, sepritual, keku- asaan, estetik, dan lain-lain melahirkan bermacam-macam nilai pula seperti: nilai keamanan, kekuasan, ekonomi, persahabatan, kesehatan, dan nilai sepiritual, serta nilai estetik. Jakob Sumarjo (2000: 135) me- ngatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang bersifat subjektif bergantung pada manusia yang menilainya. Karena subjektif, maka setiap orang, kelompok orang atau masyarakat memiliki nilai sendiri-sendiri. Sesuatu dikatakan me- ngandung nilai seni atau tidak amat bergantung orang di luar diri atau kelompoknya yang menilai. Nilai juga berkonteks praktis. Dalam hal ini se- suatu dianggap bernilai karena di- anggap memiliki kegunaan dalam kehidupan. Faktor kebudayaan turut menentukan pandangan seseorang terhadap seni. Dengan demikian seni sebenarnya kontekstual karena nilai- nilainya bersifat kontekstual berhu- bungan dengan keperluan praktis dan fungsional. NILAI-NILAI LUHUR DALAM LELAGON DOLANAN Lelagon dolanan (anak) memiliki beragam nilai yang besar gunanya untuk membentuk generasi berkarakter, berjati diri; religius, bermoral, ber- gotong royong, dan cinta pada bangsa. Beberapa nilai luhur dalam lelagon dolanan (anak) dapat dilihat dalam teks lagu. Nilai-nilai tersebut sering kali tersimpan secara terselubung di balik teks kalimat lagu. Beberapa contoh teks lagu yang mengandung nilai antara lain sebagai berikut. Nilai Religius Indonesia merupakan bangsa religius. Religiusitas tersebut antara lain terdapat dalam berbagai karya budaya bangsa dalam bentuk artefak, tata nilai atau norma, seni, kegiatan spiritual, adat-istiadat dan lain-lain. Dalam ke- sempatan ini penulis ingin menunjukan salah satu karya lelagon dolanan yang mengandung nilai religius. Teks lelagon dolanan bernilai religius tersebut ada yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Contoh teks lelagon dolanan yang muatan nilai religiusnya disampaikan secara tersirat antara lain Ilir-ilir yang konon ciptaan Sunan Kalijaga. Teks lagu Ilir-ilir Ilir-ilir tandure wus sumilir Tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar Bocah angon penekna blimbing kuwi Lunyu-lunyu peneken kanggo mbasuh dodot ira Dodot ira kumitir bedhah ing pinggir Domana jlumatana kanggo seba mengko sore Mumpung gedhe rembulane mempung jembar kalangane Ya suraka surak hore Terjemahan Ilir-ilir (bergoyang diterpa angin sejuk) tanamanya telah mulai tumbuh Tampak hijau kemilau dikira penganten baru Anak penggembala panjatlah pohon blimbing itu Walaupun licin panjatlah Untuk membersihkan pakaianmu Pakaianmu bergerak-gerak (karena) sobek di pinggir Jahitlah perbaikilah untuk menghadap nanti sore Selagi terang bulan dan luas kesempatan Mari bersorak-sorak hore Tafsir makna teks Telah datang kabar gembira masuknya agama Islam di Jawa. Dalam teks lagu ditunjukan oleh kata ilir-ilir, terpaan angin sejuk. Kedatangan agama Islam diterima baik oleh masyarakat, tandure wus sumilir. Penyebaran agama Islam lambat laun semakin menggem- birakan ibarat penganten baru, tak ijo royo-royo tak sengguh penganten anyar. Masyarakat seyogyanya menjalankan ke lima rukun Islam, dalam teks lagu diibaratkan buah blimbing yang per- mukaannya bergerigi 5, bocah angon penekna blimbing kuwi. Walaupun berat perlu dilakukan (lunyu-lunyu peneken) sebagai upaya untuk membersihkan diri dari segala perbuatan yang tidak baik atau kepercayaan yang dianggap me- nyimpang (kanggo mbasuh dodotira). Segala perbuatan mungkar menjadi penghalang dalam menghadap Allah SWT. Perbuatan mungkar atau keya- kinan menyimpang, dodotira kumitir bedhah ing pinggir, perlu segera diperbaiki, domana jlumatana, selagi terbuka kesempatan, mumpung gedhe rembulane mempung jembar kalangan, marilah bersorak gembira, yo suraka surak hore. Teks lagu Mampir Ngombe Jare bebasane Urip iki amung mampir ngombe Pira lawase wong ngombe Bakal bali nyang ngomahe Mulane becik tuimindak sing sae Marang sesama-samane Tan lali mituhu marang dhawuhe Gusti kang anitahake Terjemahan Menurut (para pujangga) ibarat hidup hanya singgah untuk minum Seberapa lama orang minum (Pasti) akan kembali ke rumahnya Maka dari itu marilah berbuat baik Kepada sesama hidup Tidak lupa taat kepada perintah Tuhan yang menciptakan kita Kata-kata dalam teks lagu Mampir Ngombe mudah dipahami. Bila disimak seksama teks tersebut berisi tentang ajakan untuk berbuat baik dan taat kepada perintah Tuhan. Hal ini dilakukan oleh semua umat karena hidup relatif singkat, ibarat orang singgah sesaat untuk minum. Kehi- dupan yang lebih lama adalah di tempat tinggal sebelumnya, di alam akhirat. Nilai Kebersamaan, Kegotong royongan Bangsa Indonesia memiliki sifat kolektif, bersama, bergotong-royong dalam mengatasi persoalan hidup. Masyarakat sadar hidup sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup tanpa batuan orang lain. Lelagon dolanan yang teks lagunya mengajak hidup bergotong royong dalam me- nyelesaikan tugas antara lain lelagon Gugur gunung. Teks vokal Lelagon Gugur –gunung Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyane praja Kene-kene - kene-kene gugur gunung tandang gawe Sayuk-sayuk rukun bebarengan ro kancane Lila lan legawa kanggo mulya ning negara Siji loro telu papat maju papat-papat Diulang - ulung ake pamrih enggal rampunge Holobis kontul baris holobis kontul baris Holobis kontul baris holobis kontul baris Terjemahan Marilah kawan mengerjakan tugas negara Kemarilah bahu-membahu untuk bekerja Menyatu, rukun bersama-sama dengan kawan Bekerja dengan ikhlas untuk kejayaan negara Satu dua tiga empat (aba-aba) maju empat-empat Dilakukan secara estafet agar ( pekerjaan ) segera selesai Aba-aba: Holobis kontul baris holobis kontul baris Teks lagu di atas mengajak kita semua untuk melakukan tugas-tugas bangsa dan negara. Sejak kalimat pertama teks vokal menunjukan betapa pengarang memiliki kecintaan besar terhadap bangsa dan Negara. Orang lain diajak untuk melakukan hal yang sama dengan cara mengerjakan tugas dan membuat karya sesuai keahliannya. Bersatu, rukun, bahu-membahu, ber- gotong-royong, dan ikhlas menjadi ke- kuatan besar dalam rangka mencapai kejayaan bangsa. Nilai Kebangsaan Indonesia adalah bangsa pejuang. Hal demikian antara lain terbukti dalam upaya untuk merebut kemerdekaan bangsa pada 17 Agustus 1945. Rakyat Indonesia secara bahu- membahu, bersatu, bersama para pe- mimpin membebaskan diri dari kaum penjajah. Pengorbanan yang diberikan bukan hanya harta benda dan tenaga melainkan juga nyawa. Dalam lelagon dolanan tema perjuangan merebut ke- merdekaan bangsa antara lain dapat dilihat dalam teks lagu Empat Lima sebagai berikut. Teks Lag Empat Lima Galo kae genderane kumlebet angawe-awe Abang putih sang dwi warna iku lambang sejatine Negara kita wus merdika kang adhedhasar Pancasila Dumadi kalaning tanggal pitulas agustus sasine Nuju tahun sewu sangang atus patang puluh lima Ramabate ratahayu, holobis kontul baris Ramabate ratahayu, holobis kontul baris Tumandang bareng maju nungal tekad rahayu Merdeka merdeka merdeka bumi klahiranku Merdeka merdeka merdeka wus tetp merdeka. Terjemahan Lihatlah (itulah) bendera kita berkibar- kibar melambai-lambai Merah putih sang dwi warna sebagai lambang yang sejati Negara kita telah merdeka yang berdasarkan Pancasila Lahir pada tanggal 17, Agustus bulannya Pada tahun 1945 Aba-aba pemberi semanat: ramabate ratahayu, holobis kontul baris Bekerja bersama-sama untuk maju Satu tekat ( pasti ) selamat Merdeka merdeka merdeka, bumi kelahiran kita Merdeka merdeka merdeka (sekali merdeka) tetap merdeka Betapa dalam teks lagu Empat Lima mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah bangsa Indosesia. Kata-kata yang tersusun dalam teks lagu kiranya mudah dipahami. Teks lagu berupa berita kemerdekaan Indosesia tangal 17 Agustus 1945. Bendera sang merah putih telah berkibar sebagai tanda kemerdekaan bangsa berdasarkan Pan- casila. Untuk mempertahankan kemer- dekaan kita mesti bersatu dalam tekad maju dan merdeka. Nilai Estetik Estetik merupakan kata sifat dari estetika. Dalam studi filsafat, estetika digolongkan ke dalam persoalan nilai, sejajar dengan nilai etika. Tetapi dalam penggolongan objeknya, estetika masuk dalam bahasan filsafat manusia yang terdiri dari logika, etika, estetika, dan antropologis. Sebagai karya seni lelagon dolanan amat memperhatikan keindahan seni baik aspek garap musikal maupun teks lagu. Susunan kata dalam teks lagu mempertimbangkan aspek keindahan sastrawi. Sedangkan aspek lagu me- ngutamakan keindahan musikal. Teks sastra yang indah semakin terasa karena dilagukan dengan musikalitas tertentu. Apabila disajikan bersama gamelan Jawa, garap musikal instrumen mengutamakan keindahan musikal sesuai kaidah garap musikal yang berlaku. Lelagon Ronda Kampung .6. . ! 6 5 @ . 5 . !. . @ 6 Ken – thong-an im - bal tan - dha ron - dha 6 6 . . 6 5 6 ! @ . ! @ .. 5 5 Kam-pung a - ja we-gah yo a - yo kan-ca . 6 5 6 . 2 1 1 1 .. . 5 6 ! Mbok a - ja lem-bon pa-dha sing tang-gon . @ ! @ . x5x x! 6 6 6 . . j5j 6 !6 5 Kam-pung-e nya - ta a - doh a-doh dur-ja-na . . . . . . 2 5 5 . 2 5 5 . ! 6 Sak i - ki wan - ci - ne ngli-lir . . . . . . @ ! !. @ 6 j5jj 6 ! 6 5 Sing pa-dha tu - ru wan-ci-ne ngli-lir Terjemahan teks Bunyi kentongan imbal-imbalan sebagai pertanda siskamling Jangan malas marilah kawan Janganlah seperti lembu (malas) Yang tegu (agar) kampung jauh dari penjahat Sekarang saatnya bangun Yang sedang tidur saatnya bangun Lelagon Nonton Wayang, Sl Sanga .... 1 2 3 5 j.j 5 5 ! 6 @ ! 6 5 A yo kan -ca ra – me –ra - me non-ton wayang . .! 6 5 6!@ 5 xj6jx x! 5 2 5 ! @ 6 Ke - ne ce-dhak kot-hak a - pa neng mbu-ri ga–me - lan . . ..2 3 5 6j.j @ @ @@ ! jx@x x! 6 ! We-lha da - la bu ta - ne me-tu ki - pra han . @ @ @ 5 6 ! @ . @ @ @ ! 6 @ ! Jing -krak-jing-krak po-la-he ben-gak-ben-gok swa- ra - ne . @ @ @ 5 6 ! @ j.j 2 3 5 6 jx5xjx xjx x6 ! 6 5 Plorak-plo-rok mri-pa -te ga - we gi - ris sak - so-la-he Sampak Bms: 2 j.j 2 2 .6 6 6 g6 1 1 1 1 5 5 5 g5 _2 2 2 2 5 5 5 g5 1 1 1 1 6 6 6 g6 1 1 1 1* 5 5 5 g5 _ j21 2 3 g5 * pada sampak pakai alok. Sampak: .j @ . @ @ 5 6 ! @ . x6x x! . 5 ! 6 5 Ga lo ka - e ca me - tu te - nan .j @ . @ @ 5 6 ! @ . x6x x! . 2 3 5 6 la - ge ha - ne ca pu - na - ka - wan . .. . ! 6 @ ! j.j 5 6 ! @ ! jx2xjx x! 6 ! Se –mar Ga-reng Lu - rah Pe - truk la wan ba-gong . . . . @ jx!xjx x@6 5 2 3 5 6 jx5xjx x6 ! Mes-thi lu – cu te - tem-bang-an ga - we gu - yu Kedua lagu di atas yang pertama, Rondha kampung dicipta oleh Ki Nartosabdho. Sedangkan kedua, Nonton wayang ciptaan Widodo BS. Dari kedua lagu dapat dilihat dan dirasakan nuansa estetik musikalnya. Teks dan musikalitas kedua lagu digarap sedemikian rupa selain “enak” dirasakan secara estetik musikal juga mengandung pesan moral yang ber- manfaat bagi kehidupan bermasyarakat. Melalui teks lagu pesan moral dapat diketahui. Lelagon pertama, Rondha kampung mengajak masyarakat agar rajin melakukan siskamling sehingga kampung aman dan terhindar dari tindak kejahatan. Sedangkan lelagon kedua, Nonton Wayang pengarang mengajak kita semua untuk mencintai wayang sebagai produk budaya bangsa yang adi luhung. SIMPULAN Lelagon dolanan (anak) merupa- kan aset budaya bangsa mengandung berbagai nilai luhur seperti religius, kebersamaan, kebangsaan, cinta ling- kungan, cinta pada budaya, bangsa, dan negara, dan nailai luhur lainnya yang berakar pada budaya bangsa. Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui teks lagu secara tersirat maupun tersurat. Sedangkan nilai musikal estetik selain disampaikan melalui teks lagu, juga garap musikal lelagon. Nilai-nilai luhur tersebut berguna untuk membangun karakter dan jatidiri bangsa yang cerdas lahir batin, religius, santun, adil, dan beradab. Karena dirasa besar gunanya bagi lingkungan hidup, masyarakat, budaya, bangsa, dan negara, maka lelagon dolanan perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pelestarian dan pengembangan lelagon dolanan dapat melalui beberapa cara antara lain: 1) dikenalkan pada anak melalui pendidikan formal; 2) digunakan se- bagai materi latih dan pentas pada berbagai kelompok karawitan Jawa; 3) kreatifitas dan produktifitas para pelaku seni karawitan dalam mencipta lelagon dolanan baru yang aktual sesuai perkembangan jaman; 4) kebijakan pe- merintah yang peduli terhadap peles- tarian dan pengembangan; dan 4) par- tisipasi para pengusaha terutama yang bergerak dalam bidang usaha media masa elektronik dan cetak untuk memproduksi dan mempublikasikan kepada khalayak. DAFTAR PUSTAKA Bastomi, Suwaji. 1993. Proses Apresiasi, Kreasi, dan Belajar. Semarang: IKIP Semarang Press. Compbell, Don. 2001. Efek Moart Memanfaatkan Kekuatan Musik untuk Mempertajam Pikir, Meningkatkan Kreativitas, dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta: Gramedia putaka Utama. Depdiknas. 2001. Kurikuum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Seni Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas. Garha, Oho. 1990. Corak Pendidikan Seni Indonesia, dalam Warta Scienta, edisi khusus, Januari. Harjito, Priadi Dwi. 2001. ”Kebinekaan Laras, Keserupaan Laras, dan Metode Penetapannya”. Ma- kalah. Bandung: STSI. Hastanto, Sri. 1986.’’The Concept of Pathet in Central Javanese Gamelan Music’. Disertation. Durham University. Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalam Musik. Jakarta: Dep- dikbud. Lindsay, Jennifer. 1989. Klasik Kitsch Kontemporer Sebuah Studi Tentang Seni Pertunjukan Jawa. Yogya- karta: UGM Press. Martapangrawit. 1969. 1975. “Penge- tahuan Karawitan”. Jilid I dan II. Surakarta: ASKI. Miller, Hugh M. Tnp thn. Apresiasi Musik. Terjemahan Braman-tyo,T. Yogyakarta: Lentera Budaya. Munandar, S.C. Utami. 1987. Mengem- bangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Gramedia. Jakarta Rader, Malvin. 1976. Terj. Jhony Prasetyo. Arti Nilai dan Seni. New Jersey: Prentice Hall Englewood Dliffs. Rohidi, T. R., 2000. Kesenian dalam Pen- dekatan Kebudayaan. Bandung: STSI Bandung. Rustopo. 2000. Bangun Jatuh Industri Rekaman (musik) Gending Karawitan Jawa. Jurnal Ilmu dan Seni Vol. II No.2. Sura-karta: STSI. Soemarjo, Jacob. 2000. Filsafat Seni. Bandung : ITB. Sumarsan. 2003. Gamelan Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa. Supanggah, R. 2002. Bothekan Karawitan I. Jakarta: MSPI. Supanggah, R. 2009. Bothekan Karawitan II. Surakarta: ISI. Waridi. 2000. Martapangrawit Empu Karawitan Gaya Surakarta. Yogyakarta: Yayasan Mahavira. -------------- .2000. “Garap dalam Karawitan Tradisi: Konsep dan Realitas Praktik”. Makalah. Surakarta: STSI. ---------------- 2003. Gending dalam Pandangan Orang Jawa: Makna Fungsi Sosial dan Hubungan Seni. Dalam Kembang Setaman; Yogyakarta ISI.