HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Menelusuri Sarana Penyebaran Musik Keroncong (Exploring a Dissemination Medium of Keroncong Music) R. Agoes Sri Widjajadi Staf Pengajar]urusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta Abstrak Keberadaan dan keberlangsungan musik keroncong di Indonesia hingga kini masih tampak jelas sebagai suatu genre musikal yang menjadikan tipikal musik Indonesia. Menyimak pada tahun 1920-an musik keroncong sudah mendapat tempat di hati masyarakat, selain itu lagu-lagu keroncong pun sudah menyebar luas dan digemari masyarakat luas, kendatipun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang. Dengan demikian persoalan tersebut tak lepas dari suatu proses penyebaran dengan melalui berbagai sarana yang ada. Musik keroncong yang semakin terjaga keberadaannya, berkembang pada berbagai aspek musikal, serta meluas daya jangkaunya. Oleh karena itu ada beberapa peran sarana penyebaran yang ditelusuri, yaitu pola penyebaran melalui: (1) lomba musik keroncong; (2) media cetak; (3) media rekam; (4) radio dan televisi; (5) layar lebar; (6) pementasan; (7) pertumbuhan kelompok orkes keroncong. Kata kunci: penyebaran, musik keroncong A. Pendahuluan Kehidupan seni pertunjukan musikal tak akan lepas dari sendi kehidupan manusia. Keberadaan seni musikal berlangsung seiring pula dengan kondisi serta struktur sosial maupun budayanya. Tak pelak lagi bahwa perkembangan dan perubahan struktur sosial dan budayanya akan melibatkan pula struktur serta bentuk seni pertunjukan musikal. Proses komunikasi dalam masyarakat dapat dilakukan melalui aktivitas sosial, yaitu dengan adanya interaksi sosial sebagai suatu proses sosial, dan interaksi sosial (budaya, penulis) tersebut merupakan hubungan sosial yang dinamis (Soekanto, 1990: 67). Kenyataan menunjukkan bahwa keberadaan dan keberlangsungan musik keroncong adalah merupakan salah satu seni musik yang hidup, tumbuh, serta berkembang di buminusantara Indonesia, khususnya di Jawa merupakan pusat pengem- bangan yang utama dalam abad ke-20 ini (Kornhauser dalam Kartomi (ed.), 1978: 107). Dengan demikian, hal tersebut merupakan suatu hasil dari interaksi sosial yang dinamis dalam masyarakat. Proses sosial yang dinamis dalam masyarakat senantiasa memiliki suatu proses komunikasi pula, yaitu dapat tampak pada pola penyebaran sebagai proses komunikasinya. Mengamati di awal abad ke-20, kendatipun musik keroncong belum HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 menemukan bentuk yang sempurna, namun sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini diungkap pula oleh Tancil Paleo yang menyatakan bahwa pada tahun. 1920-an lagu-lagu keroncong sudah menyebar luas dan digemari orang, walaupun pada waktu itu perbendaharaan lagu-lagu keroncong masih kurang, namun musik keroncong di Semarang atau Jawa Tengah mulai merintis lagu daerah yang dimainkan keroncong (dalam Budiman B.J., 1979: 76, 101). Menyimak hal tersebut di atas, tanpa disadari dan tak terelakkan, bahwa proses komunikasi pada pola penyebaran musik keroncong sebenarnya telah dilakukan dengan berbagai cara. Oleh karena itu penulis menatap perkembangan musik keroncong dengan menelusuri langkah-langkah pola penyebaran musik keroncong mulai di awal abad ke-20 yang telah merambah keberadaannya serta kehidupannya di masyarakat dari berbagai profil penyebaran. B. Penyebaran Musik Keroncong Guna menapaki langkah-langkah penyebaran musik keroncong mulai di awal abad ke-20 yang telah merambah keberadaannya serta kehidupannya di masyarakat, maka akan diuraikan be- berapa tentang profil penyebarannya, yaitu : 1. Profil Penyebaran melalui Lomba Musik Keroncong Di awal abad ke-20, musik keroncong menyebar dengan cepat -- antara lain dengan concours yang diadakan di pasar-pasar malam -- dan semakin dirasakan sebagai "warisan budaya". Sejak itu pula pusat-pusat dunia keroncong berkembang di - daerah kebudayaan Jawa (Judith Becker, 1975: 15; Tim LRKN-LIPI, 1986: 138,139). Demikian pula pola penyebaran melalui lomba keroncong (kroncong concours) yang pernah diadakan di Surabaya pada tahun 1924 (Kusbini, 1972:19). Pada tahun 1925 diadakan di Tegal, Pekalongan, Cirebon (Budiman BJ.,1979: 132,134,157). Abdullah, se- orang pimpinan Orkes Keroncong "Lief Java" [sic] mengatakan, bahwa sejak tahun 1920-an hingga terakhir di zaman Jepang, setiap tahun selalu mengadakan Fandel Concours. Pada waktu itu dikenal dengan sebutan "Fandel Concours Pasar Gambir", yang juga di tempat-tempat hiburan seperti Prinsenpark [sic] (sekarang Lokasari) (Budiman B.J., 1979: 84), 'Fandel Concours' yang diadakan oleh perusahaan rokok Perahu Layar di Alun-alun kota Semarang (Budiman B.J.,1979: 107). Contoh kegiatan yang lain adalah diselenggarakannya lomba keroncong Catur Tunggal/Tri Tunggal yang meliputi RRI Yogyakarta, Surakarta, Semarang, dan Purwokerto (Budiman BJ.,1979: 109); lomba atau festival vokal saja dalam acara Bintang Radio di RRI (hingga kini masih berlangsung dan berkembang menjadi Bintang Radio dan Televisi); diadakan lomba grup musik keroncong di Taman Ismail Marzuki, yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta (Budiman B.J.,1979: 89); kemudian, festival keroncong tingkat nasional yang pertama kali diadakan adalah pada tanggal 28, 29, dan 30 Nopember 1978 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Lomba yang diprakarsai oleh Direktorat Pengembangan Kesenian ini diikuti oleh setiap propinsi di HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Indonesia dengan mengirimkan satu perkumpulan musik keroncong, kecuali dari Propinsi Timor Timur dan Irian Jaya tidak mengirimkan wakilnya (Budiman B.J., 1979:96). Kendati lomba tidak sesemarak masa-masa silam, namun masih banyak pihak yang menyelenggarakan lomba musik keroncong khususnya yang diprakarsai oleh para penikmat musik keroncong maupun pengelola radio amatir. 2. Profil Penyebaran melalui Media Cetak Sebuah publikasi melalui media cetak merupakan sarana yang sangat langka pada saat itu, namun suatu kenyataan bahwa upaya tersebut dapat terlaksana kendati memiliki banyak keterbatasan pada sistem publikasi. Media cetak yang dilakukan adalah menotasikan musik atau lagu-lagu keroncong melalui media cetak "Tio Tek Hong Company, Batavia' yang telah mencetak dan mempublikasikan lagu- lagu keroncong yang dibuat oleh Paul Seeking dan Fred Belloni (Bronia Kornhauser dalam Margaret J. Kartomi (ed.), 1978: 133); "Himpunan lagu-lagu djenis krontjong", tjiptaan para olah musik Krontjong Indonesia, diterbitkan oleh swasta (Kusbini, 1976: 4); Penerbitan "Lagoe-lagoe Kroncong asli" susunan Andy Muljo, diterbitkan Penerbit Gunung Agung Djakarta; kemudian "Rangkaian Melati" oleh Fa. Chien Hsing, Serang; "Himpunan Lagu Keroncong", Jakarta, 1978; "Jantung Hati I, Lagu- lagu Keroncong Indonesia, UP Indonesia, Yogyakarta, 1978; Kusbini membuat "Lagu-lagu Keroncong Indonesia I, dan II", dan "Solo Gitar Irama Klasik Indonesia I" (Harmunah, 1987: 74). Judul "Verzameling van diverse Krontjong liederen" diterbitkan oleh Muziekhandel Naessens & Co [sic] di Surabaya (KUSbini, 1976: 13). Perkembangan melalui media cetak telah berkembang derigan meningkatkan kualitas materi maupun bahannya dan telah tersebar di berbagai toko buku. Selain itu sudah banyak penerbit yang menerbitkan buku repertoar musik keroncong yang dilengkapi pula oleh sistem penulisan notasi angka yang diserta notasi balok serta akornya. 3. Profil Penyebaran melalui Media Rekam Langkah penyebaran musik keroncong yang lain adalah melalui media rekam dalam bentuk piringan hitam, atau pita kaset, bahkan media rekam kini sudah menjadi lebih berkembang, yaitu dalam bentuk cassette video, compact disc, laser compact disc, dan video compact disc. Perusahaan yang pada waktu itu mengedarkan musik keroncong melalui pita kaset di antaranya adalah Perusahaan "Indah Musik" tahun 1974; dan piringan hitam di antaranya adalah "Beka" Semarang, "Columbia" Jakarta, cap "Anjing Hitam" tahun 1932, "his Master's Voice" pada tahun 1934, "Kenari", "Odeon", "Kuda Dua" (Delima) " (Budiman BJ:, 1979: 126, 147), piringan hitam dari N. V. Handel My "Hoo Saen Hoo" (Kusbini, 1972: 19). Bila mengamati penyebaran melalui media rekam, maka bentuk piringan hitam sudah beredar lagi namun bentuk VCD atau MP3 musik keroncong semakin banyak peminatnya. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 4. Profil Penyebaran melalui Siaran Radio dan Televisi Lagu-lagu keroncong selanjutnya populer dengan pola penyebaran melalui radio ketika radio mulai mengudara tahun 1925 di Jawa (Bronia Kornhauser dalam Margaret J. Kartomi (ed.), 1978:133). Kusbini sebagai tokoh dan pelaku yang berkecimpung dalam perjalanan musik keroncong telah melakukan penye- baran musik keroncong melalui siaran radio di Surabaya dari tahun 1933 sampai 1939 di N.I.R.O.M. (Neder- landsch Indische Radio Omroep Maatschappy) di Surabaya dan di C. I. R.V.O. (Chineesche Inheemsche Ra- dioluisteraars Vere-niging Oost Java), kemudian di Djakarta pada tahun 1942-1945 di radio Hosokanxikyoku dan di Keimin Bunka Sidosho (Budiman B.J., 1979:113). Kegiatan siaran radio lain yang menyelenggarakan acara musik keroncong, di antaranya pada tahun 1920-an adalah S.R.V. (Solo Radio Vereeniging) [sic], S.R.I. (Solo Radio Indie), NIROM (Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta) (Budiman BJ.,1979: 113), kemudian di Semarang adalah Radio Midden Java I, Midden Java II, Radio Dokter (Budiman BJ.,1979: 105), sedangkan di zaman Jepang antara lain adalah P.P.R.K. (Pusat Penyiaran Radio Ketimuran), Radio V.O.R.O. (radio rakyat atau sekarang sering disebut radio amatir) (Budiman BJ.,1979: 143). Hingga sekarang siaran radio pemerintah dan swasta masih melang- sungkan siaran musik keroncong. Selain melalui siaran radio, secara rutin pula siaran melalui televisi, khususnya televisi pemerintah yang terprogam kendati memiliki formasi pemain lebih lengkap dalam bentuk orkestra mau- pun televisi swasta pada umumnya. Betapa luas jangkauan penye- baran musik keroncong melalui siaran radio kepada masyarakat. Hingga kini pun masih terdengar siaran musik keroncong yang dapat didengar di tempat-tempat umum, yaitu di bebe- rapa pusat pertokoan, rumah sakit, rumah makan, dan di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). 5. Profil Penyebaran Melalui Layar Lebar Suatu kenyataan bahwa pola penyebaran musik keroncong melalui layar lebar sudah jarang diproduksi dan senantiasa jarang pula dindnati oleh masyarakat selain itu mungkin kurang menguntungkan dari aspek bisnis pada masa kini. Kendati demikian pernah pula diproduksi seperti halnya Kusbini berolah musik dalam film "Djantung Hati", "Air Mata Ibu" di Malang/ Djakarta pada tahun 1940-1942 dengan pruduser Majestic Film Co (Kusbini, 1972: 19). 6. Profil Penyebaran melalui Pementasan Pola penyebaran musik keron- cong telah dilakukan pula dengan adanya kegiatan pementasan musik keroncong dalam acara hiburan atau pun dalam acara lomba di pasar- malam (Tim LRKN-LIPI, 1986: 130). Pasar malam (aight bazaar) merupakan bagian penting dari kegiatan atau aktivitas komersial di kota pelabuhan. Sebagai contoh bahwa pasar malam di Jakarta dan Semarang selalu mempunyai sebuah tempat (stand) sebagai tempat untuk pertunjukan musik keroncong atau pertandingan tinju (Becker, 1975: 15). Pertunjukan HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 musik keroncong yang lain, misalnya di Semarang diadakan di pasar malam Tuan Manuk, Pasar Malam Sentiling, Pasar Malam Krido Martoyo (Budiman B.J.,1979: 105), di Sri Wedari, Solo setiap bulan Romadhon diadakan dalam acara perayaan.yang disebut Maleman (Budiman H.J., 1979: 111-113), di Balai Kesenian Pasar Malam Sekaten Yogyakarta dan di Gedung pertunjukan PPBI Yogyakarta (Kusbini, 1972:67). Pengaruh keberlangsungan inter- aksi sosial-budaya merambah dunia musik keroncong hingga kini. Hal ter- sebut tampak pada pergeseran musik keroncong sebagai musik rakyat menjadi musik populer yang meru- pakan salah satu hasil pengaruhnya. Sebenarnya hal ini suatu proses yang galib bahwa tradisi populer paling mudah dipengaruhi oleh budaya asing modern (Brandon, 1967: 112). Persen- tuhan budaya dari interaksi sosial- budaya tersebut tampak terefleksi pada musik keroncong di sekitar tahun 1960, yaitu kesadaran komersialisasi seni musikal telah memberikan penampakan yang lain dalam musik keroncong, yakni dengan menambah- kan alat musik gesek dengan berbagai aransemen serta tanpa meninggalkan inti musik keroncong lama. Hal ini sudah merupakan suatu modernisasi pola garap dalam musik keroncong. Inovasi semacam ini dipertunjukkan pertama kali di World's Fair pada tahun 1961 oleh grup orkes keron- cong pimpinan Brigadir Jenderal Pirngadi dan aransemen baru ini disebut keroncong beat (Becker, 1975: 17). Langkah berikutnya adalah menembus pada arena night club di negara-negara Asia yang tak dapat dielakkan, bahwa Grup pertama yang mendapatkan sukses adalah grup "The Step" (Becker, 1975: 19). Seiring dengan perkembangan zaman yang senantiasa diikuti oleh perkembangan pola garap (arrangement) dan instrumentasi, maka masih pula musik keroncong mendapatkan ke- sempatan dalam dunia pertunjukan, misalnya sebagai hiburan pada acara perhelatan nasional maupun regional, acara rutin di hotel, maupun sarana tempat yang difasilitasi oleh radio amatir. 7. Profil Penyebaran melalui Pertumbuhan Grup Dalam awal abad ke-20, penye- baran serta perkembangan musik ke- roncong dapat kita simak pula melalui pertumbuhan grup atau kelompok musik keroncong. Pada waktu itu, kondisi perkampungan masih dalam suasana penjajahan, sehingga di wilayah perkampungan timbul pula keinginan-keinginan untuk berkelakar, serta perasaan ingin menghibur diri sekedar menghilangkan rasa jenuh dan risau. Perasaan demikian dicurahkan dan diungkapkan pula dengan keterlibatan diri dalam dunia seni yang ada, di antaranya adalah seni musik. Secara berkelompok terdapat kelompok-kelompok yang membawa gitar dan alat musik keroncong yang memainkan dan menyanyikan lagu- lagu keroncong. Mereka berjalan se- malaman di kampung-kampung tanpa merasakan lelah sambil membawakan berbagai lirik cinta yang memungkin- kan menggoda gadis-gadis yang berada di sekitarnya. Apalagi bila di antaranya ada yang sedang dirundung cinta, maka dapat dikatakan setiap malam berjalan di depan rumah wanita yang telah menjadi idaman hatinya. Umum- nya mereka bertiga dengan membawa HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 gitar dan alat musik yang disebut keroncong sambil berjalan menyanyi- kan lagu keroncong dan stambul dengan memilih pantun-pantun yang mengena di hati. Saat bulan purnama dianggap sebagai puncak keindahan bermain keroncong. Pemain dan penyanyi keroncong dalam kelompok seperti ini sering disebut "Buaya Keroncong" (Bronia Kornhauser, dalam Margaret]. Kartomi (ed.), 1978: 129; Judith Becker, 1975: 1). Pada umumnya buaya keroncong ini adalah keturunan Indo-Eropa, dan beberapa yang lain dari India dan China, sementara sisanya adalah Melayu (Bronia Kornhauser, dalam Margaret J. Kartomi (ed.), 1978: 130). Di Batavia, kendati hampir di setiap kampung terdapat grup keron- cong (misalnya di Kampung Glodok), namun ada pula beberapa grup keroncong yang teroganisasi dengan baik dann dikenal dan menonjol pada waktu itu, yaitu antara lain: Keroncong Tugu, Orkes RAS (Rukun Agawe Santosa) yang akhirnya dirubah de- ngan nama Lief Java yang didirikan pada tahun 1918, Jong Java, De Gulden [sic], Orkes Keroncong Sinar Bulan, Orkes Keroncong Aroma, Orkes Keroncong Puspa Kemala, Orkes Keroncong Lief Souvenir, Orkes Keroncong M. Sagi, Orkes Keroncong Satria (Budiman B.J., 1979: 78). Grup-grup keroncong yang tumbuh di Semarang di antaranya adalah: Orkes De Wiete, Orkes Ke- roncong Mrapi, S.O.V.L.A.S.O. (Strijk Orkest Vereeniging Langen Agawe Santosa Oetomo) [sic], Jong Indie, Himalaya, De Bllum, Na Sirine, Matahari, Tujuh Guru, The Vocel, Muria, S.O.V. Mas (Budiman B.J., 1979:1 01-105). Grup Keroncong yang dikenal di Surakarta di antaranya adalah: Orkes Keroncong Sinar Muda, Orkes Nachtegaal [sic], Orkes Monte Carlo, Orkes Marco (Budiman B.J., 1979:111 - 113). Demikian pula di Yogyakarta dengan adanya Orkes Keroncong Cempaka Putih (Budiman B.J., 1979: 96). Demikian halnya dengan anggota orkes keroncong pada periode tahun 1930-an di Semarang, bukan saja orang tua yang menyenangi lagu keroncong, namun juga anak-anak kecil pun juga menyenangi. Penyanyi cilik pada waktu itu di antaranya adalah Kasran dari SOVLASO, Darman dari SOV Rapi, Mulyani dari Midden Java, Jaswadi dan Ginglam dari SOV Mas (Budiman B.J., 1979: 105), bahkan Annie Landouw ketika berusia 11 tahun sudah memberanikan diri untuk mengikuti Fandel Concours di Solo pada tahun 1927 (Budiman B.J., 1979:129). Demikian pula pada tahun 1947-1950, kelompok orkes keroncong "Penglipur Lara" mempu- nyai anggota pemain yang terdiri dari anak-anak yang berusia sekitar sembilan sampai belasan tahun. Nama anak tersebut di antaranya adalah Sugiarto, Suroto, S. Dharmadi, S Dharyono, dan Budiman. Di kota-kota besar masih banyak tumbuh kelompok musik keroncong yang bersifat amatk sehingga formasi pemain senantiasa berganti-ganti. Kelompok tersebut lazimnya dilandasi atas dasar rasa kegotong-royongan dan gagasan penyatuan rasa guyub yang terjadi sesaat. Namun semua ini merupakan salah satu pola penyebaran yang khas atas keberadaan musik keroncong. C. Penutup HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Pada awalnya tak pernah terusik bahwa musik keroncong telah memi- liki perjalanan yang unik serta sangat kompleks terhadap masyarakat atas keberadaan dan keberlangsungannya. Komunikasi pun telah tampak sangat gigih upayanya guna menebar kekuat- an genre nya. Hal tersebut dapat ditampakkan oleh hasil dari beberapa peristiwa pada langkah pola pengem- bangan dan penyebarannya, yaitu di antaranya adalah: (1) profil penyebaran melalui lomba musik keroncong; (2) profil penyebaran melalui media cetak yang sudah semakin banyak meng- hasilkan publikasi yang memuat notasi untuk repertoar rrmsik keroncong; (3) profil penyebaran melalui media re- kam yang telah berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengeta- huan dan teknologi canggih; (4) profil penyebaran melalui radio dan televisi yang telah menyediakan menu acara khusus musik keroncong dengan siaran langsung; (5) profil penyebaran melalui layar lebar; (6) profil penye- baran melalui pementasan; (7) profil penyebaran melalui pertumbuhan ke- lompok orkes keroncong. Seiring kedudukan musik keroncong dalam budaya masyarakat dengan perkembangan ilmu pengeta- huan dan budaya teknologi tinggi dalam komunikasi melalui berbagai pola penyebaran, namun pada akhir- nya hingga kini musik keroncong merupakan satu genre musikal senan- tiasa memiliki eksistensi yang cukup tangguh, bahkan musik keroncong menjadikan serta identik sebagai salah satu khazanah musik Indonesia yang bersahaja. Daftar Pustaka Becker, Judith, 1975, "Kroncong, Indonesian Popular Music", da- lam Asian Music VIS, Volume I. Southeast Asia Issue. Brandon, James R., 1967, Theatre in Southeast Asia, Cambridge, Massac- husset Harvard University Press. Budiman B.J., 1979, Mengenal Kroncong dari Dekat, Jakarta: Perpustakaan Akademi Musik LPKJ. Harmunah, 1987, Musik Keroncong. Se- jarah, Gaya dan Perkembangan, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi. Kornhauser, Bronia, "In Defence of Keroncong", dalam Margaret. J. Kartomi (ed), 1978, Studies In Indonesia Music, Clayton, Victoria, Australia: The Centre of Southeast Asian Studies, Monash University. Kusbini, 1972, Krontjong Indonesia, Musika, Jakarta: Brosur Ilmu Mu- sik & Koreografi, No.l, LMK. ____, 1976, "Sejarah Kehidupan - Per-kembangan dan Asal-Usul Seni Musik Keroncong Indone- sia", dalam Ceramah Kata, Nada (musik), dan Rupa (peragaari), Yogyakarta: CR. Soerjono Soekanto, 1990, Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press. Tim LRKN-LIPI, 1986, Kapita Selekta Manifestasi Budaya Indonesia, Ban- dung: Penerbit Alumni.