HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Perubahan Musik Rebana menjadi Kasidah Modern Di Semarang sebagai suatu Proses Dekulturasi dalam Musik Indonesia (The Change of Rebana Music to became Modern Kasidah in Semarang as a Deculturation Procces in Indonesian Music) Bagus Susetyo Staf Pengajar Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang Abstrak Musik kasidah modern adalah jenis musik yang bercirikan Islam yang ada di masyarakat kota Semarang saat ini, dan merupakan suatu fenomena seni pertunjukan yang ada di masyarakat seiring dengan keberadaan seni pertunjukan musik ke-Islaman yang lain. Jenis musik ini tidak hadir begitu saja seperti yang ada sekarang, tetapi mengalami suatu proses akulturasi, yang diperkirakan berasal dari bentuk-bentuk musik Islam yang ada sebelumnya yang membentuk musik rebana, kemudian mengalami proses dekulturasi sehingga terbentuklah musik kasidah modern. Pada proses dekulturasi musik rebana mengalami perubahan budaya musik dan perubahan elemen-elemen musikalnya, baik pada komposisi musiknya maupun pada bentuk penyajiannya yang mengakibatkan satu sisi mengalami kemajuan pada aspek hiburannya dan pada sisi lain mengalami perubahan pada nilai-nilai sakral ke-Islamannya. Kata kunci: Perubahan, Rebana, Kasidah, Dekulturasi A. Pendahuluan Masyarakat memahami bahwa musik kasidah modern di kota Semarang merupakan bentuk seni pertunjukan musik yang bercirikan Islam sebagai suatu fenomena yang ada di masyarakat sekarang. Jenis musik ini tumbuh dan hadir di kota Semarang kira-kira baru pada awal tahun 1970-an, hal ini ditunjukkan dengan berdirinya kelompok-kelom- pok musik kasidah, seperti: Bintarin, Nasida Ria, Nida Ria dan lain-lain. Jenis musik ini tumbuh dan berkem- bang di kota Semarang dan kota-kota di sekeliling kota Semarang, seperti: Demak, Kendal, Pekalongan, Batang, Temanggung, Purwodadi, Jepara, dan lain-lain. Bentuk komposisi dan penyaji- annya adalah sebuah nnsnmbel besar dengan pola ritme terbangan, masuk dalam kategori musik tradisi bertangga nada dintonis, memakai peralatan- peralatan seperti: terbangan, drum set, ketipung, tamborin, gitar listrik dan bas listrik, seruling, biola dan lain-lain dengan beberapa penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Islami dalam bahasa Indonesia, Arab dan bahasa daerah. Musik dan syairnya bertemakan Islam dan dipentaskan dalam peristiwa-peristiwa yang bersifat ritual dari hiburan. Jenis musik ini diperkirakan berasal dari HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 bentuk-bentuk musik Islami yang ada sebelumnya, yang pada awalnya dibawa oleh para wali dan penyebar agama Islam bersamaan dengan hadirnya agama Islam di Indonesia, karena mempunyai elemen-elemen musikal yang sama, berakulturnsi antar sesamanya membentuk musik rebana, yang kemudian mengalami proses akulturasi dengan musik Barat dan proses dekulturusi yang akhirnya terbentuklah musik kasidah modern di kota Semarang. William A. Haviland (1985: 26) dalam bukunya Antropologi Jilid 2, menyatakan bahwa akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang memiliki kebudayan yang ber- beda saling berhubungan secara lang- sung dengan intensif, yang kemudian menimbulknn perubahan-perubahan besar pada pola kebudayan dari salah satu atau kedua kebudayaan yang bersangkutan. Di antara variabel-varia- bel yang banyak itu termasuk tingkat perbedaan kebudayaan, keadaan, in- tensitas, frekuensi dan semangat persaudaraan dalam hubungannya siapa yang dominan dan siapa yang tunduk, dan apakah datangnya pengaruh itu timbal balik atau tidak. Menurut Kodiran (1988: 87), akulturasi akan terjadi apabila terdapat dua kebudayaan atau lebih yang berbeda sama sekali (asing dan asli) berpadu sehingga proses-proses atau pun penyebaran unsurunsur kebuda- yaan asing diolah sedemikian rupa ke dalam kebudayaan asli dengan tidak menghilangkan identitas maupun ke- asliannya, ini berlaku pada semua aspek kehidupan seperti: sosial, eko- nomi, hukum, adat-istiadat, politik, agama, pendidikan dan termasuk kese- nian. Dengan demikian akulturasi juga dapat diterapkan pada perubahan bu- daya musik, termasuk perubahan bu- daya musik dalam musik Indonesia yaitu musik kasidah modern di kota Semarang. Akibat kontak kebudayaan atau peristiwa akulturasi, sering terjadi perubahan dan perkembangan kebu- dayaan pada masyarakat setempat, yang prosesnya dapat menimbulkan sejumlah masalah baik yang positif maupun negatif. Adapun masalah- masalah tersebut merupakan bagian dari akulturosi itu sendiri, masalah- masalah tersebut adalah adisi (addition), sinkretisme (syncretism)., subtitusi (subti- tutiori), dekulturasi (deculturation), dan rejeksi (rejection}. Dari beberapa akibat akulturasi tersebut yang paling sesuai dengan perubahan kebudayaan musik yaitu bagaimana berubahnya musik rebana menjadi musik kasidah modern, adalah peristiwa dekulturasi: Menurut Kodiron (1988: 90) dekulturasi adalah tumbuhnya unsur kebudayaan yang baru untuk meme- nuhi kebutuhan baru, yang timbul karena perubahan situasi. Musik reba- na adalah jenis musik yang berasal dari musik yang bercirikan Islam yang ada sebelumnya, karena berakulturasi secara lokal dan budaya Arab, kemudian dalam kurun waktu yang panjang musik rebana mengalami proses dekulturasi yaitu mengalami perubahan pada elemen-elemen musiknya untuk memenuhi kebutuhan penyajian yang baru karena situasi yang baru, maka terbentuklah musik kasidah modern. Teori-teori antropo- logi diatas memang sesuai apa yang terjadi pada musik kasidah modern di kota Semarang, untuk itu akan dibahas lebih lanjut pada uraian di berikut ini. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 B. Proses Perubahan Budaya Musik Musik kasidah modern adalah jenis musik yang diperkirakan berasal dari bentuk musik yang ada sebelumnya yaitu musik rebana. Musik rebanapun diperkirakan berasal dari bentuk-bentuk musik bercirikan Islam yang ada sebelumnya. Bentuk-bentuk musik tersebut adalah, (1) Salawatan, yaitu bentuk puji-pujian terhadap kebesaran Nabi Muhammad SAW pada acara-acara ritual keagamann masyara- kat Semarang, salawatan ini berkem- bang di kota Semarang dan sekitarnya, (2) Barzanji, seni vokal bercirikan Islam yang berkembang di kota Semarang dan sekitarnya, (3) Ken- trung, yaitu musik bercirikan Islam yang diperkirakan paling awal kehadir- annya di pulau Jawa, musik ini ber- kembang di Kabupaten Blora, Pati, Jepara, dan Purwodadi, (4) Zapin pesisiran, yaitu kesenian tari yang diiringi oleh musik terbangan, kesenian ini berkembang di Demak dan Semarang, (5) Opak abang, yaitu kethoprak dan terbangan, berkembang di Kendal, Boja dan pinggiran kota Semarang, (6) Kuntulan, yaitu tari yang diiringi musik terbangan yang berkem bang di daerah Kendal, Kabupaten Temanggung dan Pemalang, (7) Simtuduror, yaitu kesenian musik sala- watan dengan membaca kitab Maulid yang bernama Simtuduror, dengan diiringi musik terbangan, kesenian ini berkembang di Pekalongan, Kendal dan Semarang, (8) Kesenian Dengklung, yaitu kesenian yang dimainkan oleh 10 12 orang dengan peralatan: jidur, terbangan, kendang, kemung dan tamborin. Untuk mengiringi suatu ta- rian, kesenian ini berkembang di dae- rah Batang, (9) Gambus, yaitu musik bercirikan Islam yang mendapat pengaruh dari Arab dengan alat musik gambus, berkembang di daerah Pantura pulau Jawa. Jenis-jenis musik bercirikan Islami ini diperkirakan kehadirannya di tanah Jawa khususnya Semarang ber- samaan dengan kehadiran Islam di Jawa yang dibawa oleh para wali dan penyebar agama Islam. Bentuk-bentuk seni pertunjukan ini masih bersifat individual berupa ansambel sejenis dan mempunyai struktur komposisi kecil sederhana, kemudian berkem- bang dalam kurun waktu yang lama cenderung untuk membentuk bentuk komposisi yang lebih kompleks dan mengalami proses akulturasi antar sesamanya. Akulturasi yang bersifat lokal dan berpengaruh dari kebudaya- an Arab, serta proses yang panjang, maka diperkirakan terbentuklah musik Rebana. Terbentuknya musik rebana disebabkan oleh dua hal pokok yaitu (1) Karena mempunyai elemen-elemen musikal yang sama, terutama adanya instrumen terbangan, (2) Mempunyai bentuk syair ke-Islaman yang sama. Musik rebana mempunyai bentuk penyajian dengan bentuk ansambel yang lebih besar dan mempunyai aspek menghibur yang lebih baik, tetapi elemen-elemen dasar musik Islaminya masih ada. Diperkirakan musik rebana mulai berkembang di Pantura Jawa, termasuk semarang dan sekitarnya sekitar abad XVI sampai sekarang. (Si naga, 2002: 31-44) Saat ini perkembangan musik sedemikian maju, musik Barat tak ter- bendung masuk ke Indonesia dengan jenis musik hiburan yang modern dengan peralatan dan bentuk penyajian yang menarik, seperti: musik pop, jazz rack, blues, dangdut, keroncong bahkan campursari dan sebagainya, HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 maka musik rebana dianggap sebagai musik bercirikan Islam pedesaan yang ketinggalan zaman, budaya pesantren tradisional, sehingga dianggap kurang representatif, kuno dan tidak diminati kaum muda. Dengan keadaan yang - demikian, musik rebana mengalami perubahan diri, atau sebuah evolusi kecil dalam hal komposisinya sehingga ia mengalami proses akulturasi, yaitu membuat suatu perubahan bentuk dirinya dengan membuat perubahan baru dengan mengambil hal-hal yang baru. Selanjutnya musik rebana meng- ambil elemen-elemen musik Barat, terutama peralatan, bentuk penyajian, syair dan meninggalkan sebagian ele- men-elemen musik rebananya, tetapi tetap mempertahnnkan ciri Islamnya, maka terbentuklah musik kosidah modern di kota Semarang. Musik kasidah modern sebagai musik yang berbeda dari musik reba- na, tetapi berasal dari musik rebana yang mengalami proses dekulturasi, di suatu sisi ia kehilangan nilai-nilai sakral Islaminya, pada sisi lain ia mempunyai nilai hiburan yang lebih menarik daripada musik rebananya. Kehilangan nilai sakralnya karena dalam musik kasidah syair yang ia gunakan dapat dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia dan bahasa daerah, sedangkan pada rebana syair yang digunakan hanya dalam bahasa Arab, selain itu bentuk penyajian, cara menyanyi, kostum, rias, dan lain sebagainya, lebih bernilai hiburan, walaupun tema-tema lagu tetap dalam koridor keislaman. Mengenai peralatan terjadi perubahan yang besar dengan meninggalkan peralatan-peralatan yang dianggap sangat tradisional, seperti: bas rebana, kempling, yang diganti dengan bas listrik dan drum set. Diperkkakan bahwa musik kasi- dah modern secara umum maupun yang ada di kata Semarang berasal dari musik rebana yang mengalami proses dekulturasi, dan musik rebana itu sendiri berasal dari jenis-jenis musik bercirikan Islam yang ada sebelumnya, sesuai dengan yang ditulis oleh peneliti Barat Helene Bouvier (2002: 210- 220), dalam disertasinya yang berjudul Lebur: "Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura". Bouvier meneliti seni pertunjukan pada masy- arakat Madura, salah satunya adalah seni pertunjukan yang bercirikan Islam, dalam tulisannya dikatakan bahwa landasan dari semua jenis musik berckikan Islam adalah kasidah yang merupakan puji-pujian kebesaran untuk Allah swt dan Nabi-Nya dalam bahasa Arab, seluruh corpus nyanyian/ kesenian Islam dapat ditentukan ber- dasarkan penggunaan qasidah: apakah qasidah ini diiringi musik apa tidak, apakah ditarikan apa tidak, serta apa- kah tercampur di dalam bahasa Indo- nesia atau Madura, hasilnya sebagai berikut: (1) Diba'; adalah doa dan ayat Al Quran yang dibacakan atau diucapkan secara lisan berselang-seling dengan kasidah yang dinyanyikan tanpa koreografi dan musik, (2) Samman, adalah ayat Al Quran dan qasidah yang kadang-kadang diiringi musik dnn disertai koreografi sederha- na berupa lingkaran, bait-bait dalam bahasa Madura, kadang-kadang di tengah terdengar bait-bait bahasa Arab, (3) Haddrah, inlah qasidah den- gan iringan musikal dan koreografi yang besar, kadang-kadang di desa tertentu ditambahkan beberapa bait dalam bahasa Madura, (4) Samroh, adalah qasidah dengan iringan musikal dan lagu bertemakan moral, dalam bahasa Indonesia atau Madura, tanpa HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 koreografi, (5) Gambus, ialah beberapa qasidah diiringi musik dan ditarikan dengan nyanyian cinta dalam bahasa Indonesia atau Madura Penelitian Bouvier yang dilakukan pada masyarakat Madura tentang musik yang bercirikan Islam adalah sama dengan musik-musik bercirikan Islam yang ada di kota Semarang dan di sekitar kota Sema- rang. Kesemuanya dikatakan sebagai musik qasidah sebagai lagu, baik yang ditarikan maupun yang tidak, dan saat ini bermuara sebagai komposisi musik qasidah yang di kota Semarang disebut sebagai musik kasidah modern. Proses akulturasi pada perubahan budaya musik dalam musik kasidah modern, terjadi pada banyak hal, baik menerima elemen-elemen musik Barat maupun meninggalkan pengaruh- pengaruh Arab, menerima budaya lokal, maupun pengurangan nilai-nilai sakral Islami, baik pada bentuk komposisinya maupun bentuk penyajiannya. Bila meminjam konsep pemahaman dari Margaret Kartomi (2000: 18), tentang pertemuan kebuda- yaan yang terdapat dalam artikelnya berjudul "The Process and Result of Musical Contact: A Discussian of Terminology and Cancep", dikatakan bahwa proses-proses perubahan kebu- dayan dapat terjadi dalam enam bentuk, yaitu: (1) Penolakan secara tegas musik (virtual rejection of an impinging music), (2) Pengambilalihan ciri khusus musik (transfer of discrate musical traits), (3) Pluralisme musik yang hidup berdampingan (pluralistic co existence of music), (4) Kebangkitan unsur musik lokal (navistic musical revival), (5) Penghapusan musik (musical abandonment), (6) Pemiskinan musik (musical impoverishment). Demikian pula yang terjadi pada musik kasidah modern di kota Sem- arang dan proses perubahannya dari musik rebana, walaupun saat ini ke- dua-duanya tetap ada, eksis dan tetap diminati para penggemarnya. Enam hal bentuk perubahan diatas terdapat pada proses pembentukan dan kebe- radaan musik kasidah modern, proses perubahan kebudayaan tersebut dapat dibahas sebagai berikut: 1. Penolakan secara tegas musik (virtual rejection of an impinging music) Proses penolakan secara tegas musik dalam perubahan budaya musik kasidah modern di koto Semarang tidak terlalu jelas terlihat Proses perubahannya dapat dikatakan sebagai suatu kemandirian musik kasidah, artinya musik kasidah tidak total berubah bentuk menjadi musik yang kebarat-baratan, walaupun ia mendapat pengaruh besar dari elemen-elemen musik Barat. la tetap tidak meninggalkan jauh ciri-ciri keislamannya yaitu dengan tetap mempertahankan sebagian pola ritme syair-syair yang bertemakan keislaman. 2. Pengambilalihan ciri khusus musik (transfere of discrate musical traits) Musik kasidah modern di kota Semarang saat ini dalam setiap per- tunjukan tidak hanya menyanyikan lagu musik Islami yang berasal dari musik rebana saja atau dari budaya musik Islami sebelumnya, tetapi juga menyanyikan lagu-lagu yang biasanya dimainkan oleh jenis musik lain, seperti: lagu-lagu dangdut, campursari, pop dan sebagainya. Lagu-lagu ini diambil pada lagu-lagu yang sudah jadi dengan syair yang sesuai dengan musik kasidah atau lagu-lagu ciptaan sendiri yang mempunyai style atau gaya musik HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 lain tetapi kemudian disesuaikan de- ngan lagu-lagu kasidah. Disini menun- jukkan bahwa lagu-lagu kasidah telah mengambil ciri-ciri khusus atau gaya musik lain yang dimanfaatkan untuk menambah kemenarikan dan menam- bah nilai hiburannya agar tetap dim- inati para penggemarnya, serta meng- urangi rasa kebosanan dari pola ritme rebana yang terasa kental dan cende- rung monoton. 3. Pluralisme musik yang hidup berdampingan (pluralistic co existense of music) Keanekaragaman jenis musik di kota Semarang cukup merata, masing- masing mempunyai komunitas dan penggemar sendiri-sendiri, hidup ber- dampingan tidak saling berbenturan baik dalam pertunjukan-pertunjukan- nya maupun dalam pemasaran pro- duk-produk karya seninya. Musik kosidah modern menem- patkan dirinya secara khusus sebagai musik yang bercirikan Islam, memberi kontribusi kebutuhan masyarakat akan kelengkapan ritual keagamaan. Musik kasidah bisa awet dan tetap dibutuh- kan karena seolah-olah merupakan ke- harusan untuk mementaskannya se- iring dengan acara-acara keagamaan dan ritual kehidupan masyarakat se- perti: khitanan, perkawinan, potong rambut, pengajian dan sebagainya. Musik kasidah modern menempatkan diri dalam keaneknragaman musik yang ada di kota Semarang, serta menjadi bagian yang cukup berarti dan diperhitungkan. 4. Kebangkitan unsur musik lokal (navistik musical revival) Pertemuan beberapa kebudayaan musik mengakibatkan terjadi proses perubahan budaya musik, perubahan ini dapat timbul bentuk baru yang merupakan perpaduan antara dua kebudayaan asing dan lokal, keun- tungan dapat saja terjadi pada kedua belah pihak, tetapi yang pasti adalah pihak yang menyerap unsur-unsur asing demi kebutuhan akan pening- katan secara alamiah akan kualitas hiburannya. Dalam peristiwa ini un- sur-unsur lokal yang dahulu tersem- bunyi dan dianggap kuno kurang re- presentatif akan dimunculkan akibat perpaduan dengan unsur-unsur asing, dan unsur-unsur musik lokal akan dapat terangkat sederajat dengan bu- daya musik asing yang masuk. 5. Penghapusan musik (musical abandonment) Dalam peristiwa pertemuan dua kebudayaan musik atau lebih jelas terjadi suatu pemiskinan musik, na- mun dalam peristiwa perubahan kebu- dayaan dan terbentuknya musik kasidah modern dari musik rebana, tak begitu jelas terlihat hanya saja meng- acu pada proses dekulturasi, ada sebagian unsur-unsur sakral Islam yang mengalami perusakan tapi di suatu sisi lain mengalami proses kemajuan. Perusakan nilai-nilai Islami- nya jelas identik dengan penghapusan unsur musik, ada hal yang dihilangkan dari musik rebana dan tidak muncul pada komposisi musik kasidah mo- dern. Pada aspek peralatan ada beberapa alat musik yang sudah tidak digunakan lagi yaitu: bas rebana dan kempling, dua alat musik ini tugasnya digantikan oleh bas listrik dan drum set, jadi dalam proses pertemuan kebudayaan yang mengakibatkan timbulnya musik kasidah modern ada elemen-elemen musik lokal yang dihapuskan yaitu aspek instrumentasi. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 6. Pemiskinan musik (musical improverishment) Pemiskinan musik merupakan bagian dari perubahan kebudayaan akibat pertemuan kebudayaan dalam konteks musik kasidah modern. Pe- ristiwa ini nampaknya sukar untuk dianalisis, kemungkinan tidak terjadi aspek ini, atau ada tetapi tidak menjadi penting karena menyangkut peng- urangan elemen-elemen musikal yang jumlahnya sangat sedikit. Pada musik kasidah modern di kota Semarang, yang terjadi adalah penambahan elemen-elemen musikal, sehingga pertunjukannya menjadi lebih baik dan lebih semarak. Dengan proses akul- turasi dengan musik Barat bentuk komposisi musik kasidah modern menjadi lebih kompleks, lebih modern dan lebih menarik, hal ini tentu mempengaruhi pula pada bentuk penyajiannya yang tentu lebih baik. C. Proses Perubahan Elemen- Elemen Musikalnya Elemen-elemen musik merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam komposisi musik yaitu ritme, melodi, harmoni, syair, instrumen, tempo, dinamik, ekspresi sampai pada analisis bentuk struktur musik dan reportoar. Disini dapat dilihat unsur-unsur mana yang mengalami perubahan baik pengurangan atau penambahan struk- tur bagian-bagiannya dan penyebabnya apa. Bentuk penyajian yang meliputi: tata panggung, tata rias, busana, tata lampu, sound system dan sebagainya, apakah ada perubahan secara tehnis, baik penambahan, pengurangan atau pun perpaduan struktur bagian-ba- giannya, penyebabnya apa, dan pengaruhnya terhadap bentuk penya- jian secara keseluruhan. Oleh sebab itu akan ditelaah bagaimana perubahan elemen-elemen musik dari musik rebana ke musik kasidah modern di kota Semarang. 1. Perubahan aspek komposisi musik Pola ritme musik rebana ditentukan oleh pukulan pada alat musik terbangan, kempling dan bas rebana, ritme yong dihasilkan oleh ketiga alat ini betul-betul mewakili jenis musik rebana, manakala ritme ini hilang maka musik rebananyapun hilang, ketika terjadi perubahan budaya musik dari rebana hingga terbentuk jenis musik baru yaitu kasidah pola ritme ini masih ada, namun ada dua alat yang betul-betul sudah tidak dipakai pada musik kasidah yaitu kempling dan bas rebana, bunyi alat musik ini digantikan perannya dengan bas elektrik dan drum set. Sedangkan terbangan tetap ada, walaupun kadang-kndang tidak digunakan, disesuaikan dengan lagu yang dibawakan. Penambahan peralatan jelas menjadi titik sentral pembentukan musik kasidah modern, penambahan yang merupakan akulturasi dengan musik Barat, yaitu berupa atat-alat seperti: bas elektrik, gitar elektrik, drum set, biola, keyboard, dan peralatan-peralatan musik Barat lain yang diperlukan,tapi perlu ada yang dicatat bahwa dengan peralatan tersebut jenis musik bercirikan Islam ini tidak lantas menjadi bentuk musik Barat lain seperti: band-pop, jazz, rock dan sebagainya, jadi ada semacam ciri yang dipertahankan. Beberapa per- alatan yang tetap dipertahankan atau sebagai ciri musik Islami yang utama adalah terbangan, gambus, suling (bambu), mandolin, termasuk tamborin, sebagian alat-alat inipun HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 merupakan akulturasi atau alat yang datangnya dari pengaruh bangsa Arab. Perubahan-perubahan komposisi musik dari musik bercirikan Islam yang terdahulu dan musik rebana menunjukkan bahwa musik kasidah modern adalah betul-betul jenis musik bercirikan Islam yang terbaru akibat dari perubahan kebudayaan musik. 2. Perubahan aspek benfuk penyajian Pada musik-musik bercirikan Islam sebelum rebana maupun pada rebana, biasanya dipentaskan pada tempat yang tidak selalu harus ada panggung pertunjukan, dapat di teras rumah, di teras masjid, atau di sudut suatu ruang pertemuan tanpa ada panggung, walaupun jenis musik ini masih tetap ada sampai sekarang perlakuan dalam hal pementasan tetap masih sama, kecuali musik rebana yang pada kesempatan-kesempatan tertentu dibuatkan panggung, hal ini disebabkan karena peralatan-peralat- annya yang relatif sedikit dan merupa- kan ansambel kecil, Musik kasidah yang hadir dan terbentuk belakangan mempunyai jumlah peralatan yang lebih banyak dengan penampilan ansambel yang lebih besar dan melibatkan pemain musik dan penya- nyi yang lebih banyak, tentu saja perlakuan pementasannya lebih khu- sus dengan dibuatkan panggung besar, walaupun kadang-kadang juga dapat dipentaskan di mana saja dengan tem- pat yang seadanya disesuaikan dengan acaranya, tapi yang jelas terjadi per- ubahan-perubahan tentang tata pang- gung ketika musik kasidah modern telah ada sekarang dibandingkan de- ngan musik rebana atau musik-musik yang bercirikan Islam sebelumnya. Sehubungan dengan tata panggung, tak bisa dipisahkan dengan tata lampu dan sound system, dengan kema- juan zaman tentu saja terjadi kemajuan dalam bidang teknologi tata lampu dan sound system, walaupun jenis- jenis musik bercirikan Islami tersebut tetap ada pada saat ini, tentu saja berbeda masalah tata lampu dan tata suara, hal ini disebabkan karena ben- tuk dan kondisi penyajinnnya yang berbeda-beda. Untuk tata busana dan tata rias telah terjadi perubahan dan kemajuan yang cukup besar, hal ini disebabkan karena tuntutan zaman yang harus menampilkan sisi hiburan yang harus menarik dan persaingan jenis-jenis hi- buran lain agar musik yang bercirikan Islam dapat tampil sejajar dengan jenis musik hiburan lain tapi tetap dalam batas-batas aturan keagamaan dan nilai-nilai keislaman. Pada jenis musik sholawatan yang berupa vokal keaga- maan atau dengklung, yang para vokalis- nya tentu berjilbab dan berkain panjang, biasanya satu warna hitam atau putih tanpa tata rias; bahkan kadang-kadang dengan formasi duduk bersimpuh tanpa banyak gerak. Formasi pemain diatas panggung juga berubah seiring dengan kemajuan penampilan grup musik jenis lain, kalau bentuk formasi berdiri maupun duduk bersimpuh yang dilakukan para pemain rebana biasanya hanya bentuk satu baris disertai dengan variasi gerakan-geraknn tertentu, hal ini disebabkan karena kurangnya peralat- an yang dapat digunakan untuk ber- main, oleh karena itu terkesan mono- ton, terlalu teratur, untuk wanita ham- pir tak ada gerakan karena diharamkan wanita untuk bergerak lebih banyak: Saat ini tanpa mengurangi nilai-nilai ke-Islaman dan melanggar aturan aga- ma, para pemain musik kosidah mo- dern dapat bergerak secukupnya de- HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 ngan sopan mengikuti hentakan-hen- takan lagu, formasi pemain dan penyanyi pada tata panggung dapat bebas seperti grup-grup musik rock, pop, dangdut dan sebagainya. Para pemain musik kasidah modern dapat bebas bergerak yang kadang-kadang dapat sambil bernyanyi dan memegang alat musiknya masing-masing dan sebagian dapat berpindah-pindah tem- pat karena posisi bermain sebagian be- sar berdiri, kecuali pemain drum set dan keyboard yang kadang-kadang juga berdiri. D. Penutup Musik kasidah modern di kota Semarang tidak hadir begitu saja di masyarakat, tetapi mengalami proses akulturasi yang panjang yang diperki- rakan berasal dari musik-musik ber- cirikan Islam yang ada sebelumnya. Karena mempunyai elemen-elemen musikal yang sama, maka terbentuklah musik rebana. Musik rebana itu sendiri mengalami proses dekulturasi, yaitu mengambil unsur-unsur baru dari kebudayann yang baru yang timbul karena perubahan situasi yang baru, sehingga terbentuklah musik kasidah modern. Pada proses dekulturasi musik kasidah rebana mengalami perubahan pada kebudayaan musik dan perubah- an elemen-elemen musikalnya, baik pada komposisi musiknya maupun pada bentuk penyajiannya. Kepustakaan Bandem, I Made, 2001, "Etno- musikologi Penyelamat Musik Dunia" dalam Selonding, No: 1, Vol 1 tahun 2001, Yogyakarta: Masyarakat Etnomusikologi Indonesia. Bouvier, Helene, 2002, Lebur. Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura, diterjemah- kan oleh Rahayu S. Hidayat dan Jean Coauteau, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Garraghan, Gilbert J. A., 1963, A Guide to Historical Method, New York: Fordham University Press. Haviland, William A., 1985, Antro- polagi ]ilid I, diterjemahkan oleh R.G. Soekardijo, Surakarta: Erlangga. Kaplan, Onvid. 2002, Teori Budaya. diterjemahkan oleh Landung Simatupang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kodiran, Akulturasi sebagai Mekan- isme Perubahan Kebudayaan, dalam Humaniora, No: 8 tahun 1988, Yogyakarta: BPPF dan PSI, Fakultas Sastra U&M. Koentjaraningrat, 1987, Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: Universitas Indonesia Press. Merriam, Alan P., 1964, The Anthropo- logy of Music, North Western: University Press, 1964. Nakagawa, Shin, 2000, Musik dan Kos- mos, Jakarta: Yayasan Obor Indo- nesia. Purwanto, Hari, 2000, Kebudayaan dan Lingkungan: dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sadie, Stanley, 2002, Musik Nusantara: Indonesia Sebuah Republik di Asia Tenggara, terjemahan I Made Bandem, Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Sinaga Syahrul Syah, "Kesenian Rebana di Pantura Jawa Tengah: Sebuah Kajian Musikologis”, Tesis sebagai syarat untuk mencapai derajat S-2 pada Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Pascasarjana UGM Yogyakarta 2002.