Harmonia Edisi Khhusus.pdf MAKNA SIMBOLIK DAN EKSPRESI MUSIK KOTEKAN Siti Aesijah Abstrak Musik Kotekan adalah sebuah permainan instrumen musik tradisional kerakyatan yang hidup di desa Ledok kabupaten Blora Jawa Tengah yang memiliki keunikan. Kesenian ini sudah hampir punah di kabupaten Blora, dan hanya terdapat di desa Ledok. Banyak palsafah hidup yang bisa ditarik dalam permainan musik kotekan ini. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan studi pustaka, observasi , wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan analisis interktif dari Milles dan Hubermann. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musik kotekan memiki bentuk penyajian yang sangat sederhana yang meliputi: 1) alat yang digunakan alu dan lesung, 2) unsur musik ; permainan pola ritmik yang saling mengisi dan pemain tunggo omah pengatur birama, duduk tengah, duduk wingking, kempyang dan tirir, 3) bentuk penyajian dengan peralatan dan pakaian yang digunakan ibu tani dalam mengolah hasil panen. 4) makna simbolik kehidupan para petani antara kaum lelaki dan perempuan, 4)ekspresi estetik pada poli ritmik, 5) nilai pendidikan yang terkandung yaitu kesatuan dalam keberagaman-konsetrasi dan tenggang rasa. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang disampaikan adalah musik kotekan perlu dikemas kembali baik dari segi musikalitas maupun penampilan agar menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual tinggi, perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kata Kunci: Musik kotekan/lesung, makna simbolik, ekspresi estetik A. Latar Belakang Permainnan musik ini berawal dari kejenuhan para ibu-ibu tani dalam mengolah hasil pertanian mereka. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam menjelang pagi hari, siang setelah aktifitas kegiatan di sawah maupun rumah tangga selesai , sore ataupun malam hari. Musik yang digunakan sebagai selingan untuk mengusir rasa lelah dan ngantuk pada saat mengolah padi tersebut, dimainkan antara 2 sampai 10 orang. Permainan musik ini berpasangan (jika menggunakan lumpang maka satu lumpang hanya 2 orang, sedang jika menggunakan lesung maka dapat dimainkan oleh 4 sampai 10 orang tergantung panjang lesung). Permainan lesung/kotekan pada saat ini telah jarang terdengar. Baik di desa apalagi di kota. Jika kita bertanya pada masyarakat tentang musik lesung/ kotekan ada sebagian yang tahu tetapi lebih banyak yang tidak tahu. Keberadaan musik tradisi ini hampir punah. Musik tradisional pada saat ini makin hari makin menyusut, kepunahan seni musik tradisi dalam era transformasi budaya dari – masyarakat agraris ke semi industrial- terutama akibat minimnya kesempatan genre ini untuk eksis menjadi bagian yang dulu seolah tak terpisahkan dari masyarakat pendukungnya (Bramantyo, 2000 : 103) Musik tradisional yang dulu merupakan kebanggaan bagi masyarakatnya, kini mulai ditinggalkan. Penggemar musik tradisional sebagian besar dari kalangan generasi tua, yang menikmati dan bernostalgia dengan masa lalunya. Pada tahun 1985 (Depdikbud, 1985) telah melakukan penelitian dan pencatatan di beberapa daerah di Indonesia,menemukan beragam musik lesung yaitu; di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan nama kotekan, di Aceh dengan nama ale tunjang, di Kalimantan Barat dengan nama alu’ galing dan di Nusa Tenggara Barat dengan nama kareku kandei dan kareku necu. Keberadaan musik lesung/kotekan yang hanya dikenal sebagian masyarakat ini perlu disosialisasikan, ada pepatah mengatakan ‘ tak kenal maka tak sayang’ ini mungkin juga terjadi pada musik lesung/kotekan. Masyarakat tidak mengenal- tidak mengerti makna simbolik di dalam kesenian tersebut sehingga mereka tidak tertarik. Seni sebagai alat ungkap manusia atas segala kejadian yang di alami, demikian pula para petani dapat mengungkap perasaannya lewat seni. Selanjutnya ada pemikiran Bramantyo (2000) yang menawarkan dalam menghidupkan dan mengembangkan musik tradisional yang memiliki persfektif kemasa depan yaitu melalui transmisi formal dan pelaksanaan program penelitian besar-besaran dalam kesinambungan yang terpadu (integratid continuity). Proses ini sekaligus akan mendorong dunia penciptaan karya seni dengan teknik yang lebih sophisticated (canggih), dan sekaligus akan diikuti landasan estetika yang lebih raesonable. Di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora yang merupakan masyarakat agraris pada jaman penjajahan Belanda hingga sekitar tahun 60-an merupakan masyarakat yang sejahtera karena terdapat sumur minyak bumi dan merupakan daerah yang subur, sehingga di desa ini ada petani penggarap dan petani pemilik sawah. Alat untuk membantu petani dalam mengolah hasil panen khususnya padi sebagai makanan pokok masyarakat yaitu lesung, karena tiap rumah memiliki lesung dan atau lumpang makan permainan kotekan hampir setiap saat terdengar, tetapi seiring dengan perkembangan jaman dan beralih teknologi dalam pemrosesan hasil panen dengan sebuah mesin giling padi maka lesungan tidak terdengar lagi di desa Ledok. Beruntung ada seorang pemerhati kesenian yang hampir punah di desa Ledok tersebut yaitu Bapak Sisworo yang mendirikan herytage club sehingga dengan bentuk sederhana musik kotekan dapat ditampilkan untuk mengiringi jamuan makan para turis manca negara. Musik kotekan merupakan seni tradisi yang hampir punah, tetapi di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora masyarakatnya melestarikan kesenian ini ( lihat Suara merdeka 14 Mei 2005 ). Sekelompok ibu-ibu yang ada di desa ini dapat menampilkan kesenian tersebut dengan bagus sehingga dapat mempesona tamu-tamu mancanegara yang berkunjung ke kabupaten Blora. Pola permainan ritme dengan pembagian tugas antara lain ; thinthil (arang loro), arang (arang siji), kerep, dhundhung dan gendhong. Pola ini kadang di tidak lengkap tergantung banyaknya pemain. Bila dalam satu lesung terdapat 10 orang / 5 pasang, maka permainan lengkap,tetapi bila kurang maka yang ada hanya arang kerep. Dari pola permainan ini ada makna simbolik di dalamnya, hal ini yang belum terungkap oleh peneliti sebelumnya termasuk juga ekspresi estetik dari pola permainan dan perpormance yang ditampilkan kelompok musik kotekan terutama yang berada di desa ledok. Fungsi musik kotekan dari waktu ke waktu mengalami perubahan menurut kebutuhan masyarakat setempat. Mula- mula digunakan sebagai alat penghibur dikala menumbuk padi, kemudian sebagai penanda saat ada bahaya antara lain bencana alam- gerhana , sebagai penanda berkumpul bagi masyarakat pada saat ada upacara ; panen padi, perhelatan, bersih desa . Dalam penelitian ini belum dikaji secara mendalam mengenai makna dan ekpresi estetiknya karena penelitian baru berkisar pada bentuk alat musik lesung, lagu-lagu yang digunakan sebagai pengiring serta fungsinya dalam kegiatan sosial masyarakat setempat. Bentuk lesung atau lumpang berbeda-beda tergantung kreatifitas pembuat, demikian pula bentuk alunya. Yang unik dari permainan musik ini, para pemain diberi kebebasan untuk berimpropisasi seluas-luasnya tergantung dari kemahiran mengatur keserasian dengan pasangan pemain maupun pasangan lainnya. Dalam permainan musik ini ada istilah ‘bersama dalam keberagaman’ dan ‘berbeda dalam kebersamaan’. Dalam permainan musik kotekan ini ada nilai tertentu yang perlu digali. Berdasarkan hasil penelitian Astono (2002:1) Musik Kotekan Lesung dilihat dari bentuk gendingnya memiliki beberapa simbol bila dilihat dari siklus kehidupan manusia yaitu: simbol wanita mencari teman (gd; rando katisen), Simbol laki-laki mencari pasangan (gd;duda njaluk lawang), simbol bersatunya laki-laki & wanita ( gd; kuputarung). Selain dari gendingnya maka dapat pula diungkap makna simbol-simbol lain baik yang berhubungan dengan keyakinan/kepercayaan masyarakat, falsafah hidup maupun pola pikir praktisnya. Dari fenomena di atas dapat ditarik suatu kesimpulan; bahwa banyak permasalahan yang dapat digali dari keberadaan musik kotekan yang merupakan musik tradisional kerakyatan yang hampir punah . Untuk kali ini yang ingin dikupas yaitu: (1) Pemaknaan musik kotekan/ musik lesung oleh masyarakat desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora, (2) Bentuk interaksi sosial musik kotekan pada masyarakat di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora? (3) Proses penyempurnaan pemaknaan musik kotekan pada masyarakat agraris di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora? B. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan telaah tekstual dan kontekstual dalam lingkup antropologi budaya. Secara heurmeneutik suatu bentuk kesenian seperti musik kotekan dianggap sebagai sebuah teks yang dapat dibaca atau ditafsirkan. Penafsiran makna terhadap kesenian tersebut berada ditangan peneliti tentu saja dengan melihat konteks yang ada pada masyarakat penggunanya. Dalam proses pemaknaan peneliti menggunakan berbagai konsep antropologi budaya yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji. Peneliti memaparkan hasil temuan kemudian menganalisis temuan-temuan tersebut dengan sasaran penelitian ini adalah : 1) makna simbolik musik kotekan bagi masyarakat agraris di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora, 2) bentuk ekspresi estetik masyarakat agraris di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora, 3) nilai yang dapat digunakan sebagai media pendidikan dari ekspresi estetik dan makna simbolik musik kotekan pada masyarakat agraris di desa Ledok kecamatan Sambong kabupaten Blora . Teknik pengumpulan data menggunakan : 1) studi pustaka, 2) observasi non partisipan maupun observasi partisipan pada masyarakat di desa Ledok khususnya yang berpartisipasi melakukan kegiatan berkesenian musik kotekan maupun penikmat/apresian untuk mengungkap makna, pola perilaku, latar budaya termasuk keyakinan yang mempengaruhi dan bentuk kreatifitas; 3) wawancara terbuka maupun tertutup, 4) dokumentasi. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Sejarah Musik Kotekan Masyarakat agraris adalah masyarakat yang bermata pencarian pertanian biasanya hidup didaerah-daerah yang subur. Bermula dari kehidupan berpidah-pindah kemudian menetap untuk menggarap lahan yang ada. Sejak jaman prasejarah seni pertunjukan sudah dikenal masyarakat agraris yang pada waktu itu hidup berpindah-pindah seperti kaum imigran Cina yang sebagian menjadi asal-muasal orang Jawa. Untuk menopang kehidupannya mereka menenanam padi yang merupakan makanan pokoknya, mereka memiliki masa-masa senggang yaitu setelah panen. Masa senggang ini merupakan hal esensial untuk kreasi seni pertunjukkan dari setiap kecanggihan ( Brandon dalam Soedarsono, 2003 : 10- 11) Panen padi dirayakan sebagai sebuah festival masyarakat utama yang mendorong pertunjukan tari-tarian, nyanyian, musik dan pembacaan cerita. Diseluruh Asia Tenggara (termasuk Indonesia) lakon-lakon khusus yang menghormati roh padi masih dipertunjukan pada waktu panen. Kedekatan lesung dengan budaya agraris tampak pada tiap ritus kehidupan masyarakat desa yang umumnya petani. Di dalam budaya agraris, Dewi Sri (mbok Sri, Nyi Pohaci) adalah dewi pelindung atau dewi kesuburan yang sangat dicintai petani jawa sejak mereka mengenal padi menurut Sindunata (Astono.2002:1) para petani melakukan ritual persembahan pada setiap panen terutama panen padi sebagai tanaman pokok. Lesung digunakan pula pada upacara ini, sebagai alat ungkap rasa dalam bentuk sesuatu yang mengandung nilai keindahan. Ekspresi estetik masyarakat agraris dalam menyambut datangnya kesukacitaan tercermin dalam permainan musik kotekan. Musik kotekan adalah sebuah permainan musik yang menggunakan instrumen pokok alu dan lesung, dari suara yang terdengar klotekan itulah asal mula kata kotekan. Musik ini digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan antara lain untuk mengusir rasa lelah pada saat menumbuk padi, mengusir roh jahat (pada gerhana bulan / matahari), tanda berkumpul hingga ungkapan syukur pada Dewi Sri (Astono 2002: 1-17 ) Permainan musik kotekan di desa Ledok menurut Hadi dan Rakib (wawancara 26-27 Juni dan 21 Agustus 2007) dimulai pada sekitar tahun 1930 sebagai selingan menumbuk padi, kemudian digunakan untuk tanda orang yang punya kerja /hajatan, untuk mengirim pindang bol ( isi perut kerbau/sapi) pada panjak /penabuh gamelan. Pertarungan Lesung dengan nama ‘pakso yudho’ pernah dilakukan di desa ini yang dilakukan oleh kaum laki-laki untuk menguji ketangguhan. Pada saat penjajahan Jepang th 1948 di daerah Ledok dan sekitarnya pernah diadakan lomba permainan musik kotekan. Pada waktu itu di desa Ledok banyak yang memiliki lesung terutama orang kaya yang memiliki sawah luas/banyak. Panjang lesung menunjukkan strata ekonomi pemiliknya, makin panjang lesung maka makin tinggi strata ekonomi orang yang memilikinya. Dengan kata lain orang yang rendah strata ekonominya maka memiliki lesung yang kecil atau biasa disebut lumpang. Perjalanan kesenian dan kehidupan masyarakat desa Ledok mengalami masa suram yaitu pada saat PKI bergejolak pada tahun 1949 hingga 1965. Dan setelah tahun 1965 kehidupan masyarakat desa Ledok berubah 180 derajat, dari masyarakat yang makmur karena pertambangan minyak bumi menjadi masyarakat yang miskin karena semua yang ada dibumi hanguskan . Setelah kehidupan masyarakat dapat bangkit maka kesenianpun mulai tumbuh tetapi tidak sebaik sebelumnya. Musik kotekan mulai ada lagi tetapi tidak banyak , bahkan lama-lama menjadi langka. Pada sekitar tahun 1975 di dusun Paingan desa Ledok mulai dirintis pelestarian musik kotekan oleh Sisworo salah seorang pengelola Hertage Club Cepu. Musik kotekan dipentaskan tiap kali ada turis yang singgah di Cepu. Para turis mancanegara tertarik dengan permainan musik kotekan, biasanya musik tersebut disajikan pada saat istirahat dengan disertai jamuan makan. Hingga saat ini kegiatan tersebut rutin dilakukan tentu saja jika ada turis yang singgah di Cepu. 2. Bentuk Musik Kotekan Musik kotekan adalah permainan musik dengan instrumen pokok Lesung dan alu/antan. Permainan musik kotekan di desa Ledok dimainkan oleh 3 hing 4 orang .Kesenian ini sangat sederhana baik dari bentuk musik maupun penampilan pemainnya, tetapi bunyi yang dihasilkan sangat indah terdengar dan didalamnya sarat akan makna. Untuk memahami lebih lanjut tentang musik kotekan maka dikupas sebagai berikut: 2.1. Instrumen Musik Kotekan Lesung yang digunakan untuk permainan musik kotekan memiliki panjang sekitar 2 hingga 3 meter berbentuk kotak dengan lebar 25-30 cm dan tinggi 30- 40 cm. Dengan lubang panjang 1 hingga 2 meter , lebar 20 cm dan tinggi 20 cm. Kayu yang digunakan adalah kayu jati tua, nangka, mangga dan trembesi. Kekeringan kayu yang digunakan sekitar 60 hingga 75 % sebab jika terlalu kering akan pecah, demikian pula jika terlalu basah akan perjadi penyusutan sehingga bentuknya berubah dan suara yang dikeluarkan tidak bagus. Alu atau antan berbentuk selinder dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter dengan diameter sekitar 6-8 cm pada bagian tengah agak ke bawah diameter lebih kecil yaitu sekitar 4-5 cm untuk pegangan tangan pemain agar tidak naik atau turun. Panjang Alu disesuaikan dengan tinggi badan pemain musik kotekan. Alu terbuat dari katu yang kuat seperti kayu petai cina (mlandingan), pinus, dan nangka. 2.2. Pola Permainan Musik Kotekan Pemainan musik kotekan merupakan permainan poli ritmik dengan susunan sebagai berikut: a) Tunggu Omah sebagai pengatur birama b) Duduk Tengah pengisi tengah atau gejog tengah c) Duduk Wingking pengisi akhir atau gejog akhir d) Kempyang pengisi antara atau senggakan atau arang e) Titir pengisi penuh atau kerep Intro (wiwit) dimainkan oleh Tunggu Omah sebanyak tiga kali. Permainan musik kotekan ini ada awalan (intro) tetapi tidak memiliki akhiran (coda), oleh sebab itu cara berhenti pada permainan musik kotekan ini mendadak tanpa ada aba-aba antar pemain. Jika para pemain telah lelah maka beradu langsung selesai. Permainan musik kotekan ini memiliki dua kelompok birama yaitu: 1) kelompok 2 ( satu ruas birama memiliki 2 ketukan ) seperti lagu; Kodok Ngorek, Kanganten, Jangan Menir, Goreng-goreng Gosong, Jaran Dor dan Bayan Mider. Yang dimainkan oleh 3 orang. 2) kelompok 4 (satu ruas birama memiliki 4 ketukan ) seperti lagu; Sekar Lempang, Bluluk Ceblok, Lambang Sari, Kutut Manggung dan Barongan diminkan oleh 4 orang. Perbedaan yang sangat terlihat untuk membedakan antara lagu yang satu dengan yang lainnya terletak pada Tunggu Omah. Dan selingan pada Duduk Tengah dan Duduk Wingking. Karena pemainnya hanya 3 hingga 4 orang maka dalam permainan musik kotekan di desa Ledok ada yaang satu orang pemain memainkan dua bagian musik, misalnya duduk wingking + titir, duduk tengah + kempyang. 2.3. Penampilan Musik Kotekan Penampilan musik kotekan dalam bentuk pementasan menggunakan segala sesuatu yang bersifat sangat sederhana. Pakaian menggunakan pakaian kerja para ibu tani dengan kain sebatas lutut, kebaya dengan lengan di tarik hungga dibawah siku, tutup kepala menggunakan caping. Demikian pula dengan rias yang digunakan seperti riasan sehari-hari hanya ditambah pemerah bibir. Tata suara menggunakan tata suara alami dengan tanpa pengeras suara, karena suara lesung dapat terjangkau hingga sekitar 200 m lebih. Suara akustik memiliki eksotisme yang tinggi, karena dari suara yang dikeluarkan terdapat terdengar keriuhan dan keriangan para petani setelah menuai panen padi. Tata panggung tidak ada, hanya menggunakan alas tanah dengan 2 batang kayu sebagai alas/dudukan lesung agar suara yang terdengan menjadi nyaring. Pementasan dilakukan di tempat terbuka maupun tertutup. Jika di tempat tertutup maka ruangan harus agak lebar agar suara dapat keluar dan tidak memekakan telingga. Ada lampu penerang walau hanya menggunakan lampu neon saja, sehingga penonton dapat melihat aktivitas para pemain. Seperti terlihat di bawah (dari kiri mbok Kasiem, mbok Karti dan mbok Samilah ) sedang memainkan lagu Kangaten pada malam hati dengan penerangan lampu neon. Musik kotekan jika ditampilkan pada saat ada suatu acara, misalnya acara bersih desa, 17 Agustus, hajatan dll ditampilkan pada awal acara sebagai tanda untuk berkumpul (mengundang masyarakat berkumpul di tempat asal suara kotekan). Lagu biasa dimainkan dan disenangi masyarakat adalah Sekar Lempang, Kanganten, Bluluk Ceblok dan Lambang Sari. Khusus untuk acara pertemuan penganten menurut Hadi (wawancara 21 Agustus 2007) maka lesungan dengan lagu Kanganten dilanjutkan gamelan dengan gending Kodok Ngorek. 3. Makna Simbolik dalam Musik Kotekan Menurut Geertz (Triyanto, 2001 : 20) Simbol adalah segala sesuatu (benda material, peristiwa, tindakan, ucapan, gerakan manusia) yang menandai atau mewakili sesuatu yang lain atau segala sesuatu yang telah diberikan makna tertentu. Simbol atau lambang memiliki makna atau arti yang dipahami atau dihayati bersama dalam kelompok masyarakatnya. Simbol atau lambang memiliki bentuk dan isi atau disebut makna. Bentuk simbol merupakan wujud lahiriah, sedangkan isi simbol merupakan arti atau makna (Kusumastuti, 2005 : 10) Simbol adalah sarana untuk menyimpan atau mengungkapkan makna- makna, apakah itu berupa gagasan- gagasan (ideas),sikap-sikap (attitudes), pertimbangan-pertimbangan (judgement), hasrat-hasrat (longis)atau kepercayaan- kepercayaan (biliefs), serta abstraksi- abstraksi dari pengalaman tertentu (abstractions from experience fixed) dalam bentuk yang dapat dimengerti (Geertz dalam Triyanto, 2001 :21) 3.1. Alat/Instrumen dan Perleng- kapannya Dari Instrumen yang digunakan menurut Hadi, Rakib dan Maksum ( wawancara 27 Juni, 21 Agustus 2007) merupakan perwujudan dari laki-laki dan perempuan. Alu sebagai perwujudan lingga/laki-laki yang perkasa sehingga dapat memecah gabah menjadi beras. Dalam kebudayaan Jawa laki-laki disimbolkan dengan sesuatu yang kuat salah satunya yaitu dengan alu atau antan. Sesuai dengan penelitian Astono pada Musik Lesung Banarata maka dalam musik lesung di desa Ledok memiliki makna simbolik yang serupa. Hal ini dimungkinkan karena berada dalam lingkup budaya yang sama yaitu budaya Jawa serta obyek penelitian yang sama yaitu masyarakat agraris. Yang berbeda di daerah ini adalah bentuk lesung yang menyerupai perahu yaitu di tengah agak melengkung (seperti terlihat dalam gambar 1) sedang di desa Banarata bentuknya lurus seperti balok. Perbedaan ujud tidak menyebabkan perbedaan dalam pemaknaan. Lesung yang digunakan sebagai simbol perempuan maka masyarakat desa Ledok memiliki mitos jika lesung tidak digunakan maka harus dibalik dengan alasan agar tidak digunakan untuk bersembunyi roh jahat (bahasa Jawa go ndelik bajul buntung) Simbolisme sebagai media budaya Jawa seperti dikemukakan Budiono (2001: 78-79) media adalah sarana atau perantara, sedangkan medium bahan yang dipakai sebagai perantara. Budaya sebagai hasil tingkah laku atau kreasi manusia memerlukan bahan materi atau alat penghantar untuk menyampaikan maksud. Medium budaya dapat berbentuk bahasa, benda, warna, suara tindakan yang merupakan simbol-simbol budaya. Lesung dan alu berupa benda yang disimbolkan sebagai perwujudan manusia yaitu perempuan dan laki-laki. Dalam kehidupan budaya Jawa dalam kehidupan ada tatanan yang mengatur tingkah laku yang berlaku dalam lingkup kehidupannya. Demikian pula dengan kehidupan masyarakat desa Ledok yang berada dalam lingkup budaya Jawa. Lesung dan alu yang disimbolkan sebagai perempuan dan laki-laki ada aturan yang mengatur untuk pergaulan, karena lesung diibaratkan sebagai perempuan maka perlu dijaga agar tidak terkena gangguan yang tidak baik. Dalam hal ini lesung yang diibaratkan sebagai perempuan jika tidak digunakan harus dibalik atau lubangnya agar tidak untuk bersembunyi bajul buntung mengandung makna bahwa perempuan yang telah bersuami jika tidak ada suaminya harus menjaga kehormatan, dalam arti jangan sampai dinodai oleh orang lain. Perlengkapan yang digunakan oleh para pemain musik kotekan berupa pakaian sehari-hari (kebaya, kain dan caping) menunjukkan bahwa para ibu tani sangat bersahaja dalam segala hal ( dalam bahasa Jawa ra neko-neko) artinya apa yang ada dalam hati maka itulah yang dapat diwujudkan secara fisik atau yang diekspresikan. Para pemain musik kotekan merasa lebih nyaman dengan menggunakan busana seperti apa adanya itu. Hal inilah yang membedakan kehidupan orang yang hidup di kota dengan di desa. 3.2. Lagu yang dimainkan Dari lagu yang dimainkan memiliki makna yang berkisar pada kehidupan para petani di desa Ledok terutama berhubungan dengan kehidupan kaum perempuan. Ada lagu sedih, lagu gembira tetapi yang tersurat semua menggunakan irama yang riang dengan saling bersahutan (ostinato dengan sinkop). Hal ini menggambarkan kehidupan masyarakat petani yang hidup di desa Ledok selalu menghadapi kehidupan dengan ikhlas, artinya seberat apapun kehidupan yang dijalankan akan dihadapi dengan lapang dada. Makna dari berbagai lagu yang ada adalah sebagai berikut : 1. Lagu Kanganten : penciptaan lagu Kangnten diilhami oleh kehidupan calon mempelai laki-laki yang sebelum menjadi suami harus ngaulo atau ngenger (bekerja di tempat calon istri sebagai tenaga serabutan) sehingga laki-laki tersebut menjadi akrab dengan calon istrinya. Setelah dirasa calon istri telah cukup umum maka laki-laki tersebut baru dapat meminang calon istri. Oleh sebab itu maka kehidupan suami istri tersebut seperti pertemanan, karena memang rata-rata penganten perempuan di desa Ledok pada saat itu berkisar antara usia 11 hingga 14 tahun. Permainan musik kotekan pada lagu Kanganten terdengar seperti musik gojegan/bersenda gurau. (wawancara dengan Hadi, Ngadiman, Rakib, Marto pada 27 juni-16 agustus-30 oktober 2007) -6 5 5 -6 5 5 -3 22 -3 22 Kangantenkanganten jukgendong jukgendong Musiknya: Dung egleng dung egleng dung dung dong dung dung dong 2. Lagu Sekar Lempang : lagu Sekar Lempang, penciptaan lagu ini diilhami oleh kehidupan seorang gadis yang sehari-hari hanya bekerja disekitar lumpang. Lagu ini mengisahkan kesedihan seorang gadis yang hidup hanya melakukan rutinitas menumbuk padi. - 5 6 6 5 . . . - 3 2 2 3 . . . 6165 3 . . . Bapak bapak rekasane wong ngaulo - 123 3 . . . 6 -16 -5-5 5 . . . Melu bapak disentak sen tak - 1 23 3 . . . 6- 5 3 2- 1- 1 . . . Melu ibu ditundung tun dung Musiknya: Teng prak teng dung teng prak teng dung Pada lagu ini memiliki makna kesedihan tetapi dalam permainan musik kotekan berirama cepat hal ini mendakan bahwa dalam keadaan sedih maka kehidupan para petani dapat menyembunyikan kesedihannya. Daftar lagu dan makna simbolik dapat di lihat pada lampiran. D. Simpulan dan Saran 1. Simpulan Musik kotekan adalah sebuah permainan musik yang mengunakan instrumen lesung dan alu sebagai penghasil bunyi dan sebagai media untuk interaksi sosial. Dalam musik kotekan terdapat simbol-simbol dan ekspresi yang menggambarkan kehidupan para petani Jawa yang sederhana baik lewat bentuk instrumen, penyanyian maupun lagu nyang diciptakan. Musik kotekan memiliki fungsi sebagai alat: komusikasi yang menandakan untuk berkumpul, pengusir roh halus pada saat terjadi gerhana dan hiburan untuk mengusir kejenuhan. Bentuk musik kotekan merupakan permainan poli ritmik dengan pengulangan. Permainan musik kotekan terdiri dari : tunggu omah sebagai pengatur birama, duduk tengah sebagai gejog tengah, duduk wingking sebagai gejog akhir, kempyak sebagai pengisi senggakan arang dan titir sebagai pengisi senggakan kerep. Mulai dari masing-masing pemain secara sinkop tidak bersamaan (menyela diantara). Dalam permainan musik kotekan terkandung nilai kehidupan: sabar, temen, ikhlas, mituhu dan budi luhur yang merupakan anutan kehidupan masyarakat Jawa. Hal tersebut dapat diturunkan kepada generasi berikutnya melalui kegiatan yang menyenangkan yaitu permainan musik sehingga pendidikan yang dilakukan tidak terasa. 2. Saran Berdasarkan hasil penelitian, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dari pengelola dan pemerintah daerah setempat baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung, sebagai berikut: 1. Musik kotekan perlu dijaga kelestariannya dan dikembang untuk diturunkan kepada generasi penerus kerena mengandung nilai-nilai pendidikan 2. Musik kotekan sebagai salah satu bentuk seni pertunjukkan perlu dikemas dan digarap baik dari segi musik, bentuk penyajian tata pentas dll dengan tidak merubah atau meninggalkan bentuk aslinya. sehingga memiliki nilai jual baik untuk turis dalam maupun manca negara. 3. Perlu perhatian langsung dari pemerintah yang berwenang untuk mengangkat musik kotekan sebagai aset daerah menjadi kesenian khas kabupaten Blora. Perlu disosialisasikan lewat jalur pendidikan agar regenerasi dan kelestariannya lebih terarah dan dapat terjaga karena merupakan seni daerah setempat sesuai dengan muatan KTSP untuk mata pelajaran seni dan budaya Daftar Pustaka Astono, Sigit. 2002. Lesung Banarata Karawitan di Akar Rumput. dalam “Keteg” Jurnal Pengetahuan- Pemikiran & Kajian tentang Bunyi. Volume 2 no.1 Mei. Surakarta : STSI. Bramantyo, Triyono. 2000. Revitalisasi Musik Tradisi dan Masa Depan. dalam “Mencari Ruang Hidup Seni Tradisi”. Yogyakarta: BP Fasper ISI dan Yayasan untuk Indonesia. Brandon, James, R. 2003. Jejak-jejak Seni Pertunjukan di Asia Tenggara. Terjemahan Sudarsono,R,M. Bandung: P4ST UPI. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1985. Ensiklopedi Musik Indonesia A-E. Jakarta : Peroyek Penelitian dan Pencatatan Daerah. Ensiklopedi Musik Indonesia K-O. Jakarta : Peroyek Penelitian dan Pencatatan Daerah. Herusatoto,Budiono.2001.simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Henindita Graha Widia. Kusumastuti, Eny. 2007. Ekspresi Estetik dan Makna Simbolik Kesenian Laesan di Desa Bajomulyo kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Semarang: Lemlit UNNES. Muiz, Abdul. 2005. Lesung Disuguhkan Lantaran Keunikannya. “Suara Merdeka” 14 Mei. Hal. 24. Mills dan Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta : UI Press. Triyanto.2001. Makna Ruang dan Penataannya dalam Arsitektur Rumah Kudus. Semarang: Kelompok Studi Mekar. Lampiran : Daftar Lagu dan Makna Simbolik Musik Kotekan N0 Judul Lagu Makna simbolik Banyaknya Pemain 1. Kanganten Keakraban suami istri 3 orang 2. Sekar Lempang Kesedihan seorang gadis yang hidup di sekitar lumpang/lesung 4 orang 3. Bluluk Ceblok Gadis belia (usia 11-13 tahun) tetapi telah dipersunting/jadi manten dengan istilah masyarakat desa Ledok “kawin gantung” 4 orang 4. Lam-bang Sari Gadis yang mulai ranum/dewasa (menurut ukuran masyarakat desa Ledok) yang siap dipersunting/dikawinkan 4 orang 5. Kutut Manggung Laki-laki dewasa yang siap menikah 4 orang 6. Jangan Menir Keakraban dan kerekatan hubungan antar masyarakat di desa Ledok yang saling membantu pekerjaan baik untuk menumbuk padi pada kehidupan sehari- hari maupun pada saat ada yang punya hajat(misal; mantu, supitan dll) 3 orang 7. Jaran Dor Panji Semirang yang sedang berperang melawan Belanda 3 orang 8. Bayan Mider Kegiatan perangkat desa yang sedang 3 orang