Harmonia Edisi Khhusus.pdf SENI ORNAMEN DALAM KONTEKS BUDAYA MELAYU RIAU Purwo Prihatin Abstrak Tulisan ini untuk mengungkapkan seni ornamen dalam konteks budaya masyarakat Melayu Riau. Berkaitan dengan itu maka pelacakannya dilakukan dengan mengetahui bagaimana fungsi dan makna seni ornamen dengan kontekstual masyarakat Melayu Riau. Bahwa seni ornamen Melayu Riau merupakan suatu hasil budaya yang diwariskan dari tradisi leluhurnya yang telah mengalami proses perjalanan yang panjang sehingga pada akhirnya membentuk identitas budaya. Pengaruh luar serta kedinamikaan yang ada pada masyarakat Melayu Riau telah membawa seni ornamen Melayu Riau sebagai bagian dari historis perilaku yang pernah diwariskan oleh pendahulunya. Kreativitas dalam penciptaan seni ornamen tidak terlepas dari pola perilaku masyarakat Melayu Riau. Sebagai hasil budaya tradisi seni ornamen Melayu Riau menjadi identitas budaya (cultural identity) dari local genius atau kearifan lokal bagi masyarakat penciptanya. Seni ornamen dalam konteks budaya Melayu Riau ternyata memiliki fungsi serta makna bagi masyarakat Melayu Riau. Keanekaragaman bentuk memunculkan motif-motif seperti jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, geometris, nama alam benda maupun gabungan motif. Seni ornamen Melayu Riau yang merupakan pengalaman dan pelajaran yang didapat dari alam dan didukung oleh kreatifitas masyarakat sehingga melahirkan seni ornamen yang mengandung muatan estetis dan etis yang sarat akan nilai-nilai tradisi yang berlaku dalam budaya Melayu Riau. Kata Kunci : seni ornamen, budaya dan Melayu Riau. A. Pendahuluan Seni ornamen Melayu Riau merupakan salah satu hasil dari proses kebudayaan suku etnis yang sampai sekarang masih bertahan dan memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi pendukungnya. Seni ornamen bagi masyarakat Melayu Riau tidak hanya bahasa gambar saja melainkan manifestasi jiwa yang terkandung makna dan filosofis hidup yang mendalam yang mengakar pada masyarakat tersebut. Perlu diketahui bahwa secara kronologis sejarah panjang dan latar budaya yang membentuk masyarakat Melayu bersentuhan dengan pengaruh animisme, India, Cina, Arab, Eropa bahkan Amerika. Akan tetapi kehadiran agama Islam di tengah kehidupan masyarakat Melayu, pada akhirnya merasuk dengan begitu dalam, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sehingga nilai-nilai Islam mereka jadikan landasan ideal kebudayaannya ( Mahdi Bahar, 2004 : 27). Masyarakat Melayu adalah sebuah masyarakat yang kreatif, inovatif, dinamik dan menjadi bagian dari kebudayaan dunia pada umumnya. Maka tak heran apabila kita dapati berbagai pengaruh budaya luar di kawasan ini. Pengaruh tersebut biasanya disesuaikan dengan cita rasa budaya masyarakat dunia Melayu. Diantara pengaruh luar itu yang sering diadopsi oleh masyarakat rumpun Melayu diantaranya budaya Islam, India, Cina dan Barat. Pada saat ini, dalam dunia Melayu yang sangat dominan diadopsi oleh masyarakat Melayu yaitu Islam ( Muhammad Takari, 2006 : 196). Dalam hal ini pengaruh Islam dalam adat-istiadat Melayu sangat menentukan, hal mana jelas terlihat dalam pilar utama adat Melayu “adat basandi syarak, syarak bersandi Al-Quranul Qarim”. Kenyataan itu membuktikan bahwa adat Melayu adalah budaya yang bernuansa keislaman. Adat-istiadat Melayu terkait erat dengan nilai dan norma ajaran agama Islam (R. Hamzah Yunus, dkk. 1991 : 1). Bukti adanya pengaruh agama Budha adalah adanya penemuan- penemuan yang diketemukan oleh Holle pada tahun 1873 berupa prasasti Pasir Panjang di Tanjung Balai Karimun dengan aksara dewanegeri yang pendapat Moh. Yamin prasasti yang diketemukan tersebut memperlihatkan sifat Budha Mahayana yang berbunyi Mahayanika Cola Yantrita Sri Gautama Sri Pada yang berarti penganut Mahayana, bola dunia yang berseri-seri, kaki Gautama yang berseri- seri. Bahkan agama Budha tidak hanya dianut oleh kalangan istana kerajaan, tetapi juga oleh rakyat di daerah-daerah. Penemuan prasasti ini telah memperkuat keyakinan bahwa agama Budha memegang peranan penting di daerah ini antara abad ke-V Masehi sampai dengannya kedatuan Sriwijaya. Bukti seni rupa adanya pengaruh agama Budha yang masih ada adalah kompleks percandian Muaratakus yang berukuran 74X74 meter. Candi-candi ini adalah bekas kebesaran agama Budha Mahayana. Kompleks ini terletak beberapa kilometer di sebelah selatan dan barat kampung Muaratakus, kecamatan Muaramahat, masuk wilayah Kabupaten Kampar. Tiga buah diantara bangunan yang masih dijumpai sampai kini candi Mahligai, candi Tua dan candi Bungsu. Pada umumnya kompleks percandian ini menunjukan langgam yang ada persamaannya dengan candi-candi Syailendra di Jawa Tengah, kecuali langgam candi Mahligai (Bambang Suwondo, 1977/1978 : 68-73). Bukti-bukti masyarakat Melayu Riau memeluk agama Islam yang menjadi pandangan dalam kehidupan masyarakat adalah banyak berdiri kerajaan-kerajaan Islam di wilayah Riau yang diperintah oleh seorang Sultan. Bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pulau Sumatra. Pulau Sumatera adalah yang pertama yang didatangi oleh agama Islam. Terutama raja dan orang-orang besar beserta saudagar Melayulah yang terlebih dahulu memeluk agama Islam oleh karena golongan inilah yang banyak bergaul dengan saudagar-saudagar Gujarat dan Parsi yang sambil berdagang juga menjadi mubalig Islam. Kebanyakan saudagar- saudagar ini kawin dengan penduduk asli dan langsung mendirikan perkampungan Islam. Bahwa Islam masuk pertama kali di daerah Riau adalah daerah Kuntu yang sekarang Kampar pada abad XII dan XIII yaitu pada saat memuncaknya kesultanan Mesir (Fatimiyah) dan masa kemunduran kerajaan Sriwijaya dan Aceh berdiri kerajaan Islam Dayah dibawah Sultan Johan Syah, sebagai bawahan kesultanan Fatimiyah. Kerajaan ini mempunyai hubungan dagang yang erat dan dengan disponsori oleh kerajaan Dayah itu berdirilah kerajaan Islam di Kampar ( Tengku M. Lah Husni, 1972 : 43 dan Lihat juga Bambang Suwondo, 1977/1978 : 70).