Vol. 8 No.2 Mei-Agustus 2007.pdf HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI FUNGSI MITOS DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT PENDUKUNGNYA (The Function of Myth in Social Cultural Life of Its Supporting Community) Sri Iswidayati StafPengajar Jurusan Sent Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang ABSTRAK Kebudayaan sebagai abstraksi pengalaman manusia bersifat dinamis dan cenderung untuk berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat pendukungnya, di sisi lain mitos juga mencerminkan kebudayaan dan cenderung menyampaikan pesan- pesan yang bersifat transformative, yang terpadu dalam satu mitos, ataupun bisa terwujud dalam versi baru dalam mitos yang sama. Fungsi mitos dalam kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya adalah: (1) untuk mengembangkan simbol- simbol yang penuh makna serta menjelaskan fenomena lingkungan yang mereka hadapi; (2) sebagai pegangan bagi masyarakat pendukungnya untuk membina kesetiakawanan sosial di antara para anggota agar ia dapat saling membedakan antara komunitas yang satu dan yang lain ; dan (3) sebagai sarana pendidikan yang paling efektif terutama untuk mengukuhkan dan menanamkan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan keyakinan tertentu. Pada umumnya mitos-mitos dikembangkan untuk menanamkan dan mengukuhkan nilai-nilai budaya, pemikiran maupun pengetahuan tertentu, yang berfungsi untuk merangsang perkembangan kreativitas dalam berpikir. Kata Kunci : mitos, pesan terselubung, budaya, kreatifitas berpikir A. Pendahuluan Mitos dalam kontelcs mito logi-mitologi lama mempunyaii pengertian suatu bentukan dari masyarakat yang berorientasi dari masa lalu atau dari bentukan sejarah yang bersifat statis, kekal. Mitos dalam pengertian lama identik dengan sejarah / historis, bentukan masyarakat pada masa nya. Di sisi lain mitos (Roland Barthes) diartikan sebagai tuturan mitologis bukan saja berbentuk tuturan oral, tetapi tuturan yang dapat berbentuk tulisan, fotografi, film, laporan ilmiah, olah raga, pertunjukan, iklan, lukisan, pada dasarnya adalah semua yang mempunyai modus representasi dan mempunyai arti (meaning) yang belum tentu bisa ditangkap secara langsung, misal untuk menangkap arti atau meaning sebuah lukisan diperlukan inter pertasi. Tuturan mitologis dibuat untuk komunikasi dan mem punyai suatu proses signifikasi sehingga dapat diterima oleh akal. Dalam hal ini mitos tidak dapat dikatakan hanya sebagai suatu Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 180 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI objek, konsep, atau ide yang stagnan tetapi sebagai suatu modus signifikasi. Manusia dalam masyarakat dan lingkungan sebagai pen dukung mitos berada dalam lingkup sosial budaya. Mereka senantiasa berusaha untuk memahami diri dan kedudukan nya dalam alam semesta, sebelum mereka menentukan sikap dan tindakan untuk mengembangkan kehidupannya dalam suatu masyarakat. Dengan seluruh ke mampuan akalnya, manusia berusaha memahami setiap gejala yang tampak maupun yang tidak tampak. Dampaknya setiap masyarakat berusaha mengem bangkan cara-cara yang bersifat komunikatif untuk menjelaskan berbagai perasaan yang mem punyai arti bagi kehidupannya. Kendatipun manusia sebagai mahluk yang mampu mengguna kan akal dan mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada mahluk lainnya, namun ia tidak mampu menjelaskan semua fenomena yang ada disekitarnya. Senyampang untuk dapat me nguasai fenomena tersebut, di perlukan pemahaman terhadap kehidupan dengan cara me ngembangkan simbol-simbol yang penuh makna. Simbol-simbol tersebut berfungsi untuk men jelaskan fenomena lingkungan yang mereka hadapi, terutama fenomena yang tidak tampak tetapi dapat dirasakan kehadiran nya. Secara kasat mata, manusia melambangkan legenda/ dongeng- dongeng suci, yang dimitoskan untuk memberikan penjelasan terhadap fenomena yang tidak tampak , sehingga dongeng-dongeng suci itu mengandung pesan, walaupun pesan tersebut adakalanya sulit diterima akal, karena pada mulanya legenda-legenda itu terbentuk secara tidak rasional. Di sisi lain masyara kat mempercayai isi atau me nerima pesan yang terkandung dalam mitos dengan tanpa mempertanyakan secara kritikal. Bagi masyarakat, mitos berfungsi sebagai pernyataan tentang kenyataan yang tidak tampak secara kasat mata (jiwo katon). B. Mitos Dalam Budaya Seperti yang telah dibicara kan di atas bahwa manusia dalam menjelaskan kenyataan yang tidak tampak, cenderung mengacu pada kebudayaan sebagai seperangkat simbol yang dapat memperjelas fenomena lingkungan yang di hadapinya. Seperti lazimnya, manusia senantiasa berusaha memahami dan menata gejala /fenomena yang ada di lingkungannya demi kelangsu ngan hidupnya. Dengan cara mengacu kebudayaan sebagai abstraksi pengalamannya dimasa lampau, manusia mencoba untuk mengklasifikasikan fenomena yang ada dan menertibkan dalam alam pikirannya. Upaya peng kalsifikasian tersebut tidak ter lepas dari kebudayaan yang menguasai pola pikir dan sikap mental yang dimiliki. Seolah- olah manusia hanya melihat, men dengar dan memikirkan fenomena di sekitarnya berdasarkan ground yang dimiliki, sehingga mitos merupakan cermin dari suatu kebudayaan pendukungnya. Misal mitos tentang Dewi Sri dengan segala variasinya dengan tepat mengambarkan nilai-nilai budaya yang tercermin dalam sikap dan pola tingkah laku para aktor yang terlibat dalam dongeng tersebut. Demikian pula mitos ter sebut telah mengungkapkan pe ngetahuan budaya Jawa tentang dunia gaib dan dunia nyata yang dijembatani oleh perwujudan seorang "Wanita Jawa" dalam bentuk yang tidak tampak secara pisikal (tidak kasunyatan). Dalam alam pikiran masyarakat petani Jawa pada umumnya mempunyai Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 181 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI pemikiran antara dunia nyata dan dunia lain ( dunia gaib) yang keduanya saling mengisi, yakni dunia nyata sebagai tempat kehidupan dan dunia gaib sebagai sumber kehidupan. Untuk menghubungkan dua dunia tersebut diperlukan sarana untuk menjembatani yakni perwujudan kesuksesan panen sebagai symbol penjelmaan "Dewi Sri" yang meninggalkan dunia nyata dan kembali kedunia gaib, sehingga setiap pasca panen bagi masyarakat Jawa harus melakukan ritual yang dipersembahkan kepada Dewi Sri, sebagai ucapan syukur kapada yang Maha Kuasa dengan harapan agar hasil panen mendatang lebih melimpah. 1. Mitos Sebagai Sarana Fendidikan: Berbagai dongeng suci ataupun legenda, sering kali secara tidak langsung dianggap sebagai doktrin atau dianggap pesan yang datang dari Tuhan, sehingga tidak perlu di pertanyakan secara kritikal. Keyakinan terhadap mitos tersebut menjadikan mitos sebagai sarana pendidikan yang paling efektif terutama untuk mengukuhkan dan menanamkan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan keyakinan tertentu. Selanjutnya mitos juga digunakan sebagai pegangan bagi masyarakat pendukungnya untuk membina kesetiakawanan sosial di antara para anggota. Demikian halnya beberapa sekte-sekte agama di Jepang misalnya, telah memegang teguh mitos tertentu, sehingga mereka dapat saling membedakan antara komunitas yang satu dan yang lain. Sebaliknya dalam cara penyebarannya mitos bisa me lintasi batas dari suatu komunitas, sehingga dengan mudah dapat menggalang kesetiakawanan sosial dalam masyarakat yang lebih luas. Berkaitan dengan fungsi mitos sebagai sarana pendidikan, maka tidaklah mengherankan jika dongeng-dongeng yang bernafas kan petuah atau mengarah pada nilai-nilai moral/ etika "suci" yang terdapat pada setiap komunitas, berfungsi sebagai peraga untuk mempererat keyakinan masyarakat terhadap keluhuran budayanya dan memperkokoh kesetiawanan sosial mereka seperti yang tersirat dalam dongeng-dongeng suci yang berkembang di masyarakat. Tentu nya masyarakat dapat menyerap pesan-pesan budaya dengan tanpa merasakan kejemuan. Missal dalam dongeng Malin Kundang yang ingin menyampaikan pesan untuk masyarakat Indonesia, dan khususnya masyarakat Sumatra, tentang sumpah serapah seorang ibu yang mengakibatkan kefatalan hidup bagi anak kandungnya, dilain sisi akibat kebruntalan anak terhadap orang tuanya, dan masih banyak lagi cerita- cerita serupa yang terdapat di masing-masing daerah maupun bangsa. Tentunya masyarakat dapat menyerap pesan-pesan budaya yang berkembang sesuai dengan zaman nya. 2. Mitos: Perangsang Kreatifitas dan Pemikiran Baru Barthes dalam bukunya mengatakan bahwa Tuturan mitologis dibuat untuk ko munikasi dan mempunyai suatu proses signifikasi sehingga dapat diterima oleh akal (1972). Dalam hal ini mitos tidak dapat dikatakan hanya sebagai suatu objek, konsep, atau ide yang stagnan tetapi sebagai suatu modus signifikasi atau pemikiran baru. Artinya pengkajian secara mendalam terhadap isi atau pesan maupun pengkajian perbandingan sangat diperlukan guna me Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 182 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI pemikiran maupun pengetahuan tertentu, dan juga bisa digunakan untuk merangsang perkembangan kreativitas dalam berpikir. Kebudayaan sebagai abstraksi pengalaman manusia adalah bersifat dinamis dan cenderung untuk berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat pen dukungnya, karena itu mitos yang mencerminkan kebudayaan juga cenderung menyampaikan pesan-pesan yang bersifat transformatif. Pesan-pesan transformatif itu bisa terpadu dalam satu mitos, atau bisa juga terwujud dalam versi baru pada mitos yang sama. Hal tersebut jelas tergambar dalam cerita atau dongeng-dongeng masyarakat yang me legenda, sehingga bisa digunakan sebagai tuntunan dan tontonan. Misal dalam cerita Rama dan Shinta dalam pewayangan sebagai lambang/ simbol kesetiaan. Mitos tentang Rama-Shinta atau Dewi Sri, Timun Emas dst juga tidak terbebas dari sifat atau ke cenderungan pengulangan se hingga melahirkan sejumlah versi yang berbeda. Versi tersebut dianggap benar, dan banyaknya versi yang menambahkan keyakinan penduduk akan kebenaran fakta yang diceritakan. Pada umumnya orang tidak lagi peduli akan kelainan versi yang berkembang, bahkan dihadapkan pada banyak pilihan versi tersebut, kreatifitas masyarakat bisa te rangsang. Bagi mereka yang kritikal tidak dapat menefima apa adanya, melainkan akan melihat keterkaitannya dengan kondisi serta perkembangan zaman dalam menentukan pilihan versi dan interpertasinya. Hal ini dimungkin kan karena mitos sebagai tradisi lisan terbuka terhadap segala kemungkinan sisipan pesan yang dianggap perlu oleh komunikator dan komunikan. Di sisi lain para cendekiawan di masa lampau dengan mudah mengembangkan kreatifitasnya melalui berbagai macam versi dan interpertasinya untuk membina masyarakat dan mengembangkan kebudayaan. Di samping itu banyaknya versi yang berlainan juga mengundang pemikiran lebih lanjut guna menentukan apa yang sesungguhnya menjadi inti pesan mitos itu sendiri. Penutup Fungsi sosial mitos sebagai tradisi lisan perlu dipertahankan, walaupun saat ini pula tradisi tulis telah digalakkan. Karena mitos berfungsi untuk me nampung dan menyalurkan aspirasi, inspirasi dan apresiasi masyarakat yang sedang mem bangun. Kendatipun segala versi mitos tentang Nyai roro Kidul, Rama Shinta, Dewi Sri atau lainnya telah dibukukan, kebiasaan orang mengembangkan tradisi bisa tidak akan berhenti, karena mitos merupakan sarana komunikasi yang merakyat dan dinamis. Barthes juga menggaris bawahi bahwa tuturan mitologis dibuat untuk komunikasi dan mempunyai suatu proses signifikasi yang dapat diterima oleh akal sesuai dengan situasi dan kondisi masing- masing kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Daftar Pustaka Barthes, Roland, 1972, Mythologies Noondy Press, New York. 1967, Denotation Conotation dalam Element Semiology, London, Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 183 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI 1967 Elements of Semiology, London Jonathan , Cape. Leach, Edmund 1067 Geneis as Myth, in Myth and Cosmos. Texas Press, Source Books in Antropology, Austin. Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 184