Microsoft Word - Harmonia Vol VIII No1 2007 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 Tari Ratoh Bantai (Ratoh Bantai Dance) Ahmad Syai Staf Pengajar Program Sendratasik Universitas Syiah Kuala Aceh ABSTRAK Tari Ratoh Bantai ditampilkan dengan desain lantai berbanjar dari awal tarian hingga akhir, tari Ratoh Bantai berasal dari Aceh Selatan, dengan menggunakan bantal kecil sebagai properti, tarian ini mengutamakan keserempakan gerak dalam menepuk-nepuk bantal kecil hingga menimbulkan efek suara yang lebih menarik. Ragam tari tradisional Aceh ini sangat unik, sampai saat ini kurang diekspose menjadi suatu bentuk tulisan yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk dapat diinformasikan ke pada khalayak ramai guna pengenalan lebih lanjut kesenian tradisional Aceh di tingkat Nusantara. Kesenian tradisi memiliki nilai dan makna yang sangat khusus bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Ratoh Bantai merupakan salah satu seni tari tradisional Aceh, sebagai salah satu seni pertunjukan dan sebagai media ungkap nilai-nilai religius, sarana komunikasi, sarana kesinambungan kebudayaan, dan pembelajaran budaya. Kata kunci: ekspos, rujukan, tradisional, religius, komunikasi. A. Pendahuluan WJS. Purwadarminta mengartikan seni sebagai sesuatu yang indah, halus (1992:4). Keindahan itu sangat relative sesuai dengan tingkat pengetahuan dan latar belakang orang yang mengatakan keindahan tersebut. Keindahan dalam seni adakalanya dalam bentuk gerak, suara, dan rupa. Seni yang diungkapkan dalam bentuk gerak adalah tari, tari dari dahulu hingga sekarang masih memiliki peranan yang sangat penting. Tari sebagai salah satu kebutuhan manusia memiliki fungsi sebagai sarana hiburan dan komunikasi. Secara etimologi tari merupakan gerak badan (tangan dan sebagainya) yang berirama dan biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dan sebagainya (Lukman, 1992: 10-11). Soedarsono menyatakan, tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak-gerak yang ritmis dan indah (1989: 34). Tari dinyatakan sebagai ungkapan perasaan manusia melalui gerakan-gerakan tubuh, sehingga tampak dengan jelas bahwa hakikat tari adalah gerak. Di samping unsur dasar gerak, seni tari juga mengandung unsur dasar lainnya seperti irama, ritme, iringan, tata HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 busana, tata rias, tempat serta tema. Tari dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu tari tradisional dan tari kreasi baru. Tradisional, menurut Purwadarminta (1992: 1069) bersifat turun-temurun yaitu tentang pandangan hidup, kepercayaan dan tarian. Tari tradisional adalah tari yang telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang, yang selalu bertumpu pada pola-pola tradisi yang telah ada. Tari kreasi baru adalah tari yang mengarah kepada kebebasan dalam mengungkapkan gerak ada kalanya masih terikat pada tradisi, dan ada pula yang lepas dari unsur tradisi. Zaman dahulu masyarakat Aceh telah mengenal tari. Tari-tarian yang ditampilkan bertujuan menyambut tamu kehormatan raja, pesta adat, dan acara perkawinan. Hal ini menunjukkan bahwa tarian bukan hal yang asing bagi masyarakat Aceh. Bila dilihat secara umum fungsi tari menurut Soedarsono (1989: 55-56) adalah sebagai beriut: 1) untuk tujuan-tujuan magis, dan 2) sebagai tontonan 3) sebagai refleksi dari organisasi sosial, 4) sebagai sarana ekspresi untuk ritual sekuler dan keagamaan, 5) sebagai aktivitas rekreasi atau hiburan, 6) sebagai refleksi ungkapan estetis serta pengemdoran psikologis, dan 7) sebagai refleksi sebagai kegiatan ekonomis. Sampai saat ini Aceh masih kaya akan kesenian tradisional yang belum dapat disebarkan secara luas melalui tulisan-tulisan ke berbagai media, kondisi ini mengakibatkan kesulitan bagi Aceh sendiri dalam mencari informasi tertulis yang telah raib karena bencana dan karena alasan-alasan lain. Melalui penelitian ini diharapkan kembali dapat diukir khasanah seni tari tradisi Aceh kepada masyarakat secara umum. Tari Ratoh Bantai merupakan tarian yang menggunakan media (red; properti) bantal dan diiringi oleh syair. Ratoh Bantai diambil dari kata ratoh, berasal dari kata rateb, dalam bahasa Arab berarti ’mengungkapkan kalimat-kalimat yang mengagungkan Allah Swt’. dan Bantai artinya bantal yang berukuran kecil, dalam tarian ini bantal dipergunakan sebagai efek tepukan yang dilakukan saat melakukan gerakan. Ratoh Bantai dilakukan oleh 11 orang penari pria. Pemimpin tarian ini berada di tengah-tengah penari. Pemimpin tarian ini disebut Syech dalam tari tradisional Aceh. Syech dipilih berdasarkan kemampuan berolah vokal dan memiliki kecakapan yang lebih dari penari yang lain, sehingga keberadaan syech pada tarian ini menjadi barometer kesusksesan pada setiap penampilan kelompok tari. Tari Ratoh Bantai dilakukan dengan gerakan duduk dan kadang- kadang dilakukan dengan menggunakan gerakan setengah berdiri pada gerakan-gerakan tertentu. Tari ini tidak menggunakan tempat yang luas, penari berbanjar ke samping membentuk satu banjar rapi. Gerakan-gerakan yang terdapat pada tari ini serentak dan gerakan yang sangat menarik adalah saat menepuk-nepuk bantal sehingga menimbulkan efek suara yang unik. Ritme tepukan bantal diatur sedemikian rupa sehingga HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 menimbulkan suara yang bergantian dan berkejar-kejaran. Variasi tepukan bantal yang atraktif memunculkan nuansa tradisi yang sangat kuat, dalam permainan bantal sering disebut dalam bahasa Aceh ”lage lhok” . Tari Ratoh Bantai berasal dari Aceh Selatan, tarian ini belum berkembang secara merata di Nanggroe Aceh Darussalam. Perkembangan tari ini di Banda Aceh baru dalam taraf pengenalan, beberapa sanggar yang telah mengenal dan telah mampu menarikan dengan baik tarian ini, namun pantauan peneliti baru beberapa sanggar di Banda Aceh yang dapat menguasai tari ratoh bantai ini. Oleh karena itu sangat perlu kiranya adanya suatu pengembangan yang lebih serius untuk keberlanjutan kesenian tradisional ini. Bantuk penyajian yang harus ditambah volumenya dan terus dapat diperkenalkan melalui pelatihan- pelatihan perlu sekali dilakukan untuk pengembangan seni tari tradisional. Upaya beberapa sanggar di Banda Aceh melalui NGO dan organisasi yang tersebar di Banda Aceh saat ini belum menghasilkan sesuatu yang lebih, namun sebagai tahap awal pekerja-pekerja seni di Aceh telah berbuat banyak untuk kesinambungan kesenian tradisional Aceh perlahan tapi pasti telah dilakukan. B. Makna Ratoh Bantai Sebagai seni tari tradisi, Ratoh Bantai memiliki makna yang sangat dalam bagi pemilik tarian ini terutama masyarakat Aceh Selatan. Ada simbol-simbol tertentu yang muncul dan dapat dijadikan sebagai isyarat keberagaman masyarakatnya. Ikon ini memaknai pergumulan masyarakat Aceh Selatan dalam menyongsong hari depan dan tetap mengutamakan agama sebagai sendi kehidupan yang tidak terpisahkan. Keramahtamahan masyarakat dimunculkan saat memulai tarian ini. Sebagai informasi awal bahwa semua tari tradisi Aceh selalu diawali dengan gerak saleuem. Walaupun berbeda syair namun pada dasarnya setiap akan memulai sesuatu pekerjaan yang akan dilihat oleh orang banyak atau tidak sama sekali maka saleuem sebagai pemulai sangat wajib diutarakan. Jika telah dimulai oleh saleuem maka pekerjaan sudah dapat diteruskan dengan sebaik- baiknya, karena telah disaksikan dan direstui oleh orang banyak. Syair Saleuem Saleuem alaikom po intan buleuen Kamoe bri saleuem kewareh lingka Karena saleuem nabi kheun sunnat Jaroe ta mumat tanda mulia Mulia wareh ranub lampuan Mulia rakan mameh suara Ranub kamoe bri bek temakot pajoh Hana kamaoe bri racon ngon tuba (Assalamulaikum Kami memberi salam untuk semuanya Karena salam kata Nabi adalah sunah Berjabat tangan pertanda suatu kemuliaan Kemuliaan saudara bagai sirih di dalam puan Kemuliaan saudara semerdu suara Sirih kami berikan jangan takut untuk memakannya Tiada kami bubuhkan racun yang mematikan) Pemaknaan suatu kemuliaan yang harus diberikan kapada semua tamu yang datang baik dari dalam HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 wilayah maupun yang berasal dari luar wilayah Aceh. Penghormatan yang setinggi-tingginya bagi semua makhluk ciptaan Allah, yang notabenenya berada dalam suatu kegiatan atau pertemuan. Nuansa keramahtamahan selalu menjadi modal awal untuk memulai suatu kegiatan. Makna Saleuem bagi masyarakat Aceh merupakan kemuliaan dan keharusan dalam memulai suatu aktivitas, sehingga keselamatan akan selalu menyertai pada saat manusia itu melakukan suatu kegiatan. Saling mendoakan agar selalu diberikan suatu keselamatan dan selalu dalam ridha Allah. Nuansa religi segera muncul saat saleuem ini diutarakan oleh seorang aneuk syahi dalam tari Ratoh Bantai ini. Seperti tari tradisional yang lain, maka pada saat mulai ditarikan tarian ini suasana khusuk selalu menyertai, hanya suara aneuk syahi saja yang terdengar saat itu. Kondisi ini membawa pengaruh kepada kehidupan beragama di wilayah ini. Sehingga tidak heran lagi bila sering disebut-sebut dalam kehidupan sehari-hari ”Adat bak Po teu meureuhom hukom bak syiah ulama. Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut” Uraian pepatah petitih dari masyarakat Aceh ini secara umum dapat diperjelas. Agama dan adat istiadat seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan masyarakat Aceh dua sisi ini saling melengkapi satu dan lainnya. Hukum di sini erat dengan hukum agama Islam, dan adat adalah kebiasaan hidup sehari-hari. Sampai saat ini di Nanggroe Aceh Darussalam masih tetap mengutamakan agama sebagai pusat perhatian dan pengatur dalam kehidupan sehari-hari. Koentjaraningrat menyatakan bahwa ada 7 unsur kebudayaan universal, yaitu 1) bahasa, 2) sistem pengetahuan, 3) organisasi sosial, 4) sistem peralatan hidup dan teknologi, 5) sistem mata pencaharian hidup, 6) sistem religi, dan 7) kesenian. Berkaitan dengan itu menurut pengamatan Malinowski tentang kebudayaan, bahwa semua unsur kebudayaan akhirnya dapat dipandang sebagai hal yang memenuhi kebutuhan dasar para warga masyarakat. Semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di tempat unsur kebudayaan itu ditemui. Setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan, dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan yang bersangkutan. Fungsi suatu unsur budaya adalah kemampuannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan primer dan kebutuhan skunder. Bermacam-macam kebutuhan pokok ini di antaranya makanan, reproduksi, merasa enak badan, keamanan, dan pertumbuhan. Dalam memenuhi kebutuhan dasar itu muncul kebutuhan jenis kedua yang juga harus dipenuhi kebudayaan. Kesenian sebagai salah satu contoh unsur kebudayaan terjadi karena manusia ingin memuaskan kebutuhan nuraninya yang berhubungan dengan keindahan. Akan tetapi sekarang di samping untuk memenuhi keindahan, kesenian juga memiliki fungsi yang banyak, baik bagi mereka yang terlibat langsung di dalamnya HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 sebagai pelaku maupun bagi masyarakat pendukungnya di luar pelaku seninya. Syair Kisah Alahai deup pucok reudeuep Bek ta lheuep-lheuep luka jaroe That lon karat luka paleuet Karna Reudeup le that duroe Bukon that sayang lon kalon jaloh Kayee hana boh si umu masa Umpama tanyoe wahe e rakan Meutan sembahyang han sakon guna (Pucuk-pucuk daun berduri Jangan dipetik luka tangan Kalau dipaksa juga luka telapak tangan Karena batang tersebut banyak duri Bukan ku sayang ku lihat jala Kayu tak berbuah seumur hidup Bagaikan kita hai rekan-rekan Jika tidak sembahyang takkan berguna) Kisah disampaikan secara utuh kepada penonton biasanya berisikan nasihat-nasihat agama, tentang salat lima waktu, menjaga silaturrahmi dan kegiatan lain yang setiap hari dilakukan oleh manusia. Perumpamaan-perumpamaan ini merupakan nasihat (peutuah) jika diperhatikan dengan baik, dapat dirasakan dan dijalankan dalam kehidupan manusia. Melalui kisah ini para penonton diharapkan mengerti terhadap sajian yang disampaikan. Gerak kisah dapat diuraikan bertukar-tukar tangan kiri dan kanan sehingga membentuk satu kekuatan dan keserentakan yang menarik. Maknanya adalah sesuatu pekerjaan, sesulit apapun jika sedikit demi sedikit dilakukan akan menemukan suatu keberhasilan, biasanya cobaan demi cobaan ada di dalamnya, tergantung manusia dalam menjalani setiap cobaan tersebut, semakin tinggi ilmu seseorang dalam sesuatu hal akan semakin tinggi pula cobaan yang dihadapi. Inti dari gerak kisah ini memberikan penerangan kepada penonton secara umum tentang bagaimana manusia hidup di dunia dengan penuh kesabaran dan saling menolong satu dengan lainnya. Syair Ekstra Hasrat di hate lon pula bungong Hiasan taman keu ayeuem mata Lon harap bungong hai bungong rayeuk beurijang Lon dodo sayang bungong keumang ngon ie mata (Hasrat hati menanam bunga Hiasan taman teduh di mata Ku harap bunga kembang dan indah Awal ku sayang indah, damai di mata) Sebagaimana layaknya tari tradisional Aceh lainnya, tari Ratoh Bantai memiliki ekstra. Ekstra dalam tari tradisional Aceh adalah upaya pengembangan dan penggabungan yang tertata. Dengan kata lain kreasi syair dan gerakan selalu ada di ekstra. Kondisi ini akan terus dapat diamati, rata-rata ekstra merupakan wilayah pengembangan dari tari tradisional yang ada di Aceh. Ratoh Bantai yang berkembang di Banda Aceh sedikit berbeda dengan Ratoh Bantai yang terdapat di Aceh Selatan, perbedaan ini terletak pada ekstra. Pada gerak ekstra ini dapat diamati lebih lanjut kreativitas seniman tari Aceh, pengembangan tardisi ada pada gerak ekstra. Lebih jauh ekstra dapat dikatakan dengan ”tambahan” ada hal-hal yang perlu penambahan yang membuat sajian tari Ratoh Bantai lebih atraktif dan menggugah penonton. Syair Lanie Teh ku titeh bunthok mak HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 Teh ku timang payong lahilahalah Teh ku timang payong keumang Boh hate ma lahilohalah Ya hohallah alahea Laheal-laheal-laheal laho Ibarat ranup pat hana mirah Di pat peuneurah yang hana bajoe Di pat keuh narit yang hana salah Meunyoe han awaai teuntee na bak dudoe (Yang ku sayang buah hati ibu Teh kutimang payong lahilahalah Teh kutimang payong bunga Buah hati ibu lahilahalah Yahoallah allah eha Laheal-laheal-laheal-laho Tiada sirih yang tidak merah Tiada alat pemeras yang tida ada baji Tiada kata yang tidak pernah salah Jika tidak di awal tentu pada bagian akhir) Kebiasaan tari tradisional Aceh meletakkan ending tarian pada gerakan terakhir. Lanie dalam tarian Aceh merupakan penutup tarian. Penutup tari tradisional Aceh sangat mendadak, jika digambarkan dalam bentuk grafik, grafiknya akan naik pada bagian lanie. Pesan-pesan penutup selalu disampaikan dan diperkuat lagi pada bagian ini. Syair diuraikan dengan kecepatan vokal tertentu sehingga dapat diulang- ulang oleh para penari dan akan dapat diikuti oleh penonton, sehingga penonton akan lebih jelas makna yang terdapat pada penyajian tari Ratoh Bantai ini. Permohonan maaf, dan salam penutup mengiringi gerak tari pada bagian lanie. Untuk itu jika diulang kembali kesan yang terdapat pada bagian akhir ini merupakan ending yang klimaks, dan akan menciptakan nuansa pertanyaan yang dalam, tiba- tiba dan berakhir. C. Fungsi Ratoh Bantai Fungsi tari dalam kehidupan manusia tidak sekedar sebagai ungkapan/ekspresi spontan tatkala senang dan sedih. Tari juga berfungsi sebagai sarana upacara adat maupun keagamaan. Tari juga berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa. Oleh karena itu tari berkembang sesuai dengan kebutuhan sosial sehingga mempunyai fungsi yang lebih penting dalam tata kehidupan bermasyarakat. Fungsi tari adalah sebagai sarana upacara keagamaan, adat istiadat, hiburan kerakyatan, pergelaran, dan pendidikan. (Sugiyanto, 2004: 145). Dalam kehidupan manusia tari sebenarnya memiliki dua fungsi umum yaitu tari yang bersifat sakral dan bersifat profan. Tari yang bersifat sakral artinya ditujukan untuk kepentingan sesuatu yang dianggap keramat atau dipujanya atau yang berkaitan dengan sesuatu yang mengandung kekuatan ghaib. Sedangkan yang bersifat profan berarti ditujukan untuk kepentingan manusia manusia atau masyarakat secara langsung, baik merupakan hiburan maupun komunikasi seni (Arthur, 1999: 10) Ratoh Bantai bagi masyarakat Aceh Selatan khususnya memiliki fungsi tersendiri yaitu: 1) Media Hiburan Sudah sewajarnya pergeseran fungsi akan muncul pada tari tradisi yang berkembang saat ini. Fungsi tari tidak hanya memberi arti bagi penikmat/ pemiliknya, namun secara umum fungsi itu telah membawa masyarakat pada tingkat apresiasi yang sangat tinggi. Menghargai dan mencoba menafsirkan kandungan syair-syair yang terdapat pada tari sebagai seni pertunjukan. HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 Seni tari tradisi masih mendapatkan tempat bagi para penimatnya. Demikian pula hendaknya dengan tari Ratoh Bantai dalam kehidupan masyarakat Aceh Selatan. Syair-syair yang diadopsi dari kegiatan hidup sehari-hari menjadi pesan yang tidak dapat dilupakan, hanya bagaimana masyarakat pemilik seni tradisional ini mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seni pertunjukan ini menjadi identitas tersendiri bagi masyarakat Aceh Selatan. Hiburan yang bernuansa religi ini, terus akan berlangsung seiring tarian ini terus dipertunjukkan dalam acara-acara tertentu. Masyarakat sebagai pemilik kesenian ini sangat bangga dan antusias terhadap setiap pertunjukannya, oleh karena itu tari Ratoh Bantai akan tetap dan terus berkembang pada masyarakatnya. Dengan demikian tidak menjadi hal yang aneh jika daerah lain di Nanggroe Aceh Darussalam menyenangi dan berupaya untuk mempelajari warisan leluhur yang tetap harus dijaga dan dikembangkan. 2) Media Komunikasi Keindahan logis dari suatu penyusunan struktur dapat memberikan rasa kebenaran yang bersifat universal. Nilai-nilai intrinsik seni inilah yang merupakan ciri khas seni yang bersifat otonom. Ratoh Bantai, sebagai seni pertunjukan pada awalnya juga berfungsi sebagai media komunikasi. Komunikasi disini diartikan sebagai penyampai pesan kepada para penonton. Pesan- pesan yang sengaja diuraikan melalui syair untuk dapat diungkapkan kepada para penikmat, sehingga secara langsung penonton dapat menerima pesan secara utuh dan dapat menyimpulkan pesan-pesan yang sengaja disampaikan melalui syair oleh syech-syech tari Ratoh Bantai. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam seni pertunjukan, melalui penonton, seni pertunjukan dapat disosialisasikan menjadi hal yang sangat penting untuk keberlanjutan seni. Komunikasi dalam tari Ratoh Bantai terjadi manakala para penari mulai mempertunjukkan kemampuan dalam menepuk-nepuk bantal dengan syair yang cepat dan ritme yang saling kejar mengejar. Penonton diajak untuk konsentrasi dan benar-benar konsentrasi pada tampilan ini, sehingga kekaguman penonton pada bagian ini terus muncul. Syair diarahkan kepada penonton untuk dicerna sementara gerakan terus bergantian dan ritme tepukan bantal terus meningkahi gerak dan syair ratoh bantai dengan sempurna. 3) Media Silaturrahmi Ada sesuatu yang berbeda dalam pertunjukan tari Ratoh Bantai, salah satunya adalah wadah silaturrahmi. Silaturrahmi sangat dianjurkan dalam agama Islam, pada pertunjukan tari Ratoh Bantai fungsi ini sangat diutamakan, selain penonton dapat bertemu satu dengan lainnya pada kesempatan ini mereka dapat menikmati hiburan islami yang atraktif dan mempertebal rasa persatuan dengan tali keimanan. Syair-syair yang dilantunkan oleh para penari selalu mengingatkan kepada para penonton untuk lebih mendekatkan diri kepada ilahi, mengingat hari akhir. Secara tidak HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 langsung selain sebagai media hiburan dan silaturrahmi, tari ini menerangkan kepada penonton bagaimana manusia harus lebih siap dalam menghadapi semuanya. Silaturrahmi yang terjalin antar umat mewarnai kehidupan dan perjalanan manusia. Oleh karena itu tari ratoh bantai ini diupayakan harus tetap lestari seiring dengan perkembangan zaman. D. Proses Kreatif Pengembangan Tari Ratoh Bantai Proses kreatif dalam upaya pengembangan tari Ratoh Bantai dilakukan dengan berbagai tahap diantaranya: memberikan pengenalan pengalaman tari kepada generasi penerus (peserta latihan). Mengajarkan gerak dasar kepada para peserta. Mengelompokkan peserta pada kelompoknya masing- masing untuk penyesuaian gerak lebih lanjut. Proses latihan secara kelompok dipantau oleh pelatih. Memberikan kesempatan tampil bagi kelompok yang dikategorikan baik dan dapat menguasai Ratoh Bantai lebih atraktif. Proses kreatif dalam rangka mengembangkan dan memperkenalkan tari tradisi kepada orang lain dilakukan dalam waktu berkala, artinya tidak sewaktu - waktu dilakukan, tetapi membutuhkan kesiapan khusus untuk dapat mengumpulkan peserta dalam jumlah besar (minimal 3 – 5 kelompok). Kondisi ini dilakukan agar masing-masing peserta mengalami dengan sendirinya dan mengetahui secara lebih serius tentang pola-pola pembelajaran dan penularan tari secara keseluruhan. Proses latihan ini dilakukan oleh satu kelompok sanggar seni dan bekerja sama dengan Taman Budaya dan Dinas Pendidikan Daerah Setempat, sehingga pesertanya lebih serius berlatih dan mendapatkan perhatian yang khusus dari dinas terkait dalam rangka pengembangan kesenian tradisional lebih lanjut. Gerak dasar dilakukan saat semua peserta telah mengenal secara singkat sejarah tari yang akan dipelajari, sehingga jika tari ini dilanjutkan pengejarannya kepada orang lain, maka secara langsung sejarah tari dan asal usul tari tradisi yang akan diajaran telah dikenal oleh peserta latihan secara keseluruhan. Gerak dasar dilakukan secara menyeluruh, artinya semua peserta melakukan gerakan dengan panduan dan pantauan pelatih yang dibantu oleh para asisten pelatih untuk mengkontrol gerakan para peserta yang mengikuti pelatihan tari Ratoh Bantai ini. Gerakan dipelajari perbagian, seorang pelatih memberikan contoh gerak, kemudian diberikan penjelasan secara detil bagaimana gerak itu dilakukan kemudian dilanjutkan oleh para peserta yang mengikuti latihan tari Ratoh Bantai ini. Latihan perbagian gerakan dilakukan secara berulang- ulang. Setelah para peserta dianggap dapat melakukan gerakan pertama, maka dilanjutkan pada gerakan berikutnya kemudian digabungkan gerak pertama dengan gerak ke dua secara berkelanjutan. Pada tahap latihan gerak dasar ini para peserta mulai merasakan, sakit pada bagian kaki, namun tidak menyurutkan semangat untuk terus melakukan gerak demi gerak. Pengajaran gerak dasar ini membutuhkan waktu 1 minggu. Secara langsung para peserta dapat melakukan gerakan pertama hingga HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 gerakan terakhir pada bentuk tari Ratoh Bantai. Proses selanjutnya adalah membentuk kelompok (3-5 kelompok) sesuai dengan jumlah peserta yang mengikuti proses pelatihan tari tradisi. Masing-masing kelompok pada tari Ratoh Bantai terdiri dari 11 orang, jadi pelatih dapat menentukan siapa yang mampu menjadi syech dalam tarian ini. Syech adalah pemimpin yang terdapat pada tari tradisional Aceh, pemimpin ini dianggap lebih dalam menarikan tari tradisional, artinya memiliki suara yang baik, gerakan yang baik dan secara langsung dapat memberi semangat kepada para anggotanya pada saat melakukan tarian secara bersama-sama. Sehingga pada saat mulai berlatih peserta-peserta pelatihan dapat dipilih secara langsung untuk menjadi syech pada kelompoknya masing-masing. Penentuan syech dilakukan berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh para asisten pelatih dan para pelatih sendiri. Biasanya dalam penentuan syech ini tidak terlalu mengalami kesulitan, karena kriteria menjadi syech pada dasarnya sudah jelas untuk tari tradisional Aceh. Warna kelompok dengan sendirinya akan muncul setelah peserta disatukan dalam kelompok- kelompok tertentu. Saatnya untuk memadukan gerak-gerak yang telah dipelajari selama 1 minggu untuk diwujudkan dalam tiap-tiap kelompok. Proses kreatif di sini akan terlihat lebih jelas setelah para peserta dimasukkan ke dalam masing-masing kelompok. Tiap-tiap kelompok dibimbing oleh satu sampai dua orang asisten pemantau. Asisten pelatih harus lebih aktif dan jeli melihat tiap-tiap gerakan yang harus disusun kembali oleh masing- masing kelompok, sehingga tata urutan pada tari Ratoh Bantai tidak mengalami perubahan. Pembenahan gerak-gerak yang belum maksimal secara detil dapat dilakukan pada tahap ini, kegunaannya adalah kesamaan visi masing-masing peserta. Oleh karena itu proses penggabungan gerak dalam kelompok memerlukan pantauan/bimbingan yang lebih serius dari para asisten pelatih maupun oleh pelatih sendiri. Dengan demikian setelah proses pengelompokan dilakukan dan latihan secara serius, akan langsung dapat diketahui kelompok-kelompok yang dinyatakan berhasil baik dalam upaya kerjasama kelompoknya dan dapat melakukan gerakan dengan sebaik mungkin sehingga proses pembelajaran tari Ratoh Bantai yang telah dilakukan berhasil dan sempurna. Kelompok yang dinyatakan baik, dapat melakukan gerakan dengan lebih atraktif diberikan kesempatan untuk tampil pada acara penutupan latihan berkelompok sehingga mereka memiliki pengalaman tersendiri saat berada di depan orang banyak dalam mempertunjukkan penampilan tari Ratoh Bantai. Proses pengembangan tari Ratoh Bantai dilakukan seperti di atas jika memiliki pendanaan yang matang, sering sekali seniman yang ada di banda Aceh khususnya tidak memiliki anggaran yang cukup untuk menindaklanjuti kehidupan seni tradisi yang sudah harus membumi. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya perhaian Pemda dalam upaya pelestarian dan HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VIII No. 1 / Januari – April 2007 pengembangan kesenian tradisional yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam umumnya. Kreativitas estetis dapat dikatakan manakala ia berperan, tidak hanya involutif, yakni tidak hanya peduli pada kepentingan sendiri, hidup seni itu sendiri atau menghibur diri sendiri. Kesenian sejati haruslah berciri transformatif, yaitu menampilkan kepedulian terhadap nasib orang-orang lain terutama mereka yang terdesak oleh yang kuat. Kesenian harus mampu menunjukkan jalan kesadaran atau perubahan struktur mana yang seharusnya ditempuh agar terjadi perbaikan nasib, entah dalam keadilan, maupun saling menghormati hak-hak dasar insani (Zainal, 2002: 74). Daftar Pustaka Poerwadarminta. 1992. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia Lukman. 1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Peursen, C.A. Van. 1988. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Kanisius Subrana, Abay D. 1995. Islam dan Kesenian. Yogyakarta: Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan. Arthur. S Nalan. 1999. Aspek Manusia dalam Seni Pertunjukan. Bandung: STSI Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: ITB Bandung.