Vol.1 No.1_Mei_Agustus 2000.pdf �!�!#�� �%��&� ��$�� �����' �%��" �� �����!��� ����� ��&�( �%��% #!��!"���� �!�%�%� �!��!��!�'��� �������� �� SAMPAI saat ini, sejarah musik In- donesia belum ada yang ditulis oleh orang Indonesia asli. Adapun alasan-alasannya, adalah sebagai berikut. 1) Tidak adanya tradisi ilmiah, sampai paling tidak satu se- tengah abad sejak abad ke-20, 2) Dalam realitasnya kolonialisme Be- landa membuat para elite Indonesia untuk terbiasa dengan tradisi Barat dalam belajar musik, dan 3) Per- hatian terpusat pada musik daerah yang menghasilkan pengkotak-ko- takkan tradisi musik Indonesia. Dalam rangka meletakkan dasar untuk menulis sejarah musik Indonesia, perlu dipertimbangkan bebe-rapa kajian maupun ulasan dari para sarjana, seperti: 1) Colin McPhee (1980: 42) yang dalam tulisannya mengulas mengenai relasi antara gamelan Jawa dan Bali, 2) Schlager in Hood (1954: 5) dalam tulisan- nya mengenai keterkaitan antara musik Jawa dan Bali, 3) Huntingdon dengan tulisannya “Peradaban Minor Jawa” (Huntington, 1959: 278-279: 404- 405), 4) Schimdt (Poer-batjaraka, 1952: vi) dan Heine-Geldern (Covar- rubias, 1972: 16) menulis tentang keaslian Asia da- lam masyarakat Indonesaia, 5) Beals dan Hoijer (1959: 182) dalam tulisannya mengenai daerah pem-bagian ras Mongoloid dan Melayu yang berhubungan langsung dengan penemuan Becker mengenai pem- bagian daerah jenis-jenis gong di daratan Asia dan kepulauan Asia Tenggara (Becker. 1980: 1), dan 6) Heisenberg dalam tulisannya (Capra. 1980: xi) untuk menarik perkiraan bahwa mengalirnya kebu- dayaan dari luar melahirkan kebu- dayaan tradisonal dan gamelan. Kemudian mempertimbangkan gagasan tersebut di atas, dapat di- sanggah peranan penting gagasan Soeroso tentang gamelan Jawa dan Bali yang memiliki istilah kara- witan di sekitar Surakarta pada ta- hun 1955 menyangkut perbedaan etnis, fenomena musikal, keaslian individu, dan kira-kira awal mula- nya. Istilah karawitan Surakarta se- belum Perang Dunia merupakan perkumpulan tradisional beberapa nama musisi gamelan Raja Sura- karta. � �� ��� �� ���� � Di seluruh kepulauan Indonesia, ada satu daerah yang dikarakteris- tikkan oleh Huntington sebagai pembawa “budaya (tropis) minor” (Huntington. 1959: 278-279). Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra, yang terkenal dan telah dinyatakan sebagai milik dunia, yang dibangun sekitar abad ke-14 dan 15, dan kedatangan Islam di Jawa. telah digunakan untuk mengidentifikasikan bahwa kebuda- yaan minor pernah ada di Pulau Jawa. Adapun beberapa teori dari prinsip Heisenberg menyangkut 6 (enam) pokok pikiran, yaitu: 1. Tidak ada satupun di dalam 25 derajat di equator jenis kebuda- yaan yang benar-benar asli. 2. Kebudayaan minor yang asli di seluruh daerah 25 derajat equa- tor, semuannya seperti akan menjadi terlalu panas ataupun menjadi terlalu dingin pada saat puncak musim. 3. Ada lima lokasi untuk kebu- dayaan, yaitu: a) kebudayaan Maya di Mexico dan Guete- mala, b) kebudayaan Khmer di Indocina, c) kebudayaan Jawa Kuno di Pulau Jawa, d) kebu- dayaan India Selatan di India Selatan. dan e) Kebudayaan Sinhala di Srilangka. Semua kebudayaan minor tampak ke- asliannya pada saat cuaca yang sejuk dan menjadi semakin bergairah pada saat sisa dari kebudayaan kono ini mem- bangkitkan pengakuan kita. Mereka dibawa ke daerah tro- pis yang hangat dan lebih nya- man oleh para imigran yang kelihatannya telah terseleksi secara ketat oleh perjalanan yang panjang dan ganas. 4. Kebudayaan minor secara alam hilang sedikit demi sedikit. Hal ini berarti “kita tidak memiliki lagi bukti mengenai perkem- bangan kebudayaan primitif se- perti apa yang diketemukan di Asiatik dan Arab”. 5. Jika kebudayaan-kebudayaan yang tumbuh pesat di kebu- dayaan tropis menjadi terkikis, secara mudah dan pasti dapat diperkirakan bahwa mereka dibawa oleh para imigran dari daerah lain. 6. Ketiga tipe kebudayaan tropis memiliki karakteristik, yaitu mereka binasa secara perlahan, tidak ada pengganti yang me- neruskan mereka dan hidup secara terpisah dan sukar dilacak dalam kebudayaan sesudahnya. Heisenberg tidak mengatakan perpindahan sebagai kunci untuk melacak kemungkinan akar-akar kebudayaan musik kuno Indonesia bagian barat-daya. Bagaimanapun juga. Heisenberg mengingatkan kita akan kemungkinan perpindahan ke- tika kedua aliran budaya yang ber- beda saling bertemu dan berinter- aksi secara aktif. Meskipun begitu, seseorang mungkin dapat berkata bahwa pengaruh kebudayaan India adalah yang paling kuat di Jawa dan Bali. Akan tetapi, ada satu yang pertanyaan tidak mudah dijawab, yaitu bagaiamana beberapa jenis instrumen musik yang diambil dari India, khususnya saat orang sadar akan fakta bahwa gong-Chine tidak terdapat dalam kebudayaan Hindu. Dalam rangka menjelaskan pengertian mengenai prinsip dari Heisenberg, maka penjelasannya dapat dilihat, sebagai berikut: Kemungkinan benar secara sangat umum bahwa dalam sejarah pikiran umat manusia perkembangan se- ring mencapai puncaknya pada saat dua garis pemikiran yang berbeda saling bertemu. Jalur-jalur ini mungkin mempunyai akar-akar yang sangat berbeda dalam budaya hidup, waktu, daerah atau agama: maka dari itu jika mereka benar- benar bertemu dan jika mereka sa- ling berhubungan erat satu sama lain; dimana hubungan yang se- sungguhnya dapat terjadi, maka orang dapat berharap mengikutinya (Warner Heisenberg seperti yang tercantum di dalam Capra. 1980: xi). Prinsip di atas mungkin terbuka untuk dua tingkatan transformasi, dan jika hal ini dterima kemudian kita dapat berpikir mengenai game- lan yang mana sebagai hasil trans- formasi dari pertemuan tiga aliran kebudayaan pada abad ke-5, ketika kerajaan Hindu Jawa yang per- tama: Kalingga mulai berdiri di utara Jawa. Sebagai perbedaan dari pemi- kiran Huntington di atas, saya pikir ada dua gelombang kebudayaan mi- nor yang terdapat di Jawa. Khu- susnya dalam sudut pandang psi- kologi, etnik di Indonesia bagian barat-daya. yang pertama: ditemu- kan di pulau Jawa, Bali, Lombok, dan Madura, ditambah dengan ba- gian Sumatera Utara, adalah sangat didominasi oleh ciri dari Shaman- isme Asia Tengah dan ras Mongoloid Indonesia Melayu (Beals; Hoijer. 1959: 182), pribumi dari Asia Tengah (Huntington, 1959: 205-206) dan daratan Asia Teng- gara (Beals: Hoijer, 1959: 182) dan kehadiran Shamanisme utara dan ti-mur Asia yang dibawa oleh imigran Mongoloid Asiatik (Beals; Hoijer, 1959: 182). Dan kebudayaan minor yang kedua dibentuk dari lapisan yang pertama tadi, yang mana su- dah tercampur dengan perkembang- an Hindu yang didominasi oleh kebudayaan India. Resepsi antar budaya dalam bi- dang musik di Indonesia barat daya, menurut prinsip Heisenbergian, ada dua gelombang kebudayaan. Hal tersebut seperti tercantum berikut ini. Gelombang Pertama Pertemuan antar budaya di bi- dang musik dalam sejarah kuno In- donesia bagian barat daya secara uniuin ditandai oleh masuknya gen- derang perunggu dari jaman Pra- Indic yang ditemukan di Sumatera Utara, Jawa, Bali, dan Lombok; dan perkusi, dan juga tarian topeng ri- tual dalam tata cara ibadah kuno (Eliade, 1979: 179). Pertemuan ini terjadi dalam proses langsung, di- mana Shamanisme sebagai kebu- dayaan kuno secara penuh diterima oleh pribumi setempat yang dima- sukinya. Pengaruh kebudayaan Shaman- isme masuk ke dalam budaya asli dengan migrasi besar-besaran dari daratan Asia Tenggara dalam ge- lombang besar, paling tidak sejak 2.000 tahun sebelum Masehi (Heine-Geldern dalam Cuvarrubias, 1972: 16). Sebagai kebudayaan, Shamanisme Asia Tengah dan Asia Tenggara telah terbawa ke daerah, seperti terlihat pada: genderang pe- runggu masa Pra-Indic (Soekmo- no, 1985: 64-65), rangkaian gende- rang-genderang kecil, rangkaian gong-gong kecil, sistem syair dengan atau tanpa dua tingkatan bantuan (Iran, 1980: 747), manik- manik (Eliade, 1974: 179), per- mainan genderang yang menarik untuk penyejuk jiwa dan per- sembahan kepada arwah nenek mo- yang dan Tuhan (Hagen, 1961: 98), permainan gong (Soekmono. 1985: 67), dan seterusnya. Gelombang migrasi Asiatik (Deals: Hoijer, 1959: 182) mem- beri pengaruh harpa Yahudi Si- beria, quangong (Tanimoto, 1980: 400), yang di Pulau Bali disebut genggong, rinding dalam bahasa Jawa, gong bertingkat, organ tiup Cina, dan sheng, seruling bambu, musik gesek yang kemudian ber- kembang menjadi rebab, seperti instrumen perunggu kecil, cheng- cheng; definisi musik kuno perta- makali dikenal di Cina pada 3.300 sebelum Masehi (Sedilot, 1959: 34), yang mengatakan bahwa seni musik adalah ekspresi penyatuan surga dan bumi, yang oleh Raja Jawa diterjemahkan menjadi adi-luhung: yang berarti damai dan agung. Ide dari sistem pentatonik Jawa. diterimanya musik ritual Cina sebagai timbre musik atau pengaruh kualitas intonasi (Holland, 1977: 51) dan seterusnya. Satu dari bukti-bukti dalam hasil Heisenbergian (syncretic) da- lam interaksi tradisi musik Mongoloid Indonesia-Melayu Da- ratan dari Asia Tenggara dan Mongoloid Asiatik dari Asia Utara dan Asia Timur adalah instrumen- instrumen yang dinamai cheng- cheng (cymbal) yang merupakan bagian dari rangkaian instrumen, alat musik kuno yang mungkin asli Asia Tenggara dan dinami Gong Luwang dari Desa Kesiut yang dipergunakan untuk festival agama di Gunung Watukaru, Bali Tengah. Terompong dan Riyong yang terdiri dari gong berderat gong kecil: dalam tinjauan sejarah, mungkin berasal dari rangkaian me-lingkar gong Asia yang asli dirang-kai dengan rotan, tetapi kangkala dimodifikasi dengan kerangka kayu (Morton. 1980: 712, 714). Gelombang Kedua Masyarakat kesukuan Shamanis terdiri dari 2 ras: a) Indonesia-Me- layu sebagai mayoritas, dan b) Mi- noritas Asiatik pada abad pertama di Indonesia bagian barat-daya atau mungkin di Bali Juga, yang telah berpengaruh oleh pedagang Hindu dan pencari emas dari Jawa. Orang-orang India, orang yang memberi nasehat-nasihat kepada para pemimpin setempat (ibid: 15), membawa juga Hinduisme; lebih jelasnya kebudayaan Hindu (Bana- wiratma 1977: 15). Pengaruh kebu- dayaan para pedagang ini masuk dalam kerajaan Hindu Jawa yang diketahui dengan jelas pada abad 5 sesudah masehi di Jawa bagian utara, yang bernama Kalingga; sebagai tingkatan awal 5 abad ada- lah waktu yang singkat untuk masuknya seni kerajinan tangan dan tradisi-tradisi yang dikenalkan oleh para pedagang ke dalam kerajaan. Dalam bidang seni pentas, da- lam rangka memelihara budaya Shamanisme Asia di Jawa, Imigran Hindu memperkenalkan drama pa- da abad pertama (Wickham, 1985: 20), musik India, misalnya Himne Rig Veda (Malm, 1967: 68), ins- trumen dengung, genderang atau tala dan memasukkan musik Pra- Indic di Jawa mungkin yang dinami gumlao oleh orang Burma Kachin: menjadi mridangga yang berarti pradangga (dalam bahasa Jawa: gamelan), beberapa instrumen un- tuk memperkenalkan ragas sebagai seperioritas musik mereka di selu- ruh petani-petani semi nomadic Shamanis Asia di Jawa. Sangat mungkin, mengacu pada seluruh karakter Hinduisme dan ke- butuhan akan kerukunan hidup ber- dampingan di antara petani-petani Shamanis Asia, setelah sukses membangun kerajaan Kalingga di abad ke-5 setelah Masehi, raja me- rasa perlu untuk mengganti organ tiup Cina, sheng menjadi xylopone perunggu Jawa, gender sebagai awal gamelan Hindu Jawa, diubah ke dalam bahasa yang lebih halus: pradangga, dimana kendang India yang diwakili mridangga mempu- nyai aturan dominan di festival candi pada masa setelah Jawa Shamanis. Karena kebutuhan yang su-dah mendesak tersebut di atas, se- tidaknya, satu dari melodi-melodi pendek dan sederhana untuk peng- iring tari dalam festival candi pada masa Pra-Indic yang mungkin juga diperdengarkan di festival Pura Bali, odalan di Gunung Watukaru, Bali Tengah; disadur dan dikem- bangkan ke dalam komposisi ga- melan udanmas, dalam bahasa Jawa berarti hujan emas yang dimainkan oleh gamelan Jawa Hindu: Loka- nanta, yang berarti musik surga. Pengamatan dangkal pada gamelan biasanya membuat kita berkata dengan gamelan di Indonesia ba- gian barat daya adalah asli dari Ja- wa atau Bali. Namun, dalam sejarah ini adalah hasil akumulasi kebu- dayaan-kebudayaan asli dari dua tingkatan interaksi kebudayaan Indonesia Melayu Kuno, Asiatik dan mengalirnya kebudayaan India, dimana prinsip Heisenbergian ter- pakai seluruhnya.[] Daftar Pustaka Banawiratma. 1977. Yesus Sang Guru: Penemuan Kejawen. Yo- gyakarta: Kanisius Beals, Ralph L, and Harry Hoijer. 1959. An Introduction to An- thropology. New York: The Macmillan Company. Berger. Judith. 1980. Music in Mo- dern Java: Gamelan in a Changing Society. Honolulu: The University of Hawai. Berger. D.H., dan Atmosoedirjo. 1962. Sejarah Ekonomi Sosio- logis Indonesia. Jakarta: P.N. Pradjaparamita. Capra. Fritjof. 19... The Too of Phy- sic: an Exploration of the Paralels beetwen Modern Phy- sic and Eastern Mysticism. sic and Eastern Mysticism Covarrubias, Miguel. 1972. Island of Ball. Djakarta: PT. Indira. Crossley-Holland, Peter. “New Western: South-East Asia”, da- lam Alec Robertson and Denis Steven (ed.). 1978. The Relican History of Music: Ancient from to Polyphony. England: Bantam Books. Eliade, Mircea. 1974. Shamanism: Archaic Techniques of Ecstas. New Jersey: Princenton Univer- sity Press. Heine-Geldern, Robert von. “Bede- tung und Herkunft der Altesten Hinterindischen Mettalltrommel (Kesselgongs)”. Dalam Asia Mayor, VII. 1933. Leipzig. Hood, Mentle. “The Enduring Tra- dition: its Music and Theatre in Java and Bali”. Dalam Ruth T. McVey (ed.). 1963. Indonesia. New Heven: Yale University Press. Huntington, Ellsworth. 1959. Main- spring of Civilization. New York: New American Library, a Mentor Book. Mcphee, Colin 1980. Music in Bali. New Heven: Yale University Press. Malm. William P. 1967. Music Cultures of the Pasific, the Near and Asia. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall Inc. Morton, David. “Thailand”. Dalam Stanley Sadie (ed.). 1980. The New Grove Dictionary of Music and Musicians. Macmillan Publisher Ltd. Sedillot, Rene. 1959. The History of the World. New York: New American Library, a Mentor Book . Soekmono, R. 1985. Pengantar Sejarah K.ebudayaan Indonesia I. Yogyakarta: Kanisius. Suhardjo Parto, F.X. “Gong Lu-wang of the Village of Kesiut Tabanan in Historical Perspective”. Dalam Ko Tanimura. 1985. Temple Festival in Bali: Reseach Report of Tanimura Team. Research and Exchange Program of Osaka University with the South Pasific Region. Tran Von Khe dalam Yosihiko Tokomani, el. al. (ed.). 1990. Tradition and its Future in Mu- sic: Report of SIMS (the 4th Symposium of International Mu- sicology Society). Osaka, Tokyo: Mita. Wichani, Glynne. 1985. A History of the Theatre. Oxford: Paidon.