Vol.1 No.1_Mei_Agustus 2000.pdf ����� ��� #����� �!����� ��$�� !�� ����������� ���������� ���� Globalisasi yang tengah merambah pada masyarakat dunia dewasa ini nampaknya lebih dipahami sebagai peristiwa dan proses kebudayaan. Hal ini berarti pula berhubungan dengan lembaga, sistem, dan strategi global dari pelakunya. Dalam globalisasi bukan hanya merupakan fenomena budaya melainkan juga fenomena komersial yang membentuk keseragaman tertentu sekaligus membutuhkan perbedaan tertentu sebagai identitas dalam permainan suatu sistem dunia. Dalam konteks ini bukan saja tenaga dan pemikiran yang dijual tetapi komitmen dan loyalitas dari peran aktor. Implikasi fenomena global tersebut dalam jagad seni pertunjukan agaknya sering menimbulkan mitos, yang kemudian melahirkan suatu posisi-posisi tertentu pada diri sang seniman. Mitos tersebut terlihat dari tiga sikap pada sebagian seniman, yaitu: 1) sikap yang mengarah pada kegairahan estetika yang berlebihan sehingga sering mengabaikan nilai dari seni yang memberikan pencerahan bagi kehidupan manusia; 2) sikap yang mengarah pada semangat yang meluap-luap untuk menjadi diri pribadi tanpa disertai semangat mencari nilai yang lebih bermakna; 3) sikap yang mengarah pada pengkultusan terhadap diri seorang tokoh tertentu yang telah menduduki posisi elite. Dengan mitos semacam itu tak pelak kemudian muncul tiga posisi seniman, yaitu: sebagai reproduktor, akomodator, dan emansipator. Masing-masing posisi mempunyai tanggung jawab dan konsekuensi sendiri. Pengantar GLOBALISASI sering diterjemah- kan scbagai gambaran dunia yang menjadi lebih seragam, terstandar. dan sekaligus keberagaman melalui teknologi, komersialisasi, dan sin- kronisasi budaya yang dipengaruhi oleh Barat. Globalisasi juga bisa di- pahami sebagai mitos dan parame- ter Modernitas. Namun. dalam perkembangannya. konsep global- isasi masih menjadi perdebatan ka- rena dipahami secara bervariasi oleh para pakar dengan cara pan- dang dan argumen mereka masing- masing. Misalnya: perdebatan an- tara dua kubu tentang globalisasi, yakni homogenizer dan Heteroge- nizer, globalisasi sebagai glocaliza- tion dan sebagai hybridization (lihat Mike Featherstone, Scott Lash, dan Roland Robertson, 1995). Reflek-sinya di dalam dunia kesenian, khu-susnya seni pertunjukan, tampak dari warna dari karya yang dilahir- kan oleh sang seniman (pelaku aktor). Kini kesadaran berekspresi seniman cenderung merefleksikan adanya pergeseran sikap, orientasi, dan kepentingannya. Misalnya: per-geseran dari kolektivitas ke indivi-dualitas, dan motif sosial ke motif ekonomi, dan kemapanan nilai ke-pada ketidakmapanan nilai. Namun, apakah globalisasi merupakan ben- tuk peradaban dunia atau tidak lebih sebagai mitos dari Barat yang sengaja didengungkan dalam suatu sistem dunia? Lalu seberapa jauh pengaruhnya terhadap dunia seni pertunjukan? Bagaimana seniman memposisikan diri dan apa konse- kuensi dari posisi yang telah dipi- lihnya? Tulisan ini mencoba untuk membahasanya. Globalisasi Globalisasi yang tengah merambah masyarakat dunia dewasa ini nam- paknya lebih dipahami sebagai pe- ristiwa dan proses kebudayaan da- lam arti longgar. Kebudayaan tidak lagi dipahami secara substantif, me- lainkan proses untuk melihat praktik- praktik dalam penciptaan dan pembuatan kembali ruang identitas (Friedman, 1995). Globalisasi se- bagai fenomena budaya. berada pa- da peradaban komersial, yang mem- benluk keseragaman tertentu dan se- kaligus membutuhkan perbedaan tertentu sebagai identitas dalam per- mainan suatu sistem dunia. Hal ini akan melibatkan lembaga, sistem, dan strategi global dari para pelaku- nya (aktor). Sebab, di dalam global- isasi bukan saja tenaga dan pemikir- an yang dijual, tetapi komitmen dan loyalilas dari peran aktor. Kesadaran individu versus kesadaran hidup bersama. Lokal versus global berte- mu dalam satu arena. Proses globalisasi budaya ter- cermin dalam lima dimensi, yaitu: 1) ethnoscape, yakni mengalirnya para imigran dan turis ke berbagai negara. Dalam hal ini mobilitas aktor sangat berperan, terutama da- lam pembentukan corporation se- bagai jaringan kerja; 2) techno- scape, yakni terciptanya mesin, pa- brik, dan perkembangan teknologi canggih yang dihasilkan oleh ber- bagai kawasan negeri; 3) finan- scape, yakni mengalirnya arus per- tukaran uang dan saham pada pasar bebas. Di sini capital flow bergerak sejalan dengan arus informasi; 4) mediascape, yakni melimpahnya arus informasi melalui media ke penjuru dunia, seperti informasi yang berlalu-lalang di angkasa le- wat komputer dan internet (cyber- space). Hal ini tentu akan memper- mudah proses komunikasi antar-ak- tor dan antarkorporasi; 5) ideo- scape, yakni derasnya gerakan ideologis terutama akibat inspirasi ide-ide pencerahan Barat, seperti demokrasi, hak asasi manusia, ke- terbukaan. dan kesejahte-raan (Arjun Appadurai, 1990: 2). Dari kelima dimensi itulah nuansa globalisasi menampakkan diri melalui aktivitas dan perubahan dalam capital, cor- poration, communication, dan citizen dalam konteks sistem dunia (world system), seperti global culture, global flow, global wealth. Proses tersebut di atas sering menimbulkan mitos maupun posisi tertentu pada diri seniman karena adanya tuntutan, kebutuhan, res- pons, dan persepsi, atas situasi yang muncul ke permukaan. Mitos seba- gai gejala sering memunculkan fe- nomena tertentu, sedangkan posisi sering berfungsi sebagai cara atau strategi mengatasi fenomena. Mitos dan Posisi Seniman Seniman sebagai manusia tidak mungkin bisa menghidarkan diri dari mitos. Sebab mitos ibarat ‘udara busuk’ di tengah manusia menghirup oksigen (nilai-nilai ber- makna) guna kebutuhan hidup. Mitos sering mengganggu kesehat- an (pikiran jernih) yang sulit dihin- dari karena telah bercampur dengan oksigen. Mitos terjadi karena tidak ada nilai yang kuat dan menjadi pe- gangan atau panutan dalam ke- hidupan, sehingga situasi keko- songan nilai (anomie) tak terhin- darkan. Akibatnya adalah daya kri- tis orang tenggelam dalam suatu kemapanan, absolutisme, dan oto- ritarianisme. Minimal terdapat tiga mitos yang menonjol dan sering meng- acaukan kehidupan seni maupun sastra, yaitu mitos orisinalisme atau estetisme, mitos subjektivisme (ke- akuan), dan mitos elitisme atau ketokohan (Tam-maka, 1998). Pe- rtama, mitos orisinalisme terjadi karena kegairahan estetika yang berlebihan, sehingga melupakan nilai yang seharusnya diemban. Fe- nomenanya adalah tampak pada semangat untuk tampil beda, meng- abdi pada keindahan gaya - suatu bangunan yang sesungguhnya se- mu tanpa isi. Selain kreativitas, orisinalisme memang menjadi ke- butuhan di dalam dunia seni, tetapi bila hanya ingin tampil beda (waton sulaya) tentu bukan hal sehat. Ke- dua, mitos subjektivisme yaitu ke- gairahan (romantisme) yang me- luap-luap untuk menjadi diri sen- diri. Kegairahan seperti ini tidaklah buruk. tetapi ketika seniua itu men- jelma menjadi pengekalan pribadi tanpa disertai semangat mencari ni- lai lebih bermakna atau mendalam dan memikirkan yang lainnya dapat menimbulkan masturbasi keindah- an belaka, karyanya menjadi nar- cissus, pemujaan terhadap diri sendiri. Ketiga, mitos elitisme me- rupakan mitos yang paling ber- bahaya karena sering mengarah pa- da pengkultusan terhadap diri se- orang tokoh tertentu yang telah menduduki posisi elit. Dunia ke-senian terasa tak berbeda dengan panggung politik sebagai arena pe-rebutan “kekuasaan atau pengaruh” untuk memperoleh kekuasaan itu. Akibatnya, dunia seni tertentu ha- nya berisi nama seniman-seniman besar tetapi minus karya besar. Kar- ya seniman besar memang tidak sedikit yang memiliki bobot kua- litas yang tinggi, tetapi sebagai ma-nusia tentu juga ada yang tidak berkualitas. Pada sisi lain, para seniman muda selalu berupaya merebut kekuasaan itu dengan se- gala cara sampai tanpa terasa ener- ginya habis dan mengesampingkan tugas utamanya, yakni belajar, menggali, dan memodifikasi nilai secara terus-menerus. Kodisi sema- cam ini bukan merupakan kesalah- an mereka, melainkan situasi sosio- politik selama ini yang memaksa rakyat untuk tidak kritis, terutama kritis kepada yang sedang berkuasa. Bertolak dari ketiga mitos tersebut, muncul tiga kecenderungan posisi seniman dalam menghadapi feno- mena global, yakni reproduktor. akomodator, dan emansipator (lihat Jazuli, 2000). Posisi seniman se- bagai reproduktor yaitu kelompok seniman yang bertindak sebagai agen yang melayani selera publik dan menerjemahkan (mereproduksi) gagasan khalayak luas. Seniman se- macam ini cenderung melayani atau mengikuti kehendak yang berke- pentingan atau memiliki kekuasaan, termasuk kekuasaan finansial. Kon- sekuensi dari posisi ini adalah se- ring dipandang sebagai seniman yang menekankan pada status quo, epigon, oportunis, dan kadang pen- jilat. Seniman yang memposisikan diri sebagai akomodator adalah me- reka yang bertindak sebagai agensi yang selalu berusaha mengako- modasi berbagai kepentingan pu- blik, terutama kepentingan yang berseberangan antara dirinya dengan publik maupun norma bu- daya yang berlaku. Seniman seperti ini cenderung berideologi pragmatis (pasar), yaitu kadang melayani se- lera publik dan kadang mengadakan kritik sosial, sehingga senantiasa berada dalam proses tawar-mena- war. Konsekuensinya adalah sering dipandang sebagai seniman hipokrit, plin-plan, bahkan bunglon. Posisi emansipator adalah mereka yang bertindak sebagai aktor yang mampu berpikir dan berekspresi atas kehendak bebas sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya. Kelompok seniman semacam ini cenderung mengutamakan nilai emansipatoris (kesetaraan), kejujuran, kebebasan demi kemanusiawian. Seniman seperti ini senantiasa berupaya mengekspresikan sesuatu yang seharusnya diekspresikan ber- dasarkan suara nurani kemanusia- annya. Konsekuensinya adalah se- ring dipandang sebagai seniman idealis, dan sulit diatur, dalam hal tertentu juga bunglon dalam arti posisitf demi pemahaman dan kebaikan bersama. Penutup Berdasarkan paparan di atas, kiranya wajar bila seniman pada masa kini harus memulai dengan semangat baru sesuai dengan era keterbukaan dan kesetaraan yang dibawa oleh paradigma reformasi. Strategi seniman sekarang harus tidak lagi mengarah pada mitos eli- tisme maupun estetisme, melainkan pada perjuangan, perilaku proaktif dan selektif terhadap segala feno-mena yang muncul ke permukaan, termasuk fenomena di luar jagat ke-senian. Seniman tidak perlu mena-bukan fenomena yang terjadi di luar dunianya, tetapi justru harus meres- ponsnya agar mampu menempatkan diri pada posisi dialektis antara yang global dan yang lokal. Se- sungguhnya, mitos-mitos sebagai- mana yang telah dikemukakan ha- rus ditafsir ulang sesuai dengan se- mangat dan konteks zamannya. Dengan demikian, elitisme akan di- pahami sebagai akibat dari suatu tindakan yang memperoleh legiti- masi; estetisme harus dilandasi oleh sesuatu kemampuan dan integritas yang mengantarkan publik untuk lebih berdaya dan berbudaya; su- bjektivisme hanya mungkin bisa digapai bila pribadi-pribadi seni- man mampu berperan serta di dalam pergaulan global-lokal, menghor- mati dan menghargai segala sesuatu pluraliats yang terjadi di luar diri dan dunia keseniannya.[] Daftar Pustaka Apparaduai, Arjun. 1990. “Global Culture”, dalam Audentia, Vol. I, No.4, 1993, hal. iii. Featherstone, Mike, Scott Lash, and Roland Robertson, (ed.). 1995. Global Modernities. London, New Delhi: SAGE. Jazuli, M. 2000. “Dalang Dalam Pertunjukan Wayang Kulit: Studi Tentang Ideologi Da- lang Dalam Perspektif Hu-bungan Negara Dengan Ma-syarakat”. Disertasi Universi- tas Airlangga Surabaya. Laraain, Jorge. 1996. Ideo- logi. Diterjemahkan oleh Riyadi Gunawan. Yogyakarta: LKPSM. Mannheim, Karl. 1991. Ideologi dan Otopia. Yogyakata: Ka- nisius. Tammaka, Zaenal Mh. “Membong- kar mitos, Membangun Ge- rakan”, dalam Solo Pos, 28 Agustus 1998.