Vol.1 No.1_Mei_Agustus 2000.pdf ���� �!��'�� �!��#� ������+�� ��'� ���" )�)�� �!���$ ���� ���� Cacat mental merupakan keadaan kemampuan mental di bawah normal yang tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa diperingan melalui pendidikan, bimbingan, latihan, dan perlakuan-perlakuan khusus. Apabila secara wajar seni tari dimengerti sebagai pelajaran inti dan penuh dengan perencanaan, maka dapat berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan seseorang dan sebagai penyatu banyak disiplin, termasuk pemberian perlakuan khusus seperti tersebut di atas. Tari dapat dimanfaatkan sebagai alat sekaligus sebagai proses dan produkpendidikan dalam kesatuan totalitas dari kehidupan manusia. Tari dapat merupakan metode yang relatif ideal untuk mencapai keseimbangan daya tahan dan kontrol tubuh, serta pembentukan jiwa melalui pengalaman emosi imajinatif dan ungkapan kreatif. Semua itu barangkali sangat dibutuhkan oleh anak manusia, tidak terkecuali anak penyandang cacat mental. Persoalannya mungkin hanva terletak pada bagaimana strategi, metode, dan esensi tari sebagai materi bimbingan bagi anak pengandang cacat mental. Pendahuluan CACAT mental bukanlah suatu pe- nyakit, melainkan karena adanya ketertinggalan atau kelambatan da- lam perkembangan mental (retar- dasi) yang sub-normal. Dengan ka- ta lain, cacat mental merupakan ke- adaan kemampuan mental di ba- wah normal yang tidak dapat di- sembuhkan, tetapi bisa diperingan melalui pendidikan, bimbingan, la- tihan. dan perlakuan-perlakuan khusus (Johnston, 1971; Supriyo dan Eddy Hendrarno, 1991). Oleh karena itu, bagi para penyandang cacat mental sangat memerlukan bimbingan dan perhatian secara khusus pula. Salah satu bentuk ke- giatan pelayanan program reha- bilitasi sosial bagi anak penyan- dang cacat mental adalah mem-berikan bimbingan mental dan ke-terampilan. Tujuannya adalah un-jkk’’ tuk meningkatkan dan mengem- bangkan potensi mereka secara op- timal agar nantinya memperoleh kesejahteraan yang relatif layak dan menjadi orang yang berman- faat. Suatu bimbingan dilakukan un- tuk membatu individu guna meme- cahkan atau mengatasi kesulitan- kesulitan yang dihadapi dalam ke- hidupannya. Bimbingan mental da- pat dimengerti sebagai upaya untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan meningkatkan pengetahuan, si- kap dan keterampilan dalam kehi- dupan masyarakat yang bersifat praktis fungsional sehingga para penyandang cacat mental dapat melaksanakan fungsi dan peranan- nya sebagaimana mestinya. Bim- bingan keterampilan merupakan usaha menanamkan. menumbuhkan, dan mengembangkan pengetahuan keterampilan agar para penyandang cacat mental mampu memiliki ke- terampilan guna melaksanakan kehi- dupannya secara layak (Depsos RI, 1991: 61). Dalam konteks dunia pendidik- an, seni tari termasuk bidang ke- terampilan yang di dalamnya meng- andung pula nilai pendidikan men- tal. Hal itu mengisyaratkan bahwa seni tan memiliki potensi sebagai terapi dalam membantu meringan- kan anak penyandang cacat mental. Sungguhpun demikian, sebelumnya perlu disadari bahwa program pen- didikan tari yang baik seperti halnya bidang pendidikan lainnya. yaitu membutuhkan staf pengelolaan dan fasilitas yang memadai. Ke- butuhan seperti itu akan memung- kinkan anak-anak dapat menemu- kan potensi tari dalam suasana yang segar dan ruangan yang bersih di bawah bimbingan dan instruksi se- orang ahli tari. Berdasarkan dasar pemikiran tersebut. muncul suatu permasalahan yang hendak dibahas yaitu. apa dan bagaimana bentuk kontribusi yang bisa diberikan tari bagi anak-anak penyandang cacat mental? Bagaimana strategi atau cara pemberiannya? Tari dalam Dunia Pendidikan Dalam pendidikan seni meng- andung dua pengertian dasar, yaitu seni sebagai subject matter dari ma- teri pendidikan (art education), dan seni sebagai wahana pendidik-an atau strategi pendidikan dalam artinya yang menyeluruh (educa- tion through art). Yang pertama le- bih menekankan pada aspek mate- ri, sedangkan yang kedua lebih me- nekankan pada proses dengan seni sebagai mediumnya. Selama ini pendidikan seni di Indonesia tam- paknya lebih mengacu pada penger- tian yang pertama. yang penyeleng- garaannya dibedakan menjadi dua, yakni pendidikan artistik (praktek kreasi) dan pendidikan estetis (apresiasi). (apresiasi). Sejak awal kehidupan, manu-sia hidup melalui tubuhnya dari la-hir hingga mati dipenuhi oleh gerak sebagai simbolnya. Tari mempu- nyai medium ungkap yakni gerak dalam ruang dan waktu, sedangkan teba (ambitus) maupun variasi gerak sangat banyak jumlah dan macam- nya. Tubuh penari merupakan ins- trumen (alat) tari, dan tubuh menjadi instrumen yang unik untuk membuat hidup, kehidupan, dan sentral peng- alaman manusia. Tubuh bukan ha- nya mendasari persepsi dan kon- sepsi manusia, tetapi juga mereflek- sikan apa yang telah diamati dan dikonsepsikan oleh manusia baik dalam bersikap dan berperilaku. Atas dasar itulah, bila secara wajar tari dimengerti sebagai pelajaran inti dan penuh dengan perencanaan, tari dapat berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan seseorang dan sebagai penyatu banyak disiplin, seperti dengan cabang seni lainnya dan ilmu (membaca, menulis, meng- hitung). Tari dapat dimanfaatkan sebagai alat sekaligus sebagai proses dan produk pendidikan dalam ke- satuan totalitas dari kehidupan ma- nusia. Tari dapat merupakan meto- de yang relatif ideal untuk mencapai keseimbangan daya tahan dan kon- trol tubuh, serta pembentukan jiwa melalui pengalaman emosi imaji- natif dan ungkapan kreatif. Barangkali kita sering berang- gapan bahwa bakat merupakan faktor mendasar bagi setiap orang untuk bisa menari atau memiliki ke- terampilan pada bidang seni lainnya. Anggapan tersebut mungkin tidak terlalu salah. tetapi tidak benar se- penuhnya karena sampai kini eksis- tensi bakat masih sulit diukur ter- utama bagi anak-anak, bahkan men- jadi isu yang subjektif. Hal itu an- tara lain disebabkan oleh tiadanya informasi yang spesifik tentang ba- kat artistik, kemampuan inheren se- bagian besar anak terhadap prinsip dasar kritik seni. kurang andalnya, tes-tes untuk mengukur ekspresi se- ni dan evaluasi seni, dan sifat seni sangat variatif. Tingkat apresiasi se- ni kreatif atau kemampuan mema- hami seni yang tinggi pada anak se- ring dianggap sebagai bakat, pa- dahal apa yang diyakini itu ter- nyata juga sering terbukti sebagai kecerdasan biasa. Ekspresi dan pe- mahaman yang cepat terhadap se- ni barangkali lebih arif bila tidak selalu menjadi indikator dari kua- litas substansial dalam konteks yang lebih luas. Conant (1969: 79) mengusulkan beberapa indikator tentang anak berbakat seni, yaitu: 1) mempunyai pengalaman-peng- alaman melalui studio atau media massa, seperti melukis, membuat set panggung; 2) menyukai penulisan tentang seni, seperti menulis ten- tang kehidupan seniman besar, meneliti tentang bentuk dan gaya seni tertentu. membuat laporan ten- tang hasil kunjungan ke suatu tem- pat tertentu (galery); 3) terbuka terhadap kritik dan bersikap kon- struktif terhadap karya kreatif. Ten- tunya. apa diusulkan Conant ter- sebut masih perlu dilengkapi dengan cara pengukuran yang valid, dan hal ini memerlukan studi dan perenung- an (kontemplasi) tersendiri. Disadari bahwa bagi anak-anak yang mengalami retardasi mental atau tidak mempunyai kemampuan beradaptasi sosial sangat memer- lukan pertolongan khusus dari para ahli psikologi. medis, pekerja so- sial. guru atau pembimbing terlatih dan orang tua yang bijaksana. Per- tolongan semacam itu sangat pen- ting untuk memenuhi segala kebu- tuhan mereka dan membantu per- tumbuhan mereka. Oleh karena itu, sangatlah urgen bila seorang ahli tari senantiasa bernegosiasi dan be- kerjasama dengan para ahli lain seperti tersebut di atas, karena lang- kah itu sangat erat hubungan- nya dengan informasi tentang ting-kat keterbelakangan mental, seperti apakah anak termasuk dalam ka- tegori lambat belajar (slow leaner), mampu didik (debil), mampu latih (embisil), dan kategori perlu rawat (idiot). Sungguhpun pengkategorian tingkat keterbelakangan tersebut masih sulit diandalkan ketepatannya karena memerlukan observasi yang jitu dan kesabaran yang tinggi. Untuk itu ada beberapa asumsi yang perlu diperhatikan oleh para orang tua, guru atau pembimbing kelas maupun seni, ahli medis, pekerja sosial dan para psikolog, yakni: 1) Anak-anak dengan problem-problem fisik, mental dan sosial sering mampu mengekspresikan diri secara artistik dan mampu memahami bi-dang- bidang seperti halnya anak-anak lain; 2) Anak-anak yang me-miliki talenta intelektual atau lain-nya belum tentu mempunyai bakat seni, demikian pula sebaliknya; 3) Anak-anak yang diyakini memiliki bakat seni, boleh jadi tidak memiliki bakat seni ketika dewasa. Terapi Tari Sesungguhnya, bila tari dikaji secara ekstensif dan mendalam sangat bermanfaat bagi kesehatan, pengendalian diri, menanamkan so- lidaritas sosial, kedisiplinan, dan menumbuhkan kepercayaan diri. Hal itu dapat ditinjau melalui nilai-nilai dalam tari, terutama nila yang berkaitan dengan perkembangan jasmani dan rokhani. Dalam per- kembangan jasmani, tari melalui gerak yang berirama dan harmonis dapat mengatur irama perkem- bangan jantung, proses pencernak- an, fungsi-fungsi anggota tubuh lainnya, dan memperkuat otot-otot tertentu. Di dalam jenis pendidikan ini, tari sangat berguna untuk mem- fungsikan organ-organ tubuh, mem- bentuk postur tubuh, mengembang- kan keterampilan dan ekspresi fisik. Dalam perkembangan rokhani, nilai tari antara lain bisa dilihat bahwa: 1) aktivitas tari memerlukan disiplin yang cukup tinggi, 2) tari membu- tuhkan ekspresi pribadi, 3) Tari memberikan keluwesan tubuh dan kontrol yang besar, 4) tari mem- bantu perkembangan persepsi, 5) menari dapat mendorong timbulnya rasa seni dan sikap menghargai seni (Rand Rogers. 1980). Keseim-bangan antara tubuh dan jiwa itulah sesungguhnya merupakan hakekat kontrol diri dan daya tahan tubuh, yang sekaligus membedakan antara tari dengan olah raga. Atas dasar nilai-nilai jasmani dan rokhani di atas. secara prinsipal tari dalam pendidikan mempunyai tujuan bagi perkembangan pribadi seseorang. Tujuan tari bagi anak- anak dari segala usia dan kondisi sosial adalah: 1) membimbing me- reka dalam berbagai aktivitas fisik yang bervariasi guna mengenal se- cara sadar tentang fungsi dan hu- bungan bagian-bagian yang berge- rak pada tubuh mereka; 2) memper- kenalkan konsep ruang, waktu dan tenaga dalam hubungannya dengan gerak tubuh mereka baik secara perseorangan maupun bersama orang lain; 3) mendorong timbul- nya kebanggaan dalam upaya mengembangkan kontrol dan kete- rampilan gerak khusus (yang dra- matik dan ekspresif); 4) meng- usahakan situasi tertentu pada me- reka agar dapat mengambangkan imajinasi dengan cara menari, se- perti dalam hubungannya dengan teman, saudara, tetangga, orang yang berbeda usia dan kebudayaan, dapat merasakan dan memberi re- aksi; 5) mendorong kreativitas me- reka dalam eksplorasi serta men- diskusikan ide-ide, meningkatkan diri dan apresiasi terhadap gagasan maupun prestasi orang lain. Dengan menari akan muncul situasi kritis dan penuh arti, karena perasaan le- bih bisa dimengerti dan dikontrol, dan kontrol diri bisa diperluas menjadi kontrol keseimbangan diri secara alamiah (Haberman dan Tobie Meisel, 1970: 4). Salah satu teori pendidikan modern yang didasarkan pada pene- litian ekstensif menyatakan, bahwa perlunya mempertalikan secara de- kat mungkin antar anak-anak yang kurang normal dengan individu-in- dividu normal yang berusia sama dan memiliki minat-minat yang sa- ma (Conant, 1969: 78). Berdasar- kan teori tersebut, ternyata seni (tari) memainkan peranan penting dalam pendidikan anak penyandang cacat mental, yaitu tari menjadi wa-hana rehabilitasi. Melalui aklivitas- aktivitas tari, banyak anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang mengalami retardasi mendapatkan bukan hanya kesenangan, tetapi juga pengkayaan konseptual dan pening- katan kemampuan ekspresi. Kerja sama para ahli seperli yang telah di- sebutkan dengan ahli tari ternyata telah menghasilkan keuntungan-ke- untungan, seperti koordinasi gerak anggota tubuh yang membaik, otot- otot yang menguat, emosi-emosi yang lebih tenang, kepuasan pri- badi meningkat, perasaan tenteram lebih besar, hubungan sosial yang membaik, dan sebagainya. Pengajaran tari bagi anak-anak yang mengalami retardasi harus lebih ditekankan sebagai proses da- ripada sebagai produk. Tari harus diletakkan sebagai wahana pen- didikan bagi perkembangan setiap individu. Secara fisik, menari ber- arti harus memfungsikan anggota tubuh untuk bergerak. Dalam ber- gerak. posisi tari di sini adalah sebagai bingkai pembatas. Tari merupakan sebuah pola yang telah diatur sedemikian rupa sehingga akan mengarahkan pada tujuan-tu- juan tertentu. Oleh karena itu, sangat penting adanya pentahapan dalain proses pengajaran bagi anak- anak tersebut. Adapun tahap-tahap- nya, sebagai berikut: 1) lebih diarah- kan untuk menumbuhkan minat dan motivasi yang dapat menimbulkan perasaan senang (rekreasi), 2) me- ningkatkan perasaan senang men- jadi perasaan pesona (kekaguman), 3) mendorong munculnya sikap menghargai (apresiasi). Dengan kata lain, pengajaran tari harus mene- kankan pada keikutsertaan anak meskipun hanya sebagai peserta penggembira (ikut-ikutan), kemudi- an mengembangkan minat anak, dan mengamati secara intens demi me- ningkatkan kualitas anak sesuai tu- juannya. Demikian pula proses eva- luasinya, terutama harus ditekan- kan pada proses perkembangan dan bukan semata-mata hasil pada penguasaannya. Mengenai materi dan proses pengajarannya, perlu disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang spesifik dari berbagai jenis dan tingkatan tertentu pada anak cacat mental berdasarkan informasi dari orang-orang yang ikut menangani. seperti psikolog, pekerja sosial, gu- ru, medis. Adapun bentuk materi tari yang disajikan dapat berupa ke- giatan kreasi dan apresiasi. Kegiatan kreasi meliputi beberapa aspek, yaitu: 1) kreativitas tari, 2) gerak dan lagu, 3) respon musik (me- nanggapi musik tari), 4) menirukan gerak-gerak tari, 5) penguasaan tari bentuk (tingkat pengamatan), 6) pengekspresian tari bentuk (tingkat penghayatan atau ekspresi pribadi). Dalam kegiatan apresiasi, terdiri dari tahap-tahap kegiatan melihat, mengenal, mengamati, merasakan, dan menghayati. Pada aspek-aspek kreasi dan apresiasi tersebut ten- tunya harus mencakup pula tentang elemen-elemen dasar tari, yaitu ten- tang geraknya, tata rias dan tata busananya, musik iringannya, ben- tuk pentas/ panggungnya, temanya, dan perlengkapan tari lainnya. Sehubungan dengan metode dan teknik pengajarannya dapat ditem- puh melalui beberapa cara, tetapi harus tetap mempertimbangkan ke- adaan anak dan lingkungan belajar- nya. Misalnya: 1) Metode Demon- strasi dan Eksperimen, yaitu mene- kankan pada contoh-contoh dan percobaan-percobaan yang sesuai dengan tujuan bimbingan, seperti menggunakan teknik ketukan atau hitungan. teknik peniruan, teknik kebebasan beraksi. Tujuannya ada- lah agar anak mampu berkomunika- si, beradaptasi, mempunyai peng- alaman praktek, sehingga anak mempunyai kemampuan berparti- sipasi terhadap norma-norma dan lebih jauh terhadap kehidupan ma- syarakat; 2) Metode Bermain Pe- ran, yaitu bimbingan dengan me- lakukan peran tingkah laku yang se- suai dengan tujuan bimbingan, se- perti menggunakan teknik kebebas- an beraksi, bereaksi atau peniruan. Dengan metode seperti itu berujuan agar anak mampu berkomunikasi, bekerjasama. berinteraksi dalam kelompok, dan mengatur hidupnya; 3) Metode Sosio-Psikodrama, yaitu bimbingan dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk ber- ekspresi dalam sikap dan perilaku, mengungkapkan emosinya melalui pendramatisasian, dengan menggu- nakan teknik kebebasan beraksi. Dengan dramatisasi anak diharap- kan mampu memahami dan meng- kaji dalam proses beradaptasi dengan peran dan lingkungannya; 4) Metode Karya Wisata, yaitu bimbingan dengan cara meng- adakan bepergian atau perjalanan guna memperkenalkan kepada objek-objek atau tempat tertentu se- suai dengan sasaran bimbingan. Tu- juannya adalah untuk meningkatkan komunikasi antar anak, menjalin kerja sama yang lebih erat, meng- embangkan partisipasi, dan meman- faatkan lembaga-lembaga pelayan- an sosial; dan sebagainya. Penutup Bertolak dari asumsi dasar bah- wa secara keseluruhan tari mem- punyai nilai hakiki, maka tari bukan hanya berfungsi sebagai instrumen untuk membuktikan bidang kesehat- an mental dan fisik (terapi), koordinasi dan konsep pribadi, melainkan juga merupakan bentuk seni yang memiliki kemampuan yang unik guna mengekspresikan perasaan manusia. Keterlibatan tari seba-gai elemen kegiatan pokok bagi pengembangan anak-anak penyandang cacat mental, tari dapat menjadi wahana ideal untuk tujuan pendidikan pada umumnya. Lebih-lebih mengingat pengkajian dan im-plementasi kegiatan tari untuk ke-pentingan para retardasi mental se-lama ini masih sangat langka, bah-kan nyaris belum dilakukan di ne-gara ini. Sebagai epilog, semoga se-percik pemikiran ini bermanfaat ba-gi sidang pembaca. Daftar Pustaka Conant, Howard. 1969. Art Edu- cation. New York: The Center Applied Research in education. Inc. Depsos RI. 1991. Pedoman Opera- sional Rehabilitasi Sosial bagi Penderita Cacat Mental. Temanggung: PRPCM. Habennand, Martin and Tobie Meisel (ed.). 1970. Dance an Art in Academe. New York: Teachers Collage, Columbia University. Johnston. M.K. 1971. Mental Health and Mental Illness. New York: JB Lippincott Co. Rand Rogers, Frederick (ed.). 1980. Dance: A Basic Educational Technique. New York: Dance Horizons. Supriyo dan Eddy Hendrarno. 1991. “Gambaran Umum Keserdasan Pada Retardasi Mental.” dalam Penyegaran Petugas PRPCM Temanggung. Semarang: Kerja- sama IKIP semarang.