Vol. 2 No. 2 Mei_Agustus 2001.pdf HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI KEBANGKITAN TARI RAKYAT DI DAERAH BANYUMAS (The Resurgence of Folk Dances in Banyumas) Indriyanto* Abstrak Tradisi Banyumas mulai tmapak kemajuannya pada tahun 1980-an. Hal tersebut ditandai dengan popularitas yang semakin meningkat pada produk-produk budaya Banyumas, seperti penciptaan seni yang banyak bermunculan diantaranya gending-gending Banyumasan, kemudian disusul dengan tari Banyumasan. Kesadaran masyarakat Banyumas mendorong tradisi Banyumas mampu berdiri sejajar dengan tradisi lain dalam skala nasional maupun internasional. Kata Kunci : Tari, Tradisi, Banyumas, Pertunjukan, Rakyat, Istana A. Pendahuluan Soedarsono (1987: 70) mengategorikan tari daerah di Indonesia menjadi tari klasik dan tari rakyat. Tari klasik yaitu tari yang berasal dari kraton, sedangkan tari rakyat berasal dari kalangan rakyat biasa. Tari kreasi baru adalah tari garapan baru yang berkembang dan biasanya berdasarkan dari materi tari klasik dan tari rakyat. Kata klasik mengandung penegrtian bukan saja tua, melainkan sifat mapan dari bentuk-bentuk kesenian yang sudah mencapai bentuk ideal. Kata klasik dalam masyarakat Jawa sering diidentikkan dengan kata adiluhung yang berarti indah dan hebat. Kata adiluhung sering digunakan untuk menggambarkan bentuk-bentuk kesenian tradisional dari kraton Jawa (Lindsay, 1991: 6). Jenis tari rakyat yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat, biasanya mempunyai bentuk yang serba sederhana pada elemen pertunjukannya. Kesederhanaan yang dimaksud terdapat pada seni gerak, tata rias wajah dan tata rias busana, iringan dan tempat pertunjukan. Sedyawati (1981: 48) menggolongkan tari klasik dan tari *Staf Pengajar Jurusan Sendratasik FBS UNNES Semarang Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 60 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI rakyat dalam jenis tari tradisional. Predikat tradisional mempunyai arti segala sesuatu yang sesuai dengan tradisi, sesuai dengan pola-pola bentuk maupun penerapan yang selalu berulang. Pada jaman kerajaan, istana disamping sebagai pusat kekuasaan juga merupakan pusat kebudayaan yang menjadi panutan budaya pada lapisan masyarakat di bawahnya. Esensi konsep dewa raja, menempatkan raja sebagai dewa atau wakil Tuhan mengakibatkan rakyat selalu menganggap kehidupan istana merupakan contoh kehidupan yang pantas dan baik untuk ditiru. Tomars (1987: 23) mengatakan bahwa dalam sistem kelas dimana raja beserta para bangsawan merupakan kelas tertinggi mempunyai pengaruh penting terhadap gaya dan fungsi dalam seni. Akibat adanya anggapan bahwa segala produk budaya istana adalah pantas dan baik untuk ditiru mengakibatkan berpengaruhnya budaya istana pada budaya rakyat termasuk seni pertunjukan. Hal tersebut membentuk sebuah anggapan di masyarakat bahwa budaya istana selalu lebih baik dari pada budaya sendiri. Dalam bidang seni pertunjukan, tari istana selalu lebih baik dari tari rakyat. Akibatnya tari rakyat kurang berkembang dibanding dengan tari istana. Sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1960-an adanya pembandingan antara tari rakyat dengan tari kraton masih terasa di masyarakat. Tari istana atau tari klasik masih menjadi tari yang adiluhung di mata masyarakat Jawa. Di Jawa, sejak jaman kemerdekaan sampai tahun 60-an tari istana (tari Jawa) masih mendominasi perkembangan tari di Jawa Tengah. Tari istana masih memegang superioritas diantara jenis tari lain (tari rakyat). Masyarakat masih cenderung menganggap bahwa tari istana merupakan tari yang paling baik. Berdirinya sekolah-sekolah seni masih menempatkan tari Jawa sebagai bahan kajian utama. Cara pandang masyarakat yang cenderung menempatkan seni istana sebagai seni yang paling baik juga terjadi di daerah Banyumas. Dewasa ini ada kecenderungan daerah-daerah di Jawa Tengah menonjolkan identitas budayanya melalui seni pertunjukan rakyat yang ada di daerahnya. Fenomena ini mulai nampak pada tahun 1970-an. Daerah-daerah tertentu di Jawa Tengah mempunyai khas kesenian daerah yang dapat mewakili identitas budaya daerahnya. Kabupaten Blora terkenal dengan Tayub Blora, kabupaten Purworejo terkenal Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 61 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI dengan Dolalak, kodya Semarang terkenal dengan tarian Gambang Semarang. Hal ini menandai adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesenian daerahnya. Mereka cenderung memandang bahwa kesenian daerah yang mereka punya dalam hal tertentu memiliki nilai yang tidak kalah dengan tari klasik yang berasal dari istana. Jadi dalam kesenian, pandangan masyarakat terhadap seni di daerahnya semakin tinggi. Dewasa ini tari rakyat bangkit dan mampu bersaing dalam kancah perkembangan tari secara nasional Di daerah Banyumas juga tidak terlepas dari fenomena semacam ini. Tulisan ini mengambil studi kasus di Karesidenan Banyumas sehubungan dengan tumbuhnya populeritas tari Banyumas di tingkat daerah, nasional dan internasional. Pokok kajian dalam tulisan ini adalah perkembangan tari Banyumasan dengan masalah bagaimana perkembangan tari di daerah Banyumas. Sedyawati (1981: 8) menjelaskan tentang arti perkembangan yang menurutnya mempunyai arti secara kualitatif dan kuantitatif. Perkembangan dalam arti kualitatif berarti mengolah dan memperbaharui wajah pertunjukan. Hal ini berarti meningkatkan kualitas estetis dari keberadaan bentuk seni pertunjukan. Perkembangan dalam arti kuantitatif berarti membesarkan volume penyajian dan meluaskan wilayah pengenalannya. Kualitas karya seni pertama-tama ditentukan oleh keberadaan seniman yang mengerjakannya. Namun tidak kurang penting adalah usaha-usaha untuk menciptakan kondisi sehingga para pencipta itu bisa muncul dan bisa tampil pada setiap kesempatan. Usaha perluasan haruslah dipandang sebagai usaha penyiapan prasarana, sedang tujuan terakhir adalah memeprbesar kemungkinan berkarya dan hasil karyanya dapat dinikmati masyarakat luas. B. Perkembangan Tari Rakyat Banyumas Secara historis Banyumas termasuk wilayah pertama kekuasaan Mataram (1586), selain Mataram dan Kedu (Depdikbud, 1976/1977:16). Daerah Banyumas berperan sebagai pembayar pajak dan disebut juga dengan daerah siti dalem Pamaosan. Banyumas sebagai daerah kabupaten wilayahnya meliputi Banyumas, Ajibarang, Purbalingga, Banjarnegara dan Majenang. Apabila diperhatikan, pada masyarakat tradisionla, Jawa, bupati bukan semata-mata kepala daerah yang berstatus pegawai kerajaan. Bupati pada hakekatnya adalah kepala kaum bangsawan daerah yang Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 62 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI menjadi kelompok penguasa daerah. Sebagai kepala kelompok penguasa daerah posisi bupati dapat dibedakan menjadi dua. Pertama: posisi bupati terhadpa raja, yaitu sebagai bawahan yang dapat disamakan dengan gubernur propinsi. Bupati memerintah daerah atas nama raja. Kedua : posisi bupati terhadap rakyat yang dibawah kekuasaannya. Rakyat merupakan kelompok kesatuan berbentuk komunitas yang dinamakan desa. Terhadap desa bupati mempunyai otoritas tertinggi untuk memerintah, memberi perlindungan, pengadilan, menjamin keamanan dan tata tertib, memungut pajak atau upeti. Memungut hasil dari desa dan menggunakan tenaganya. Inilah yang menjadi ciri dari setiap kekuasaan pada masyarakat tradisional Jawa. Sebagai sentral dalam pandangan hidup tradisional Jawa, serta dalam teori mataram tentang martabat raja adalah anggapan Hindu Budha yang lama ada paralel antara makrokosmos (dunia supra insaniah) dan mikrokosmos (dunia manusia). Negara dilihat sebagai citra kerajaan dewa- dewa, di nama raja adalah penguasa tunggal yang merupakan penjelmaan dari dewa yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas. Negara, dilihat sebagai citra kerajaan dewa-dewa, dan kekuasaan dewa-dewa membenarkan kekuasaan raja-raja. Peran utama raja adalah melindungi kerajaan dan rakyatnya dengan menjadi perantara antara dunia manusia dengan dunia dewa-dewa. Raja, pada tingatan yang lebih rendah pegawai-pegawainya sebagai lanjutan dari kekuasaannya, juga harus memiliki kekuasaan dan wibawa yang setara dengan dewa-dewa (Geldern, 1982: Moedjanto, 1987). Negara Mataram dengan raja beserta bupati-bupati daerahnya mempunyai otoritas kekuasaan dalam menentukan keteraturan masyarakat. Masyarakat disini meliputi daerah manca negara dan pesisir, dimana Banyumas termasuk daerah manca negara. Ke dua daerah pembagian itu adalah daerah yang secara disiplin selalu menjadi objek dari kebijakan politik pemerintah pusat (raja) dan daerahnya (bupati). Ketundukan rakyat kepad apihak penguasa didukung oleh konsep kawula- gusti yang sudah berurat pada rakuat maupun penguasa. Menurut pemikiran tradisionla Jawa, ada tiga konsep utama yang mengatur hubungan kawula-gusti sebagaimana dijelaskan oleh Maertono (1968: 28) yaitu: Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 63 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI 1. Suatu hubungan pribadi yang erat disertai dengan rasa saling mencintai dan menghormati yang dianggap sebagai standar cara komunikasi sosial 2. Nasip menentukan kedudukans eseorang dalam masyarakat, apakah ia akan lahir sebagai hamba atau sebagai tuan. Akibatnya adalah bahwa manusia tak punya pilihan melainkan harus memikul kewajibannya seperti yang ditentukan oleh nasib. Dua faktor ini mengakibatkan suatu penyelenggaraan pemerintahan yang mengatur 3. Raja terhadap bawahannya dalam hal politik pemerintahan harus memperhatikan rakyatnya. Sehingga raja sebenarnya mengambil sikap sebagai maha pelindung dan rakyatnya tunduk serta menerima. Konsep kawula-gusti yang tidak ada sejak jaman Mataram, secara psikologis menyebabkan ketergantungan rakyat pada istana sangat tinggi. Hal semacam itu pada akhirnya rakyat akan selalu beranggapan bahwa kehidupan istana merupakan contoh kehidupan yang pantas dan baik untuk ditiru. Oleh sebab itu, mobilitas tari dari istana ke rakyat lebih tinggi dari pada tari rakyat ke istana. Mobilitas tari dari istana ke rakyat tidak selalu pihak istana yang mempunyai inisiatif untuk mengalirkan budaya istana ke rakyat. Lebih dari itu rakyat juga mempunyai inisiatif untuk meniru kehidupan istana. Sebagai bagian dari wilayah kerajaan Mataram, masyarakat Banyumas juga tidak terlepas dari sebuah anggapan bahwa kehidupan istana merupakan kehidupan yang pantas dan baik untuk ditiru termasuk dalam hal seni pertunjukan. Sutton (1991: 71) mengatakan, sebagai berikut: While these qualities would have made it difficult for Banyumas music and other arts to gain prestige during the centuries of court supremacy ... Sebagai akibat dari anggapan semacam itu seni pertunjukan rakyat di Banyumas juga tidak terlapas dari pengaruh seni pertunjukan istana. Banyak seni pertunjukan rakyat di Banyumas meniru aspek-aspek pertunjukan istana. Akibat lain dari anggapan semacam itu kurangnya kesadaran masyarakat setempat untuk menunjukan identitas budayanya. Sutton (1991: 71) tradisi Banyumas mulai tampak maju pada tahun 1980 dengan mulai populernya gendhing-gendhing Banyumasan dan seni pertunjukan rakyat Banyumas yang lain. Namun sebenarnya gejalanya Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 64 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI sudah mulai pada akhir tahun 1970-an. Dalam bidang tari sudah mulai ada penataan-penataan tari yang sebagian besar berakar dari pertunjukan lengger tahun 1970-an. Pada tahun 1976, Suhartoyo salah seorang staf Kebudayaan Depdikbud Kabupaten Cilacap mulai menata tari yang disbeut tari Gombyong Banyumasan. Di Yogyakarta Supriyadi dari Purbalingga yang sedang belajar (nyantrik) di padepokan seni tari kreasi baru Bagong Kusumafiarja dan sebaga mahasiswa Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta menata tari dengan iringan Gendhing- gendhing Banyumasan yaitu tari Cipat-cipit dan tari Baladewa. Dua tari tersebut kemudian dikemas dalam tarian kreasi baru karya Bagong Kusumadiarja dan kaset iringan tarinya diedarkan pada masyarakat luas. Pada tahun 1978 Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas mendirikan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dengan tujuan untuk mengangkat seni pertunjukan rakyat di Banyumas. Pemerintah mengangkat seni pertunjukan rakyat antara lain melalui festival, di sisi lain mulai diadakan penataran-penataran tari yang mengambil dari seni pertunjukan rakyat Banyumas, seperti Lengger, dan Edeg. Supriyadi yang waktu itu adalah seorang cantrik Padepokan Seni Bagong Kusumadiardjo di Yogyakarta, banyak mencipta tari dengan ragam gerak dan iringan gending gaya Banyumasan. Ada juga tokoh tari lain yang juga mencipta tari gaya Banyumasan yaitu Suprapto dari Banjarnegara, Suhartoyo dari Cilacap dan Atmo dari Purwokerto. Dari tokoh-tokoh tari inilah tari gaya Banyumasan dikembangkan didaerah masing-masing. Sampai sekarang tari Banyumasan berkembang dengan baik seperti tari Gambyong Banyumasan, tari Lengger, tari Baladewa, dati Bandoran, tari Cipat-cipit, tari Jalungmas dan tari Ebeg. Tari Banyumasan ditampilkan dalam acara festival-festival tingkat daerah, nasional bahkan hingga tingkat Internasional. Selain itu juga untuk materi/bahan ajar pada sekolah-sekolah menengah sampai pendidikan tinggi yang memiliki program seni pertunjukan, sedangkan fungsi lain digunakan juga untuk sajian penyambutan tamu, peresmian kantor, upacara pernikahan dan lain-lain. Kesadaran masyarakat Banyumas untuk menampilkan serta pertunjukan sendiri menunjukkan bahwa era multi kurturalisme di Banyumas sudah terjadi secara nyata. Multi kulturalisme menekankan Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 65 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI penghapusan hirarki etnis dan menekankan perlakuan yang sama dari berbagai budaya yang berbeda (Gere, 1992: 5). C. Simpulan Perkembangan tari di Banyumas diawali dengan perubahan cara pandang dari masyarakat Banyumas terhadap seni pertunjukan istana dan pertunjukan rakyat yang meurpakan produk mereka. Kesadaran masyarakat Banyumas akan kelebihan tari rakyat yang mereka miliki menyebabkan adanya keberanian untuk menampilkan seni pertunjukan sebagai identitas mereka dan sekaligus juga dapat berdiri sejajar bahkan melebihi tari-tari dari istana. DAFTAR PUSTAKA Babad Banyumas, Banyumas: t.p., dan t.t. Bandem, I Made. 1996. Etnologi Tari Bali. Yogyakarta: Kanisius Depdikbud. 1980. Sumbangan Pikiran Tentang Seni Tari Calung Banyumas”. Sebuah Laporan Penelitian. Purwokerto: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Gere, David (ed). 1992. Looking Out perspective on Dance and Criticism in a Multicultural World. New York: Schrime Macmillan an Imprint of Simon & Schuster Macmillan. Geldern, Robert Von Heine. 1982. Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Terjemahan Deliar Noer. Jakarta: C.V. Rajawali Moedjanto. F. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Perannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius Soedarsono. 1985. Pola Kehidupan Seni Pertunjukan Masyarakat Pedesaan, dalam Djoko Soerjo, Ed. Al. Gaya Hidup Masyarakat Jawa di Pedesaan : Pola Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya. Yogyakarta: Depdikbud. Sutton, R. Anderson. 1991. Tradition of Gamelan Music in Java Musical Pluralism and Regional Identity. New York: Cambridge University Press Tomars, Adolph S. 1964. “Class System and The Arts”, dalam Werner J. Comman dan Alvin Baskoff, ed. Sosiology and History: Theory and research. London: Colier Nacmillan. Limited, PP. 21-23. Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001 66