180 KIDUNG KANDHASANYATA SEBAGAI EKSPRESI ESTETIK PESINDEN WANITA MARDUSARI Darmasti Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jl. Ki Hadjar Dewantara no. 19 Surakarta (Solo) E-mail: darmas-1958@yahoo.com Abstrak Salah satu karya sastra berbahasa daerah yang berbentuk puisi adalah macapat. Macapat bila disuarakan dinamakan tembang macapat. Tembang macapat ter- masuk seni vokal yang bersifat mandiri atau sajian vokal yang menyertai gamelan. Pada masa Mangkunagara VII, muncul seorang seniwati profesional di bidang tari dan karawitan, memiliki kemampuan sebagai pesindhen, penyusun teks sindhenan berbentuk karya sastra, yang berpengaruh hingga sekarang didunia olah vocal pe- sinden. Kidung Kandhasanyata merupakan ekpresi estetik yang mencermin- kan peristiwa serta ‘nilai-nilai’ yang berlaku. Kidung Kandhasanyata merupakan cakepan sindenan hasil karya sastra Mardusari yang berbentuk tembang mocopat. Macapat kandungan isinya berfungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampai ungkapan rasa, sarana penggambaran suasana, penghantar teka-teki, alat penyuluhan dan dilagukan berirama. Kandhasanyata Chants as Aesthetic Expression of Mardusari Female Singer Abstract One of poetic works written in local language is macapat. It is named so when it is recited. Macapat chants constitute an autonomous recitation or a vocal that accompanies tradition- al musical instruments. During the times of Mangkunegara VII, there was a professional female artist in dancing and karawitan (traditional music instruments), having skills as pesindhen (Javanese female singer), and in composing literary sindhenan (Javanese chants) texts, that gives influences to pesindhen (Javanese female singers) even to this present time. Kidung Kandhasanyata (Kandhasanyata chants) is an aesthetic expression that reflects pre- vailing events and values. This chant is cakepan of chants of Mardusari literature in the form of macapat. The contents of macapat function as the harbinger of messages, oracy media, expression of feelings, illustration of atmosphere, delivery of puzzles, instruction media, and rhythmic chants. Kata kunci: macapat, kidung Kandhasanyata, Mardusari, tembang, ekspresi estetik PENDAHULUAN Sebagai refleksi keberadaan manu- sia dalam berbudaya dan bermasyarakat, bahasa selain berfungsi alat komunikasi juga berfungsi sebagai pengungkap reali- tas dan sekaligus pembentuk realitas. Bagi pesinden wanita, tembang yang ditulis da- lam bentuk teks merupakan media berpi- kir dan merasa, merupakan media komu- nikasi estetik. Dalam pemikiran fenomenologi bahasa tembang dipandang sebagai tan- da–tanda yang diberi pemaknaan baru. Bahasa tembang dilihat sebagai refleksi penafsiran diri. Bahasa tembang menjadi modal untuk mengada manusia dalam du- nia sosialnya. Sebagai penyingkap realitas, Darmasti, Kidung Kandhasanyata Sebagai Ekspresi Estetik 181 tembang dapat merekam andaian-andaian yang diyakini masyarakat bagaimana se- harusnya seseorang bersikap, bertindak, melihat dunia, dan bahkan berpikir ten- tang dunia. Tembang menjadi seperang- kat konvensi yang dapat merefleksikan hubungan-hubungan sosial. Tembang bagi pesinden berperan membentuk realitas dan sekaligus dapat meniadakan realitas. Tembang macapat sarat dengan seperangkat aturan mere- konstruksi dan mendekonstruksi. Landasan Pemikiran Macapat sebagai Seni Vokal Bahasa Jawa Karya seni yang berbagai ragam dan jenisnya mencakup berbagai bidang yaitu seni visual, seni auditip, seni pertunjukan dan seni sastera. Salah satu karya sastra berbahasa daerah yang berbentuk puisi adalah macapat. Karya tulis macapat bila disuarakan dinamakan tembang macapat. Tembang macapat termasuk seni vokal yang bersifat mandiri atau sajian vokal yang menyertai waditra gamelan (Supang- gah dalam Rochkyatno, 1998:1) Macapat hadir dan berkembang di se- gala lapisan masyarakat dan segala tingkat usia. Pada kesempatan-kesempatan ter- tentu macapat senantiasa tampil di berba- gai kegiatan. Macapat dengan segala kan- dungan isinya berfungsi sebagai pembawa amanat, sarana penuturan, penyampai ungkapan rasa, sarana penggambaran su- asana, penghantar teka-teki, alat penyulu- han dan pendidikan. Hampir semua nilai kehidupan dapat terwadahi oleh macapat, baik yang dapat terlihat nyata maupun kandungan yang tersimpan. Macapat adalah salah satu karya sas- tra dalam bahasa daerah Jawa, Sunda, Bali, Madura dan Sasak, berbentuk puisi yang disusun menurut kaidah-kaidah tertentu, meliputi guru gatra, guru lagu, guru wilan- gan (Saputra dalam Rochkyatno, 1998: 3). Macapat merupakan salah satu bentuk seni vokal. Memiliki kandungan isi yang ber- bobot. Penyajiannya melalui proses peng- garapan yang halus, lembut, cermat dan mantap serta senantiasa memperhatikan unsur etika dan estetika. Sebagai salah satu bentuk seni sas- tra dan seni vokal macapat menjadi bagian kehidupan masyarakat. Di dalam kegiatan yang bersifat seremonial macapat selalu turut serta berperan. Macapat menduduki fungsi yang penting di dalam kehidupan masyarakat. Macapat berperan di dalam kehi- dupan sehari-hari untuk pengisi waktu senggang, pelepas lelah, penahan kantuk, pelengkap upacara di pura dan keperluan lainya. Di Yogyakarta Macapat di perlom- bakan untuk anak usia sekolah Dasar dan Menengah. Pembinaan pendidikan Ma- capat sekarang gencar dilaksanakan oleh dinas pariwisata propinsi. Macapat lebih digiatkan oleh karena mengandung nilai pendidikan ( Sogi Sukijo, wawancara 27-3- 2012). Macapat menjadi salah satu bentuk ungkapan seni dan senantiasa terlibat kei- kutsertaannya di dalam upacara lingkaran hidup. Berbagai Karakter tembang macapat: a. Dhandhanggula, nama yang bermakna serba manis, karakter tembang mem- bawakan suasana serba manis, me- nyenangkan, mengasikkan. Tembang Dhandhanggula sebagai sarana mela- hirkan perasaan yang menyenangkan, menghantarkan ajaran yang baik me- ngasyikkan dan mengungkapkan rasa kasih, melukiskan keindahan serta ke- selarasan. b. Sinom, bermakna muda. Mengisyarat- kan suasana dunia lingkungan muda remaja yang serba riang, ceria, menye- nangkan, melahirkan rasa cinta kasih dan menyampaikan amanat serta me- nguraikan ilmu. c. Kinanthi, memuat sifat kemesraan, ungkapan rasa rindu, nasihat ringan, paparan keriangan. d. Pangkur, memuat suasana yang me- muncak, bersungguh-sungguh, ajaran yang serius atau penyampaian rindu asmara. e. Asmaradana, pengungkapan rasa rin- du, pernyataan rayuan, mengungkap- kan makna sedih, prihatin. f. Mijil, menghantarkan nasehat, mela- hirkan rasa sedih atau rasa sendu. HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011182 g. Gambuh, mengandung rasa akrab. Un- tuk menyampaikan nasehat yang ber- sungguh-sungguh atau pesan santai dan akrab. h. Pucung, mengetengahkan perasaan santai, tidak tegang, jenaka dan riang, nasehat yang akrab. i. Durma, bersuasana keras, tegang, ung- kapan kemararahan, gambaran perti- kaian yang serba tegang atau nasehat yang keras. j. Megatruh, mengisyaratkan suasana yang sedih, sendu, duka, sesal, pedih, merana dan yang sejenis. k. Maskumambang, melukiskan rasa pri- hatin, duka lara, iba, resah dan gun- dah. l. Wirangrong, mungungkapkan suasana sedih, haru, resah dan susah. Dikelom- pokkan tembang tengahan m. Jurudemung, tembang ini lazim dike- lompokkan bersama tembang macapat. Dipakai untuk menghantar suasana yang bersifat ringan, pujian n. Balabak, dipakai untuk menggambar- kan suasana riang, jenaka, tergolong tembang tengahan o. Girisa, termasuk tembang tengahan. Untuk mencerminkan suasana pe- nuh harapan, nasehat untuk dipatu- hi (Hardjawiraga dalam Rochkyatno, 1998: 6-8) Yang tersurat dalam macapat ada yang masih berbentuk sastra lisan ada juga yang telah disusun dalam bentuk tertulis. Perakitannya dari kata-kata yang diuntai di dalam kalimat. Tepat atau tidaknya pi- lihan kata, indah atau kurang mulusnya kalimat tergantung pada penyusun atau pengarang tembang. Penataan macapat diikat oleh kaidah-kaidah tertentu. Untuk memenuhi tuntutan keindahan, macapat memanfaatkan kemampuan pengarang- nya dalam merangkai kata-kata pilihan yang indah menawan, yang diramu de- ngan purwakanthi, wangsalan, sasmita, san- diasma, candrasangkala dan kata-kata indah lainnya, semuanya terungkap dalam ben- tuk tersurat. Macapat mampu menampung segala pesan, menghantar segala bentuk suasana penulisan dan menyiratkan sebagai ama- nat. Koentjaraningrat (1984) menyatakan bahwa keinginan manusia untuk berung- kap rasa keindahan rupanya telah menja- di kelaziman hidup manusia, betapapun kondisi yang dialaminya. Ungkapan rasa membiaskan berbagai ragam keinginan, harapan, ajaran, penuturan, sindiran, rayuan dan sebagainya, tersirat dalam bentuk pesan dan amanat. Untuk dapat menyajikan sekar ma- capat secara baik, seorang vokalis/pe- nembang hendaknya mengetahui tentang konsep penyajiannya. Konsep penyajian sekar macapat berkait erat dengan fungsi musikal macapat di dalam masyarakat pen- dukungnya. Penyajian sekar macapat le- bih dititikberatkan pada fungsinya untuk menyampaikan misi tertentu dari vokalis atau penggubah cakepannya, bisa berupa penyampaian sebuah pendidikan, nase- hat, kritik, ungkapan cinta, doa, atau yang lain. Dengan misi yang demikian maka cakepan/syair/teks yang disampaikan pe- nembangnya harus bisa diterima dengan jelas oleh audiens/penonton. Konsep pe- nyajian sering disebut lagu winengku sastra yang berarti, lagunya sangat dibatasi oleh sastra atau kejelasan sastranya/cakepannya lebih diutamakan daripada keindahan la- gunya. Konsep isi pesan tidak bisa dipaha- mi secara ekstrim karena pada prakteknya unsur lagu dalam sebuah penyajian sekar macapat masih harus diperhatikan. Dalam kehidupan sastra Jawa pe- riode Jawa Tengahan telah muncul bebe- rapa kidung dalam bentuk macapat yaitu kidung Harsawijaya dan kidung Sorandaka, yang menceritakan peristiwa-peristiwa penting di seputar berdirinya kerajaan Majapahit dan pemberontakan Rangga- lawe (Zoetmulder, 1985: 524-525). Hal ini menunjukkan keberadaan macapat dalam kehidupan sastra Jawa telah cukup lama. Purbatjaraka (dalam Rochkyatno, 1998: 4) menyatakan macapat lahir bersamaan de- ngan syair berbahasa Jawa Tengahan. Diperkirakan macapat telah hadir pa- ling lambat pada abad XVI, seperti ancar- ancar yang ditandai oleh candrasengkala tiga rasa dadi jalma 1643 J = 1541 M. Per- Darmasti, Kidung Kandhasanyata Sebagai Ekspresi Estetik 183 kiraan itu juga ditunjang oleh pendapat Zoetmulder bahwa di Jawa pada abad XVI tiga bahasa telah hidup berdampingan yaitu bahasa Jawa Kuna, Jawa Tengahan dan Jawa Baru (Saputra, Zoetmulder da- lam Rochkyatno, 1998: 10). Teks Jawa dalam tembang sangat boleh jadi macapat, dibaca dan disuara- kan hampir di seluruh bagian pulau Jawa, dalam hal ini Jawa Barat, Jawa Tengah dan Timur, Bali, Madura. Kemungkinan besar menyeberang luas ke Palembang dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan menyatakan macapat menyebar luas sam- pai ke wilayah penutur bahasa Sasak di Lombok(Rochkyatno, 1998: 10). Tembang macapat yang berbahasa Jawa berkembang di wilayah penyebaran- nya, yaitu di daerah pesisir utara pulau Jawa, bekas pusat kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta serta wilayah pedalaman. Tembang macapat yang hidup di Surakarta dan Yogyakarta serta wilayah lain meru- pakan kelanjutan dari kehidupan tembang macapat pada masa-masa sebelumnya, ke- mudian menyebar ke berbagai daerah, se- perti Banyumas, pesisir utara Jawa, dan ke Jawa Timur. Mardusari Seniman Mangkunegaran Pada masa abad XVI hingga XIX, di kraton atau istana masih hidup subur be- berapa kesenian Jawa seperti seni karawi- tan, tari, pedalangan, sastra dan seni rupa. Garapan seni mencapai puncak kualitas sehingga lazim disebut klasik. Masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916-1944) merupakan masa keema- san dinasti Mangkunegaran. Seni sastra, vokal, tari dan pedalangan Mangkunega- ran mengalami pencerahan atau kuncara, terkenal di kalangan masyarakat luas Banyak seniman tradisi di lingku- ngan Mangkunegaran antara lain Harjosa- smoyo, Mangun Diryo, Mintolaras (Yati), Kunto Laras (Sriyati), Tambang Laras (Sri Tini), Wasito Laras (Sepan), Samsikin dan Jaekem. Pada masa Mangkunagara VII , muncul seorang seniwati bidang tari dan karawitan yang mempunyai bakat luar biasa dalam hal tari dan menyanyikan tem- bang Jawa, yang biasa disebut pesindhen/ swarawati/waranggana serta terampil da- lam seni batik membatik yaitu Mardusari yang masa kecilanya dikenal Jaekem. Nyi Tumenggung Madusari (foto koleksi Sudibyo Asadath) Kehadiran Mardusari sebagai se- niwati karawitan Jawa gaya Surakarta oleh berbagai kalangan diakui mencapai tataran empu. Pengakuan tersebut tidak hanya datang dari praktisi dan intelektu- al karawitan, melainkan juga datang dari istana, masyarakat luas, dan lembaga pe- merintahan. Berbagai tanda penghargaan yang diterima menambah kewibawaan- nya di kalangan masyarakat karawitan di dalam dan di luar tembok istana. Karya- karya peninggalannya sampai saat ini ba- nyak yang dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan kehidupan masyarakat. Kehandalan Mardusari dalam dunia karawitan Jawa, terutama sebagai praktisi (pesindhen), penyusun teks sindhenan (ka- rya sastra) serta kontribusinya dalam kehi- dupan sosial kemasyarakatan. Bakat Mardusari sebagai penari dan pesindhen didukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor lingkungan, faktor pergaulan, pendidikan, serta latar belakang budaya. Bakat seni yang dimili- kinya merupakan pembawaan sejak lahir, oleh karena itu bagi yang bersangkutan lebih mudah, lebih cepat berhasil dalam menguasai sesuatu ketrampilan apabila HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011184 purwakanthi bentuk rujak-rujakan. Keterampilan dan kepekaan Mar- dusari di dalam menyajikan wangsalan ini hingga mampu membuat cakepan sendiri yang sampai mencapai kurang lebih 127 buah. Mardusari juga mencoba membuat wangsalan lain dari yang lain, yaitu me- ngenai jumlah suku katanya. Jumlah suku kata yang dipakai dalam wangsalan yang biasanya terdiri dua belas suku kata, di- buat wangsalan delapan suku kata. Tuju- an membuat wangsalan delapan suku kata adalah untuk mempermudah dalam me- nyajikan. Mardusari beranggapan bahwa dalam satu kenong /dua gatra gendhing bentuk ketawang mempunyai hitungan satu sampai delapan. Agar tidak mengala- mi kesulitan dalam menyajikan sindenan maka dibuat wangsalan wolu. Wangsalan wolu mudah dihafalkan dan mudah diingat, karena dalam balun- gan karawitan terdapat 8 (delapan) sabetan (Supanggah,wawancara 17 Februari 2001). Hasil karya sastra Mardusari mengenai wangsalan wolu berjumlah sekitar 10 buah. Jadi jumlah wangsalan hasil karyanya ber- jumlah sekitar 137 buah. Maksud wangsalan adalah susunan kalimat sebagai teka-teki tetapi terkaan- nya tercantum pula pada kalimat tersebut (Prawiroatmaja, 1981: 309). Dalam membuat wangsalan yang berjumlah delapan suku kata mengacu pada pedoman wangsalan “rolas”, tetapi berjumlah 8 suku kata, sehingga disebut wangsalan wolu. Wangsalan wolu sebelum- nya belum ada yang membuat, sehingga dapat dikatakan karya baru sebagai pen- dobrak seni tradisi lama, khususnya di da- lam kehidupan karawitan terutama sindhe- nan. Wangsalan ciptaan Mardusari dapat dikelompokkan menjadi sebelas kelom- pok, yaitu: 1) kelompok barang, 2) ke- lompok bilangan, 3) kelompok buah, 4) kelompok bunga, 5) kelompok daun, 6) kelompok hewan, 7) kelompok keadaan (sifat), 8) kelompok manusia, 9) kelompok pohon, 10) kelompok tokoh, dan 11) ke- lompok waktu. Pengelompokan ini dida- sarkan pada arti empat suku kata pertama mewujudkannya (Sedyawati, 1994: 29). Pendidikannya diawali dari pendi- dikan keluarga yaitu suatu proses budaya dalam menerima arahan dan didikan dari orang tuanya untuk menekuni, mencintai tembang Jawa, dan keterampilan menari. Secara tidak langsung keluarganya telah menanamkan fondasi kehidupan dalam diri Mardusari. Melalui kebiasaan-ke- biasaan yang sering dilakukannya dalam pendidikan keluarga sebagai dasar pem- bentukan kepribadian atau tingkah laku anak (Sujanto, 1980: 16). Karawitan vokal gaya Surakarta dapat dikategori menjadi dua kelompok, yaitu kelompok vokal tanpa iringan dan kelompok vokal dengan iringan. Bentuk vokal tanpa iringan mempunyai bentuk se- perti misalnya jenis macapat, tembang gedhe, dan sekar tengahan. Macapat merupakan ga- bungan seni sastra dan seni suara. Sebagai seniwati kususnya pesindhen Mardusari adalah seniwati yang kreatif, ingin me- ngadakan pembaruan dalam karyanya. Dipercaya bahwa ide garap dapat dijadi- kan tolok ukur untuk perkembangan se- lanjutnya. Sindhenan merupakan salah satu per- bendaharaan musikal yang diperlukan dalam pertumbuhan karawitan. Dalam pelaksanaannya sindhenan menggunakan cakepan (syair yang digunakan dalam sin- dhenan) yang dapat berupa wangsalan se- kar, isen-isen, dan cakepan lainnya. Banyak wangsalan yang digunakan oleh para pes- indhen tetapi tidak tahu siapa penyusunya. Wangsalan adalah cakepan sindhenan yang terdiri atas dua baris. Baris pertama bermakna teka-teki yang terdiri dari 12 suku kata, sedangkan baris kedua bermak- na jawaban dari teka-teki yang terdiri dari 12 suku kata juga. Kemudian wangsalan dinamakan wangsalan rolas. Baris pertama dan kedua berjumlah 24 suku kata, semua harus dapat masuk dalam gendhing yang disindheni. Di samping kemampuannya sebagai penyaji yang tinggi, Mardusari ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa da- lam bidang kesusateraan Jawa. Sebagian karyanya berupa cakepan wangsalan dan Darmasti, Kidung Kandhasanyata Sebagai Ekspresi Estetik 185 dari baris pertama (Suparno, 1985/1986: 3). Misalnya roning kamal, garwa paminggir Harjuna, mumpung anom, ngudiya raras ing basa. Wangsalan ini dikelompokkan dalam kelompok daun, yang berpijak pada roning kamal yang berarti daun. Beberapa contoh dari pengelompo- kan wangsalan hasil karya Mardusari anta- ra lain seperti berikut. Contoh wangsalan delapan suku kata. a. Kelompok barang, berjumlah dua buah, contoh: sela kang pinetha janma, dipun pracaya ing suksma. Sela kang pinet- ha janma (batu yang dibentuk menye- rupai manusia) = reca; dipun pracaya ing sukma (percayalah kepada Yang Maha Kuasa) b. Kelompok buah, berjumlah sebuah, contoh: jeram rum keh pedahira, mituruta pituduh tama. Jeram rum keh pedahira (je- ruk berbau harum yang banyak man- faat) = jeruk purut; Purut – mituruta tu- duh tama (ikutilah petunjuk yang baik). c. Kelompok bunga, berjumlah sebuah, contoh: kawi sekar kang winedhar, ka- loka lir puspa ngambar. Kawi sekar kang winedhar (bunga dalam bahasa Kawi) = puspa; puspa; kaloka lir puspa ngambar (tersohor bagai harumnya bunga). d. Kelompok daun, berjumlah dua buah, contoh: balung janma wastanira, widada nir sambekala. Balung janma wastanira (nama tulang daun kelapa) = sada, sada; widada nir sambekala (selamat tanpa rin- tangan). e. Kelompok manusia, berjumlah sebu- ah, contoh: kawi istri jenang sela, wani- ta dipun jatmika. Kawi istri (perempuan dalam bahasa Kawi) = wanita; Jenang sela (bubur batu) = enjet; wanita dipun jatmika (wanita seharusnya anggun). fxx. Kelompok pohon, berjumlah tiga buah, contoh: aran ludiraning wreksa, yen ke- patuha ngumbar karsa. Aran ludiraning wreksa (nama dari darah pohon) = tlu- tuh; ywa kepatuh ngumbar karsa (jangan terbiasa menuruti nafsu. Contoh wangsalan duabelas suku kata: 1. Kelompok barang, berjumlah empat puluh lima buah, contoh: ancur sotya, sotya kang munggweng sutaknya, dhasar nata, linuwih limpat ing basa. Ancur sotya (intan yang hancur) = dhasar; sotya kang munggweng sutaknya (intan yang dipa- kai di jari-jari) = ali-ali, ali-ali; linuwih limpat ing basa (mempunyai kelebihan dan pintar bertutur kata). 2. Kelompok bilangan, berjumlah dua buah, contoh: jarwa juga, samber lilen so- beng tirta, pamujiku, angger tumulia. Jar- wa juga (satu) = siji, samber lilen sobeng tirta (samber lilen yang hidup di air) = bibis, siji; pamujiku (doaku), bibis – ang- ger tumulia dapat (semoga anda segera menguasai). 3. Kelompok buah, berjumlah sebelas buah, contoh: cengkir wungu, tapane sang Dananjaya, aja uwal, denira ama- ti raga. Cengkir wungu (kelapa muda berwarna ungu) = siwalan; tapane sang Dananjaya (Harjuna waktu bertapa) = mintaraga, siwalan – aja uwal (jangan berhenti), mintaraga – denira amati raga (berpuasa). 4. Kelompok bunga, berjumlah enam buah, contoh: kawi sekar, sekar pepund- hen Sri Kresna, lir puspita, warnane ke- sumeng pura. Kawi sekar (bunga dalam bahasa Kawi) = puspita; sekar pepundhen Sri Kresna (bunga pujaan Sri Kresna) = wijayakusuma, puspita – lir puspita (se- perti bunga), wijayakusuma – warnane kusumeng pura (tampan seperti ratu). 5. Kelompok daun, berjumlah tiga buah, contoh: balung janur, janur ingisenan boga, widodoa, lepat saking sambekala. Ba- lung janur (tulang daun kepala) = sada; janur ingisenan boga (daun kelapa diisi nasi) = kupat, sada – widodoa (semoga selamat), kupat – lepat saking sambekala (terhindar dari bahaya). 6. Kelompok hewan, berjumlah dua pu- luh satu buah, contoh: bantheng wis- ma, wismane peksi winastan, amung kepi, mesu masuh kabudayan. Bantheng wisma (lembu) = sapi; wismane peksi winastan (sarang burung) = susuh, sapi – amung kepi (yang diidamkan), susuh – mesu masuh kabudayan (bekerja keras belajar kebudayaan). 7. Kelompok keadaan, berjumlah empat HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011186 belas buah, contoh: dahana gung, sari- ning tirta samodra, lamun mulat, yayah kadya kamun catuna. Dahana gung (api besar) = mulat-mulat, sarining tirta sa- modra (sari air laut) = uyah, mulat–mu- lat; lamu mulat (jika melihat), uyah – yayah kadya kamur catuna (seperti akan kehilangan nyawa). 8. Kelompok manusia, berjumlah tujuh buah, contoh: aran ingsun, ingsun mi- tuhu ning sabda, iya iku, sarana nut kang utama. Aran ingsun (sebutan saya) = aku, ingsun mituhu ning sabda (saya me- nurut perintah) = manut, aku – iya iku (itulah), manut; sarana nut kang utama (syarat mengikuti yang baik). 9. Kelompok pohon, berjumlah tujuh buah, contoh: carang wreksa, wreksa rangken lumaksana, ywa gumampang, an- gaken lamun wus wignya. Carang wreksa (cabang pohon) = epang, wreksa rangken lumaksana (kayu penyangga berjalan) = teken, epang; ywa gumampang (jangan gampang), teken; angaken lamun wus wignya (mengaku pintar). 10. Kelompok tokoh, berjumlah sepuluh buah, contoh: Ari Sena, kang mina tula- deng krama, wus jinangka, salami mung asih tresna. Ari Sena (adik Sena) = Ja- naka, kang mina tuladeng krama (ikan sebagai contoh dalam hal perkawinan) = mimi, Janaka; wus jinangka (sudah diidam-idamkan), mimi – salami mung asih tresna (selamanya selalu penuh ka- sih sayang). 11. Kelompok waktu, berjumlah sebuah, contoh: jarwa purwa, juwawut geng kang salaga, awit saking, mungkur medah pari paksa. Jarwa purwa (arti permulaan) = wiwitan, juwawut geng kang salaga (ju- wawut besar yang berkelopak bunga) = pari, wiwitane; awit saking (karena), pari – mungkur medah pari paksa (hanya keinginan yang dipaksakan). Berkat usaha dan kerja kerasnya mampu menciptakan sejumlah wangsalan cakepan sindhenan. Karya sastera berujud manuskrip yang sudah digarap dan sele- sai pada tahun 1925 dengan diberi nama Serat Kandha Sanyata. Serat Kandha Sanyata pada tahun 1991 sudah diterbitkan, dijadi- kan salah satu acuan bagi para seniman dan para pengajar di STSI Surakarta. Karya Sastra Mardusari Karya sastra Kidung Kandhasanyata sebagai sebuah Kidung hasil refleksi atas peristiwa serta ‘nilai-nilai’ yang berlaku pada kurun waktu ‘masa aktif’ kehidu- pan senimannya. Di bagian tertentu nas- kah juga menampilkan cakepan dari hasil karya sastra orang lain yang kurang tepat sehingga Mardusari ikut meluruskan atas dasar penghayatan pengalaman serta in- terpretasinya. Kidung Kandhasanyata memuat hasil karya Mardusari berupa cakepan dan se- bagian dari karya orang lain. Karya sastra yang dihasilkan oleh Mardusari sendiri se- jak tahun 1925 adalah sebagai berikut. Pupuh Asmarandana terdiri dari 24 pada; 1. Pupuh Sinom terdiri dari 14 pada; 2. Pupuh Kinanthi terdiri dari 22 pada; 3. pupuh Pucung terdiri dari 20 pada; 4. pupuh Mijil terdiri dari 26 pada; 5. Pupuh Dhandhanggula terdiri dari 23 pada; 6. Pupuh Megatruh terdiri dari 24 pada; 7. Pupuh Gambuh terdiri dari 30 pada; 8. Pupuh Pangkur terdiri dari 31 pada; Hasil karya sastra Mardusari tahun 1950-an sebagai berikut. 1. Pupuh Pucung terdiri dari 9 pada (bait); 2. Pupuh Gambuh terdiri dari 4 pada (bait); 3. Pupuh Durma terdiri dari 8 pada; 4. Pupuh Asmaradana terdiri dari 10 pada (bait); 5. Pupuh Sinom terdiri dari 10 pada (bait); 6. Pupuh Maskumambang terdiri dari 10 pada (bait); 7. Pupuh Pangkur terdiri dari 6 pada (bait); 8. Pupuh Dhandhanggula terdiri dari 3 pada (bait); Wangsalan sindhenan dan rujak-ru- jakan Mardusari tanggal 22 Oktober 1988 adalah sebagai berikut. 1. Cakepan Kinanthi (pethikan Serat Wi- waha), terdiri dari 5 pada (bait). 2. Cakepan Kinanthi (pethikan Serat Bra- tayuda), terdiri dari 7 pada (bait) anggi- Darmasti, Kidung Kandhasanyata Sebagai Ekspresi Estetik 187 tan R.Ng. Yosodipuro. 3. Cakepan Kinanthi (pethikan Serat Romo) terdiri dari 7 pada (bait) anggi- tan R.Ng. Yosodipuro. 4. Cakepan Megatruh, terdiri dari 12 pada (bait). Karya sastra lain sebagai penyem- purnaan, yang juga dimasukkan dalam Kandhasanyata yakni teks gerongan karya Mangkunegara IV sebagai berikut. 1. Gerongan Ketawang Langengita, Slendro Sanga (7 pada). 2. Gerongan Ketawang Walagita, Pelog Nem (8 pada). 3. Gerongan Ketawang Rajaswala, Slendro Sanga (4 pada). 4. Gerongan Ketawang Sitamardawa, Pelog Barang (6 pada). 5. Gerongan Ketawang Puspawarna, Slendro Manyura (7 pada). 6. Gerongan Ketawang Puspanjala, Pelog Nem (8 pada). 7. Gerongan Ketawang Tanupala, Slendro Manyura (6 pada). 8. Gerongan Ketawang Puspagiwang, Pelog Barang (7 pada). Kemampuan Mardusari di lingku- ngan seni pertunjukan dapat dikatakan luar biasa sehingga dapat dikatakan me- miliki lokal genius. Kemampuannya me- liputi sebagai penari, pengrawit, pesin- den. Sebagai penari dan pesinden pernah jaya pada pemerintahan Mangkunegara VII (1916-1944), sebagai pesindhen mum- puni sehingga kehadirannya telah diakui berbagai pihak baik di dalam atau di luar istana Mangkunegaran, sebagai pencipta wangsalan dan cakepan dapat dihayati hingga sekarang. Sebagai penulis sastra, Mardusari dapat dikatakan sebagai sastrawati kare- na Mardusari menciptakan teks wangsalan dan teks rujak-rujakan dengan purwakanthi. Berbagai karyanya yang diciptakan yang berupa teks wangsalan dan rujak-rujakan serta teks macapat dalam Serat Kandhasanya- ta mampu berdiri sejajar dengan repertoar gendhing-gendhing klasik yang telah ada. Teks wangsalan yang diciptakan wangsa- lan 12 suku kata berjumlah 127 buah dan wangsalan dengan jumlah 8 suku kata ber- jumlah 10 buah. Wangsalan dengan jumlah 8 suku kata merupakan problema musikal, dengan demikian sebagian teks wangsalan yang diciptakan dapat dipahami sebagai wahana pembuktian atas konsep piki- rannya. Lebih jauh hasil karyanya dapat dijadikan sebagai wahana penelitian bagi para peneliti karawitan yang menaruh mi- nat besar terhadap kehidupan karawitan Jawa. Berbagai pikirannya yang telah ditu- angkan dalam Serat Kandhasanyata, mam- pu menjadi jembatan awal untuk memaha- mi persoalan-persoalan yang terkandung dalam karawitan Jawa, dan telah banyak diacu oleh para generasinya. Etika yang tersirat dalam tembang-tembang adalah keseluruhan norma dan nilai-nilai ajaran untuk mencapai keberhasilan dalam hi- dup lahir batin. Makna Isi Cakepan sebagai Ekspresi Es- tetik Membuat tembang yang terikat de- ngan peraturan-peraturan tertentu (guru lagu dan guru wilangan), berisi petuah ni- lai pendidikan moral/etika merupakan pekerjaan pelik, terlebih pencipta masih mengikat dirinya dengan cengkok yang rumit. Menurut Susanne K Langer (1988), simbol dibedakan menjadi dua macam yakni simbol presentasional dan simbol diskursif. Simbol presentasional dalam pengertiannya tidak memerlukan daya intelektual pengamatnya mengingat bah- wa apa yang dikemukakannya itu secara spontan menghadirkan apa yang dikan- dungnya. Sementara itu simbol diskursif adalah simbol yang penangkapannya me- merlukan daya intelektual pengamatnya. Untuk dapat mengartikannya, seorang pengamat harus memahami sistem dan aturan yang berlaku pada simbol yang di- maksud. Seni sebagai medium ekspresi me- ngarah kepada segala jenis ekspresi, bah- kan bukan kepada positivisme saja, apa- lagi di dalam suatu jaman yang penuh dengan keruntuhan sosial, seni harus ber- peran sebagai medium refleksi keadaan masyarakat (Mack, 1997: 22) HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011188 Serat Kandhasanyata dapat dilihat se- bagai sebuah tanggapan kritis dari kaum perempuan untuk melakukan eksistensi budaya melalui teks. Penciptaan tembang terjadi karena struktur sosial, agama, eko- nomi, politik, dan bahasa kurang membe- ri wahana yang lebih lapang bagi ekspresi kultural. Penciptaan sastera tembang da- pat dianggap sebagai pernyataan kritis se- bagai resistensi atas nama emansipasi dan kesetaraan. Seperti halnya fenomena crossgender, yaitu fenomena silang peran gender, harus diakui telah terjadi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan seni pertunjukan. Kesan yang berlaku sampai saat ini, substansi eksistensial dari kedua gender yang saling melengkapi satu de- ngan yang lain sepertinya hendak dikoyak dan diberi bentuk lain, sehingga tak terasa kesempurnaan atau relasi selaras antar kedua aspek komplementari satu dengan yang lain. Dalam fenomena cross gender, diindikasikan ada sebuah citra kesempur- naan yang tidak hanya merupakan relasi selaras antar kedua aspek yang saling me- lengkapi berupa citra kesempurnaan dua- litas laki perempuan. Pada kasus penciptaan tembang Mardusari, terjadi persepsi gambaran cross-gender yang juga dilakukannya pada wayang orang panggung yang kemudian perwujudan tokoh maskulin Menak Jing- ga justru dilakukan oleh tokoh penari pe- rempuan. Hal ini bisa dipahami sebagai sebuah fenomena, betapa karakter tari Jawa putra (alusan maupun gagahan) baik gaya Surakarta maupun Yogyakarta, tidak mudah dipelajari, sehingga tidak banyak yang mampu menjadi master dalam pe- nguasaan teknik kepenariannya. Jika ke- mudian muncul beberapa wanita yang mampu menguasainya, mereka menjadi sebuah ikon yang mampu memberikan ni- lai-nilai baru dalam intensitas empati dari sebuah proses kepenontonan. Mardusari sebagai Gathutkaca dalam tari ”Gathutkaca Gandrung 1930-an”. (foto koleksi Rekso Pustaka) Dalam konteks penari Langendriyan, Menakjingga ditarikan Mardusari setelah mengalami beberapa perubahan gerak tambahan seperti gerak kiprahan Menak- jingga dan Menak Koncar yang sebelum- nya tidak ada. Selain itu, Mardusari juga pernah berperan sebagai Dayun dan Ratu Ayu. Praktik eksistensi budaya cenderung menemukan bentuk dan ruh dalam tulisan. Kaum perempuan dengan tulisan memili- ki kemungkinan untuk merumuskan diri dan menentukan peran untuk menafsir- kan dunia dalam perspektif perempuan. Teks karya sastera dalam kadar tertentu cenderung mengandung progresivitas politik bahasa ketimbang dengan praktik bicara di ruang publik. Karya satera da- lam ideologi budaya kaum perempuan menunjukkan struktur dan sistem berbeda dalam pamrih-pamrih emansipasi. Sastera tulis sebagai manifestasi otoritas bahasa menjadi pertaruhan eksistensi, subjek, dan identitas perempuan. Helene Cixous (dalam Mawardi, 2009) percaya bahwa sastera tulis adalah Darmasti, Kidung Kandhasanyata Sebagai Ekspresi Estetik 189 manifestasi otoritas perempuan. Sastera tulis menjadi bukti politis resistensi pe- rempuan untuk merumuskan kembali aspek-aspek kultutral dan menentukan peran dalam ruang kultural. Dengan me- ninggalkan sastera tulis menunjukan resis- tensi perempuan dengan kekuatan ampuh untuk merubuhkan hierarki dan patriarki. Melalui sastera tulis sebagai media merep- resentasikan suara perempuan untuk me- namai dan memaknai realitas. Luce Irigaray (dalam Mawardi, 2009) mengingatkan bahwa kaum perempuan membutuhkan bahasa mereka sendiri. Bahasa untuk kaum perempuan adalah bahasa untuk manifestasi merumuskan hakikat dan peran. Perempuan membu- tuhkan bahasa untuk kebebasan menjadi manusia dalam kesetaraan. Kebutuhan itu bukan impian atau ilusi. Irigaray menjelas- kan ikhtiar memiliki bahasa sendiri untuk kaum perempuan mesti direalisasikan de- ngan transformasi kultural secara substan- tif dan radikal. Praktik politis atas ikhtiar itu adalah dengan bicara dan menulis seba- gai perempuan. Praktik karya sastera yang ditembangkan merupakan bukti negasi atau resistensi terhadap klaim eksklusif kaum lelaki untuk penamaan dan pemak- naan realitas budaya. Bahasa perempuan yang ditulis dalam wujud karya satera, dalam kultur budaya sering ditemukan le- gitimasi dan kodifikasi dalam sistem dan institusi pendidikan, politik, kesusastraan, dan media massa. SIMPULAN Seorang seniwati, hasil karya seni merupakan media komunikasi dengan masyarakatnya. Bagi seorang penari, me- dium gerak, seorang seniman karawitan dapat melalui cakepan sindenan dan te- tembangan melalui syair lagunya. Alat ko- munikasi sastean melalui karya sateranya. Kidhung Kandhasanyata merupakan sa- lah satu bentuk komunikasi seni pesinden wanita Mardusari dengan penikmatnya. Menilai kejeniusan dapat dilihat dari produk ekspresi ide pencipta. Karya saste- ra adalah ekspresi ide yang paling cerdas, sistematis, efisien dan tahan lama. Gagasan yang diungkapkan melalu teks sindenan ,wangsalan merupaskan sa- lah satu cara mengekspresikan diri dalam mengahadapai realitas yang dihadapinya. Mardusari disamping sebagai penari, peng- rawit dan pesinden wanita juga penulis karya sastera untuk sarana mengekspresi- kan ide-idenya. Sebuah pencapaian dalam bidang intelektualitas di tengah keterba- tasan sarana dan prasarana yang ada saat itu. Kidung Kandhasanyata sebagai teks, merupakan ekspresi estetik yang dialami pencipta untuk menggambarkan situasi dan realitas yang dihadapi sebagai seo- rang wanita. Kidung Kandhasanyata me- rupakan media komunikasi seni untuk disampaikan kepada masyarakat melalui teks sindenan yang dapat dikaji pada masa generasi berikutnya. DAFTAR PUSTAKA Agus Sujanto. 1980. Psychologi Kepribadian, Jakarta: Aksara Baru. Edi Sedyawati, ed. 1984. Tari: Tinjauan dari Berbagai Segi, Jakarta: Pustaka Jaya. Holt, Claire. 2000. “Melacak Jejak Perkem- bangan Seni di Indonesia,” terjema- han dari Art in Indonesia: Continuities and Change ) oleh R. M. Soedarsono. Bandung: Arti.line dan MSPI. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka. 1984. Langer, Suzanne K. 1988. Problematika Seni. Terj. FX. Widaryanto. Bandung: Badan Penelitian dan Pengemban- gan Departemen Luar Negeri beker- jasama dengan Penelitian Alumni. Leksono, Karlina & Supelli. 1998. “Bahasa untuk Perempuan Dunia Tersempit- kan”, Wanita dan Media : Konstruk- si Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Ed. Idi Subandy Ibrahim. Bandung: PT Remaja Ros- dakarya. Mack, Dieter. 1997. “Kaitan Kehidupan dan Kesenian Menuju ke Iklim Ke- hidupan Kesenian yang lebih Baik.” Wiled, Jurnal Seni, STSI Surakarta, STSI Press. HARMONIA, Volume 11, No.2 / Desember 2011190 Martopangrawit. 1998 Dibuang Sayang, dalam Rahayu Supanggah “Lagu dan Cakepan Gerongan Gendhing Gaya Surakarta,” Penerbit: CV. Se- tiaji bekerja sama dengan ASKI Sura- karta. Mardusari, Nyi Tumenggung. 1987. Pen- gakuan Mardusari pada Tempo, 1 2 September 1987) Mawardi, Bandung. 2009. “Kuasa Bahasa dan Sastra” dalam Lampung Pos 28 November 2009 Poerwadarminto, W.J.S. 1939. Baoesastra Jawa, JB. Wolter Nitgevers Maatchap- pij NV, Groningen, Batavia. Prawiroatmaja. 1981. Bausastra Jawa Indo- nesia, Jakarta: Gunung Agung. Ritzer, George. 2004. Teori Sosial Postmod- ern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Santoso. 1982. “Palaran di Surakarta,” Sub Proyek ASKI, Pengembangan IKI, Bagian Pengantar, 1979/1980. Sartono Kartodirdjo. Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Ja- karta: Gramedia Pustaka Utama. Sastrosumarto. 1958. Wangsalan, Jakarta: Balai Pustaka. Slamet Suparno, T. 1986. “Dokumentasi Wangsalan Susunan Nyi Bei Mardu- sari.” Laporan Penelitian, Departe- men Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, ASKI, Surakarta. Soedarsono, R.M. 1994. “Lebih Gampang Jadi Doktor Daripada Empu Tari Jawa”, dalam Harian Kompas, 27 No- vember 1994 Supanggah, Rahayu. 1991. Kidung Kand- hasanyata, Nyi Bei Mardusari, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. Wiryanti, Sri. 2008. “Bahasa dan Perem- puan dalam Ideologi Kapitalis”. Makalah disampaikan dalam Disku- si Bahasa dan Gender di Kunci Cul- tural Studies 16 Juli 2008. Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Alih bahasa Dick Hartoko. Jakarta: Djam- batan NARASUMBER Rahayu Supanggah, 53 tahun, pengrawit, komponis, Dosen dan Ketua STSI Surakarta Rusdiyantoro, 42 tahun, Dosen STSI Sura- karta Slamet Suparno, T., 50 tahun, pengrawit (vokalis), Dosen STSI Surakarta