HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Efektifitas Penggunaan Metode Solfegio untuk Pembelajaran Keterampilan Bermain Musik di Sekolah Dasar ( The Efektivity of Use of Solfigio Method to Teaching of Music Skill in Elementary) F. Totok Sumaryanto Staf PengajarJurusan Sendratasi, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang Abstrak Pelaksanaan pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertangkes) SD harus diciptakan PBM secara aktif, kreatif dengan memanfaatkan sarana/sumber belajar yang ada. Didukung kompetensi guru untuk menciptakan, menggunakan metode solfigio untuk pembelajaran keterampilan bermain musik. Kondisi SD menunjukkan belum digunakan metode solfogio untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan musik, termasuk di SDN Sekaran 01 Semarang. Oleh k'arena itu perlu dilakukan penelitian tindakan kelas melalui kolaborasi dosen dengan guru SD. Tujuannya adalah mendeskripsikan efektifitas penggunaan metode solfegio untuk pembelajaran bermain musik menggunakan metode solfegio diharapkan dapat meningkatkann bermain musik siswa. Metode Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif model siklus dengan langkah: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang, dan waktu pelaksanaan pada semester gasal 2004/2005. Pengurnpulan data dengan observasi partisipatif dan observasi penampilan bermain musik siswa. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) untuk pembelajaran keterampilan bermain musik di SD dibutuhkan metode solfigio sesuai standar kompetensi kurikulum pendidikan seni 2004: (2) Penggunaan metode solfegio dapat meningkatkan keterampilan bermain musik siswa kelas V SDN Sekaran 01 Semarang; (3) Kendala yang dihadapi dalam PBM adalah keterbatasan waktu, bahan/alat musik, kemampuan bakat musik guru dan siswa. Rekomendasi dari hasil penelitian ini, adalah: model siklus melalui penggunaan metode solfegio dalam pembelajaran keterampilan musik dapat diterapkan di SD untuk siswa kelas V. Kata Kunci: Efektivitas, solfegio, bermain musik, siswa SD. A. Pendahuluan Tidak dapat disangkal bahwa seni merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manu- sia. Salah satu implementasi dari ketakterpisahan ini adalah berupa peran seni dalam mempengaruhi perkembangan jiwa manusia. Pemanfaatan ini tentunya dalam arti positif, yaitu pengkajian seni untuk mengembangkan aspek estetis yang dimiliki manusia. Usaha untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut antara lain melakui pendidikan HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 kesenian yang diselenggarakan di sekolah. Pembelajaran unsur-unsur seni dfi sekolah dewasa ini dila- kukan melalui mata pelajaran Kera- jinan Tangan dan Kesenian (Ker- tangkes). Kurikulum SD 1994 salah satu isi program pengajarannya ada- lah mata pelajaran Kertangkes, fungsinya adalah untuk menum- buhkan keterampilan dalam rangka membekali siswa berkarya serta menumbuhkan cita rasa keindahan dan kemampuan menghargai seni (Depdiknas, 1994). Berdasarkan GBPP dan rambu-rambu yang ada, maka dalam pelaksanaannya harusalah diciptakan kondisi pembelajaran Kertangkes secara aktif, kreatif dan efektif dengan memaksimalkan pe- manfaatan berbagai sarana dan prasarana yang ada. Keragaman materi dan teknik pengajaran keterampilan berkesian menuntut digunakannya berbagai metode belajar kesenian (musik) yang dapat dilaksanakan untuk keberhasilan pembelajaran. Hal ini berdampak pula pada corak pembelajaran keterampilan bermain musik (ansambel musik sekolah) belum memadai. Berdasarkan sur- vai awal di SD Sekaran 01, dari sejumlah 40 siswa kelas V, hasil belajar keterampilan bermain musik (ansambel) menunjukkan hanya 40% siswa yang menguasai keter- ampilan bermain musik, sedang sisanya 60% siswa mengalami ke- sulitan. Berdasarkan hasil penelitian tentang "Metode Belajar dan Inten- sitas Pemanfaatannya dalam Peng- ajaran Kesenian di SD Negeri Kecamatan Gondokusuman Jogja- - karta" oleh Wiyono, dkk (2000), menunjukkan bahwa: 1) beberapa metode untuk keterampilan musik telah tersedia; (2) pemanfaatan metode belajar musik yang ada hanya kadang-kadang saja dipakai oleh guru; (3) kendala pemanfaatan metode belajar metode belajar musik. Demikian pula penelitian tentang: "Upaya Guru Kelas untuk memanfaatkan berbagai metode belajar musik sebagai sumber belajar dalam pengajaran KTK di SD Negeri Kabupaten Sleman" oleh Pradopo, dkk (2001), yaitu guru kelas telah berupaya meman- faatkan metode belajar musik meskipun belum seluruhnya sesuai dengan kurikulum 1994. Kenda- lanya disebabkan oleh berbagai faktor baik guru, siswa, biaya, wak- tu iklim sekolah maupun sumber belajar (metode) sebagai pendu- kungnya. Gambaran pelaksanaan mata pelajaran KTK di SD seba- gaimana uraian di atas, juga akan dialami oleh guru kelas V di SD Sekaran 01 Kecamatan Gunungpati Semarang. Hal ini didukung hasil pengamatan awal dan wawancara dengan guru kelas V SD Sekarang. Permasalahannya adalah masih kurang penerapan metode solfegio dalam mengajarkan musik sekolah sehingga tumbuhnya cita rasa ke- indahan pada siswa kurang. Hanya saja kondisi lapangan seperti ini belum pernah dilakukan tindakan kelas melalui penggunaan metode solfe-gio secara edukatif. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Oleh karena itu, untuk mengetahui permasalahan di atas secara tepat dan akurat diperlukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai upaya perbaikan pelaksana- an pendidikan KTK di SD. Meng- ingat keterbatasan dari segi dana, tenaga, waktu. Pengalaman, maka masalah penelitian ini dibatasi de- ngan judul: Efektifitas Penggunaan Metode Solfegio untuk pembelajar- an Keterampilan Bermain Musik di SD Sekaran 01 Semarang. Secara umum permasalahan dalam penelitian ini adalah sejauh manakah efektivitas penggunaan metode solfegio dalam pembelajar- an KTK kelas V di SD Sekaran 01 Gunungpati Semarang? Masalah umum tersebut selanjutnya dirinci sebagai berikut: (1) Hambatan apa sajakah yang menyebabkan kete- rampilan bermain musik siswa kelas V SD Sekaran 01 kurang berhasil dengan baik?; (2) Sejauh manakah metode solfegio dapat mening- katkan keterampilan bermain musik bagi siswa kelas V SD Sekaran 01 Semarang?; (3) Sejauh manakah teknik sight reading dapat mening- katkan keterampilan bermain musik bagi siswa kelas V SD Sekaran 01 Semarang?; (4) Sejauh manakah teknik ear training dapat meningkat- kan keterampilan bermain musik bagi siswa kelas V SD Sekaran 01 Semarang?; (5) Dapatkah metode solfegio digunakan untuk mening- katkan kualitas pembelajaran KTK siswa kelas V SD Sekaran 01 Sema- rang? Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakap- an, kebiasaan atau sikap yang diperoleh, disimpan dan dilaksana- kan sehingga menimbulkan tingkah laku. Dengan kata lain belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Winkel, 1984: 151). Good & Bropy (1990: 124) menyatakan bah- wa belajar adalah istilah yang di- gunakan untuk menggambarkan proses yang diikuti oleh perubahan. Hal ini merupakan proses menda- patkan perubahan yang relatif tetap dalam pengertian, sikap, pengeta- huan, informasi, kemampuan dan kete-rampilan. Selanjutnya dinyata- kan bahwa belajar merupakan perubahan perangai atau kemampu- an seseorang yang berlangsung la- ma dan bukan merupakan akibat dari perubahan. Dari rumusan masalah yang tampak para ahli sependapat bahwa belajar ditandai adanya perubahan. Namun demikian tidak semua perubahan merupakan proses bela- jar, karena perubahan dapat juga terjadi sebagai akibat dari proses kematangan. Ciri-ciri kegiatan belajar adalah: (a) aktivitas yang menghasil- kan perubahan pad indivisdu yang sedang belajar, baik aktual maupun potensi, (b) perubahan itu pada po- koknya adalah didapatkannya ke- mampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama, dan (c) per- ubahan itu terjadi karena latihan dan usaha (Suryabrata, 1983: 5). Selanjutnya dinyatakan bahwa ter- dapat dua persoalan pokok dalam belajar: Pertama, persoalan menge- nai masukan, yaitu bagaimana proses belajar itu berlangsung dan HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 prinsip-prinsip apa yang mempeng- aruhi proses belajar. Dan kedua, persoalan mengenai keluaran, yaitu mengenai hasil belajar. Persoalan ini berkaitan dengan tujuan pendidikan yang selanjutnya dijabarkan dalam tujuan pengajaran. Prestasi adalah bukti keber- hasilan yang dicapai seseorang (Winkel, 1984: 162). Dua kata prestasi dan belajar dapat diartikan sebagai banyaknya tingkah laku yang dapat dicapai dari satu pengalaman yang mengacu pada penguasaan pengetahuan, kecapan dan kebiasaan. Dengan demikian prestasi belajar vokal adalah hasil usaha belajar yang berujud pengeta- huan, sikap, dan keterampilan yang telah dicapai dari usahanya belajar vokal selama waktu tertentu. Musik adalah rangkaian bunyi ekspresif yang disusun dengan maksud membangkitkan respons manusia (Delone 1975: 1). Bunyi ekspresif disini mengandung makna suatu spektrum kemungkinan- kemungkinan yang luas dari nada, termasuk juga noise, dan kombi- nasinya dengan kesenyapan. Pengertian lain menyatakan bahwa musik merupakan sarana yang dapat mengkomunikasikan sesuatu kepada pendengar (Bray 1978: 7). Menurut Hoffman seperti dikutip olah Hendric dan Bray (1978:22) sesuatu yang dikomunikasikan melalui musik yaitu ekspresi emosi. Dankworth (1978: 244) menegaskan bahwa bunyi adalah bahan dasar keberadaan musik, musik adalah pengaturan bunyi. Lebih lanjut Hoffer (1985: 22) menegaskan ada dua ciri utama bagi suatu bunyi dapat disebut musik, yaitu pengorganisasian bunyi dan artinya. Musik adalah pengorgani- sasian bunyi dan memiliki arti, terjadi dalam rentang waktu tertentu dan biasanya mempunyai pitch. Hal pokok yang harus diperhatikan adalah bahwa aktivitas musikal melibatkan aspek pen- dengaran (auditif) sebagai dasarnya. Jamalus (1988: 44) mengemukakan bahwa semua bentuk kegiatan musik memerlukan kemampuan mendengar, oleh karena itu kegiat- an musik didasarkan pada dua kemampuan penting, yaitu pengua- saan unsur-unsur musik dan faktor- faktor yang berhubungan dengan pendengaran. Berdasarkan beberapa peng- ertian tersebut dapat ditegaskan bahwa musik mempunyai ciri-ciri (1) adanya unsur bunyi, (2) adanya pengorganisasian bunyi, (3) adanya makna musikal. Solfegio adalah istilah yang mengacu pada menyanyikan tangga nada, interval dan latihan-latihan melodi dengan sillaby zolmization, yaitu menyanyikan nada musik dengan menggunakan suku kata (Stanly, 1980: 454). Dalam perkem- bangan selanjutnya solfegio tidak hanya menyanyikan saja tetapi juga mendengar nada. Kemampuan mendengar not desebut dengan istilah ear training dan kemampuan membaca nada disebut sight reading. Ear training adalah latihan kemampuan pendengaran atau ketajaman pendengaran misuk, baik ketepatan ritmik maupun ketepatan nadanya. Kemampuan ini merupa- HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 kan gabungan dari dua faktor, yaitu faktor kebiasaan dan faktor pemba- waan (Benward 1989: 9). Faktor kebiasaan dapat dikembangkan me- lalui latihan teratur disamping fak- tor lain yang tidak dapat dipisahkan darinya yaitu faktor pembawaan atau musikalitas. Musik adalah karya seni yang terbentuk dari gabungan unsur- unsur yang terdiri dari irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu dan ekspresi. Dari ke lenam unsur yang paling penting adalah irama/ritme, melodi dan harmoni. Irama adalah panjang pendek- nya nada, sedang melodi adalah nada-nada yang bergerak baik turun maupun naik. Akibat dari gerakan nada-nada tersebut menimbulkan selang nada yang disebut dengan interval nada, yaitu pembedaan ketinggian antara dua buah nada. Proses Mempelajari Sebuah Lagu Untuk Dapat Dinyanyikan/ Dimain- kan, Perlu Ditanamkan Pengertian Tentang Rasa Irama/Ritme. Hal ini amat penting agar seseorang de- ngan tepat menyanyikan/memain- kan suatu karya musik dalam irama yang sesuai. Selain itu perlu juga di- tanamkan pengertian tentang ba- yangan nada, interval dan melodi, terasa sulit bagi seseorang untuk menyanyikan/memainkan karya musik. Musik adalah bahasa emosi yang bersifat universal. Melalui pendengaran musik dapat di- mengerti dan dirasakan makna dan kesan yang terkandung di dalam- nya. Manusia normal sejak lahir sudah dibebani dengan kemampuan reaksi terhadap bunyi atau musik, sehingga tanpa kegiatan men- dengar, manusia-manusia tidak da- pat memberikan reaksi terhadap rangsangan yang berbentuk bunyi Qamalus, 1981: 49). Selanjutnya dikemukakan pula bahwa mempe- lajari teori musik, harus diberikan melalui bunyinya, sehingga siswa dapat mendengar dan menghayati apa yang disebut dengan tangga nada, in teval, melodi dan kord. Selain bunyi, kegiatan men- dengar merupakan hal yang sangat penting dalam belajar musik, karena kegiatan mendengar dapat dilihat sebagai kegiatan yang harus dilak- sanakan dengan baik. Larihan pendengaran musik biasanya dilakukan dalam bentuk dikte yang berupa nada yang dinyanyikan dan kemudian ditulis atau ditirukan. Pelajaran dikte harus didahului dengan latihan pendengaran dan latihan daya ingat. Dikte tersebut berupa melodi, akord, dan ritme. Latihan dikte di- perlukan konsentrasikan yang sung- guh-sungguh agar kesan musiknya dapat dimengerti. Mempelajari lagu melalui mendengar secara berulang- ulang dapat dijadikan dasar menuju tahap pelajaran membaca notasi musik. Menurut Latifah Kodiyat (1983: 68) ear training adalah latihan pendengaran secara sistematis, latihan vokal tanpa perkataan dan hanya dengan suku kata terbuka. Pendengaran tersebut dapat dilatih dengan cara menselaraskan dengan not-not yang dihadapi. Semakin banyak siswa berlatih akan semakin tinggi pula kemampuan siswa dalam HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 membayangkan nada, tepat atau tidaknya lompatan nada dan interval. Florentinus (1997: 62) mem- bagi lebih lanjut kemampuan men- dengar not (ear training) ke dalam tiga indikator kemampuan, yaitu: (1) kemampuan mendengar ritme/ irama, (2) kemampuan mendengar melodi/rangkaian nada dan (3) ke- mampuan mendengar akord/ kese- larasan gabungan nada. Sight Reading adalah membaca not tanpa tanpa persiapan (Last 1980: 135). Selanjutnya dinyatakan bahwa sight reading adalah kesanggupan sekaligus untuk mem- baca dan memainkan notasi musik yang belum pernah dikenal sebe- lumnya. Hal ini sering disebut de- ngan istilah prima vista. Michael Kennedy (1985: 667) mendefinisikan sight reading sebagai berikut: The reading of music at first sight in order to performance it. Selain berfungsi untuk meningkatkan ke- mampuan membaca dan menam- bah pengetahuan tentang bahasa musik, sight reading juga berfungsi untuk menemukan hal-hal baru dalam musik dan memberikan kenikmatan dalam bermusik bagi pemain atau penyanyi musik hingga pada tingkat keterampilan (kema- hiran) yang tinggi. Untuk dapat menguasai sight reading dibutuhkan banyak latihan yang teratur. Namun demikian bu- kan banyaknya latihan yang penting melainkan latihan-latihan (meski- pun sedikit) yang dilakukan tiap hari secara teratur dan terus mene- rus akan lebih dirasakan man- faatnya (Last 1980: 136). Apabila seseorang sejak awal belajar musik dilatih membeca not secara sight reading, maka tidak akan diragukan lagi siswa akan menjadi sight reader yang baik. Melalui sight reading diharapkan sis- wa dapat membaca notasi musik dengan cepat dan tepat. Dalam hal ini, aspek kognitif memegang pe- ranan penting. Florentinus (1997: 60) Mem- bagi lebih lanjut kemampuan mem- baca not (sight reading) ke dalam tiga indikator kemampuan, yaitu: (1) ke- mampuan membaca ritme/irama, (2) kemampuan membaca melodi/ rangkaian nada, dan (3) kemampuan membaca akord/ keselarasan gabungan nada. Berdasarkan penjelasan di atas, yang dimaksud dengan ke- mampuan membaca not (sight read- ing) adalah tingkat kelancaran atau kesanggupan sekaligus untuk mem- baca dan memainkan/ menyanyikan unsur-unsur musikal tanpa persiap- an sebelumnya. Unsur musikal ter- sebut (sebagai indikator adalah (1) Kemampuan membaca ritme/ ira- ma, (2) Kemampuan membaca Me- lodi/rangkaian nada, dan (3) Ke- mampuan membaca akord/kesela- rasan gabungan nada. Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: (1) Penggu- naan metode solfegio dapat me- ningkatkan efektifitas pembelajaran keterampilan bermain musik siswa kelas V SD Sekaran 01 Semarang; (2) Penggunaan teknik ear training dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran keterampilan bermain musik siswa kelas V SD Sekaran 01 Semarang; (3) Penggunaan teknik HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 sight reading dapat meningkatkan pembelajaran keterampilan kualitas pembelajaran KTK siswa Kelas V SD Sekaran 01 Semarang. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi dalam rangka: (1) Bagi guru kelas menfaatnya untuk mengembangkan kemampuan merencanakan dan menggunakan sumber belajar/metode KTK kreatif dan fungsional; (2) Bagi kepala sekolah manfaatnya sebagai masukan dalam rangka mengefektifkan pembinaan dan pengelolaan penmanfaatan metode mengajar dalam pelaksana- an pendidikan SD; (3) Bagi pembina mata kuliah pendidikan seni menfaatnya untuk meningkat- kan pengetahuan dan penguasaan keterampilan pembelajaran KTK di SD melalui PTK, sehingga akan tercipta kemitraan para dosen Sendratasik dengan guru SD guna memecahkan masalah pembelajaran KTK bernuansa ke-SD-an. B. Metode Penelitian Model dalam penelitian tin- dakan kelas dipilih model Spiral: Kemmis dan Taggart (1988) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Perencanaan/persiapan, meliputi permintaan izin, observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran awal, identifikasi perma- salahan dalam pelaksanaan peng- ajaran KTK, dan merumuskan spesifikasi metode solfegio untuk setiap pertemuan dan pokok bahasan, melatih guru kelas/musik dalam membuat dan menggunakan metode solfegio, menyusun rencana penelitian antara dosen dengan guru KTK, dan menyu- sun/menetapkan teknik pemantau- an pada setiap tahapan penelitian dengan menggunakan alat format observasi dan tes solfegio. (2) Siklus I, meliputi pembelajaran musik ansambel menggunakan teknik ear training yang diikuti aktivitas siswa secara individual maupun kelompok. Melakukan observasi/pemantauan PEN KTK yang dilakukan oleh guru kelas dengan dosen dan kepala sekolah, melakukan evaluasi kemampuan bermain musik, dilanjutkan analisis data berdasarkan hasil pemantauan, serta refleksi tahap pertama. (3) Siklus II, meliputi penggunaan teknik sihgt reading, melakukan hasil praktek bermain musik dan hasil pemantauan/ observasi melakukan perbaikan teknik dalam metode solfegio berdasarkan evaluasi tiap siklus, (3) variabel out put meliputi kondisi siswa berkaitan dengan peningkatan keterampilan bermain musik (ansambel) tiap siklus. Pengumpulan data diperoleh melalui: (1) observasi partisipatif yang dilakukan dosen bersama guru kelas/musik selama metode solfegio digunakan sebagai cara pembelajaran keterampilan bermain musik di SD Sekaran 01; (2) dokumentasi hasil belajar musik siswa setelah pembelajaran; (3) angket balikan yang diisi langsung oleh siswa berkaitan dengan hambatan keterampilan bermain musik setelah PBM KTK selesai. Data yang diperoleh diolah dengan: (1) pengecekan kelangkap- an data; (2) pentabulasian data; dan HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 (3) analisis data. Analisis yang dipergunakan adalah teknik des- kriptif dengan persentase. Selanjut- nya dari hasil analisis data dides- kripsikan dalam tindakan: (a) efek- tivitas penggunaan metode solfegio untuk pembelajaran keterampilan musik: (b) hambatan dalam proses pembelajaran KTK di SD. C. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Kondisi Awal Pembelajaran Mengenai kondisi awal pembelajaran keterampilan bermain musik di SDN Sekaran 01 Semarang menunjukkan yaitu: (1) Pembelajaran seni di SDN Sekaran 01 Semarang diisi dengan keteram- pilan bermain musik (Ansambel musik); (2) Pengajarnya adalah guru khusus bidang pendidikan seni musik yang mengajar dengan sistem honorer; (3) Materi pelajaran yang diberikan mengacu pada Standar Kompetensi Keterampilan bermain musik untuk kelas V SD; dan (4) Faktor yang menyebabkan hambat- an pembelajaran keterampilan ber- main musik adalah keterbatasan bahan, peralatan, belum tersedianya media pembelajaran, model pem- belajaran musik yang tepat, dan keterbatasan kemampuan terampil dan kreativitas siswa. 2. Pelaksanaan Tindakan Kelas Pada siklus I, pembelajaran materi keterampilan bermain musik dengan metode solfegio (sight reading) dengan menggunakan model notasi angka dan notasi balok. Hasil monitoring selama tindakan berlangsung adalah dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar keterampilan bermain musik. Aktivitas individu siswa lebih baik dan bersemangat, meskipun tingkat kemajuannya berbeda-beda/bervariasi. Dari hasil observasi penampilan bermain musik, hasilnya adalah 49% telah menguasai dengan sangat baik, 17,5 % menguasai dengan tingkat baik, 20 % Menguasai pada tingkat sedang, dan 22,5% belum bisa mengusai atau pada tingkatan buruk. Hambatannya adalah keterbatasan waktu dan keterampilan siswa. Pada Siklus II, pembelajaran keterampilan bermain musik de- ngan metode solfegio (ear training) baik dengan notasi angka maupun balok. Dari hasil observasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hasilnya adalah: (1) Penggunaan metode ear training dapat meningkatkan kua- litas proses dan hasil pembe-ajaran keterampilan musik. Siswa terampil memainkan lagu "Mother how are you to day" tanpa kesulitan yang berarti meskipun sebagian masih kurang cermat dalam ketepatan membidik nada dan pernafasan yang tidak sama; (2) dari hasil observasi penampilan bermain m- usik, hasilnya adalah 60% telah menguasai dengan sangat baik, 28% menguasai dengan tingkat baik, 14% menguasai pada tingkat sedang, dan 8% belum bisa menguasai atau pada tingkatan buruk; (3) Pembelajaran bermain musik dengan metode ear training dapat efektif meningkatkan kete- rampilan bermain musik siswa kelas V SD N Sekaran 01 Semarang dalam memainkan lagu model; (4) Kendala Penelitian Tindakan Kelas HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 ini adalah keterbatasan kemampuan keterampilan dan kreativitas guru dan siswa, waktu, lagu model, biaya dan pengalaman dalam penelitian Tindakan Kelas. D. Rekomendasi dan Saran Penerapan model siklus dalam pembelajaran keterampilan bermain musik dengan metode solfegio (Sight reading dan ear training) kriterianya adalah: (1) dapat dite- rapkan pada setiap materi praktik berolah keterampilan musik yang diajarkan di SD; (2) harus dapat meningkatkan kreativas dan kete- rlibatan belajar siswa dan dapat mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran kete- rampilan bermain musik; (3) dapat memberikan kesempatan bereks- presi, berkreasi, sesuai dengan mi- nat musik; (3) dapat memberikan kesempatan berekspresi, berkreasi, sesuai dengan minat alat musik untuk perbaikan kualitas proses pembelajaran musik di SD khususnya kelas V; (4) Metode solfegio harus berfungsi sebagai alat bantu / strategi mengajar guru dan sebagai sumber belajar siswa dalam keterampilan bermain musik. Kelayakan penerapan/imple- mentasi metode solfegio pada tiap siklus dengan alur: (1) Observasi kondisi awal Proses Belajar Meng- ajar keterampilan bermain musik; (2) Perencanaan tindakan; (3) Pe- laksanaan PBM sesuai dengan ren- cana tindakan, dan (4) Pendes- kripsian kondisi akhir Proses Bel- ajar Mengajar keterampilan bermain musik. Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran keterampilan bermain musik di SDN Sekaran 01 Sema- rang, disarankan: (1) Agar guru musik berkoordinasi dengan Seko- lah dan Dinas Pendidikan berupaya menyediakan sarana, media pembe- lajaran sesuai keragaman materi se- ni yang diajarkan di SD; (2) Pembelajaran Kertangkes di SD sebaiknya diajarkan oleh guru mata pelajaran atau guru kelas yang mengajar seni di semua kelas; (3) Guru Kertangkes harus berupaya meningkatkan kompetensinya mela- lui KKG, pelatihan pembelajaran seni, dan pemanfatan sumber belajar yang tersedia; (4) Kolaborasi guru dan dosen LPTK dapat dikembangkan secara terprogram dan melembaga terus-menerus; (5) Perlu dilakukan penelitian berikutnya untuk melihat efektifitas metode lainnya dalam pembelajaran keterampilan bermain musik siswa SD kelas V. Daftar Pustaka Ausubel, D.P., 1962, The Psychology of Meaningful Verbal Learning: An Introduction to School Learn- ing, New York: Grune and Staton. De Bono, Edward, 1990, Berpikir Lateral, diterjemahkan oleh Budi, Jakarta: Binarupa. Gordon, E.E., 1990, A Music Learning Theory for 'Newborn and Young Child, Chicago: GSA Publishing. HARMONIA: JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Vol. VI No. 2/Mei-Agustus 2005 Johnson, M.D., 1993, "Delcroze Skill for all Teachers", Music Educator Journal, London: Oxford University Press. Kennedy, M., 1980, The Concise Oxford Dictionary of Music, London: Oxford University Press. Munandar, S.C.U., 1983, Kreativitas, Jakarta: Dian Rakyat. Pratt, W.S., 1960, New Encyclopedia of Music and Musician, New York: Macmillan Company. Regelski, T.A., 1981, Teaching General Music, New York: Schirmer Books. Santrock, J.W., 1988, Psychology: The Sciene of Mine and Behavior, Iowa: WMC Brown Publisher. Treffinger, D.J., 1980, Encauraging Creative Learning for the Gifted and Talented, Califonia: Ven- tura Country Superintendent of School Office. Wisbey, A.S., 1980, Music as the Source of Learning, Baltimore: University Park Press