Vol. 8 No.2 Mei-Agustus 2007.pdf HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI DAMPAK TAYANGAN LAGU ANAK-ANAK DI TELEVISI PADA PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH (The Effect of Children Song Show on Television Toward Art Education in School) Kusrina StafPengajar Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang ABSTRAK Pendidikan tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal, tetapi juga dari pendidikan informal dan nonformal. Sekolah menentukan hasil pendidikan yang dicapai oleh para siswa, namun demikian hasil pendidikan dari sekolah tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lain. Lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat juga ikut andil besar dalam menentukan hasil pendidikan siswa. Saat ini lingkungan budaya fisik seperti benda hasil teknologi beserta perangkat penggeraknya juga sangat luar biasa pengaruhnya bagi pendidikan anak. Kegiatan bermusik dan atau berlagu atau bernyanyi para siswa sekolah yang diwadahi dalam mata pelajaran kesenian, juga banyak dipengaruhi oleh tayangan lagu-lagu di televisi. Siswa tidak hanya bisa berapresiasi dan berkreasi yang luar biasa, yang didapat dari pembelajaran luar sekolah seperti keluarga, masyarakat, terlebih lagi televisi. Utamanya pengaruh televisi disinyalir sangat luar biasa dampaknya pada kegiatan bermusik/ berlagu/ bernyanyi anak. Untuk itu diperlukan pengarahan untuk menuju tercapainya pendidikan seni diharapkan oleh sekolah secara optimal. Kata kund: Pendidikan seni, menyanyi, lagu, televisi, apresiasi, kreasi. A. Pendahuluan Mengamati lagu-lagu anak yang sering ditayangkan di televisi akhir-akhir ini, muncul banyak kritik yang menganggap bahwa lagu anak-anak yang berkembang sekarang ini baik secara langsung maupun tidak langsung. muatan pesan yang tertuang dalam link atau syairnya kurang memperhatikan unsur pedagogik dan atau pun kemampuan berbahasa anak. Melalui tayangan audio visual (televisi) lagu-lagu anak menjadi cepat mengkhalayak atau memasya-rakat, tetapi lagu yang relatif “baik.” untuk anak, kita rasakan semakin langka ditayang-kan atau secara ekstrim kalau boleh dibilang, bisa dikatakan "tidak pernah terfikirkan" untuk di- tayangkan. Pertelevisian sebagai salah satu produk teknologi dan industri, sejak kelahirannya sudah memiliki karakteristik sebagai hiburan. Kultur baru yang dibawa televisi melalui program siarannya tumbuh begitu cepat dan mempengaruhi masyarakat pemirsa. Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan karena kebudayaan televisi mem-punyai substansi yang sebetulnya Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 148 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI sudah dikenal sejak lama sebelum kebudayaan tulis atau cetak menggesernya. Substansi dari kebudayaan adalah ekspresi dengan menggunakan bahasa verbal dan visual sekaligus. Substansi serupa terdapat dalam kebudayaan lisan. Masa itu disebut oleh Walter Oong dalam Wibowo (2000;7) sebagai kebudayaan lisan pertama, semen- tara jaman lahirnya teknologi audio visual sekarang ini disebut sebagai kebudayaan lisan kedua. Sebuah lagu bisa mem pengaruhi pendengar, apalagi jika pendengarnya adalah anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Bagi anak, menyanyi adalah hal yang menyenangkan, dan merupa-kan salah satu sarana untuk mengekspresikan diri. Sementara link lagu barat ibarat sumber informasi yang mampu me-ngajarkan tentang ke indahan alam, macam binatang, lingkungan keluarga maupun lainnya yang berkaitan dengan lingkungan di mana mereka tinggal. Seto Mulyadi menurut Setyorini (1993; 39) psikolog yang akhir-akhir ini rajin mencipta lagu anak-anak mengakui, semula lagu-lagunya tidak langsung melejit di pasaran. Hal ini di-karenakan semua link atau syair lagunya masih berorientasi pada lingkungan informal pada anak-anak yang duduk dalam bangku sekolah. Lepas namun tetap berkait dengan apa yang telah diuraikan tadi, permasalahan pokok dalam dunia pendidikan secara umum dan pen didikan seni pada khususnya, sebenarnya di antaranya karena di berlakukannya sentralisasi yang meng hasilkan pendidikan yang mem belenggu dan tidak humanis. Hak-hak anak terampas untuk memenuhi standar. Kurikulum di sekolah jauh dari kepentingan anak yang gunanya untuk menanggapi tuntutan hidup dan lingkungannya yang justru lebih realistis. Dan pada akhirnya anak mengikuti globatisasi musik dan budaya yang tak tentu arahnya, yang seharusnya lebih kita cermati sehingga lahir anak-anak yang mempunyai budi dan daya yangbaik. Akibat adanya standarisasi maka timbul gerakan ranking anak. Anak sekolah tidak untuk mem-peroleh pengalaman hidup/ akan tetapi justru untuk mem-peroleh ranking atas. Ukuran ke-berhasilan pendidikan bukan tumbuh dewasa-nya anak agar mampu menghadapi hidup dan mampu mem-pertahankan eksis-tensinya dalam kehidupan di masyarakat nanti. Berikut akan dicoba untuk di-kemukakan tayangan musik / lagu anak di televisi dan idealitas keinginan pendidik. B. Penayangan Lagu Anak-anak di Televisi dan Idealitas Keinginan Pendidik Suatu idealitas keinginan pendidik, semestinya televisi sebagai media yang paling akrab dengan masyarakat, dapat memilih materi- materi tayangan yang benar-benar. dapat digunakan untuk mendidik dan atau dapat digunakan untuk ke pentingan kemajuan masyarakat luas. Dalam hal me-nayangkan musik hiburan yang dutujukan untuk anak-anak, mesti-nya juga memilih materi-materi yang dapat mendorong perkembangan mental anak dengan lagu-lagu yang mudah dicerna dan bisa dijadikan alat ungkap/ ekspresi yang sesuai dengan usia dan Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 149 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI perkembangan mental dan atau kondisi anak. Dalam kaitan dengan itu, paling tidak diharapkan lagu-lagu itu mampu diserap anak, hingga anak yang masuk dalam usia menuju remaja itu bisa terdorong tingkat kreativitasnya menuju pada suatu kreativitas yang positif.(Read, 1970; 30) secara tegas mengatakan, seni secara umum dalam hal ini juga dapat kita interpretasi termasuk lagu-lagu, dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Alat pendidi kan itu bisa pendidikan apresiasi yang ditujukan untuk ke pentingan per- kembangan pertumbuhan kepekaan rasa/kematangan emosi anak atau pun pendidikan kreativitas anak. Perlu diperhatikan juga pendapat para ahli pendidikan seperti Merritt dalam Dharma (2003; 102), Buzan yang dikemukakan oleh Suharto dalam Jurnal Bahasa dan Seni Lingua Artistika (2000; 9), serta Deporter dan Hernacki yang ditulis kembali oleh Sumaryanto dalam Jurnal Bahasa dan Seni Lingua Artistika (2002; 11), yang mengatakan dalam banyak hasil penelitian diketahui bahwa musik-musik yang berirama dinamis dapat digunakan secara efekuf untuk membantu kecerdasan emosi pada manusia, yang emosi itu pada struktur otak manusia terletak di otak/benak sebelah kanan, yang sekaligus juga dapat digunakan secara efektif untuk membantu kecerdasan intelektual yang pada struktur otak manusia terletak di struktur otak/benak sebelah kiri. Oleh karena itu kebutuhan anak akan seni untuk berbagai kepentingan pendidikan luar biasa besarnya. Bagaimana fenomena pendidikan seni di sekolah berkait dengan itu semua, berikut akan dikemukakan sebatas pengamatan global dan kasar untuk pendidikan seni musik di Taman Kanak-Kanak, Sekolah dasar, dan Sekolah Menengah Perta 1. Fendidikan Seni Musik di Taman Kanak-Kanak Pendidikan Seni untuk Taman Kanak-Kanak, telah di-aktualisasikan dalam bentuk kurikulum lengkap pendidikan Taman Kanak-Kanak yang telah diterbitkan oleh Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembang-an Departemen Pendidikan Nasional tahun 2004. Tentunya kita menyambut baik dan menaruh harapan yang sangat besar dengan dimunculkannya kurikulum ter- sebut. Belum seluruh sekolah dapat rnenjalankan kurikulum tersebut, namun kurikulum tersebut telah disempurnakan lagi menjadi kurikulum 2006 tanpa semua tahu di mana kekurangan dan atau mungkin kelebihannya. . Dimunculkannya kurikulum pendidikan seni yang terbaru dari mata pelajaran kerajinan tangan dan kesenian menjadi mata pelajaran seni budaya dipandang perlu seluruh insan pendidik dan masyarakat luas mengetahui sejauhmana kemungkinan optimali-sasi penerapannya (termasuk utamanya untuk pendidikan Taman Kanak- Kanak ini). Hal ini menjadi perhatian yang serius karena anak pada masa taman kanak- kanak merupakan masa emas dalam perkembangan anak yang senantiasa harus dan mutlak untuk men-dapatkan perhatian lebih. Stimulasi pendidikan diperlukan guna memberikan perangsangan terhadap seluruh perkembangan anak. Selain itu berfungsinya otak adalah hasil interaksi dari cetak biru (blue print) genetic dan pengaruh lingkungan Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 150 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI nya yang untuk itu kurikulum tetap hams dijalankan di lapangan dengan memperhatikan latar lingkungan yang pas. Pendidikan seni pada umumnya dan pendidikan musik pada khususnya mempunyai peran yang sangat penting, yaitu sebagai (1) kebutuhan dasar pendidikan manusia, (2) memenuhi kebutuhan dasar estetika, (3) pengembangan sikap dan kepribadi an, (4) determinan terhadap kecerdasan lainnya. Implikasi pendidikan musik tidak mungkin terlepas dari kondisi masyarakat dan lingkungan pendukung nya sebagaimana yang telah dikemuka kan pada bagian awal tulisan ini. Oleh karena itu pula pengembangan tujuan pendidikan seni musik hendaknya berdasarkan nilai-nilai gagasan (cita- cita dan tingkat kedewasaan) siswa, dan pola-pola hidup kreatif melalui latihan-latihan. Dengan kata lain tujuan pendidikan seni musik hendaknya diarahkan pada pemaha-man sepenuh nya terhadap seni berdasarkan nilai- nilai budaya, sehingga memberi peluang pada siswa untuk melakukan kegiatan kreatif. Kegiatan kreatif merupa-kan manifestasi dari kemampuan berkomunikasi siswa dengan sesama maupun dengan ling-kungannya. Pendidikan seni musik perlu memfokuskan per-hatian pada kebutuhan dan kemampuan/ bakat siswa beserta fenomena yang sedang berkembang di masyarakat atau mengikuti tuntutan jaman. Untuk itu pelaksanaan dilapangan untuk anak Taman Kanak-Kanak, pendidikan musik ini harus bisa lebih fleksibel, dalam arti tidak harus terpatri pada tuntutan formal yang ortodok dan konservatif. Unsur-unsur musik se- materi yang harus di-kembangkan seperti irama, melodi, dan harmoni perlu ditetapkan dan atau diaplikasikan pada bentuk musik/ lagu yang benar-benar sesuai dengan kegunaan bagi pembentu-kan karakter dan pembentu kan perkembangan jiwa anak didik dengan pesan-pesan yang sesuai. Seni suara (musik vokal dan instrumental) adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa anak. Sejak anak dilahirkan sebenarnya telah memiliki beberapa unsur musik seperti irama, melodi, dan harmoni sebagai pembentukan musik yang utuh. Materi seni musik yang diberikan untuk siswa Taman Kanak- Kanak tidak berbeda dengan materi umum seni musik dalam artian musik yang telah memenuhi unsure-unsur musik/ lagu seperti yang telah dikemukakan tersebut di atas yang meliputi irama, melodi dan harmoni. Namun demikian kadang sekali apa yang diberikan oleh guru kepada anak didik jauh kalah popular dengan yang dikenal oleh anak didik yang didapat dari tayangan televisi yang kadang oleh orang tua anak dilanjutkan dengan disediakannya kaset untuk disetel/ diputar melalui tape rekorder. Di sini lah pengaruh media televisi memang sangat luar biasa yang kadang hasilnya melampaui pendidikan formal. Kehidupan suatu generasi sangat berpengaruh dalam pendidikan anak yang merupakan tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Sejalan dengan perkembangan musik sebagai bagian dari siaran televisi seperti saat ini mengandung banyak keterkaitan dengan lembaga masyarakat, yang ini menjadikan musik atau lagu Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 151 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI sebagai bagian dari budaya masyarakat yang memiliki unsur-unsur pendidikan sikap dan tingkah laku anak dalam mengadaptasi budaya mereka. Menurut Royce (1990; 22) beberapa faktor penting berkaitan dengan lagu yang dianggap sebagai alat penting bagi dunia pendidikan anak, mempunyai unsur potensial pula yang ideal di masyarakat untuk menghasilkan banyak nilai positif. Keterkaitan dengan pendidikan anak dalam keluarga sangat bergantung pada fungsi keluarga dalam masyarakat dan fungsi tersebut di antaranya adalah fungsi psikologis, pendidikan, dan rekreatif. Fungsi psikologis di-pandang sangat penting karena di sini lah pada perkembangan personalitas dan watak anak akan terbentuk. Keluarga merupa kan unsure pertama tempat terjadinya kontak social anak. Sampai dengan usia 10 tahun anak sangat terpengaruh dengan pola kehidupan keluarga. Keluarga akan mem-pengaruhi tingkah laku dan pertumbuhan emosional anak termasuk dalam berkesenian. Fungsi pendidikan keluarga adalah sutnber awal kehidupan budaya anak. Keberhasilan menanamkan pola ini akan memberikan pengaruh bagi anak untuk mampu me-ngembangkan dirinya dengan pasti dan teratur. Fungsi kreatif dalam masyarakat modern, sangat diperlu-kan dan diharapkan. Kemampuan anak harus berkembang sesuai dengan potensi dan kreativitasnya. Perlu di ketahui bahwa, fasilitas rekreasi saat ini salah satunya adalah dengan adanya sarana televise yang menyiarkan lagu-lagu yang diberikan oleh guru melalui pendidikan formal di sekolah. Anak akan .begitu fasih dan begitu ekspresif manakala menyanyikan lagu yang menirukan lagu-lagu yang ia kenal di televisi. Berkaitan dengan peng ekspresian anak dalam menyanyikan lagu- lagu yang ia kenal, menurut pakar teori perkembangan anak, Lawrence (1998; 123) sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. Melalui peng ekspresian syair lagu itu, anak menjadi menempuh tahap-tahap dalam menggunakan kemampuan berbahasa, yakni muls-muls dialog pribadi, kemudian ditujukan ke pihak lain, bertanya atau memberi perintah kepada diri sendiri sambil mengerjakan sesuatu, lalu mengatakan sesuatu menjadi pikiran yang tidak dikeluarkan / tanpa suara atau dialog dengan diri sendiri tanpa suara. Fenomena kehidupan seni untuk anak prasekolah atau Taman Kanak-Kanak telah lama digunakan sebagai alat pendidikan sampai saat sekarang dan saat sekarang semakin mendapat perhatian khusus dari pihak-pihak terkait utamanya Dinas Pendidikan. Berikut akan di- kemukakan fenomena krativitas/ ekspresi musik/ lagu anak-anak tingakat Sekolah Dasar serta fenomena pendidikan seni musik di tingkat Sekolah Menengah Pertama akibat adanya pengaruh dari tayangan musik/lagu di media televise dan media yang lain. 2. Pendidikan Seni Musik di Tingkat Sekolah Dasar Musik/lagu anak-anak untuk Sekolah Dasar pada umumnya adalah jenis musik/ lagu dengan ciri-ciri syair yang mudah dinyanyikan, mudah dihafal, dan bentuk melodi maupun harmoninya masih sangat sederhana. Ekspresi musik/ lagunya lebih banyak Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 152 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI berekspresi tentang keindahan alam, lingkungan keluarga, komunikasi umum, serta tema-tema yang berorientasi pada perkembangan anak. Ekspresi dari syair yang mudah ditiru terdapat pada syair lagu yang diikuti gerakan alur melodi yang tidak melompat dengan memanfaatkan ritmis yang diulang-ulang (Mahmud, 1994; 1). Dalam hubungannya dengan lingkungan keluarga anak, orang tua dari kelompok status ekonomi menengah ke atas merasa bahwa menyanyi adalah sangat penting untuk ketrampilan seni anak dan kepentingan kemajuan anak di aspek lain seperti aspek kemampuan berbicara anak sehingga mereka metnacu anak- anaknya untuk menyanyi lebih baik dengan memperbaiki setiap ucapan yang salah, memperbaiki kesalahan tata bahasa dan mendorong untuk berperan serta dalam setiap pembicaraan yang bersifat umum. Tayangan nyanyian dan/ atau lagu- lagu di televise atau mungkin juga radio memberi contoh yang baik bagi penambahan kosa kata anak yang lebih besar sebagaimana anak-anak sekolah. Radio dan televise juga mendorong pendengar/pemirsa untuk mau mendengarkan secara seksama sehingga kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain melalui media radio dan/ atau televise itu meningkat. Setelah anak belajar membaca (menyanyi), ia menambah kosa kata baru dan terbiasa dengan bentuk kalimat yang benar. Melalui sekolah, kata-kata yang salah/ keliru/ tidak sesuai dengan pengertian yang sebenarnya dan penambahan kosa kata umum yang terjadi secara tidak teratur, biasanya cepat diperbaiki guru (Hurlock, 1994:151). Televisi sebagai salah satu darimedia pendidikan merupakan media yang cukup efektif dalam menyerap berbagai informasi. Tanpa disadari sebagian besar anak gemar menonton televisi dari bermain sendiri. Penelitian ter-hadap anak yang menonton televisi menyimpulkan bahwa kegiatan menonton televisi menimbulkan pengaruh yang baik, seperti meningkatnya pengetahuan dan meluasnya minat berbagai aspek kehidupan sesuai potensi yang dimiliki anak (Hurlock, 1994: 136). Sebaliknya akibat buruknya adalah kurangnya latihan fisik/ aktivitas gerak, ketegangan syaraf, tidak dapat tidur, dan menerima pola-pola perilaku yang tidak sesuai dengan norma (Hurlock, 1994:137). Media tanpa membaca seperti televisi ini, tampaknya akan jauh lebih efisien dibandingkan media baca tulis. Artinya cara yang paling efisien dan mudah untuk memberdayakan bangsa ini kenungkinan adalah melalui media suara gambar seperti radio dan televisi yang lebih mudah dicerna mereka, baik yang berpendidikan rnaupun tidak berpendidikan. Concept Community televisi dapat dijadikan alternatif solusi -bagi pemberdayaan bangsa menuju knowledge based society. Berdasar kondisi dan/ atau fenomena yang demikian menjadi semakin disadari bersama bahwa, media televisi memang mempunyai pengaruh yang luar biasa pada pendidikan anak, termasuk penguasaan lagu-lagu dari sisi berbagai aspek yang ada pada lagu atau nyanyian tersebut. Pada dasarnya, musik sebagaimana juga lagu secara umum juga merupakan bahasa. Oleh karena itu menjadi tidak aneh manakala siswa atau Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 153 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI orang siapa pun menjadi jauh begitu lebih respek terhadap apa yang di dapat melalui media televisi. Sebagairnana yang telah dikemuka-kan pada sesi awal, bahwa pada dasarnya televisi adalah budaya lesan yang kedua setelah dari tahapan bahasa verbal non media. Berkait dengan itu maka untuk anak-anak tingkatan Sekolah Dasar iru pun dalam berkesenian atau berseni musik atau nyanyi juga banyak dipengaruhi oleh pergaulan-nya dengan media televisi. 2. Pendidikan Seni Musik di Sekolah Menengah Pertama Pendidikan seni musik untuk anak tataran usia sekolah lanjutan pertama, yang nota-bene peralihan menuju ke masa remaja, secara khusus kreativitas musiknya dapat dimasukkan sebagai kreativitas musik / seni yang digunakan untuk mencari jati diri. Salah satu usaha untuk menunjukkan jati dirinya memang bisa melalui bermusik tersebut. Bisa berlagu, bermusik instrumentalia, dan atau mungkin berkesenian yang lain. Berkait dengan ekspresi musikalnya, berbagai jenis musik, baik yang berasal dari musik Indonesia seperti kelompok band Zamrud, Edane, Sheila on Seven, Padi serta musik luar dengan lirik berbahasa Inggris, Spanyol, Meksiko maupun berbahasa Mandarin, realitanya mampu ditiru dan dipelajari oleh tataran sekolah lanjutan pertama ini. Salah satu kebutuhan anak dalam mengembangkan kemampu-an meniru atau sebagai kemampuan kreativitasnya di bidang musik khususnya musik-musik populer, proses dari meniru lagu-lagu popular, didapatkannya bukan dari lingkungan sekolah seperti yang diajarkan oleh guru seni musik. Lagu-lagu yang ditiru umumnya didapatkan dari lingkungan masyarakat di mana siswa tinggal, maupun melalui media elektronik seperti CD/ VCD, radio, dan/ atau media lain, terutama televisi. Pesan-pesan dari lagu yang dipelajari dan diperoleh dari hasil meniru, realitanya masih terbatas pada kemampuan anak dalam meniru pada unsur-unsur lagu seperti halnya pola irama, melodi lagu, maupun harmonisasi lagu, sementara teks atau lirik dari lagu dan kemampuan memainkan maupun. mengolah lagu-lagu yang dipelajari masih kurang mendapat- kan perhatian. Secara jujur, kemampuan dari proses meniru sebenarnya merupakan salah satu dari kemampuan kreativitas siswa di bidang musik baik yang positif maupun yang negative tergantung dari sisi mana kita memandang. Untuk menuju hal- hal yang positif, sangat dibutuhkan arahan- arahan, maupun wadah yang tepat baik di sekolah maupun lingkungan masyarakatnya. Pertanyaan yang cukup mendasar, mampukah sekolah sebagai salah satu pusat informasi dan pendidikan bagi anak mampu menampung dan ikut mengembang kan kemampuan kreativitas anak didiknya di sekolah, baik melalui pembelajaran intrakurikuler maupun ekstrakurikuler ? Jawaban- nya tentu ada pada ke mampuan guru dan sekolah, serta sarana dan prasarana yang dimiliki di tiap-tiap sekolah dalam meningkatkan kemampuan emosional dan intelejensi anak didiknya. Yangjelas pada kenyataannya, kemampuan sekolah sebagai lembaga yang berkewajiban mendidik anak melalui seni sebagai alat pen- Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 154 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI didikannya, mayoritas dilakukan masih sebatas untuk menjalankan tugas melalui rambu-rambu kurikulum yang ditelaah oleh guru dan sekolah secara kaku. Berhasil dan tidaknya berpijak dari tujuan yang mendasar dari diberikannya pendidikan seni di sekolah, masih perlu diteliti lebih lanjut Tampaknya pengaruh media umum dan utamanya televisi adalah luar biasa. Bahkan kadang-kadang materi pelajaran seni musik di sekolah pun harus mengikuti perkembangan musik atau lagu yang ditayangkan di televisi. Lagu Kopi Dangdut yang begitu tenar melalui tayangan di televisi, tidak ada siswa yang tidak mengenal. Bahkan saat ini Lagu Kucing Garong juga mendapat sambutan khusus dari masyarakat luas termasuk siswa Sekolah Menengah Pertama. Setiap kali guru mau memberi materi musik atau lagu, siswa melakukan usul minta lagu-lagu yang telah ia kenal dari televise. Berkait dengan respek yang demikian dapat kita interpretasi sebagai suatu tanda, bahwa media televisi begitu besar pengaruhnya dalam memberi isi dan warna serta harapan yang diinginkan oleh siswa dan tentunya juga termasuk masyarakat luas. Guru sendiri kadang terobsesi oleh tayangan- tayangan televise dalam mem-berikan materi pelajaran pada siswa. Seolah fenomena ini menjadi gayung bersambut antara keinginan siswa, inspirasi guru, tuntutan sekolah, dan kebutuhab masyarakat secara umum. Dilema bagi guru adalah materi pelajaran harus mengacu pada kurikulum yang cenderung di interpretasi kaku oleh guru sendiri dan oleh sekolah serta tuntutan moral bahwa materi pelajaran harus mencapati tujuan yang digariskan oleh kurikulum. C. Penutup Kesenian memiliki peranan penting dalam menumbuhkan ke seimbangan logika dan rasa. Berbagai aktivitas seni dapat menumbuhkan kepekaan rasa yang sekaligus merangsang kecerdasan logika. Salah satu aktivitas seni dalam bahasan ini utamanya adalah menyanyi. Menyanyi merupakan hal yang inenyenangkan dan paling mudah dalam meng ekspresikan jiwa musik pada anak. Lirik-lirik lagu yang disampaikan pun bisa beragam, bisa keindahan alam, macam binatang, lingkungan keluarga, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan lingkungan di mana siswa tinggal. Lirik lagu dapat digunakan sebagai sumber informasi yang masuk ke dalam memori anak sehingga secara psikologis mempengaruhi perkembangan anak. Fenomena nyata yang kita lihat, lirik- lirik lagu populer di televisi banyak pengaruhnya terhadap inspirasi para siswa dan banyak aspek positif yang diambil dari pengaruh tayangan televisi. Dalam hal ini tentu juga tidak menafikkan dampak negatif dari pengaruh tayangan televisi tersebut. Semua dampak negative di harapkan bisa dieliminer melalui benhtk pengembangan yang dilakukan oleh guru sebagai pendidi Daftar Pustaka Depdiknas. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi & Basil Belajar Rumpun Pelajaran Kesenian. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 155 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI Hurlock. l994. Psikologi Perkembangan Suatu Pendidikan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga. Lawrence, E. 1998. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta: FT Gramedia Pustaka. Mendiknas. 2006. "tandar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Tingkat Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan Madrasah Tsanawiyah" dalam Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Binatama Raya. Setyorini, Lies. 1993. Musik dan Perkembangan Psikologi Anak. Jakarta: Ayahbunda. Suharto. 2000. "Peran Seni dalam Pengoptimalan Otak" dalam Lingua Artistika Jurnal Bahasa dan Seni FBS Universitas Negeri Semarang No. 3 Th. XXIII September 2000. Sumaryanto, Totok, F. 2002. :Peran Musik untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak Usia Sekolah Dasar dalam Lingua Artistika Jurnal Bahasa dan Seni FBS Universitas Negeri Semarang No. 1 Th. XXV Januari 2002. Mahmud, AT. 1994. Musik I. Jakarta: Depdikbud. Merrit, Stephanie dalam Dharma, Lala Herawati. 2003. Simfcmi Otak. Bandung: Kaifa. Royce. 1980. The Antropology of Dance. Indiana: Bloomingto Read, H. 1970. Education Through Art London: Faber and Faber. Wibowo, F. 2000. Seni Pertunjukan dan Media, Makalah Seminar Nasional STSI Surakarta Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 156