PF 1 PENERAPAN METODE SQ5R (SURVEY, QUESTION, READ, RECITE, RECORD, REVIEW, REFLECT) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA TEKS BAHASA INGGRIS (PENELITIAN TINDAKAN KELAS PADA MAHASISWA JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI DIV TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN SEMESTER II TAHUN 2015/2016 POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG) Naely Muchtar & Irmawati Politeknik Negeri Ujung Pandang ABSTRAK Penelitian ini menerapkan metode SQ5R yang sangat sesuai untuk diterapkan pada kelas Bahasa Inggris di Politeknik yang menitikberatkan pada kemampuan praktek. SQ5R adalah metode membaca yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan metakognitif peserta didik dalam memahami sebuah bacaan. Metode ini terdiri atas tujuh langkah, yaitu Survey (penelaahan/pendahuluan), Question (bertanya), Read (membaca), Recite (mengutarakan kembali), Record (menulis), Review (mengulang kembali), dan Reflect (memberi contoh). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca Bahasa Inggris mahasiswa melalui penerapan metode SQ5R pada kelas Bahasa Inggris II Program Studi DIV Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang Tahun Akademik 2015/2016. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas 3 (tiga) tahap yaitu pretest untuk melihat kemampuan dasar mahasiswa dalam membaca teks Bahasa Inggris, tahap kedua adalah treatment atau pemberian perlakuan dengan menggunakan metode SQ5R, tahap terakhir adalah posttest untuk melihat hasil dari pembelajaran menggunakan metode SQ5R dalam kelas. Berdasarkan hasil pretest, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan membaca teks Bahasa Inggris mahasiswa semester II prodi TKJ sebelum penerapan metode SQ5R masih tergolong rendah yaitu dalam klasifikasi poor (34.043%) sebanyak 16 orang mahasiswa. Setelah dilakukan treatment dengan menggunakan Invention text dan Gadget text keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan dengan adanya 9 orang mahasiswa (19.149%) yang berada pada klasifikasi very good dan hanya terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor. Dari hasil akhir penelitian yaitu posttest keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan selayaknya hasil treatment dengan adanya 10 orang mahasiswa (21.276%) yang berada pada klasifikasi very good dan tetap terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor sebagaimana pada treatment. Kata kunci: SQ5R, bahasa Inggris, mahasiswa 2 ABSTRACT The research applied SQ5R method which is very suitable to be applied in English classes at Polytechnic that focuses on practical skills. SQ5R is a reading method that used to improve the meta cognitive ability of learners in understanding a passage. This method consists of seven steps, namely Survey (studying/preliminary), Question(asking), Read (reading), Recite (reiterating), Record (writing), Review (repeating), and Reflect (giving examples). This study aims to determine in what level students’ English reading skills are increased through the application of SQ5R method in English class II of DIV Computer and Networking Engineering Study Program, Electrical Engineering Department, State Polytechnic of Ujung Pandang, Academic Year 2015/2016. The research is a Classroom Action Research (CAR), which consists of three (3) stages: pretest to see the basic ability of students in reading the English text, the second stage was the treatment or administration of treatment by applying SQ5R method, the last stage was posttest to see the results of learning method by applying SQ5R in the classroom. Based on the results of the pretest, it can be concluded that the reading skills of the second semester students before the application of SQ5R method was relatively low, namely in poor classification it represents by 16 students (34.043%). After treatment by using Invention text and Gadget text students’ reading skills had increased significantly as 9 students (19.149%) classified very good and there are only 8 students who were in low classification, namely poor and very poor. From posttest as the final results of research students’ reading skills had increased significantly as it shown in the results of treatment with 10 students (21.276%) classified very good and still there were 8 students who are in the low classification, namely poor and very poor as can be seen in treatment. Keywords: SQ5R, English, students PENDAHULUAN Proses pembelajaran Bahasa Inggris meliputi 4 keterampilan (skill), yaitu menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Keempat skill tersebut mutlak digunakan dalam pembelajaran Bahasa. Reading adalah suatu kegiatan belajar yang didominasi oleh mata dan otak, dimana mata menerima pesan dan kemudian otak bekerja untuk mendapatkan makna dari pesan yang diterima. Reading termasuk dalam Receptive skills (kemampuan menerima) dalam hal ini mahasiswa menerima informasi dari luar dirinya dan kemudian berusaha untuk memahami informasi tersebut. Receptive skill lebih menekankan pada keterlibatan secara aktif dari mahasiswa sebagai 3 seorang pembaca. Dalam setiap sesi perkuliahan keempat skill terintegrasi dalam topik yang berbeda. Mahasiswa baru yang telah lulus tes di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) diwajibkan mengikuti TOEFL Prediction (Test of English as a Foreign Language) yang diadakan oleh UPT Bahasa pada semester 1 sebagai pra syarat untuk mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris serta sebagai rekam jejak nilai Bahasa Inggris mahasiswa. Hasil TOEFL Prediction dalam reading section mahasiswa baru tahun ajaran 2015/2016 Program Studi DIV Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) terbilang rendah dengan persentase jawaban benar rata-rata 38% - 40% dari total soal tes reading. Hal ini menandakan bahwa skill membaca teks Bahasa Inggris mahasiswa belum optimal. Untuk menunjang proses perkuliahan Bahasa Inggris kemampuan membaca teks Bahasa Inggris dengan baik amat dibutuhkan oleh mahasiswa. Kurikulum Program Studi DIV TKJ mencantumkan Bahasa Inggris untuk 4 Semester berturut-turut dimana Bahasa Inggris 1 adalah Bahasa Inggris Umum (General English), Bahasa Inggris 2 (General English), Bahasa Inggris 3 (English for Engineering), dan Bahasa Inggris 4 (English for Job and Career). Semester II merupakan masa transisi antara General English dan Engineering English yang akan mereka dapatkan pada semester III. Bahasa Inggris 2 memiliki konten introduction to engineering for computer and network students. Topik mata kuliah Bahasa Inggris 2 mencakup: 1. Computer and Network Engineering Students’ Activity and Achievement (Interview) 2. Studying at Polytechnic (Passive Voice) 3. Reporting (English News) 4. Invention (Conditional Sentences) 5. Gadget (Direct and Indirect Speech) 6. Final Project (Individual Presentation of English Articles from Online Newspapers/Mini Debate) Berdasarkan literatur hasil penelitian dalam peningkatan kemampuan membaca teks Bahasa Inggris mahasiswa dalam pengajaran reading pada jenjang 4 Perguruan Tinggi Vokasi (Politeknik) terdapat beberapa hal yang mempengaruhi pencapaian mahasiswa dalam memahami teks. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor dari dalam (internal), contohnya antara lain; rasa malas, menganggap Bahasa Inggris sulit, dan menyepelekan mata kuliah Bahasa Inggris. Selain faktor- faktor tersebut, terdapat juga faktor dari luar (eksternal), yaitu kurangnya bahan ajar/alat pembelajaran, ketidakefektifan Dosen dalam menyampaikan materi, pengajaran yang monoton, dan pembelajaran Bahasa Inggris yang menggunakan metode konvensional. Kreativitas Dosen sangat dibutuhkan dalam mencari metode pembelajaran yang tepat untuk mahasiswa. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk peningkatan keterampilan membaca adalah metode SQ5R (Survey, Question, Read, Recite, Record, Review, Reflect). SQ5R merupakan pengembangan dari metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) dan SQ4R (Survey, Question, Read, Recite, Record, Review). Peneliti memilih metode SQ5R karena sangat sesuai untuk diterapkan pada kelas Bahasa Inggris di Politeknik yang menitikberatkan pada kemampuan praktek. SQ5R adalah metode membaca yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan metakognitif peserta didik dalam memahami sebuah bacaan. Oleh karena itu, sejalan dengan pengaitan antara dunia nyata dan materi pengajaran tim peneliti akan meneliti mengenai keefektifan penerapan metode SQ5R pada pembelajaran keterampilan membaca Bahasa Inggris dan diharapkan dengan menggunakan metode SQ5R dapat meningkatkan hasil belajar dan membantu mahasiswa untuk memahami informasi dari suatu bacaan. Penelitian dengan penerapan metode SQ5R dalam pengajaran reading telah banyak dilakukan. Berikut ini diuraikan beberapa penelitian terkait: Berdasarkan hasil dan fakta yang ditemukan selama penelitian oleh Nurhaidah dkk (2015) metode SQ4R memiliki pengaruh yang lebih positif dibandingkan metode ceramah terhadap kemampuan membaca pemahaman interpretatif. Para pendidik dapat mengaplikasikan metode dan teknik membaca tersebut sebagai alternatif metode pembelajaran membaca pemahaman dalam cakupan materi yang lebih luas dan kompleks. 5 Kinanthi (2013) mengemukakan bahwa metode SQ4R efektif dalam pembelajaran keterampilan membaca Bahasa Jerman. Hal ini terlihat dari perbedaan prestasi peserta didik. Peserta didik yang diajar menggunakan metode SQ4R mempunyai prestasi yang lebih baik daripada peserta didik yang diajar menggunakan metode konvensional. Dengan menggunakan metode SQ4R peserta didik menjadi lebih aktif di dalam kelas. Bersama dengan kelompok, mereka bekerjasama mengerjakan tugas sebaik mungkin, sehingga membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Mereka dapat dengan leluasa mengemukaan pendapat, bertanya, serta memberi komentar mengenai materi yang dibahas saat itu. Penerapan metode SQ4R merupakan strategi yang fleksibel yang dapat disesuaikan untuk berbagai jenjang pendidikan dan dapat digunakan di hampir semua tingkat kelas dan mata pelajaran (Iman, 2012) karena, mampu menarik perhatian siswa dan membuat siswa antusias mengikuti proses pembelajaran. Tuti (2010) menyatakan bahwa metode SQ4R memberikan makna dalam proses membaca mahasiswa sehingga membaca menjadi lebih efektif dan efisien serta menyenangkan. Membaca tidak hanya mengucapkan kata-kata. Membaca harus diikuti proses menemukan makna karena membaca tidak hanya mengucapkan sebuah kalimat yang tertulis tapi juga sebuah proses dalam menemukan makna yang kita baca. Jadi membaca tidak lain adalah memahami isi suatu bacaan. Jika seseorang tidak bisa memahami makna atau isi dari apa yang tertulis, maka pembaca tersebut bisa dikatakan belum berhasil dalam membaca. Sehingga diperlukan proses yang baik pula agar bisa memahami isi suatu bacaan. Pesan dalam sebuah bacaan akan mudah tersampaikan kepada pembaca jika terdapat proses yang baik pula dalam membaca. Pada awalnya metode pembelajaran ini dikenal luas sebagai metode SQ3R kemudian mengalami perubahan menjadi SQ4R yang dicetuskan oleh Thomas dan Robinson pada tahun 1972. Metode ini terdiri atas enam langkah, yaitu: Survey (penelaahan/ pendahuluan), Question (bertanya), Read (membaca), Reflect (memberi contoh), Recite (mengutarakan kembali), dan Review (mengulang kembali). Keenam langkah tersebut masing-masing mempunyai manfaat yang 6 saling mendukung. Setelah metode ini digunakan oleh para pendidik maka terjadi perubahan menjadi SQ5R yang lazim digunakan dalam pengajaran untuk mata kuliah Bahasa karena setiap langkah pembelajarannya mencakup skill dalam pengajaran Bahasa (Kinanthi, 2013). Dalam perkembangannya mata kuliah atau mata pelajaran selain Bahasa pun telah sering menggunakan metode ini karena dipandang efektif untuk memberikan motivasi belajar bagi peserta didik. Trianto (2007: 158) menjabarkan manfaat umum dari metode ini, yaitu membantu mahasiswa untuk mengambil sikap bahwa sumber baca yang akan dibaca tersebut sesuai keperluan/kebutuhan atau tidak. Metode ini bertujuan untuk membekali peserta didik dengan suatu pendekatan sistematis terhadap jenis-jenis teks bacaan. Tujuan tersebut mencerminkan bekal untuk keperluan peningkatan cara belajar sistematis, efektif, dan efisien. Kelebihan dari metode ini adalah membaca dianggap lebih efisien , karena dapat mendorong seseorang untuk lebih memahami apa yang dibacanya, terarah pada kesimpulan atau kandungan-kandungan pokok yang tersirat dan tersurat dalam suatu buku atau teks. Selain itu, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini telah menggambarkan prosedur ilmiah, sehingga diharapkan setiap informasi yang dipelajari dapat tersimpan dengan baik dalam sistem memori jangka panjang seseorang. Selain itu, dengan melalui fase survey bahan bacaan terlebih dahulu, mahasiswa akan mengenal organisasi pemahaman terhadap bahan bacaan tersebut, pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun tentang apa yang dibaca akan membangkitkan keingintahuan untuk membaca dengan tujuan mencari jawaban-jawaban yang penting, mahasiswa juga dapat melakukan kegiatan membaca secara lebih cepat, karena dipandu oleh langkah-langkah sebelumnya, yaitu mensurvey bahan bacaan dan menyusun pertanyaan tentang bacaan tersebut. Catatan-catatan tentang bahan bacaan yang dibaca juga dapat membantu mahasiswa memahami isi bacaan secara cepat dan membantu ingatan. Melalui review atau mengulang mahasiswa akan memperoleh penguasaan menyeluruh atas bahan yang dibaca. Selain kelebihan-kelebihan di atas, metode ini juga memiliki kelemahan. Kelemahan-kelemahan dari metode ini adalah apabila dalam 7 penggunaan metode SQ5R mahasiswa tidak cermat dan teliti, maka akan mengalami kesulitan dalam mengikuti materi berikutnya. Apabila mahasiswa tidak aktif di dalam proses belajar maka tidak akan mendapatkan hasil yang baik dalam proses belajar. Untuk mengatasi kekurangan dari metode SQ5R, peran Dosen ketika menggunakan metode ini sangatlah penting. Dosen dapat menjadi (1). organisator; menjaga kedisiplinan agar tercipta suasana pembelajaran yang efektif dan membuat mahasiswa lebih aktif dalam aktifitas kelas, (2). sebagai motivator; memberikan pujian dan dorongan agar mahasiswa melakukan usaha yang positif dalam memahami bacaan. Metode ini memberikan strategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang materi bacaan yang akan dibahas, menumbuhkan pertanyaan dari judul/subjudul suatu bacaan dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban dari pertanyaan. Metode SQ5R mencakup tujuh tahapan kegiatan, yaitu sebagai berikut: a). Survey (penelaahan/pendahuluan) Dalam tahap ini, pembaca (mahasiswa) mulai meneliti, meninjau, menjajaki dengan sepintas untuk menemukan judul bab, subbab, dan keterangan gambar agar lebih mengenal atau familiar terhadap materi bacaan yang akan dibaca secara detail dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan melakukan survey dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian saat membaca. Dalam melakukan survey, dianjurkan menyiapkan pensil, kertas, spidol, atau highlighter sebagai penanda (dengan warna yang beragam misalnya kuning, hijau dan sebagainya) untuk menandai bagian-bagian tertentu. Bagian- bagian penting akan dijadikan sebagai bahan pertanyaan yang perlu ditandai untuk memudahkan proses penyusunan daftar pertanyaan yang akan dilakukan pada langkah kedua. b). Question (bertanya) Setelah melakukan survey, mahasiswa akan menemukan beberapa butir pertanyaan. Daftar pertanyaan dapat dijadikan penuntun dalam membaca agar terkonsentrasi dan terarah. Jumlah pertanyaan bergantung pada panjang- pendeknya teks, dan kemampuan dalam memahami teks yang sedang dipelajari. 8 Jika teks yang sedang dipelajari berisi hal-hal yang sebelumnya sudah diketahui, mungkin hanya perlu membuat beberapa pertanyaan. Sebaliknya, apabila latar belakang pengetahuan tidak berhubungan dan tidak memadai dengan isi teks, maka perlu menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya. c). Read (membaca) Pada saat membaca dengan teliti dan seksama paragraf demi paragraf. Sebagaimana diketahui, setiap paragraf mengembangkan satu pikiran pokok. Jika digabungkan keseluruhan pikiran pokok menjadi satu kesatuan, maka terceminlah ide-ide utama dari serangkaian paragraf-paragraf dalam satu wacana. Jika dalam membaca dengan teliti dan seksama terasa sulit, maka langkah membaca ini minimal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan pada langkah Question. Bagian ini bisa berjalan dengan efisien dan efektif apabila pembaca benar-benar memanfaatkan daftar pertanyaan tersebut yakni membaca dengan maksud mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat dalam daftar. d). Recite (menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri) Lihat kembali catatan pada fase Question yang telah dibuat dan Recall (ingat) kembali ide-ide utama yang telah dicatat. Cara lain untuk melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang telah kita buat sebelum membaca sub bab tersebut dengan menjawab pertanyan dengan lisan. e). Record (menulis dengan kata-kata sendiri) Setelah melalui fase Recite dengan jawaban lisan. Tulis jawaban pertanyaan pada selembar kertas tanpa melihat kembali buku atau teks. Pada dasarnya Record bertujuan untuk mengutarakan kembali berbagai informasi baik yang berupa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita maupun informasi lainnya yang kita anggap penting, merangkumnya, dan menyimpulkan atas apa yang sudah dibaca sesuai dengan versi pembaca secara tertulis. f). Review (peninjauan kembali) Dalam fase ini mahasiswa diharapkan untuk tidak mengulang membaca, perhatikan dengan teliti judul-judul, gambar-gambar, diagram-diagram, tinjauan 9 kembali pertanyaan-pertanyaan, untuk meyakinkan bahwa gambaran yang lengkap mengenai wacana tersebut telah dipahami. Tahap ini akan sangat membantu dalam mengingat bacaan sehingga dengan mudah mahasiswa akan mengingat kembali karena tersimpan dalam long-term memory (memori jangka panjang) otak. Secara singkat dalam tahap Review dilakukan pengujian atau peninjauan terhadap kelengkapan pengutaraan kembali yang telah dilakukan pada langkah Recite. Maka, jika terdapat kekurangan sebaiknya dilengkapi, jika ada kekeliruan diperbaiki. Pada akhirnya akan tersusun struktur informasi lengkap. g). Reflect (membuat contoh) Dalam fase Reflect, pembaca tidak hanya cukup mengingat informasi dalam bacaan tetapi memahami informasi yang disampaikan dengan cara: (1). Menghubungkan informasi tersebut dengan hal-hal yang telah kita ketahui (prior knowledge). (2). Mengaitkan subtopik-subtopik didalam teks dengan konsep-konsep atau prinsip-prinsip utama. (3). Memecahkan kontradiksi didalam informasi yang disajikan. (4). Menggunakan materi untuk memecahkan masalah-masalah yang disimulasikan dan dianjurkan dari bacaan tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca Bahasa Inggris mahasiswa melalui penerapan metode SQ5R pada kelas Bahasa Inggris II Program Studi DIV TKJ Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang. Berdasarkan tujuan penelitian di atas, dapat diperoleh signifikansi atau manfaat dari pentingnya penelitian ini antara lain: 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi Dosen dalam pengembangan pengajaran Bahasa Inggris agar lebih terarah dan spesifik dalam bidang keilmuan sesuai kebutuhan dan karakter Politeknik serta dapat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai peserta didik. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti 10 Untuk menambah pengetahuan dan wawasan di bidang metode pengajaran dan sebagai sarana untuk menerapkan pengetahuan terhadap masalah nyata yang dihadapi oleh dunia pendidikan khususnya di bidang pendidikan vokasi. b. Bagi Pembaca Umum Dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan serta bahan perbandingan bagi pembaca yang akan melakukan penelitian, khususnya tentang efektivitas metode SQ5R dalam meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri atas 3 (tiga) tahap yaitu pretest untuk melihat kemampuan dasar mahasiswa dalam membaca teks Bahasa Inggris, tahap kedua adalah treatment atau pemberian perlakuan dengan menggunakan metode SQ5R, tahap terakhir adalah posttest untuk melihat hasil dari pembelajaran menggunakan metode SQ5R dalam kelas. Penelitian ini akan menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berasal dari perangkat pembelajaran, seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar mahasiswa sekaligus berisi lembar kerja mahasiswa, respons mahasiswa terhadap perangkat pembelajaran dengan penerapan metode SQ5R. Sebaliknya, data kuantitatif berupa nilai pretest dan posttest siklus I dan II. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester II yang mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris II pada jurusan Teknik Elektro yang berjumlah 5 kelas dengan total jumlah 111 mahasiswa. Pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling (sampel sesuai persyaratan dan kebutuhan). Maka, sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester II Program Studi DIV TKJ yang terdiri dari dua kelas A dan B yang berjumlah total 47 mahasiswa. Peneliti merupakan Dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris II di prodi tersebut. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Reading Test. Reading Test terdiri atas materi soal-soal yang menguji kemampuan membaca 11 mahasiswa dalam keterampilan memahami teks Bahasa Inggris seperti Invention dan Gadget. Adapun variabel penelitian terbagi atas dua variabel yaitu variabel bebas (metode SQ5R) dan variabel terikat (mahasiswa). Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Pretest Pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa sebelum mengikuti pengajaran (treatment) dengan metode SQ5R. 2. Treatment Dalam proses pengajaran, langkah-langkah yang digunakan adalah sesuai dengan metode SQ5R. Treatment yang diberikan terbagi ke dalam dua siklus tahapan yaitu siklus I dan II dengan materi Invention dan Gadget. 3. Posttest Posttest bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam Reading Test setelah mengikuti treatment dengan metode SQ5R. Data kuantitatif dan data kualitatif yang diperoleh dari penelitian ini akan dianalisis dengan metode deskriptif-kuantitatif (Arikunto, 1992). Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Memberikan skor terhadap hasil Reading Test mahasiswa dalam Pretest dan Posttest, dengan menggunakan panduan scoring TOEFL untuk Reading Section. Skor yang diperoleh dalam Reading Test akan berkisar diantara nilai 20 untuk yang terendah dan 68 untuk yang tertinggi dengan jumlah soal multiple choice 50 butir soal. Jumlah soal yang benar akan dikonversi dari nilai 21 sampai 67. Berikut tabel konversi TOEFL Reading Test sesuai panduan Longman Complete Course for the TOEFL Test (2001:601-602). Tabel 4.1. Konversi Nilai TOEFL Reading Test NUMBER CORRECT CONVERTED SCORE 50 67 49 66 12 48 65 47 63 46 61 45 60 44 59 43 58 42 57 41 56 40 55 39 54 38 54 37 53 36 52 35 52 34 51 33 50 32 49 31 48 30 48 29 47 28 46 27 46 26 45 25 44 24 43 23 43 22 42 21 41 20 40 19 39 18 38 17 37 16 36 13 15 35 14 34 13 32 12 31 11 30 10 29 9 28 8 28 7 27 6 26 5 25 4 24 3 23 2 23 1 22 0 21 2. Membuat tabulasi skor mahasiswa. 3. Membuat klasifikasi skor mahasiswa ke dalam 5 level sebagai berikut: Tabel 4.2. Klasifikasi Skor Mahasiswa SCORE CLASSIFICATION 67 – 57 Very Good 56 – 46 Good 45 – 35 Fair 34 – 24 Poor 23 – 21 Very Poor HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian terdiri atas gambaran kelas eksperimen pada mata kuliah Bahasa Inggris 2 yang menerapkan metode SQ5R. Pretest dilaksanakan untuk mengetahui keterampilan membaca mahasiswa sebelum penerapan metode SQ5R. Pretest dilaksanakan pada tanggal 18 dan 19 April 2016 yang diikuti oleh 47 orang mahasiswa sebagai sampel penelitian. Materi pretest adalah International 14 Standard Reading pretest dari Longman Complete Course for the TOEFL Test. Hasil pretest menunjukkan nilai yang bervariasi sesuai dengan panduan konversi nilai. Hasil pretest adalah sebagai berikut: Tabel 5.1. Hasil Pretest No. Klasifikasi Skor Frekwensi Persentase 1. Very Good 67 – 57 0 0 2. Good 56 – 46 7 14.894 3. Fair 45 – 35 14 29.787 4. Poor 34 – 24 16 34.043 5. Very Poor 23 – 21 10 21.276 Total 47 100 Berdasarkan hasil pretest keterampilan membaca kebanyakan mahasiswa masih tergolong rendah yaitu dalam klasifikasi poor (34.043%) sebanyak 16 orang mahasiswa. Hal ini memberikan indikasi bahwa mahasiswa tidak menerapkan metode yang efektif dalam membaca teks Bahasa Inggris yang terdiri dari berbagai macam topik dalam bidang akademik. Kemudian dalam klasifikasi very poor (21.276%) terdapat 10 orang mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami isi keseluruhan bacaan. Peningkatan Kemampuan Membaca Teks Bahasa Inggris Mahasiswa Terdapat dua jenis bacaan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai treatment untuk mahasiswa yaitu Invention text dan Gadget text. Kedua bacaan ini sejalan dengan kurikulum yang telah ditetapkan pada prodi TKJ. Keseluruhan komponen dalam SQ5R terintegrasi dalam pengajaran komunikatif reading sebagaimana yang tercantum dalam tahapan berikut: Tabel 5.2. Langkah-langkah Pembelajaran Menggunakan Metode SQ5R Fase Aktivitas Dosen Aktivitas Mahasiswa 15 Fase 1 Survey a. Memberikan bahan bacaan kepada mahasiswa untuk dibaca. b. Menginformasikan kepada mahasiswa bagaimana menemukan ide pokok/tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Membaca Invention text dan Gadget text dengan cepat untuk menemukan ide pokok yang hendak dicapai yaitu dengan menyebutkan ide yang mendasari adanya teks tersebut. Fase 2 Question a. Menginformasikan kepada mahasiswa agar memperhatikan makna dari bacaan. b. Memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat pertanyaan dari ide pokok yang ditemukan dengan menggunakan kata-kata apa, mengapa, siapa, dan bagaimana a. Memperhatikan penjelasan Dosen mengenai Invention text dan Gadget text . b. Membuat pertanyaan terhadap hal yang tidak dipahami atau ditemukan penjelasannya. Fase 3 Read Memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membaca dan menanggapi/ menjawab pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Membaca Invention text dan Gadget text secara aktif sambil memberikan tanggapan terhadap apa yang telah dibaca dan menjawab pertanyaan yang telah dibuat. Fase 4 Recite Meminta mahasiswa membuat kesimpulan dari Invention text dan Gadget text secara lisan. a. Menanyakan dan menjawab pertanyaan Invention text dan Gadget text dengan lisan. Fase 5 Record Meminta mahasiswa membuat kesimpulan dari bacaan Invention text dan Gadget text secara tulisan berdasarkan fase sebelumnya. a. Melihat catatan-catatan/ kesimpulan Invention text dan Gadget text yang telah dibuat sebelumnya. b. Membuat kesimpulan dari seluruh pembahasan dengan tulisan. Fase 6 Review a. Menugaskan mahasiswa membaca kesimpulan yang dibuatnya dari rincian ide pokok yang ada dibenaknya b. Meminta mahasiswa membaca kembali bahan bacaan, jika masih belum yakin dengan jawabannya. a. Membaca kesimpulan Invention text dan Gadget text yang telah dibuatnya. b. Membaca kembali bahan bacaan jika mahasiswa masih belum yakin akan jawaban yang telah dibuatnya. Fase 7 a. Menyimpulkan isi bacaan a. Mendiskusikan dengan 16 Reflect dengan memberi informasi up date terkait dengan materi bacaan. b. Memberikan referensi tambahan berupa buku atau e- book yang terkait dengan materi Dosen dan teman kelas mengenai kesimpulan materi Invention text dan Gadget text b. Diskusi lanjut mengenai materi up date sebagai referensi tambahan. Setelah siklus treatment tercapai maka diadakan tes untuk mengukur hasil treatment agar diketahui sejauh mana perkembangan keterampilan membaca mahasiswa. Hasilnya tercantum dalam tabel berikut: Tabel 5.3. Hasil Treatment No. Klasifikasi Skor Frekwensi Persentase 1. Very Good 67 – 57 9 19.149 2. Good 56 – 46 20 42.553 3. Fair 45 – 35 10 21.276 4. Poor 34 – 24 5 10.638 5. Very Poor 23 – 21 3 6.384 Total 47 100 Berdasarkan hasil treatment keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan dengan adanya 9 orang mahasiswa (19.149%) yang berada pada klasifikasi very good dan hanya terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor. Metode SQ5R yang diterapkan dapat diterima dengan baik oleh mahasiswa. Walaupun masih terdapat 10 orang mahasiswa dalam klasifikasi fair hal ini berarti bahwa mahasiswa perlu melatih keterampilan membaca teks Bahasa Inggris meraka secara rutin dengan membaca topik yang beragam. Hasil Penelitian Akhir Tahapan akhir dari penelitian ini adalah Posttest dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Mei 2016 yang diikuti oleh 47 orang mahasiswa sebagai sampel penelitian. Materi posttest adalah International Standard Reading posttest dari Longman Complete Course for the TOEFL Test. Hasil posttest menunjukkan peningkatan nilai yang signifikan jika dibandingkan dengan nilai pretest sesuai dengan panduan konversi nilai. Hasil posttest terefleksi dari hasil treatment 17 dimana hasil posttest adalah sebagai berikut: Tabel 5.4. Hasil Posttest No. Klasifikasi Skor Frekwensi Persentase 1. Very Good 67 – 57 10 21. 276 2. Good 56 – 46 19 40.426 3. Fair 45 – 35 10 21.276 4. Poor 34 – 24 5 10.638 5. Very Poor 23 – 21 3 6.384 Total 47 100 Berdasarkan hasil posttest keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan selayaknya hasil treatment dengan adanya 10 orang mahasiswa (21.276%) yang berada pada klasifikasi very good dan tetap terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor sebagaimana pada treatment. Metode SQ5R yang diterapkan dapat diterima dengan baik oleh mahasiswa. Hasil yang tidak berbeda yaitu masih terdapat 10 orang mahasiswa yang berada dalam klasifikasi fair hal ini berarti bahwa mahasiswa perlu melatih keterampilan membaca teks Bahasa Inggris mereka secara rutin dengan membaca topik yang beragam. Kemampuan membaca akan terus meningkat seiring dengan beragamnya topik bacaan dan lamanya durasi membaca yang sebaiknya dilakukan tiap hari oleh mahasiswa. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pretest, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan membaca teks Bahasa Inggris mahasiswa semester II prodi TKJ sebelum penerapan metode SQ5R masih tergolong rendah yaitu dalam klasifikasi poor (34.043%) sebanyak 16 orang mahasiswa. Hal ini memberikan indikasi bahwa mahasiswa tidak menerapkan metode yang efektif dalam membaca teks Bahasa Inggris yang terdiri dari berbagai macam topik dalam bidang akademik. Kemudian dalam klasifikasi very poor (21.276%) terdapat 10 orang mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami isi keseluruhan bacaan walaupun terdapat 7 orang mahasiswa mencapai klasifikasi good dan 10 18 orang mahasiswa berada pada klasifikasi very poor. Tidak terdapat mahasiswa yang mencapai klasifikasi very good hal ini menandakan bahwa level membaca mahasiswa berada pada low level. Setelah dilakukan treatment dengan menggunakan Invention text dan Gadget text keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan dengan adanya 9 orang mahasiswa (19.149%) yang berada pada klasifikasi very good dan hanya terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor. Dari hasil akhir penelitian yaitu posttest keterampilan membaca mahasiswa mengalami peningkatan signifikan selayaknya hasil treatment dengan adanya 10 orang mahasiswa (21.276%) yang berada pada klasifikasi very good dan tetap terdapat 8 orang mahasiswa yang berada pada kategori low yaitu poor and very poor sebagaimana pada treatment. Berdasarkan kesimpulan yang telah dideskripsikan peneliti menyarankan: 1. Perlunya melatih keterampilan membaca dengan tingkat kesulitan kosakata yang juga beragam agar terbiasa membaca teks Bahasa Inggris dalam topik yang beragam. 2. Keterampilan membaca akan terus mengalami peningkatan jika disertai dengan latihan dalam penggunaan skill yang dimiliki sehingga aspek kebahasaan dapat terintegrasi dan akan memudahkan mahasiswa dalam mencerna informasi yang beragam dari media apapun. 3. Membaca selayaknya dijadikan rutinitas keseharian oleh mahasiswa sehingga akan membantu proses perkuliahan dalam semua mata kuliah. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Carnine, Jerry Silbert dan Edward J. Kammenus. 1990. Direct Instruction Reading Second Edition. Indiana: Merrill Publishing Company. Huda, Miftahul. 2014. Cooperative Learning: Metode, Teknik, Struktur dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Iman, Rizal Adipta. 2012. Peningkatan Kemandirian Belajar Matematika Melalui Strategi Pembelajaran Aktif SQ4R. Skripsi. FKIP UNISMUH Surakarta. 19 Kinanthi, Intan Tyas. 2013. Keefektifan Penggunaan Metode SQ4R dalam Pembelajaran Keterampilan Membaca Bahasa Jerman. Skripsi. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Yogyakarta. Nurhaidah, Abdussamad, dan Syambasril. Pengaruh Metode CIRC dan Teknik Membaca SQ4R terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Interpretatif. Laporan Penelitian Fakultas Bahasa FKIP UNTAN Pontianak. 2015. Phillips, Deborah. 2001. Complete Course for The TOEFL Test: Preparation for the Computer and Paper Tests. New York: Longman, Inc. Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Terjemahan oleh Narulita Nasution. 2015. Bandung: Nusa Media. Tuti, Meylani. Peningkatan Pemahaman Bacaan Bahasa Inggris Melalui Pendekatan Kontekstual Metode SQ4R. Majalah Ilmiah Panorama Nusantara. Edisi VIII. Januari-Juni 2010. Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana. Vallete, Rebecca dan Edward David Allen. 1977. Classroom Techniques Foreign Languages and English as a Second Language. San Diego: Harcourt Brace Jovanich Publishers. Teks bacaan Invention dan gadget. Online http://www.springernature.com/us 23 April 2016. http://www.springernature.com/us