KAPAN PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DI INDONESIA LEPAS DARI WILAYAH ABU-ABU? Sebuah Refleksi atas Tarik Ulur Proses Akuisisi dan Obsesi Dalam Pengajaran Bahasa Inggris Di Indonesia Achmat Ali Universitas Negeri Yogyakarta Abstract: This study aims to reveal the missing link of the real process and the intended output of English teaching and learning process in the classroom. Acquisition process as an important element to achieve the intended output does not become the first to be developed in the real process of English teaching and learning process in the classroom. In contrast, the teachers concern more on the process of teaching the way to do final examination to achieve the passing-grade standard. Key words: Language acquisition, English teaching and learning process in the classroom, output. Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia masih belum dapat menunjukkan tanda keberhasilannya. Bambang Setyadi, dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai guru besar tetap dalam bidang Teaching English as A Foreign Language pada Program Studi Bahasa Inggris Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unila pada tanggal 24 November 2009, menyatakan bahwa Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia telah gagal. Hal senada diungkapkan oleh Abbas A Babib, seperti yang dilansir oleh Media Indonesia pada 6 Nopember 2000, yang menilai bahwa pengajaran bahasa Inggris yang diterapkan di Indonesia gagal total karena kemampuan menulis, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Inggris lulusan SLTA sama sekali tidak operasional. Setiyadi setidaknya menyebutkan dua indikator kegagalan Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Pertama, nilai kelulusan siswa SMA dan sederajat rata – rata masih sangat kecil. Kedua, masih 71 banyak lulusan Sarjana, Master, hingga Doktor yang masih belum mampu menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar. keadaan ini merupakan akibat lanjutan dari minimnya bekal ketrampilan berbahasa yang dikuasai oleh lulusan SMA sederajat (http://kesekolah.com/component/k2/item/3494- pembelajaran-bahasa-inggris-gagal.html). Artsiyanti (2002) dan Furchan (2009) menyatakan bahwa para lulusan SMA/sederajat tidak dibekali dengan keterampilan berbahasa yang memadai. Selama ini para siswa tampaknya banyak belajar tentang bahasa Inggris, bukan belajar berbahasa Inggris, sehingga menghasilkan pengetahuan tapi bukan keterampilan. Lebih jauh Artsiyanti (2002) juga memaparkan bahwa menjamurnya kursus Bahasa Inggris merupakan indikator lain dari kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah (Agustina, 2010). Rendahnya nilai rata – rata siswa SMA sederajat dapat kita lihat dari data yang tersebar di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, yang menunjukkan banyaknya siswa yang tidak lulus UAN. Data dari Republika online tanggal 26 April 2010 menyebutkan bahwa 30,85 siswa SMA/MA dan 38,37 siswa SMK dinyatakan tidak lulus ujian. Sementara itu, Kompas elektronik hari Minggu, 25 April 2010 menyebutkan bahwa 23,7 persen siswa SMA/SMK/MA DIY dan 3,17 siswa MA/SMA dan 7,72 persen di Jawa Timur tidak lulus. Salah satu penyebab ketidaklulusan yang terjadi diberbagai daerah baik MA/SMA/SMK adalah karena siswa gagal meraih nilai Bahasa Inggris sesuai dengan kriteria kelulusan yang telah ditentukan. Beberapa indikator kegagalan di atas cukup menarik untuk dicermati bersama. Siswa yang telah mempelajari Bahasa Inggris dari jenjang SMP sampai jenjang SMA, selayaknya dapat menguasai kompetensinya secara lebih mendalam. Tetapi, realitas yang ada di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa yang telah belajar Bahasa Inggris dalam waktu yang lama pada akhirnya tidak dapat menunjukkan kompetensinya. Ketiadaan kompetensi inilah yang kemudian berpengaruh pada output UAN yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Lalu, dimana letak proses yang belum di lalui selama ini, sehingga out put pembelajaran kita belum menyentuh ranah kompetensi yang 72 http://www.dinaspendidikan-parepare.info/ memuaskan? Lalu mana yang harus didahulukan Akuisisi ataukah obsesi sesaat (nilai UAN)? PROSES AKUISISI BAHASA KEDUA (SECOND LANGUAGE ACQUISITION) Akuisisi bahasa (Language Aquisition) merupakan studi tentang perkembangan bahasa yang mengacu pada cara manusia mempelajari bahasa pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Namun yang sering menjadi pembicaraan adalah bahasa pertama dan bahasa kedua. Bahasa pertama (first language aquisition) adalah proses akuisisi yang mengacu pada bahasa yang pertama kali didengar oleh anak. Bahasa pertama ini sering disebut dengan bahasa ibu (mother tongue). Sementara itu, istilah bahasa kedua dalam kajian linguistik sering dikaitkan dengan bahasa Inggris. Proses akuisisi bahasa kedua pada anak – anak dan pada orang dewasa juga menglami perbedaan. Dalam tulisan ini penulis akan memfokuskan kajian pada proses akuisisi bahasa kedua pada orang dewasa saja. Wilder (2003) membagi stage usia dewasa menjadi 2, yaitu Young adult stage dan adult. Batasan Young adult stage muda dimulai pada usia 13 hingga 17, sementara itu batasan adult dimulai pada usia 18 hingga 24 tahun. Pembagian stage usia ini juga mempengaruhi perkembangan neurobiloginya. pada usia Young adult stage mengalami perkembangan pada hamisphere kanan dan perkembangan hamisphere kairi berkembang pada saat usia adult. Di Indonesia, secara umum, young adult stage ini adalah masa berlangsungnya usia siswa kelas VII SMP hingga kelas XI SMA. Perpindahan usia dari stage young adult ke dalam adult dialami oleh siswa SMA pada saat mereka mulai naik satu tingkat, yaitu kelas XII. Berangkat dari batasan usia adult yang diberikan oleh Wilder ini, penulis tertarik untuk mencermati proses pengajaran bahasa Inggris di SMP dan SMA yang selama ini dianggap gagal mencetak kompetensi berbahasa Inggris peserta didik. Para linguist menemukan kata sepakat bahwa perbedaan individu memiliki akibat yang besar pada pemerolehan bahasa kedua. Perbedaan individual dalam pembelajaran bahasa kedua ini Salah satunya dipengaruhi oleh tingkatan umur seseorang. Szan (2005) menerangkan bahwa brain plasticity, kapasitas 73 neuron dalam otak untuk membentuk (salah satunya) umur baru, di anggap memiliki pengaruh sentral terhadap kesuksesan outcome pembelajaran. Birdsong (1992) dan Birdsong and Molis (2001), dari hasil penelitiannya, menyimpulkan bahwa pembelajar dewasa yang belajar lebih awal secara umum akan memiliki kemampuan yang labih baik dalam segala aspek dari pada mereka belajar belakangan. (Szan, 2005: 105 – 10). Penjelasan Szan, Birdsong and Molis di atas memberikan gambaran kepada kita semua bahwa seharusnya siswa di Indonesia, yang telah belajar bahasa Inggris sejak di kelas VII SMP, akan mampu menguasai bahasa kedua mereka dengan baik sehingga mereka dapat lebih percaya diri untuk menggunakan bahasa yang diperoleh ketika ingin berkomunikasi atau menyampaikan gagasannya dalam bahasa Inggris. REALITAS PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI INDONESIA Proses pengajaran bahasa kedua (Bahasa Inggris) di Indonesia belum mengarah kepada proses akuisisi. Kenyataan ini bisa diamati dari proses pengajaran yang sampai saat ini masih belum mampu menciptakan out put dengan kapasitas kompetensi berbahasa yang memadai. Ada beberapa faktor, penulis amati, yang menyebabkan gagalnya proses pengajaran bahasa kedua di sekolah. Pertama, tidak sempurnanya proses akuisis bahasa (Language Aquisition) yang terjadi pada pengajaran siswa di sekolah. kedua, bentuk ujian, baik semester maupun ujian nasional, yang masih melanggengkan bentuk tertulis. Ketiga, cara penyampaian guru yang masih terpaku pada pencapaian target kurikulum, dan Keempat, kompetensi komunikasi guru (Speaking) yang rendah. Ketidak sempurnaan proses akuisisi bahasa dalam proses pengajaran di sekolah merupakan sebuah kegagalan proses untuk menciptakan kompetensi berbahasa siswa. Akuisisi bahasa sebenarnya merupakan proses awal yang harus dilalui sebelum siswa diperkenalkan kepada bentuk kalimat dalam aturan tata bahasa. Ibaratnya anak kecil, sebelum terjadi pembelajaran berbahasa yang ada disekolah dan interaksinya dengan dunia luar yang lebih jauh, mereka telah belajar dari satu, dua, tiga kata dan seterusnya dalam proses komunikasi yang belum terikat oleh 74 aturan – aturan yang berlaku. Yang perlu dicermati dalam proses belajar anak ini adalah (1) mereka belajar bahasa dalam proses yang natural. Proses natural inilah yang lama kelamaan mampu menciptakan bangunan kompetensi berbicara pada anak menjadi sempurna, sehingga mereka menjadi percaya diri untuk menggunakannya dalam berkomunikasi. (2) proses belajar yang terjadi pada anak bukan merupakan proses kejar tayang. Karena proses semacam itu akan menyebabkan anak bingung dan berkibat pada ketertekanan. Ketertekanan ini mungkin akan menyebabkan keengganan anak untuk berbahasa dikemudian hari. Bentuk ujian tertulis yang menjadi pilihan dalam mengukur kompetensi berbahasa siswa merupakan salah satu indikator ketitidak sempurnaan proses akuisisi pengajaran bahasa kedua di sekolah. Bentuk ujian tulis ini akan mengarahkan opini guru kepada pemahaman bahwa anak harus tahu bagaimana cara menjawab soal dengan baik dan benar. kondisi semacam ini akhirnya menjebak dan mengarahkan pemikiran guru pada pengajaran yang bersifat mekanis. Artinya guru hanya berfikir bagaimana siwa bisa mengerti mekanisme menjawab soal yang mengacu kepada muatan kurikulum yang sudah ditentukan oleh Dinas Pendidikan. Akibatnya bukan proses akuisisi yang kemudian tercipta dalam atmosfir kelas tempat siswa belajar, tetapi proses drilling yang, berdasarkan bukti yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Lee, McCune, dan Patton (1970), kontribusinya pada proses akuisisi siswa sangat mergukan (Krashen, 2002). Indikator ketidak sempurnaan proses akuisisi bahasa kedua di sekolah adalah cara sebagian besar guru yang dalam proses pengajarannya masih terpaku pada pencapaian materi sesuai dengan kurikulum. Keterpakuan paca pencapaian materi kurikulum ini menyebabkan lemahnya proses akuisisi yang terjadi pada siswa. karena seperti anak kecil yang baru mengetahui kata ‘mimik’ akan menjadi kebingungan dan tidak mengerti ketika diajak berbicara tentang kondisi yang menyebabkan meletusnya gunung Merapi. Sehingga Krashen (2002) membuat rumusan akuisisi dengan i + 1. Artinya penambahan materi pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus memperhatikan dengan seksama tahapan yang paling mudah dan mungkin dilakukan untuk siswa. 75 Krashen (2002) menyatakan bahwa faktor terpenting dalam proses akuisisi bahasa adalah intake, yaitu linguistik input yang membantu pembelajar memperoleh akuisisi bahasanya. Intake terjadi dalam situasi yang sangat natural. Natural dalam konteks akuisisi bahasa adalah sitausi yang ada dalam kehidupan nyata. Artinya siswa benar – benar melakukan hubungan komunikasi dengan para penutur asing (native speakers). Kalupun tidak dalam keadaan natural maka guru harus dapat mengkonstuksi kelas menjadi sebuah tempat belajar yang natural. Proses yang harus dilalui dalam menciptakan intake ini sangat bertolak belakang dengan keadaan yang mengharuskan ketercapai materi sesuai dengan target kurikulum yang ada. Lebih lanjut, banyaknya guru yang masih belum mampu menguasai kompetensi komunikasi (speaking) yang baik adalah kenyataan yang sangat menyedihkan. Kemampuan speaking dari para guru merupakan prasyarat yang sangat dibutuhkan dalam pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Krashen (2002) menyatakan bahwa untuk menyediakan input yang baik agar menjadi intake yang baik maka diperlukan adanya caretaker dengan kemampuan pronounciation yang baik pula agar input yang masuk kepada anak juga sempurna. BENTUK PENGAJARAN BERBASIS LANGUAGE ACQUISITION Dalam The Theoretical Model yang disampaikan oleh Krashen (2002), program pengajaran bahasa harus menyiratkan dua komponen yang sangat penting, yaitu Aquisition dan Learning yang digmbarkan dalam bentuk cabang “NP” dan “VP” dibawah ini Fig. 1. A second language teaching program 76 Program pengajaran di atas memberikan gambaran secara jelas tentang langkah yang harus dilakukan agar pengajaran di Indonesia bisa memberikan output seperti yang diinginkan. Pengajaran memiliki dua cabang, yaitu aquisition yang bersifat wajib dipenuhi dan learning yang lebih bersifat pilihan pada cabang yang lain. Krashen (2002) menyatakan bahwa dalam pengajaran bahasa kedua, proses akuisisi lebih sentral dari pada pembelajaran. Artinya proses akuisisi merupakan hal yang wajib dilakukan sebelum proses pembelajaran dimulai. Menciptakan akuisisi yang baik adalah sebuah keharusan agar tercipta sebuah kompetensi yang baik. Ibarat orang akan melakukan proses memasak makanan, maka akuisisi adalah bahan yang akan dimasak. Bahan makanan yang akan dimasak adalah sesuatu yang paling urgen yang harus kita persiapkan terlebih dahulu sebelum kita melakukan proses memasak itu sendiri. Karena jika proses memasak dilakukan terlebih dahulu maka kita tidak akan dapat menikmati hasil makanan yang dapat dimakan setelah itu. Menciptakan akuisisi yang baik harus memenuhi dua syarat, intake dan fluency. Intake adalah faktor yang sangat fundamental dalam proses akuisisi bahasa kedua. Bahan intake dalam pengajaran adalah Meaningful/communicative exercise (latihan yang bersifat komunikatif), extensive reading (menbaca banyak buku), Natural Method, Intercambio, dan Total Physical Response. Di sisi lain fluency sebagai pendukung, walaupun tidak sewajib intake, akan sangat membantu kesempurnaan proses akuisisi yang terjadi pada pembelajar bahasa kedua, yaitu siswa. karena ketika intake membangun akuisisi, maka fluency memegang peranan penting untuk membuat pembelajar bahasa inggris mampu menampilkan kompetensi dengan cara yang sesuai. Excercise dapat dikatakan meaningful dan komunikatif jika dapat difahami, berada pada level yang sesuai, dan yang lebih penting adalah bersifat “natural”. Natural dalam proses ini artinya sesuai dengan situasi komunikasi dalam bentuk yang kontekstual, yaitu struktur atau situasi pada saat proses pembelajaran tersebut dilakukan. Jika intake memiliki karakteristik seperti di atas dan karena intake merupakan bagian terpenting dari program pengajaran bahasa maka kelas yang 77 memiliki kelompok pelajar asing merupakan tempat yang paling tepat bagi orang dewasa untuk pemerolehan bahasa (Language aquisition). Komunikasi yang terjadi secara alami dan terjadi terus menerus akan menciptakan proses intake secara cepat. Bukan hanya itu saja, pembelajaran diluar kelas perlu juga dilakukan untuk membentuk intake yang bermutu. Karena itu apa yang Wagner-Gough and Hatch (1975) sebagai the "outside world" adalah sebuah proses yang perlu dicoba oleh para pengajar, karena proses dalam dunia nyata, seperti aktivitas berbahasa yang dilakukan di borobudur, prambanan, dan tempat – tempat wisata lainnya, dapat menyediakan intake yang sangat baik bagi proses akuisisi orang dewasa. Karena aktivitas percakapan dengan native speaker bersifat sangat natural dan menarik yang merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses akuisisi. Bentuk proses intake lain yang dapat menjadi intake yang baik bagi pembelajar dewasa di dalam kelas adalah proses pembelajaran dengan menggunakan natural approach. Selama proses pembelajaran guru selalu berbicara dengan bahasa target, sedangkan siswa boleh menjawab baik dengan bahasa mereka sendiri (L1) atau dengan menggunakan bahasa target. Error pengucapan yang dilakukan oleh siswa dalam menjawab pertanyaan tidak perlu terlalu diperhatikan kecuali ada kesalahan yang bersifat fatal. Seringnya siswa mendengar bahasa target yang diucapkan oleh guru akan memberikan kemungkinan masuknya jumlah intake yang sangat besar. Sementara itu Cromshaw menemukan sebuah inovasi yang sangat menarik yang disebut dengan “intercambio”. Aturan main dalam “intercambio” ini adalah memulai pembicaraan dalam sebuah kelompok dengan bahasa masing – masing. Tetapi kemudian seringnya ada satu atau dua orang yang secara suka rela mengawali berbiara dengan menggunaka bahasa target. Tetapi menurut hemat penulis intercambio ini hanya bisa diteapkan pada pembelajar yang bersifat hetorogen dan dari berbagi etnis atau bahkan negara yang bebeda. Intake, sebagaimana yang direkomendasikan oleh Newmark (1971), juga bisa didapatkan dengan membaca banyak hal yang berkaitan dengan bahasa target. Extensive reading ini akan memberikan lebih banyak intake dari pada sebuah paragrap 78 yang sulit difahami dan membutuhkan pemahaman cryptoanalitis yang kadang – kadang diberikan kepada siswa. Membaca novel atau cerita pendek sederhana, misalnya, akan memungkinkan pembelajar bahasa kedua mendapatkan banyak vocabulary dan bentuk kalimat yang belum pernah ditemui sebelumnya secara tidak sadar karena lebih terlena dan menikmati urutan cerita yang ada. Penemuan makna dengan guessing from context akan menjadikan kata atau kalimat baru yang terdeteksi maknanya dengan proses guessing akan masuk menjadi intake yang sangat baik. Bentuk aktivitas lain yang ditawarkan oleh Asher (1966, 1969), yang sering disebut dengan Total Physical Respon juga merupakan aktivitas pembelajaran di dalam kelas yang mengandung intake yang baik. Model aktvitas ini yang paling sering dipraktekkan dalam pengajaran bahasa kedua pada tingkat kelas yang lebih rendah, yaitu tingkat Sekolah Dasar (SD). Namun kalihatannya model pembelajaran ini tidak banyak digunakan dalam pengajaran yang ada pada kelas dewasa. Mekanisme pembelajaran dengan metode Total Physical Respon ini lebih menekankan pada proses mendengar dan melakukan. Pada tahap awal anak tetap diam tetapi mereka diminta untuk menuruti apapun yang diperintahkan oleh guru yang dilakuakn dalam bahasa target. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asher menunjukkan bahwa siswa yang belajar bahasa Inggris dengan menggunakan metode TPR selama 32 jam terbukti memiliki skor pemahaman listening lebih baik dari pada siswa yang belajar pada kelas biasa selama 150 jam. Dari hasil metode TPR ini bisa dilihat bahwa input dari guru dalam proses TPR merupakan, kalau tidak boleh seluruhnya, intake. Lebih lanjut Lebih jauh Clark and Clark (1977) dan Snow and Ferguson pada tahun yang sama menyatakan bahwa intake yang baik harus memenuhi kriteria seperti: 1. Harus mempertimbangkan prinsip "here and now" Caretaker berbicara tentang apa yang ada dan sedang terjadi disekitar tempat itu pada saat itu. Prinsip ini sangat bermanfaat bagi karena memberikan bantuan kepada anak dalam bentuk bantuan ektralinguistik dan pemahaman tentang apa yang baru saja diucapkan kepadanya. 79 2. Berawal dari sintax yang paling sederhana menuju bentuk kompleks. Input dari caretaker harus mempertimbangkan intake yang telah didapatkan anak. Artinya caretaker tidak selalu berpikir untuk menambah input yang diberikan kepada anak. Karena Newport, Gleitman, dan Cross (1977) melihat adanya korelasi positif antara kompleksitas input linguistik dengan kompetensi linguistik yang ada pada anak, walaupun korelasi tersebut tidak cukup signifikan. 3. Caretaker speech haruslah bebentuk komunikasi Sejak awal caretaker tidak dimaksudkan untuk menjadi pengajar bahasa tetapi untuk memberikan pesan – pesan dan bahkan meminta anak meakukan sesuatu, maka kemampuan komunikasi sangat penting. Hal ini dirasa sangat efektif dalam mendukung proses akuisisi pada anak Setelah proses intake memadai maka proses learning yang menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengajaran bisa dimulai. Dimulainya proses learning sete matangnya proses akuisisi akan menjadikan bangunan kompetensi bahasa yang ada pada pembelajar bahasa kedua menjadi sangat sempurna. Simpanan berupa intake yang ada dalam diri siswa akan tertata rapi sejalan dengan dimulainya proses learning yang mengatur pola dan struktur bahasa siswa. Namun begitu proses akuisisi, seperti yang telah diterangkan panjang lebar sebelumnya, sering terganggu dengan adanya “effective filter” yang menjadi penghalang utama input ke dalam Language Aquisition Device yang nantinya akan dikeluarkan sebagai sebuah bentuk kempetensi. Effective filter tersebut berupa Motivasi dan attitude. Jika effective filter naik, maka sebaik apapun input yang masuk kepada pembelajar bahasa dan sekomunikatif apapun latihan diberikan tidak akan dapat enjadi intake. Karena itu, motivasi merupakan faktor yang sangat penting dalam proses terciptanya intake yang baik. Jika motivasi pembelajar tinggi maka secar otomatis effective filter akan menjadi lemah dan proses akuisisi dapat menunjukkan hasilnya dengan baik. 80 Sebaliknya jika motivasi pembelajar bahasa rendah maka, effective filter akan naik. KESIMPULAN Setelah penulis cermati ternyata ada missing link yang terjadi pada proses pengajaran di Indonesia sehingga belum mampu menciptakan out put dengan kompetensi yang memadai. Proses Language Aquisition yang seharusnya didahulukan dari pada Learning, tenyata masih belum diimplementasikan. Karena itu, wajar jika out put pengajaran bahasa Inggris di sekolah masih belum bisa maksimal. Karena itu, harus ada kesadaran dari semua fihak bahwa proses akuisisi yang merupakan bagian terpenting untuk menciptakan bahan kompetensi bahasa, dan selama ini diabaikan, harus ditebus dengan harga yang cukup mahal, yaitu gagalnya siswa meraih kompetensi bahasa yang baik. Penawaran konsep program pengajaran Krashen dengan program treenya menarik untuk dicoba. Selanjutnya harus ada perubahan paradigma dalam proses pengajaran di sekolah dari pemikiran yang awalnya berbasis pada obs esi utuk meraih nilai UAN pada pemikiran yang menekankan pada proses untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi bahasa yang memadai. REFERENSI Agustina. 2010. Menjawab Kritik "Gagal"nya Pengajaran Bahasa Inggris: Upaya Memahami Kembali Filosofi Kurikulum Berbasis Literasi http://agustinadjihadi.blogspot.com/2010/07/me njawab-kritik-gagalnya-pengajaran.html diakses tanggal 22 Desember 2010 pukul 17.00 Krashen, Stephen. 2002. Second Language Acquisition and Second Language Learning. 1st internet Edition Strazny, Philipp ed. 2005. Encyclopedia of linguistics. Volume 1. New York. the Taylor & Francis Group 81 Wilder, James. 2003. The Theoretical Basis for the Life Model From The Complete Guide to Living With Men. http://www.lifemodel.org/download/Model% 20Building%20Appendix.pdf Sanz,Cristina ed. 2005. Mind and context in adult second language acquisition : methods, theory, and practice. USA. Georgetown University Press Republika OnLine. (2010). “1.321 Siswa Depok Tak Lulus UN”. 26 April, diakses pukul 17.00 WIB Kompas.(2010).” Kelulusan UN di DIY 76,3 Persen”25 April, diakses tanggal 22 Desember 2010 pukul 17.00 WIB 82 http://www.lifemodel.org/ Agustina. 2010. Menjawab Kritik "Gagal"nya Pengajaran Bahasa Inggris: Upaya Memahami Kembali Filosofi Kurikulum Berbasis Literasi http://agustinadjihadi.blogspot.com/2010/07/menjawab-kritik-gagalnya-pengajaran.html diakses tanggal 22 Desember 2010 pukul 17.00 Strazny, Philipp ed. 2005. Encyclopedia of linguistics. Volume 1. New York. the Taylor & Francis Group Wilder, James. 2003. The Theoretical Basis for the Life Model From The Complete Guide to Living With Men. http://www.lifemodel.org/download/Model% 20Building%20Appendix.pdf Sanz,Cristina ed. 2005. Mind and context in adult second language acquisition : methods, theory, and practice. USA. Georgetown University Press Kompas.(2010).” Kelulusan UN di DIY 76,3 Persen”25 April, diakses tanggal 22 Desember 2010 pukul 17.00 WIB