The particular dialect or language that a person chooses to use on any occasion is called a code Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah Tri Pujiati dosen00356@unpam.ac.id Universitas Pamulang, Indonesia Wawan Gunawan wagoen@upi.edu Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Received : 31 December 2017; Accepted : 30 June 2018 URL : http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/ideas Abstract This research is aimed to find out the polite utterance strategy of public health study program students, STIKES Kharisma Persada Pamulang, Tangerang Selatan.Theory of Brown and Leveinson (1987) and sosiopragmatics approach were used as analysis tools in finding out the polite utterance strategy of public health study program students. Quantitave and qualitative method used to analyze the data which were taken from the students’ utterances. The result of the research shows that (1) The used Politeness strategy : positive politeness strategy 63% and negative politeness strategy 37%. Overall, This research proves that the theory of Brown and Levinson can be used to find out the utterances politeness strategy used of students in discussion forum. Keywords: Politeness Strategy,Scientific Discussion, and Sociopragmatics Pendahuluan Diskusi ilmiah sebagai wahana untuk menyampaikan ide dan gagasan dalam situasi yang formal dan bahasa yang formal sering kali terganggu dengan adanya penggunaan bahasa yang kurang dan kurang santun. Lakoff (1973) menunjukan bahwa “kesantunan tuturan itu dapat dicermati dari tiga hal, yakni dari sisi keformalannya, ketidaktegasannya, dan peringkat kesejajarannya atau kesekawanannya”. Semakin tidak formal, semakin tidak tegas, semakin 62 Copyright © 2018 The Author IDEAS is licensed under CC-BY-SA 4.0 License Issued by English study program of IAIN Palopo IDEAS Journal of Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Volume 6, Number 1, June 2018 pp. 62 – 79 http://u.lipi.go.id/1457703302 mailto:tanasynovalia@gmail.com IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) rendah peringkat kesejajarannya maka di pastikan tuturan itu akan memiliki gradasi kesantunan yang semakin rendah. Sebaliknya, semakin formal, semakin tegas, dan semakin tinggi jarak kesekawanannya, akan semakin tinggilah gradasi kesantunan itu. Penelitian ini menggunakan data bahasa berupa kesantunan berbahasa mahasiswa di Program Studi Kesehatan Masayarakat. Jelas sekali terlihat bahwa bahasa merupakan objek penelitian utama dalam penelitian terkait dengan kesantunan berbahasa. Brown dan Yule (1996) mengungkapkan bahwa bahwa fungsi bahasa ada dua, yaitu fungsi transaksional dan interaksional. Fungsi transaksional berkaitan erat dengan tujuan untuk menyampaikan informasi faktual sedangkan fungsi interaksional digunakan untuk memantapkan dan memelihara hubungan-hubungan sosial. Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari wacana dialog yang terdapat pada diskusi ilmiah di kelas mata kuliah Bahasa Indonesia. Wacana dialog merupakan sebuah percakapan seperti halnya bentuk aktivitas sosial yang lain yang menunjukkan suatu aksi dan interaksi dari partisipasi anggota suatu masyarakat. Dalam konteks ini, anggota berupaya untuk saling memahami satu dengan yang lainnya, seperti tampak pada upaya partisipan untuk menjaga kelangsungan percakapan dengan ujaran yang tepat, Van Dijk (1985). Sebagai upaya untuk menjaga kelangsungan diskusi ilmiah, maka antara moderator, penyaji, dan partisipan dituntun untuk memiliki kesantunan berbahasa sehingga kegiatan diskusi ilmiah berjalan dengan lancar. Watts dalam Agung (2011) mengatakan bahwa dengan bahasa yang santun interaksi akan dapat menghindari friksi selama melakukan interaksi interpersonal. Yule (1996) mengatakan bahwa kesantunan merupakan suatu konsep yang tegas, seperti gagasan, tingkah laku sosial yang sopan, atau etiket, terdapat dalam budaya. Kesantunan (politeness) merupakan perilaku yang secara aktif mengekspresikan hal positif kepada orang lain, juga perilaku yang menjauhi hal-hal yang tidak mengesankan atau mengenakkan, Holmes (1995). Dalam kesantunan, konsep akan ‘muka’ menjadi gagasan utama seseorang yang dituntut untuk memahami kebutuhan akan ‘muka’ orang lain, Zamzani dkk (2011). Brown dan Levinson (1987) mengatakan bahwa kesantunan berbahasa dimaknai sebagai usaha penutur untuk menjaga harga diri, atau wajah, penutur atau pendengar. Kesantunan merupakan sebuah sistem yang kompleks untuk memperhalus ujaran. Seseorang memiliki wajah positif dan negatif. Kesantunan memiliki realisasi non-linguistik dan linguistik dan oleh karena itu, juga dianggap sebagai bagian dari kompetensi sosiolinguistik, sosiopragmatik, atau komunikatif dari penutur bahasa. Dilihat dari perspektif ini, kesantunan dipandang sebagai verbal realisasi perilaku sosial yang tepat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memfasilitasi interaksi antar manusia (Lakoff, 1973). 63 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah Permasalahan terkait dengan kesantunan berbahasa dalam forum diskusi ilmiah merupakan fenomena berbahasa yang menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu terkait dengan kesantunan dalam forum diskusi ilmiah yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Berikut fakta-fakta terkait kesantunan yang sudah pernah dilakukan peneliti sebelumnya. Pertama, penelitian Astri (2012) yang berjudul “Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa dalam Kegiatan Presentasi Kelas”. Penelitian ini fokus pada tindak tutur direktif, asertif, dan ekspresif yang dilakukan pada mahasiswa di Program studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah Universitas Muhammadiyah Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan dalam tindak tutur mahasiswa masih sangat kurang, pada saat diskusi kelas mahasiswa banyak yang menggunakan ragam bahasa tidak formal dan tidak baku. Kedua, Febrina Riska Putri, Ngusman Abdul Manaf, Abdurahman (2015) yang berjudul “Kesantunan berbahasa dalam tindak tutur direktif guru pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA”. Penelitian ini hanya fokus pada tindak tutur direktif yang digunakan oleh guru serta kesantunannya. Fokus penelitian tersebut hanya pada kesantunan tindak tutur direktif melalui strategi langsung dan tidak langsung. Ketiga, penelitian yang dilakukan Shirin Rahimi Kazerooni dan Mohammad Reza Shams (2015) dengan judul Gender, Socioeconomic Status, and Politeness Strategies: Focusing on Iranian High School Students’ Usage of Request Speech Act. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari adanya perbedaan tindak tutur berdasarkan gender pada tindak tutur meminta atau memohon. Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Tri Rina Budiwati (2017) yang berjudul “Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Berinteraksi Dengan Dosen Di Universitas Ahmad Dahlan: Analisis Pragmatik. Fokus Penelitian tersebut adalah bentuk kesantunan berbahasa mahasiswa melalui media sosial. . Penelitian ini sangat penting untuk dikaji karena beberapa alasan. Pertama, peneliti ingin membongkar strategi kesantunan mahasiswa. Kedua, mahasiswa dan dosen perlu memahami tata cara berkomunikasi dalam diskusi ilmiah di kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga kesantunan berbahasa seorang mahasiswa dapat tercermin dalam tuturannya. Ketiga, perlu dibuktikan adanya pengaruh gender terhadap kesantunan mahasiswa Prodi kesehatan masyarakat. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati, Bogdan dan Taylor dalam (Moleong, 2011:4). Adapun pendekatan penelitian yang IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) digunakan adalah pendekatan sosiopragmatik. Kajian ini merupakan salah satu wilayah kajian yang berusaha mengkaji perilaku berbahasa suatu masyarakat bahasa tertentu berdasarkan latar belakang sosialnya sebagai pemengaruh perilaku berbahasa, Levinson (1983). Penelitian ini fokus pada kesantunan tindak tutur mahasiswa Prodi KESMAS di STIKES Kharisma Persada, Pamulang, Tangerang Selatan. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program KESMAS yang berlokasi di Jalan Surya Kencana No 1 Pamulang. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu responden diambil secara sengaja berdasarkan tujuan tertentu dari penelitian. Metode ini diterapkan karena beberapa pertimbangan sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh (Arikunto, 2006). Penelitian ini melibatkan 50 mahasiswa, jumlah ini sudah cukup dari syarat minimum statistika yang diutarakan Walpole (1993), yaitu ukuran minimum sampel yang dapat digunakan sebagai desain penelitian minimum 30 responden. Hasil dan Pembahasan A. Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dan negatif yang digunakan oleh mahasiswa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat No. Strategi Kesantunan Frekuensi Persentase 1. Strategi kesantunan positif 388 63% 2. Strategi kesantunan negatif 230 37% Total 618 100% Berdasarkan datapada tabel 1, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan yang digunakan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat yang paling dominan ditemukan adalah strategi kesantunan positif sebanyak 63% dan strategi kesantunan negatif sebanyak 37%. Hal ini berarti bahwa strategi kesantunan positif sering digunakan dalam forum diskusi ilmiah sebagai upaya untuk membangun hubungan komunikasi yang baik antara peserta diskusi dengan penyaji dan moderator. Tujuannya adalah untuk menjaga agar komunikasi berjalan dengan baik dan diskusi ilmiah berjalan dengan lancar. Tidak hanya itu, strategi kesantunan negatif digunakan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat sebagai upaya untuk dihargai dan bebas melakukan sesuatu pada diskusi ilmiah. 65 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah 1. Strategi Kesantunan Positif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam Wacana Dialog di Forum Diskusi Ilmiah Strategi kesantunan positif merupakan sebuah strategi yang digunakan oleh penutur (Pn) untuk membangun kedekatan hubungan dengan Mitra Tutur (Mt) dan menjaga muka positif Mt. Strategi kesantunan positif yang yang digunakan oleh mahasiswa meliputi (1) memberikan perhatian kepada mitra tutur; (2) menggunakan penanda identitas kelompok; (3) mengulang ujaran; (4) meminta persetujuan; (5) menggunakan gurauan; (6) menunjukkan keoptimisan; (7) memberikan tawaran atau janji; (8) melibatkan mitra tutur dalam aktivitas; (9) memberikan pertanyaan; (10) memberikan hadiah kepada mitra tutur; (11) mengintensifkan perhatian; (12) menghindari ketidaksetujuan; dan (13) mencari persetujuan. Berikut ini tabel yang menunjukkan penggunaan strategi tersebut: Tabel 2 Strategi Kesantunan Positif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat No. Strategi Kesantunan Positif Frekuensi 1. Memberikan perhatian kepada mitra tutur 10 2. Menggunakan penanda identitas kelompok 50 3. Mengulang ujaran 15 4. Meminta persetujuan 15 5. Menggunakan gurauan 1 6. Menunjukkan keoptimisan 2 7. Memberikan tawaran atau janji 5 8. Melibatkan mitra tutur dalam aktivitas 45 9. Memberikan pertanyaan 50 10. Memberikan hadiah kepada mitra tutur 50 11. Mengintensifkan perhatian 50 12. Menghindari ketidaksetujuan 20 13. Mencari persetujuan 5 Total 318 Berikut ini analisis data terkait dengan strategi kesantunan positif mahasiswa: (1) Memberikan Perhatian kepada Mitra Tutur Penggunaan strategi kesantunan positif dengan memberikan perhatian kepada mitra tutur sering sekali ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Data 001 M : “Nama saya choerul rizal, dari kelompok 8, Saudara penyaji telah memberikan pemaparan materi yang sangat bagus, namun ada beberapa hal yang belum saya pahami. Bolehkah saya bertanya?” P1 : “iya silahkan”. Pada data 001, dapat dilihat bahwa strategi memberikan perhatian kepada mitra tutur dapat ditemukan pada diskusi ilmiah. Pada ujaran di atas, dapat dilihat bahwa Mn yaitu partisipan dalam diskusi ilmiah memberikan perhatian kepada Mt dengan memberikan pujian sebelum bertanya. Bentuk pujian yang diucapkan oleh Pn adalah Saudara penyaji telah memberikan pemaparan materi yang sangat bagus, pujian tersebut diberikan oleh Pn kepada Mt karena Pn menilai bahwa presentasi yang disampaikan oleh kelompok tersebut bagus dan penyaji sangat menguasai materi kelompok. Strategi ini merupakan strategi positif yang bagus untuk diberikan kepada Mt yang menyampaikan materi yang bagus pada saat presentasi. (2) Menggunakan Penanda Identitas Kelompok Penggunaan strategi kesantunan positif dengan menggunakan penanda identitas kelompok juga sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 002 P1 : Baik, saya akan menjawab pertanyaan dari Saudara, tentang pembuatan karangan kerangka harus menggunakan simbol pasangan kan? “ jadi jika tidak memakai simbol pasangan konsisten akan berantakan dan tidak beraturan, dan karena harus konsisten dan jelas “. P1 : “Anda sudah mengerti ?” M1 : Iya mengerti, terima kasih. Pada data 002, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dengan menggunakan penanda identitas kelompok dapat dilihat pada ujaran di atas. Pada penggunaan sapaan seperti Saudara atau Anda merupakan penggunaan identitas kelompok yang biasa digunakan pada forum ilmiah. Sapaan tersebut merupakan bentuk sapaan formal yang harus digunakan oleh mahasiswa pada saat berada pada situasi yang formal seperti pada saat berdiskusi dalam forum kelas. (3) Mengulang Ujaran Penggunaan strategi kesantunan positif dengan mengulang ujaran 67 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 003 M1 : Mengapa pembuatan karangan kerangka harus menggunakan simbol pasangan konsisten ? terima kasih. P1 : Baik, saya akan menjawab pertanyaan dari Saudara, tentang pembuatan karangan kerangka harus menggunakan simbol pasangan kan? “Jadi jika tidak memakai simbol pasangan konsisten akan berantakan dan tidak beraturan, dan karena harus konsisten dan jelas”. Pada data 003, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dengan mengulang ujaran dapat dilihat pada ujaran di atas. Pada pengulangan ujaran seperti baik, saya akan menjawab pertanyaan dari Saudara, tentang pembuatan karangan kerangka harus menggunakan simbol pasangan kan?. Pada penggunaan data tersebut, dapat dilihat bahwa Pn yang merupakan penyaji dalam forum diskusi sering mengulang ujaran sebagai wujud kesantunan untuk menghormati Mt sehingga pertanyaan yang diajukan oleh Mt tidak salah dijawab oleh Pn. Strategi ini sangat tepat dilakukan mengingat bahwa jawaban yang sesuai dengan pertanyaan Mt merupakan harapan yang ingin didapatkan dalam forum diskusi ilmiah. (4) Meminta Persetujuan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan meminta persetujuan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 004 M2 : “Saya ulfy awaliyah, dari kelompok 8, bolehkah saya bertanya ?”. P2 : “ iya, silahkan”. Pada data 004, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dengan meminta persetujuan dapat dilihat pada ujaran di atas. Pada permintaan persetujuan seperti, bolehkah saya bertanya ?”. Pada penggunaan kalimat tersebut, dapat dilihat bahwa Pn yang merupakan penanya dalam forum diskusi sering menggunakan persetujuan terlebih dahulu sebelum bertanya sebagai wujud kesantunan untuk menghormati Mt. Pn ingin meminta persetujuan terlebih dahulu apakah Pn diperbolehkan bertanya atau tidak. (5) Menggunakan Gurauan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan menggunakan gurauan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Data 006 P3 : “Saya ingin menjawab pertanyaan Devi. Tentang apa tadi? Jati diri itu yah kayak gitu tuh, jati yang ada di dalam diri kita..heee... M4 : “Bisa diulangi!” P3 : “Jadi jati diri meliputi kepribadian kita seperti, sifat dan perilaku kita seperti apa yang kedua ada keunikan seperti ciri khas seseorang. Yang ketiga identitas diri kita”. Pada data 006, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dengan menggunakan gurauan dapat dilihat pada ujaran di atas. Penggunaan gurauan seperti, “Jati diri itu yah kayak gitu tuh, jati yang ada di dalam diri kita..heee...” . Pada penggunaan kalimat tersebut, dapat dilihat bahwa Pn yang merupakan penyaji dalam forum diskusi menggunakan gurauan pada saat menjawab materi. Strategi ini digunakan oleh Pn agar suasana dalam forum diskusi tidak tegang dan terlihat santai namun tetap mampu menjawab pertanyaan Mt. Penggunaan strategi gurauan ini sengaja dibuat oleh Pn untuk menyelamatkan muka Pn agar terkesan santai dan Mt tertawa. Namun, fakta membuktikan bahwa gurauan yang dibuat oleh Pn ternyata membuat Mt bingung dengan penjelasan yang disampaikan sehingga Mt meminta Pn untuk mengulangi jawabannya lagi. (6) Menunjukkan Keoptimisan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan menunjukkan keoptimisan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 007 M5 : “ Saya Noer Choiriyah Sofiyana ingin bertanya di slide fungsi karangan pada point ke tiga itu membantu menyeleksi materi, cara menyeleksi materinya itu kaya gimana ? makasih …” P2 : “Saya yang akan menjawab, saya yakin bisa menjawab pertanyaan Anda. jadi yang pertama baca dulu bahannya, trus yang kedua catat hal-hal yang penting, yang ketiga berdiskusi biar dapat masukan dari orang lain.” Berdasarkan data 007, dapat dilihat bahwa Pn menunjukkan keoptimisan dalam forum diskusi. Penggunaan kalimat seperti, saya yakin bisa menjawab pertanyaan Anda, kalimat tersebut diujarkan oleh Pn yang merupakan penyaji materi. Penggunaan kalimat yang menunjukkan keoptimisan bertujuan untuk meyakinkan Mt bahwa penyaji menguasai materi dengan baik. Strategi pengancaman muka positif ini bertujuan untuk menyelamatkan Pn sebagai seorang penyaji yang tentunya harus menguasai materi dengan baik. 69 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah (7) Memberikan Tawaran atau Janji Penggunaan strategi kesantunan positif dengan menunjukkan memberikan tawaran atau janji sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 008 P3 : Baik, terima kasih banyak atas pertanyaan Saudara Heni, namun mohon maaf saya belum bisa menjawab pertanyaan Anda sekarang, bagaimana jika saya tampung dulu pertanyaan Anda? M1 : Baik, tidak apa apa, terima kasih banyak! Pada data 008 di atas, dapat dilihat bahwa Pn yang merupakan seorang penyaji memberikan tawaran kepada Mt karena belum dapat menjawab pertanyaan dari Mt. Strategi ini digunakan oleh Pn sebagai upaya penyelaman muka karena belum dapat menjawab pertanyaan Mt. Strategi penawaran dapat dilihat pada kalimat bagaimana jika saya tampung dulu pertanyaan Anda?, strategi ini sangat tepat digunakan oleh Pn sebagai bentuk penyelamatan muka kareana kelompok penyaji belum dapat menjawab materi. Strategi yang digunakan oleh Pn dituturkan dengan menggunakan kalimat tanya langsung. Sebelum menanyakan tawaran kepada Mt, Pn terlebih dahulu mengatakan minta maaf kepada Mt karena kelompok tersebut belum mampu menjawab pertanyaan dari Mt. Pn memberikan tawaran kepada Mt untuk menampung pertanyaannya. (8) Melibatkan Mitra Tutur dalam Aktivitas Penggunaan strategi kesantunan positif dengan melibatkan mitra tutur dalam aktivitas sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 009: Moderator : Selamat pagi kawan-kawan, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada kelompok 10 untuk menyampaikan presentasi dengan topik “Kutipan”. Pada kesempatan ini, kita akan bersama-sama mendengarkan pemaparan dari kelompok kami. Mohon perhatian kawan-kawan semua. Pada data 009 di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan strategi kesantunan dengan melibatkan Mt dalam aktivitas atau kegiatan diskusi sering digunakan oleh Pn. Pada ujaran di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan pronominal ‘kita’ menunjukkan bahwa antara Pn dan Mn memiliki posisi yang sama. Pn dan Mt sama-sama merupakan partisipan dalam forum diskusi ilmiah ini. Penggunaan pronomina ‘kita’ untuk menunjukkan bahwa semua memiliki IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) posisi yang sama dalam forum diskusi sehingga semua harus mematuhi aturan yang berlaku dalam forum diskusi, seperti mendengarkan pemaparan dan memberikan perhatian terhadap kelompok yang sedang presentasi. (9) Memberikan Pertanyaan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan memberikan pertanyaan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 009 M6 : “Nama saya dewi syafirda dari kelompok 2, saya ingin bertanya di syarat penulisan kerangka karangan yang baik pada point pertama yaitu pengungkapan maksudnya harus jelas, maksud dari pengungkapan nya itu seperti apa? Terima kasih” Penggunaan strategi positif dengan memberikan pertanyaan merupakan strategi yang sering sekali ditemukan pada forum diskusi ilmiah. Seperti pada contoh data 009, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan kalimat tanya untuk bertanya kepada Mt tentang materi yang dirasakan sulit bagi Mn. Kalimat tanya yang digunakan oleh Pn seperti pada ujaran maksud dari pengungkapan nya itu seperti apa?. Strategi kesantunan positif yang digunakan oleh Pn memberikan keuntungan kepada Pn karena ia akan mengerti atas materi yang belum ia kuasai. Strategi ini memang sering ditemukan dalam forum diskusi karena pada saat diskusi sering terjadi dialog terkait dengan permasalahan yang belum dikuasai oleh para peserta. (10) Memberikan Hadiah kepada Mitra Tutur Penggunaan strategi kesantunan positif dengan memberikan hadiah kepada mitra tutur sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 010 Moderator : Demikian tadi penyampaian materi dari kelompok 10, terima kasih atas perhatian teman-teman semua, mari kita berikan tepuk tangan kepada para penyaji yang sudah menyampaikan materi. Mahasiswa : Yeee...(sambil tepuk tangan). Pada data 010, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan dengan memberikan hadiah kepada Mt sering digunakan dalam forum diskusi. Seperti pada ujaran, mari kita berikan tepuk tangan, pada ujaran tersebut, Pn yang merupakan moderator mencoba untuk memberikan hadiah kepada Mt yaitu penyaji dengan meminta pada partisipan untuk memberikan tepuk tangan. Penggunaan strategi pengancaman muka positif ini memberikan keuntungan yang maksimal kepada Pn sebagai anggota kelompok. Tujuan dari penyelamatan muka positif ini 71 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah adalah untuk memberikan hadiah karena telah berhasil menyampaikan materi. (11) Mengintensifkan Perhatian Penggunaan strategi kesantunan positif dengan mengintensifkan perhatian sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 011 Mahasiswa : (berisik di kelas…). Moderator : Mohon kepada teman-teman untuk memberikan perhatian kepada penyaji yah? Pada data 011, dapat dilihat bahwa Pn sebagai moderator menggunakan strategi kesantunan positif agar Mt memberikan perhatian kepada penyaji materi. Ujaran yang digunakan yaitu Mohon kepada teman-teman untuk memberikan perhatian kepada penanya yah?. Strategi ini digunakan oleh Pn agar Mt memusatkan perhatian dan tidak berisik pada saat Mt menyampaikan materi di depan kelas. Strategi pengancaman muka positif yang digunakan oleh Pn akan memberikan keuntungan kepada Pn karena peserta diskusi menjadi perhatian dan tidak berisik di kelas. (12) Menghindari Ketidaksetujuan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan menghindari ketidaksetujuan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 012 M6 : “Nama saya Heni dari kelompok 2, saya sependapat dengan jawaban yang diberikan oleh penyaji”. P1 : “Oh iya, terima kasih Heni”. M6 : “sama-sama”. Pada data 012, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan strategi kesantunan dengan menghindari ketidaksetujuan. Ujaran seperti saya sependapat dengan jawaban yang diberikan oleh penyaji merupakan bentuk kesantunan yang digunakan oleh Pn dengan cara menghindari ketidaksetujuan terhadap apa yang disampaikan oleh Mt. Strategi penyelamatan muka yang digunakan oleh Pn memberikan keuntungan untuk Mt bahwa ia memiliki jawaban yang sama dengan Mt sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi tentang pertanyaan yang diajukan. Strategi ini sering ditemukan pada saat proses diskusi pada saat seorang penyaji telah menyampaikan materi dan penanya yang bertanya setuju dengan pemaparan dari penyaji. IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) (13) Mencari Persetujuan Penggunaan strategi kesantunan positif dengan mencari persetujuan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 013 M6 : “Nama saya Eko dari kelompok 1, apakah bisa dikatakan bahwa kutipan yang sama persis itu seperti kutipan langsung? Benar kan? P1 : “iya..benar..itu namanya kutipan langsung.” Pada data 013, dapat dilihat bahwa strategi kesantunan positif dapat dilakukan dengan mencari persetujuan. Pada data 013, dapat dilihat bahwa ujaran apakah bisa dikatakan bahwa kutipan yang sama persis itu seperti kutipan langsung? Benar kan? Termasuk sebuah strategi untuk mencari persetujuan dari Pn kepada Mt. Pada data, dapat dilihat bahwa Pn meminta persetujuan kepada Mt bahwa contoh yang ia berikan sudah benar. Strategi pengancaman muka positif yang digunakan oleh Pn sebagai upaya untuk meminta dukungan atau persetujuan bahwa yang ia katakana adalah benar. 2. Strategi Kesantunan Negatif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dalam Wacana Dialog di Forum Diskusi Ilmiah Strategi kesantunan negatif banyak digunakan oleh mahasiswa dalam forum diskusi ilmiah. Strategi kesantunan negatif yang ditemukan yaitu (a) menggunakan ujaran tidak langsung; (b) meminta maaf; (c) menggunakan bentuk impersonal;(d) menggunakan ketentuan umum; (e) memberikan penghormatan; (f) menggunakan pagar (hedge); (g) meminimalir pemaksaan, dan (h) menunjukkan pesimis. Pemakaian strategi kesantunan ini dapat dilihat pada tabel dan diagram berikut: Tabel 3 Strategi Kesantunan Negatif Mahasiswa Kesehatan Masyarakat No. Strategi Kesantunan Negatif Frekuensi 1. Menggunakan Ujaran Tidak Langsung 5 2. Meminta Maaf 50 3. Menggunakan Bentuk Impersonal 20 4. Menggunakan Ketentuan Umum 50 5. Memberikan Penghormatan 50 5. Menggunakan Pagar 50 73 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah 6. Meminimalir Pemaksaan 2 7. Menunjukkan Pesimis 3 Total 230 Berikut ini analisis data terkait dengan penggunaan strategi kesantunan negatif: (1) Menggunakan Ujaran Tidak Langsung Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan menggunakan ujaran tidak langsung sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 015 Moderator : Tadi Saudara Irul mengatakan bahwa kutipan tidak langsung dan langsung itu berbeda, ya udah Saudara berarti sudah paham kan yah, mungkin Saudara Irul bisa memberikan contoh di papan tulis biar teman-teman paham. M7 : Wah bisa aja, baik saya akan memberikan contoh di papan tulis. Pada data 015,dapat dilihat bahwa Pn menggunakan strategi ujaran tidak langsung, seperti pada tuturan ya udah Saudara berarti sudah paham kan yah, mungkin Saudara Irul bisa memberikan contoh di papan tulis biar teman-teman paham, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn dengan harapan bahwa Mt mau memberikan contoh karena Mt sudah memahami perbedaan antara kutipan langsung dan tidak langsung. Strategi kesantunan dengan pengancaman muka negatif yang digunakan oleh Pn menguntungkan Pn karena secara tidak langsung Pn tidak perlu menjawab pertanyaan dan Mt yang akan memberikan jawaban dan contoh di depan kelas. (2) Meminta Maaf Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan meminta maaf sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 017 M8 : Nama saya Ika Rahmawati, saya mau tanya apa perbedaan topik dan judul ? P3 : saya akan menjawab pertanyaan dari ika, apa perbedaan topik dan judul. Kalau topik itu lebih umum, di karangan penulis belum menggambarkan sudut pandang. Sedangkan judul spesifik karena mengandung hal terperinci. Contohnya, kalau topik tentang kesehatan, judulnya bisa kesehatan dalam pola makan. M9 : Maaf, bukankan topik lebih spesifik yah? IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Pada data 017, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan strategi meminta maaf, seperti pada tuturan Maaf, bukankan topik lebih spesifik yah?, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn dengan harapan bahwa pernyataan yang disampaikan oleh Mt salah. Untuk menjaga muka Mt, maka Pn menggunakan strategi kesantunan negatif tersebut. Penggunaan strategi ini sangat tepat untuk menghindari terjadinya gesekan dan menyinggung perasaan Mt. (3) Menggunakan bentuk impersonal Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan menggunakan bentuk impersonal sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 020 M10 : Sebagaimana yang telah dipaparkan, jelas sekali perbedaan topik dan judul. Kira-kira bagaimana cara membuat judul dari sebuah topik yah? Moderator : Baik, kami akan berdiskusi terlebih dahulu. Pada data 017, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan bentuk impersonal, seperti pada tuturan sebagaimana yang telah dipaparkan, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn dengan menggunakan bentuk impersonal dengan kalimat pasif dengan tidak menyebutkan siapa yang memaparkan materi. Strategi kesantunan dengan menggunakan pengancaman muka negatif yang digunakan oleh Pn bertujuan untuk menyelamatkan muka Mt dan menghindarkan penyebutan pemateri yang telah memaparkan materi. (4) Menggunakan Ketentuan Umum Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan menggunakan ketentuan umum sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 021 Moderator : Assalamualaikum Wr. Wb. Mahasiswa : Waalaikumsalam Wr. Wb. Pada data 021, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan ketentuan umum, seperti pada tuturan Assalamualaikum Wr.Wb, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn dengan menggunakan ketentuan umum pada saat membuka presentasi ilmiah. Strategi kesantunan negatif yang digunakan oleh Pn merupakan strategi pengancaman muka yang biasa digunakan pada saat diskusi ilmiah. (5) Memberikan Penghormatan 75 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan memberikan penghormatan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 022 Moderator : Selamat pagi kawan-kawan, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada kelompok 10 untuk menyampaikan presentasi dengan topik “Kutipan”. Pada kesempatan ini, kita akan bersama-sama mendengarkan pemaparan dari kelompok kami. Mohon perhatian kawan-kawan semua. Sebelum itu, saya selaku moderator ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Tri Pujiati S.S., M.M., M.Hum selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia. Baik, langsung saja kita mulai diskusi kita pada pagi hari ini. Pada data 022, dapat dilihat bahwa Pn memberikan penghormatan, seperti pada tuturan terima kasih kepada ibu Tri Pujiati S.S., M.M., M.Hum selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn sebagai penghormatan terhadap dosen yang mengajar di kelas tersebut. Strategi ini sangat bagus digunakan karena dalam diskusi ilmiah seorang mahasiswa harus memberikan penghormatan kepada dosen. (6) Menggunakan Pagar (hedge) Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan menggunakan pagar sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 027 M8 : Saya ingin bertanya ! Apa perbedaan antara kutipan langsung dua baris atau lebih dua baris?!Makasih P1 : “Iya saya akan menjawab pertanyaan anda, Kerangka karangan sementara itu sebagai alat bantu agar karangannya teratur, kerangka sementara itu sebagai dasar dan bias direvisi dan sub babnya belum terperinci, sedangkan kerangka karangan formal itu topiknya sudah sangat komplek dan subnya terperinci. Pakai contohnya atau ga neh? Pada data 022, dapat dilihat bahwa Pn menggunakan pagar atau pilihan, seperti pada tuturan Pakai contohnya atau ga neh?, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn kepada Mt untuk memberikan pilihan bahwa Mt mau diberikan contoh atau tidak. Pn menggunakan strategi ini agar Mt terselamatkan mukanya dan senang karena tanpa diminta, Pn sudah menawarkan terlebih dahulu. (7) Meminimalir Pemaksaan IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan meminimalisisr paksaan sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 030 M8 : Saya ingin bertanya ! Apa perbedaan antara kutipan langsung dua barus atau lebih dua baris?!Makasih P1 : “Iya, pertanyaannya cuma itu aja yah, ga ada yang lain kah? saya akan menjawab pertanyaan Anda. Tapi ga usah pakai contoh aja yah? Pada data 030, dapat dilihat bahwa Pn meminimalir paksaan, seperti pada tuturan pertanyaannya cuma itu aja yah, ga ada yang lain kah?. Strategi penyelamatan muka yang diguanakan oleh Pn kepada Mt untuk meminimalir paksaan kepada Mt. Ia memberikan kesempatan kepada Mt untuk bertanya jika memang masih ada yang belum dimengerti. Strategi (8) Menunjukkan Pesimis Penggunaan strategi kesantunan negatif dengan menunjukkan pesimis sering ditemukan dalam kegiatan diskusi ilmiah. Perhatikan data berikut: Data 038 M11 : Mengapa didalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan ide pokok, coba berikan contoh dengan menggunakan istilah kesehatan Terimakasih. P1 : Waduh...pertanyaannya susah nih, kami pikirkan dulu jawabannya yah. harap sabar menunggu yah. Pada data 038, dapat dilihat bahwa Pn menunjukkan pesimis, seperti pada tuturan Waduh...pertanyaannya susah nih, kami pikirkan dulu jawabannya yah, ujaran tersebut disampaikan oleh Pn kepada Mt untuk menunjukkan pesimis bahwa Pn tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan Mt. Strategi penyelamatan negatif ini justru merugikan Pn karena ia menunjukkan bahwa ia tidak menguasai materi dengan baik. Simpulan Berdasarkan temuan penelitian, dapat dibuat simpulan sebagai berikut. Pertama, pada strategi kesantunan mahasiswa dalam diskusi ilmiah, mahasiswa kesehatan masyarakat lebih sering menggunakan straategi kesantunan positif sebanyak 63 % dibandingkan dengan penggunaan strategi kesantunan negatif sebanyak 37%. Rekomendasi yang saya berikan kepada mahasiswa terkait dengan penggunaan kesantunan dalam diskusi ilmiah yaitu penggunaan strategi kesantunan positif. Tidak hanya itu, seharusnya para penutur dan mitra tutur 77 Tri Pujiati & Wawan Gunawan Strategi Kesantunan Tindak Tutur Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Dalam Diskusi Ilmiah menggunakan bahasa yang baku pada saat diskusi ilmiah. Penelitian lebih lanjut terkait dengan strategi kesantunan dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan teori yang berbeda. Ucapan Terima Kasih Artikel ini merupakan tulisan yang disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2017. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat Kharisma Persada yang telah memfasilitasi penelitian ini. Referensi Agus, Nuraidar. (2014). “Bentuk Sapaan Bahasa Bugis Dalam Konteks Pragmatik Gender (The Form of Buginese Language Greeting in Gender Pragmatic Context)”, Sawerigading, Vol. 20, 1 April 2014: 1—13. Arikunto S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Ed Revisi VI Jakarta: PT Rineka Cipta. Astri Widyaruli Anggraeni “Kesantunan tindak tutur mahasiswa dalam kegiatan presentasi kelas” Didaktika, Vol. 10 No. 3 Desember 2012. Austin, J.L. (1975). How to Do Things with Words. Second Edition.Oxford: Oxford University Press. Brown, P. dan Levinson, S.C. (1987). Politeness Some Universals in Language Usage. New York: Cambridge University Press. Febrina Riska Putri, Ngusman Abdul Manaf, Abdurahman. “Kesantunan berbahasa dalam tindak tutur direktif guru pada pembelajaran bahasa indonesia di SMA Negeri 15 Padang” Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajaran, Volume 2 Nomor 1, Februari 2015. Holmes, J. (1992). An Introduction to Sociolinguistics. England: Longman Group UK Limited. Hymes, Dell (Ed). (1972). Language in Culture and Socienty. New York: Mac Millan Publishing Co, Inc. Leech, Geoffrey. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan oleh M.D.D. Oka. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Levinson, Stephen C. (1983). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press Markhamah, dkk. (2011) Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press, Pramujiono, Agung, “Representasi Kesantunan Positif-Negatif Brown Dan Levinson Dalam Wacana Dialog Di Televisi” Artikel ini telah dipresentasikan dalam Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI) 2 2011 yang dilaksanakan 9-12 Oktober 2011 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. IDEAS, Vol. 6, No. 2, December 2018 ISSN 2338-4778 (Print) ISSN 2548-4192 (Online) Puji Lestari dan Harun Joko Prayitno, “Strategi dan Skala Kesantunan Tindak Direktif Mahasiswa Riau di Lingkungan Masyarakat Berlatar Belakang Budaya Jawa” Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 17, No. 2, Agustus 2016: 135-148 Tri Rina Budiwati, “Kesantunan berbahasa mahasiswa dalam berinteraksi dengan dosen di Universitas Ahmad Dahlan: analisis pragmatik”, The 5th Urecol Proceeding (2017), UAD Yogyakarta Van Dijk, T. A. 1985. “Introduction: Dialogue as Discourse and Interaction.” dalam Handbook of Discourse Analysis Volume 3 Discourse and Dialogue. London: Academic Press. Walpole, Ronald E. (1993). Pengantar Statistika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Wardhaugh, Ronald. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc. Watts, R. (2003). Politeness. Cambridge: Cambridge University Press. Yule, George. (1996). Pragmatics. Oxford: Oxford University Press. Zamzani dkk. “Pengembangan Alat Ukur Kesantunan Bahasa Indonesia Dalam Interaksi Sosial Bersemuka Dan Nonbersemuka. LITER, Volume 10, Nomor 1, April 2011 79