


































Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah
Anak-anak Indonesia

Atika S. Hadi
Magister Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia 

Alamat korespondensi: atika.ash@gmail.com

Abstract

Si Kuncung is the first kid’s magazine that officially accepted as a national kids
magazine by the Indonesian government in the era of President Soeharto. Aside
from being a media for education and culture, the government also helped  Si
Kuncung's publications, especially in marketing and financing. The relationship
between the publishers  and the  government  expanded the deployment  of  Si
Kuncung and  strengthened  its  position  in  the  national  children's  reading
materials.  However,  on  the  other  hand,  Si  Kuncung  who  dissolved  in  the
leadership of power also faded along with the collapse of the New Order era.

Keywords: Si Kuncung; Kid’s Magazine; Power Relation.

Abstrak 

Si Kuncung merupakan majalah anak-anak pertama yang didaulat secara resmi
sebagai  majalah  anak  nasional  oleh  pemerintah Indonesia  pada era  Presiden
Soeharto. Selain sebagai media pendidikan dan kebudayaan, pemerintah juga
turut membantu penerbitan  Si Kuncung dari segi pemasaran dan pembiayaan.
Relasi  yang  terjalin  antara  pihak  penerbit  dengan  pemerintah  memperluas
penyebaran Si Kuncung dan memperkuat posisi Si Kuncung dalam jajaran bacaan
anak-anak  nasional.  Namun  di  sisi  lain,  Si  Kuncung  yang  terlarut  dalam
kepemimpinan kekuasaan turut meredup seiring runtuhnya Orde Baru.

Kata Kunci:.  Si Kuncung; Majalah Anak-Anak; Relasi Penguasa.

Pendahuluan
Anak-anak  menanggung  beban  tentang  apa  yang  akan  terjadi  di  masa  depan.
Pandangan  tentang  anak-anak  sebagai  makhluk  kecil  yang  belum  sempurna
membuat masa kanak-kanak dipenuhi dengan mimpi dan idealisme orang dewasa.
Secara  berantai,  masa  kanak-kanak  akan  memengaruhi  keputusan-keputusan
mereka di masa yang akan datang, dan kembali membentuk idealisme masa kanak-
kanak  mereka  pada  generasi  selanjutnya.  Kondisi  demikian  menempatkan  anak-
anak sebagai sebuah kelompok masyarakat yang paradoksal. Mereka mengandung
impian dan juga kekhawatiran, dicintai sekaligus ditakuti (Sartre, 2009, p. 19).

Namun  sejarah  sering kali  melupakan  masa  kanak-kanak  dalam  catatan-
catatannya. Cerita tentang bagaimana mereka dibesarkan, apa yang mereka lakukan,
mereka gunakan dan kenakan jarang muncul sebagai tema-tema penulisan sejarah
yang komprehensif.  Hal  ini  membuat  penulisan sejarah tentang anak-anak ibarat
padang rumput yang luas dan hijau, bebas untuk ditanami atau dibangun sekaligus
membingungkan untuk memulai dari mana.

Kehadiran Si Kuncung dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai sebuah celah
untuk  mengintip dunia  anak-anak di  masa lalu.  Melalui  perjalanan penerbitannya
serta relasinya dengan pemilik kekuasaan,  dapat dipahami dunia baca anak-anak
dibentuk dan dikonstruksi dalam periode yang cukup panjang, yang disadari atau

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 71 

Diterima/ Received: 
25 November 2018

Disetujui/ Accepted: 
2 Desember 2018



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

tidak telah menjadi bagian penting yang melekat dalam diri orang-orang dewasa saat
ini.  Meski  fokus  pembahasan  diletakkan  pada  Si  Kuncung,  pembahasan  tentang
bagaimana  media  baca  anak-anak  yang  pernah  berkembang  di  Indonesia  perlu
dibahas  dengan singkat  agar  informasi  yang diolah  dapat  dipahami  secara  lebih
komprehensif. 

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul Majalah Anak-anak Si
Kuncung:  Relasi  Media,  Politik dan Kekuasaan Tahun 1979-1988,  dimana sumber
primer  yang  digunakan  merupakan  cetakan-cetakan  majalah  Si  Kuncung serta
informasi  langsung dari  para redaktur dan penulis  cerita.  Tulisan terkait  majalah
anak-anak juga tidak dapat dilepaskan dari kajian pers, terutama yang berkembang
di era orde baru. Meski majalah anak-anak jarang dilihat sebagai media cetak yang
berhubungan langsung dengan unsur kekuasaan,  Si Kuncung  dalam penelitian ini
justru lebih banyak menggunakan pustaka-pustaka bernuansa politik.

Sekilas Bacaan Anak-anak di Indonesia 
“Dalam zaman Belanda kita ada bertaman, dalam zaman Djepangpoen
taman kita masih ada. Akan tetapi dalam zaman kita sendiri, di masa
kita telah bernegara kembali, telah bertanah air merdeka, taman kita
itu  tak  tentu  lagi  dimana  letaknja.  Kakak  ta’  bertemoe-temoe  lagi
dengan adik-adik, dan soeara adik-adik jang riang gembirapoen tidak
kedengaran lagi.  Heran...  Mengapa dalam masa sekarang ini,  ketika
kakak dan adik-adik haroes bersatoe-padoe, harus selaloe berdekatan
dan bertoekaran pikiran, taman tempat kita bertjengkerama itu hilang
lenjap sadja?”
Kutipan  diatas  merupakan  penggalan  bagian  pendahuluan  edisi  pertama

majalah  Sahabat  Anak-anak yang terbit  perdana  tanggal  14 Juni  1946.  Mengapa di
tengah gegap gempita  kemerdekaan serta  kemelut  suasana perang,  bacaan anak-
anak menjadi sebuah ruang yang perlu mendapat perhatian khusus? Jika ditelusuri,
bacaan  anak-anak  telah  mendapat  perhatian  khusus  jauh  sebelum  Indonesia
memproklamirkan diri menjadi sebuah negara yang berdaulat. Cristantiowati dalam
karyanya  yang  berjudul  Bacaan  Anak-Anak  Tempo  Doeloe  Tahun  1900-1945
mendeskripsikan  perkembangan  bacaan  anak  yang  semakin  meningkat  pasca
penerapan  politik  etis  dan  pendirian  Commissievoor  de  Inlandsche  School  en
Volkslectuur atau yang kemudian dikenal sebagai Komisi Bacaan Rakyat.

Sejak  didirikan  14  September  1908,  Commissievoor  de  Inlandsche  School  en
Volkslectuur atau Komisi Bacaan Rakyat ini bertujuan menyediakan bacaan sehat bagi
para murid yang mampu membaca serta memberi pertimbangan kepada Pemerintah
Hindia  Belanda  dalam memilih  buku yang akan  disebarkan  kepada  masyarakat.
Secara  administratif  Komisi  Bacaan  Rakyat  bertugas  memberikan  pertimbangan
kepada  Departement  van  Onderwijs  en  Eeredienst (Departemen  Pengajaran)  dalam
memilih  naskah  yang  akan  diterbitkan  sebagai  buku  bacaan  dalam  pengajaran
sekolah.  Hal  ini  diperlukan  agar  pemerintah  dapat  mengendalikan  bacaan  bagi
rakyat  yang  rentan  terhadap  pengaruh  datangnya  bacaan  dari  luar  negeri
(Alisjahbana, 1992, p. 20).1

Kekhawatiran pemerintah dan keputusan untuk berkonsentrasi pada bacaan
anak-anak   bukannya  tanpa  alasan.  Munculnya  semangat  kebangsaan  beraliran
nasionalisme dan sosialisme dianggap semakin mengkhawatirkan, terutama dengan
berdirinya Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 oleh sekelompok mahasiswa STOVIA,

1Munculnya  semangat  kebangsaan  melalui  bacaan  beraliran  nasionalisme  dan  sosialisme
dianggap mengkhawatirkan pemerintah pada saat  itu,  terutama dengan berdirinya Boedi Oetomo
pada 20 Mei 1908 oleh sekelompok mahasiswa STOVIA, kemudian ditengarai berasal dari pengaruh
bacaan asing.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 72 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

yang ditengarai berasal  dari masuknya pengaruh bacaan asing. Pada 1911, dalam
rangka  menyalurkan  buku-buku  terbitan  Komisi  Bacaan  Rakyat  sekaligus
penyediaan  fasilitas  yang  mampu  menunjang  kegiatan  pengajaran,  pemerintah
Belanda membangun  volksbibliotheek  atau Perpustakaan Rakyat. Perpustakaan yang
kemudian  dikenal  dengan  nama  Taman  Pustaka  ini  menuai  respon  positif  dan
mengalami perkembangan yang signifikan.

Pembangunan  Taman  Pustaka  memengaruhi  minat  baca  sekaligus
meningkatkan permintaan terhadap buku-buku bacaan, terutama buku bacaan anak.
Komisi Bacaan Rakyat lalu menghadapi kesulitan akibat birokrasi yang berbelit-belit
dan  menghambat  penerbitan  bacaan.  Demi  peningkatan  produksi,  maka
berdasarkan  Gouvernements Besluit No. 63 tanggal 22 September 1917, dibentuklah
Balai Pustaka yang mampu memangkas proses penerbitan dengan menjadi lembaga
mandiri dan bertugas secara khusus memenuhi kebutuhan Taman Poestaka. Balai
Pustaka  lalu  secara  konsisten  menerbitkan  karya-karya  sastra  yang  menarik,
termasuk  karya-karya  dengan  sasaran  pembaca  anak-anak  dan  remaja.  Meski
banyak buku-buku merupakan karya terjemahan maupun saduran,  Balai  Pustaka
setidaknya mampu menggairahkan dunia bacaan anak-anak kala itu. Karya Merari
Siregar,  Si Djamin dan Si Djohan  (1918) yang merupakan saduran dari karya  Oliver
Twist atau novel Tom Sawyer  karya Mark Twain yang mampu meraih popularitas
dalam masa yang cukup panjang.

Ruang  bacaan  anak-anak  juga  mendapat  perhatian  semasa  gejolak  Perang
Dunia  II.  Pemerintahan  Balatentara  Dai  Nippon yang  berhasil  menguasai  Hindia-
Belanda setelah Pemerintah Belanda menyerah tanpa syarat tanggal 8 Maret 1942,
dengan segera menutup sekolah-sekolah dengan maksud membendung pengaruh
Barat di wilayah Indonesia. Seluruh buku dan bacaan terbitan Belanda dilarang dan
seluruh percetakan diambil alih (Christantiowati, 1993, p. 93).2 Sekolah Desa diganti
dengan nama Sekolah Pertama dengan masih menggunakan bahasa daerah sebagai
bahasa  pengantar,  sedangkan  Sekolah  Tingkat  Kedua,  HIS  dan  sekolah  lainnya
digabung dengan istilah baru yaitu Sekolah Rakyat dengan bahasa pengantar bahasa
Melayu-Indonesia yang sudah cukup populer pada masa itu. 

Balai  Pustaka,  yang kemudian berganti  nama menjadi  Kokumin Tosyokyoku,
diberi  tugas  untuk  segera  menerbitkan  buku-buku  pelajaran  baru  bagi  sekolah-
sekolah  yang  akan  dibuka.  Buku-buku  yang  mendapat  prioritas  penerbitan
merupakan buku-buku terkait kebudayaan Jepang, Bahasa Jepang dan Teknik-teknik
Dasar Pertahanan Diri  (Christantiowati,  1993, pp. 94-95).  Kokumin Tosyokyoku juga
menerbitkan ulang buku-buku populer sebelumnya dengan judul baru dan beberapa
revisi penggunaan bahasa serta menerima karangan dan tulisan karya pembaca.

Selama periode Pemerintahan Militer Jepang, tidak banyak buku-buku baru
yang diterbitkan. Majalah atau surat kabar bahkan diawasi dan beberapa dimatikan.
Hanya Asia Raya satu-satunya surat kabar di Jakarta dan majalah Panji Pustaka yang
diperbolehkan  terbit  (Jassin,  1992, pp. 59-60).  Bacaan  anak-anak  kemudian
diruangkan dalam lampiran  Taman Kanak-Kanak,  yang diterbitkan melalui majalah
Panji Pustaka. Hingga masa kemerdekaan yang dipenuhi dengan gejolak, ruang baca
untuk anak-anak perlahan semakin menyusut lalu kemudian menghilang.

Si Kuncung: Lahirnya Bacaan Sekolah Rakyat
Pada  1955,  setelah  Pemilu  pertama  selesai  diselenggarakan,  jumlah  penerbitan
mingguan, bulanan dan berkala membengkak hingga mencapai 351 judul, dari yang
sebelumnya pada 1950 hanya berjumlah 226 judul  (Junaedhie,  1995,  p.  24).  Surat

2Seluruh sekolah baru diizinkan untuk dibuka kembali pada 29 April 1942, setelah melalui
proses pelaporan pembukaan sekolah pada pemerintah setempat.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 73 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

kabar dan majalah tumbuh dimana-mana tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Publik bebas mengutarakan pendapat dan kemauan masing-masing.

Sudjati  SA,  wartawan  Pedoman, berinisiatif  menggunakan peluang tersebut
dengan menerbitkan majalah anak-anak  Si Kuncung untuk menyediakan ruang baca
anak-anak yang lama hilang.  Pedoman sendiri merupakan sebuah surat kabar yang
berasosiasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah partai kecil anti komunis
yang vokal dan beberapa kali  bersitegang dengan pemerintah (Hill,  2011, p.  101).
Berdasar pada pengalaman menulis berita  serta keterlibatannya dalam penerbitan
cerpen sastra bulanan “Kisah” bersama HB Jassin, Idrus, dan M. Balfas, Sudjati mulai
menulis  cerpen  untuk  anak-anak.  Berkantor  di  Jalan  Madura  No.  2,  Menteng,
Jakarta, Sudjati mulai mengumpulkan rekan-rekan sesama wartawan dan beberapa
sastrawan untuk membantunya mengasuh  Si Kuncung. Pengarang-pengarang yang
kemudian terlibat sebagian besar berasal dari majalah  Kisah,  Mimbar Indonesia dan
Siasat.  Si Kuncung lalu tampil dengan membawa idealisme jurnalis dan sastrawan
muda yang prihatin terhadap kurangnya bacaan bermutu bagi anak-anak. 

Pertemuan Sudjati  dengan Soekanto SA menjadi langkah awal yang positif
bagi  Si Kuncung.  Semula, Soekanto menolak dengan alasan tidak terbiasa menulis
cerpen anak-anak. Cerita anak-anak dianggap sebagai bagian dari pekerjaan guru.
Selain itu, keharusan untuk berkomunikasi dengan pesan moral yang disampaikan
dikhawatirkan  dapat  membatasi  pengarang  dalam  mengekspresikan  pikiran  dan
perasaan. Namun pada akhirnya, kesadaran tentang pentingnya sastra bagi anak-
anak meluluhkan hati  Soekanto.  Cerita  anak-anak adalah bagian dari  sastra,  dan
sastra  adalah  sastra.  Soekanto  SA  pun  menjadi  salah  seorang penulis  inti  yang
mengasuh  Si  Kuncung.  Soekanto  yang  terinpirasi  oleh  kedatangan  seorang  anak
gadis bernama Gustini di kantor redaksi Si Kuncung di Jalan Madura No. 12 Jakarta,
lalu  menciptakan  serial  cerpen  berjudul  Hari-hari  Bersama  Gustini.3 Cerpen  yang
bercerita tentang anak gadis yang cerdas ini menjadi cerpen khas  Si Kuncung dan
mengisi  edisi  Si  Kuncung hingga 1958.4 Selain  Soekanto,  nama lain  yang muncul
dalam tahun-tahun awal  Si Kuncung antara lain, Trim Sutidja, K. Usman, Mansur
Samin,  Julius  Sijaranamual,  Darmosusanto,  Surtiningsih  W.T.,  S.Toer,  B.S.Tron,
Suyono HR, HB Soepiyo, dan Rys Therik.

Sistem  redaksi  dalam  penerbitan  Si  Kuncung menggunakan  sistem  yang
sederhana.  Terdapat  bagian  redaksi,  karyawan,  ilustrator, dan  penulis  lepas
(Wawancara dengan Eddy Herwanto, 10 Agustus 2015). Pada terbitan tahun pertama
dan kedua,  Sudjati  SA sebagai  pemimpin  redaksi  dibantu  oleh  Muharijo,  Riardi,
Soekanto, dan  Suyono  HR  sebagai  redaksi.5 Bagian  ilustrasi  diisi  oleh  Ekana
Siswoyo,  Hidayat Said,  Ipe Ma’ruf, dan beberapa karyawan lain yang membantu
percetakan dan penjualan.

Penulis  yang  berkontribusi  mengirimkan  tulisan  dibayar  sesuai  dengan
cerpen atau tulisan yang diterima. Hal demikian membuat penulis dalam Si Kuncung
sering kali berganti-ganti dan berbeda dalam tiap edisi. Meski demikian, terdapat
beberapa nama yang konsisten mengirimkan tulisan dan menjadi penulis tetap  Si
Kuncung selama bertahun-tahun.

Berdasar  nama-nama penulis  yang muncul dibalik cerita-cerita  Si Kuncung,
Sudjati  tampaknya memilih penulis-penulis yang tidak terlibat  dalam perseteruan
dunia sastra yang saat itu tengah terjadi. Meski tidak secara langsung menyatakan

3Jalan Madura kini berubah menjadi Jl. Moh. Yamin, Menteng, Jakarta Pusat.
4Serial “Hari-hari bersama Gustini” berakhir pada edisi No. 8 tahun 1958, dimana Gustini

diceritakan telah mendapat  beasiswa untuk melanjutkan Sekolah Menengah dan selesai  melewati
ujian akhir di Sekolah Rakyat.

5Nama-nama tersebut diperoleh dari catatan redaksi  Si Kuncung No.1 tahun 1957 serta hasil
beberapa wawancara.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 74 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

diri  sebagai  majalah  anti-komunis,  belum  ditemukan  catatan  terkait  keterlibatan
sastrawan maupun penulis Lekra atau gerakan kiri lainnya dalam cerpen-cerpen Si
Kuncung. Sebagian besar merupakan rekan sastrawan, jurnalis dari  Siasat,  Pedoman
atau pengarang muda yang baru menjejaki dunia kepengarangan.6 Sudjati tampak
menempatkan  dunia  anak-anak  sebagai  dunia  yang  paralel  dari  dunia  politik
dengan  tetap  memberikan  edukasi  nilai  dan  norma  dalam  cerita-ceritanya.
Keputusan  untuk  menyajikan  karya  tanpa  keberpihakan  yang  mencolok
menempatkan Si Kuncung pada jalur aman dunia penerbitan pada saat itu.

Edisi perdana Si Kuncung yang terbit 1 April 1956 menjadi terbitan fenomenal
karena untuk kali pertama kali majalah ini dicetak ulang untuk satu nomor terbitan
perdana (Soekanto,  1986,  pp.  340-345).  Tampilan depan diisi  dengan sebuah logo
khas  Si Kuncung dan sebuah cerita berjudul “Pesta Kacang” karya Darmosusanto.
Halaman  selanjutnya  menampilkan  lagu  karya  Pak  Kasur  yang  berjudul  Naik
Delman, yang juga dengan cepat meraih popularitas. 

Pada halaman depan bagian atas,  Si Kuncung menggunakan gambar berupa
lima anak-anak yang berbaris dengan menggunakan topi kertas berbentuk kerucut
dan anak terakhir yang pakaiannya digigit seekor anjing kecil.  Mereka membawa
mainan, alat musik, dan bendera bertuliskan  Si Kuncung dengan ekspresi gembira.
Bendera  tersebut  memiliki  semboyan  Si  Kuncung yang  bertuliskan  “Si  Kuntjung
Batjaan  Sekolah  Rakjat”.  Gambar  ini  kemudian menjadi  ciri  khas  Si  Kuncung,  baik
dalam kolom iklan maupun dalam ragam terbitan Si Kuncung yang lainnya.

Kata  “kuncung”  dalam  bahasa  Jawa  berarti  gombak,  atau  dalam  bahasa
Indonesia berarti semacam jambul (pada ayam, burung dan bunga); jambak (rambut
di  dahi  pada  kuda);  rambut  di  atas  dahi  yang  ditinggalkan  sehabis  dipangkas
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2018). Pada logo, tampak anak yang berjalan paling
depan memiliki “kuncung” yang menonjol di sela topi kerucutnya sehingga dapat
berarti “anak yang memiliki model rambut kuncung”. Namun selain itu, kelima anak
yang berbaris  tersebut  juga  menggunakan topi  kerucut  yang juga  disebut  “  topi
kuncung”, sehingga “si kuncung” juga dapat berarti “anak yang menggunakan topi
kuncung atau kerucut”.

Penggunaan istilah “kuncung” sendiri lebih dikenal dalam masyarakat secara
umum terutama masyarakat pedesaan di daerah Jawa.7 Hal ini memberikan kesan
kedekatan  antara  majalah  Si  Kuncung  dengan  masyarakat.  Selain  itu,  penyajian
konten  cerita  dalam  Si  Kuncung  yang didominasi  oleh  cerita-cerita  dari  pelosok-
pelosok daerah di  Indonesia membuat  Si Kuncung  kental  dengan aura anak-anak
pedesaan.

Berdasar Surat Izin Terbit yang diperoleh pada 1957, Si Kuncung  tersebar luas
hampir  di  seluruh  Jakarta  dan beberapa  kota  besar  di  Jawa.  Respon  positif  dan
tingginya  penjualan  membuat  Si  Kuncung tetap  terbit  dengan  harga  yang  masih
terjangkau,  meski  situasi  perekonomian  sedang  memasuki  masa-masa  krisis.
Bahkan, banyaknya karangan yang masuk membuat  Si Kuncung mampu membuka
peluang baru dengan menerbitkan Si Kuncung Istimewa, semacam edisi spesial yang
terbit sebulan sekali.

Pada 1960, Sudjati menyatakan bahwa  Si Kuncung Istimewa telah membantu
meningkatkan penjualan hingga mencapai 800.000 pembaca sejak pertama kali terbit.
Si Kuncung Istimewa dianggap mampu menarik minat pembaca  Si Kuncung kepada
lingkup pasar yang lebih luas (Si Kuncung Istimewa, 1960). Si Kuncung semakin ramai
digemari dan banyak menerima karangan. Diluar penerimaan karangan melalui pos,

6Hingga  penelitian  ini  disusun,  belum  ditemukan  adnaya  keterlibatan  penulis  ataupun
sastrawan Lekra dalam penerbitan Si Kuncung.

7Terdapat  sebuah  cerita  yang  terkenal  yaitu  Si  Kuncung  dan  Si  Bawuk  yang  beredar  di
kalangan anak-anak di Jawa (Wawancara dengan Seto Mulyadi, 22 Februari 2015)

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 75 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

banyak penulis muda yang tertarik untuk menuliskan cerita pendek secara reguler.
Banyaknya persediaan tulisan, terutama cerpen,  memicu produktifitas  Si Kuncung
untuk menerbitkan varian baru berupa buku kecil berisi kumpulan cerpen.

Gejolak Politik dan Perubahan Sistem
Pada  30  September  1965,  Indonesia  dikejutkan  dengan  peristiwa  penculikan  dan
pembunuhan  jenderal-jenderal  yang  konon  dilatarbelakangi  oleh  pemberontakan
Partai  Komunis  Indonesia  (Ricklefs,  2008,  pp.  598-600).8 Peristiwa  tersebut  turut
mengguncang  dunia  perpolitikan  Indonesia  yang  berakhir  pada  penyerahan
kekuasaan dari  Presiden  Soekarno  kepada Jenderal  Soeharto  melalui  surat  kuasa
yang dikenal sebagai Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966.

Orde Baru lahir dengan semangat membedakan diri  dengan “Orde Lama”,
sebuah istilah yang ditujukan pada pemerintahan Soekarno sebagai rezim yang telah
berlalu. Kebijakan dan haluan politik yang diambil juga bertolak belakang dengan
kebijakan pemerintah sebelumnya.  Orde Baru yang inti  dukungannya terdiri  atas
faksi militer kemudian sering kali identik dengan rezim militer (Alkatiri, 2014, pp.
155-169). Pemerintah Orde Baru dengan segera mencanangkan Empat Tahap Strategi
Politik  yang secara  langsung memengaruhi  kebijakan di  berbagai  bidang.  Empat
tahapan  tersebut  adalah  penghancuran  PKI  beserta  ideologi  Marxisme  dari
kehidupan politik bangsa, konsolidasi pemerintahan dan pemurnian Pancasila dan
UUD 1945, menghapuskan atau menghilangkan dualisme kepemimpinan nasional,
serta  mengembalikan  stabilitas  politik  dan  merencanakan  pembangunan
(Djojonegoro, 1996, p. 149).

Pada tahun-tahun pertama pemerintahannya, Presiden Soeharto menargetkan
dua  prioritas  penting,  yaitu  pengembalian  stabilitas  dan  keamanan  negara  serta
pengendalian inflasi dan penurunan harga bahan pokok. Stabilitas dan keamanan
negara dikendalikan dengan “pembersihan” unsur-unsur perusak dan pengganggu
dalam seluruh aspek dan lapisan masyarakat.9 Hal ini kemudian menjadi salah satu
ciri  khas  model  pemerintahan  Orde  Baru,  pemerintah  menempati  posisi  sebagai
pihak baik yang selalu benar dengan pihak lain yang berbeda haluan sebagai musuh,
provokator, ekstrimis, anti-Pancasila dan anti-pembangunan (Djojonegoro, 1996, p.
149).

Berdasar alasan stabilitas negara dan penegakan Pancasila, pemerintah Orde
Baru dengan jeli mengawasi dan mengendalikan media informasi yang berhubungan
secara langsung dengan masyarakat. Pemerintah mengambil tindakan perubahan di
segala bidang, termasuk dalam dunia pers dan percetakan. Pada 1969, permasalahan
bacaan anak-anak menjadi tema yang menarik perhatian. Hal ini tampak dari Dewan
Perwakilan Rakyat yang menyatakan masalah bacaan anak sebagai masalah nasional
yang perlu segera  ditangani.  Resolusi  yang diprakarsai  oleh Nyonya Sukahar ini
mendapat reaksi positif dari anggota dewan dan juga presiden (Djojonegoro, 1996, p.
149).  Pada  tahun yang sama,  segera  dibangun Pusat  Perpustakaan Anak-anak di
Balai Pustaka dengan dasar pertimbangan penyediaan bacaan bermutu bagi anak-
anak (Soekanto, 1986, p. 352).

Perhatian  yang  diberikan  secara  langsung  oleh  presiden  pada  pihak  Si
Kuncung dengan segera turut membesarkan nama Si Kuncung. Pada awal 1970-an, Si
Kuncung kedatangan penulis-penulis  muda berbakat,  antara lain Soerasono, Eddy
Herwanto dan M. Sobary.  Mereka merupakan pelajar  perantauan di Jakarta yang

8Terdapat berbagai macam versi terkait pelaku peristiwa 30 September 1965, namun demikian
pemerintah menetapkan peristiwa tersebut didalangi oleh PKI.

9Unsur-unsur perusak dan pengganggu lebih ditujukan kepada kelompok pembuat onar atau
seringkali  merujuk  pada  anggota  maupun  simpatisan  PKI  setelah  penetapan  PKI  sebagai  partai
terlarang.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 76 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

semasa kecil adalah pembaca setia Si Kuncung. Kebiasaan membaca Si Kuncung sejak
kecil  membuat  mereka  dapat  beradaptasi  dengan cepat  dalam hal  menulis  tema-
tema serupa. Gaya penceritaan khas Si Kuncung yang sederhana namun sarat pesan
moralpun dapat dilanjutkan melalui tulisan-tulisan mereka sebagai generasi kedua
Si Kuncung (Wawancara dengan Soerasono, 15 Agustus 2015).

Pada 7 Desember 1973, pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden tentang
Program  Bantuan  Pembangunan  Sekolah  Dasar.  Inpres  tersebut  menyebutkan
bahwa  dalam  rangka  mempercepat  peningkatan  kesempatan  belajar  di  Sekolah
Dasar,  khususnya  bagi  anak-anak  yang  berumur  7-12  tahun,  perlu  diadakan
penambahan gedung-gedung sekolah dasar baru serta peningkatan anggaran bagi
rencana pembangunan pendidikan sekolah dasar yang dimulai dalam Repelita II.10

Berdasar petunjuk pelaksanaan program bantuan pembangunan sekolah dasar, yang
dimaksud dengan Program Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar adalah bantuan
langsung atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1973/1974 untuk
pembangunan gedung-gedung sekolah dasar, yang dilengkapi dengan penyediaan
guru, perabot sekolah, buku-buku pelajaran pokok, dan buku bacaan kanak-kanak
untuk perpustakaan.

Berdasar  Inpres  pertama  tersebut,  pemerintah  menyediakan  bacaan  anak-
anak  melalui  pembelian  terhadap  bacaan  anak-anak  yang  telah  diterbitkan.
Pemerintah membeli sejumlah judul buku bacaan anak-anak dengan oplah masing-
masing telah ditentukan kepada penerbit-penerbit yang memproduksi bacaan anak-
anak.  (Sutidja,  1984).  Pada  tahap pertama,  dibeli  sekitar  300  judul  dengan oplah
diatas  24.500  eksemplar.  Buku-buku  tersebut  kemudian  disebar  di  tiga  rayon,
dengan  prioritas  daerah  pedesaan  dan  perkotaan  yang  penduduknya
berpenghasilan rendah.11 Hingga 1981, telah dibeli lebih dari 2.500 eksemplar dari
300 judul setiap tahun, kecuali pada 1982 dilakukan pengecilan jumlah pembelian
buku.

Pasca-peristiwa Malari, beragam media cetak dan surat kabar memperbaharui
Surat  Izin  Cetak  dan  Surat  Izin  Terbit,  begitu  pula  dengan  Si  Kuncung.  Namun
demikian,  Si Kuncung   yang tidak mengala)mi masalah dalam proses penyegaran,
justru  mendapat  dukungan  yang  semakin  besar  dari  pemerintah.  Pada  1976,
berdasar  pelaksanaan Inpres  atas  pembelian  bacaan anak-anak,  Si  Kuncung turut
dipesan  oleh  pemerintah  untuk  kemudian  disebar  ke  seluruh  pelosok  Indonesia
(Wawancara  dengan  Soekanto,  20  Agustus  2015).  Penyebaran  ini  sangat
menguntungkan Si Kuncung dan secara otomatis mengubah banyak hal, diantaranya
model pendistribusian, tampilan fisik, dan konten dalam majalah Si Kuncung. 

Pada  1979,  Si  Kuncung  mengubah  tagline  yang  semula  berbunyi  “Bacaan
Sekolah Dasar” menjadi “ Majalah Pendidikan dan Kebudayaan”. Tagline baru yang
diusung membuat  Si Kuncung berbeda dari majalah anak-anak pada umumnya.12 Si
Kuncung  tidak lagi dilihat sebagai majalah hiburan biasa, melainkan media bacaan
anak yang mengandung informasi dan ilmu pengetahuan.  "Majalah anak-anak  Si
Kuncung mempunyai  pola  dasar  pemikiran  tersendiri,  yakni  membaca  sambil
berpikir  demi  peningkatan  daya  nalar  pada  si  anak,  agar  potensi  mereka  bisa
berkembang. Jadi cukup jelas bahwa Si Kuncung bukan majalah hiburan, melainkan
majalah pendidikan dan kebudayaan" (Sudjati, 1980).

10Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1973.
11100 buku untuk setiap rayon.
12Pada  2004,  Pusat  Bahasa  Departemen  Pendidikan  Nasional  menerbitkan  buku  berjudul

Peran Majalah Hiburan tahun 1970-1980 dalam Perkembangan Kesusastraan Indonesia Modern  yang merilis
daftar  majalah-majalah  hiburan  yang  terbit  selama  rentang  1970-1989.  Rilisan  tersebut  tidak
mencantumkan  Si  Kuncung  sebagai  bagian  dari  majalah  hiburan  yang  pernah  beredar,  berbeda
dengan majalah Kawanku, Bobo dan beberapa majalah anak-anak yang terbit setelah 1970.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 77 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

Istilah pendidikan dan kebudayaan pada dasarnya sejalan dengan semangat
program pemerintah dalam dunia pendidikan. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan
dalam periode 1978-1983,  menyatakan bahwa pendidikan merupakan bagian dari
kebudayaan, dan keduanya tidak dapat dipisahkan (Sardiman dan Yuliantri, 2012).
Pendidikan  dan  kebudayaan  dapat  menjadi  poros  penting  dalam  pembangunan
generasi muda, sehingga perlu digalakkan dan didukung baik di sekolah maupun di
luar lingkungan sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembangunan  pendidikan  dalam  masa  Orde  Baru  mengacu  pada
pembentukan manusia Pancasila, manusia pembangunan yang tinggi mutunya dan
mampu mandiri,  serta  memberikan dukungan perkembangan kepada masyarakat
yang terwujud dalam ketahanan nasional yang tangguh.  Sistem ketahanan nasional
yang  tangguh  secara  otomatis  dapat  membendung  generasi  muda  dari  ajaran
ataupun ideologi asing yang bertentangan dengan asas Pancasila (Djojonegoro, 1996,
p. 149). Berdasar pada pengembangan mutu pendidikan dan kebudayaan tersebut,
maka perubahan tagline Si Kuncung mengandung makna dan tanggung jawab besar.
Si Kuncung  telah menempatkan diri sebagai media yang ikut berpartisipasi dalam
program pembangunan pendidikan nasional.

Apresiasi pemerintah terhadap majalah  Si Kuncung  terus meningkat hingga
pada  1980  Sudjati  SA  mendapat  Piagam  Hadiah  Pendidikan.  Penghargaan  dari
presiden Soeharto yang ditanda tangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Daoed  Joesoef   tersebut  diberikan  kepada  Sudjati  atas  jasanya  terhadap  negara
sebagai  “Perintis  Majalah Kanak-Kanak dan Sudah Berprestasi  Selama 25 tahun”.
Hadiah  tersebut  diberikan  atas  dasar  Keputusan  Presiden  Republik  Indonesia
Nomor 23 tahun 1976 tanggal 7 Mei 1976 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan
kebudayaan nomor 0265/M/1977 tanggal 13 Juli 1977.

Pada ulangtahunnya yang ke 27,  Si Kuncung  bahkan merayakannya dengan
melakukan kunjungan ke kediaman menteri pendidikan dan memberikan bundel Si
Kuncung  sebagai  kenang-kenangan  sekaligus  meminta  secara  langsung  Menteri
Daoed Joesoef untuk memberi pesan bagi para pembaca setia Si Kuncung. Kedekatan
Si  Kuncung  dengan  departemen  dan  menteri  pendidikan  secara  langsung  tidak
hanya  berhenti  sampai  di situ.  Setelah  pergantian  menteri  pada  1983,  dimana
Nugroho  Notosusanto  menjabat  sebagai  Menteri  Pendidikan,  Si  Kuncung  tetap
berperan aktif dalam menjalin hubungan baik dengan pihak pemerintah.

Pada  1980,  pemerintah  melalui  Dirjen  Pendidikan  menerbitkan  seri  cerita
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dalam setiap terbitan Si Kuncung.
Rubrik ini berisi cerita-cerita yang mampu menggugah semangat pancasila, dimana
di  setiap  cerita  tersurat  pesan-pesan  moral  pancasila.  Pada  tahun  yang  sama,
pemerintah juga turut mensosialisasikan program-programnya melalui rubrik-rubrik
Si Kuncung.  dr.  Suwardjono Surjaningrat selaku Menteri  Kesehatan/Kepala Badan
Koordinasi  Keluarga  Berencana  Nasional  (BKKBN)  bersama  Si  Kuncung  lalu
menerbitkan seri  kependudukan yang berisi  cerita maupun artikel terkait ledakan
populasi penduduk dan pentingnya program keluarga berencana.

"Usaha  untuk  menerbitkan  tulisan  seri  kependudukan  untuk  anak
anak tingkat sekolah dasar ini  merupakan suatu usaha yang sangat
penting  yang  memcerminkan  rasa  tanggungjawab  kita  semua
terhadap hari depan generasi mendatang. Hal ini sejalan dengan usaha
kegiatan pendidikan kependudukan di  sekolah dan di  luar  sekolah
yang  telah  dimulai  sejak  awal  tahun  tujuh  puluhan,  diharapkan
dengan  ini  diberikan  informasi  mengenai  masalah  kependudukan
kepada anak anak kelas V dan VI yang akan memasuki usia remaja
dalam lima atau enam tahun mendatang" (Si Kuncung, 1980).

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 78 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

Penggunaan dasar pemikiran bahwa anak-anak akan menginjak remaja lima
hingga  enam  tahun  ke  depan,  membuat  pendidikan  terkait  keluarga  berencana
untuk  anak-anak  setingkat  Sekolah  Dasar  terkesan  dipaksakan.  Terlebih  lagi,
dimuatnya  rubrik  tersebut  justru  mengurangi  ruang cerita  dan kreasi  bagi  anak-
anak. Namun demikian, pemerintah tetap dengan gencar melaksanakan sosialisasi
program-programnya melalui Si Kuncung.

Pada 1 oktober 1981,  Si Kuncung  menambah muatan Seri Diorama Museum
ABRI Satriamandala. Serupa dengan penerbitan seri kependudukan dan penerbitan
seri P4, Seri Diorama juga dimulai dengan sambutan dari pihak pemerintah. Melalui
sambutan  tertulis  oleh  Kepala  Pusat  Sejarah  ABRI  Departemen  Pertahanan
Keamanan,  Brig.  Jen.  Prof.  Dr.  Nugroho  Notosusanto  dan  Direktur  Jemderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Prof.  Darji  Darmodiharjo,  SH, diorama tersebut
membawa suatu misi  dan menitikberatkan pada kejadian kejadian yang penting,
dalam hal ini peristiwa-peristiwa dalam perang kemerdekaan 1945-1949 (Si Kuncung,
1981). Sambutan yang dimuat dalam setiap serial baru lalu menjadi ciri khas yang
terus berlangsung hingga 1988.

Selain seri  yang menampilkan semangat kebangsaan dan nasionalisme dan
sosialisasi program,  Si Kuncung   juga kebanjiran tulisan dan seri  karangan ilmiah
yang  berjalan  seiring  dengan  kebijakan  pemerintah.  Pada  2  Mei  1984,  Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah kembali menerbitkan seri baru, yaitu seri karangan
ilmiah populer tentang uraian geologis proses terjadi dan terbentuknya pulau pulau
serta  laut  di  bumi  nusantara  Indonesia  dengan  judul  "Indonesia  Tanah  Airku".
Penerbitan  seri  ilmiah  yang  disusun  oleh  Soewarno  Darsoprajitno  tersebut
bertepatan  dengan  dimulainya  perubahan  penyempurnaan  penggambaran  peta
Indonesia, dari penggambaran kumpulan pulau pulau yang dipisahkan oleh lautan
menjadi penggambaran kumpulan pulau pulau yang justru disatukan oleh lautan.
Cara pandang tersebut dikenal dengan "Wawasan Nusantara".

Konsepsi  Wawasan  Nusantara  yang  disajikan  dalam  Si  Kuncung  memberi
manfaat  yang  cukup  besar  bagi  anak-anak.  Hal  ini  didasarkan  pada  konsepsi
Wawasan Nusantara yang juga dicantumkan dalam kurikulum pelajaran ilmu bumi
sehingga bacaan melalui  Si Kuncung  dapat secara langsung membantu anak-anak
dalam memahami pelajaran sekolah. Terdapat pula seri karangan lain karya Prof. Dr.
Ir. Otto Soemarwoto yang berjudul "Pengelolaan Air dan Sungai". Seri karangan ini
disajikan dengan tujuan melengkapi pengetahuan tentang lingkungan hidup yang
pada saat itu belum diterapkan dalam kurikulum sekolah dasar.

"Pada  tingkat  sekolah  dasar  ini  anak  didik  tidak  perlu  memperoleh
mata  pelajaran  khusus  tentang  lingkungan  hidup.  Untuk  ini  beban
pelajaran  yang  diterima  murid  murid  menjadi  terlalu  berat.  Yang
penting adalah menanamkan wawasan penglihatan lingkungan kepada
anak  didik  melalui  cara  mengajar  (dedaktika)  berbagai  ilmu,  seperti
ilmu pengetahuan  alam,  ilmu pengetahuan  sosial,  pendidikan  moral
pancasila,  agama  dan  olahraga  kesehatan.  Mata  pelajaran  ini  bisa
diajarkan dengan menggunakan contoh, antara lain dengan mengutip
cerita Prof. Otto Soewarmoto tentang daerah aliran sungai ini. Dengan
begitu ilmu masuk dengan wawasan penglihatan lingkungan”.

Selain  seri  karangan ilmiah,  Si  Kuncung  juga menyajikan  Kisah  Wiraswasta,
yang menampilkan profil-profil pengusaha sukses dan ragam usahanya (Si Kuncung,
1980).  Pengusaha  yang  ditampilkan  pada  umumnya  merupakan  pengusaha-
pengusaha  di  bidang  pertanian  dan  perikanan.  Rubrik  ini  juga  seringkali
menyediakan tips dan resep singkat dalam membuat sebuah produk yang mudah,
menarik dan ramah lingkungan.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 79 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

Halaman Si Kuncung yang semula berjumlah 36 lalu menyusut menjadi 32
halaman.  Si Kuncung  terbit  dengan total  32 halaman dianggap belum mencukupi
untuk  menampung  semua  rubrik  tersebut.  Oleh  karena  itu,  beberapa  rubrik
disajikan  secara  berselang  setiap  edisi  genap  dan  ganjil.  Seperti  halnya  rubrik
Kebunku yang dimuat berselang dengan Seri Ekologi, serta rubrik Seri Karangan Ilmiah
yang disajikan hanya setiap dua minggu sekali. Selain itu,  Si Kuncung  juga kerap
menyajikan  program-program  pemerintah  yang  sedang  berjalan,  seperti  kegiatan
koperasi, transmigrasi dan program perumahan rakyat.

Lembaran iklan komersilpun semakin menyusut  dan hanya tersedia  dalam
dua kolom kecil. Iklan yang ditampilkan sebagian besar merupakan produk negara
atau  iklan  resmi  dari  lembaga  pemerintah  tertentu.  Bahkan,  ketika  pemerintah
tengah  gencar  melancarkan  program  pertambangan  dan  penjualan  minyak,  Si
Kuncung turut berpartisipasi dengan menyajikan Seri Pertambangan yang diterbitkan
dua pekan sekali (Si Kuncung,  1979).  Seri Pertambangan  yang menampilkan proses
pertambangan  dan  manfaatnya  bagi  bangsa  Indonesia  tersebut  didukung
sepenuhnya oleh Pertamina.

Analisa: Membaca Akhir Cerita Si Kuncung
Anak-anak menanggung beban masa depan, sehingga perencanaan jangka panjang
perlu mempertimbangkan keberadaan anak-anak. Perhatian pemerintah terhadap Si
Kuncung tampak  serius.  “Media  massa,  jadi  alat  penting  dalam memelihara  dan
membantu  beranakpinaknya  legitimasi  Orde  Baru.  Ini  bisa  dipahami,  sebagai
lembaga  budaya,  pers  Indonesia  telah  mengalami  masa-masa  keji  penuh  badai
dalam perjalanan sebuah negara” (Hill, 2011, p. 34).

Kekhawatiran pemerintahan Soeharto tampaknya bukan hanya sebatas pada
lembaga media atau pers.  Pendidikan melalui kurikulum, tayangan, tontonan dan
bacaan anak-anak menjadi bidang khusus yang terus mengalami pengawasan.13 Si
Kuncung  yang  berperan  sebagai  media  massa  sekaligus  penghubung  yang  ideal
dengan  dunia  anak-anak  secara  otomatis  menjadi  agen  penting  yang  perlu
diperhatikan dan diawasi.

Pemilihan  Si  Kuncung  sebagai  media  yang  mendapat  “perhatian”  khusus
bukan suatu  kebetulan  yang terjadi  secara  acak.  Si  Kuncung adalah  satu-satunya
majalah  anak-anak  yang  mampu  bertahan  lebih  dari  sepuluh  tahun  dan  telah
membentuk  hegemoni  kecil  melalui  pembaca-pembacanya  dari  pelosok-pelosok
daerah  di  Indonesia.  Hegemoni  yang  telah  terbentuk  serta  kesempatan  untuk
memonopoli informasi membuat Si Kuncung menjadi media komunikasi ideal untuk
mensosialisasikan  dan“menanamkan”  nilai-nilai  yang  dikendaki  oleh  pihak
penguasa.

Padatnya rubrik yang disajikan menggeser kehadiran cerpen-cerpen kiriman
pembaca dan juga penulis tetap dalam Si Kuncung. Dalam satu terbitan, hanya dapat
ditemui  dua  atau  tiga  cerita  pendek  sepanjang  satu  halaman  karangan  pembaca
ataupun penulis lepas. Rubrik-rubrik yang khusus yang disajikan tidak dapat ditulis
oleh sembarang orang, melainkan oleh tokoh tertentu seperti perwakilan badan atau
lembaga  terkait  serta  ilmuwan  yang  sudah  dikenal  masyarakat  luas.  Selain
meningkatkan  profesionalisme  dalam  menyampaikan  ilmu  pengetahuan,  penulis
yang  selektif  akan  meminimalisir  adanya  pengaruh  atas  bacaan  yang  dianggap
kurang baik.

Seri Karangan Ilmiah yang semakin mendominasi membuat banyaknya penulis
ilmiah yang terlibat dalam penerbitan Si Kuncung. Kualifikasi yang tinggi serta gaya
bahasa ilmiah yang digunakan membuat  Si Kuncung bukan lagi majalah anak-anak
yang  bersifat  menghibur  dan  rekreatif.  Penulisan  rubrik-rubrik  khusus  tersebut

13Terutama terkait peristiwa 1965 dan peristiwa di sekitar proses peralihan kekuasaan.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 80 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

melibatkan banyak tenaga ahli yang sudah diakui kemampuannya. “...karena para
sarjana  ini  mempunyai  pemikiran  akademis,  maka  tidak  ada  salahnya  bila
dijabarkan secara sederhana anak-anak dapat mengikutinya. Toh, para sarjana ini
sudah menguasai  ilmunya hingga rasanya tidak mungkin  melakukan kesalahan”
(Kompas,  1980).  Selain  para  sarjana,  pengisi  majalah  Si  Kuncung juga  datang dari
kalangan profesor. Prof. Andi Hakim Nasution dari IPB dengan senang hati mengisi
rubrik  matematika.  Begitu  juga  dengan  Prof.  Teuku  Jacob  dari  UGM  yang
menyajikan rubrik arkeologi dalam  Serial  Manusia Purba Indonesia,  serta Prof. Otto
Soemarwoto yang menulis rubrik lingkungan hidup (Kompas, 1980).

Peningkatan kualitas konten Si Kuncung secara keilmuan, diharapkan mampu
mempertahankan bahkan meningkatkan penjualan  Si Kuncung.  Pandangan terkait
“bacaan yang bagus dan berkualitas akan senantiasa diminati” membuat Si Kuncung
dan pihak pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dalam cerita-
cerita  Si  Kuncung.  Di  lain  pihak,  ramainya  penulis  ilmiah  yang  terlibat  justru
mengurangi komposisi penulis cerita dengan tema yang lebih lepas. Sebagian besar
penulis yang sebelumnya mengisi cerpen  Si Kuncung kini beralih mengisi majalah
maupun  surat  kabar  lain.  Selain  itu,  ruang  yang  disediakan  untuk  penulis  juga
semakin terbatas sehingga karangan kiriman pembaca, khususnya anak-anak, mulai
sulit  ditemukan.  Kehilangan  banyak  penulis  lepas  berakibat  pada  menurunnya
regenerasi  Si Kuncung.  Hal ini membuat  Si Kuncung tidak lagi mampu mengikuti
perkembangan  jaman,  terlebih  dengan  kehadiran  kompetitor  yang semakin  kuat.
Pembaca anak-anak yang disuguhkan materi ilmiah yang cenderung serupa dengan
pelajaran di sekolah perlahan kehilangan minat dan beralih ke majalah lain.

Pada 1988, Sudjati kembali memperoleh lencana penghargaan dari Presiden
Soeharto meski kepemimpinan  Si Kuncung telah dialihkan pada putra sulungnya,
Indrawan Sudjati (Sang Perintis Kempis, 2015). Sudjati juga memperoleh penghargaan
dari ibu negara  Tien Soeharto sebagai Tokoh Pencinta Anak. Sambutan-sambutan
dari  berbagai  tokoh nasionalpun membanjiri  lembar edisi  khusus ulang tahun  Si
Kuncung yang ke-32. Hubungan yang erat dengan pemerintah ternyata berbanding
terbalik  dengan  posisi  Si  Kuncung  di  pasaran.  Penjualan  terus  menurun  bahkan
membuat  Si  Kuncung  hanya  mampu  bertahan  dengan  biaya  dari  pemerintah
(Wawancara dengan Soekanto, 20 Agustus 2015). Setelah 1988, Si Kuncung tidak lagi
ditemukan  di  pasaran  majalah  anak-anak  Indonesia.  Si  Kuncung  tergeser  oleh
majalah-majalah anak lain yang muncul belakangan, bahkan semakin tak terdengar
dan kehilangan ruang. 

Simpulan
Sejatinya,  Si Kuncung telah berhasil meninggalkan catatan mengesankan, baik bagi
para pembacanya maupun dalam sejarah bacaan anak di Indonesia.  Sama halnya
dengan posisi  Si Kuncung dalam penelitian ini.  Si Kuncung sebagai sebuah majalah,
bisa jadi hanya merupakan satu dari ratusan bacaan anak-anak yang pernah ada di
Indonesia.  Akan  tetapi, setidaknya  Si  Kuncung  merupakan  majalah  pertama  dan
mungkin satu-satunya yang menjalin relasi sangat dekat dengan pemerintah di masa
Orde Baru.14 Hal ini tentu membuat Si Kuncung layak untuk memiliki ruang khusus
dalam catatan sejarah anak di Indonesia. 

Referensi
Alisjahbana, S. T. (1992). Sekilas riwayat hidup perjuangan budaya dan pengalaman

pribadi  selama di  Balai  Pustaka,  dalam  Bunga Rampai  Kenangan  Pada  Balai
Pustaka. Jakarta: Balai Pustaka.

14Kata mungkin ditulis dengan harapan akan muncul fakta lain yang bisa saja berseberangan
dengan penulis, sehingga akan bermunculan penulis lain yang berminat untuk mengkaji bacaan anak.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 81 



Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, 71-82 © 2018

Alkatiri,  Z.  (2014). Pseudo  Nationalism  of  the  Commercial  Companies  on  the
Commemoration of Indonesian National Holidays through Non-Commercial
Advertising in Print Media in the Years of 1980 to 2008. Advances in Historical
Studies.

Christantiowati. (1993). Bacaan anak Indonesia tempo doeloe: Kajian pendahuluan periode
1908-1945, (Skripsi). Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas
Indonesia.

Djojonegoro, W. (1996).  Lima puluh tahun perkembangan pendidikan Indonesia.  Jakarta:
Depdikbud.

Hill, D. T. (2011). Pers di masa Orde Baru. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1973
Jassin, H. B.  (1992).  Pertumbuhan diri  sebagai kritikus serbaneka pengalaman di

Balai Pustaka. dalam Bunga Rampai Kenangan Pada Balai Pustaka. Jakarta: Balai
Pustaka.

Junaedhie,  K. (1995). Majalah Anak-anak: Peluang yang Dilupakan.  Rahasia Dapur
Majalah di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2018). Diakses dari melalui http://kbbi.web.id.
Membaca sambil berpikir. (1980, Agustus 23). Kompas.
Ricklef, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi. 
Sang Perintis Kempis. (2015, Agustus 13).
Sardiman dan Yuliantri, R. D. A. (2012).  Dinamika pendidikan pada masa Orde Baru.

(Laporan Penelitian). Fakultas ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sartre,  Jean-Paul.  (2009).  Kata-kata (Coeteau,  J.  Terjemahan).  Jakarta:  Gramedia

Pustaka Utama.
Si Kuncung (1980, Juli).
Si Kuncung Edisi Spesial Ulang Tahun ABRI ke 36. (1981).
Si Kuncung Istimewa No. 6. (1960).
Si Kuncung No. 2. (1979).
Si Kuncung No. 33. (1980). 
Soekanto. (1986, Agustus).
Sutidja,  T. (1984, Juli 7).  Pasang surut bacaan anak-anak: Dari  Si Kuncung sampai

proyek Inpres. Sinar Harapan.

Daftar Informan
Seto Mulyadi, 22 Februari 2015.
Eddy Herwanto, 10 Agustus 2015.
Soerasono, 15 Agustus 2015.
Soekanto, 20 Agustus 2015.

Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-Anak Indonesia | 82 


