
































Microsoft Word - 6. Padliansyah et al.docx


Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 74  
 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar 
Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, 2011-2016 

 
Padliansyah, Endang Susilowati, Sutejo K. Widodo 

Program Magister Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro 
 

Alamat korespondensi: fadlygavet89@gmail.com 
 

Abstract 
 
This study argues that container loading and unloading congestion at Tanjung 
Priok Port is caused by long dwelling time due to the limited capacity of existing 
container terminals. Therefore, the Kalibaru Terminal was built to overcome this 
problem. The research objective is to look at the planning, construction, and 
operation of the Kalibaru Terminal. This study uses historical methods consisting 
of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of 
this study indicate that the construction of the Kalibaru Terminal is a superior 
project of government and private cooperation so that it must go through an 
international tender. The development of Kalibaru Terminal aims to increase 
productivity and accelerate economic growth. The existence of the Kalibaru 
Terminal also caused the flow of goods to run smoothly and decrease in dwelling 
time from eight to three days. 
 
Keywords:  Container Loading and Unloading; Kalibaru Terminal; Tanjung Priok 

Port; Dwelling Time. 
 

Abstrak 
 

Kajian ini berargumentasi bahwa kemacetan bongkar muat peti kemas di 
Pelabuhan Tanjung Priok disebabkan dwelling time yang lama akibat keterbatasan 
daya tampung terminal peti kemas yang ada. Oleh karena itu, Terminal Kalibaru 
dibangun untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian adalah melihat 
perencanaan, pembangunan, dan pengoperasionalan Terminal Kalibaru. Kajian 
ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, 
interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 
pembangunan Terminal Kalibaru adalah proyek unggulan kerja sama pemerintah 
dan swasta sehingga harus melalui tender yang berskala internasional. 
Pembangunan Terminal Kalibaru bertujuan untuk meningkatkan produktivitas 
dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Keberadaan Terminal Kalibaru ini juga 
menyebabkan arus barang semakin lancar dan menurunnya dwelling time dari 
delapan menjadi tiga hari. 
  
Kata Kunci: Bongkar Muat Peti Kemas; Terminal Kalibaru; Pelabuhan Tanjung 

Priok. 
 

 
 

Diterima/ Received:  
11 Juni 2019 
 
Disetujui/ Accepted:  
4 Juli 2019 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 75  
 

Pendahuluan 
Latar belakang yang mendasari pembangunan Terminal Kalibaru adalah pesatnya 
pertumbuhan arus peti kemas pada tahun 1989-2010. Pada tahun 2010 kapasitas 
Pelabuhan Tanjung Priok semula hanya mampu menampung sebesar 4.800.000 TEU 
(twenty-foot equvalent unit) dan setelah dilakukan program penataan, perluasan dan 
rekonfigurasi pelabuhan maka kapasitasnya meningkat menjadi 7.000.000-8.000.000 
TEU di tahun 2016. Total realisasi bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung 
Priok pada tahun 2011 sebesar 5.900.000 TEU per tahun meningkat menjadi 6.200.000 
TEU di tahun 2012-2013. Hal ini mengindikasikan perlu segera dilakukan 
penambahan fasilitas untuk menampung pertumbuhan arus peti kemas di tahun-
tahun mendatang. Ketika Terminal Kalibaru secara penuh beroperasi pada tahun 2032 
mendatang maka Pelabuhan Tanjung Priok diperkirakan mampu menampung 
sebesar 20.000.000 TEU. Fasilitas Pelabuhan Tanjung Priok hanya mampu melayani 
kapal dengan kapasitas maksimum 6.000 TEU sedangkan tren pertumbuhan 
penggunaan kapal peti kemas di dunia saat ini menggunakan kapal dengan kapasitas 
lebih dari 10.000 TEU dalam rangka mengurangi biaya logistik per TEU sehingga 
untuk melayani kapal direct call dengan ukuran besar harus disiapkan fasilitas yang 
memadai (Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia, 2014, p. 53). 

Pembangunan Terminal Kalibaru merupakan proyek pembangunan pelabuhan 
terbesar di Indonesia sehingga PT Pelindo II telah memberikan perhatian besar yang 
mampu memperkuat mata rantai logistik Indonesia secara signifikan serta 
mengoptimalkan segala upaya demi mewujudkan tujuan proyek ini yaitu untuk 
meningkatkan kapasitas dan produktivitas jaringan logistik yang lebih optimal 
sehingga dapat meningkatkan investasi ke Indonesia dan membawa Indonesia 
menjadi poros maritim dunia. Peletakan batu pertama pembangunan Terminal 
Kalibaru dilakukan oleh Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang 
Yudhoyono pada tanggal 22 Maret 2013. Pembangunan Terminal Kalibaru terbagi 
menjadi tiga tahap yakni tahap pertama terdiri atas 3 terminal peti kemas dan 2 
terminal produk yang dibangun secara bertahap. Terminal-terminal tersebut 
direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2016, 2023, 2024, 2027 dan 2032. Masing–
masing terminal peti kemas didesain untuk kapasitas 1.500.000 TEU. Sementara untuk 
terminal produk diproyeksikan berkapasitas 10 juta meter kubik per tahun. 
Pembangunan tahap II meliputi pembangunan empat terminal peti kemas dengan 
total kapasitas 8.000.000 TEU (Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia II, 2015, p. 
27). Berdasar pada latar belakang yang telah diuraikan, dirumuskan permasalahan 
mengenai perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian Terminal Kalibaru. 

 
Metode 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari 
empat tahap. Tahap pertama adalah heuristik yang merupakan suatu proses untuk 
mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah, baik sumber primer maupun 
sumber sekunder. Sumber-sumber yang dicari dan dikumpulkan ialah sumber-
sumber yang relevan dengan tema yang diteliti (Frederick dan Soeroto, 1984, p. 467). 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 76  
 

Setelah sumber dikumpulkan, tahap selanjutnya adalah kritik sumber untuk 
menentukan otentisitas dan kredibilitas sumber sejarah. Semua sumber yang 
dikumpulkan terlebih dahulu diverifikasi sebelum digunakan, sebab tidak semua 
sumber dapat digunakan dalam penulisan. Dua aspek yang dikritik yaitu keaslian 
sumber dan tingkat kebenaran informasi yang terkandung dalam sumber sejarah. 
Penentuan keaslian suatu sumber berkaitan dengan bahan yang digunakan untuk 
membuat sumber tersebut atau dikenal dengan kritik eksteren. Adapun kritik 
terhadap kredibilitas informasi yang terkandung dalam sumber sejarah dikenal 
dengan kritik interen. Setiap sumber sejarah diperlakukan sama, yakni diseleksi baik 
dari segi eksteren maupun interen untuk memperoleh data yang akurat dan valid 
(Hamid dan Majid, 2011, p. 47-48). Tahap ketiga dalam penelitian sejarah adalah 
interpretasi. Pada tahap ini dituntut kecermatan dan sikap obyektif, terutama dalam 
hal interpretasi terhadap fakta sejarah. Hal itu dapat dilakukan dengan mengetahui 
kondisi umum yang sebenarnya dan menggunakan nalar yang kritis agar dapat 
disajikan tulisan sejarah yang ilmiah (Hamid dan Majid, p. 47-48). Tahap yang terakhir 
adalah historiografi, yaitu proses penulisan peristiwa sejarah. Dalam tahap ini fakta-
fakta yang sudah dianalisis dan disintesiskan dipaparkan dalam bentuk tulisan 
menggunakan bahasa Indonesia yang baik, sehingga mudah dipahami oleh pembaca 
(Abdullah dan Surjomihardjo, 1985, p. XV). 
 
Perencanaan Pembangunan Terminal Kalibaru  
Pada tahun 2011 operator PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) berencana membangun 
Terminal Kalibaru Tahap 1 dengan kapasitas hingga 4.500.000 TEU di utara Pelabuhan 
Tanjung Priok. Fasilitas Pelabuhan Tanjung Priok yaitu pertama, layanan peti kemas 
di Pelabuhan Tanjung Priok 4.800.000 TEU pada tahun 2010. Kedua, layanan terminal 
car di Pelabuhan Tanjung Priok untuk 6.000 mobil dengan lahan 12,3 hektar. Ketiga, 
rancangan pembangunan Terminal Kalibaru berkapasitas 4.500.000 TEU. Keempat, 
bila tahun 2009 sebanyak 60-65 % peti kemas asal Pelabuhan Tanjung Priok harus 
transit di Singapura maka pada tahun 2010 hanya 20 % (Kompas, 25 Maret 2011). 
 
Proses Tender Terminal Kalibaru Jakarta 
Pada bulan Mei tahun 2011 Terminal Kalibaru telah ditender pemerintah dengan nilai 
proyek sebesar Rp 8,8 triliun dengan luas 77 hektar dan berkapasitas 4.500.000 TEU. 
Pembangunan Terminal Kalibaru ini diperuntukan bagi bongkar muat peti kemas dan 
terminal ini dibangun karena pada tahun 2011 kapasitas peti kemas di Pelabuhan 
Tanjung Priok tidak memadai. Tender pada Mei 2011 merupakan tender investor. 
Selain PT Pelindo II belum ada investor yang menyatakan minatnya berinvestasi 
dalam proyek pemerintah. PT Pelindo II dengan didukung dana dari bank-bank milik 
pemerintah ini membangun Terminal Kalibaru tetapi harus melalui tender (Kompas, 
25 Maret 2011). 

Proyek Terminal Kalibaru ternyata diminati oleh perusahaan-perusahaan kelas 
dunia yang tergabung dalam sejumlah konsorsium. Dengan tambahan kapasitas 
4.500.000 TEU maka Pelabuhan Tanjung Priok dapat melayani ekspor-impor. PT 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 77  
 

Pelindo II yang memilih bermitra dalam proyek ini sejak Juli 2011 telah memastikan 
pembiayaan sebesar US$ 1,29 milyar atau setara dengan 11 triliun dari Bank Mandiri. 
Dukungan pendanaan juga telah didapatkan oleh seluruh peserta kualifikasi misalnya 
perusahaan pelayaran Jepang Mitsui Lines juga mendapat dukungan dari jaringan 
perbankan mereka sebesar total kebutuhan investasi (Kompas, 12 Agustus 2011). 

Mitsui Lines adalah perusahaan pelayaran kargo yang didirikan pada tahun 1964 
dan kini mereka memiliki lebih dari 800 kapal. Bermitra dengan perusahaan pelayaran 
adalah sebuah keharusan, karena perusahaan-perusahaan tersebut yang menentukan 
rute kapal atau ship calls secara global. Apalagi Pelabuhan Tanjung Priok menjadi 
pelabuhan internasional, bukan sekedar pelabuhan pengumpan. Dari daftar peserta 
kualifikasi Terminal Kalibaru memang muncul nama perusahaan-perusahaan dunia 
seperti Maersk Line yaitu perusahaan pelayaran yang berkantor pusat di Denmark dan 
mengoperasikan minimal 500 kapal. Lalu Evergreen Line, perusahaan yang kini 
mengoperasikan sekitar 180 unit kapal yang dibagi dalam lima kantor operasi. Ada 
juga Hutchison Port Indonesia yang memegang saham di Jakarta International Container 
Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di Pelabuhan Tanjung Priok dan 
Port Authority of Singapore. Selain itu, juga ada International Container Terminal Services 
(ICTSI) Filipina juga pernah mengakuisisi terminal peti kemas di Makassar (Kompas, 
12 Agustus 2011). 

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan hasil evaluasi 
prakualifikasi di proyek Terminal Kalibaru bahwa dua konsursium tidak lulus yakni 
PT Pelayaran Bintang Putih-A.P.Moller-Maersk Terminal (APM) dan PT Pelabuhan 
Indonesia IV sedangkan lima perusahaan atau konsorsium lain yang lulus adalah PT 
Pelindo II, PT Pelabuhan Socah Madura-PSA PE Asia, PT Pelindo I International 
Container Terminal Services-PT Sinar Rajawali Cemerlang, 4848 Global System-Mitsui-
Evergreen-Nusantara Infrastruktur, dan PT Hutchison Port Indonesia-PT Brialiant 
Permata Negara-PT Salam Pacific Indonesia Lines-Cosco Pacific Limited. Hasil evaluasi 
itu telah diumumkan secara transparan oleh Kementerian Perhubungan dan 
selanjutnya para konsorsium memasuki tahapan dokumen tender yakni membuat 
studi kelayakan, rencana pembiayaan, pemasaran, standar operasi dan rencana bisnis. 
Lima konsorsium itu masih harus bersaing ketat dalam tender untuk memperebutkan 
proyek Terminal Kalibaru tahap I sebesar Rp 11,70 triliun, di antaranya untuk terminal 
peti kemas Rp 5,20 triliun, jalan dan jembatan Rp 2,15 triliun, pemecah gelombang Rp 
1,97 triliun, serta alur Rp 1,07 triliun (Kompas, 12 Agustus 2011). 

Proyek Terminal Kalibaru adalah proyek unggulan kerja sama pemerintah dan 
swasta sehingga proyek ini benar-benar harus dilakukan melalui tender berskala 
internasional. Total dana pemerintah hanya dapat menutupi 35% dari keseluruhan 
biaya yang dibutuhkan, dan sisanya sebesar 65% harus menggandeng pihak swasta. 
Bagi pihak swasta, Terminal Kalibaru sangat menarik dengan program pendanaan 
yang tepat, rencana bisnis dan pemasaran yang baik melalui jaringan dengan shipping 
line atau perusahaan pelayaran sehingga Terminal Kalibaru ini dapat menguntungkan 
(Kompas, 12 Agustus 2011). 

 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 78  
 

Konsesi Terminal Kalibaru Jakarta  
Pada tahun 2011 tingkat pengembalian investasi dari proyek pembangunan Terminal 
Kalibaru mencapai 14,3%. Masa konsesi (pemberian hak izin dari pemerintah dan 
swasta) yang ditawarkan dari 50 tahun hingga 70 tahun. Pemerintah menginginkan 
ketertarikan investor supaya pelabuhan tersebut lebih cepat terbangun sebab 
Pelabuhan Tanjung Priok hanya mampu bertahan hingga tahun 2013 karena volume 
peti kemas yang mampu ditampung hanya mencapai 6.200.000 TEU. Jika membuat 
perbandingan dengan proyek pelabuhan lain di Asia maka tak terlalu jauh tingkat 
pengembalian investasinya. Bahkan tingkat pengembalian investasi (internal rate of 
return on equity/IRR) cukup tinggi. Pra-penjajakan pasar (premarket sounding) telah 
dilakukan terutama untuk mengetahui animo dan persepsi pasar karena memasukkan 
nilai investasi jembatan dan alur timur sebagai bagian dari porsi investor (Kompas, 19 
Mei 2011). 

Pada awalnya Kementerian Perhubungan memberikan kompensasi bagi PT 
Pelindo II dalam tender Terminal Kalibaru. Kompensasi berupa pemberian tambahan 
nilai atau pemberian hak untuk menawar atau penawaran terbaik saat tender. 
Kompensasi tersebut dituangkan dalam Surat Menteri Perhubungan Nomor 
4L106/2/14Phb-2011 tanggal, 13 Juni 2011. Kompensasi diberikan ke PT Pelindo II 
karena statusnya sebagai pemrakarsa pembangunan Terminal Kalibaru. Kompensasi 
tersebut diatur dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 
tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur 
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2010. Dalam 
kompensasi tersebut PT Pelindo II diberi hak preferen sebesar 10%, hak untuk menawar 
atas penawaran terbaik (right to match) yakni PT Pelindo II dapat menetapkan harga 
yang sama dengan usul harga terbaik yang diberikan oleh peserta tender lainnya 
untuk memenangi tender (Kompas, 15 Juni 2011). 

Pada 2012 PT Pelindo II secara resmi mendapatkan hak konsesi untuk 
mengoperasikan Terminal Kalibaru selama 70 tahun sehingga dengan adanya konsesi 
tersebut maka PT Pelindo II berkewajiban membayar biaya konsesi setiap tahunnya 
kepada pemerintah sebesar 0,5% dari pendapatan kotor Terminal Kalibaru sebagai 
penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Dalam perjanjian konsesi antara Otoritas 
Pelabuhan Tanjung Priok dan PT pelindo II telah disepakati ruang lingkup 
pembangunan serta pengoperasian Terminal Kalibaru berada di area reklamasi seluas 
272 hektare yang terdiri atas dermaga 1A seluas 36 hektare, dermaga 1B seluas 180 
hektare dan lokasi pembuangan seluas 56 hektare sehingga di area itu dibangun tiga 
unit terminal kontainer dan dua unit terminal product dengan kedalaman kolam 
hingga mencapai 16 m.LWS yang mampu menampung kapal berukuran 150.000 DWT 
(https://www.viva.co.id/arsip/347928-pelindo-ii-raih-konsesi-70-tahun-terminal-
kalibaru, diakses pada 29 Juni 2019). 
 
Implementasi Pembangunan Terminal Kalibaru  
PT Pelindo II telah mengembangkan strategi jangka panjang untuk merespon peluang 
menjadi perusahaan pelabuhan internasional di Indonesia. PT Pelindo II saat ini masih 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 79  
 

menjadi pemain utama dalam industri kepelabuhanan dengan kontrol manajemen 
serta portofolio bisnis yang baik, disertai pertumbuhan perusahaan yang stabil 
dengan finansial yang sangat baik. Meskipun menghadapi sejumlah tantangan baik 
dari sisi regulasi, dinamika ekonomi, politik, dan budaya namun PT Pelindo II tetap 
teguh untuk membangun rencana strategis demi skemajuan perusahaan. Pada tahun 
2014 PT Pelindo II telah mengembangkan rencana strategis jangka panjang untuk 
menjawab tantangan-tantangan tersebut. Di antara rencana dimaksud yaitu 
membangun Terminal Kalibaru (Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia II, 2014, 
p. 59). 
 

Tabel 1. Rencana Pembangunan Terminal Kalibaru 
No. Tahap Terminal Jenis Kapasitas Kedalaman Panjang 

1 Tahap Satu Terminal 
Container 1 

Container 1.500.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

850m 

  Terminal 
Container 2 

Container 1.500.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

800m 

  Terminal 
Container 3 

Container 1.500.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

800m 

  Terminal 
Produk 1 

Produk 
Petroleum 

5.000.000m/tahun 16m-
20m.LWS 

800m 

  Terminal 
Produk 2 

Produk 
Petroleum 

5.000.000m/tahun 16m-
20m.LWS 

800m 

2 Tahap Dua Terminal 
Container 4 

Container 2.000.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

1.000m 

3 dan 
Tahap  

Terminal 
Container 5 

Container 2.000.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

1.000m 

 Tiga Terminal 
Container 6 

Container 2.000.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

1.000m 

  Terminal 
Container 7 

Container 2.000.000 
TEU/tahun 

16m-
20m.LWS 

1.000m 

Sumber: PT. Pelabuhan Indonesia II Tahun 2014. 
 

Pembangunan Terminal Kalibaru ini sekaligus merupakan bentuk komitmen PT 
Pelindo II untuk mendukung kemajuan bangsa Indonesia dan berkontribusi terhadap 
pertumbuhan nasional atau “committed to progress”. Terminal Kalibaru akan menjadi 
jaringan logistik nasional yang lebih efisien dan lebih mutakhir untuk menarik lebih 
banyak investasi ke Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas 
dibandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di seluruh dunia dan 
akhirnya mampu memenuhi janji PT Pelindo II untuk meningkatkan perdagangan 
dan mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pengembangan Terminal 
Kalibaru (Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia II, 2014, p. 43). 

Terminal Kalibaru juga akan meningkatkan kapasitas dan efisiensi dari jaringan 
logistik nasional Indonesia dengan produktivitas yang sebanding dengan pelabuhan-
pelabuhan besar di dunia. Pelabuhan ini juga akan meningkatkan kemampuan dalam 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 80  
 

melayani kapal peti kemas yang lebih besar. Terminal Kalibaru memungkinkan kapal 
peti kemas kelas Triple E melewati Indonesia tanpa perlu transshipment di pelabuhan 
lain. Hingga saat ini, kapal Triple E merupakan kelas terbesar dari kapal peti kemas 
dengan kemampuan membawa hingga 12.000–15.000 TEU (Laporan Tahunan PT 
Pelabuhan Indonesia II, 2014, p. 44). 

Pembangunan Terminal Kalibaru dibagi menjadi tiga tahapan yaitu: jangka 
pendek (2013-2016), jangka menengah (2017-2023), dan jangka panjang (2023-2032). 
Namun dalam jurnal ini hanya akan dibahas pembangunan jangka pendek saja, sesuai 
dengan lingkup temporal, yaitu tahun 2011-2016. Pada tahapan jangka pendek 
pembangunan Terminal Kalibaru meliputi pembangunan terminal peti kemas yang 
terdiri dari dermaga peti kemas sepanjang 900 m dengan kedalaman kolam 16 m dan 
dapat dikembangkan hingga kedalaman 20 m. Terminal peti kemas ini mempunyai 
luas area 32 ha dengan akses jalan sepanjang 2.803 m. (Departemen Perhubungan 
Republik Indonesia, 2012, p. 9). Berikut ini adalah konstruksi pembangunan Terminal 
Kalibaru Tahap I yang terbagi menjadi lima langkah-langkah sebagai berikut: 
(Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia II, 2014, p. 64). 
 
Pekerjaan Pemancangan 
Tiang pancang merupakan struktur pondasi dari proyek pembangunan Container 
Terminal 1, Terminal Peti Kemas Kalibaru. Total jumlah tiang pancang 12.571 titik yang 
terbagi dalam 3 varian diameter yakni: diameter 1000 mm, 800 mm dan 500 mm, 
dengan panjang antara 22-35 m tanpa sambungan dengan tipe tiang pancang beton 
(concrete spun pile). Penggunaan sistem tiang pancang (deck on pile) pada konstruksi 
Container Terminal 1 ini bertujuan untuk menjaga sistem sirkulasi air di sekitar kolam 
Pelabuhan Tanjung Priok dan kecepatan dalam penyelesaian pembangunan Container 
Terminal 1. Pekerjaan pemancangan (piling work) sampai akhir tahun 2014 sudah 
mencapai 9.286 titik untuk Container Yard dan 2.106 titik untuk dermaga 1A yang telah 
selesai 100%. Untuk Container Terminal II dan III dilakukan reklamasi perairan di sisi 
utara Pelabuhan Tajung Priok yang membutuhkan 50.000.000 m3 material untuk 
reklamasi yang nantinya digunakan untuk lapangan penumpukan seluas 184 ha dan 
2.736 tiang pancang untuk dermaga (jetty). 
 
Pekerjaan Struktur Atas 
Pekerjaan struktur atas dilakukan melalui tiga langkah sebagai berikut; (a) Pekerjaan 
dermaga 1A yang didesain untuk menampung kapal dengan kapasitas 220.000 DWT. 
Kolam Dermaga 1A didesain dengan kedalaman sampai 20 m dan memiliki dimensi 
57,5 m x 850,3 m dengan struktur deck on pile dan menggunakan beton pracetak (precast 
concrete). Dermaga 1A sepanjang 450 m ditargetkan selesai di triwulan III 2015 dan 
akan selesai secara keseluruhan pada triwulan IV 2015. (b) Container Yard 1 A 
merupakan struktur deck on pile dengan sistem operasional area menggunakan crane 
yang bergerak di atas ban sehingga mobilitasnya tinggi, yang disebut dengan Rubber 
Tyred Gantry Crane (RTGC). Konstruksi atas Container Yard 1A menggunakan precast 
concrete yang didirikan di atas tiang-tiang pancang. Target penyelesaian Container Yard 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 81  
 

1A seluas 16 ha di triwulan III 2015 dan selesai secara keseluruhan pada triwulan IV 
2015 dengan total area 32 ha. Sampai dengan akhir Desember 2014 telah terpasang 
sebanyak 9.286 titik tiang pancang sedangkan untuk pekerjaan atas sampai akhir 
Desember 2015 sudah mencapai 53,678 m3 concrete in-situ dan 27,285 unit precast 
concrete terpasang. (c) Pekerjaan Dermaga 1B memiliki desain ukuran kapal yang sama 
dengan Dermaga 1A dengan kedalaman mencapai 20 m dan memiliki dimensi 50,0 m 
x 1658,4 m. Pekerjaan upper structure Jetty 1A sampai akhir 2014 sudah mencapai 65.097 
m3 dan 26.613 beton yang belum terpasang. 
 
Pekerjaan Pengerukan 
Pekerjaan Pengerukan dilakukan untuk mendapatkan kedalaman sesuai dengan 
rencana yang diinginkan agar dapat dilewati oleh jenis kapal yang direncanakan. 
Untuk Dermaga 1A dan Dermaga 1B dilakukan pengerukan sampai kedalaman 20.00 
m dengan menggunakan kapal keruk (grab dredger). Kolam Pelabuhan dan Alur 
Pelayaran dikeruk sampai 16.00 m menggunakan kapal keruk pemotong dan pengisap 
(cutter suction dredger). Volume total pengerukan sebesar 25,180,595 m3. Hasil 
pengerukan akan digunakan sebagai material reklamasi pada tahap 1B. 
 
Pekerjaan Reklamasi Container Yard 1B 
Container Yard 1B miliki dimensi 2.000 m x 850 m yang merupakan lahan reklamasi. 
Area reklamasi adalah area daratan baru yang akan difungsikan sebagai lapangan 
penumpukan peti kemas di masa yang akan datang dan material reklamasi 
menggunakan material hasil pengerukan ditambah material pasir. Pasir yang 
dibutuhkan untuk reklamasi ini adalah sebanyak 9.793.679 m3 dan pasir untuk 
reklamasi diangkut menggunakan jenis kapal keruk yang dilengkapi dengan propeller 
(untuk berlayar) dan ruang muatan material (hopper) atau yang disebut Trailing Suction 
Hopper Dredger (TSHD) dengan kapasitas 30.000 m3 untuk disebar di area reklamasi. 
Metode perbaikan tanah menggunakan lembaran plastik untuk drainase vertikal yang 
panjang dengan berkekuatan mekanik tinggi atau yang disebut Pre-fabricated Vertical 
Drain (PVD) dan preloading sampai dengan ketinggian 10,5 m. PVD yang digunakan 
sepanjang 19.162.680 m3. Pekerjaan pemasangan dinding kanal (silt curtain) telah 
diselesaikan pada akhir 2014 untuk meminimalkan lumpur akibat reklamasi. 
 
Pekerjaan Pembangunan Breakwater 
Breakwater merupakan pelindung luar area reklamasi dan keseluruhan sistem 
pelabuhan. Breakwater menggunakan struktur pondasi berupa material bambu (cluster 
dan matras) dan struktur atas berupa tumpukan batu. Pekerjaan breakwater pada 
proyek ini membutuhkan 2,1 juta m batu-batuan dengan berbagai berat antara 50-400 
kg dan 5.600.000 batang bambu yang digunakan untuk matras dan cluster bamboo. 
Struktur bambu dengan volume 5.600.000 batang tidak hanya berfungsi sebagai 
pondasi tetapi juga sebagai struktur penahan gaya lateral terhadap longsor. Ukuran 
batu yang digunakan bervariasi mulai dari 50-75 kg untuk core, dari 400 kg untuk cover. 
Jumlah total batu yang dibutuhkan adalah sebesar 2.182.613 buah. Material baja 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 82  
 

(armor) yang digunakan adalah beton yang dibuat untuk memecahkan ombak atau 
gelombang dan mengendalikan abrasi yang menggerus garis pantai (jenis A-jack) 
untuk memecah gelombang dari laut lepas.  
 
Peresmian Terminal Kalibaru Tahap I Tahun 2016 
Pengoperasian Terminal Kalibaru 
Pada tahun 2016 Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Perhubungan Budi 
Karya Sumadi, Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut B. Pandjaitan, serta Wakil 
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan pengoperasian Terminal Peti 
Kemas Kalibaru Pelabuhan Utama Tanjung Priok pada Selasa, 13 September 2016. 
Terminal Kalibaru yang memiliki kapasitas 4.500.000 TEU telah dioperasikan secara 
komersial pada tanggal 18 Agustus 2016 oleh Join Venture Company, IPC TPK dan 
Konsorsium Mitsui-PSA-NYK Line. 

Pembangunan Terminal Kalibaru didasarkan pada peraturan Presiden RI 
Nomor 36 Tahun 2012 tentang penugasan kepada PT. Pelindo II untuk membangun 
dan mengoperasikan Terminal Kalibaru. Peran pelabuhan laut memiliki arti yang 
sangat penting dalam mobilitas barang dan jasa serta keberadaan pelabuhan yang 
layak dan modern sangat diperlukan oleh sebuah negara terlebih pada negara maritim 
seperti Indonesia. Maka pelabuhan bukan hanya sekedar infrastruktur semata 
melainkan pelabuhan harus juga memiliki keunggulan komplementer yang dikelola 
dengan baik, profesional serta efisien. Selain itu terkait pentingnya konektivitas yang 
memadai baik dari prasarana dan sarana transportasi laut guna mendukung 
pertumbuhan ekonomi nasional (http://dephub.go.id/2017). 

Pengoperasian Terminal Kalibaru diharapkan dapat meningkatkan daya saing 
dalam era kompetisi yang semakin ketat dengan meningkatkan kapasitas dan 
produktifitas pelabuhan, melakukan modernisasi, penguatan kapasitas dan sinergi 
yang kuat dengan swasta dan BUMN dengan memanfaatkan pendekatan Public 
Private Partnership atau Kerjasama Pemerintah dan Swasta (Susantono dan Berawi, 
2012, p. 93). Dengan demikian peningkatan efisiensi logistik nasional benar-benar 
terwujud serta terciptanya kemandirian dalam hal infrastruktur penunjang ekonomi 
(http://dephub.go.id/2017, diakses 30 Maret 2018). 
 
Uji Coba Terminal Kalibaru Jakarta 
Terminal Kalibaru mulai diuji coba pada Jumat, 27 Mei 2016. Kehadiran Terminal 
Kalibaru ini dapat menguntungkan semua pihak dan menurunkan biaya logistik. 
Volume arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok hingga tahun 2016 adalah sekitar 
7.000.000 TEU setiap tahun. Dengan adanya Terminal Kalibaru maka kapasitas 
Pelabuhan Tanjung Priok naik dari 7.000.000 TEU per tahun menjadi 11.500.000 TEU 
per tahun (Kompas, 26 Mei 2016). 

Keberadaan Terminal Kalibaru ini menguntungkan pemerintah karena arus 
barang lancar dan dwelling time (waktu inap barang) juga menurun. Namun bagi PT 
Pelindo II keuntungan itu belum akan dirasakan sekarang mengingat peti kemas 
Terminal Kalibaru masih sama saja. Investasi infrastruktur memang membutuhkan 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 83  
 

waktu lama untuk balik modal (Anita dan Asmadewa, 2017, p. 74). Oleh karena itu 
pemerintah memberi konsesi 70 tahun kepada PT Pelindo II untuk mengelola 
Terminal Kalibaru ini. Keberadaan Terminal Kalibaru ini juga akan sangat membantu 
pelayaran karena kapal tak perlu menunggu lama untuk antre masuk ke pelabuhan 
sehingga lebih efesiensi. Keberadaan Terminal Kalibaru juga menekan biaya logistik 
yang mencapai 30% (Kompas, 26 Mei 2016). 

Terminal Kalibaru yang lebih modern dan efesien akan membuat proses 
pemeriksaan barang lebih cepat. Selain itu barang ekspor-impor tidak perlu singgah 
ke Singapura karena kapal-kapal besar sudah bisa langsung menuju ke Terminal 
Kalibaru yang mempunyai kedalaman laut 14 meter dan masih akan diperdalam 
hingga 20 meter. Terminal Kalibaru akan memiliki lima terminal yakni terminal peti 
kemas 1, 2, 3, dan terminal produk 1 dan 2. Sampai tahun 2016 dibangun terminal 1 
sedangkan pembangunan empat terminal lainnya menyusul. Untuk tahap II 
pembangunan baru diizinkan pemerintah jika utilisasi tahap I mencapai 70 %. 
Terminal Kalibaru memiliki luas sekitar 32 hektar dan memiliki kapasitas 4.500.000 
TEU, dilengkapi dermaga sepanjang 850 meter sehingga bisa menampung dua kapal 
mother vessel dan satu kapal feeder (pengumpan). Dermaga ini bisa melayani kapal peti 
kemas berkapasitas 13.000-15.000 TEU dengan bobot di atas 150.000 DWT (Kompas, 26 
Mei 2016). 

Terminal Kalibaru melakukan uji coba pertama  dengan melayani Kapal MV 
Selat Mas dengan GRT 14.000 ton dilaksanakan pada tahun 2016 untuk pelayaran 
domestik yang mampu membongkar 500 boks peti kemas sedangkan pada uji coba 
yang kedua melalui Kapal Sinar Sumba dengan GRT 18 ribu ton sandar di Terminal 
Kalibaru dan melaksanakan kegiatan bongkar 398 boks impor dan 385 boks ekspor. 
Terminal Kalibaru sudah dipasang peralatan bongkar muat quay container crane 
sebanyak 8 buah dengan tipe super post-panamax crane dengan produktivitas 27 s/d 30 
boks/crane/jam dan rubber tyred gantry crane (RTGC) telah terpasang sebanyak 20 unit, 
60 unit mobil truk dan 2 unit penanganan peti kemas kosong. Terminal ini juga 
dilengkapi dengan Information Communication Technology (ICT) dengan Cosmos System. 
ICT yang diterapkan di terminal  ini merupakan ICT  yang tercanggih dan 
termodern pada saat itu (https://www.npct1.co.id/introduction, diakses pada 30 Maret 
2018). 

Terminal Kalibaru diproyeksikan untuk dapat melayani kapal peti kemas 
dengan kapasitas 13.000-15.000 TEU dengan bobot di atas 150.000 DWT. Terminal ini 
dioperasikan oleh salah satu perusahaan lPC Group yaitu New Priok Container Terminal 
One (NPCT1). NPCT1 merupakan terminal peti kemas pertama dalam pembangunan 
tahap 1 Terminal Kalibaru yang terdiri atas tiga terminal peti kemas dan dua terminal 
produk. Pembangunan tahap 2 Terminal Kalibaru akan dilaksanakan setelah 
pengoperasian tahap 1 Terminal Kalibaru. Ketika proyek Terminal Kalibaru telah 
selesai akan ada total tujuh terminal peti kemas dan dua terminal produk dengan area 
pendukungnya yang memiliki total area 411 hektare 
(https://www.npct1.co.id/introduction, diakses pada 30 Maret 2018). 

 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 84  
 

Manfaat Pembangunan Terminal Kalibaru 
Adapun manfaat dari pengoperasian Terminal Kalibaru berdasar Laporan Tahunan 
PT Pelabuhan Indonesia II adalah sebagai berikut. (1) Peningkatan kapasitas 
Pelabuhan Tanjung Priok yang semula 7.000.000-8.000.000 TEU per tahun menjadi 
12.000.000 TEU per tahun (tahap I tahun 2016) sehingga dapat menghindari risiko 
kongesti akibat pertumbuhan peti kemas di pelabuhan yang tinggi; (2) Pelabuhan 
Tanjung Priok mampu melayani kapal-kapal di atas 10.000-15.000 TEU dengan draft 
16 m.LWS di terminal. Terminal ini akan memberikan pelayanan cepat dan tepat 
dengan fasilitas modern sehingga akan menjadi “Port of Choice” (pelabuhan pilihan) 
bagi kapal liner internasional dan regional dan pada akhirnya terminal akan menjadi 
hub port di Indonesia;  (3) Tersedianya dedicated terminal untuk product terminal (oil and 
gas) dengan kapasitas 10.000.000 kubik meter dan terminal ini sekaligus dapat 
dijadikan sebagai “buffer stock” nasional untuk persediaan minyak bumi dan gas untuk 
wilayah barat Indonesia; (4) Tercipta lapangan pekerjaan selama pembangunan 
maupun setelah terminal dioperasikan, tidak hanya di dalam operasi pelabuhan tetapi 
juga di seluruh sektor kepelabuhanan dan yang berhubungan dengan jaringan 
distribusi logistik barang; (5) Peningkatan aktivitas dan operasional pelabuhan yang 
diimbangi dengan produktivitas dan standar pelayanan internasional yang 
berdampak pada peningkatan penghematan biaya operasional kepelabuhanan dan 
penghematan nilai waktu (value of time); (6) Peningkatan nilai lahan (land value) hasil 
reklamasi dan di sekitar koridor pelabuhan dan memberikan citra positif bagi kegiatan 
operasional di Pelabuhan Tanjung Priok, karena adanya akses jalan yang memadai 
antara pelabuhan dengan kawasan industri karena Terminal Kalibaru diproyeksikan 
untuk lebih mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan di masa 
mendatang. 

 
Simpulan 
Pada akhir 2011 Pelabuhan Tanjung Priok telah mampu menampung peti kemas 
sebesar 5.930.000 TEU sedangkan kapasitasnya hanya sebesar 5.000.000 TEU akibat 
dari peningkatan peti kemas tersebut pemerintah telah menyurvei tujuh lokasi calon 
pelabuhan atau terminal pendukung Pelabuhan Tanjung Priok yang diprediksi jenuh 
pada tahun 2013 dan salah satu di antaranya yaitu Kalibaru. Pembangunan Terminal 
Kalibaru Tahap I dilakukan dengan mereklamasi laut yang dimulai dari breakwater di 
Pelabuhan Tanjung Priok. Pembangunan terminal tersebut sebagai upaya pemerintah 
mengantisipasi perkembangan Pelabuhan Tanjung Priok yang setiap tahun semakin 
padat melayani kedatangan kapal dan muatan dengan berbagai jenis barang yang 
termasuk barang dalam peti kemas hingga mencapai 6.500.000 TEU pada tahun 2016. 
Sebelum Terminal Kalibaru beroperasi, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, 
melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT), Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok 
mendorong pihak operator pelabuhan agar mengoptimalkan kapasitas lahan dan 
meningkatkan kinerja layanan di pelabuhan dengan cara membuat lahan 
penumpukan peti kemas baru di dalam pelabuhan dan menetapkan tarif pinalti pada 
peti kemas impor yang sudah mendapatkan Surat Penyelesaian Pembongkaran 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 74-85 © 2019 

Terminal Kalibaru sebagai Solusi Mengatasi Kemacetan Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok  | 85  
 

Barang (SP2B) dari Bea Cukai. Dengan begitu Pelabuhan Tanjung Priok mampu 
melayani peti kemas yang lebih besar dan menghindari stagnan. Dasar pembangunan 
Terminal Kalibaru adalah hasil kajian dari Japan International Cooperation Agency (JICA) 
dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terkait pengembangan Pelabuhan Tanjung 
Priok. 
 
Referensi 
Abdullah, T. dan Surjomihardjo, A. (1985). Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan 

Perspektif. Jakarta: PT. Gramedia.  
Anita, Sherly L. Asmadewa, I. (2017). Analisis Dwelling Time Impor pada Pelabuhan 

Tanjung Priok Melalui Penerapan Theory of Constraints. Jurnal Perspektif Bea dan 
Cukai, 1 (1): 73-87. 

Departemen Perhubungan Republik Indonesia, Laporan Rencana Induk PT Pelabuhan 
Tanjung Priok Provinsi DKI Jakarta, tahun 2012. 

Frederick, W. H. S. (1984). Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Reformasi. 
Jakarta: LP3ES. 

Hamid, A. R. dan Majid, M. (2011) Pengantar ilmu sejarah. Yogyakarta: Ombak.  
http://dephub.go.id/beta2017/post/read/pengoperasian-terminal-kalibaru-

diharapkan-dapat-meningkatkan-daya-saing-dalam-era-kompetisi-yang-
semakin-ketat, (diunduh pada Jumat, 30 Maret 2018, Pukul, 11.00 WIB). 

https://www.npct1.co.id/introduction/, diunduh 30 Maret 2018.  
https://www.viva.co.id/arsip/347928-pelindo-ii-raih-konsesi-70-tahun-terminal-

kalibaru, diunduh pada Jumat, 30 Maret 2018.  
Laporan Tahunan PT Pelabuhan Indonesia II Tahun 2014, 2015. 
Susantono, B. dan Berawi, Mohammed A. (2012). Perkembangan kebijakan 

pembiayaan infrastruktur transportasi berbasis kerjasama pemerintah swasta di 
Indonesia. Jurnal Transportasi, 12 (2): 93-102. 

“Pelabuhan Baru Mendesak Dibangun: Pelabuhan Tanjung Priok Sudah Stagnan”, 
dalam Kompas, Jumat, 25 Maret 2011. 

“Pengembangan Tanjung Priok: Lima Konsorsium Lulus di Kalibaru”, dalam Kompas, 
Jumat, 26 Agustus 2011. 

“Tender Terminal Kalibaru Dimulai Mei: BUMN Boleh Bersinergi untuk Kalibaru, 
tetapi Tetap Harus Tender” dalam Kompas, Sabtu, 25 Maret 2011. 

“Terminal Kalibaru Diperebutkan: Tujuh Konsorsium Bertarung di Pelabuhan 
Kalibaru”, dalam Kompas, Jumat, 12 Agustus 2011. 

 “Terminal Kalibaru Diuji Coba: Biaya Logistik Diharapkan Segera Turun” dalam 
Kompas, Sabtu 26 Mei 2016. 

 “Terminal Kalibaru Sebagai Magnet Pertumbuhan”, dalam Kompas, Jumat, 1 Februari 
2013. 

 


