
































Microsoft Word - 1. Samidi_OK.docx


Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 1  
 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: 
Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX 

 
Samidi 

Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya,  
Universitas Airlangga  

 
Alamat korespondensi: sambaskoro@gmail.com 

 
 

Abstract 
 

This study examines why does Ludruk represent the cultural identity of the people 
of Surabaya? How does society appreciate the traditional theater, especially in 
Ludruk in their daily practice? The purpose of this article explains the historical 
reality of Ludruk art that serves as entertainment and cultural identity. This article 
uses the historical method by relying on historical sources. The result shows that 
theater traditions that existed and famous in Surabaya at the beginning of the 20th 
century were Comedy Stambul, Wayang Wong, and Ludruk, then appeared 
Kethoprak in the late 1930s. The appearance of this theater has been adapted to the 
tastes of the support community. Comedy Stambul is a theater that originated in 
India, then spread to Southeast Asia. Comedy Stambul is considered as a hybrid 
art because it comes from a blend of local cultural elements, while Wayang Wong, 
Ludruk, and Kethoprak an original art derived from customs and local values. 
Theater that represents the cultural identity of the people of Surabaya is Ludruk. 
 
Keywords: Cultural Identity; Performing Arts; Theater Tradition; Ludruk. 

Abstrak  
 

Kajian ini menganalisis mengapa kesenian Ludruk merepresentasikan identitas 
budaya masyarakat Kota Surabaya? Bagaimana masyarakat mengapresiasi teater 
tradisi terutama pada kesenian Ludruk dalam praktik keseharian mereka? Tujuan 
artikel ini menjelaskan realitas historis kesenian Ludruk yang berfungsi sebagai 
hiburan dan identitas budaya. Artikel ini disusun menggunakan metode sejarah 
dengan mengandalkan sumber-sumber sejarah. Hasil menunjukkan bahwa teater 
tradisi yang eksis dan populer di Surabaya pada awal abad ke-20 adalah Komedi 
Stambul, Wayang Wong, dan Ludruk, kemudian muncul Kethoprak pada akhir 1930-
an. Tampilan teater ini telah disesuaikan dengan selera masyarakat pendukung. 
Komedi Stambul merupakan teater yang berasal dari India, kemudian menyebar 
di Asia Tenggara. Komedi stambul dianggap sebagai kesenian campuran karena 
dihasilkan dari perpaduan unsur-unsur budaya lokal. Sementara itu, Wayang 
Wong, Ludruk, dan Kethoprak merupakan kesenian asli yang bersumber dari adat-
istiadat dan nilai-nilai lokal. Berdasar ketiga teater tradisi ini, teater yang 
merepresentasikan identitas budaya masyarakat Kota Surabaya adalah Ludruk.  
 
Kata Kunci:  Identitas Budaya; Seni Pertunjukan; Teater Tradisi; Ludruk. 

Diterima/ Received:  
21 Maret 2019 
 
Disetujui/ Accepted:  
3 Juli 2019 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 2  
 

Pendahuluan 
Teater komersial mulai dikenal oleh masyarakat Surabaya ketika diselenggarakan 
pertunjukan drama Eropa pada pertengahan abad ke-19 (von Faber, 1931, p. 339). 
Pendukung hiburan komersial datang dari kelas menengah kota yang mengalami 
peningkatan bersamaan dengan perkembangan perkebunan, perdagangan, dan 
industri. Kondisi ini diikuti oleh munculnya teater tradisi sebagai alternatif hiburan 
baru masyarakat kota. Selama paruh pertama abad ke-20, eksistensi teater tradisi 
menunjukkan popularitas dan masa kejayaan atau era keemasan, tetapi keadaan 
berbalik ketika budaya lokal berbenturan dengan budaya global pada akhir abad ke-
20. Gaya gerak sentrifugal budaya global didukung oleh percepatan jaringan 
komunikasi, informasi, teknologi, dan perdagangan, menimbulkan dampak 
percepatan perubahan sosial-budaya dan kejutan budaya. Ada dua fase yang dialami 
ketika berlangsung hubungan budaya lokal dan global, yakni fase homogenisasi dan 
hibriditasi (Pisani, 2004, p. 40). 

Dampak yang ditimbulkan oleh fase globalisasi dapat mengancam keragaman 
budaya lokal atau sebaliknya membangkitkan usaha melawan penciptaan budaya 
global (Rosenmann, et al., 2016, p. 203). Akan tetapi, realitas eksistensi teater tradisi 
terhempas dalam gelombang homogenisasi. Strategi teater tradisi bertahan hidup 
pada akhir abad ke-20 ternyata tidak mampu menguatkan akar, sehingga masyarakat 
pendukung tidak antusias lagi terhadap hiburan ini. Paruh pertama abad ke-20 adalah 
waktu yang menunjukkan eksistensi teater tradisi menyatu dalam kehidupan sehari-
hari masyarakat. Akhir abad ke-20 merupakan waktu yang menunjukkan titik balik 
yang mengarah pada penurunan, kemunduran, dan kurang menarik sebagai hiburan. 
Artikel ini tidak bermaksud menelaah pengaruh budaya global terhadap kemunduran 
teater rakyat, tetapi lebih ditekankan pada kajian popularitas teater tradisi yang 
merepresentasikan identitas budaya pada paruh pertama abad ke-20. 

Menurut Brandon (2003), teater tradisi merupakan seni pertunjukan tradisional 
di Asia Tenggara yang terikat oleh faktor-faktor di luar kesenian, di antaranya 
perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Faktor eksternal ini memengaruhi adaptasi 
dan perubahan kesenian. Soedarsono (2003, p. 12) menyatakan bahwa perkembangan 
seni pertunjukan dipengaruhi oleh faktor-faktor nonkesenian. Kajian yang dilakukan 
oleh Peacock (2005) terhadap kesenian Ludruk membuktikan adanya adaptasi 
kesenian Ludruk terhadap lingkungan sosial. Fungsi Ludruk tidak hanya sebagai 
hiburan belaka, tetapi juga sebagai perwujudan media komunikasi dan propaganda, 
ritus modernisasi, dan representasi kelas sosial.  

Gagasan tentang pengaruh eksternal terhadap seni pertunjukan menunjukkan 
bahwa seni pertunjukan tradisional dikaji melalui pendekatan kontekstual. 
Pendekatan kontekstual memfokuskan pada konstelasi sejumlah elemen, bagian, dan 
fenomena, yang berhubungan dengan kesenian. Seni pertunjukan juga dapat dikaji 
dengan pendekatan tekstual. Pendekatan tekstual meliputi telaah simbolik, struktural, 
dan kaidah-kaidah kesenian (Ahimsa-Putra, 2000, p. 399). Artikel ini menggunakan 
pendekatan kontekstual untuk menjelaskan eksistensi teater tradisi dengan fokus 
kajian pada kesenian Ludruk pada awal sampai pertengahan abad ke-20. Batasan 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 3  
 

waktu menegaskan perspektif historis yang implikasinya tampak pada pemilihan 
sumber sejarah dari data tertulis sezaman khususnya koran dan majalah. 
 
Metode 
Artikel ini merupakan hasil dari penelitian sejarah. Karya sejarah adalah tulisan 
tentang peristiwa dan realitas yang terjadi pada masa lampau. Mengetahui realitas 
dan sesuatu yang terjadi dengan durasi satu abad yang lalu, dalam konteks ini tulisan 
ini adalah pada awal abad ke-20, penjelasan sejarah mengandalkan berbagai bukti 
yang tercetak terutama terbitan sezaman, yakni koran dan majalah. Data cetak untuk 
penelitian ini diperoleh dari dokumen, laporan, majalah, dan koran yang dapat 
diklasifikasi berdasar (1) sumber resmi pemerintah kolonial, (2) terbitan sezaman, (3) 
laporan. Data ini diperoleh melalui penelusuran di kantor arsip dan perpustakaan, 
seperti Kota Surabaya (di antaranya Arsip Kota Surabaya, Arsip Provinsi Jawa Timur, 
dan Perpustakaan), Jakarta (Perpustakaan Nasional), Yogyakarta (Perpustakaan 
Provinsi khususnya pada koleksi langka), dan Surakarta (Museum Pers). Sumber 
resmi pemerintah yang terdapat di kantor Arsip Kota Surabaya dan Provinsi Jawa 
Timur berupa bundel-bundel arsip, sedangkan sumber terbitan sezaman dilacak di 
ruang koleksi koran di perpustakaan-perpustakaan terutama Perpustakaan Provinsi 
Yogyakarta, Museum Pers Surakarta, dan Perpustakaan Nasional Jakarta. Jenis koran 
yang sudah dilacak adalah Bintang Hindia, Bintang Soerabaia, Pewarta Soerabaia, De 
Indische Courant, Soeara Asia, Suara Masjarakat, Trompet Masjarakat, Java Post, 
Perdamaian, dan Obor Surabaja. Majalah dan terbitan berkala yang dilacak, antara lain 
Medan Prijaji, Viribus Unitis, Panjebar Semangat, Pandji Poestaka, dan Mutiara. 

Data tersebut diklasifikasi, diverifikasi, dan dianalisis untuk kepentingan 
penulisan sejarah (artikel sejarah). Semua data yang diperoleh diverifikasi dan dikritik 
terutama mengenai validitas berita melalui pengecekan dan membandingkan 
beberapa berita yang serupa. Hal ini untuk meminimalkan kesalahan pada data 
penelitian. Analisis data dilakukan sejak pengumpulan dilakukan sampai penulisan 
berakhir. Teknik analisis data disesuaikan dengan jenis data yang dicapai, yaitu (1) 
teknik analisis historis (perkembangan, perubahan, dan fenomena) yang ditujukan 
untuk memahami dan mendeskripsikan sejarah teater tradisi. 

 
Kesenian Ludruk Menjadi Pertunjukan Komersial 
Kesenian Ludruk lahir melalui modifikasi berbagai unsur teater komersial yang lebih 
dahulu muncul pada akhir abad ke-19. Perubahan kesenian Ludruk dari permainan 
rakyat ke seni pertunjukan komersial merupakan bentuk kreativitas masyarakat 
menanggapi kebutuhan hiburan masyarakat. Dasar pembentukan kesenian Ludruk 
disesuaikan dengan unsur-unsur dan nilai-nilai budaya lokal. Hal ini menunjukkan 
bahwa Ludruk berasal dari proses penciptaan, pendukungan, pemeliharaan, dan 
pengembangan, yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Kesenian tidak pernah berdiri 
lepas dari masyarakat (Kayam, 1981, pp. 38-39). 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 4  
 

Kesenian Ludruk pada awal abad ke-19 bukan sebagai genre kesenian, tetapi 
bagian adat-istiadat yang diperagakan layaknya pertunjukan yang mengandung 
unsur magis. Hal ini diketahui dari karya Thomas Stamford Raffles (1811–1816), 
History of Java, sebagian isinya menjelaskan mengenai kesenian yang digemari 
masyarakat di Jawa, tetapi buku ini tidak mencantumkan Ludruk (Raffles, 2008, pp. 
230–239). Perkembangan Ludruk menjadi genre kesenian dimulai dari Bandan, Lerok, 
dan Besutan. Permainan masih mempertontonkan kesaktian yang menyerupai sulap 
(Anonim, 1953, p. 850). Perkembangan Ludruk dimulai pada awal abad ke-20, ketika 
Lerok melakukan improvisasi sebagai seni pertunjukan. Upaya mengubah permainan 
dipengaruhi oleh popularitas teater komersial Komedi Stambul dan Wayang Wong. 
Pada dekade pertama abad ke-20, masyarakat mengenal istilah baru sebagai ganti dari 
Lerok, yakni Besutan atau Loedroek. Istilah ini muncul dalam pemberitaan koran yang 
terbit di Kota Surabaya pada awal abad ke-20 Pentas Besutan atau Loedroek masih 
bernuansa magis meskipun menyertakan unsur cerita dan drama (Bintang Soerabaia, 
24 Mei 1904). 

Pertunjukan Besutan berlangsung pada 1911 sampai 1931 (Pewarta Soerabaia, 14 
Maret 1953). Besutan berubah ketika telah memiliki struktur pentas, seperti tari ngremo, 
kidungan, repertoar (cerita), dan dhagelan. Meskipun telah mengadopsi unsur-unsur 
drama, dialog dalam pertunjukan masih disampaikan secara spontan tanpa struktur 
utuh. Cerita mengisahkan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur-
unsur teater ini terus dikembangkan hingga mengubah struktur pentas Besutan. Pada 
dekade ketiga abad ke-20, istilah dan permainan Besutan yang bernuansa magis dapat 
dipastikan telah berubah menjadi Ludruk Sandiwara, yaitu bentuk pertunjukan teater 
komersial yang sebagian besar unsur-unsurnya bersumber dari perangkat dan nilai-
nilai lokal (Obor Surabaja, 8 Januari 1952). 

 
Pertunjukan Komersial Pendahulu Ludruk: Komedi Stambul dan Wayang Wong 
Seni pertunjukan komersial di Kota Surabaya diawali oleh drama Eropa dan konser 
musik klasik dengan instrumen, seperti biola, piano, dan selo, yang dimainkan oleh 
seniman berkebangsaan Eropa pada pertengahan abad ke-19. Kelompok musik dan 
drama datang dari Italia dan Prancis, seperti Cagli, Balsofiore, Pompei, Torsoni, dan 
Van Kinsbergen (von Faber, 1931, pp. 338-340). Hiburan ini hanya dinikmati oleh 
golongan Eropa. Hal ini menstimulasi kelahiran Toneel Melayu atau Komedi Stambul 
pada akhir abad ke-19. Karakteristik musik digabung dari beberapa instrumen, seperti 
kroncong, gambang kromong, dan gamelan, sedangkan repertoar mengikuti cerita 
Arab dan Melayu. Beberapa perlengkapan pentas juga meniru drama model Eropa, 
misalnya panggung, kostum, pencahayaan, tiket, layar bergambar, poster, naskah, 
dan tiket. Penggabungan beberapa unsur kesenian menyebabkan Komedi Stambul 
disebut kesenian campuran (hybrid) yang dikonstruksi dari realitas sosial-budaya 
masyarakat urban (Cohen, 2006, pp. 2-4). 

Komedi Stambul menyebar dari kota-kota di sekitar Selat Malaka, yaitu (1) dari 
Pontianak menyebar ke Singapura dan ke Sumatra, (2) dari Singapura ke Sumatra, dan 
(3) kesenian asli yang dikembangkan oleh masyarakat Sumatra (Pandji Poestaka, 12 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 5  
 

Juni 1924). Menurut Cohen (2001, p. 315) teater komedi muncul ketika komunitas 
Persia di Bombay mempelajari kesenian dan budaya Eropa. Mereka meniru berbagai 
bentuk kegiatan, seperti bermain kartu, belajar musik klasik, mendirikan 
perhimpunan kesusastraan, dan bermain drama. Dari kegiatan ini lahir kelompok 
drama amatir Persia Elphinstone pada 1850. Unsur-unsur teater dimodifikasi dari 
drama Eropa ditambahkan lagu, tari, komedi, dan sastra lokal. Perkumpulan Persia 
Elphinstone melakukan pertunjukan di India, kemudian berpindah-pindah tempat di 
daerah sekitar Selat Malaka. Hal yang sama juga dilakukan oleh Persia Curtizon dari 
Kalkuta. 

Pertunjukan komedi dari India ditiru oleh perkumpulan lokal dengan 
menyajikan pertunjukan sesuai bahasa yang dikuasai oleh masyarakat. Pesan verbal 
diubah dan diterjemahkan dalam bahasa daerah (Cohen, 2001, pp. 315-319). 
Masyarakat di Sumatra dan Kalimantan membentuk tiruan kesenian yang disesuaikan 
dengan budaya lokal, seperti teater rakyat Abdul Muluk di Palembang dan Mamanda 
di Kalimantan Selatan. Tanpa mempertegas siapa yang menciptakan, kutipan berikut 
ini menunjukkan bahwa Komedi Stambul adalah hiburan masyarakat Melayu. 

 
"Dari Riau toneel Melajoe itoe pindah ke Padang, dibawa oleh seorang jang 
bernama si Nong. Pertoendjoekan itoe disoekai benar oleh orang Padang. Tiada 
berapa lama mendjalarlah pertoendjoekan itoe di Soematra Barat, sehingga 
dengan segera djoega didapat orang-orang Padang, Pariaman, Padang Pandjang, 
dan tempat-tempat jang lain, jang soeka dan tjakap bermain. Tjerita jang 
dimainkan mereka jaitoe tjerita jang terambil dari kitab-kitab Melajoe, misalnja 
sjair Soeltan Abdoel Moeloek, Seri Bidasari, Selendang Delima, Sitti Zoebaidah, 
Ken Tamboelian, Tadjoel Moeloek, hikajat Sjah Merdan, hikajat Djohar Manikam, 
dll." (Pandji Poestaka, No. 24 Thn. II, 12 Juni 1924) 

 
Teater komedi di Jawa disebut Komedi Jawa dan Wayang Cerita yang muncul 

pada akhir abad ke-19. Perkumpulan Komedi Jawa dibentuk oleh Raden Adipati 
Sutadiningrat dan Raden Bagus Jayawinata di Pandegelang pada 1875. Wayang Cerita 
berkembang di Bogor yang dimainkan oleh komunitas Cina pada perayaan tahun 
baru Cina. Masyarakat Surabaya mengenal pertunjukan komedi ketika Opera Perzie 
dari Bombay mengadakan pentas selama beberapa hari di alun-alun dekat Pasar Besar 
pada 1888. Pentas Opera Perzie lebih besar diapresiasi oleh komunitas India (Cohen, 
2001, pp. 321-327). Pada 1891, Komedi Stambul dibentuk pada 1891 oleh Yap Goan 
Thay, A. Mahieau, dan van der Laan. Pertunjukan diselenggarakan di Kota Surabaya, 
kemudian berpindah-pindah tempat ke beberapa kota, seperti Mojokerto, Madiun, 
Surakarta, dan Semarang (Cohen, 2006, pp. 87-90). Pertunjukan Komedi Stambul 
ternyata tidak hanya berpindah tempat antarkota di Jawa, tetapi juga pernah tampil 
di Medan (Bintang Hindia, No. 1 Thn II, 1904). 

Pentas Komedi Stambul dilakukan di gedung permanen dan di tanah lapang. 
Peralatan panggung dan tenda didesain khusus supaya mudah dibongkar dan 
dipindah. Ketertarikan penonton tertuju pada badut dan sri panggung (primadona). 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 6  
 

Penonton menyambut dengan suara gaduh, teriakan, siulan, dan riuh tepuk tangan, 
ketika aktor pujaan memasuki panggung. Perhatian pada seniman Komedi Stambul 
tidak sebatas ketika tampil di panggung pertunjukan. Kutipan berikut ini 
menunjukkan perhatian lebih penonton laki-laki pada aktris primadona. 

 
"Teroetama kaloe tiada ada badoet-badoet, stamboel keilangan banjak 
kekoeatannja boeat menarik penonton. Djoega sri panggoeng menarik hatinja 
penonton, teroetama penonton lelaki. Maski orang-orang prampoean stamboel di 
waktoe siang hari oemoemnja djaoeh dari pada tjantik, toch, waktoe malem 
dengen pertoeloengannja poepoer, dan lain-lain sebaginja, marika bisa keliatan 
manis sekali. [.....] Ia gila sama itoe sri panggoeng, bebrapa orang Tionghoa lain, 
kepalanja djoega soedah dibikin poesing oleh itoe prampoean-prampoean 
stamboel dan soedah borosken oeang tiada sedikit." (Pewarta Soerabaia, 16 Mei 
1922) 

 
Kutipan itu ditulis oleh seorang wartawan koran Pewarta Soerabaia yang sedang 

menonton sambil melakukan wawancara dengan seorang penonton Stamboel Malacca 
yang pentas di kawasan Kranggan. Dalam kutipan itu tampak adanya hubungan 
sebagian penonton laki-laki dan pemain perempuan menjalin cinta semu di luar 
panggung. Hubungan ini menyiratkan peran ganda pemain perempuan. Penonton 
Komedi Stambul datang dari berbagai latar belakang sosial dan golongan etnik, 
seperti Jawa, Tionghoa, Indo, dan Arab. Kehadiran Komedi Stambul merupakan 
wujud kreativitas yang diterima secara luas oleh segenap lapisan masyarakat dan 
menjadi pelopor pertunjukan komersial yang merakyat. Pertunjukan komersial 
Komedi Stambul di Kota Surabaya hadir dalam waktu yang hampir bersamaan 
dengan kemunculan kesenian Wayang Wong. 

Komersialisasi Wayang Wong dimulai pada akhir abad ke-19 ketika dipentaskan 
di luar lingkungan istana/kraton Kasunanan. Kemunculan Wayang Wong sebagai genre 
kesenian diduga sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit yang disamakan dengan 
kesenian raket (Brandon, 2003, p. 67). Pada masa kerajaan Mataram, Wayang Wong 
menjadi salah satu bagian simbol kemegahan istana yang memiliki beberapa fungsi, 
di antaranya sarana hiburan, simbol legitimasi raja atau bangsawan, dan kemewahan 
tradisi Jawa. Hal ini tampak pada pementasan satu repertoar tidak cukup dalam waktu 
satu malam. Pemain wayang diperankan oleh abdi dalem dan bangsawan kraton yang 
khusus mengelola kesenian, sehingga tidak memiliki hubungan yang akrab dengan 
rakyat selama abad ke-19. Wayang Wong istana menjadi pertunjukan komersial ketika 
berlangsung perubahan sosial budaya di Jawa dan adanya pengaruh budaya Barat 
(Soedarsono, 2003, pp. 110-115). Ketika Wayang Wong menjadi kesenian komersial 
berarti kedudukannya tidak lagi sebagai kesenian istana, tetapi bagian dari 
kesenian/teater rakyat (Java Post, 8 Februari 1955). 

Komersialisasi Wayang Wong istana terjadi pada 1895 yang dilakukan oleh 
pengusaha Cina bernama Gan Kam (Brandon, 2003, p. 71; Soedarsono, 2003, pp.  112-
113). Perkumpulan Wayang Wong lain sudah mengadakan pertunjukan di Batavia 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 7  
 

pada tahun 1890. Wayang Wong dari Solo yang dipimpin oleh Ong An Hoang juga 
pentas di Kota Surabaya pada Juni 1891, kemudian dilanjutkan oleh Bambang Langen 
Koesoemo pada Agustus 1891 (Cohen, 2001, p. 326). Dengan demikian, pertunjukan 
komersial Wayang Wong telah dikenal oleh masyarakat Surabaya bersamaan dengan 
lahirnya Komedi Stambul. Pada awal abad ke-20, popularitas Wayang Wong telah 
menyebarluas di seluruh lapisan masyarakat. Hal ini yang mendorong munculnya 
inisiatif pembentukan perkumpulan Wayang Wong profesional dan amatir (Java Post, 
8 Februari 1955). Contohnya adalah Wayang Wong profesional yang dibentuk di 
Kampung Grudo oleh orang Cina pada awal abad ke-20. Bekas pabrik beras di Grudo 
dimanfaatkan untuk menyelenggarakan pentas (Bintang Soerabaia, 12 April 1904). 
Perkumpulan Wayang Wong lain juga muncul, yakni Langen Hesti Budoyo di Ketabang 
yang dipimpin oleh Raden Mertodiwirjo (Bintang Soerabaia, 28 April 1904). Contoh lain 
adalah Wayang Wong amatir yang dibentuk oleh J. Schoelten dengan pemain terdiri 
atas sekelompok murid. Perkumpulan ini mengadakan pertunjukan di Gedung 
Kesenian (Schouwburg) dan Kebun Raja (Stadstuin) untuk penggalangan dana (Pewarta 
Soerabaia, 11 Juli 1916). 

Pentas diadakan di tempat semipermanen dan permanen selama beberapa hari 
atas inisiatif sendiri atau undangan perorangan dan organisasi sosial (Bintang 
Soerabaia, 4 Juli & 20 Agustus 1912). Penonton utama berasal dari komunitas Jawa. Hal 
ini terkait dengan dialog pertunjukan menggunakan bahasa Jawa halus (Jawa Krama) 
yang hanya dipahami oleh orang Jawa. Seperti pertunjukan panggung Komedi 
Stambul, pemain utama (primadona) selalu mendapat sambutan (Bintang Soerabaia, 13 
Januari 1904). Kehadiran Komedi Stambul dan Wayang Wong menunjukkan realitas 
hiburan kota selama paruh pertama abad ke-20. Keberadaannya ibarat ungkapan 
“patah tumbuh hilang berganti”. Wayang Wong selalu hadir di tengah masyarakat, 
baik perkumpulan yang dibentuk di Kota Surabaya, misalnya Wayang Wong Saritomo, 
maupun perkumpulan dari kota lain, misalnya Ngesti Pandowo dari Semarang, 
memilih Kota Surabaya tujuan pentas pada 1930-an (Panjebar Semangat, No. 16, 17 
Desember 1938; No. 45 & 46, 6 & 13 Juli 1940).  

Kreativitas berkesenian masyarakat tidak padam meskipun selama 
pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan karena kondisi sosial, ekonomi, dan 
politik tidak stabil. Kreativitas masyarakat Surabaya terlihat lagi ketika Wayang Wong 
Langen Sedya Rahayu dirintis oleh Soeradi pada 1948 (AKS, No. 34.786 Box 2041). 
Komedi Stambul dan Wayang Wong telah mengakar sebagai hiburan masyarakat 
Surabaya pada awal abad XX, tetapi bukan representasi identitas seni-budaya 
Surabaya. 

 
Ruang Pertunjukan Teater Komersial 
Pentas teater komersial diselenggarakan berdasar inisiatif perkumpulan, undangan 
perorangan untuk memeriahkan pesta (kelahiran, khitanan, dan pernikahan), dan 
undangan organisasi sosial untuk memeringati hari kelahiran atau penggalangan 
dana. Pertunjukan secara rutin juga diselenggarakan secara reguler di kegiatan 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 8  
 

pameran kolonial dan pasar malam. Ketika kegiatan ritual selamatan kampung, 
berbagai jenis kesenian tampil di kampung-kampung. 
 
Pameran Kolonial 
Pasar malam dan jaarmarkt menjadi ruang bagi Komedi Stambul, Wayang Wong, dan 
Ludruk menghibur masyarakat. Pameran jaarmarkt pertama diselenggarakan pada 14–
17 Mei 1905 di Taman Kota (Stadstuin) (von Faber, 1930: 14), yang berlanjut setiap 
tahun sekali sampai 1939. Secara harafiah jaarmarkt artinya aktivitas pasar yang 
dikemas dalam wujud pameran (tentoonstelling). Pameran digunakan sebagai strategi 
ekonomi pemasaran melalui kombinasi kegiatan perdagangan dan waktu senggang. 
Beberapa jenis produk kerajinan didatangkan dari berbagai daerah di Hindia Belanda 
(Jaspers, 1908: 4-7). Agenda pemasaran dimeriahkan oleh berbagai jenis hiburan, 
seperti pertunjukan kesenian rakyat (Wayang Wong dan Ludruk), pemutaran gambar 
idoep, musik, dan lomba memanah (Jaspers, 1908: 4-7). Melalui ruang pameran, 
kesenian Ludruk semakin dikenal oleh masyarakat. 
 

"Banjak orang di tempat pertoendjoekan itoe, boekan sadja terdapat berbagai 
pekerjaan haloes jang ditanding, tetapi djoega berbagai permainan, seperti 
Gamelan, Wajang Koelit, Gamboeh, Gandroeng Bali, dan Loedroekan." (Bintang 
Hindia, No. 17 Thn III, 1905) 

 

 
Gambar 1. Pengunjung Jaarmarkt, 6-13 Mei 1906. 

Sumber: Bintang Hindia, No. 14 Thn. IV, 1 November 1906. 
 
Pada Gambar 1 tampak pengunjung berpakaian rapi dan necis berjalan di 

depan pintu gerbang yang dihias umbul-umbul, bendera Belanda, dan terlihat 
"keramaian ini didatangi oleh boemipoetra, baik laki-laki ataoe perempoean, toea dan moeda, 
semoeanja datanglah ke tempat keramaian itoe." (Bintang Hindia, No. 14 Thn IV, 1 
November 1906). Menurut laporan J. E. Jaspers (1908: 3&7) diketahui bahwa pameran 
dikunjungi oleh masyarakat yang tinggal di Kota Surabaya tanpa membedakan status 
sosial, bahkan ada yang datang dari beberapa daerah di Jawa Timur secara 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 9  
 

rombongan, misalnya para bupati dan kepala distrik, murid-murid sekolah 
pendidikan guru (kweekschool) dari Probolinggo dan Mojowarno, murid-murid 
sekolah Bumiputra dan Eropa. Tarif masuk ditetapkan sebesar f. 0,5 untuk orang 
Eropa dan Timur Asing dan f. 0,1 untuk Bumiputra. 

Pada jaarmarkt periode kedua yang dimulai pada 1923 di lapangan Ketabang, 
jenis hiburan tidak hanya kesenian, tetapi juga pertandingan sepak bola, tenis, tinju, 
basket, anggar, atletik, atraksi ketangkasan mengendarai sepeda motor dan mobil, dan 
karapan sapi (Pewarta Soerabaia, 27 April & 28 Juli 1923). Atraksi harian (dagelijksche 
attracties) berupa pentas seni pertunjukan, seperti Wayang Wong, Ludruk, Komedi 
Stambul, Musik, dan Sulapan (Viribus Unitis, 4e Jaargang No. 8, Agustus 1923; De 
Indische Courant, 17 Juli 1923). Beberapa seni pertunjukan dari luar Kota Surabaya yang 
tampil adalah Tandhak dan Gandrung Bali, Kecapi, Ketuk Tilu, Ogleng Bandung, 
Kroncong Kediri dan Semarang, Wayang Cokek Betawi, Sandur Madura, dan Reog 
Ponorogo (Bintang Soerabaia, 2 Juli & 1 Agustus 1921; De Indische Courant, 17 Juli 1923; 
Pewarta Soerabaia, 30 Juli 1923). Permainan dan seni pertunjukan menjadi bagian yang 
menyatu dengan pameran. Agenda rutin pameran menjadi peristiwa penting dan 
berkala dalam kalender kolonial (Mrazek, 2006, p. 67). Pameran menjadi sarana 
komersial, promosi, dan sosialisasi kesenian. Penggabungan kegiatan ekonomi dan 
kesenian menandakan perkembangan industri budaya pada awal abad ke-20. Dengan 
demikian, wacana yang muncul akhir-akhir ini tentang industri budaya 
sesungguhnya akarnya telah tumbuh pada awal abad ke-20, yakni dalam industri 
budaya yang dijual adalah jasa dan peristiwa. 

Pameran kolonial membuktikan bahwa kegiatan ini menjual barang kebutuhan 
sehari-hari dan peristiwa. Masyarakat secara gencar dipengaruhi melalui publikasi di 
surat kabar dengan penekanan pameran sebagai bagian dari peristiwa budaya. 
Pengunjung yang berlatar belakang dari pekerja rendahan, hanya dengan berbekal 
uang sebesar f. 1,00 dapat menikmati tontonan atau sekadar melihat-lihat barang 
pajangan (Jaspers, 1908: 3). Pameran direncanakan dan dirancang dengan persiapan 
yang baik. Pencantuman jadwal kegiatan dan pemberitaan selalu mengandung 
kalimat persuasif, misalnya pameran hanya dapat ditonton sekali setahun yang 
disampaikan secara berulang-ulang (Medan Prijaji, No. 26 Thn III, 1909; Pewarta 
Soerabaia, 8 Mei 1914). Ketika tiba waktunya, terbukti bahwa pameran menjadi pusat 
keramaian, karnaval, kirab, pesta, dan berbagai suguhan hiburan berbagai jenis 
kesenian. Pameran dapat menguatkan (affirmation) solidaritas, mengintegrasikan 
masyarakat, mengembangkan budaya kerakyatan, dan menumbuhkan kesenian 
rakyat. 

 
Kegiatan Ritual Masyarakat Kampung 
Kesenian Ludruk menjadi identitas budaya masyarakat Kota Surabaya ketika selalu 
dilibatkan memeriahkan kegiatan ritual masyarakat kampung. Aktivitas ritual 
diselenggarakan secara perorangan dan komunal dalam bentuk slametan. Ritual 
slametan menyangkut ritus pribadi tampak pada kelahiran, khitanan, pernikahan, dan 
kematian, sedangkan ritual komunal berhubungan dengan perayaan keagamaan dan 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 10  
 

slametan kampung. Prosesi slametan kampung bertujuan memohon keselamatan 
kampung dari bahaya dan bencana yang tidak diduga. Ritual ini juga disebut sedekah 
bumi yang dikemas sebagai pesta kampung. Penduduk kampung menikmati 
makanan dan minuman bersama-sama. Beraneka jenis makanan yang akrab dinikmati 
sehari-hari oleh masyarakat kampung dihidangkan, seperti tampak pada Gambar 2. 

 

 
Gambar 2. Aktivitas Slametan di Kampung 

Sumber: Bintang Hindia, No. 1 Thn II, 1904, hlm. 4 (kiri);  
Pandji Poestaka, Nomor 55 Tahun VII, 9 Juli 1929, hlm. 869 (kanan).  

 
Gambar 2 (kiri) tertera keterangan, "Selamatan matjam baroe. Anggoer poen ta' 

koerang pada kandoerian ini." (Bintang Hindia, No. 1 Thn II, 1904), sedangkan gambar 
sebelah kanan tertera keterangan, "Soedah tentoe jang sekian bagoesnja itoe tidak diboeka 
dengan diam-diam sadja, melainkan dengan pesta makan-makan, boenji gamelan, dan soeara 
ronggeng." (Pandji Poestaka, No. 55 Thn VII, 9 Juli 1929). Ritual slametan kampung 
merupakan kegiatan pesta makanan dan hiburan yang mengandung aspek religi, 
kebersamaan (gotong royong), dan kerukunan masyarakat. Kegiatan slametan 
digunakan sebagai media penghubung alam nyata dan gaib. Praktik ini sudah lama 
mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Nilai kebersamaan dan kerukunan 
ditunjukkan oleh masyarakat kampung ketika mereka mengumpulkan dana untuk 
membiayai kegiatan hiburan (Bintang Soerabaia, 24 & 25 Mei 1904). Berikut ini contoh 
dua kampung mengadakan hiburan dalam rangka Sedekah Bumi. Kampung Pregolan 
menyelenggarakan kesenian Tayub dan Ludruk, sedangkan Kampung Semampir 
menyelenggarakan Wayang Kulit dan Tayuban (Tandhakan). 

 
"Orang pendoedoek di kampoeng Pregolan nanti sedikit hari bakal membikin 
slametan sidekah boemi dengen pake tajoeban dan loedroekan sebagi biasanja 
saben tahoen sekali katanja nanti teropnja hendak diatoernja jang lebih elok dari 
jang soeda soeda." (Bintang Soerabaia, 24 Mei 1904) 
"Soeda tamtoe nanti malem Minggoe tanggal 28 Mei 1904 di mana kampoeng 
Semampir ada slametan sidekah boemi dengen wajangan lakonnja Brontojoedo, ja 
itoe oeran oeran Djojobinangoen dan besoek paginja teroes plesiran tandakan dari 
ini satoe kampoeng soeda masoehoer rameenja kaloe sidekah boemi sebab loerah 
nja amat accoord sama orangnja." (Bintang Soerabaia, 25 Mei 1904) 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 11  
 

 
Masyarakat kampung mengadakan pesta hiburan Wayang Kulit, Tayuban, dan 

Ludruk, sesuai kesepakatan. Warga kampung yang tidak menyelenggarakan hiburan 
dapat bergabung menikmati tontonan di kampung lain (Bintang Soerabaia, 4, 24, & 25 
Mei 1904). Meskipun tidak jelas kapan tradisi ini dimulai, kebiasaan slametan diduga 
sebagai perpaduan antara ritual Hindu dan Islam yang terbukti menjadi fasilitas 
menumbuhkan dan menyuburkan kesenian Ludruk di Kota Surabaya. 
 
Kesenian Ludruk sebagai Identitas Budaya Kota Surabaya 
Pertunjukan teatrikal yang merepresentasikan identitas budaya masyarakat Kota 
Surabaya bukan pada Stambul dan Wayang Wong, tetapi pada kesenian Ludruk. 
Konteks sosiokultural kesenian Ludruk menunjukkan cerminan budaya Arek Surabaya 
(Frederick, 1989: 83). Ludruk Sandiwara merupakan bentuk baru seni teater. Perubahan 
dari Besutan ke Ludruk Sandiwara ditunjukkan dari penambahan tampilan busana. 
Pemain Besutan memakai kopiah Turki, berkain putih, ikat pinggang dari lawe, 
sedangkan busana Ludruk Sandiwara telah dilengkapi berbagai aksesoris baru sesuai 
zaman. Unsur cerita tidak lagi seperti Besutan, tetapi mengambil lakon-lakon drama 
modern (Anonim, 1953: 852). Popularitasnya semakin meluas pada 1930 karena 
dikoordinasikan dengan baik oleh seniman yang tergabung dalam perkumpulan. 

Menurut kesaksian Sujanto Abdulmadjid, para seniman yang berkontribusi 
pada perubahan struktur Ludruk adalah Durasim Gondoredjo (Gondo Durasim), 
Kusen, Ngari, Amir, Minin, Ratno, Satari, dan Wakidin, sebagai tokoh-tokoh perintis 
Ludruk Sandiwara (Pewarta Soerabaia, 30 November 1950). Durasim Gondoredjo adalah 
seniman fenomenal yang memiliki sikap kritis sejak 1928 ketika menjalin persahabatan 
dengan tokoh pergerakan dokter Soetomo yang bermukim di Kota Surabaya sejak 
1923. Persahabatan ini dianggap sebagai hubungan dua tokoh yang berlatar belakang 
berbeda, tetapi dapat saling mengisi kekurangan. Dokter Soetomo tertarik pada karya, 
gagasan, kemampuan, dan keberanian Durasim Gondoredjo mengkritik pemerintah 
kota secara terbuka pada saat berperan sebagai badut (Frederick, 1989: 84). Interaksi 
ini menghasilkan perkumpulan Ludruk Organisatie sejak awal tahun 1930-an. Sejak saat 
itu, perkumpulan Ludruk Trisno Enggal menyusul didirikan pada 1932 dipimpin oleh 
Klowor. Keterangan diberikan oleh Abd Manap selaku sekretaris Ludruk Tresno 
Enggal ketika memberi keterangan pers mengenai pemutusan siaran di RRI Surabaya 
(Suara Masjarakat, 27 Februari 1956) 

Perkumpulan Ludruk yang dipimpin oleh Durasim Gondoredjo pentas di Kota 
Surabaya dan nobong di kota-kota lain di Jawa Timur. Pada waktu mengadakan 
pertunjukan di Jombang, seluruh pemain Ludruk ditangkap dan dibawa ke Surabaya. 
Mereka diinterogasi oleh anggota kempetai (polisi militer Jepang) hingga menyisakan 
tujuh orang tetap ditahan, yaitu Gondo Durasim, Amir, Satari, Kemiso, Wakidin, 
Karso, dan Kamidi, karena dianggap bertanggung jawab atas kidungan (syair/pantun) 
pegupon omahe doro, melu nippon tambah soro (Pegupon rumah burung merpati, 
mengikuti Jepang tambah sengsara) yang disampaikan dalam setiap pentas. 
Kidungan ini dianggap sebagai agitasi politik. Tahanan mengalami penyiksaan yang 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 12  
 

menyebabkan kesehatan Durasim menurun dan meninggal (Obor Surabaja, 8 Januari 
1952; Mutiara, No. 323, 20 Juni–3 Juli 1984; Bende, 7 November 2003). 

Jasad Gondo Durasim atau Durasim Gondoredjo dimakamkan di pemakaman 
Tembok. Di pusara makam dibangun patung setengah badan sebagai monumen 
pengenang tokoh kesenian Ludruk. Durasim Gondoredjo lahir pada hari Rabu Wage 
tanggal 11 Januari 1888 (Perdamaian, 16 Desember 1956). Peristiwa penangkapan 
seniman Ludruk membuktikan kegagalan propaganda pemerintah pendudukan 
Jepang memanfaatkan kesenian Ludruk. Kurasawa (1993, 246) menyatakan bahwa 
rezim penguasa memanfaatkan popularitas kesenian rakyat sebagai media 
propaganda dan mobilisasi untuk kepentingan perang. Realitasnya justru berbalik, 
perkumpulan Ludruk menyerang pemerintah pendudukan Jepang melalui kritikan-
kritikan dalam kidung. 

Penyebarkan semangat nasionalisme melalui pertunjukan merupakan tindakan 
perlawanan pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan. Kesenian 
Ludruk berfungsi ganda sebagai hiburan, media perjuangan, dan penerangan kepada 
masyarakat. Aksi perjuangan seniman Ludruk dilakukan dengan cara menghimpun 
dana untuk membantu perang. Salah satu perkumpulan Ludruk yang berkontribusi 
seperti yang diberitakan dalam Soeara Asia, tanpa disebutkan nama rombongannya, 
mengadakan pertunjukan pada bulan November 1943. Uang yang terkumpul 
diberikan pada Cogni dan korban bom, masing-masing sebesar 25% dan sisanya untuk 
tentara Pembela Tanah Air (PETA) (Soeara Asia, 19 November 1943). Pada kesempatan 
yang lain perkumpulan Ludruk Moeljo Sedjati juga mengadakan pentas untuk 
mengumpulkan dana yang seluruhnya disalurkan pada tentara PETA (Soeara Asia, 26 
November 1943). 

Kebersamaan dan kerja sama dilakukan selama masa perang kemerdekaan. 
Beberapa perkumpulan, seperti Ludruk Marhaen, Tresno Enggal, Saritomo, dan Ludruk 
Jawa Timur, melebur menjadi Ludruk Sekar Mulya. Penggabungan ini dikoordinasi 
oleh Ludruk Marhaen. Ketika kondisi politik, keamanan, dan ketertiban stabil sejak 
pengakuan kedaulatan negara, perkumpulan Ludruk yang tergabung dalam Ludruk 
Sekar Mulya mulai memisahkan diri untuk memulihkan perkumpulan seperti 
sebelumnya (Mimbar Kotapraja Pasuruan, No. ¾ Maret 1957; Anonim, 1953, p. 854). 
Bahkan, sebagian anggota Ludruk Aliran Massa memisahkan diri untuk membentuk 
Ludruk Warna Warni yang dipimpin oleh Sipoean dan Warna Sari yang dipimpin oleh 
Kastamin. Jumlah perkumpulan Ludruk yang bertambah memicu persaingan untuk 
dekat dengan masyarakat. Supaya tidak terjadi persaingan yang merugikan, beberapa 
perwakilan Ludruk, seperti Aliran Massa, Warna Sari, Marhaen, Tresno Enggal, dan 
Jawa Timur, mengadakan pertemuan pada 26 Februari 1952 yang dipimpin oleh Bowo 
dari Marhaen. Pertemuan itu bertempat di rumah Kasian di kampung Genteng 
Bandar. Kesepakatan yang dihasilkan adalah mencegah persaingan dan perebutan 
seniman-seniman Ludruk. Dari pertemuan ini terbentuk organisasi kesenian Ludruk 
yang disebut Persatuan Sandiwara Ludruk (Persalu) yang beranggotakan tujuh 
perkumpulan Ludruk (Pewarta Soerabaia, 28 Februari 1952; Java Post, 15 Maret 1952). 
Jumlah anggota organisasi ini bertambah menjadi 12 pada Juli 1953, sedangkan jumlah 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 13  
 

keseluruhan sebanyak 48 perkumpulan (Pewarta Soerabaia, 14 Maret 1953; Trompet 
Masjarakat, 20 Juli 1953). 

Perjalanan kesenian Ludruk menegaskan kesenian ini lahir dan berkembang 
pesat di Surabaya. Ibarat sebuah keluarga, kesenian Ludruk adalah anak kandung 
masyarakat Surabaya, sedangkan kesenian teater lain adalah anak angkat yang 
dipungut dari keluarga lain. Hanya anak kandung yang mewarisi genetik dari orang 
tuanya. Analogi ini dapat dilihat dari pemakaian dialog. Dialog dalam pentas Ludruk 
merupakan salah satu pencerminan cara komunikasi masyarakat Surabaya. 
Masyarakat Surabaya dalam komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Jawa 
dialek Surabaya, demikian juga dengan bahasa pengantar Ludruk. Hal ini tentu saja 
tidak terjadi pada Komedi Stamboel, Wayang Wong, dan Kethoprak. Pada 1950-an, 
muncul gagasan memodifikasi pertunjukan Ludruk mengikuti perkembangan zaman, 
tetapi satu unsur yang ditolak untuk dimodifikasi adalah penggunaan bahasa. Bahasa 
dialek Surabaya merupakan karakteristik kesenian Ludruk (Pewarta Soerabaia, 30 
November 1950). 

Karakteristik lain yang menunjukkan identitas budaya tampak pada struktur 
pertunjukan, yaitu tari Ngremo, atraksi bedhayan (tandhakan), dhagelan atau lawakan, 
dan penyajian lakon (cerita). Tari Ngremo atau Tandhakan ditampilkan sebagai 
pembukaan pertunjukan yang dimainkan oleh laki-laki memakai kostum prajurit dan 
laki-laki yang menyamar sebagai perempuan. Tarian ini merupakan kreasi yang 
diadopsi dari kesenian yang digemari masyarakat Surabaya, yaitu Tayuban atau 
Tandhakan. Daya tarik perempuan seniman (transvestite) tampak pada kecantikan di 
atas panggung dengan gerakan tari yang memiliki konotasi erotis sebagai simbol 
seksual pemikat penonton agar terlibat secara emosional dalam pertunjukan Ludruk 
(Peacock, 1967, p. 235). 

Dhagelan muncul setelah tarian selesai dengan teknik kidungan, monolog, dan 
dialog yang mengungkapkan secara satire mengenai realitas sosial dan berusaha 
membuat penonton tertawa. Pakaian, cara bersikap, dan bahasa yang digunakan oleh 
pelawak menunjukkan kelas pekerja (Peacock, 2005 p. 60). Tokoh dhagelan 
menampilkan identitas penonton di atas panggung. Alur cerita diperagakan oleh 
beberapa pemain yang disesuaikan dengan karakter cerita. Lakon (repertoar) yang 
disampaikan umumnya cerminan kehidupan sosial masyarakat Kota Surabaya. Lakon 
Ludruk dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) cerita pakem, seperti Lakon Cak Sakera dan 
Lakon Sarif Tambak Yoso; (2) Cerita rekaan, yaitu cerita yang ditulis oleh pengarang 
naskah. Para penonton menganggap tokoh dhagelan menampilkan identitas mereka di 
atas panggung. 

Kesenian Ludruk menunjukkan kekhasan budaya yang mampu memainkan 
realitas kehidupan kampung dalam panggung pertunjukan. Pada awal abad ke-20, 
Ludruk yang juga disebut Besutan merupakan bagian yang menyatu dengan kebiasaan 
atau tradisi masyarakat dalam aktivitas slametan (Peacock, 1968, p. 331). Koran Bintang 
Soerabaia mencatat bahwa aktivitas slametan dan kesenian (Tayuban, Wayangan, dan 
Ludrukan) merupakan dua hal yang berbeda tetapi saling melengkapi. 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 14  
 

"Orang pendoedoek di kampoeng Pregolan nanti sedikit hari bakal membikin 
slametan sidekah boemi dengen pake tajoeban dan loedroekan sebagi biasanja saben 
tahoen sekali katanja nanti teropnja hendak diatoernja jang lebih elok dari jang soeda 
soeda." (Bintang Soerabaia, 24 Mei 1904) 

 
Menurut Peacock, Ludruk menjadi pelengkap bagi ritus bersih desa (sedekah 

bumi) dan slametan yang disebut sebagai ritus penyatuan. Mereka menyucikan 
kampung atau lingkungan dalam kampong (Peacock, 2005, 219). Meskipun kesenian 
Ludruk dan slametan berbeda, secara teoretis bahwa slametan dianggap ritus penyatuan 
(rite of incorporation) dan Ludruk dianggap ritus pemisahan (rite of separation), relasi 
antara penduduk kampung dan kesenian Ludruk layak disebut relasi simbiosis 
mutualistik. Kesenian Ludruk membutuhkan penonton, yang sebagian besar datang 
dari penduduk kampung, dan penduduk kampung sendiri membutuhkan hiburan 
yang sesuai dengan identitas budaya mereka. 

 
Simpulan 
Pertunjukan komersial dalam bentuk kesenian sandiwara modern masih menjadi 
bagian eksklusif kelompok Eropa pada abad ke-19. Kesenian ini dianggap tidak 
mencerminkan budaya mayoritas masyarakat, sehingga lahir kesenian komersial yang 
bersumber dari tradisi, seperti Komedi Stambul, Wayang Wong, Kethoprak, dan Ludruk. 
Arena pameran merupakan dunia milik bersama yang digunakan sebagai sarana 
menghabiskan waktu senggang sekaligus berkontribusi mempopulerkan teater 
tradisi. Realitas ini merupakan transformasi ruang yang menandakan era baru budaya 
masyarakat kota. Pameran telah menjadi tradisi masyarakat yang mampu 
menumbuhkan atau mengangkat budaya lokal sebagai identitas budaya. Hal ini 
tampak pada kesenian rakyat yang sederhana, kemudian berubah menjadi sarana 
hiburan komersial ketika mendapatkan sentuhan kreatif. Orientasi masyarakat 
terhadap teater tradisi dapat disalurkan melalui momentum ritus tertentu, seperti 
kelahiran, khitanan, pernikahan, dan ritual slametan kampung. 

Dari gejala lahirnya pertunjukan komersial ditemukan bahwa identitas seni-
budaya masyarakat Kota Surabaya teraktualisasi dan teridentifikasi dengan jelas 
ketika terlibat dalam kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh masyarakat 
kampung. Perwujudan identitas seni-budaya masyarakat Kota Surabaya terdapat 
pada kesenian Ludruk. Kesenian Ludruk menampilkan kehidupan masyarakat 
Surabaya di atas panggung yang mencerminkan keseharian masyarakat kampung. 
Bagi masyarakat kampung, panggung kesenian Ludruk menampilkan diri mereka, 
yaitu kelompok masyarakat dengan kebiasaan dan gaya hidup kampung. Realitas ini 
menunjukkan kesenian Ludruk adalah identitas budaya masyarakat kota khususnya 
kelompok masyarakat menyandang identitas khas Arek Suroboyo. Tantangan yang 
dihadapi akhir-akhir ini adalah adanya sentuhan budaya baru yang menggerus 
budaya lokal (kesenian tradisi), peralihan media hiburan, berkurangnya keterlibatan 
masyarakat pendukung, dan regenerasi yang terputus. 
 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 15  
 

Referensi 
Ahimsa-Putra, Heddy Shri (2000). Wacana seni dalam antropologi budaya: Tekstual, 

kontekstual, dan post-modernitas. Dalam H. S. Ahimsa-Putra (Ed). Ketika orang 
Jawa nyeni. Yogyakarta: Galang Press. 

Anonim (1953). Propinsi Jawa Timur 1950. Surabaya: Jawatan Penerangan RI 
Bende, 7 November 2003. 
Bintang Hindia, No. 1 Thn. II, 1904. 
Bintang Hindia, No. 14 Thn. IV, 1 November 1906. 
Bintang Hindia, No. 17 Thn. III, 1905. 
Bintang Soerabaia, 1 Agustus 1921. 
Bintang Soerabaia, 12 April 1904. 
Bintang Soerabaia, 13 Januari 1904. 
Bintang Soerabaia, 2 Juli 1921. 
Bintang Soerabaia, 20 Agustus 1912. 
Bintang Soerabaia, 21 Maret 1904. 
Bintang Soerabaia, 24 Mei 1904. 
Bintang Soerabaia, 28 April 1904.  
Bintang Soerabaia, 28 Mei 1904. 
Bintang Soerabaia, 4 April 1904. 
Bintang Soerabaia, 4 Juli 1921. 
Brandon, J. R. (2003). Jejak-jejak seni pertunjukan di Asia Tenggara. Bandung: P4ST. 
Cohen, M. I. (2006). The komedie stamboel: popular theater in colonial Indonesia, 1891–1903. 

Athens: Ohio University Press. 
Cohen, Matthew Isaac (2001). On the origin of the komedie stamboel popular culture, 

colonial society, and the parsi theatre movement. Bijdragen tot de Taal-, Land- en 
Volkenkunde, 157 (2): 313-357. 

De Indische Courant, 17 Juli 1923. 
Frederick, W. H. (1989). Pandangan dan gejolak: Masyarakat kota dan lahirnya revolusi 

Indonesia (Surabaya 1926–1946), terj. Hermawan Sulistyo. Jakarta: Gramedia. 
Jaspers, J. E. (1908). Verslag van de derde jaarmarkt-tentoonstelling te Soerabaja. Batavia: 

Landsdrukkerij. 
Java Post, 15 Maret 1952. 
Kayam, Umar (1981). Seni, tradisi, masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan. 
Kurasawa, Aiko (1993). Mobilisasi dan kontrol: Studi tentang perubahan sosial di pedesaan 

Jawa 1942–1945. Jakarta: Gramedia Widiasarana. 
Mimbar Kotapraja Pasuruan Nomor ¾, Maret 1957. 
Mrazek, Rudolf (2006). Engineers of happy land, perkembangan teknologi dan nasionalisme 

di sebuah koloni. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 
Pandji Poestaka, No. 24 Thn. II, 12 Juni 1924. 
Pandji Poestaka, No. 55 Thn. VII, 9 Juli 1929. 
Panjebar Semangat, No. 16, Thn. VI, 17 Desember 1938. 
Panjebar Semangat, No. 45, Thn. VII, 6 Juli 1940. 
Panjebar Semangat, No. 46, Thn. VII  13 Juli 1940. 



Indonesian Historical Studies, Vol. 3, No. 1, 1-17 © 2019 

Identitas Budaya Masyarakat Kota: Teater Tradisi di Kota Surabaya pada Awal Abad XX   | 16  
 

Peacock, James L. (1967). Comedy and centralization in Java: The ludruk plays", The 
Journal of American Folklore,  80 (318): 345-356. 

Peacock, James L. (1968). Ritual, entertainment, and modernization: A Javanese. 
Comparative Studies in Society and History, 10 (3): 328-384. 

Peacock, James L. (2005). Ritus modernisasi: Aspek sosial dan simbolik teater rakyat 
Indonesia, terjemahan Eko Prasetyo. Jakarta: Desantara. 

Perdamaian, 16 Desember 1956. 
Pewarta Soerabaia, 11 Juli 1916. 
Pewarta Soerabaia, 14 Maret 1953. 
Pewarta Soerabaia, 16 Mei 1922. 
Pewarta Soerabaia, 27 April 1923.  
Pewarta Soerabaia, 28 Februari 1952. 
Pewarta Soerabaia, 28 Juli 1923. 
Pewarta Soerabaia, 30 Juli 1923. 
Pewarta Soerabaia, 8 Mei 1914. 
Pisani, J. A. (2004). “Globalisation and cultural transformation: African and South 

African perspectives”. International Area Review. 7(1): 37-62. 
Raffles, T. S. (2008). The history of Java. Yogyakarta: Narasi. 
"Keluar Masuk Penjara Akibat Main Ludruk," Mutiara, No. 323. 20 Juni–3 Juli 1984.  
Rosenmann, Amir, Gerhard Reese, and James E. Cameron (2016). Social identities in a 

globalized world: Challenges and opportunities for collective action. Perspectives 
on Psychological Science, 11(2): 202-221. 

Soeara Asia, 19 November 1943. 
Soeara Asia, 26 November 1943. 
Soedarsono, R. M. (2003). Seni pertunjukan dari perspektif politik, sosial, dan ekonomi. 

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 
Suara Masjarakat, 27 Februari 1956. 
Trompet Masjarakat, 20 Juli 1953. 
von Faber, G. H. (1930). A short history of journalism in the Dutch East Indies. Surabaya: 

G. Kolff & Company. 
von Faber, G. H. (1931). Oud Soerabaia: de geschiedenis van Indie’s eerste koopstad van de 

oudste tijden tot de Instelling van gemeenteraad 1906. Soerabaia: Gemeente 
Soerabaia. 

"9e Jaarmarkt Tentoonstelling," Viribus Unitis, 4e Jaargang No. 8, Agustus 1923. 
"Den Hoofdambtenaren voor Gemeentenzaken Hoofd van het Kantoor voor 

Bevolkingszaken," dalam Arsip Kota Surabaya, No. 34.786 Box 2041. 
"Di Belakang Layar Sandiwara: Ludrug Kesenian Arek Surabaja, Asal-Usul Ludrug," 

Obor Surabaja, 8 Januari 1952. 
"Hari kemudian seni drama tari wajang-orang" dalam Java Post, 8 Februari 1955. 
"Pasar Malam ka 5 di Soerabaia dari Hari Minggoe 1 Augustus sampai Hari Selasa 10 

Augustus 1909", Medan Prijaji, No. 26 Thn III, 1909. 
“Tjerita, Tata Bahasa, Tingkah-Laku, akan Mempertinggi Kesenian Daerah," Pewarta 

Soerabaia, 30 November 1950. 


