Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 302 VALIDATION OF X-RAY FLUORECENCE METHOD FOR ION Fe ANALYSIS IN ACTIVATED METHYL DIETHANOL AMINE (aMDEA) Validasi Metode X-Ray Fluorescence untuk Analisis Ion Fe dalam activated Methyl Diethanol Amine (aMDEA) Aman Sentosa Panggabean *,1 , Arief Rachman 2 1 Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences Mulawarman University, Samarinda, East Kalimantan, Indonesia 2 Laboratory of Environment Control, PT. Badak LNG Bontang, East Kalimantan, Indonesia *Corresponding author, e-mail: amanspanggabean@yahoo.com Received: October 2015 Published: January 2016 ABSTRACT A research about validation method of Fe analysis in activated Methyl Diethanol Amine (aMDEA) using X-Ray Fluurescence (XRF) has been done. Analysis of Fe ion in aMDEA was performed to find out the rising of Fe in aMDEA that will show corrosion or metal erosion is caused by aMDEA degradation and contamination or accumulation from heat stable salt that can dissolve or scrape the film coat in carbon steel. Validation is done consist of linearity, accuracy, precision, limit of detection, and limit of quantitation. The analytical performance of the XRF for determination of Fe ions is g o o d, sho w n as coefficient of correlation are 0.999 7, repeatability as % RSD value are 1,93 % less than 2/3 CV Horwitz 6.24 %, p er cent age o f r ecovery are 103.35 % . The LOD and LOQ are 0.351 and 2.975 ppm respectively, and Fe selectivity in aMDEA at 6.4 keV. The results obtained showed the XRF can be used for the routine analysis in the determination of Fe ions aMDEA samples. Keywords: Validation, Fe, XRF, aMDEA,metal PENDAHULUAN Dalam industri pencairan gas alam atau LNG (liquefied Natural Gas) dibutuhkan gas alam sebagai bahan baku yang berasal dari sumur-sumur gas alam yang berada di darat ataupun berada di perairan. Gas alam yang berasal dari sumur-sumur tersebut mengandung hidrokarbon (metana, etana, propana dan hidrokarbon berat), Nitrogen, CO2, H2S, partikel- partikel pengotor dan lainnya (Alvis et al., 2012). Kadar CO2 dan Sulfur yang tinggi dapat memicu terjadinya korosi pada peralatan dan pipa-pipa yang terbuat dari carbon steel. Korosi terjadi ketika dua atau lebih reaksi kimia atau reaksi elektrokimia terjadi pada permukaan logam yang mengakibatkan terjadinya perubahan elemen logam menjadi non logam (kamaruddin et al., 2015)). Media yang dapat menghilangkan gangguan-gangguan tersebut salah satunya adalah aMDEA atau activated Methyldiethanolamine yaitu amina tersier (Methyldiethanolamine) yang diaktivasi dengan sedikit Piperazine sehingga dapat yang berfungsi sebagai absorben gas asam/sour gas seperti CO2, H2S dan juga sebagai anti korosi (Ratman et al., 2011). aMDEA harus selalu dijaga kualitasnya agar selalu dalam kondisi baik sebagai absorben salah satunya adalah analisis kadar besi (Fe) dalam aMDEA. Analisis ini penting dilakukan untuk mengetahui kenaikan kadar logam besi dalam aMDEA yang menunjukan terjadinya korosi atau pengikisan logam akibat dari degradasi aMDEA serta kontaminasi atau akumulasi dari Heat Stable Salt yang dapat melarutkan atau mengikis lapisan film pada carbon steel (Khoiri, 2009). Penentuan kadar Fe dalam sampel dapat ditentukan dengan berbagai macam cara yaitu metode phenanthroline menggunakan spektrofotometer sinar tampak (APHA, 1999), Atomic AAS, Inductively Coupled Plasma (ICP), dan X-Ray Fluorecence (ASTM, 2007). Kekurangan dari metode spektrofotometri adalah penggunaan bahan kimia sebagai pelarut maupun pengkompleks, biasanya menghasilkan limbah yang dapat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Metode X-Ray Fluorescence merupakan metode yang tidak merusak sampel, A. S., Panggabean, dkk / Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 303 tidak menggunakan bahan kimia yang lain serta tidak menghasilkan limbah yang berbahaya (Beckoff et al., 2005; Paltridge., et a.l, 2011) sehingga sampel dapat digunakan atau dikembalikan lagi pada sistem. Pada penelitian ini telah dilakukan validasi metode penentuan ion Fe dalam aMDEA dengan menggunakan XRF. Untuk meperoleh hasil pengukuran yang optimal telah ditentukan beberapa parameter pengukuran yang dapat menentukan kinerja hasil pengukuran, sehingga diperoleh data-data hasil pengukuran yang menunjukkan metode XRF dapat digunakan untuk analisis ion Fe dalam aMDEA. METODOLOGI Bahan Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari standar AlCu (A-750) sebagai bahan kalibrasi energy XRF, Standar Fe 1000 mg/L dalam HNO3 1M Merck, aMDEA pure (96 %) dan aquabides. Alat Peralatan yang digunakan adalah Shimadzu EDX-900 HS, wadah sampel plastik, pipet ukur, labu takar, beaker glass, corong, botol pencuci. Prosedur Kerja Persiapan sampel Sampel ditempatkan pada wadah plastik khusus untuk pemeriksaan sampel cair lalu ditutup dengan plastik penutup tanpa ada gelembung udara terjebak. Pembuatan Larutan aMDEA 40% Berat aMDEA pure (96 %) dimasukkan sebanyak 417 ml ke dalam labu ukur 1000 ml, diencerkan dengan aquabidest sampai tanda tera. Kalibrasi Energi instrument Standar AlCu (A-750) digunakan untuk kalibrasi energi, kalibrasi dinyatakan baik apabila penetapan nilai spektrum Cu: 8.00-8.04 KeV dan spektrum Sn, Al, Ni yang teridentifikasi (ASTM, 2007). Pemeriksaan Sampel Sampel dimasukkan ke dalam wadah sampel dan ditutup dengan plastik lalu letakkan dalam sample chamber, pemeriksaan sampel dimulai, aktifkan timer waktu pengukuran dan aktifkan pressure switch ke posisi On. Timer dimatikan setelah selesai pemeriksaan. Repeatabilitas Sampel blanko ditambahkan standar Fe 35 ppm dibaca sebanyak 10 kali dan dinyatakan dengan nilai Relative Standard Deviation (RSD). Nilai RSD adalah nilai Standard Deviation (SD) dibagi dengan nilai rata-rata hasil pengukuran. Akurasi Dalam penentuan akurasi pengukuran, dilakukan pengukuran standar acuan (standard Fe didalam aMDEA) sebanyak 10 kali dengan kondisi pengukuran yang sama. Nilai rata-rata hasil pengukuran dibandingkan dengan jumlah konsentrasi ion Fe standar, nilai benar berasal dari nilai acuan analit yang bisa diterima. Limit Deteksi dan Limit Kuantisasi Sampel blanko dibaca sebanyak 10 kali, LOD adalah nilai rata-rata blanko sampel ditambah 3 kali Standard Deviation. LOQ adalah nilai rata-rata blanko sampel ditambah 10 kali Standard Deviation (Kantasubrata, 2005). Linieritas Dipersiakan larutan seri standar Fe dengan konsentrasi 10 - 50 ppm. Masing-masing intensitas larutan standar diukur dengan XRF. Untuk mendapat persamaan garis regressi dibuat kurva [Fe} –Vs- Intensitas hasil pengukuran. Selektivitas Sampel campuran aMDEA yang mengandung beberapa logam yang lain dibaca dengan alat sebanyak 6 kali untuk mendapatkan hasil resolusi Fe terhadap logam yang lain.. HASIL DAN PEMBAHASAN Kalibrasi Energi Kalibrasi yang dilakukan terhadap alat XRF adalah kalibrasi energi. Hasil kalibrasi energi digunakan untuk analisis unsur yang terkandung dalam suatu bahan. Selain diperoleh puncak energi kalibrasi ini juga memberikan nilai resolusi alat (Rosika dkk., 2007). Resolusi adalah kemampuan detektor untuk memisahkan dua energi yang berdekatan. Dengan menggunakan standar AlCu diperoleh hasil seperti pada Tabel A. S., Panggabean, dkk / Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 304 1. Hasil kalibrasi energi, unsur Al pada energi 1.46 KeV dan puncak unsur Cu pada energi 8,04 KeV. Hasil kalibrasi tersebut menunjukkan peralatan mempunyai respon yang baik. Tabel 1. Data Kalibrasi Energi XRF Tabel Hasil Kalibrasi Energi Unsur Hasil Pengukuran (KeV) Al 1.46 Ca 3.66 Ti 4.50 V 4.92 Cr 5.38 Fe 6.40 Ni 7.46 Cu 8.04 Repeatabilitas Kedapatulangan (repeatability) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen (Harmita, 2004). Uji kedapatulangan ini dilakukan dengan cara keterulangan yang dilakukan oleh penguji yang sama. Tabel 2. Hasil Uji Repeatabilitas Sampel ke- Intensitas Konsentrasi (mg/L) 1 0.0324 35.021 2 0.0321 34.393 3 0.0321 34.393 4 0.0327 35.649 5 0.0329 36.067 6 0.0323 34.812 7 0.0329 36.067 8 0.0325 35.230 9 0.0327 35.649 10 0.0325 35.230 Rata-rata 0.0325 35.251 Stdev 0.0003 0.6115 % RSD 0.899 1.73 CV Horwitz 9.36 Intra repeatabiliti (2/3 CV Horwitz) 6.24 Hasil pengukuran Repeatabilitas, seperti terdapat pada Tabel 2. menunjukkan nilai % CV (RSD) 1.73 %, sedangkan % CV Horwitz yang terhitung 9,63 serta 2/3 CV Horwitz adalah 6,24. Dari hasil tersebut tampak bahwa CV dari hasil pengujian dengan metode ini lebih kecil dari CV Horwitz. Suatu metode pengujian dikatakan baik jika nilai CV nya lebih kecil dari CV Horwitz (Kantasubrata, 2005), sehingga bisa dikatakan bahwa metode uji menggunakan X-Ray Fluorescence mempunyai reapeatabilitas yang baik. Akurasi Akurasi adalah suatu kedekatan kesesuaian antara hasil suatu pengukuran dan nilai benar dari kuantitas yang diukur atau suatu pengukuran posisi yaitu seberapa dekat pengukuran dengan nilai benar yang diperkirakan (Kantasubrata, 2005). Untuk mengukur ketepatan hasil dari analisis yang telah dilakukan, perlu dilakukan uji persentase perolehan kembali (% recovery). Hasil pengukuran persentase perolehan kembali ion logam Fe dalam aMDEA seperti terdapat pada Tabel 3. Hasil pengukuran akurasi menunjukkan bahwa hasil analisis telah memenuhi persyaratan yaitu pada 103.35 % yang menurut AOAC Peer- Verified Methods Program, Manual on Policies and Procedures tahun 1998, menyatakan bahwa % recovery berada antara 80–110% (Kantasubrata, 2005). Limit Deteksi dan Limit Kuantisasi Definisi limit Deteksi (LOD) adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi dan masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blanko. Nilai limit deteksi ditentukan dengan syarat S/N = 3, karena pada umumnya peak pada instrumen (signal) baru A. S., Panggabean, dkk / Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 305 Tabel 3. Hasil Uji Akurasi No Intensitas Sampel [Sampel] (mg/L) Intensitas Spl + Std [Spl + Std] (mg/L) [Std] yg di tambahkan % Recovery 1 0.0256 20.795 0.0280 25.816 5.00 100.42 2 0.0253 20.167 0.0278 25.397 5.00 104.60 3 0.0257 21.004 0.0283 26.444 5.00 108.79 4 0.0258 21.213 0.0283 26.444 5.00 104.60 5 0.0261 21.841 0.0285 26.862 5.00 100.42 6 0.0258 21.213 0.0282 26.234 5.00 100.42 7 0.0257 21.004 0.0281 26.025 5.00 100.42 8 0.0257 21.004 0.0281 26.025 5.00 100.42 9 0.0259 21.423 0.0285 26.862 5.00 108.79 10 0.0260 21.632 0.0285 26.862 5.00 104.60 Rata-rata 21.130 26.297 103.35 STDEV 0.4647 0.4936 3.44 % RSD 2.20 1.88 3.33 dapat terdeteksi setelah besarnya tiga kali dari noise (Panggabean et al., 2014). Limit kuantisasi (LOQ) atau disebut limit pelaporan (limit of reporting) adalah konsentrasi terendah dari analit yang dapat ditentukan dengan tingkat presisi dan akurasi yang dapat diterima, pada kondisi pengujian yang disepakati. Penentuan limit deteksi dan limit kuantisasi dilakukan dengan menganalisis blanko, selanjutnya dikonversikan ke persamaan kurva kalibrasi yang merupakan hubungan antara konsentrasi dengan intensitas. Hasil analisis blanko sebanyak 10 data dihitung konsentrasi rerata dan standar deviasinya. Hasil pengukuran LOD dan LOQ dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Uji Limit Deteksi dan Limit Kuantisasi No Intensitas [Fe] mg/L Blk-1 0.0154 -0.5439 Blk-2 0.0153 -0.7531 Blk-3 0.0150 -1.3808 Blk-4 0.0152 -0.9623 Blk-5 0.0153 -0.7531 Blk-6 0.0155 -0.3347 Blk-7 0.0153 -0.7531 Blk-8 0.0150 -1.3808 Blk-9 0.0154 -0.5439 Blk-10 0.0155 -0.3347 Rata-rata 0.0153 -0.774 Stdev 0.0002 0.375 % RSD 1.1720 -48.431 LOD 3sd 0.0158 0.351 LOQ5sd 0.0162 1.100 LOQ10sd 0.0171 2.975 Pada Tabel 4. LOD pengukuran diperoleh adalah 0.351 ppm, ini berarti Fe dalam aMDEA pada konsentrasi tersebut masih dapat terbaca intensitasnya tetapi tidak dapat digunakan dalam perhitungan karena dapat membuat bias dalam perhitungan. Nilai LOQ pada pengujian ini adalah 2.975 ppm. Konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi terkecil yang tidak menimbulkan bias dalam perhitungan. Linieritas Linieritas metode analisis adalah kemampuan untuk mengetahui hasil analisis secara langsung dan proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel dengan rentang yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan linier antara konsentrasi zat sebenarnya (teoritis) dengan respon alat (Panggabean et al., 2013). Linearitas atau kecenderungan korelasi antara dua variabel biasanya dinyatakan dalam koefisien korelasi (r). Linearitas yang baik atau adanya korelasi yang erat ditunjukkan dengan harga korelasi yang mendekati 1 atau sama dengan 1. Gambar 1. Kurva Kalibrasi Ion Fe y = 0.0005x + 0.0157 R² = 0.9995 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0 20 40 60 In te n si ta s [Fe] mg/L A. S., Panggabean, dkk / Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 306 Gambar 2. Kromatogram Pengukuran Selektifitas ion Fe dengan XRF Linieritas menggunakan standar Fe mulai dari terkecil 10 ppm sampai 50 ppm, hal ini berdasarkan periodic table of XRF Fluorescence data untuk Fe dengan rentang deteksi terbaik dari alat XRF mulai dari 10 ppm sampai dengan 100 ppm (ASTM, 2007), serta sampel aMDEA yang akan dianalisis yaitu > 10 ppm. Berdasarkan Gambar 1. didapatkan persamaan y = 0.0005x + 0.0157 dan koefisien korelasi (r) = 0.9997. Nilai tersebut menggambarkan adanya korelasi yang berbanding lurus antara respon deteksi alat terhadap nilai standar Fe. Ini menunjukkan bahwa hasil analisis memenuhi persyaratan dengan nilai koefisien korelasi (r = 0.9997) (Miller dan Miller, 1991). Selektivitas Pengujian selektivitas digunakan untuk melihat apakah metode analisis yang diuji terpengaruh oleh logam-logam selain Fe yang diketahui. Tabel 5. Data Pengukuran Selektivitas Nama Peak Analisis Range ( keV ) keV Intensitas Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0429 Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0441 Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0431 Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0434 Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0436 Fe 6.20 – 6.60 6.40 0.0454 Hasil pengukuran pada Gambar 2 dan Tabel 5. menunjukkkan bahwa sampel aMDEA yang mengandung Fe mempunyai resolusi yang baik yaitu berada pada energi 6.4 keV dan tidak terpengaruh oleh unsur yang lain. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa ion Fe dalam aMDEA dapat dilakukan dengan metode XRF, ditunjukkan dari nilai parameter-parameter A. S., Panggabean, dkk / Ind. J. Chem. Res., 2016, 3(2), 302-307 307 kinerja analitik seperti nilai koefisien korelasi (r) 0.9997, repeatability sebagai % CV (% RSD) adalah 1.73 % dengan nilai 2/3 % CV Horwitz adalah 6.24 %, akurasi (% recovery) sebesar 103.35 %, Limit deteksi 0.351 ppm, Limit kuantisasi 2.975 ppm, dan selektivitas ion Fe dalam aMDEA pada 6,4 keV, sehingga validasi metode XRF untuk analisis kadar Fe dalam aMDEA dinyatakan valid. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih diucapkan kepada Pimpinan dan staf PT. LNG Badak Bontang Kalimantan Timur atas fasilitas laboratorium dan sampel yang diberikan, dalam pelaksanaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Alvis, R.S., Nathan A. Hatcher, Ralph H. W. 2012. CO2 Removal from Syngas Using Piperazine ‐Activated aMDEA and Potassium Dimethyl Glycinate, Optimized Gas Treating, Inc., Houston APHA. 1999. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 20 th ed. ASTM. 2007. Standard Practice for Optimization, Sample Handling, Calibration and Validation of X-ray Fluorescence Spectrometry Methods for Elemental Analysis of Petroleum Product and Lubricants. Beckhoff, B., Kanngießer, B., Langhoff, N., Wedell, R., Wolff, H. 2005. Handbook of Pratical X-Ray Fluoresense Analysis. Springer, New York. Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.3. Hal. 117- 135. Kantasubrata, J. 2005. Validasi Metode, LIPI Bandung. Kamarudin K. S. N., Dolmat N., Najib S.B.M.2015. Methyldiethanolamine and Piperazine as Extractant in Emulsion Liquid Membrane for Carbon Dioxide Removal. International Journal of Chemical Engineering and Applications, 6(5). Pp. 314- 318. Khoiri, M. 2009. Analisis Keselamatan Radiasi pada Laboratorium Sinar-x Industri STTN BATAN, Prosiding Seminar Nasional V SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta. Miller, J.C. dan J.N. Miller. 1 991. Statistika untuk Kimia Analitik. Edisi ke dua. ITB Press. Bandung. Paltridge, N. G., Milham, P. J., Ortiz- Monasterio, J.I., Velu, G., Yasmin, Z., Palmer, L. J., Guild, G. E., Stangoulis, J. C. R. 2012. Energy-dispersive X-ray fluorescence spectrometry as a tool for zinc, iron and selenium analysis in whole grain wheat. Plant Soil, 36. pp. 261–269. Panggabean, A.S., Pasaribu, S.P., Amran, M.B., Buchari. 2013. Gas-liquid Separator Integrated to HG-QFAAS Method for Determination of Tin at Trace Levels in the Water Samples. Eurasian Journal of Analytical Chemistry. 8(1). pp. 17-27. Panggabean, A.S., Subur P. Pasaribu, Bohari, Nurhasanah. 2014. Preconcentration of Chromium(VI) at Trace Levels Using Acid Alumina Resin With Column Method Indo. J. of Chem. 14(1). pp. 51-56. Ratman, I., Kusworo,T.D., Ismail, A.F. 2011. Foam Behaviour of An Aqueous Solution of Piperazine- N-Methyldiethanolamine (MDEA) Blend as A Function of The Type of Impurities and Concentrations, Journal of Waste Resources 1(2) pp. 8 – 14. Rosika, K., Dian, A., Joko, K. 2007. Pengujian kemampuan XRF untuk analisis komposisi unsur panduan Zr-Sn-Cr-Fe-Ni, Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN Bandung.