Indonesian Journal of Chemical Research http://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/ijcr Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 28 Isoterm Adsorpsi Ion Cr(III) Oleh Kitosan Hasil Isolasi Limbah Kepiting Rajungan dan Kitosan Komersil Isotherm Adsorption of Cr(III) Ions by Chitosan Isolated Rajungan Crab Waste and Commercial Chitosan Rahayu * , Matheis.F.J.D.P. Tanasale, Adriani Bandjar Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences Pattimura University, Kampus Poka, Jl. Ir. M. Putuhena, Ambon-Indonesia 97134 * Corresponding Author: rahayumahmud09@gmail.com Received: 2020-1-10 Received in revised: 2020-3-10 Accepted: 2020-5-25 Available online:2020-5-31 Abstract The chitin isolation from crab Rajungan (Portunus sanginolentus) and commercial chitin was done. The chitosan was made by deasetilation of chitin using alkaline solution with addition NaBH4. The chitin and chitosan were identified by related instrument. The identification by adsorption Cr(III) ion on chitosan was done by the Atomic Absorption Spectrofotometry. The result of the chitosan isolation was fitted to the Freundlich isotherm, with KF = 1.18673 mg/g and 1/n= 0.2712. Keywords: Chitin, Cr(III) ion, chitosan, Freundlich isotherm Abstrak (Indonesian) Isolasi kitin dari kepiting Rajungan (Portunus sanginolentus) dan kitin komersial telah dilakukan. Sintesis kitosan melalui deasetilasi kitin dengan menggunakan larutan basa dengan penambahan NaBH4. Identifikasi gugus fungsi kitin dan kitosan dilakukan dengan dengan instrument yang relevan. Penentuan adsorpsi ion Cr(III) oleh kitosan dilakukan dengan spektrofotometer serapan atom. Hasil yang diperoleh hanya pada kitosan isolasi yaitu mengikuti isotherm Freundlich dengan KF = 1,18673 mg/g and 1/n = 0,2712. Kata Kunci: Kitin, ion Cr(III), kitosan, isotherm Freundlich PENDAHULUAN Rajungan adalah jenis kepiting yang paling terkenal dan banyak dieksport. Sebelum dieksport rajungan dipisahkan dari cangkangnya, sehingga cangkangnya dibuang dan menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan karena pemanfaatannya belum maksimal. Cangkang kepiting rajungan ini merupakan bagian tubuh yang bersifat sebagai pelindung karena bertekstur keras yang tersusun atas zat tanduk atau kitin. Mengingat jumlahnya yang banyak dan hanya menjadi limbah bagi lingkungan saja, maka perlu dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat. Limbah cangkang dari kepiting Rajungan mengandung kitin, protein, dan mineral, sehingga perlu dilakukan proses demineralisasi dan deproteinasi untuk menghasilkan kitin. Kitin dapat menghasilkan turunannya melalui proses deasiilasi yang disebut kitosan (Tarafdar dkk., 2013). Kitosan tidak beracun, bersifat semi kristal dan dapat terbiodegradasi. Kitosan efektif dijadikan adsorben karena srukturnya dominan memiliki gugus fungsi hidroksil dan amina. Gugus fungsi ini memiliki peran yang signifikan atau kuat dalam mengikat ion- ion logam berat (Islam dkk., 2019). Daya serap dari kitosan terhadap bahan pencemar ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pH, kadar garam, dll. Kitin dan kitosan juga dapat dimanfaatkan di berbagai industri modern seperti farmasi, biokimia, biotekhnologi, kosmetik, dan industri pangan. Proses konversi kitin menjadi kitosan atau yang disebut dengan deasetilasi kitin menjadi kitosan biasanya dilakukan secara kimia dengan hanya menggunakan basa kuat seperti NaOH. Tanasale dkk, 2012, melakukan konversi kitin menjadi kitosan yang berasal dari kepiting rajungan dengan hasil sebesar 22,06 % sedangkan deasetilasi dari kitin komersil sebesar 62,33%. Hal ini dikarenakan kitosan yang berasal dari kitin komersil memiliki kemurnian yang tinggi (Tanasale dkk., 2016). Akan tetapi suatu kitosan dikatakan paling baik mutunya tidak hanya Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 29 dilihat dari presentasi kemurniannya saja tetapi juga kitosan yang memiliki derajat deasetilasi dan berat molekul yang besar. Dengan demikian, proses deasetilasi kitin yang dapat menghasilkan kitosan yang bermutu paling baik, harus dilakukan dengan suatu proses konversi kitin menjadi kitosan secara kimia dengan menggunakan basa kuat pekat seperti NaOH dalam kondisi panas dan dengan adanya penambahan NaBH4. Karena kondisi terbaik dari suatu preparasi kitosan didapatkan dengan menggunakan suatu larutan NaOH dan tambahan NaBH4 sebagai zat pelindung yang dapat menghasilkan kitosan dengan berat molekul dan derajat deasetilasi yang besar sebab NaBH4 berfungsi sebagai reduktor yang menyumbangkan H + pada proses reaksi desetilasi (Gylien dkk., 2003). Larutan NaOH (40 %) dan NaBH4 sebagai zat pelindung untuk melawan oksidasi dan degradasi dari cincin polimer, mengubah aldehida polisakarida menjadi gugus alditol. Kegunaan dari BH4 - untuk memungkinkan trapping radikal sehingga memperoleh kitosan dengan berat molekul yang besar. Perbedaan ini disebabkan karena kitin komersil memiliki kemurnian yang tinggi sehingga kandungan kitosan juga tinggi. Ini juga menunjukkan bahwa hasil isolasi yang dilakukan masih mengandung zat- zat yang akan larut dalam larutan basa kuat panas Limbah merupakan bahan buangan atau zat sisa dari proses pembuatan suatu produk di industri atau limbah domestik yang kurang memiliki nilai guna. Kebanyakan limbah dibuang begitu saja sehingga dapat mencemari lingkungan. Limbah biasanya langsung dibuang ke perairan sehingga menjadi polutan di perairan. Polusi air ini merupakan sumber masalah dalam kehidupan yang terakumulasi dari hari ke hari dan memberikan dampak yang cukup besar terhadap kestabilan alam (Ramasubramaniam dkk., 2012). Logam berat merupakan jenis limbah pencemar yang sangat berbahaya dalam lingkungan hidup karena bersifat tak terbiodegradasi, toksik, serta mampu mengalami bioakumulasi dalam rantai makanan. Keberadaan logam di perairan umumnya merupakan limbah industri dan jarang industri- industri terebut hanya menghasilkan satu jenis logam (Laksono dkk., 2010). Bahaya yang dapat ditimbulkan dari keracunan logam berat bila masuk ke dalam tubuh manusia adalah akan mengganggu atau menghambat sistem kerja enzim dalam tubuh, sehingga sistem metabolisme tubuh pun ikut terganggu. Salah satu logam berat yang terutama bersifat racun adalah krom (Cr). Logam ini dapat masuk ke perairan dan bersifat sebagai pencemar karena akibat dari buangan industri seperti peralatan rumah tangga, mobil, dan bahan pemberi warna cemerlang pada perkakas dari logam. Bila terjadi peningkatan kelarutan krom pada perairan sehingga melebihi nilai ambang batas yang seharusnya maka dapat membunuh biota perairan. Dengan memiliki sifat reaktifitas kimia yang tinggi maka kitosan hasil deasetilasi dengan penambahan NaBH4 dari limbah kepiting dapat berpotensi sebagai teknik alternatif untuk mencegah pencemaran logam Cr dengan biaya pengoperasian yang murah dan bahannya yang melimpah di Maluku. Logam berat pada umumnya memiliki daya racun yang mematikan terhadap organisme pada kondisi yang berbeda-beda, meskipun daya racun yang ditimbulkan oleh satu jenis logam berat terhadap semua biota perairan tidak sama, namun kehancuran dari satu kelompok dapat terputusnya satu mata rantai kehidupan. Keadaan ini akan terjadi bila konsentrasi kelarutan logam berat pada perairan tersebut cukup tinggi. Sebagai logam berat, Cr termasuk logam yang mempunyai daya racun tinggi. Sifat racun yang dibawa oleh logam ini juga dapat mengakibatkan terjadinya keracunan akut dan keracunan kronis. Efek keracunan yang dapat ditimbulkannya ini berupa penyakit kanker paru-paru, limpa, ginjal, hati dan tulang. Tingginya resiko pencemaran lingkungan oleh ion logam berat seperti Cr, memberikan konsekuensi perlunya sistem pengolahan limbah yang baik. Sistem pengolahan limbah harus dapat menurunkan kadar polutan seperti ion logam berat hingga batas aman (Sulastri dkk., 2014). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan keberadaan logam berat di lingkungan adalah dengan proses adsorpsi. Adsorpsi merupakan suatu proses atau teknik yang terjadi secara fisika-kimia dimana terjadi perpindahan massa antara fasa cair (adsorbat) dan fasa padat (adsorben) (Rahayu dkk., 2016). Metode ini paling banyak digunakan karena aman, dapat didaur ulang dan tidak membutuhkan peralatan yang mahal dan rumit (Prambaningrum dkk., 2009). Oleh karena itu, dalam metode adsorpsi ini kitosan dapat digunakan sebagai adsorben dan ion Cr(III) sebagai adsorbat. Hal ini dikarenakan dalam kondisi asam berair, sisi aktif kitosan yang berupa gugus asam amino (–NH2) akan meangkap H + dari lingkungannya untuk terprotonasi menjadi –NH3 + yang akan berfungsi untuk mengadsorpsi zat warna anionik, sedangkan untuk adsorpsi kation logam atau zat warna kationik dapat memanfaatkan pasangan electron bebas pada gugus OH dan NH3 yang berfungsi sebagai ligan (Tanasale dkk, 2012). Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 30 Berdasarkan latar belakang di atas pada penelitian ini dilakukan studi kemampuan adsorpsi kitosan isolasi dari kepiting rajungan dan kitosan komersil terhadap ion Cr(III). METODOLOGI Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan yaitu seperangkat peralatan gelas, blender, hot plate (cimarec 2), oven (memert), penyaring Buchner, pompa vakum, shaker (KS 250 basic), spektrofotometer serapan atom (SSA) 6300 Shimadzu, tapisan ukuran 40 mesh, termometer, timbangan analitik. Bahan-bahan yang digunakan yaitu limbah cangkang kepiting rajungan, asam klorida p.a (E.Merck), Asam sulfat p.a (E. Merck), Kertas pH Indikator, Kertas saring Whatman, Akuades, Natrium hidroksida p.a (E. Merck), natrium borohidrat p.a (E. Merck), K2S2O8 p.a (E. Merck), Cr(NO3)39H2O p.a (E. Merck). Prosedur kerja Isolasi Kitin Persiapan sampel Limbah dibawa dengan penanganan dingin dengan memakai hancuran es. Mula-mula limbah kepiting dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran, kemudian dikeringkan di dalam oven dengan suhu 65 o C selama 24 jam. Setelah itu limbah kepiting dihaluskan untuk mendapatkan ukuran partikel 40 mesh. Tahap pemisahan protein (deproteinasi) 400 g limbah kepiting ditambahkan NaOH 160 g/L dengan perbandingan 1:10 (w/v), kemudian dibiarkan pada suhu kamar selama 3 hari, selanjutnya disaring dengan kertas saring setelah itu residu yang dihasilkan dicuci dengan aquades sampai pH netral dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 60 o C selama 4 jam. Tahap pemisahan mineral (demineralisasi) Residu hasil tahap deprotenisasi ditambahkan 172 mL HCl 3,4465 M kemudian ditambahkan 2000 mL H2O, kemudian dipanaskan pada suhu 40 o C selama 3 jam, setelah itu disaring dengan kertas saring, residu yang dihasilkan dicuci dengan aquades sampai pH netral dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 60 o C selama 4 jam. Tahap penghilangan zat warna (depigmentasi) Residu hasil tahap demineralisasi ditambahkan 500 ml H2O kemudian ditambahkan 50 ml H2SO4 1,6727 M dan dilakukan pemutihan dengan penambahan K2S2O8 sebanyak 100g/L kemudian dicuci dengan aquades sampai pH netral dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 60 o C selama 4 jam. Deasetilasi Kitin Menghasilkan Kitosan Proses deasetilasi kitin dilakukan untuk sampel kitin hasil isolasi dan kitin komersial. Kitin yang telah dihasilkan ditimbang sebanyak 25 g ditambahkan 150 g/L NaOH kemudian dipanaskan pada suhu 110 o C selama 2 jam, kemudian disaring, dicuci dengan aquades sampai pH netral, dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 60 o C selam 4 jam. Selanjutnya, dihasilkan kitosan. Pembuatan Larutan Standar Cr (III) Larutan standar Cr dibuat dari senyawa Cr(NO3)39H2O. Larutan induk Cr dibuat dengan menimbang 7,698 g Cr(NO3)39H2O ke dalam beaker gelas kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml. Setelah itu menambahkan aquades sampai tanda batas, larutan standar yang diperoleh mempunyai konsentrasi 1000 ppm. Selanjutnya diambil 10 ml dan diencerkan dalam labu takar 100 ml dengan aquades sampai tanda batas sehingga didapatkan Cr 100 ppm. Dari 100 ppm diambil 5 ml diencerkan sampai 100 ml dengan aquades untuk 5 ppm, selanjutnya dilakukan prosedur yang sama untuk konsentrasi 10; 15; 20 ppm. Adsorpsi logam Cr (III) Kitosan sebanyak 200 mg ditambahkan dan diinteraksikan dengan 20 mL larutan logam Cr (III) selama 2 jam. Konsentrasi larutan Cr(III) 5; 10; 15; 20 mg/L. Larutan dishaker dan sisa filtrat yang diperoleh ditentukan kadar Cr(III) dengan SSA. Persentase kapasitas penjerapan kitosan dapat dihitung menggunakan persamaan 1 (Sekewael dkk. 2013). %100x Co CeCo Q   (1) dimana, Co = konsentrasi ion Cr(III) sebelum diadsorpsi, Ce = konsentrasi ion Cr(III) yang bebas dalam larutan, x/m = jumlah mol ion Cr(III) yang terjerap dan Q = persentasi penjerapan. Untuk menentukan model isoterm yang diikuti oleh proses adsorpsi logam Cr(III) oleh kitosan isolasi dan kitosan komersil maka digunakan persamaan regresi linear dengan membandingkan nilai koofisien korelasi (R 2 ) dari grafik hubungan nilai Ce/(x/m) vs Ce untuk isoterm Langmuir dan nilai ln Ce vs ln(x/m) untuk isoterm Freundlich, dimana nilai x/m Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 31 merupakan jumlah mol logam Cr(III) yang terdsorpsi oleh kitosan isolasi ataupun kitosan komersil. Berdasarkan data korelasi yang telah diperoleh maka didapatkan nilai besarnya penjerapan kitosan terhadap ion Cr(III) dengan persamaan :   C n K m x F ln1lnln  (2) Dimana konstanta KF merupakan nilai kapasitas jerap kitosan terhadap logam Cr(III) dan nilai 1/n merupakan indikator ketergantungan konsentrasi adsorpsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penjerapan ion Cr(III) oleh kitosan Hasil analisa logam krom setelah penambahan kitosan dengan variasi konsentrasi 5, 10, 15 dan 20 ppm dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Data penjerapan logam Cr oleh kitosan [Cr]0 (ppm) [Cr]1 (ppm) [Cr]teradsorpsi K Isolasi K Komersil K Isolasi K Komersil 5 0,034 0,572 4,965 4,427 10 0,899 0,985 9,1 9,014 15 1,217 0,401 13,783 14,599 20 2,763 0,272 17,236 19,728 Keterangan : [Cr]0 = Konsentrasi logam Cr sebelum penjerapan dengan kitosan [Cr]1 = Konsentrasi logam Cr setelah proses penjerapan dengan kitosan [Cr]ter = Konsentrasi logam Cr yang terjerap oleh kitosan K Isolasi = Kitosan Isolasi K Komersil = Kitosan Komersil (a) (b) Gambar 1. Grafik adsorpsi Cr(III) yang terserap oleh (a) kitosan isolasi, (b) kitosan komersil Gambar 1 menunjukkan peningkatan adsorpsi kitosan isolasi dan kitosan komersil akibat kenaikan konsentrasi ion Cr(III). Hal ini diakibatkan karena semakin banyak ion Cr(III) yang berinteraksi dengan situs aktif kitosan. Untuk menjelaskan penjerapan kitosan terhadap ion logam Cr(III) maka dua persamaan yang umum digunakan yaitu isoterm Langmuir dan persamaan Freundlisch. Isoterm Langmuir menghubungkan Ce/(x/m) vs Ce dan isoterm Freundlich menghubungkan ln Ce vs ln(x/m). Parameter kedua isoterm adsorpsi tersebut terlihat pada Tabel 2 dan 3. Tabel 2. Parameter isoterm Langmuir dan isoterm Freundlisch kitosan isolasi Co (ppm) Ce (ppm) Co-Ce (ppm) Q (%) x/m Ce/(x/m) ln Ce ln (x/m) 5 0,34 4,965 99,312 0,469 0,069 -3,369 -0,700 10 0,899 9,101 91,008 0,910 0,988 -0,106 -0,094 15 1,217 13,783 91,886 1,378 0,882 0,196 0,320 20 2,763 17,263 86,183 1,723 1,603 1,016 0,544 Tabel 3. Parameter isoterm Langmuir dan isoterm Freundlisch kitosan komersil Co (ppm) Ce (ppm) Co-Ce (ppm) Q(%) x/m Ce/(x/m) ln Ce ln (x/m) 5 0,572 4,427 88,546 0,442 1,293 -0,557 -0,814 10 0,985 9,014 90,149 0,901 1,092 -0,015 -0,103 15 0,401 14,599 97,326 1,459 0,274 -0,913 0,378 20 0,272 19,728 98,640 1,972 0,137 -1,301 0,679 Dari data Tabel 2 dan 3 maka dapat dibuat kurva isoterm Langmuir dan Freundlich untuk masing- masing kitosan, sehingga dapat ditentukan isoterm adsorpsi yang sesuai untuk adsorpsi ion Cr(III) pada kitosan hasil isolasi dan kitosan komersil yang terlihat pada Gambar 2 dan 3. 0 5 10 15 20 0 5 10 15 20 25 [ C r( II I) ] ( p p m ) [Kitosan]i (ppm) 0 5 10 15 20 25 0 5 10 15 20 25 [ C r( II I) ] ( p p m ) [Kitosan]k (ppm) Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 32 (a) (b) Gambar 2. (a) Kurva isoterm Langmuir, (b) Kurva isoterm Frendlisch dari adsorpsi ion Cr(III) pada kitosan isolasi Penentuan tipe isoterm adsorpsi ion Cr(III) dilakukan dengan uji regresi dengan membandingkan koofisien korelasi (R 2 ). Dari data, terlihat bahwa kecenderungan adsorpsi kitosan terhadap ion Cr(III) dapat ditentukan dari linearitas yang ada, dimana grafik linearitas yang baik adalah yang mempunyai harga koofisien korelasi (R 2 ) ≥ 0,9 (mendekati 1) Kecenderungan adsorpsi ion Cr(III) pada kitosan isolasi adalah cenderung mengikuti isotherm Freundlich yang mengartikan bahwa isoterm ini dikembangkan untuk permukaan adsorben yang bersifat heterogen (Sutapa dkk, 2014) karena menunjukan koofesien korelasi (R 2 ) yang lebih besar yakni 0,9148 jika dibandingkan dengan isoterm Langmuir yang hanya mencapai 0,8218. Sebaliknya, yang terjadi pada kitosan komersil, berdasarkan koofesien korelasi yang ditunjukkan pada kurva, maka dapat dilihat bahwa kitosan komersil ini tidak dapat mengikuti isoterm Langmuir ataupun Freundlich karena memiliki nilai (R 2 ) untuk Langmuir hanya sebesar 0,6806 dan Freundlich 0,4008. Hal ini disebabkan karena kitosan komersil berasal dari kitin murni sehingga pada proses deasetilasi menghasilkan kitosan yang mungkin memiliki permukaan yang merata, sedangkan kitosan isolasi berasal dari kitin yang mengalami pemurnian secara konvensional sehingga pada proses deasetilasi menghasilkan kitosan yang mungkin memiliki permukaan yang amorf. (a) (b) Gambar 3. (a) Kurva isoterm Langmuir (b) Kurva isoterm Freundlisch dari adsorpsi ion Cr(III) pada kitosan komersil Berdasarkan data-data korelasi di atas maka yang dapat dihitung besarnya penjerapan kitosan terhadap ion Cr(III) hanyalah pada kitosan isolasi. Berdasarkan persamaan (2) maka diperoleh nilai 1/n yang menunjukkan indikator ketergantungan konsentrasi adsorpsi sebesar 0,2712 dan nilai n = 3,6873. Menurut Zor (2004) jika n>1 mengindikasikan baiknya penjerapan ion Cr(III) oleh kitosan dan diperoleh nilai KF sebesar 1,18673 mg/g. Nilai KF pada penelitian ini berbeda dengan nilai KF yang diperoleh Wijayanti dkk. (2018) yaitu 76, 923 mg/g dan 76,9 mg/g untuk adsorben tanah yang dipengaruhi penambahan pupuk organik dan tanah andisol dengan 1 gram pupuk dan hasil yang berbeda juga diperoleh Zaharah dkk. (2015) yaitu sebesar 68,965 mg/g untuk adsorben biomassa Chlorella sp terimobilisasi pada y = 0.2711x + 0.1709 R² = 0.9148 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 - 4 - 3 - 2 - 1 0 1 2 y = 0.7716x + 0.4435 R² = 0.8218 0 0.5 1 1.5 2 0 0.5 1 1.5 2 y = 0.7795x - 1.2414 R² = 0.6806 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0 0 0.5 1 1.5 y = -0.7543x - 0.4904 R² = 0.4008 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4 0.6 0.8 - 1 . 5 - 1 - 0 . 5 0 Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 33 kitosan. Hal ini disebabkan karena perbedaan adsorben yang digunakan dalam proses adsorpsi ion Cr. Hasil yang berbeda pula diperoleh pada nilai KF adsorben kitosan terhadap berbagai adsorbat ion logam, seperti yang diperoleh Agustrya dkk (2015) yaitu sebesar 0,315 mg/g untuk adsorsi ion Cd(II) pada kitosan terimobilisasi ditizon, dan juga berbeda dengan hasil yang diperoleh Rahayu dkk. (2016) sebesar 0,24 mg/g untuk adsorpsi ion logam Ni(II) oleh kitosan termodifkasi tripolifosfat. Berbeda juga dengan hasil yang diperoleh Kurniasih dkk. (2014) yaitu sebesar 0,655 mg/g untuk adsorpsi Rhodamin B oleh kitosan serbuk dan 3,3 mg/g untuk adsorpsi Rhodamin B oleh kitosan beads. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan adsorpsi kitosan pun memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap berbagai ion logam. Menurut (Lyman dkk., 1995), semakin besar nilai KF maka semakin besar kapasitas adsorben menyerap adsorbat. Nilai kapasitas yang diperoleh dalam penelitian ini dipengaruhi oleh karena adanya perbedaan perlakuan pada proses deasetilasi yakni dengan adanya penambahan NaBH4 yang meningkatkan daya jerap kitosan. KESIMPULAN Persentasi penjerapan tertinggi ion Cr(III) terdapat pada konsentrasi 5 ppm sebesar 99,312 % untuk kitin komersil dan pada konsentrasi 20 ppm sebesar 98,64 % pada kitin isolasi.Isoterm adsorpsi yang diikuti oleh sistem adsorpsi ion Cr(III) pada kitin isolasi adalah isoterm Freundlisch dengan nilai 1/n = 0,2712 dan nilai KF = 1,18673 mg/g. DAFTAR PUSTAKA Agustrya, N., Destriarti, L., Zaharah, T. A., 2015. Penentuan Kapasitas Adsorpsi Kitosan Terimobilsasi Ditizon Terhadap Cd(II), J. Kimia Khatulistiwa, 4, 73-78. Gyliene, O., Razmute, I., Tarozoute, R., Nivinskiene, O., 2003. Chemical Composition and Sorption Properties of Chitosan Produced from Fly Larva Shells, Chemija (Villnius), 14, 121-127. Islam, N. M., Khan, M. N., Malik, A. K, Rahman, M. M., 2019. Preparation of Bio-inspired Trimethoxysyl Group Terminated Poly(1- vinylimdazole)-modified-chitosan Composite for Adsorption of Chromium(IV) Ions, J. Hazardous Materials, 379, 1-11. Kurniasih, M., Riapanitra, A., Rohadi, A., 2014. Adsorpsi Rhodamin B dengan Adsorben Kitosan Serbuk dan Beads Kitosan, Sains dan Mat., 2, 27-33. Laksono, E. W., Prodjosantoso, A. K., Ikhsan, J., 2010. Koadsorpsi Cr-Fe oleh kitosan, J. Penelitian Sainstek, 13, 95-109. Lynam, M. M., Kilduff, J. E., Webber, Jr. J., 1995. Adsorption of p-nitrophenol from Oilute Aqueous Solution, J. Chem. Ed., 72, 81-82. Prambaningrum, W., Khabibi., Djunaidi, M, C., 2009. Adsorpsi Ion Besi(III) dan Kadmium(II) Menggunakan Gel Kitosan, J. Kimia Sains dan Aplikasi, 12, 47-51. Rahayu, P., Khabibi., 2016. Adsorpsi Ion Nikel(II) oleh Kitosan Termodifikasi Tripolifosfat, Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi, Vol 19. 21-26. Ramasubramaniam, S., Govindarajan, C., Gomathi, T., Sudha, P. N., 2012. Removal of Chromium (VI) from Aquous Solution Using Chtosan-strach Blend, Der Pharmacia Lettre, Vol 4. 240-248. Sekewael, S.J., Tehubijuluw, H., Reawaruw, D. R., 2013. Kajian Kinetika Dan Isoterm Adsorpsi Logam Pb Pada Lempung Asal Desa Ouw, Ind. J. Chem. Res, Vol 1. 38-46. Sulastri, S., Nuryono., Kartini I., Kunarti, E. S., 2014. Kinetika dan Keseimbangan Adsorpsi Ion Kromium (III) dalam Larutan pada Senyawa Silika dan Modifikasi Silika Hasil Sintesis dari Abu Sekam Padi, J. Penelitian Sainstek, 19, 33- 44. Sutapa, I. W., Siahay, V.P.D., Tanasale, M.F.J.D.P., 2014. Adsorpsi ion logam Cu 2+ pada pectin dari kulit pisang Tongka Langit (Musa species Van Balbisina), Ind. J. Chem. Res, 1, 72-77. Tanasale, M.F.J.D.P., Killay, A. Laratmase, M.S, 2012. Kitosan Dari Limbah Kulit Kepiting Rajungan (Portunus sanginolentus L.) Sebagai Adsorben Zat Warna Biru Metilena, J. Natur Indo., Vol 14. 165–171. Tanasale, M.F.J.D.P., Telussa, I., Sekewael, S.J., Kakerisa, L., 2016. Ekstraksi Dan Karakterisasi Kitosan Dari Kulit Udang Windu (Penaeus monodon) Serta Proses Depolimerisasi Kitosan Dengan Hidrogen Peroksida Berdasarkan Variasi Suhu Pemanasan, Indo. J. Chem. Res, 3, 308- 316. Tarafdar, A., and Biswas, G., 2013. Extraction of Chitosan from Prawn Shell Waste and Examination of Its Viable Commercial Applications, Inter. J. Theoretical and Applied Res. in Mechanical Eng., 2. 17-24. Wijayanti, A., Susatyo, E. B., Kurniawan, C., Sukarjo., 2018. Adsorpsi Logam Cr(IV) dan Rahayu dkk. Indo. J. Chem. Res., 8(1), 28-34, 2020 DOI: 10.30598//ijcr.2020.8-ayu 34 Cu(II) pada Tanah dan Pengaruh Penambahan Pupuk Organik, Indo. J. Chem. Sci., 7, 242-248. Zaharah, T. A., Shofiyani, A., Sayekti, E., 2015. Karakteristik Biomassa Chlorela sp Terimobilisasi pada Kitosan untuk Adsorpsi Kromium(III) dalam Larutan, Alchemy J. Penelitian Kimia, 11, 15-28. Zor, S., 2004. Investigation of the Adsorption of Anionic Surfacftans of Different pH values by Means of Active Carbonand the Kinetics of Adsorption, J. Serh. Chem. Soc., 69, 25-32.