IndoChem Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 67 PERBANDINGAN SIFAT FEROELEKTRIK PADA SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi4Ti4O15 EMPAT LAPIS DENGAN METODE HIDROTERMAL Comparison of Ferroelectric Properties on The Synthesis of Aurivillius Metal Oxide SrBi4Ti4O15 Using Hydrothermal Method Karnelasatri 1* , Edi Mikrianto 2 1 Department of Chemistry Education, Faculty of Education, Pelita Harapan University, Jl. M. Thamrin Boulevard, Karawaci, Tangerang 2 Department of Chemistry, Faculty of Matemathics and Natural Science, Lambung Mangkurat University, Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru *Corresponding author, e-mail: nela.karnelasatri@gmail.com Received: Dec. 2018 Published: Jan. 2019 ABSTRACT Aurivillius compounds, SrBi4Ti4O15 (SBT four layers) have been synthesized by hydrothermal method at 200˚C with variation of times 48 hours, 72 hours and 96 hours. Single phase of SrBi4Ti4O15 Aurivillius compounds obtained at the 200˚C, 96 hours and the concentration of NaOH 3M. The Rietica program shown the index Miller result is 1 1 5 1 1 3, 0 2 0, 0 2 4, 2 0 8 2 2 0, 0 2 1 0, 3 1 6, 1 1 1 6 and the space group is A21am with the orthorhombic crystal system. Cell parameters are a = 5.5754 Å, b = 5.5456 Å, c = 41.3642. Ferroelectric properties show the value of remanent polarization Pr (+) and Pr (-) 4,61 C/cm 2 and 2,75 C/cm 2 and that is much lower than the value of remanent polarization of other material that have been synthesized at 240˚C, 72 hours with the same method. Keywords: Aurivillius oxides, hydrothermal method, ferroelectric properties, polarization, SrBi4Ti4O15. PENDAHULUAN Perkembangan industri dalam bidang elektronika sangat cepat, hal ini didukung oleh perkembangan teknologi material. Salah satu sifat material adalah sifat ferolektrik. Material feroelektrik didefinisikan sebagai material dielektrik dan mempunyai sifat polarisasi spontan yang dapat dibalik arahnya dengan cara membalikkan arah medan listrik luar yang diberikan pada material tersebut (Ismunandar, 2006). Material feroelektrik memiliki aplikasi yang luas dalam industri elektronik contohnya sebagai bahan pembuiat kapasitor (Said dkk., 2017), perangkat memori dan sensor (Lallart, 2011). Material ini diterapkan berdasarkan sifat- sifat yang dimilikinya, contohnya antara lain berdasarkan sifat histeris dan tetapan dielektrik yang tinggi pada memori Dynamic Random Acsess Memory (DRAM), sifat pisoelektrik sebagai mikroaktuator dan sensor, sifat piroelektrik yang dapat diterapkan pada sensor inframerah dan sifat elektro optik yang dapat diterapkan pada switch termal inframerah (Auciello dkk., 1998). Salah satu material yang memiliki sifat feroelektrik adalah oksida logam Aurivillius, rumpun material ini juga diketahui unggul karena memiliki ciri polarisai remanen yang besar dan temperature Curie tinggi. Selain itu, berbeda dengan banyak material feroelektrik lain yang mengandung timbal, rumpun oksida logam Aurivillius justru bebas timbal (Peláiz-Barranco dkk., 2018). SrBi4Ti4O15 (SBT) empat lapis adalah salah satu tipe dari oksida logam Aurivillius. Penentuan sifat feroelektrik pada SBT empat lapis yang disintesis dengan metode reaksi kimia fasa padat pernah dilakukan oleh Mikrianto dkk., (2007) dan memperoleh hasil polarisasi remanan Pr(+) 24,7 Ccm -2 dan Pr(-) 10,4 Ccm -2 . Selain itu, Mikrianto dkk., (2014) juga telah menyintesis senyawa yang sama dengan metode hidrotermal pada waktu 72 jam dan suhu 240˚C kemudian mendapatkan hasil hasil Pr(+) 35,10 Ccm -2 dan Pr(-) 24,10 Ccm -2 dari hasil penentuan sifat feroelektriknya. Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa perbedaan metode sintesis berpengaruh terhadap sifat feroelektrik yang dimiliki oleh material tersebut. Metode sintesis hidrotermal diketahui Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 68 memberikan beberapa keunggulan dibandingkan metode reaksi kimia fasa padat antara lain waktu sintesis yang lebih singkat dan kristalisasi struktur yang dihasilkan lebih tinggi (Ismunandar, 2006). SBT empat lapis namun dengan subtitusi kation yang berbeda yaitu jenis Sr2Bi3Ti4O15 yang disentesis dengan metode hidrotermal pada waktu 72 jam dan suhu 200˚C memperoleh hasil Pr(+) 24,4 Ccm -2 dan Pr(-) 10,9 Ccm -2 (Mikrianto dkk, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa, selain metode sintesis, perbedaan kation dan pemilihan waktu serta suhu pada sintesis material dengan metode hidrotermal juga dapat mempengaruhi sifat feroelektrik senyawa. Berdasarkan latar belakang tersebut pada penelitian ini dilakukan sintesis material SBT empat lapis dengan metode hidrotermal dengan variasi waktu terhadap suhu tertentu. METODOLOGI Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah SrCO3 (Aldrich 99,99%), TiO2 Aldrich (99,99%), Bi2O3 (Aldrich 99,99%), dan NaOH 3 M. Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik OHAUSS, mortar, alu, pipet tetes, autoklaf, sudip, gelas arloji, cawan alumina pengukur waktu, furnace, difraktometer Sinar-X serbuk merk PW1710 BASED, instrumen tipe RT66A Ferroelectric System- Radiant Technology, komputer dan Software Rietica. Prosedur Kerja Sintesis dengan metode hidrotermal Sebanyak 0,2179 gram SrCO3, 1,3757 gram TiO2 dan 0,4718 gram Bi2O3 ditimbang dan dicampur hingga homogen kemudian ditambah larutan NaOH 3 M sebanyak 25 mL. Campuran dimasukkan kedalam autoklaf. Autoklaf tersebut kemudian dipanaskan dalam oven selama variasi kondisi waktu 48 jam, 72 jam dan 96 jam dengan suhu pemanasan 200 ˚ C sehingga terbentuk tekanan autogenous dalam autoklaf. Serbuk yang diperoleh dicuci dengan air bebas mineral untuk menghilangkan ion Na + dan dikeringkan pada suhu ruang (Rizal dan Ismunandar, 2007). Karakterisasi oksida Aurivillius Pola difraksi sinar-X serbuk direkam dengan menggunakan difraktometer sinar-X PW 1050/ 25. Sumber radiasi yang digunakan adalah Cu-Kα dengan filter Ni. Proses difraksi dilakukan pada rentang sudut 2θ antara 10˚ sampai 80˚ dengan interval kenaikan sudut sebesar 0,05˚ per tahap serta waktu 1 detik per tahap. Pola difraksi yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan database PDF (ICDD) yang ditelusuri dengan program Phasanx. Karakterisasi Feroelektrik Pembuatan kontak kapasitor Sebanyak 1 gram senyawa oksida Aurivillius SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis), dimana hasil sintesis dilakukan pengepresan untuk membentuk pelet dengan luas penampang 1,54 cm 2 dan ketebalan sekitar ± 1 mm (1000  m). Pelet yang terbentuk dipanaskan pada temperatur 700 ˚ C selama 24 jam sehingga membentuk keramik. Keramik yang terbentuk ditempatkan pada kaca aluminium evaporator yang sebelumnya bagian permukaan diberi satu tetes pasta perak. Bagian atas dari keramik diberi satu tetes pasta perak dan ditutup lagi dengan kaca aluminium evaporator sehingga membentuk kapasitor. Kapasitor kemudian disolder dengan kawat penghubung elektrode pada kedua sisi kaca evaporator. Pengukuran sifat feroelektrik Karakterisasi feroelektrik dilakukan dengan istrumen tipe RT66A Ferroelektrik Sistem– Radiant Technology untuk mengetahui sifat feroelektrik senyawa target. Kawat dihubungkan dengan elektroda pada instrumen dan dilakukan seting pengukuran. Data diambil pada tegangan maksimum (Vmax) 16 Volt pada kapasitor pembobot 0,1 F dengan jumlah titik 300 buah. Analisis data Data yang didapatkan setelah dilakukan pengukuran sifat feroelektrik selanjutnya senyawa oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis), dianalisis menggunakan Software Excel untuk membuat kurva histerisis feroelektrik, dengan tujuan untuk mengetahui nilai polarisasi remanen yang dihasilkan masing- masing dapat ditentukan sifat feroelektriknya. Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 69 HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis dan Karakterisasi Sintesis oksida Airivillius SrBi4Ti4O15 memperlihatkan perubahan fisik berupa perubahan warna dan tekstur pada oksida yang dihasilkan. Hal ini umumnya dipengaruhi oleh pencucian sampel yang sudah berhasil disintesis dengan air bebas mineral menyebabkan lepasnya ion Na + . Proses perubahan warna maupun tekstur selama sintesis oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 berlangsung dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perubahan warna dan tekstur sampel oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis) Variasi waktu (jam) Warna Tekstur Awal Akhir Awal Akhir 48 Putih Merah muda kecoklatan Halus Lembut 72 Putih Merah muda kecoklatan tua Halus Lembut 96 Putih Merah muda kecoklatan agak tua Halus Agak kasar Struktur kristal suatu bahan dapat diidentifikasi dengan difraksi sinar-X. Pada penelitian ini sampel yang didifraksi adalah sampel dengan hasil sintesis pada waktu sintesis 48 jam, 72 jam dan 92 jam pada suhu 200˚C. Pada ketiga sampel hasil sintesis ini menunjukkan perubahan fisik sangat signifikan. Identifikasi struktur kristal yang terbentuk dapat ditunjukkan melalui pola-pola difraksi (difraktogram) berupa puncak dan intensitas difraksi pada berbagai sudut 2θ. Gambar 1 menunjukan perbandingan difaktogram dari senyawa oksida Aurivillius. Dari hasil difraktogram diatas terlihat bahwa selain terjadi penurunan terhadap intensitas puncak tertinggi dari ketiga senyawa dengan variasi waktu yang berbeda, terlihat pula semakin meningkatnya waktu dalam sintesis maka fasa lain yang tidak diharapkan pada senyawa target semakin sedikit pula. Hal ini menunjukan bahwa semakin murni pula senyawa yang didapatkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi yang paling baik untuk sintesis oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 adalah variasi waktu 96 jam karena puncak-puncak pada difraktogram menunjukkan dengan fasa tunggal atau memiliki kemurnian tinggi karena tidak terlihat puncak-puncak dari fasa lain. Puncak- puncak ini kemudian diindentifikasi dengan program Phasanx. Fasa yang tidak diharapkan pada difaktogram variasi waktu 48 dan 72 jam di identifikasi dan disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Nilai 2θ yang menunjukan puncak- puncak dalam difaktogram dan jenis fasa yang tidak diharapkan Variasi waktu 2θ Produk 48 jam 21,60 SrBi4Ti4O15 +Bi4Ti3O12 23,27 SrBi4Ti4O15 + Bi4Ti3O12 36,92 SrBi4Ti4O15 + Sr3Bi2O6 38,40 SrBi4Ti4O15 + Sr3Bi2O6 42,83 SrBi4Ti4O15+Sr1,5Bi0,5O2,75 44,17 SrBi4Ti4O15 + Sr1,5Bi0,5O2,75 62,49 SrBi4Ti4O15 + Bi4Ti3O12 62,50 SrBi4Ti4O15 + Bi4Ti3O12 72 jam 21,15 SrBi4Ti4O15 + Bi4Ti3O12 22,90 SrBi4Ti4O15 + Bi4Ti3O12 Tabel 3. Data indeks Miller senyawa Oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 hasil indentifikasi program Rietica No hkl 2θ(degree) Intensitas 1 1 1 3 24,89 306 2 1 1 5 28,61 1381 3 0 2 0 32,13 684 4 0 2 4 34,99 571 5 2 0 6 38,99 306 6 2 2 0 46,11 497 7 0 2 10 48,25 610 8 3 1 5 55,15 615 9 1 1 15 59,17 557 Senyawa oksida Aurivillius yang menunjukkan difaktogram terbaik (96 jam) diolah menggunakan program Rietica dengan metode Rietveld sehingga didapatkan nilai indeks Miller dari oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 yang ditunjukan oleh Gambar 2. Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 70 Data indeks Miller dari oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 dapat dilihat pada Tabel 3 sedangkan data indeks Miller dengan puncak difaktogram dari oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 dapat dilihat pada Gambar 3. Nilai sistem kristal, grup ruang dan parameter sel dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perbandingan parameter sel, grup ruang dan sistem kristal senyawa Oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 dengan indeks Miller (hkl) Oksida Aurivillius SBT 4 lapis Suhu 200˚C, 96 jam* Suhu 240˚C, 72 jam** Sistem Kristal Ortorombik Ortorombik Group Ruang A21am A21am Parameter sel satuan (Å) a = 5,5754 (6) a = 5,5396 b = 5,5456 (2) b = 5,5800 c = 41,3642 (1) c = 40,9734 Keterangan: * Data primer yang diolah ** Perbandingan dengan data Mikrianto dkk (2017) Karakterisasi sifat ferolektrik senyawa oksida Aurivillius Tipe SrBi4Ti4O15 variasi waktu 96 jam Untuk menentukan sifat feroelektrik senyawa oksida Aurivillius tipe SBT empat lapis dapat dilakukan pada tegangan maksimum 16 Volt dengan kapasitas pembobot 0,1  F kemudian hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4, dengan menggunakan tegangan tersebut maka mampu untuk membalik arah momen dipol domain dengan sempurna sampai semua arah pada domain tersebut menjadi sejajar sampai tegangan saturation (Vs) 12,2 KV cm -1 . Berdasarkan Gambar 4, data hasil pengukuran sifat feroelektrik pada senyawa oksida Aurivillius tipe SBT empat lapis menunjukkan bahwa harga Ps (polarisasi saturation) sebesar 9,21 Ccm -2 pada tegangan saturasi 12,2 KV cm -1 dan harga Pr (+) (polarisasi remanen) sebesar 4,61 Ccm -2 . Dari hasil pengukuran tersebut dapat terlihat bahwa ketika tegangan mulai naik, maka arah dari momen dipol tersebut mulai terjadi perubahan yang searah dan dapat mencapai keadaan sejajar hingga maksimum pada tegangan saturasi Vs sebesar 12,2 KVcm -1 , nilai ini didapatkan dengan perhitungan logaritma nilai kuat medan listrik yaitu log 1,6 x 10 -12 , harga tegangan saturasi yang dihasilkan tersebut lebih kecil dari 16 Volt yang merupakan sebuah medan listrik luar yang diberikan pada senyawa oksida Aurivillius tipe SBT empat lapis, hal ini menunjukkan bahwa tegangan saturasi arah momen dipol tersebut telah sejajar dan mencapai keadaan maksimum. Gambar 2. Difaktogram oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis) variasi 96 jam dengan pengolah program Rietica Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 71 Tabel 5. Perbandingan hasil pengukuran Sifat Feroelektrik senyawa Oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 SBT empat lapis Pengukuran Suhu 200˚C, 96 jam* Suhu 240˚C, 72 jam** Vmaks (Volt) 16 16 K. Pembobot (µF) 0,1 0,1 A (cm -2 ) 1,54 1,54 D (µm) 1000 1000 Jumlah Titik 300 300 Vs (+) (Volt) 12,2 12,2 Vs (-) (Volt) 12,2 12,2 Ps (+) 9,21 C cm -2 66,8 C cm -2 Ps (-) 6,88 C cm -2 50,1 C cm -2 Pr (+) 4,61 C cm -2 35,2 C cm -2 Pr (-) 2,75 C cm -2 24,1 C cm -2 Keterangan: * Data primer yang diolah ** Perbandingan dengan data Mikrianto dkk., (2017) Pada tahap selanjutnya, pembalikkan arah medan listrik luar yang diberikan hingga diperoleh harga Ps(-) (polarisasi saturation) sebesar 6,88 C cm -2 dan Pr(-) (polarisasi remanen) sebesar 2,75 C cm -2 pada tegangan saturasi 12,2 KV cm -1 . Setelah dilakukan pembalikkan arah medan listrik luar dapat terlihat bahwa harga Pr(-) yang dihasilkan lebih kecil dari harga Pr(+), hal ini menunjukkan sebagian arah momen dipol masih mempertahankan arah polarisasinya pada keadaan semula dan tidak berbalik arah mengikuti arah medan listrik luar yang telah diberikan. Sementara Harga Kef (koefisien dielektrik) dan nilai kapasitansinya diukur pada tegangan maksimum 16 Volt. Pada kurva histerisis (Gambar 4) terlihat bahwa saat medan listrik ditiadakan maka polarisasi tidak kembali pada keadaan semula menjadi nol sehingga kurva yang dihasilkan tidak linier. Hasil perbandingan sifat feroelektrik dari senyawa oksida Aurivillius yang disintesis dengan metode hidrotermal pada suhu 200˚C, 96 jam dan pada suhu 240˚C, 74 jam dapat dilihat di Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa sifat feroelektrik dari senyawa oksida Aurivillius yang disintesis pada suhu 240˚C, 74 jam lebih baik dibandingkan dengan yang disintesis pada suhu 200˚C, 96 jam. Hal ini dapat dilihat dari nilai polarisasi remanennya yang jauh lebih tinggi. Hal ini menandakan bahwa arah polarisasi pada dipol-dipol SBT 4 lapis yang disentesis pada suhu 240˚C, 74 jam paling teratur, domain- domainya terhubung dengan baik antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu pada saat diberi medan listrik dari luar, arah polarisasi dari hampir semua domain yang terhubungkan mudah diubah sesuai arah medan listriknya sehingga kemampuan sifat feroelektiknya lebih baik. Dilihat dari suhu yang digunakan, nilai polarisasi remanen yang lebih tinggi pada SBT 4 lapis yang disintesis pada suhu 240˚C dapat disebabkan karena kelarutan prekusor dan transport massa pelarut yang jauh lebih baik akibat penggunaan suhu yang lebih tinggi. Selain itu, dengan penggunaan suhu yang lebih tinggi, senyawa SBT 4 lapis yang dihasilkan juga memiliki ketahanan termal yang lebih baik. Stabilitas termal akan berpengaruh terhadap Gambar 3. Difaktogram oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis) variasi 96 jam indeks miller (hkl) Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 72 aplikasi material berlapis karena berhubungan dengan kestabilan strukturnya, hal inilah yang menjadi dasar studi pengaruh pemanasan terhadap kristalisasi oleh Sekewael, dkk., (2018). Pemaparan diatas menunjukkan bahwa walaupun disintesis dengan metode yang sama dan menghasilkan senyawa SBT 4 lapis dengan struktur yang hampir sama, namun pemilihan suhu sangat mempengaruhi sifat feroelektrik yang dimiliki oleh SBT 4 lapis. Ketahanan termal juga dapat menjadi dasar penjelasan mengapa nilai Pr (+) dan Pr (-) material yang disintesis pada suhu 200˚C, 96 jam dengan metode hidrotermal juga lebih kecil jika dibandingkan dengan SBT 4 lapis yang disintesis dengan metode reaksi kimia fasa padat dimana nilai Pr (+) dan Pr (-) secara berurutan adalah 24,7 Ccm -2 dan 10,4 Ccm -2 (Mikrianto dkk, 2007). Jika ditinjau dari metode sintesis, senyawa oksida logam yang dihasilkan dari sintesis dengan menggunakan metode hidrotermal menunjukan kemurnian struktur yang lebih baik dibandingkan dengan senyawa yang disintesis dengan metode reaksi kimia fasa padat. Pada umumnya proses kristalisasi berjalan lambat, namun hal ini dapat di atasi dengan metode sintesis hidrotermal. Selain itu, sintesis dengan metode ini dilakukan pada sistem tertutup sehingga meminimalisasi terbentuknya pengotor pada hasil reaksi yang dipengaruhi oleh faktor luar. Akan tetapi, jika melihat perbandingan hasil diatas maka kemurnian struktur yang dapat diperoleh dengan pemilihan metode sintesis bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi sifat feroelektrik suatu material, tetapi juga pemilihan suhu dan jenis material yang disintesis. KESIMPULAN Sifat feroelektirk oksida Aurivilius SrBi4Ti4O15 yang disintesis dengan metode hidrotermal pada suhu 200˚C, 96 jam lebih rendah dibandingkan dengan oksida yang disintesis pada suhu 240˚C, 72 jam yang ditunjukan dengan nilai polarisasi remanen Pr (+) dan Pr (-) masing-masing sebesar 4,61 C/cm 2 dan 2,75 C/cm 2 yang disintesis pada suhu 200˚C, 96 jam dan sebesar 35,2 C/cm 2 dan 24,1 C/cm 2 yang disintesis pada suhu 240˚C, 72 jam. DAFTAR PUSTAKA Auciello, O., Scott, J. F., Ramesh, R., 1998, The Physics of Ferroelectric Memories, Physics Today, 23-27. Ismunandar, 2006, Padatan Oksida Logam: Struktur, Sintesis dan Sifat-sifatnya, ITB, Bandung, Indonesia. Lallart, M., 2011, Ferroelectrics-Application, InTech, Rijeka, Croatia. Mikrianto, E., Ismunandar, 2004, Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Berstruktur Aurivillius Empat dan Lima lapis dan Penentuam Sifat Feroelektriknya, Jurnal Matematika dan Sains, 9(3), 279-284. Mikrianto, E., Kurniawan, R., Mujiyanti, D. R., Irawati, U., 2014, Sintesis Oksida Logam Gambar 4. Pola loop histerisis oksida Aurivillius tipe SrBi4Ti4O15 (SBT empat lapis) pada tegangan maksimum 16 Volt dan kapasitor pembobot 0,1 F Karnelasatri dkk. / Indo. J. Chem. Res., 2019, 6(2), 67-73 73 Aurivillius SrBi4Ti4O15 Menggunakan Metode Hidrotermal dan Penentuan Sifat Ferroelektrinya, Sains dan Terapan Kimia, 8(1), 27-36. Mikrianto, E., Mujiayanti, D. R., 2017, Studi n- Lapis Oktahedral terhadap Sifat Feroelektrik Oksida Logam Aurivillius Sr(n- 2)Bi3TinO(3n+3) (n = 3, 4, 5 dan 6), Sains dan Terapan Kimia, 11(1), 24-36. Peláiz-Barranco, A., Guerra, J. de los S., González-Abreu, Y., dos Reis, I. C, 2018, Perovskite layer-structured ferroelectrics. Magnetic, Ferroelectric, and Multiferroic Metal Oxides, 71–92. Imprint: Elsevier. Rizal, M., Ismunandar, 2007, Sintesis dengan Hidrotermal dan Karakteristik Senyawa Berstruktur Aurivillius Bi4Ti3O12. Jurnal Matematika dan Sains, 12(1), 44-48. Said, S. M., Sabri, M. F. M., Salleh, F., 2017. Ferroelectrics and Their applications. Reference Module in Materials Science and Materials Engineering, doi:10.1016/b978-0- 12-803581-8.04143-6. Sekewael, S. J., Wijaya, K., Triyono, 2018. Pengaruh Pemanasan terhadap Kristalinitas dan Parameter Kisi Nanokomposit Silika- Zirkonia Montmorillonit K10 dan Silika- Besi Oksida Montmorillonit K10, Indo. J. Chem. Res., 6(1), 550-555.