PERBEDAAN VALUES SPESIFIK ANTARA MAHASISWA AKUNTANSI DAN TEKNIK SIPIL Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 ISSN: 1411-6227 129 Pentingnya Perbandingan Nilai-Nilai Spesifik antara Mahasiswa Akuntansi dan Teknik Sipil Sri Suryaningsum, Sucahyo Heriningsih, & Ketut Aryani Email : Srisuryaningsum@gmail.com Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta ABSTRACT This research analyzed, appeals and differentiaves the specific values between accounting students and civil engineering students from some universities in Jogjakarta. Specific values is value which differentiaves student behavior specifically where specific values contens about individuality value, social value, theoretical values, and esthetic value. The data is used a questioner from Rokeach’s model and Schwartz’s model. Measurement is conducted with Likert Scale. The analysis instrument uses t-test. The result of analysis show that there differentiation the specific value between accounting students and engineering students where the differentiation is in the esthetic value. Key Words : Accounting Student, Civil Engineering Student, Specific Values ABSTRAK Penelitian ini dianalisis, banding dan membedakan nilai-nilai tertentu antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik sipil dari beberapa perguruan tinggi di Jogjakarta. Nilai-nilai tertentu adalah nilai yang membedakan perilaku siswa secara khusus di mana nilai-nilai tertentu contens tentang nilai individualitas, nilai sosial, nilai-nilai teoritis, dan nilai estetika. Data yang digunakan dalam kuesioner dari model yang Rokeach dan model Schwartz. Pengukuran dilakukan dengan skala Likert. Instrumen analisis menggunakan t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pembedaan nilai spesifik antara mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik di mana diferensiasi adalah nilai estetika. Kata Kunci: Akuntansi Mahasiswa, Mahasiswa Teknik Sipil, Nilai Tertentu PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap mahasiswa memiliki nilai-nilai personal yang berbeda. Perbedaan ini menarik para ahli-ahli sosiologi dan psikologi sosial untuk menelitinya selama beberapa dekade. Allport dan Vernon (1960) dalam Fathonah (1999) merupakan Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 130 salah satu peneliti pertama yang mencoba mengukur nilai-nilai personal secara empiris. Dalam sebagian besar revisinya mengenai Study of Values (1960), data yang dikumpulkan menengarai bahwa mahasiswa dalam program studi berbeda memiliki nilai-nilai profile yang berbeda pula. Perbedaan ini disebabkan oleh kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang berbeda. Budaya mempunyai pengertian makro (misal budaya Indonesia) dan pengertian mikro yang ditentukan oleh faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, ras, agama, kelas sosial ekonomi, dan pilihan karir atau pekerjaan (Rosenberg, 1957, dalam Fathonah, 1999). Lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan kampus, juga ikut berpengaruh terhadap terbentuknya nilai-nilai mahasiswa. Tahun 1952, Cornell Values Study melakukan survei tahunan untuk memonitor perubahan nilai-nilai personal mahasiswa. Penelitian mengenai nilai- nilai personal mahasiswa ini penting karena nilai-nilai personal mahasiswa memberikan masukan terhadap program pendidikan di perguruan tinggi dan karena mahasiswa mewakili kelompok calon pemimpin sebuah organisasi di masa yang akan datang (Kumar, 1995, dalam Fathonah, 1999). Seorang pemimpin maupun pembuat keputusan yang profesional sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai personal-nya dalam strategi pembuatan keputusan perusahaan. Profesi akuntansi juga mengakui pentingnya values dalam bisnis. Statement on Auditing Standards (SAS) No. 78 (AICPA 1995) menghendaki auditor untuk memperoleh pemahaman mengenai integritas dan nilai-nilai ethical klien. Walaupun beberapa penelitian telah menguji profile dari mahasiswa akuntansi, namun sangat sedikit yang meneliti mengenai values spesifik. Di Indonesia, personal values telah dilakukan oleh Fathonah (1999), sedangkan penelitian ini dimotivasi oleh penelitian Fathonah (1999), namun demikian penelitian ini berbeda dalam beberapa hal, antara lain : (1) Pada penelitian sebelumnya, Fathonah (1999) meneliti mahasiswa akuntansi dan kedokteran pada satu universitas. Sedangkan pada penelitian ini, yang diteliti adalah mahasiswa akuntansi dan teknik sipil pada beberapa universitas, yaitu UGM, UII, UPN, UAJY, dan STIE YKPN, sehingga sampel yang diperoleh lebih luas. (2) Pada penelitian sebelumnya, kedua program studi memiliki ikatan profesi. Sedangkan pada penelitian ini hanya program studi akuntansi yang memiliki ikatan profesi, sedangkan teknik sipil tidak memiliki ikatan profesi, sehingga diharapkan mahasiswa akuntansi memiliki profesionalisme yang tinggi. (3) Pada penelitian sebelumnya, kedua program studi memiliki mata kuliah etika yang diajarkan secara khusus. Pada penelitian ini, hanya program studi akuntansi yang memiliki mata kuliah etika yang terkandung dalam mata kuliah auditing 1, auditing 2, dan praktikum auditing, sedangkan pada program studi teknik sipil, mata kuliah muatan etika telah tercakup dalam mata kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan, sehingga diharapkan mahasiswa akuntansi memiliki nilai-nilai personal yang lebih baik daripada mahasiswa teknik sipil. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 131 Rumusan Masalah Personal values adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap individu, karena lingkungan yang membentuknya dalam hal ini jurusan akuntansi dan teknik sipil tiap-tiap kelompok jurusan tersebut mahasiswanya memiliki nilai-nilai spesifik yang berbeda. Berlandaskan pemahaman tentang personal values, penelitian ini menganalisis apakah ada perbedaan value spesifik antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. KERANGKA TEORITIS Salah satu komponen perilaku adalah sikap (attitudes). Sikap adalah kesiap- siagaan mental, yang dipelajari dan diorganisasi melalui pengalaman, dan mempunyai pengaruh tertentu atas cara tanggap seseorang terhadap orang lain, objek, dan situasi yang berhubungan dengannya. Nilai-nilai (values) berhubungan erat dengan sikap dalam arti bahwa nilai dapat digunakan sebagai suatu cara mengorganisir sejumlah sikap. Dalam Giacomino dan Akers (1998), Posner et al. (1987) mendefinisi values sebagai “general standards by which we formulate attitudes and beliefs and according to which we behave.” Sementara Nystrom (1990) dalam Giacomino dan Akers (1998) menyatakan bahwa values adalah “normative beliefs about proper standards of conduct and prefered or desired results.” Schwartz (1992) dalam Giacomino dan Akers (1998) mendefinisi values sebagai “desirable goals varying in importance that serve as guiding principles in peoples’ live.’’ Dari definisi-definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa values (nilai-nilai) mempengaruhi perilaku manusia. Kesimpulan yang lebih khusus lagi adalah bahwa values mempengaruhi etika. Etika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan penilaian baik atau buruk terhadap suatu perilaku. Personal Values dan Values Spesifik Rokeach (1973) dalam Giacomino dan Akers (1998) merupakan salah seorang investigator lain yang mempelajari pangukuran nilai-nilai personal . Definisi nilai-nilai personal dikemukakan sebagai berikut: “To say that a person has a value is to say that he has an enduring belief that a specific mode of conduct or end state of existence is personally and socially preferable to alternative modes of conduct or end states of existence.” Ada dua macam values yang bisa diambil dari definisi di atas: instrumental values dan terminal values. Instrumenta valuesl adalah kepercayaan yang memberikan petunjuk bagaimana bertingkah laku (misalnya kesopanan atau kerukunan) yang secara personal maupun sosial sangat diperlukan. Terminal values adalah kepercayaan yang memberikan bagian akhir dari kehidupan Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 132 (misalnya ketenangan atau kedamaian dunia) yang secara personal maupun sosial keberadaannya itu diusahakan dengan kerja keras. Menurut Rokeach (1973) dalam Fathonah (1999), seseorang yang memiliki instrumental values lebih baik dibandingkan terminal valuesnya; dia memahami hirarki belief-attitude-values, dalam hal ini terminal values merupakan urutan pertama, nilai-nilai instrumental merupakan urutan kedua, dan attitudes serta belief lainnya merupakan urutan ketiga dalam hal pentingnya. Values spesifik adalah nilai yang secara khusus membedakan perilaku manusia, dalam hal ini mahasiswa, dimana values spesifik meliputi value individualitas, value teoretis, value sosial, dan value estetis, dan merupakan konstruk dari personal values yang sangat berkaitan erat (Fathonah, 1999). Tabel 1 ini menggambarkan konstruk dan elemen pengukurnya. Tabel 1 Konstruk dan Elemen Pengukur Konstruk Elemen Pengukur 1. Individualitas 2. Sosial 3. Teoretis 4. Estetis  Capable  Self-respect  Ambitious  Successful  Healthy  Inner harmony  Self-discipline  Family security  Wisdom  Equality  Obedient  Clean  Helpful  Intelligent  Mature love  Creativity  Honest  Responsible  Independent  Meaning in life  Wealth  National Security  True friendship  Enjoying  Freedom  Forgiving  Broadminded  Loyal  Moderate  Curious  A world of beauty Keempat konstruk tersebut dideskripsikan sebagai berikut: Seseorang yang individualis memiliki karakter sebagai berikut: mampu untuk berkompeten dengan cara yang efisien dan efektif (capable); percaya pada diri sendiri (self-respect); suka bekerja keras dan bercita-cita tinggi (ambitious); dan bisa mencapai tujuan (successful); mampu menjaga kesehatan mental dan fisik (healthy); mampu untuk bertindak secara jujur, ikhlas, dan tulus hati (honest); bisa dipercaya dan diandalkan (responsible); percaya diri dan tidak tergantung pada orang lain (independent); mampu untuk menentukan tujuan Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 133 hidupnya sendiri (meaning in life), menginginkan hidup yang tenang dan tentram (inner harmony); serta mencari dan mengumpulkan kekayaan (wealth). Seseorang yang sosial dicirikan sebagai berikut: tahan terhadap segala macam godaan (self-discipline); lebih mencintai orang lain (family security); pemahaman yang dewasa tentang hidup (wisdom); peduli dengan kondisi negara (national security); lebih suka bersahabat dengan banyak orang (true friendship); menikmati setiap kegiatan yang dilakukan (enjoying); memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang (equality); serta menyukai kebebasan dalam bertindak dan berpikir (freedom). Seseorang yang teoritis dikarakteristikkan sebagai berikut: lebih mementingkan kewajiban dibanding hak (obedient); lebih mementingkan kebersihan, kerapian, keteraturan (clean); lebih suka bekerja untuk kepentingan orang banyak (helpful); sangat menyukai untuk berpikir secara logis (intelligent); lebih bersedia untuk memaafkan kesalahan orang lain (forgiving); berpikiran luas dan toleran dengan ide dan kepercayaan orang lain (broadminded); setia kepada teman dan kelompok (loyal); dan menghindari tindakan dan perasaan yang ekstrim (moderate). Seseorang yang estetis ditunjukkan dengan perasaan emosi yang dalam (mature love); lebih menyukai sesuatu yang unik serta lebih suka berimaginasi (creative); lebih suka menyelidiki dan lebih mudah tertarik dengan sesuatu (curious); serta lebih menyukai keindahan alam dan kesenian (a world of beauty). Penelitian Sebelumnya Sebagian besar penelitian yang berfokus pada nilai-nilai dari accounting menggunakan instrumen yang diciptakan oleh Rokeach (1973), yang meminta pendapat responden untuk meranking 18 nilai-nilai instrumental dan 18 nilai-nilai terminal. Tabel 2 berikut berisi 18 nilai-nilai terminal dan 18 nilai-nilai instrumental. Tabel 2 Rokeach Instrument Nilai-nilai Terminal Nilai-nilai Instrumental A comfortable life An exciting life A sense of accomplishment A world at peace A world of beauty Equality Family security Freedom Happiness Inner harmony Mature love National security Ambitious Broadminded Capable Cheerful Clean Courageous Forgiving Helpful Honest Imaginative Independent Intellectual Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 134 Pleasure Salvation Self-respect Social recognation True friendship Wisdom Logical Loving Obedient Polite Responsible Self-controlled Swindle et al. (1987) dalam Giacomino dan Akers (1998), menggunakan Rokeach Value Survey, untuk melakukan survei terhadap anggota akuntan publik mengenai nilai-nilai (values) mereka. Akuntan publik meranking keselamatan keluarga (family security), kepercayaan kepada orang lain (self-respect), dan kebahagiaan (happiness) sebagai tiga values tertinggi; sedangkan tiga values terendah adalah keindahan alam (a world of beauty), keamanan negara (national security), dan rasa hormat kepada orang lain (social recognation). Para peneliti menyimpulkan bahwa akuntan publik lebih berorientasi pada personal values daripada social values. Walaupun akuntan publik dalam penelitian ini tidak menggambarkan values mahasiswa akuntansi, tetapi mereka memberikan dasar untuk hasil penelitian ini maupun penelitian di masa yang akan datang. Pinac-Ward et al. (1998) dalam Giacomino dan Akers (1998) juga melakukan penelitian terhadap nilai-nlai (values) akuntan publik dengan menggunakan Rokeach Value Survey. Mereka menemukan bukti tambahan yaitu akuntan publik meranking kejujuran (honest) dan dapat dipercaya (responsible) sebagai values pertama dan kedua, memenuhi kewajiban (obedient) dan keberanian (courageous) sebagai nilai-nilai terakhir untuk nilai-nilai instrumental. Untuk nilai-nilai terminal, akuntan publik meranking kepercayaan kepada seseorang (self-respect) dan keluarga sebagai nilai pertama dan kedua, serta rasa hormat kepada orang lain (social recognation), keindahan alam (a world of beauty), dan pengalaman yang membangkitkan semangat (an exciting life) sebagai nilai yang terakhir. Temuan ini pararel dengan penelitian Swindle et al. (1987). Feather (1970, dalam Fathonah, 1999) dengan menggunakan Rokeach instrumen, melakukan penelitian terhadap mahasiswa Australian University dan menemukan bahwa mahasiswa yang mempelajari ilmu-ilmu humaniora meranking “A world of beauty” lebih tinggi dibanding mahasiswa lainnya. Penelitian-penelitian yang lain mengenai nilai-nilai personal dan professional attributes telah secara konsisten menunjukkan rating yang tinggi untuk value honest (jujur). Fagenson (1993) dalam Giacomino dan Akers (1998), menggunakan Rokeach instrumen, menemukan bahwa entrepreneurs meranking honest (jujur) paling tinggi diantara terminal values, sementara manajer meranking honest pada ranking kedua. Dalam survei ini, entrepreneurs pria, seperti manajer pria dan wanita, meranking family security tertinggi diantara 18 nilai terminal sementara entrepreneurs wanita meranking family security pada urutan kedua. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 135 Abdul Mohammadi (1996) dalam Giacomino dan Akers (1998) melakukan survei terhadap auditor, mahasiswa akuntansi yang telah lulus, dan dosen akuntansi dengan tujuan untuk “memberikan bukti yang berkaitan dengan personal dan professional attributes yang penting untuk etika auditing, dan seharusnya dimasukkan dalam kursus etika dan profesionalisme seperti kursus auditing.” Dia menemukan bahwa personal attributes (seperti “honesty”) diranking lebih penting daripada professional attributes, dan bahwa honesty merupakan nilai yang paling tinggi diantara 40 nilai-nilai yang disurvei. Salah satu implikasi yang dia tegaskan adalah bahwa AICPA’s Code of Professional Conduct seharusnya diperluas untuk mengakui personal ethical attributes (AICPA, 1996). Fatt (1995, dalam Ratri, 2000), menggunakan responden publik, mahasiswa, dan akuntan di Singapura untuk menguji tentang kualitas personal akuntan yang diharapkan. Untuk menguji perbedaan pendapat diantara ketiga kelompok responden (bentuk pendapat adalah kurang penting, cukup penting, penting), Fatt menggunakan alat analisis chi-square. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari keseluruhan responden (380 responden) menyatakan kualitas terpenting yang harus dipunyai oleh akuntan adalah integritas, baru kemudian sikap etis, dan analitis. Beberapa penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat mengenai jenis kelamin membuktikan bahwa nilai-nilai antara wanita dan pria adalah berbeda. Beltramini dkk. (1984) dalam Akaah (1989), telah menemukan bahwa wanita lebih concern dengan masalah- masalah etika dibanding pria. Akaah (1989), menguji perbedaan dalam research judgments antara professional marketing pria dan wanita, menyimpulkan bahwa wanita mempunyai etika yang lebih tinggi dibanding pria. Sikula dan Costa (1994, dalam Fathonah, 1999) menemukan bahwa mahasiswa pria dan wanita secara etis sama. Namun demikian, mahasiswa wanita dan pria secara signifikan berbeda dalam 4 nilai: an exciting life, a world of peace, forgiving, dan imaginative. Beberapa penelitian mengenai nilai-nilai personal antara wanita dan pria telah membuktikan bahwa nilai-nilai personal antar kedua kelompok tersebut memang berbeda. Namun demikian, penelitian yang lain tidak menunjukkan perbedaan antara wanita dan pria dalam value systems mereka. Dalam Giacomino dan Akers (1998), Fagenson (1993) mengukur value systems dari entrepreneurs dan business manajer wanita dan pria. Dia menemukan bahwa entrepreneurs dan manajer mempunyai value systems yang sangat berbeda, sementara jenis kelamin mempunyai sangat sedikit perbedaan dalam value systems mereka. Sedangkan Davis dan Welton (1991) dalam Giacomino dan Akers (1998) menemukan bahwa baik training etika maupun jenis kelamin merupakan faktor signifikan dalam mengevaluasi persepsi etika seseorang. Isalikis dan Ortiz-Buonafina (1990) dalam Giacomino dan Akers (1998), ketika mengukur reaksi mahasiswa bisnis (wanita dan pria) terhadap skenario etika, menyimpulkan bahwa etika wanita sangat mirip dengan etika pria, dan keduanya Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 136 menggunakan proses serupa untuk mengevaluasi situasi etika. Tetapi dalam penelitian ini tidak membahas tentang jenis kelamin, sehingga hal tersebut diabaikan. Cakupan Materi Perbedaan kedua program studi tersebut terlihat jelas terutama dalam mata kuliah keahlian (MKK) sedangkan mata kuliah dasar umum (MKDU) hampir sama. Berikut adalah perbedaan MKDU yang ada di program studi akuntansi dan teknik sipil: Tabel 3 Perbandingan MKDU Program Studi MKDU Jumlah SKS Akuntansi Teknik Sipil Agama Pancasila Kewiraan Ilmu Alamiah Dasar Ilmu Budaya Dasar Agama Pancasila Kewiraan Bahasa Inggris 2 2 2 2 2 2 2 2 2 MKDU yang ada di program studi akuntansi 10 SKS, sedangkan teknik sipil 8 SKS. Bahasa Inggris yang di teknik sipil termasuk MKDU ternyata di akuntansi termasuk mata kuliah dasar keahlian (MKDK). Etika profesi akuntan terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan dimasukkan dalam auditing 1 (3 SKS). Auditing 2 (3 SKS) membahas bagaimana melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan, membuat laporan audit, serta memberikan pendapat atas laporan keuangan. Auditing 3 (3 SKS) lebih banyak berkaitan dengan analisis kasus. Sedangkan pada program studi teknik sipil, tidak membahas etika secara khusus. Etika sudah tercakup dalam mata kuliah Falsafah Ilmu Pengetahuan (2 SKS), yang membahas tentang ilmu pengetahuan, kebudayaan, teknologi, dan tanggung jawab moral. Ternyata muatan etika lebih banyak terdapat dalam program studi akuntansi (9 SKS) dibandingkan dengan teknik sipil (2 SKS). Oleh karena itu, seharusnya mahasiswa akuntansi memiliki personal values yang lebih baik jika dibandingkan dengan mahasiswa teknik sipil. Hipotesis Proses belajar yang ada di akuntansi juga berbeda dengan proses belajar yang ada di teknik sipil. Teknik sipil lebih banyak menekankan pada praktikum dibandingkan dengan akuntansi. Praktikum yang begitu banyak menyebabkan Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 137 mahasiswa teknik sipil lebih individualis karena sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja keras dalam menyelesaiakan praktikum sehingga mempunyai sedikit waktu untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Oleh karena itu, hipotesis nol yang diajukan adalah sebagai berikut: H01: Tidak ada perbedaan value individualitas antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. H02: Tidak ada perbedaan value sosial antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. Terbatasnya waktu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa teknik sipil untuk berinteraksi dengan orang lain ataupun untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, menyebabkan dia berpandangan tidak luas. Namun demikian, dia setia kepada teman dan kelompoknya, lebih toleran dengan orang lain, suka berpikir secara logis, dan lebih mementingkan kewajiban. Sikap tersebut menggambarkan value teoretis yang dimiliki mahasiswa teknik sipil lebih tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa akuntansi. Berdasarkan masalah tersebut, maka hipotesis nol yang diajukan adalah sebagai berikut: H03: Tidak ada perbedaan value teoretis antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. Dalam praktikum, mahasiswa bekerja harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh instruktur praktikum. Jadi, mahasiswa teknik sipil tidak memiliki kreativitas dalam melakukan praktikum. Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan mahasiswa akuntansi, yang harus kreatif dalam menyelesaikan soal terutama yang berkaitan dengan analisis kasus. Oleh karena itu, hipotesis nol yang akan diuji adalah sebagai berikut: H04: Tidak ada perbedaan value estetis antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. METODA PENELITIAN Metoda pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Survei ini dilakukan dengan cara mengedarkan kuesioner, dari model Rokeach dan Schwartz yang diadaptasi oleh Fathonah (1999), yang berisi beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan values spesifik. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan instrumen untuk mengukur values spesifik. Populasi dan Sampel Populasi target dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi dan teknik sipil yang belajar di lembaga pendidikan tinggi yang terdapat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi dan teknik sipil tingkat ketiga sampai dengan tingkat akhir. Alasan peneliti menggunakan sampel ini karena diasumsikan mahasiswa yang duduk di tingkat ketiga sampai dengan tingkat akhir sudah mengambil mata kuliah yang mengandung muatan etika. Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 138 Sampel penelitian untuk mahasiswa ini diambil dari lima universitas yaitu mahasiswa jurusan akuntansi di UGM, UII, UPN, UAJY, dan STIE YKPN. Sedangkan untuk jurusan teknik sipil, diambil dari mahasiswa di UGM, UII, dan UAJY. Untuk mendapatkan sampel yang cukup, kuesioner didistribusikan kepada mahasiswa, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dari kelompok responden ini, mereka yang mengisi kuesioner dengan lengkap dan benar akan menjadi sampel dalam penelitian ini. Definisi Operasional Pada penelitian ini, yang menjadi variabel independen adalah nilai-nilai individualitas, nilai-nilai sosial, nilai-nilai teoretis, dan nilai-nilai estetis. (1) Nilai individualitas adalah nilai yang berkaitan dengan sikap dan kepentingan pribadi seseorang. (2) Nilai sosial adalah nilai dalam bersikap yang lebih mementingkan orang lain. (3) Nilai teoretis adalah suatu nilai dalam bersikap yang lebih mengutamakan kritik dan pendekatan rasional dalam menemukan suatu kebenaran. (4) Nilai estetis adalah nilai dalam bersikap yang lebih mengutamakan keindahan dan keharmonisan. Alat Analisis Data Setelah dilakukan pengujian data yang meliputi pengujian validitas dan reliabilitas maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesis dengan uji-t dengan tingkat kepercayaan 95 % (=5%). ANALISIS DATA Deskripsi Sampel Penelitian Dalam penelitian ini total kuesioner yang disebar sebanyak 200 lembar. Kuesioner disebar kelima perguruan tinggi. Total pengembalian kuesioner dapat ditampilkan sebagai berikut: Tabel 4 Program Studi Responden Program Studi Kuis yang disebar Kuis yang kembali Persentase (%) Mhs. Akuntansi 100 88 88 % Mhs. Teknik sipil 100 59 59 % Jumlah 200 147 73,5 % Tingkat pengembalian sebesar 73,5% termasuk sangat bagus karena penyebaran kuesioner dilakukan dengan mendatangi satu persatu calon responden. Dengan cara ini disamping memperoleh tingkat pengembalian yang Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 139 tinggi, juga dilakukan pengecekan responden apakah calon memenuhi persyaratan sebagai responden. Analisis Hasil Penelitian Analisis data dilakukan dengan melakukan komputasi data statistik yang dikumpulkan. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari kuesioner yang diedarkan kepada para mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. Dari 200 kuesioner yang tersebar, terkumpul 149 kuesioner. Namun yang dapat digunakan untuk diolah lebih lanjut adalah 147 kuesioner. Sedangkan 2 kuesioner yang lainnya dianggap tidak layak karena adanya kesalahan-kesalahan seperti adanya jawaban ganda dan tidak lengkapnya pengisian. Dari data yang terkumpul dilakukan tiga macam analisis. Analisis pertama dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas untuk mengetahui apakah kuesioner yang digunakan sebagai instrumen pengukuran valid dan reliabel. Analisis kedua dilakukan dengan menampilkan statistik deskriptif dari responden. Analisis ketiga dilakukan dengan menggunakan uji-t. Pengujian Validitas dan Reliabilitas Pengujian ini dilakukan untuk menguji sejauhmana tingkat kevalidan dan keandalan data yang terkumpul. Hanya data yang lolos uji validitas dan reliabilitas yang dapat diteruskan untuk dianalisis selanjutnya. Uji Validitas Tabel 5 Hasil Uji Validitas Variabel Nilai-nilai Spesifik Kuesioner yang Diuji Signifikasi Individualitas 2, 4, 5, 7, 15, 18, 21, 22, 23, 24, 30 0,2679 – 0,5856 Sosial 1, 3, 6, 10, 11, 12, 13, 29 0,1797 – 0,5724 Teoretis 16, 17, 19, 20, 25, 26, 27, 28 0,3774 – 0,5858 Estetis 8, 9, 14, 31 0,2962 – 0,4937 Total 31 Berdasarkan tabel di atas, pengujian validitas dilakukan terhadap kuesioner yang digunakan untuk mengukur variabel nilai-nilai spesifik dengan melihat korelasi item dengan skor total seluruh item. Setelah dilakukan pengujian validitas, ada satu kuesioner yang tidak valid yaitu kuesioner nomor satu. Walaupun alpha yang diperoleh sudah cukup, tetapi peneliti ingin memperkuat dan mempertegas hasil uji validitas sehingga dilakukan pengedropan pada kuesioner nomor satu. Gambaran umum item kuesioner setelah pengedropan yaitu : Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 140 Tabel 6 Hasil Uji Validitas Setelah Pengedropan Variabel Nilai-nilai Spesifik Kuesioner yang Diuji Signifikasi Individualitas 2, 4, 5, 7, 15, 18, 21, 22, 23, 24, 30 0,2612 – 0,5887 Sosial 3, 6, 10, 11, 12, 13, 29 0,2683 – 0, 5866 Teoretis 16, 17, 19, 20, 25, 26, 27, 28 0,3762 – 0,5859 Estetis 8, 9, 14, 31 0,2944 – 0,4908 Total 30 Berdasarkan tabel signifikasi maka kuesioner diatas dikatakan valid karena hasil yang diperoleh lebih besar dari r tabel 0,193 dan bernilai positif. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas menghasilkan total Cronbach Alpha () sebesar 0,8867. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner cukup andal apabila digunakan untuk mengukur kembali objek yang sama, dengan hasil yang ditunjukkan relatif tidak berbeda. Gambaran umum item kuesioner setelah dilakukan uji reliabilitas pada tabel berikut: Tabel 7 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Nilai-nilai Spesifik Kuesioner yang Diuji Alpha if Item Deleted Individualitas 2, 4, 5, 7, 15, 18, 21, 22, 23, 24, 30 0,8800 – 0,8864 Sosial 3, 6, 10, 11, 12, 13, 29 0,8801 – 0,8864 Teoretis 16, 17, 19, 20, 25, 26, 27, 28 0,8799 – 0,8846 Estetis 8, 9, 14, 31 0,8819 – 0,8865 Total 30 Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa reliabilitas dari masing-masing variabel tinggi. Statistik Deskriptif Hasil statistik deskriptif dari skor nilai-nilai spesifik masing-masing item dapat dilihat pada tabel berikut : Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 141 Tabel 8 Statistik Deskriptif Masing-masing Item N Minimu m Maximu m Mean Std. Dev. Individualit as Sosial Teoretis Estetis Valid N (listwise) 147 147 147 147 147 2,73 2,75 0,63 0,25 6,55 6,50 6,25 6,25 5,157 1 4,820 6 4,504 3 4,003 4 0,7375 0,7296 0,8906 1,0964 Berdasarkan tabel 8, dapat disimpulkan bahwa, pertama, mean dari masing- masing variabel berbeda. Nilai mean terbesar terdapat pada variabel individualitas sebesar 5,1571 yang menunjukkan bahwa hal dominan yang mempengaruhi nilai- nilai spesifik adalah nilai individualitas. Kedua, adanya standar deviasi yang tinggi sebesar 1,0964 yang terdapat pada variabel estetis menandakan bahwa para responden tidak sepakat dalam memberikan penilaian. Pengujian Hipotesis Tabel 9 berikut ini menunjukkan hasil uji-t : Tabel 9 Hasil Uji-t Values Spesifik  Individualitas 0,774 0,771 Sosial 0,189 0,191 Teoretis 0,725 0,736 Estetis 0,01 0,01 Berdasarkan tabel hasil uji-t tersebut, maka : (1) Hipotesis 1, H0-nya dinyatakan dengan, “Tidak ada perbedaan nilai individualitas antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil.” Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil dalam hal nilai individualitas. Mahasiswa akuntansi memiliki nilai individualitas yang sama dengan mahasiswa teknik sipil. Hal ini mungkin disebabkan karena mahasiswa akuntansi dan teknik sipil dituntut untuk mampu bekerja keras dan bertindak jujur dalam Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 142 menyelesaikan praktikum sehingga hasil yang diperoleh dapat dipercaya dan diandalkan. (2) Hipotesis 2, H0-nya dinyatakan dengan, “Tidak ada perbedaan nilai sosial antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil.” Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil dalam hal nilai sosial. Mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik sipil memiliki nilai sosial yang sama. Hal ini mungkin disebabkan karena dalam melakukan praktikum, mahasiswa teknik sipil melakukannya secara berkelompok, sehingga secara tidak langsung mahasiswa teknik sipil berinteraksi dengan mahasiswa lain. (3) Hipotesis 3, H0-nya dinyatakan dengan, “Tidak ada perbedaan nilai teoretis antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil.” Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil dalam hal nilai teoretis. Mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik sipil memiliki nilai teoretis yang sama. Hal ini mungkin disebabkan karena mahasiswa akuntansi memiliki waktu luang untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga bisa berpandangan luas dan bersikap toleran dengan orang lain. (4) Hipotesis 4, H0-nya dinyatakan dengan, “Tidak ada perbedaan nilai estetis antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil.” Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil dalam hal nilai estetis. Hal ini mungkin disebabkan karena mahasiswa akuntansi harus kreatif dalam menyelesaikan soal terutama yang berkaitan dengan analisis kasus. Di samping itu, mahasiswa akuntansi memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga dapat menikmati kesenian dan keindahan alam. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN KELEMAHAN Kesimpulan Dalam hal nilai individualitas, sosial, dan teoretis tidak ada perbedaan secara signifikan antara mahasiswa akuntansi dan teknik sipil. Hanya dalam hal nilai estetis mahasiswa akuntansi dan teknik sipil berbeda. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa program pendidikan harus lebih berfokus pada kemampuan teknis karena persiapan mahasiswa untuk memasuki dunia profesi yang lebih banyak membutuhkan keahlian teknis. Pendidik harus lebih banyak menyelipkan ulasan etis ke dalam mata kuliah yang diajarkan, misalnya memberi tugas untuk menganalisis sebuah kasus. Hasil diskusi implikasi etis dari analisis kasus seharusnya diintegrasikan ke dalam mata kuliah melalui kurikulum. Mahasiswa harus lebih memikirkan bagaimana isu-isu yang berkaitan dengan etika itu dipecahkan dan bagaimana mereka sebagai individu akan berhubungan dengan masalah-masalah ini sebelum mereka menemukan situasi yang sebenarnya di dunia kerja. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 143 Kelemahan Penelitian ini mempunyai kelemahan yang menyebabkan hasil menjadi tidak optimal. Kelemhan ini adalah perbandingan hanya dilakukan dengan satu program studi dalam hal ini akuntansi dengan teknik sipil, akibatnya hasil penelitian ini tidak bisa digeneralisasi untuk program studi yang lain. Untuk penelitian mendatang sampel bisa diperluas dengan membandingkan values spesifik antara mahasiswa akuntansi dengan beberapa program studi yang lain, misalnya dengan hukum, teknik arsitektur, dan bahasa pada beberapa universitas.Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan adalah mahasiswa akuntansi Hal ini tidak bisa digunakan untuk melihat secara spesifik bagi nilai akuntan publik, nilai akuntan pendidik, dan nilai akuntan manajemen. Untuk penelitian mendatang bisa dilakukan penelitian yang lebih berfokus pada masing- masing akuntan pendidik, akuntan manajemen, dan akuntan publik sesuai dengan bidang yang ditekuni. REFERENSI Akaah, LP. 1989. Differences in Research Ethics Judgments Between Male and Female Ethical Behavior. Journal of Business Ethics 13. 417- 430. Akaah, LP. , Lund. D. 1994. The Influence of Personal and Organizational Values on Marketing Professionals’Marketing Profesional. Journal of Business Ethics 8. (5). 371- 381. Fathonah, Siti. 1999. Perbedaan Values Spesifik Antara Mahasiswa Akuntansi dan Kedokteran. Skripsi. FE UGM. Giacomino, D. Akers, M. 1998. An Examination of the Differences Between Personal Values and Value Types of Female and Male Accounting and NonAccounting Majors. Issues in Accounting Education 13. 565-584. Gibson, Ivancevich, Donnelly. 1997. Organizations Behavior Structure Processes. Irwin McGraw-Hill. Greenberg. J dan R. Baron. 1995. Behavior Structure and Process. Business Publication Inc., Plano, Texas. Gul, A.F. and Y.M., Chia. 1994. The Effect of Management Accounting Systems, Perceived Environmental Uncertainty and Decentralization on Managerial Performance: A Test of Three Way Interaction. Accounting, Organizations and Society 19. Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 144 Hall. Richard H. 1991. Organizations: Structures, Processes, and Outcomes, New Jersey, Prentice Hall, Inc. Hogarth, Robin M. 1994. The Psycholoy of Decision. Judgment and Choice. Jhon Wiley & Sons. Hufman, Karen;Vernoy, Marn; dan Williams, Barbara, (1987), Psychology in Action, John Wiley and Sons, Inc,Singapore. Kumar, Kamalesh. 1997. Values Profiles of Busniness Students in The 1960s and in The 1990s: A Comparison. Journal of Education for Business. 140-143. Muluk. M.R. Khairul. 1998. Komunikasi Budaya Organisasi: Upaya Membangun Budaya Kuat. Usahawan. No. 11 Th XXVII November 1998. Nasution, Andi Hakim. 2000. Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan, Basis Edisi Khusus Pendidikan. No. 07-08, Tahun ke-49, Juli – Agustus 2000. Nystrom, P.C. 1990. Differences in Moral Values Between Corporations. Journal of Business Ethics 9. 971-979. Pines, M., The Civilizing of Genie, Psychology Today, 1981. Prakarsa, Wahjudi. (1996). Transpormasi Pendidikan Akuntansi Menuju Globalisasi. Konvensi Nasional Akuntansi III. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia. Reigeluth, Charles M., 1983. Instructional Design Theories and Models. An Overview of Their Current Status, New Jersey. Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. Schein, H.Edgar. 1984. Comming to a New Awareness of Organizational Culture, Sloan Management Review, Winter. Sukirno. (1999). Pengaruh Kesempatan Pembelajaran Organisasi dan Kualitas Pengajaran pada Hubungan Antara partisipasi Dosen dalam Pengambilan keputusan dengan Hasil Belajar Mahasiswa pada Perguruan Tinggi di DIY. Tesis. Pascasarjana FE UGM. Suwardjono. (1992).Gagasan Pengembangan Pendidikan dan Profesi di Indonesia: Kumpulan Artikel. BPFE. Yogyakarta. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 6 No. 1, hal: 129-146, Juli 2005 145 Ward. (1996). How the Accounting Profession in Australia is Adapting With Its Changing Bisiness Environment. Konvensi Nasional Akuntansi III. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia. Winataputra, Udin, S. (2001). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bahan Ajar PEKERTI-AA, Dirjend DIKTI, Depdiknas. Zainudin, M, Puspitasari, S. (2001). Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi I, Bahan Ajar PEKERTI-AA, Dirjend DIKTI, Depdiknas. KUESIONER Berikut adalah beberapa pernyataan tentang niai-nilai personal. Anda diminta untuk memberikan penilaian dengan cara menyilang (x) salah satu angka yang tersedia. Penjelasan dalam kurung akan membantu Anda memahami maksudnya. PETUNJUK PENILAIAN berlawanan dengan values tidak sangat paling saya penting penting penting -1 0 1 2 3 4 5 6 7 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 1. Equality (kesempatan yang sama bagi semua orang) 2. Inner harmony (ketenteraman diri) 3. Freedom (kebebasan bertindak dan berpikir) 4. Meaning in life (tujuan hidup) 5. Wealth (kekayaan) 6. National security (melindungi negara dari musuh) 7. Self-respect (percaya pada diri sendiri) 8. Creativity (sesuatu yang unik, imaginasi) 9. Mature love (kedalaman emosi) 1 0. Self-discipline (pengendalian diri, tahan terhadap godaan) 1 1. Family security (saling mencintai satu dengan yang lain) 1 2. Wisdom (pemahaman yang dewasa tentang hidup) Sri Suryaningrum, Sucahyo H. & Ketut A, Pentingnya Perbandingan..... 146 1 3. True friendship (dukungan teman, persahabatan yang tulus) 1 4. A world of beauty (keindahan alam dan kesenian) 1 5. Independent (kepercayaan diri, tidak tergantung pada orang lain) 1 6. Moderate (menghindari perasaan dan tindakan yang ekstrim) 1 7. Loyal (setia kepada teman, kelompok) 1 8. Ambitious (bekerja keras, bercita-cita tinggi) 1 9. Broadminded (toleran dengan ide dan kepercayaan yang berbeda) 2 0. Forgiving (bersedia memaafkan kesalahan orang lain) 2 1. Successful (prestasi, pencapaian tujuan) 2 2. Healthy (sehat secara fisik dan mental) 2 3. Capable (kompeten, efisien, efektif) 2 4. Honest (jujur, ikhlas, tulus hati) 2 5. Clean (kebersihan, kerapian, keteraturan) 2 6. Obedient (patuh, memenuhi kewajiban) 2 7. Intelligent (cara berpikir yang logis, suka berpikir) 2 8. Helpful (bekerja untuk kebahagiaan orang lain) 2 9. Enjoying (menikmati makanan, seks, waktu luang, kepuasan diri) 3 0. Responsible (bisa dipercaya dan diandalkan) 3 1. Curious (ketertarikan dengan sesuatu, suka menyelidiki) JENIS KELAMIN : 1. PRIA 2. WANITA FAKULTAS/JURUSAN/NIM:……………………………………….