Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 10 No. 2 Hal: 67-86, Juli 2009 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP RETURN AWAL Lefti Claudya Sastaviana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Erni Suryandari Fatmaningrum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT This research is aimed to analyze of factors that influence the initial return. The factors are size of company, earning per share, return on asset, degree of leverage, age of company, ownership proportion of previous shareholder, auditor reputation, underwriter reputation, and price earning ratio. The sample for this research are 55 manufacturing and non manufacturing companies that have Initial Public Offering in Indonesian Stock Exchange from 2002-2008. Technique of collecting sample is purposive sampling. Multiple regression analysis was used to test the hypothesis. The results indicated that earning per share and underwriter reputation influences on initial return. Whereas size of company, return on asset, degree of leverage, age of company, ownership proportion of previous shareholder, auditor reputation, and price earning ratio do not influence on initial return. Keywords: initial public offering; initial return; size of company; earning per share; return on asset degree of leverage; age of company; ownership proportion of previous shareholder; auditor reputation; underwriter reputation; and price earning ratio. PENDAHULUAN Permasalahan penting yang dihadapi oleh hampir semua perusahaan adalah bagaimana mendapatkan modal guna mendukung kegiatan operasionalnya. Jogiyanto (1998) dan Anggarwal et al. (2001) mengemukakan bahwa salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan penawaran sebagian saham perusahaan kepada masyarakat umum untuk pertama kalinya melalui bursa efek, yang disebut Initial Public Offering (IPO). Rosyati (2002) menyatakan harga saham pada saat IPO ditentukan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan emiten dan penjamin emisi (underwriter), sedangkan harga saham di pasar sekunder setelah IPO ditentukan melalui mekanisme pasar, yaitu permintaan dan penawaran. Trisnawati (1998) mengemukakan bahwa sebagian besar harga saham saat penawaran umum cenderung underprice. Fenomena underpricing ini memberikan return positif bagi investor di pasar perdana (initial return). Fenomena ini terjadi karena adanya asymmetric information (ketimpangan informasi) di pasar perdana. Pada kondisi ini, investor memerlukan informasi prospektus terhadap initial return atau return awal. Investor yang memutuskan menanamkan dananya di pasar perdana bertujuan untuk memperoleh return awal. Daljono (2000) menyatakan return awal merupakan keuntungan yang diperoleh pemegang saham karena perbedaan harga saham yang dibeli di pasar perdana (saat IPO) dengan harga jual saham bersangkutan di hari pertama di pasar sekunder. Jika penentuan harga saham pada saat IPO secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan harga yang terjadi di pasar sekunder di hari pertama, maka terjadi underpricing. Sebaliknya jika harga saham saat IPO secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan harga di pasar sekunder di hari pertama, maka terjadi overpricing. Pihak investor lebih mengharapkan tingginya underpricing karena dengan demikian akan memperoleh return awal. Sebaliknya untuk pihak perusahaan yang melakukan IPO, kondisi underpricing tidak menguntungkan karena dana yang diperoleh dari IPO menjadi tidak Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 68 optimal. De Lorenzo dan Fabrizio (2001) dalam Rohman (2008) mengungkapkan bahwa return awal mengindikasikan adanya underpricing saham di pasar perdana ketika masuk ke pasar sekunder. Adapun faktor- faktor yang diduga dapat mempengaruhi return awal antara lain: besaran perusahaan, EPS, ROA, tingkat leverage, umur perusahaan, proporsi kepemilikan saham lama, reputasi auditor, reputasi underwriter, dan PER. Masalah return awal menarik beberapa peneliti untuk menganalisis lebih lanjut karena fenomena sebagian pasar dunia mengalami underpricing. Penelitian Carter dan Manaster (1990) yang meneliti 501 IPO di pasar modal Amerika (NASDAQ) tahun 1979-1983, dengan fokus utama pada kemampuan variabel kualitas penjamin emisi dalam menjelaskan tingkat initial return. Dalam pemeringkatan penjamin emisi, Carter dan Manaster menggunakan sepuluh kategori (9- 0) untuk 117 penjamin emisi. Tingkat initial return diukur tanpa memperhitungkan risiko pasar. Hasilnya menunjukkan bahwa reputasi penjamin emisi, persentase saham yang ditahan, nilai penawaran saham, dan umur perusahaan berhubungan negatif dan signifikan dengan tingkat initial return. Penelitian Beatty (1989) menguji pengaruh reputasi auditor terhadap tingkat initial return dengan menggunakan variabel kontrol penjamin emisi, persentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan, tipe kontrak penjamin emisi, dan indikator perusahaan minyak dan gas yang disebut sebagai ex-ante uncertainty. Sampel yang digunakan adalah 2215 perusahaan yang melakukan IPO tahun 1975- 1984. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reputasi auditor, reputasi penjamin emisi, tipe kontrak penjamin emisi, dan umur perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap initial return. Sedangkan persentase saham yang ditawarkan dan indikator perusahaan minyak dan gas berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat initial return. Hasil kedua penelitian di atas konsisten dengan Balvers et al. (1988) dalam Triani & Nikmah (2006), yang menyatakan bahwa reputasi auditor dan reputasi penjamin emisi berpengaruh negatif terhadap return awal. Hasil yang berbeda diperoleh dari Trisnawati (1998) yang memfokuskan penelitian pada informasi keuangan dan non keuangan pada prospektus terhadap return di Bursa Efek Indonesia. Faktor keuangan yang digunakan adalah profitabilitas perusahaan yang diukur dengan ROA dan financial leverage. Faktor- faktor non keuangan adalah reputasi auditor,reputasi penjamin emisi, dan persentase saham. Hasilnya menunjukkan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan dan positif terhadap initial return. Sementara reputasi auditor, reputasi penjamin emisi, persentase saham, ROA, dan financial leverage tidak mempengaruhi secara signifikan initial return. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Rohman (2008) yang menganalisis apakah variabel besaran perusahaan, EPS, ROA, tingkat leverage, umur perusahaan, proporsi kepemilikan pemegang saham lama, reputasi auditor, dan reputasi underwriter berpengaruh terhadap return awal. Ada dua perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut, yang pertama adalah dengan menambah satu variabel independen yaitu PER (Price Earning Ratio) seperti yang disarankan oleh Rohman (2008). Alasan memilih variabel PER karena rasio ini dilihat oleh investor sebagai suatu ukuran kemampuan menghasilkan laba di masa depan (future earning) dari suatu perusahaan. PER diharapkan oleh investor dapat memberikan gambaran kapan harus membeli dan menjual sahamnya, sehingga investor memperoleh keuntungan yang ditunjukkan oleh tingkat pengembalian saham (return) yaitu deviden dan capital gain. Perbedaan kedua penelitian ini dengan penelitian Rohman (2008) adalah dengan periode pengamatan yang baru yaitu dari tahun 2002- 2008. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 69 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTHESIS Return Awal Pihak investor lebih mengharapkan tingginya underpricing karena dengan demikian para investor akan memperoleh return awal. De Lorenzo dan Fabrizio (2001) dalam Rohman (2008) menyatakan bahwa return awal mengindikasikan adanya underpricing saham di pasar perdana ketika masuk ke pasar sekunder. Daljono (2000) menyatakan bahwa return awal adalah keuntungan yang diperoleh pemegang saham karena perbedaan harga saham yang dibeli di pasar perdana (saat IPO) dengan harga jual saham bersangkutan di hari pertama di pasar sekunder. Menurut Jogiyanto (2003) return awal adalah return yang diperoleh dari aktiva di penawaran perdana mulai dari saat dibeli di pasar primer sampai pertama kali didaftarkan di pasar sekunder. Besaran Perusahaan (Size) Besaran perusahaan (Size) berkaitan dengan jumlah informasi yang diterima oleh calon investor. Besaran atau ukuran perusahaan dijadikan proksi tingkat ketidakpastian, karena perusahaan yang berskala besar umumnya lebih dikenal oleh masyarakat daripada perusahaan yang berskala kecil. Hal ini diperkuat oleh Rohman (2008) yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan, maka akan semakin dikenal dan semakin mudah bagi calon investor untuk memperoleh informasi mengenai perusahaan tersebut. Bila informasi yang ada di tangan investor banyak, maka tingkat ketidakpastian investor akan masa depan perusahaan bisa diketahui. Oleh karena itu, investor bisa mengambil keputusan lebih tepat dibandingkan dengan pengambilan keputusan tanpa informasi. Earning Per Share (EPS) Darmadji (2001) menyatakan bahwa EPS merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor per lembar saham. EPS didefinisikan sebagai proxy bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran bagi investor mengenai bagian keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan memiliki saham. EPS digunakan untuk menganalisis resiko dan membandingkan pendapatan per lembar saham perusahaan dengan perusahaan lain. Return On Asset (ROA) ROA yang dihasilkan perusahaan akan menentukan hasil investasi saham di kemudian hari. ROA didefinisikan sebagai ukuran profitabilitas perusahaan yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan investasi yang ditanamkan (asset yang dimilikinya) untuk mendapatkan laba. ROA didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan operasi setelah bunga dan pajak. Tingkat Leverage Tingkat leverage didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajibannya bila pada suatu saat perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan. Tingkat leverage menggambarkan tingkat resiko dari perusahaan yang diukur dengan membandingkan total kewajiban perusahaan dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio leverage digunakan untuk menilai efektivitas perusahaan dalam menggunakan dana yang dipinjamkan. Umur Perusahaan Umur perusahaan merupakan hal yang dipertimbangkan investor dalam menanamkan modalnya. Trisnawati (1998) mengemukakan bahwa umur perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk bertahan dari persaingan bisnis. Proporsi Kepemilikan Pemegang Saham Lama Sulistio (2005) menyatakan bahwa proporsi kepemilikan pemegang saham lama merupakan salah satu yang harus Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 70 dipertimbangkan ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan IPO. Pemilik saham lama akan mendukung keputusan IPO bila mereka yakin bahwa saham perusahaan akan terjual pada harga yang cukup menguntungkan sehingga dapat mengumpulkan dana yang signifikan bagi pembiayaan perusahaan. Reputasi Auditor Reputasi auditor menunjukkan kualitas dan profesionalisme auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan. Daljono (2000) berpendapat bahwa reputasi auditor didasarkan pada frekuensi penguasaaan yang dilakukan oleh emiten perusahaan yang menggunakan auditor yang berkualitas tinggi dapat diartikan sebagai sinyal kualitas emiten. Reputasi Underwriter Ang (1997) dalam Rahmawati (2007) menyatakan penjamin emisi atau disebut juga dengan underwriter, berfungsi di dalam melakukan penjaminan atas penawaran umum suatu saham atau obligasi untuk pertama kalinya yaitu pada saat go public. Proses penjaminan emisi ini disebut sebagai underwriting. Perusahaan efek inilah yang akan memasarkan dan menjamin terjual atau tidaknya efek yang dikeluarkan atau ditawarkan oleh suatu perusahaan. Price Earning Ratio (PER) PER didefinisikan sebagai perbandingan harga saham dengan laba per saham yang kemudian menjadi ukuran penting dan menjadi landasan pertimbangan seorang investor membeli saham perusahaan. Darmadji (2001) menyatakan bahwa PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Kegunaan PER adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham perusahaan yang dicerminkan oleh EPS nya. Pengembangan Hipotesis Pengaruh Besaran Perusahaan terhadap Return Awal. Semakin besar perusahaan, maka informasi tentang perusahaan tersebut semakin banyak diketahui oleh investor sehingga mengurangi tingkat ketidakpastian dan biaya untuk memperoleh informasi tersebut atau dengan kata lain asimetri informasi relatif lebih sedikit daripada perusahaan yang relatif kecil. Menurut Leland dan Phyle (1997) dalam Daljono (2000), asimetri informasi yang kecil akan menyebabkan return yang kecil. De Lorenzo dan Fabrizio (2001) juga menyatakan bahwa kemudahan memperoleh informasi akuntansi akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi faktor ketidakpastian sehingga risiko underpricing lebih kecil dan ekspektasi return awal lebih rendah. Hasil penelitian Rohman (2008) menemukan bahwa besaran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan penelitian Durukan (2002), Gumanti (2003), Yolana dan Martani (2005), Triani dan Nikmah (2006), dan Risman (2008). Penelitian Banz (1981) dalam Rohman (2008) mengungkapkan kecenderungan perusahaan berukuran kecil mengalami abnormal return yang besar dibandingkan dengan perusahaan besar. Hasil penelitian Ritter dan Hanley dalam Sulistio (2005) menemukan bahwa perusahaan yang berukuran kecil cenderung mengalami underpricing dibandingkan perusahaan berukuran besar. Penemuan ini diperkuat oleh hasil penelitian Kooli dan Suret dalam Sulistio (2005) yang menegaskan bahwa IPO yang dilakukan oleh perusahaan kecil lebih beresiko dibandingkan dengan perusahaan besar sehingga perusahaan kecil lebih sering mengalami underpricing, sehingga meningkatkan return awal. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara besaran perusahaan dengan return awal, yaitu semakin besar perusahaan maka ekspektasi terhadap return awal semakin kecil. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 71 H1: Besaran perusahaan berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Awal. EPS berhubungan dengan resiko dan performance perusahaan. Menurut Gill dan Chatton (2003) dalam Sulistio (2005), semakin mapan perusahaan, semakin tinggi EPS yang dimilikinya maka semakin rendah kemungkinan terjadinya underpricing sehingga akan menurunkan ekspektasi terhadap return awal. EPS yang tinggi akan menarik minat investor sehingga underwriter tidak bisa menetapkan harga penawaran terlalu rendah, sehingga harga saham perdana emiten lebih tinggi yang menyebabkan return awal menurun. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara EPS dengan return awal, yaitu semakin tinggi EPS maka semakin rendah return awal. Penelitian Sulistio (2005) dengan sampel 44 perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI dan melakukan IPO dari tahun 1998-2003, tentang pengaruh informasi akuntansi dan non akuntansi terhadap initial return: studi pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI. Salah satu hasil penelitiannya menyebutkan bahwa EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Rohman (2008) yang menyebutkan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H2: EPS berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap Return Awal. ROA yang tinggi akan menarik minat investor untuk membeli saham perusahaan sehingga akan berakibat pada naiknya jumlah permintaan, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga saham sehingga perubahan harga saham diantara transaksi yang terjadi menjadi semakin kecil, closing price saham perusahaan tersebut tidak terlalu tinggi karena offering price-nya yang sudah tinggi. Kondisi ini akan menurunkan return awal yang diharapkan investor. Daljono (2000) menyatakan bahwa perusahaan akan menentukan hasil investasi saham di kemudian hari, semakin besar ROA yang dihasilkan maka harga saham semakin tinggi dan underprice-nya cenderung rendah, sehingga akan menurunkan ekspektasi terhadap return awal. Pernyataan ini diperkuat oleh Kim et al. (1995) dalam Rohman (2008) yang menyatakan bahwa profitabilitas yang tinggi akan mengurangi ketidakpastian bagi investor dan akan menurunkan tingkat underpricing, sehingga menurunkan ekspektasi terhadap return awal. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara ROA dengan return awal, yaitu semakin besar ROA maka semakin kecil return awal. Trisnawati (1998) dalam penelitiannya memfokuskan pada informasi keuangan dan non keuangan pada prospektus terhadap return di BEI. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return awal. Hasil penelitian Rohman (2008) juga menunjukkan bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan penelitian Daljono (2000) dan Ardiansyah (2004), akan tetapi tidak konsisten dengan penelitian Ghozali dan Mansur (2002) dalam Rohman yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh signifikan terhadap return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H3: ROA berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Tingkat Leverage terhadap Return Awal. Weston dan Thomas (1991) dalam Rohman (2008) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat leverage, semakin berat beban keuangan yang dihadapi perusahaan, ini Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 72 berarti semakin tinggi resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Anggarwal et al. (2001) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat resiko perusahaan berarti semakin tinggi pula tingkat ketidakpastian akan kelangsungan hidup perusahaan sehingga akan berpengaruh terhadap permintaan saham. Tingginya tingkat ketidakpastian akan menyebabkan investor sulit untuk memprediksi resiko yang dihadapinya jika melakukan investasi dalam perusahaan. Ketidakpastian harga saham yang meningkat menyebabkan perubahan harga diantara transaksi yang terjadi semakin besar dan meningkatkan tingkat underpriced. Meningkatnya underpriced ini akan meningkatkan return awal yang diharapkan investor. Berdasarkan dengan teori risk dan return yang memiliki hubungan searah, maka financial leverage yang besar menunjukkan resiko yang besar pula sehingga investor mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan yang besar juga. Menurut Daljono (2000) semakin tinggi financial leverage suatu perusahaan, maka return awal semakin besar. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang positif antara rasio leverage dengan return awal, yaitu semakin tinggi rasio leverage maka return awal semakin besar. Penelitian Daljono (2000) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi initial return saham yang listing di BEI tahun 1990- 1997 dengan sampel 151 perusahaan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkat leverage secara statistis berpengaruh terhadap initial return. Hasil ini konsisten dengan penelitian Ardiansyah (2004) dan Risman (2008), akan tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Rohman (2008) yang menyimpulkan bahwa tingkat leverage tidak berpengaruh terhadap return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H4: Tingkat leverage berpengaruh positif terhadap return awal. Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Return Awal. Christy et al. (1996) dalam Gumanti & Cahyati (2002), tingkat kedewasaan suatu perusahaan dapat memperkecil resiko investasi pada suatu penawaran perdana, yang akan mengurangi ketimpangan informasi dan akan memperkecil tingkat ketidakpastian di masa yang akan datang. Jadi perusahaan yang telah lama berdiri mempunyai tingkat underpriced yang lebih rendah daripada perusahaan yang masih baru, sehingga menurunkan return awal. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara umur perusahaan dengan return awal, yaitu semakin lama umur perusahaan maka akan menurunkan return awal. Hasil penelitian Rohman (2008) menunjukkan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan Nasirwan (2000), Daljono (2000), Ardiansyah (2004), dan Risman (2008) Hasil yang berbeda diperoleh dari penelitian Beatty (1989) yang menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan dengan return awal. Demikian pula dengan hasil penelitian Durukan (2002) dan Rosyati & Sabeni (2002) yang menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan dengan return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H5: Umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Proporsi Kepemilikan Pemegang Saham Lama terhadap Return Awal. Penelitian Anggarwal et al. (2001) membuktikan bahwa underpricing berasosiasi positif dengan semakin rendahnya jumlah saham yang diterbitkan dan semakin tinggi tingkat kepemilikan pemegang saham lama. Gumanti dan Cahyati (2002) menyatakan bahwa semakin banyak porsi saham yang ditahan oleh pemilik, maka Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 73 semakin tinggi return awal. Hal ini terjadi karena semakin sedikit calon investor yang tidak mendapatkan porsi saham yang diminta bila terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) dan ada penjatahan (rationing). Akibatnya investor melakukan aksi beli di pasar sekunder yang akhirnya akan mengangkat harga saham dan terjadinya underpricing, sehingga akan meningkatkan return awal. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang positif antara proporsi kepemilikan saham lama dengan return awal, yaitu semakin tinggi proporsi kepemilikan saham lama maka semakin tinggi pula tingkat return awal yang dihasilkan. Hasil penelitian Rohman (2008) menyimpulkan bahwa proporsi kepemilikan pemegang saham lama tidak berpengaruh terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan penelitian Daljono (2000) dan Ardiansyah (2004), akan tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Sulistio (2005) yang menyatakan bahwa proporsi kepemilikan saham lama berpengaruh signifikan terhadap return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H6: Proporsi kepemilikan pemegang saham lama berpengaruh positif terhadap return awal. Pengaruh Reputasi Auditor terhadap Return Awal. Bachar (1988) dalam Ardiansyah (2004) menghadirkan teori signaling models untuk kualitas auditor dan kontrak penjamin emisi. Waktu yang digunakan oleh penjamin emisi untuk mengakuisisi informasi privat merupakan faktor utama dalam menilai kualitas auditor. Jika penjamin emisi menyajikan informasi privat setelah mengikat kontrak, auditor yang berkualitas akan mengusahakan penawaran yang lebih dan membentuk harga penawaran yang tinggi, sehingga kualitas auditor yang tinggi akan memberikan keuntungan kepada pemilik perusahaan dalam hal menaikkan harga penawaran. Naiknya harga penawaran menyebabkan turunnya return awal yang diperoleh investor. Balvers et al. (1988) dalam Ardiansyah (2004) membangun suatu model yang menunjukkan bahwa reputasi auditor dan reputasi penjamin emisi menolong untuk menurunkan underpricing, sehingga akan menurunkan ekspektasi terhadap return awal. Penelitian Balvers et al. (1988) dalam Ardiansyah (2004) menunjukkan bahwa naiknya variabel reputasi berakibat pada turunnya variabel yang lain. Dengan demikian diduga terdapat pengaruh negatif antara reputasi auditor dengan return awal, yaitu semakin tinggi reputasi auditor maka akan menurunkan return awal. Hasil penelitian Kim et al. (1993) dalam Triani dan Nikmah (2006) menemukan bahwa reputasi auditor berkorelasi negatif terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan Beatty (1989) yang menyatakan bahwa reputasi auditor bepengaruh signifikan terhadap return awal. Berbeda dengan hasil penelitian Rohman (2008) yang menyimpulkan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap return awal. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Daljono (2000), Nasirwan (2000), Rosyati & Sabeni (2002), Ardiansyah (2004), Sulistio (2005), Triani & Nikmah (2006), dan Risman (2008) yang menyatakan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return awal H7: Reputasi auditor berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Reputasi Underwriter terhadap Return Awal. Carter dan Manaster (1990) menyatakan, underwriter yang berkualitas tinggi akan menurunkan risiko perusahaan IPO kepada investor sehingga dapat mengurangi underpricing. Underwriter yang bereputasi tinggi akan meminta fee yang tinggi sebagai imbalan untuk tingkat underpricing yang rendah. Beatty (1989) menyatakan bahwa pemilihan underwriter yang bereputasi tinggi Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 74 lebih berpengalaman dan professional dalam menangani IPO perusahaan, sehingga berani memberikan harga penawaran yang tinggi pula sebagai kualitas dari penjaminannya. Harga penawaran yang tinggi menyebabkan turunnya ekspektasi investor terhadap return awal. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara reputasi underwriter dengan return awal, yaitu semakin tinggi reputasi underwriter akan menurunkan risiko perusahaan IPO kepada investor, sehingga dapat mengurangi underpricing dan menurunkan return awal. Hasil penelitian Rohman (2008) menyatakan bahwa reputasi underwriter berpengaruh terhadap return awal. Hasil ini konsisten dengan penelitian Beatty (1989), Daljono (2000), Nasirwan (2000), Rosyati & Sabeni (2002), dan Risman (2008). Hasil yang berbeda diperoleh dari penelitian Sulistio (2005), Yolana & Martani (2005), dan Triani & Nikmah (2006) yang menyatakan bahwa reputasi underwriter tidak berpengaruh terhadap return awal. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H8: Reputasi underwriter berpengaruh negatif terhadap return awal. Pengaruh Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Awal. Darmadji (2001) berpendapat bahwa bagi investor, semakin kecil PER suatu saham, maka semakin bagus karena saham tersebut termasuk dalam kategori murah. Menurut Astutik (2005) PER menjadi semakin kecil nilainya bisa karena harga saham cenderung semakin turun atau karena meningkatnya laba perusahaan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa PER yang semakin kecil menunjukkan harga saham yang murah sehingga akan meningkatkan return awal yang diharapkan investor. Astutik (2005) menyatakan bahwa PER yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan di masa mendatang cukup baik, sedangkan PER yang rendah menunjukkan prospek perusahaan yang kurang baik. Prospek perusahaan yang baik, membuat investor bersedia untuk menanamkan modalnya yang menyebabkan permintaan saham emiten meningkat. Kondisi ini menyebabkan emiten memberikan harga saham yang tinggi sehingga menurunkan return awal yang diharapkan investor. Dengan demikian diduga terdapat hubungan yang negatif antara PER dengan return awal, yaitu semakin tinggi PER maka akan menurunkan tingkat return awal. Penelitian Martani (2003) dengan data perusahaan IPO di BEI tahun 1990-2000, salah satu hasil penelitiannya menunjukkan bahwa PER market mempunyai hubungan negatif dengan initial return. Hasil ini konsisten dengan Sulistio (2005) yang menyimpulkan bahwa PER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap initial return. Penelitian Williams (1966) dan Swastha (1977,1978) dalam Sulistio (2005) mendokumentasikan perusahaan dengan PER yang tinggi cenderung mengalami penurunan harga saham, sedangkan perusahaan dengan PER yang rendah cenderung mengalami peningkatan harga saham. Berdasarkan analisis dan temuan penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H9: Price Earning Ratio (PER) berpengaruh negatif terhadap return awal. METODE PENELITIAN Obyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang melakukan IPO pada Bursa Efek Indonesia dari tahun 2002-2008. Jenis Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan yang go public yang diperoleh dari prospektus, Indonesian Capital Market Directory (ICMD), dan Jakarta Stock Exchange (JSX) Statistic. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 75 Teknik Pengambilan Sampel Pemilihan sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik sampling dengan menggunakan pertimbangan dan batasan tertentu sehingga sampel yang dipilih relevan dengan tujuan penelitian. Adapun kriteria perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai berikut: 1. Perusahaan yang listing di BEI tahun 2002 2008 di luar sektor perbankan dan lembaga keuangan sejenis. 2. Perusahaan harus sudah listing pada awal periode pengamatan dan tidak delisting sampai dengan akhir periode pengamatan. 3. Tidak overpriced dan initial return-nya tidak nol. 4. Data tersedia lengkap. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah return awal. Return awal diukur dengan mean adjusted model, yakni selisih antara harga saham pada hari pertama perdagangan di pasar sekunder dengan harga penawaran saham pada saat IPO, dibagi dengan harga penawaran saat IPO (Rohman, 2008). IR = Pt1- Pt0 Pt0 Dengan: IR: initial return Pt0: harga penawaran perdana (offering price) Pt1: harga penutupan (closing price) pada hari pertama perdagangan di pasar sekunder. 2. Variabel Independen 1. Besaran perusahaan (SIZE) Dalam penelitian ini variabel besaran perusahaan diukur berdasarkan logaritma total aktiva pada tahun terakhir sebelum perusahaan melakukan IPO (Durukan, 2002). 2. Earning Per Share (EPS) Variabel EPS diukur dengan rasio antara laba bersih perusahaan pada tahun terakhir sebelum IPO dengan jumlah rata-rata saham biasa yang beredar saat itu (Ardiansyah, 2004). EPS = laba bersih rata-rata saham yang beredar 3. Return on Asset (ROA) ROA diukur berdasarkan rasio antara laba bersih terhadap total aktiva rata-rata pada tahun terakhir sebelum perusahaan melakukan IPO (Weston dan Thomas, 1991 dalam Rohman, 2008). ROA = laba bersih total aktiva 4. Tingkat leverage (LEV) Variabel diukur berdasarkan perbandingan antara total hutang dengan total aktiva tahun terakhir sebelum perusahaan melakukan IPO (Sulistio, 2005). Tingkat leverage = Total Hutang Total Aktiva 5. Umur perusahaan (AGE) Variabel diukur berdasarkan lamanya perusahaan beroperasi sejak didirikan sampai dengan listing. Umur perusahaan diukur dalam skala tahunan yaitu tahun saat listing dikurangi dengan tahun berdiri (Nurhidayati & Indriantoro, 1998). 6. Proporsi kepemilikan pemegang saham lama (PPSL) Variabel diukur berdasarkan persentase saham yang dipertahankan pemegang saham lama saat IPO (Sulistio, 2005). 7. Reputasi auditor (AUD) Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 76 Variabel ini menggunakan variabel dummy. Variabel ini diukur dengan skala 1 untuk auditor yang prestigious dan 0 untuk auditor yang non prestigious. Apabila emiten menggunakan auditor yang termasuk dalam kategori big four diberi skala 1 (prestigious), dan apabila emiten tidak menggunakan auditor yang termasuk dalam kategori big four diberi skala 0 (non prestigious) (Suyatmin dan Sujadi, 2006). Auditor yang termasuk dalam empat besar (big four) adalah: 1) Prasetio, Utomo dan Co. 2) Hans Tuanakotta dan Mustofa. 3) Doli, bambang, dan Sudarmaji. 4) Drs. Johan, Malonda, dan Co. 8. Reputasi underwriter (UND) Variabel ini menggunakan variabel dummy. Variabel ini diukur dengan skala 1 untuk underwriter yang prestigious dan 0 untuk underwriter yang non prestigious. Penentuan underwriter yang prestigious menggunakan perangkingan yang dilakukan majalah Uang dan Efek nomor 43. Apabila emiten menggunakan underwriter yang termasuk dalam kategori big five diberi skala 1 (prestigious), dan apabila emiten tidak menggunakan underwriter yang termasuk dalam kategori big five diberi skala 0 (non prestigious). Underwriter yang termasuk big five dengan nilai IPO di atas Rp. 1.000.000.000.000 adalah: 1) Danareksa Sekuritas. 2) Bahana Sekuritas. 3) Makindo Sekuritas. 4) Ficorinvest Sekuritas. 5) Lippo Sekuritas. Price Earning Ratio (PER) Variabel PER dalam penelitian ini diukur berdasarkan harga pasar per lembar saham biasa dibagi laba per lembar saham (Darmadji, 2001). PER = harga pasar per lembar saham biasa laba per lembar saham Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, variance, nilai maksimum, dan nilai minimum. Uji Kualitas Data Uji kualitas data dalam penelitian ini menggunakan uji asumsi klasik yang terdiri dari: 1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas data dilakukan dengan uji Kolmogorov- Smirnov. Data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai Kolmogorov- Smirnov > 0,05 (Ghozali, 2006). 2. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terdapat korelasi antar variabel independen. Metode untuk mengetahui ada atau tidaknya multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance atau VIF Model regresi akan bebas dari multikolinieritas jika nilai tolerance > 0,10 atau jika VIF < 10 (Ghozali, 2006). 3. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2006). Model regresi yang baik adalah bila tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mengetahui adanya masalah heteroskedastisitas adalah dengan Uji Glejser. Uji Glejser digunakan untuk meregres nilai absolute residual (ABS) terhadap variabel bebas. Jika variabel bebas signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat dengan tingkat signifikan di bawah 5%, Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 77 maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2006) 4. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan periode t-1 pada persamaan regresi linier. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi akan dilakukan Uji Durbin- Watson, Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas autokorelasi, dengan kriteria pengujian (Ghozali, 2006): a. Tidak terjadi autokorelasi jika du < dw < (4-du). b. Terjadi autokorelasi positif jika dw < dl. c. Terjadi autokorelasi negatif jika dw > (4 dl). d. Jika (4-du) < dw < (4-df) atau dl < dw < du maka hasilnya tidak dapat disimpulkan. Uji Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Adapun model analisis regresi berganda yang dibuat adalah sebagai berikut: IR = α + B1 SIZE + B2 EPS + B3 ROA + B4 LEV + B5 AGE + B6 PPSL + B7 AUD + B8 UND + B9 PER + Ɛ Dengan: • IR = initial return • α = konstanta • B = koefisien regresi • SIZE = besaran perusahaan • EPS = earning per share • ROA = return on asset • LEV = tingkat leverage • AGE = umur perusahaan • PPSL = proporsi kepemilikan pemegang saham lama • AUD = reputasi auditor • UND = reputasi underwriter • PER = price earning ratio • Ɛ= residual 1. Uji Nilai F (uji simultan) Uji nilai F bertujuan untuk menguji ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Untuk menentukan signifikansi pengaruh dapat dilihat dari nilai P value-nya. Jika nilai P value (sig) < α maka besaran perusahaan, EPS, ROA, tingkat leverage, umur perusahaan, proporsi kepemilikan saham lama, reputasi auditor, reputasi underwriter, dan PER secara bersama- sama berpengaruh terhadap return awal. 2. Uji Nilai t (uji parsial) Uji nilai t digunakan untuk pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila nilai sig lebih kecil dari 5%, maka terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Kriteria hipotesis diterima yaitu: a. Nilai sig < α b. Koefisien regresi searah dengan hipotesis. 3. Uji Koefisien Determinasi (adjusted R2) Nilai koefisien determinasi (adjusted R2) untuk menunjukkan persentase tingkat kebenaran prediksi dari pengujian regresi yang dilakukan. Koefisien determinasi digunakan untuk menilai besarnya persentase pengaruh semua variabel independen terhadap nilai variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi dari 0 sampai 1. Semakin mendekati nol besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi, maka semakin kecil pula pengaruh semua variabel independen terhadap nilai variabel dependen. Sebaliknya, semakin mendekati satu besarnya koefisien determinasi suatu persamaan regresi, maka semakin besar pula pengaruh semua variabel independen terhadap nilai variabel dependen. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Obyek Penelitian Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 78 Perusahaan yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang melakukan IPO pada Bursa Efek Indonesia dari tahun 2002-2008. Data yang dikumpulkan selama periode tersebut terkumpul sebanyak 208 perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 55 perusahaan yang dipilih secara purposive sampling. Perincian jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria dalam pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel 4.1: Tabel 4.1 Proses Pengambilan Sampel Keterangan Jumlah Perusahaan Perusahaan yang listing di BEI tahun 2002-2008 di luar sektor perbankan dan lembaga keuangan sejenis. 82 Perusahaan yang overpriced dan initial return-nya nol. (17) Perusahaan tidak memiliki data-data yang lengkap. (10) Perusahaan yang memenuhi kriteria sampel 55 Uji Statistik Deskriptif Tabel 4.2Statistik Deskriptif Output A Vari abel N Minim um Maxi mum Mean Medi an Std. Dev Size 5 5 13.19 29.38 23.88 72 25.10 96 3.882 86 Eps 5 5 -.52 33.96 1.259 5 .0108 3 5.245 10 Roa 5 5 -.12 .19 .0379 .0253 .0596 0 Lev 5 5 .00 1.64 .5983 .5787 .2546 8 Age 5 5 .00 47.00 17.10 91 14.00 00 12.06 874 Ppsl 5 5 .54 .95 .7536 .7600 .1054 2 Per 5 5 - 24998. 00.55 2562 5.47 3656. 3925 2054. 0532 7351. 34879 Ir 5 5 .02 .88 .3962 .3294 .2635 1 Vali d 5 5 Sumber: data diolah Output B Variabel Frekuensi Persentase(%) Aud -Non Prestigious -Prestigious 41 14 74,5% 25,2% Und -Non Prestigious -Prestigious 49 6 89,1% 10,9% Sumber: data diolah Tabel 4.2 output A menunjukkan bahwa jumlah data yang valid adalah 55 perusahaan selama periode 2002-2008. Variabel Size mempunyai nilai minimum 13,19; nilai maksimum 29,38; nilai rata-rata 23,89; standar deviasi sebesar 3,88286; dan nilai median 25,1096. Dengan demikian, nilai rata-rata Size yang di proxy dengan total aktiva perusahaan rendah karena nilai rata- rata variabelnya dibawah nilai tengah. Variabel EPS mempunyai nilai minimum - 0,52; nilai maksimum 33,96; nilai rata-rata 1,2595; standar deviasi sebesar 5,24510; dan nilai median 0,01083. Dengan demikian, nilai rata-rata EPS tinggi karena nilai rata- rata variabelnya diatas nilai tengah. Variabel ROA mempunyai nilai minimum -0,12; nilai maksimum 0,19; nilai rata-rata 0,0379; standar deviasi sebesar 0,05960; dan nilai median 0,0253. Dengan demikian, nilai rata- rata ROA tinggi karena nilai rata-rata variabelnya diatas nilai tengah. Variabel LEV mempunyai nilai minimum 0,00; nilai maksimum 1,64; nilai rata-rata 0,5983; standar deviasi sebesar 0,25468; dan nilai median 0,5787. Dengan demikian, nilai rata- rata LEV tinggi karena nilai rata-rata variabelnya diatas nilai tengah. Variabel Age mempunyai nilai minimum 0,00; nilai maksimum 47,00; nilai rata-rata 17,1091; standar deviasi sebesar 12,06874; dan nilai median 14,00. Dengan demikian, nilai rata-rata Age tinggi karena nilai rata- rata variabelnya diatas nilai tengah. Variabel PPSL mempunyai nilai minimum 0,54; nilai maksimum 0,95; nilai rata-rata 0,7536; standar deviasi sebesar 0,10542; dan nilai median 0,7600. Dengan demikian, nilai rata- rata PPSL rendah karena nilai rata-rata Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 79 variabelnya dibawah nilai tengah. Variabel PER mempunyai nilai minimum 24998,55; nilai maksimum 25625,47; nilai rata-rata 3656,39; standar deviasi sebesar 7351,35; dan nilai median 2054,0532. Dengan demikian, nilai rata-rata PER tinggi karena nilai rata-rata variabelnya diatas nilai tengah. Variabel IR mempunyai nilai minimum 0,02; nilai maksimum 0,88; nilai rata-rata 0,3962; standar deviasi sebesar 0,26351; dan nilai median 0,3294. Dengan demikian, nilai rata- rata IR tinggi, karena nilai rata-rata variabelnya diatas nilai tengah. Tabel 4.2 output B menunjukkan bahwa dari 55 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian ini, sebanyak 41 (74,5%) perusahaan menggunakan auditor non prestigious, sedangkan perusahaan yang menggunakan auditor prestigious sebanyak 14 (25,2%). Perusahaan yang menggunakan underwriter non prestigious sebanyak 49 (89,1%) dan perusahaan yang menggunakan underwriter prestigious sebanyak 6 (10,9%). Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas Data Nilai Asymp. Sig (2-tailed) yang diperoleh melalui uji One-Sample- Kolmogorov-Smirnov (KS) sebesar 0,613 menunjukkan lebih besar dari = (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. (Lihat Tabel 4.3) Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Unstandardiz Ed Residual N Normal Parameters Mean Std,Devitiantion Most Extreme Absolute Difference Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp.Sig.(2-tailed) 55 .0000000 .21419354 .102 .053 -.102 .758 .613 Sumber: data diolah 2. Uji Multikolinieritas Tabel 4.4 menunjukkan nilai tolerance menunjukkan semua variabel independen dalam penelitian ini lebih besar dari 10% dan nilai VIF untuk semua variabel independen kurang dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas dalam model penelitian. Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinieritas Mod el Variabel Independ en Collinierity Statistic Kesimpulan Toleran ce VIF Size .892 1.12 1 Non Multikolinier itas Eos .877 1.14 0 Non Multikolinier itas Roa .763 1.31 1 Non Multikolinier itas Lev .881 1.13 6 Non Multikolinier itas Age .750 1.33 3 Non Multikolinier itas Ppsl .931 1.07 4 Non Multikolinier itas Aud .888 1.12 6 Non Multikolinier itas Und .922 1.08 4 Non Multikolinier itas Per .896 1.11 6 Non Multikolinier itas Sumber: data diolah 3. Uji Heteroskedastisitas Tabel 4.5 menunjukkan ada satu variabel yaitu und yang mengalami heteroskedastisitas dengan nilai sig 0,023 kurang dari 5%. Oleh sebab itu untuk menghilangkan heteroskedastisitas, dua variabel dummy (aud dan und) dikeluarkan dari pengujian heteroskedastisitas dan pada uji hipotesis akan diuji tersendiri dengan uji Independent Sample T-test (Nazaruddin, 2010). Hasil uji Glejser kedua disajikan pada tabel 4.6. Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 80 Hasil uji Glejser kedua menunjukkan tidak ada satupun variabel bebas yang signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat ABS. Hal ini terlihat dari tingkat probabilitas signifikansinya di atas 5%. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Tabel 4.5 Hasil Uji Heteroskedatisitas I Model Variabel Independen t Sig Kesimpulan 1 Size -1.178 .245 Non Heteroskedatisitas Eps -1.774 .443 Non Heteroskedatisitas Roa -1.677 .100 Non Heteroskedatisitas Lev -.797 .430 Non Heteroskedatisitas Age 1.546 .129 Non Heteroskedatisitas Ppsl .197 .844 Non Heteroskedatisitas Aud .101 .920 Non Heteroskedatisitas Und -2.346 .023 Heteroskedatisitas Per -.236 .814 Non Heteroskedatisitas Sumber: data diolah Tabel 4.6 Hasil Uji Heteroskedatisitas II Model Variabel Independen t Sig Kesimpulan 1 Size -1.341 .186 Non Heteroskedatisitas Eps -.624 .536 Non Heteroskedatisitas Roa -1.376 .175 Non Heteroskedatisitas Lev -1.182 .243 Non Heteroskedatisitas Age 1.261 .214 Non Heteroskedatisitas Ppsl .065 .949 Non Heteroskedatisitas Per -.096 .924 Non Heteroskedatisitas Sumber: data diolah 4. Uji Autokorelasi Tabel 4.7 menunjukkan nilai DW 1,955 lebih dari batas atas (du) 1,939 dan kurang dari 2,061 (4-du), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi. Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi Model du 4-du DW Kesimpulan 1 1,939 2,061 1,955 Tidak Terjadi Autokorelasi Uji Hipotesis 1. Uji Regresi Berganda Hasil perhitungan pada tabel 4.8 diperoleh persamaan regresinya sebagai berikut: IR = 0,500 -0,012EPS Tabel 4.8 Hasil Uji Regresi Berganda Variabel B Std.Error t sig Konstanta .500 .368 1.360 .180 Size -.007 -.009 -.819 .417 Eps -.012 .007 -1.813 .076* Roa -.925 .619 -1.494 .142 Lev -.052 .135 -.385 .702 Age -.001 -.003 -.264 .793 Ppsl .159 .319 .499 .620 Per 1.193 .000 2.559 .014 Adjusted R2 : 0,157 F Hitung : 2,441 Prob (F-Stat) : 0,032 Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 81 Sumber: data diolah Keterangan: *Siginifikan pada level 10% 2. Uji Nilai F Hasil perhitungan pada tabel 4.8 diperoleh nilai signifikansi F hitung sebesar 2,441 dengan probabilitas 0,032. Karena probabilitas lebih kecil dari + (0,05) maka model regresi dapat digunakan untuk memprediksi IR atau dapat dikatakan bahwa SIZEEPS, ROA, LEVAGE, PPSL, dan PER secara bersama-sama berpengaruh terhadap IR. 3. Uji Nilait a. Pengujian hipotesis pertama (H1) Variabel besaran perusahaan (SIZE) mempunyai koefisien regresi sebesar - 0,007 dengan nilai signifikansi 0,417 > + (0,05), berarti besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap return awal (IR). Hipotesis pertama ditolak. b. Pengujian hipotesis kedua (H2) Variabel earning per share (EPS) mempunyai koefisien regresi sebesar - 0,012 dengan nilai signifikansi 0,076 < = (0,10), berarti EPS berpengaruh negatif terhadap return awal (IR). Peningkatan 1 satuan EPS akan menurunkan return awal sebesar 0,012 satuan. Hipotesis kedua diterima. c. Pengujian hipotesis ketiga (H3) Variabel ROA mempunyai koefisien regresi sebesar -0,925 dengan nilai signifikansi 0,142 > + (0,05), berarti ROA tidak berpengaruh terhadap return awal (IR). Hipotesis ketiga ditolak. d. Pengujian hipotesis keempat (H4) Variabel tingkat leverage mempunyai koefisien regresi sebesar -0,052 dengan nilai signifikansi 0,702 > + (0,05), berarti tingkat leverage tidak berpengaruh terhadap return awal (IR). Hipotesis keempat ditolak. e. Pengujian hipotesis kelima (H5) Variabel umur perusahaan mempunyai koefisien regresi sebesar -0,001 dengan nilai signifikansi 0,793 > = (0,05), berarti umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap return awal (IR). Hipotesis kelima ditolak. f. Pengujian hipotesis keenam (H6) Variabel proporsi kepemilikan pemegang saham lama mempunyai koefisien regresi sebesar 0,159 dengan nilai signifikansi 0,620 > + (0,05), berarti proporsi kepemilikan pemegang saham lama tidak berpengaruh terhadap return awal (IR). Hipotesis keenam ditolak. g. Pengujian hipotesis kesembilan (H9) Variabel PER mempunyai koefisien regresi sebesar 1,193 dengan nilai signifikansi 0,014 < + (0,05), berarti PER berpengaruh positif terhadap return awal (IR). Hasil ini tidak sesuai dengan arah koefisien negatif pada hipotesis yang diajukan, sehingga hipotesis kesembilan ditolak. 4. Koefisien Determinasi Nilai adjusted R square sebesar 0,157 menunjukkan bahwa 15,7% variasi return awal (IR) dapat dijelaskan oleh variabel- variabel independen (besaran perusahaan, EPS, ROA, tingkat leverage, umur perusahaan, proporsi kepemilikan pemegang saham lama, dan PER), sedangkan sisanya sebesar 84,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. 5. Uji Independent Sample T-test Uji hipotesis untuk hipotesis ketujuh dan kedelapan (variabel dummy) menggunakan uji Independent Sample T-test. Uji Independent Sample T-test digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda (Ghozali, 2006). a. Pengujian hipotesis ketujuh (H7) Nilai Sig pada Levene's Test sebesar 0,453 > + (0,05), maka untuk uji hipotesis digunakan sig. (2-tailed) pada kolom Equal Variance Assumed. Nilai sig. (2-tailed) pada kolom Variance Assumed sebesar 0,250 > + (0,05) maka tidak ada beda atau tidak ada Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 82 pengaruh antara reputasi auditor dengan return awal. Hipotesis ketujuh ditolak. (Tabel4.9) Tabel 4.9 Hasil Uji Independent Sample T-test I Levenes Test for Quality of variance t-test for Equality of Means F Sig t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Cofidence Interval of the Difference Lower Upper Ir Equal Variance assumed Equal variance not assumed .572 .453 - 1.162 - 1.187 53 23.416 .250 -.09450 -.09450 -.09450 .08130 .07959 -.25758 -.25898 .06857 .06997 b. Pengujian hipotesis kedelapan (H8) Berikut hasil uji Independen Sample T- test untuk variabel reputasi underwriter yang disajikan pada tabel 4.10. Nilai Sig pada Levene's Test sebesar 0,000 < = (0,05), maka untuk uji hipotesis digunakan sig. (2-tailed) pada kolom Equal Variance not Assumed. Nilai sig. (2-tailed) pada kolom Variance not Assumed sebesar 0,000 < + (0,05) maka ada beda atau ada pengaruh antara reputasi underwriter dengan return awal. Hipotesis kedelapan diterima. Tabel 4.10. Hasil Uji Independent Sample T-test II Levenes Test for Quality of variance t-test for Equality of Means F Sig t df Sig. (2- tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Cofidence Interval of the Difference Lower Upper Ir Equal Variance assumed Equal variance not assumed 19.147 .000 - 1.877 - 4.196 53 25.038 .066 - .20912 -.20912 -20912 .11140 .04983 -.43256 -.31175 .01431 - .10650 Sumber: data diolah Pembahasan Hasil pengujian hipotesis untuk variabel besaran perusahaan menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis pertama mengindikasikan bahwa investor di BEI belum menggunakan besaran perusahaan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan investasi di pasar perdana. Hal ini dimungkinkan terjadi karena ukuran perusahaan yang diukur dengan total aktiva yang besar tidak dapat mencerminkan apakah aktiva yang dimiliki perusahaan dapat memberikan keuntungan atau malah menimbulkan biaya (Ardiansyah, 2004). Perusahaan yang besar pada umumnya menghasilkan laba dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil, namun laba belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan modal yang menghasilkan laba tersebut, sehingga investor lebih memperhatikan informasi lainnya (Ardiansyah, 2004). Hasil Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 83 penelitian ini konsisten dengan Ardiansyah (2004), Nasirwan (2000), dan Sulistio (2005). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Rohman (2008), Durukan (2002), Gumanti (2003), dan Risman (2008) yang menyatakan bahwa besaran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel EPS menunjukkan berpengaruh terhadap return awal. Penerimaan hipotesis kedua ini mengindikasikan bahwa informasi EPS yang merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan sangat diperhatikan investor untuk mendapatkan gambaran mengenai bagian keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan memiliki suatu saham. Arah koefisien yang negatif menunjukkan bahwa semakin mapan perusahaan, semakin tinggi EPS yang dimilikinya maka semakin rendah kemungkinan terjadinya underpricing sehingga akan menurunkan ekspektasi terhadap return awal. EPS yang tinggi akan menarik minat investor sehingga underwriter tidak bisa menetapkan harga penawaran terlalu rendah, sehingga harga saham perdana emiten lebih tinggi yang menyebabkan menurunnya return awal (Sulistio, 2005). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Rohman (2008) dan Ardiansyah (2004). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Sulistio (2005) yang menyatakan bahwa EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel ROA menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis ketiga ini mengindikasikan bahwa investor beranggapan bahwa perusahaan yang akan melakukan IPO melakukan manajemen laba untuk menunjukkan kinerja yang baik, sehingga ROA yang ada pada prospektus dianggap tidak menggambarkan profitabilitas yang sesungguhnya dari perusahaan (Rohman, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa informasi ROA yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dalam prospektus perusahaan IPO tidak diperhatikan oleh investor dalam berinvestasi di pasar modal. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Rohman (2008), Daljono (2000), dan Ardiansyah (2004). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Ghozali & Mansur (2002) dalam Rohman (2008) yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel tingkat leverage menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis keempat ini mengindikasikan bahwa ada kemungkinan investor memandang tinggi rendahnya tingkat leverage bukan semata- mata disebabkan oleh kinerja manajemen perusahaan, namun juga sangat dipengaruhi faktor di luar perusahaan, misalnya krisis moneter yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap U$ dollar melambung tinggi (Ardiansyah, 2004). Mengambil keputusan investasi menggunakan rasio ini dimasa krisis, bisa menyesatkan (Ardiansyah, 2004). Hasil penelitian ini konsisten dengan Rohman (2008) dan Ardiansyah (2004). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Sulistio (2005) dan Daljono (2000) yang menyatakan bahwa tingkat leverage berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel umur perusahaan menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis kelima ini mengindikasikan bahwa bagi para investor, umur perusahaan tidak dapat dijadikan patokan dalam melihat kualitas perusahaan, karena belum tentu perusahaan yang berumur tua mempunyai kinerja atau prospek lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang baru saja berdiri (Rohman, 2008). Oleh karena itu umur perusahaan dalam prospektus tidak diperhatikan investor dalam berinvestasi di pasar modal. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Rohman (2008), Nasirwan (2000), Daljono (2000), dan Ardiansyah (2004). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Beatty (1989) dan Rosyati & Sabeni (2002) yang menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap return awal. Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 84 Hasil pengujian hipotesis untuk variabel proporsi kepemilikan pemegang saham lama menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis keenam ini mengindikasikan bahwa kemungkinan para pemegang saham lama yang telah menahan sahamnya tidak mempengaruhi banyaknya informasi yang dipublikasikan sehingga tidak berpengaruh terhadap keputusan investor untuk membeli atau tidak saham emiten (Rohman, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa investor kurang memperhatikan informasi proporsi kepemilikan saham lama saat akan melakukan investasi pada perusahaan IPO. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Rohman (2008), Daljono (2000), dan Ardiansyah (2004). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Sulistio (2005) yang menyatakan bahwa proporsi kepemilikan pemegang saham lama berpengaruh signifikan terhadap return awal, Hasil pengujian hipotesis untuk variabel reputasi auditor menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Penolakan hipotesis ketujuh ini mengindikasikan bahwa tingkat kepercayaan investor terhadap hasil laporan keuangan auditan masih rendah (Rohman, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa laporan keuangan yang diaudit oleh auditor yang bereputasi baik belum dapat untuk dipercaya investor dalam pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Rohman (2008), Nasirwan (2000), Daljono (2000), Ardiansyah (2004), dan Sulistio (2005). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Beatty (1989) yang menyatakan bahwa reputasi auditor berpengaruh signifikan terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel reputasi underwriter menunjukkan berpengaruh terhadap return awal. Penerimaan hipotesis kedelapan ini mengindikasikan bahwa underwriter yang berkualitas dan berpengalaman akan cenderung berani menetapkan harga perdana yang tinggi sebagai bagian dari penjaminan emisi yang dilakukannya, serta akan menjaga nilai saham yang dijaminnya agar tidak jatuh pada hari pertama perdagangan di pasar sekunder (Rohman, 2008). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Beatty (1989), Daljono (2000), Nasirwan (2000), Rosyati & Sabeni (2002). Akan tetapi hasil penelitian ini tidak konsisten dengan Sulistio (2005) dan Triani & Nikmah (2006) yang menyatakan reputasi underwriter tidak berpengaruh terhadap return awal. Hasil pengujian hipotesis untuk variabel PER menunjukkan tidak berpengaruh terhadap return awal. Nilai signifikansi variabel PER menunjukkan kurang dari alpha (0,05), tetapi koefisien regresi menunjukkan arah positif yang tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan sehingga hipotesis ditolak. Arah koefisien yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio PER maka return awal juga semakin tinggi. Rasio PER dapat mencerminkan pertumbuhan dan resiko. Rasio PER yang tinggi mencerminkan resiko perusahaan yang tinggi, namun tingkat pertumbuhan juga tinggi. Jadi sesuai dengan teori risk dan return yang mempunyai hubungan searah, pencerminan tingkat resiko tinggi pada perusahaan yang melakukan IPO, juga akan menghasilkan return awal yang tinggi. Penelitian Basu (1977) dalam Kusumawati (2007) mendokumentasikan bahwa PER yang tinggi cenderung mengalami penurunan harga saham, sedangkan perusahaan dengan PER yang rendah cenderung mengalami peningkatan harga saham. Penurunan harga saham ini menyebabkan return awal meningkat karena harga perolehan saham di pasar perdana yang rendah, demikian juga sebaliknya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan analisis dan pengujian dari data dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap return awal. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 67-86 85 2. Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa EPS berpengaruh negatif terhadap return awal. 3. Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa ROA tidak berpengaruh terhadap return awal. 4. Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa tingkat leverage tidak berpengaruh terhadap return awal. 5. Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukkan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap return awal. 6. Hasil pengujian hipotesis keenam menunjukkan bahwa proporsi kepemilikan pemegang saham lama tidak berpengaruh terhadap return awal. 7. Hasil pengujian hipotesis ketujuh menunjukkan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap return awal. 8. Hasil pengujian hipotesis kedelapan menunjukkan bahwa reputasi underwriter berpengaruh terhadap return awal. 9. Hasil pengujian hipotesis kesembilan menunjukkan bahwa PER tidak berpengaruh terhadap return awal. 10. Nilai koefisien determinasi dalam penelitian ini sebesar 0,157 yang berarti bahwa seluruh variabel independen (besaran perusahaan, EPS, ROA, tingkat leverage, umur perusahaan, proporsi kepemilikan pemegang saham lama, dan PER) dalam penelitian ini hanya mampu mempengaruhi return awal sebesar 15,7%, sedangkan sisanya sebesar 84,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Keterbatasan 1. Untuk pengukuran variabel dummy (reputasi auditor dan reputasi underwriter) model pemeringkatan yang digunakan kurang akurat. 2. Variabel-variabel yang digunakan hanya dari sisi perusahaannya saja dan belum menggunakan faktor-faktor luar perusahaan atau faktor makro ekonomi lainnya. 3. Nilai koefisien determinasi dalam penelitian ini hanya sebesar 0,157 yang berarti bahwa seluruh variabel independen dalam penelitian ini hanya mampu mempengaruhi return awal sebesar 15,7%, sedangkan sisanya sebesar 84,3% dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Saran 1. Untuk pengukuran variabel dummy (reputasi auditor dan reputasi underwriter) model pemeringkatan sebaiknya menggunakan model yang lain agar lebih akurat. 2. Jumlah sample sebaiknya diperbanyak dengan memperluas obyek penelitian. 3. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan variabel kinerja keuangan berbeda, seperti Current Ratio, PBV, atau dengan menambahkan variabel makro seperti inflasi, kondisi pasar, nilai rata-rata kurs. DAFTAR PUSTAKA Aggarwal, Rajesh K., Laurie Krigman, dan Kent L. Womack, 2001, "Strategic IPO Underpricing, Information Momentum, and Lockup Expiration Selling", Available, http://www.ssrn.com Ardiansyah, Misnen, 2004, "Pengaruh Variabel Keuangan Terhadap Return Awal Dan Return 15 Hari Setelah IPO Serta Moderasi Besaran Perusahaan Terhadap Hubungan Antara Variabel Keuangan Dengan Return Awal Dan Return 15 hari Setelah IPO Di BEI", Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.7, No. 2 (Mei), hal. 125-153 Beatty, Randolph P., 1989, "Auditor Reputation and the Pricing of Initial Public Offerings”, The Accounting Review Vol. LXIV No. 4 October.pp.693-709 Carter, Richard B dan Steven Manaster, 1990, "Initial Public Offerings and Underwriter Reputation", Journal of Finance Vol. XLV No. 4. September Daljono, 2000, "Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Initial Return Saham yang Listing di BEJ Tahun 1990- http://www.ssrn.com/ Lefti Claudya Sastaviana & Erni Suryandari Fatmaningrum - Analisis Faktor-Faktor … 86 1997", Simposium Nasional Akuntansi 3:556 572 Daniati, Ninna dan Suhairi, 2006, “Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan Arus Kas, Laba Kotor dan Size Perusahaan Terhadap Expected Return Saham", Makalah Simposium Nasional Akuntansi, IX Darmadji, Tjiptono, 2001, Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab, Salemba Empat, Jakarta Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang, BP Undip Gumanti, Tatang Ary dan Sri Indah Cahyati, 2002, "Hubungan Informasi Non Akuntansi dalam Prospektus dengan Tingkat Initial Return di BEJ: Bukti Lanjutan". Jurnal Penelitian Akuntansi- Bisnis dan Manajemen Vol. 9, No. 1, April, hal. 34-50 Jogiyanto, 1998, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE, Yogyakarta Kertonegoro, Sentanoe, 1995, Analisis dan Manajemen Investasi, PT. Widya Press, Jakarta Nasirwan, 2001, "Reputasi Penjamin Emisi, Return Awal, Return Hari Sesudah IPO, dan Kinerja Perusahaan Satu Tahun Setelah IPO di BEJ", Simposium Nasional Akuntansi3:573- 598 Nazaruddin, letje, 2006, Modul Praktikum Statistika, UMY, Yogyakarta Nurhidayati, Siti dan Nur Indriantoro, 1998, "Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Underpriced pada Penawaran Perdana di BEJ", Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 13 No. 1. pp.21-30 Prastowo, Dwi, 2002, Analisis Laporan Keuangan Konsep dan Aplikasi, UPP AMP YKPN, Yogyakarta Rahmawati, Diyah, 2007, "Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental Terhadap Tingkat Underpricing pada Penawaran umum Perdana di BEJ", Skripsi S1 Unnes Rohman, Abdul, 2008, "Return Awal dan Faktor Yang Mempengaruhinya", Jurnal MAKSI, Vol. 8, No. 2 (Agustus), hal. 170-183 Rosyati dan Arifin Sabeni, 2002, "Analisis Faktor Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham pada Perusahaan Go Public di BEJ (Tahun 1997-2000)", Simposium Nasional Akuntansi 5:286- 297 Setianingrum, Roskarina dan K. Tjilik Suwito, 2008, "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing pada Perusahaan yang Go Public di BEJ", Fokus Manajerial, Vol. 6, No. 1, hal:84-95 Sulistio, Helen, 2005, "Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi Terhadap Initial Return: Studi pada Perusahaan yang Melakukan IPO di BEJ", Simposium Nasional Akuntansi 8:87-99 Sunariyah, 2003, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, UPP AMP YKPN, Yogyakarta Suyatmin dan Sujadi , 2006, "Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing pada Penawaran Umum Perdana di BEJ", Benefit, Vol. 10, No.1, Juni, hal. 11-32 Triani, Apriliani dan Nikmah, 2006, "Reputasi Penjamin Emisi, Reputasi Auditor, Persentase Penjamin Emisi, Ukuran Perusahaan dan Fenomena Underpricing: Studi Empiris pada BEJ", Simposium Nasional Akuntansi 9:1-27 Trisnawati, Rina, 1998, "Pengaruh Informasi Prospektus Terhadap Return Saham di Pasar Perdana", Hasil Penelitian tidak dipublikasikan www.idx.co.id www.isx.co.id www.Pustaka.net Yolana, Chastina dan Dwi Martani, 2005, "Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Fenomena Underpricing pada Penawaran Saham Perdana di BEJ Tahun 1994-2001", Simposium Nasional Akuntansi 8:538- 552 http://www.idx.co.id/ http://www.isx.co.id/ http://www.pustaka.net/