Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 10 No. 2 Hal: 87-105, Juli 2009 PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN: PRAKTIK CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL MODERATING Duwi Nur Romadhon Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Barbara Gunawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Rudy Suryanto Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT The aim of this research is to examine the effect of earnings management to the firm value: corporate governance practice as moderating variable. The sample of this research was extracted with purposive sampling method. The populations of this research are all of the company which are listed at Indonesian Stock Exchange (IDX). Based on purposive sampling method, 142 companies are considered being the sample in this study. The results of the research show that: ownership manajerial has a significant negative effect on firm value and quality of audit has a significant positive effect on the firm value. Keyword: Corporate governance; Earnings Management; Firm Value; Managerial Ownership; Outside Independent Director; Institutional Ownership; Audit Quality; Committee Audit; Board of Commisioner PENDAHULUAN Dalam jangka panjang, tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Semakin tinggi nilai perusahaan menggambarkan semakin sejahtera pula pemiliknya. Nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya (Fama, 1978 dalam Untung dan Hartini, 2006). Harga saham yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan ke depan. Salah satu cara yang dilakukan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan yang dapat mempengaruhi tingkat laba yang ditampilkan adalah earnings management (manajemen laba) yang diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan pada saat tertentu. Adanya pemisahan peran atau perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen dapat menimbulkan masalah- masalah keagenan (agency cost). Konflik keagenan dapat memicu munculnya sikap oportunistik manajemen dalam melaporkan laba. Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang dibandingkan pemegang saham. Manajer sebagai pengelola mempunyai kewajiban kepada pemilik untuk memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan. Akan tetapi, terkadang informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya, dan kondisi ini mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini sebagai pemegang saham). Asimetri informasi dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (Richardson, 1998 dalam Arif dan Bambang, 2007). Tindakan manajemen laba telah muncul dalam beberapa kasus skandal pelaporan akuntansi pada perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat yang telah diketahui publik secara luas seperti Enron, Merck, World Com, dan Xerox. Kasus serupa juga terjadi di Indonesia, seperti skandal PT. Lippo Tbk dan PT. Kimia Farma Tbk. Kurangnya independensi akuntan dan sangat lemahnya corporate governance yang Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 88 diterapkan perusahaan memberikan andil dalam kegagalan suatu perusahaan (Porter, 1991 dalam Ratna, 2006). Corporate governance merupakan isu yang sedang hangat dibicarakan sebagai suatu alat yang bisa memecahkan masalah dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban perusahaan modern. Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan (Monks dan Minow, 2001 dalam Ratna, 2006). Teori agensi memberikan pandangan bahwa masalah manajemen laba dapat diatasi dengan pengawasan sendiri melalui good corporate governance yaitu pertama, meningkatkan kepemilikan manajerial (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Vinola, 2008). Kedua, meningkatkan kepemilikan saham oleh investor institusional. Ketiga, melalui peran monitoring dewan komisaris independen (Barnhart dan Rosenstein, 1998 dalam Vinola, 2008). Keempat, kualitas audit yang dilihat dari peran auditor yang memiliki kompetensi yang memadai dan bersikap independen (Sekar, 2003 dalam Vinola, 2008). Kelima, melalui peran komite audit. Keenam, memperkecil ukuran dewan komisaris. Arif dan Bambang (2007). TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTHESIS Earnings management dan Nilai Perusahaan Binter dan Dolan (1996) dalam Hamonangan dan Mas'ud (2006) melakukan penelitian antara manajemen laba sebagai proksi kualitas laba dan nilai perusahaan dengan menggunakan variabel leverage dan firm size. Hasil penelitian tersebut ditemukan bukti bahwa baik dengan menggunakan laba bersih atau ordinary income yang digunakan sebagai sasaran manajemen laba, leverage merupakan determinan negatif yang signifikan secara statistik. Sedangkan firm size berhubungan secara negatif namun secara statistik tidak signifikan. Sloan (1996) dalam Vinola (2008) menguji sifat kandungan informasi komponen akrual dan komponen aliran arus kas apakah terefleksi dalam harga saham. Terbukti bahwa kinerja laba yang berasal komponen akrual sebagai aktifitas earnings management memiliki persistensi yang lebih rendah dibanding aliran kas. Laba yang dilaporkan lebih besar daripada aliran kas operasi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan saat ini. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Vinola (2008) yang membuktikan bahwa earnings management berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan. Manajer melakukan tindakan manajemen laba karena termotivasi untuk memperlihatkan kinerja yang baik dalam menghasilkan nilai atau keuntungan maksimal bagi perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H1: Earnings management berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan Kepemilikan Institusional dan Nilai Perusahaan Shleifer dan Vishny (1986) dalam Vinola (2008) berpendapat bahwa tingkat kepemilikan institusional dalam proporsi yang cukup besar akan mempengaruhi nilai pasar perusahaan. Dasar argumentasi ini adalah semakin besar tingkat kepemilikan saham oleh institusi, maka semakin efektif pula mekanisme kontrol terhadap kinerja manajemen. Nisa (2004) dalam Vinola (2008) berpendapat investor institusional adalah pemilik sementara sehingga hanya terfokus pada laba sekarang. Perubahan pada laba sekarang dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak menguntungkan investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa investor institusional biasanya memiliki saham dengan jumlah besar sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 89 manajer akan melakukan tindakan manajemen laba. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Vinola (2008) yang menunjukkan bahwa kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Pendapat ini didukung oleh bukti empiris yang ditemukan oleh Barclay dan Holderness (1990) dalam The 2nd National Conference, yang menemukan pengaruh positif signifikan tingkat kepemilikan institusional dalam jumlah yang cukup besar terhadap nilai perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H2: Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan Kepemilikan Manajerial dan Nilai Perusahaan Bernhart dan Rosenstein (1998) dalam Hamonangan dan Mas'ud (2006) yang menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan komposisi dewan komisaris terhadap nilai perusahaan menemukan bahwa nilai perusahaan meningkat sejalan dengan peningkatan kepemilikan manajerial sampai dengan 5%, kemudian menurun pada saat kepemilikan manajerial 5% sampai 25%, dan kemudian meningkat kembali seiring dengan adanya peningkatan kepemilikan manajerial secara berkelanjutan. Hamonangan dan Mas'ud (2006) meneliti pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba yang diukur dengan discretionary accruals dan nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin's Q, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh secara positif terhadap kualitas laba, sedangkan pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan adalah negatif. Mendukung penelitian tersebut, Vinola (2008) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H3: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan Komisaris Independen dan Nilai Perusahaan Brown dan Caylor (2004) dalam Andri dan Hanung (2007 meneliti pengaruh corporate governance terhadap kinerja operasional (return on equity, profit margin and sales growth), penilaian (Tobin's Q) dan shareholder payout (dividend yield dan share repurchases). Corporate governance diukur dengan menggunakan Gov Score, yang berdasar pada data yang disediakan Institusional Shareholder Services. Gov- Score merupakan campuran dari 51 faktor yang mencakup 8 kategori corporate governance antara lain audit dan board of directors. Hasil penelitian membuktikan bahwa perusahaan. dengan tata kelola yang lebih baik relatif lebih profitable, memiliki Tobin's Q yang lebih dan pembayaran kepada pemegang saham yang lebih baik. Penelitian Andri dan Hanung (2007) membuktikan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Ada kemungkinan bahwa komposisi komisaris independen yang tinggi bukan jaminan bahwa kinerja perusahaan akan semakin baik, sehingga pasar menganggap komposisi komisaris independen bukanlah faktor yang mereka pertimbangkan dalam mengapresiasi nilai perusahaan. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan Vinola (2008) yang membuktikan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H4: Komisaris independen berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan Ukuran Dewan Komisaris dan Nilai Perusahaan Hasil penelitian Jensen, 1993; Lipton dan Lorsch, 1992; Yermack, 1996 dalam Ratna (2006) menemukan bukti bahwa perusahaan yang memiliki ukuran dewan Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 90 yang besar tidak bisa melakukan koordinasi, komunikasi dan pengambilan keputusan yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang memiliki ukuran dewan yang kecil sehingga nilai perusahaan yang memiliki dewan yang banyak lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki direksi sedikit. Eisenberg et al. (1998) dalam Ratna (2006) menyatakan bahwa ada hubungan yang negatif antara ukuran dewan dengan kinerja perusahaan, dengan menggunakan sampel perusahaan di Finlandia. Jadi, dewan merupakan salah satu mekanisme yang sangat penting dalam corporate governace, dimana keberadaanya menentukan kinerja perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H5: Ukuran dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Kualitas Audit Bradbury et al. (2004) dalam Agung (2005) komite audit dalam melaksanakan tugasnya menyediakan komunikasi formal antara dewan, manajemen, auditor eksternal, dan auditor internal. Adanya komunikasi formal antara komite audit, auditor internal dan auditor eksternal akan menjamin proses audit internal dan eksternal dilakukan dengan baik. Proses audit internal dan eksternal yang baik akan meningkatkan akurasi laporan keuangan dan kemudian meningkatkan kepercayaan atas laporan keuangan (Anderson et al., 2003 dalam Agung, 2005). De Angelo (1981) dalam Nizarul et al., (2007) mendefinisikan kualitas audit sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa KAP yang besar akan berusaha untuk menyajikan kualitas audit yang lebih besar dibandingkan dengan KAP yang kecil. Hasil penelitian Vinola (2008) membuktikan bahwa variabel kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, artinya nilai perusahaan akan meningkat jika diaudit oleh auditor yang berasal dari KAP besar (Big 4). Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H6: Kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan Komite Audit Silveira dan Barros (2006) dalam Vinola (2008) meneliti pengaruh kualitas corporate governance terhadap nilai pasar atas 154 perusahaan Brazil yang terdaftar di bursa efek pada tahun 2002. Mereka membuat suatu governance index sebagai ukuran atas kualitas corporate governance. Sedangkan ukuran untuk market value perusahaan menggunakan dua variabel yaitu Tobin's Q dan PBV. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh kualitas corporate governance yang positif dan signifikan terhadap nilai pasar perusahaan. Klien, 2001; DeFond dan Jiambalvo, 1991; McMulen, 1996 dalam Agung (2005) melakukan penelitian tentang keberadaan komite audit dalam suatu perusahaan. Hasil penelitian cenderung mendukung keberadaan komite audit karena dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan. Hamonangan dan Mas'ud (2006) menyatakan bahwa keberadaan komite audit mempunyai pengaruh positif terhadap kualitas dan nilai perusahaan yang dihitung dengan Tobin's Q. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H7: Komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan Institusional, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Pratana dan Mas'ud (2003) menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mempengaruhi tindakan manajemen laba. Artinya kepemilikan institusional mampu mengurangi manajemen dalam melakukan tindakan manajemen laba melalui proses monitoring yang efektif. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Arif dan Bambang (2007), hasil Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 91 penelitiannya menemukan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap discretionary accruals. Hasil penelitian ini sejalan dengan konsep atau pandangan yang mengatakan bahwa institusional adalah pemilik yang lebih memfokuskan pada current earnings (Porter, 1992 dalam Pratana dan Mas'ud, 2003). Akibatnya manajer terpaksa melakukan tindakan yang dapat meningkatkan laba jangka pendek, misalnya dengan melakukan manipulasi laba. Hasil penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian Vinola (2008). Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H8: Kepemilikan institusional memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan Kepemilikan Manajerial, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Warfield et al., (1995) dalam Vinola (2008) yang menguji kepemilikan manajerial dengan discretionary accruals dan kandungan informasi laba menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan negatif dengan discretionary accruals. Demikian halnya penelitian oleh Pratana dan Mas'ud (2003) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial merupakan salah satu mekanisme yang dapat membatasi perilaku oportunistik manajer dalam bentuk manajemen laba. Arif dan Bambang (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba. Hasil penelitian menemukan bahwa variabel kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial mampu menjadi mekanisme corporate governance yang dapat mengurangi ketidakselarasan kepentingan antara manajemen dengan pemilik. Berbeda dengan penelitian tersebut, hasil penelitian yang dilakukan Vinola (2008) membuktikan bahwa kepemilikan manajerial bukan sebagai variabel pemoderasi. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H9: Kepemilikan manajerial memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan. Komisaris Independen, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Dechow et al., 1996 dalam Vinola (2008) menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan manipulasi laba lebih besar kemungkinannya apabila dewan komisaris yang didominasi oleh manajemen dan lebih besar kemungkinannya memiliki Chief Executive Officer (CEO) yang merangkap menjadi chairman of board. Tindakan manipulasi laba yang dilakukan manajemen dapat diatasi dengan pengawasan yang dilakukan oleh komisaris independen. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Vinola (2008) yang menyatakan bahwa komisaris independen dapat memonitor manajemen dalam rangka menyelaraskan perbedaan kepentingan pemilik dan manajemen. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H10: Komisaris independen memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan Ukuran Dewan Komisaris, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Penelitian Pratana dan Mas'ud (2003) menemukan bahwa ukuran dewan komisaris berhubungan negatif dengan manajemen laba. Artinya ukuran dewan komisaris yang lebih besar mampu mengurangi tindakan manajemen laba. Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian yang dilakukan Arif dan Bambang (2007) membukitkan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap tindakan manajemen laba yang dilakukan dalam perusahaan. Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Marihot dan Doddy (2007) yang menyimpulkan bahwa perusahaan yang Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 92 memiliki dewan komisaris yang besar maka peluang tindak manajemen laba yang dilakukan manajer semakin besar. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H11: Ukuran dewan komisaris memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan Kualitas Audit, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Penelitian yang dilakukan oleh Sekar (2003) menguji pengaruh independensi dan kualitas audit terhadap integritas laporan keuangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa spesialisasi auditor berpengaruh positif terhadap integritas laporan keuangan, serta independensi berpengaruh negatif terhadap integritas laporan keuangan. Selain itu, mekanisme corporate governance berpengaruh secara statistis signifikan terhadap integritas laporan keuangan. Hogan (1997) dalam Nizarul et al., (2007) menjelaskan bahwa kantor auditor besar dapat memberikan kualitas audit yang baik dimana dapat mengurangi terjadinya underpricing pada saat perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO). Teoh dan Wong (1993) dalam Vinola (2008) juga menemukan bukti bahwa kualitas audit berhubungan positif dengan kualitas laba yang diukur dengan ERC, diduga klien dari auditor non Big 4 cenderung lebih tinggi dalam melakukan manajemen laba. Hasil penelitian yang dilakukan Vinola (2008), menyimpulkan bahwa kualitas audit dengan peran auditornya akan mampu menjadi pihak yang dapat memberikan kepastian tentang integritas angka-angka akuntansi yang dilaporakan manajemen. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H12: Kualitas audit memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan Komite Audit, Earnings Management dan Nilai Perusahaan Komite audit mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam hal memelihara kredibilitas proses penyusunan laporan keuangan seperti halnya menjaga terciptanya sistem pengawasan perusahaan yang memadai serta dilaksanakannya good corporate governance. Dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif, maka kontrol terhadap perusahaan akan lebih baik sehingga konflik keagenan yang terjadi akibat keinginan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat diminimalisasi. Penelitian Xie et al., (2003) dalam Andri dan Hanung (2007) menguji efektifitas komite audit dalam mengurangi manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa komite audit mampu melindungi kepentingan pemegang saham dari tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Marihot dan Doddy (2007). Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian yang dilakukan Andri dan Hanung (2007) membuktikan bahwa keberadaan komite audit independen tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Linda (2004) menguji pengaruh interaksi antara dewan komisaris dan komite. audit terhadap praktik manajemen laba. Hasil penelitiannya menunjukkan interaksi dewan komisaris dengan komite audit justru berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Artinya keberadaan komite audit tidak mampu mengurangi tindak manajemen laba yang terjadi di perusahaan. Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H13: Komite audit memiliki pengaruh terhadap hubungan antara manajemen laba dan nilai perusahaan METODE PENELITIAN 1. Pemilihan Sampel dan Data Populasi dari obyek penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 93 2004-2007. Jenis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang didapat secara tidak langsung dari sumbernya melainkan berupa Laporan Tahunan dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD) yang terdaftar di BEI tahun 2004- 2007. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan mengggunakan metode purposive judgemental sampling, dengan kriteria sebagai berikut: a. Perusahaan manufaktur yang telah listing di BEI tahun 2004-2007 secara berturut-turut. b. Perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan (annual report) yang berakhir pada tanggal 31 Desember selama periode pengamatan 2004-2007. c. Perusahaan yang memiliki data mengenai komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, dan auditor. 2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian a. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan. Nilai perusahaan adalah nilai jual perusahaan atau nilai tambah bagi pemegang saham, nilai saham akan tercermin dari harga pasar sahamnya (Andri dan Hanung, 2007). Nilai perusahaan dapat diukur dengan menggunakan Tobin's Q yang dihitung dengan menggunakan rumus: Q = 𝑀𝑉𝐸 + 𝐷 BVE + D Keterangan: Q = Nilai perusahaan MVE = nilai pasar ekuitas (equity market value) D = Nilai buku total hutang BVE = Nilai buku dari ekuitas (equity book value) b. Variabel independen dalam penelitian ini adalah earnings management Earnings management merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi (Schipper, 1989 dalam Arif dan Bambang, 2007). Penggunaan discretionary accruals sebagai proksi manajemen laba dihitung dengan menggunakan Modified Jones Model (Dechow et al., 1995 dalam I Putu, 2008). TAC = Nit - CFOit .................................... (1) Nilai total akrual (TA) diestimasi dengan persamaan regresi OLS sebagai berikut: TAit/Ait-1 = β1 (1/Ait-1) + β2(Δ Revit/Ait-1) + β3 (PPEit/Ait-1) + e .................................. (2) Dengan menggunakan koefisien regresi diatas nilai non discretionary accruals (NDA) dapat dihitung dengan rumus: NDAit = β1 (1/Ait-1) + β2 (Δ REVit/Ait-1- ΔRecit/Ait) + β3 (PPEit/Ait 1) ....................... (3) DAit = TAit/Ait-1 –NDAit ........................ (4) Keterangan: DAit = Discretionary Accruals perusahaan i periode ke t NDAit = Non Discretionary Accruals perusahaan i pada periode ke t TAit = Total akrual perusahaan i pada periode ke t Nit = Laba bersih perusahaan i pada periode ke t CFOit = Aliran kas dari aktifitas operasi perusahaan i pada periode ke t Ait-1 = Total aktiva perusahaan i pada periode ke t ΔRevt = Perubahan pendapatan perusahaan i pada periode ke t PPEit = Aktiva tetap perusahaan i pada periode ke t ΔRecit = Perubahan piutang perusahaan i pada periode ke t e = error Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 94 c. Variabel Pemoderasi dalam penelitian ini adalah good corporate governance yang meliputi: Kepemilikan Institusional Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase saham yang dimiliki oleh institusi (Beiner et al., 2003 dalam Arif dan Bambang, 2007). Indikator yang digunakan untuk mengukur kepemilikan institusional adalah persentase jumlah saham yang dimiliki institusi dari seluruh modal saham yang beredar. Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial adalah jumlah persentase saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola (Gideon, 2005). Indikator yang digunakan untuk mengukur kepemilikan manajerial berdasarkan persentase kepemilikan saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar. Komisaris Independen Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata- mata demi kepentingan perusahaan (KNKG, 2004 dalam Arif dan Bambang, 2007). Komisaris independen yang memiliki sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris, berarti telah memenuhi pedoman good corporate governance guna menjaga independensi, pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat. Ukuran Dewan Komisaris Ukuran dewan komisaris merupakan jumlah anggota dewan komisaris perusahaan (Beiner et al., 2003 dalam Arif dan Bambang, 2007. Ukuran dewan komisaris diukur dengan menggunakan indikator jumlah anggota dewan komisaris suatu perusahaan. Instrumen penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian Arif dan Bambang (2007). Kualitas audit Kualitas audit merupakan probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya (De Angelo dalam Nizarul, dkk., 2007). Variabel kualitas audit adalah variabel dummy, nilai 1 untuk auditor yang berafiliasi dengan KAP big four, dan 0 jika sebaliknya. Komite Audit Sesuai dengan Kep. 29/PM/2004, komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan (Marihot dan Doddy, 2007). Variabel komite audit diukur dengan membagi jumlah komite audit independen dengan jumlah total komite audit. d. Variabel Kontrol Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan dapat diukur dari natural logaritma nilai pasar ekuitas perusahaan pada akhir, yaitu jumlah saham beredar pada akhir tahun dikalikan dengan harga pasar saham akhir tahun. 3. Uji Kualitas Data Pengujian Asumsi Klasik Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, maka data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diuji terlebih dahulu untuk memenuhi asumsi dasar dan pengujian yang dilakukan diantaranya: (1) menguji normalitas data dengan dilakukan dengan melakukan One-ample Kolmogrov-Smirnov Test), (2) menguji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji Glejser, (3) menguji multikolinieritas dengan melihat tolerance dan variance inflation factor (VIF), (4) menguji autokorelasi dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 95 4. Pengujian Hipotesis Persamaan Model Regresi Pertama Untuk menguji hipotesis 1 menggunakan regresi linier sederhana dengan asumsi Ordinary Least Square (OLS). Persamaan matematis untuk regresi linier sederhana adalah: Qit = α0 + α1+ EM + α2 UPit Persamaan Model Regresi Kedua Untuk menguji hipotesis 2,3,4,5,6 dan7 menggunakan analisis regresi berganda. Model persamaan matematis untuk regresi berganda adalah: Qit = α0 + α1Kep.Instit + α2KepManit + α3KIit + α4UDKit + α5KAit + α6KOMAit + α7UPit Persamaan Model Regresi Ketiga Untuk hipotesis 8,9,10,11,12 dan 13 akan diuji dengan analisis regresi linier uji interaksi atau Moderate Regression Analysis (MRA). Model persamaan matematis untuk MRA adalah: Qit = α0 + α1 EMit + α2 Komlndit + α3 KepManit + α4 KAit+ α5 Keplnsit + α6 KOMAit + α7 UDKit + α8 EMit * Komlndit + α9 EM KepManit α10 EM* KAit + α111 EM *Keplnsit + α12 EM*KOMA + α14 EM*UDK + α14 UPit Keterangan: EM = Earnings Management Komlnd = Komisaris Independen KepMan = Kepemilikan Manajerial KA = Kualitas Audit Keplns = Kepemilikan Institusional KOMA = Keberadaan Komite Audit UDK = Ukuran Dewan Komisaris Q = Tobin's Q UP = Ukuran Perusahaan Uji Nilai t Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan, apakah masing-masing variabel penelitian berpengaruh terhadap nilai perusahaan secara individual. Uji Nilai F Pengujian nilai F menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Imam, 2007: 84). Koefisien determinasi (Adjusted R2) Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Subyek Perusahaan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEL. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling, yaitu 548 perusahaan yang listing di BEI selama 2004- 2007, terdapat 406 sampel perusahaan yang tidak memenuhi kriteria sehingga total sampel yang digunakan sebanyak 142 perusahaan. Uji Statistik Deskripstif Tabel 1 menunjukkan bahwa variabel nilai perusahaan (0) memiliki nilai minimum sebesar 8,6285 dan nilai maksimum sebesar 15,0966, nilai rata-rata sebesar 12,861902 dengan standar deviasi 1,1946869. Variabel kepemilikan institusional (Kep.Inst) memiliki nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maksimum sebesar 0,98, nilai rata-rata sebesar 0,3944 dengan standar deviasi 0,31347. Variabel kepemilikan manajerial (Kep.Man) memiliki nilai minimum sebesar 0,00 dan nilai maksimum sebesar 0,26, nilai rata-rata sebesar 0,0162 dengan standar deviasi 0,04399. Variabel komisaris independen (KI) memiliki nilai minimum sebesar 0,01 dan nilai maksimum sebesar 0,75, nilai rata-rata sebesar 0,3687 dengan standar deviasi 0,09587. Variabel ukuran dewan komisaris (UDK) memiliki nilai minimum sebesar 2 dan nilai maksimum sebesar 10, nilai rata-rata sebesar 3,88 dengan standar deviasi 1,626. Variabel kualitas audit (KA) memiliki nilai minimum Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 96 sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1, nilai rata-rata sebesar 0,69 dengan standar deviasi 0,464. Variabel komite audit (KOMA) memiliki nilai minimum sebesar 0,01 dan nilai maksimum sebesar 1,00, nilai rata-rata sebesar 0,4685 dengan standar deviasi 0,23008. Uji Kualitas Data Uji Normalitas Uji normalitas persamaan regresi pertama pada tabel 2 menunjukkan bahwa nilai Kolmogrov-Smirnov Z sebesar 0,892 dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang diperoleh model regresi lebih dari a 0,404), berarti berdistribusi normal. Uji normalitas persamaan regresi kedua pada tabel 3 menunjukkan bahwa nilai Kolmogrov-Smirnov Z sebesar 0,954 dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang diperoleh model regresi lebih dari a 0,322), berarti berdistribusi normal. Uji normalitas persamaan regresi ketiga pada tabel 4 menunjukkan nilai Kolmogrov- Smirnov Z sebesar 0,854 dan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang diperoleh model regresi lebih dari a 0,474), berarti berdistribusi normal. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas persamaan regresi pertama pada tabel 5 menunjukkan bahwa nilai tolerance untuk variabel discretionary accrual (DA) sebesar 0,999 dengan nilai VIF 1,001, ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,999 dengan nilai VIF 1,001. Uji multikolinieritas persamaan regresi kedua pada tabel 6 menunjukkan bahwa nilai tolerance untuk variabel kepemilikan institusional (Kep.Inst) sebesar 0,974 dengan nilai VIF 1,027; kepemilikan manajerial (Kep.Man) sebesar 0,942 dengan nilai VIF 1,061; komisaris independen (KI) sebesar 0,888 dengan nilai VIF 1,126; ukuran dewan komisaris (UDK) sebesar 0,533 dengan nilai VIF 1,877; kualitas audit (KA) sebesar 0,775 dengan nilai VIF 1,324; komite audit (KOMA) sebesar 0,769 dengan nilai VIF 1,301; ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,530 dengan nilai VIF 1,888. Nilai VIF yang diperoleh dari model regresi dari semua variabel < 10, berarti tidak terjadi multikoliniearitas. Uji multikolinieritas persamaan regresi ketiga pada tabel 7 menunjukkan bahwa nilai tolerance untuk variabel discretionary accruals (DA) sebesar 0,022 dengan nilai VIF 45,763; DA yang dimoderat dengan Kep.Inst sebesar 0409 dengan nilai VIF 2,442; DA yang dimoderat dengan Kep.Man sebesar 0,803 dengan nilai VIF 1,245; DA yang dimoderat dengan KI sebesar 0,030 dengan nilai VIF 33,553 ; DA yang dimoderat dengan UDK sebesar 0,079 dengan nilai VIF 12,726; DA yang dimoderat dengan KA sebesar 0,208 dengan nilai VIF 4,804; DA yang dimoderat dengan KOMA sebesar 0,117 dengan nilai VIF 8,528; ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,493 dengan nilai VIF 2,209. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi persamaan regresi pertama pada tabel 8 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,961, maka dapat disimpulkan persamaan pertama tidak terdapat autokorelasi. Uji autokorelasi persamaan regresi kedua pada tabel 9 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,974, maka dapat disimpulkan persamaan pertama tidak terdapat autokorelasi. Uji autokorelasi persamaan regresi ketiga pada tabel 10 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson sebesar 1,976, maka dapat disimpulkan persamaan pertama tidak terdapat autokorelasi. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas persamaan regresi pertama pada tabel 11 menunjukkan bahwa nilai sig untuk variabel discretionary accruals (DA) sebesar 0,623; ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,076. Uji heteroskedastisitas persamaan regresi kedua pada tabel 12 menunjukkan bahwa bahwa nilai sig untuk variabel kepemilikan institusional (Kep.Inst) sebesar 0,731; kepemillikan manajerial (Kep. Man) sebesar 0,959; komisaris independen (KI) Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 97 sebesar 0,928; ukuran dewan komisaris (UDK) sebesar 0,838; kualitas audit (KA) sebesar 0,140; komite audit (KOMA) 0,301; ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,344. Nilai sig yang diperoleh dari model regresi dari semua variabel > alpha (0,05), berarti model regresi tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas persamaan regresi ketiga pada tabel 13 menunjukkan bahwa nilai sig untuk variabel discretionary accruals (DA) sebesar 0,966; DA yang dimoderat dengan Kep.Inst sebesar 0,845; DA yang dimoderat dengan Kep.Man sebesar 0,274; DA yang dimoderat dengan Ki sebesar 0,506; DA yang dimoderat dengan UDK sebesar 0,194; DA yang dimoderat dengan KA sebesar 0,904; DA yang dimoderat dengan KOMA sebesar 0,637; ukuran perusahaan (UP) sebesar 0,340. Nilai sig yang diperoleh dari model regresi dari semua variabel > alpha (0,05), berarti model regresi tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji Hipotesis Analisis Persamaan Regresi Pertama Tabel 14 dapat dilihat nilai koefisien determinan (adjusted R2) menunjukkan angka 0,116. Tabel 15 menunjukkan variabel DA menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,696 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H1 ditolak, artinya variabel DA tidak berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel ukuran perusahaan (UP) memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < alpha 0,05 yang berarti ukuran perusahaan (UP) yang dijadikan variabel kontrol ternyata mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Analisis Persamaan Regresi Kedua Tabel 16 dapat dilihat nilai koefisien determinan (adjusted R2) menunjukkan angka 0,192. Tabel 17 dapat dilihat nilai signifikansi F sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil daripada tingkat signifikansi (a) sebesar 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel independen (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, kualitas audit dan komite audit) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (nilai perusahaan). Tabel 18 menunjukkan variabel Kep. Inst memiliki nilai signifikansi sebesar 0,243 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H2 ditolak. Variabel kepemilikan manajerial (Kep.Man) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,002 < alpha 0,05 yang berarti bahwa H3 diterima. Variabel komisaris independen (KI) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,287 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H4 ditolak. Variabel ukuran dewan komisaris (UDK) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,976 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H5 ditolak. Variabel kualitas audit (KA) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,019 < alpha 0,05 yang berarti bahwa H6 diterima. Variabel komite audit (KOMA) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,166 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H7 ditolak. Analisis Persamaan Regresi Ketiga Tabel 19 dapat dilihat nilai koefisien determinan (Adjusted R2) menunjukkan angka 0,178. Tabel 20 dapat dilihat nilai signifikansi F sebesar 0,000. Nilai tersebut lebih kecil daripada tingkat signifikansi (a) sebesar 0,05 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel independen (discretionary accruals, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, kualitas audit dan komite audit dan moderat) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (nilai perusahaan). Tabel 21 menunjukkan Variabel interaksi antara DA dengan Kep.Inst memiliki nilai sig sebesar 0,474 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H8 ditolak. Variabel interaksi antara DA dengan kepemilikan manajerial memiliki nilai sig sebesar 0,981 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H9 ditolak. Variabel interaksi antara DA dengan komisaris independen memiliki nilai sig sebesar 0,522 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H10 ditolak. Variabel interaksi antara Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 98 DA dengan ukuran dewan komisaris memiliki dengan nilai sig sebesar 0,341 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H11 ditolak. Variabel interaksi antara DA dengan kualitas audit memiliki nilai sig sebesar 0,250 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H12 ditolak. Variabel interaksi antara DA dengan komite audit memiliki nilai sig sebesar 0,650 > alpha 0,05 yang berarti bahwa H13 ditolak. Pembahasan Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa manajemen laba berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan ditolak. Alasan mengapa manajemen laba tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan karena nilai kekayaan yang ditunjukkan pada neraca tidak memiliki hubungan dengan nilai pasar. Hal ini disebabkan perusahaan memiliki kekayaan yang tidak bisa terlihat dalam neraca, seperti reputasi yang baik dan prospek yang sangat cerah. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Andri dan Hanung (2007) yang menemukan bahwa kualitas laba yang diproksi dengan discretionary accruals tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan ditolak. Hal ini dapat dijelaskan melalui peran kepemilikan institusional yang tidak optimal dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja manajemen sehingga masalah keagenan tidak teratasi. Berbagai cara dapat dilakukan manajer untuk memiliki informasi lebih dibanding investor, akibatnya investor tidak yakin terhadap kualitas perusahaan dan tidak mau membeli saham perusahaan sehingga harga saham perusahaan menjadi turun. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Vinola (2008) yang menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan diterima. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sudarma (2004) dalam Hamonangan dan Mas'ud (2006) yang menemukan struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional) saham berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya bahwa komposisi dari kepemilikan manajerial dan institusional menjadi penentu nilai perusahaan. Semakin berkurangnya komposisi kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional serta meningkatnya kepemilikan public akan berpengaruh terhadap meningkatnya nilai perusahaan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Hamonangan dan Mas'ud (2006) dan Vinola (2008). Hipotesis keempat yang menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan ditolak. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Andri dan Hanung (2007) yang menemukan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Alasan mengapa komisaris independen tidak memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan karena banyak perusahaan menempatkan komisaris independen yang tidak memiliki kompeten pada bidang akuntansi atau keuangan berdasarkan pada latar belakang yang dicantumkan dalam annual report. Komposisi komisaris independen yang tinggi bukan merupakan jaminan bahwa kinerja perusahaan akan semakin baik, sehingga pasar menganggap komposisi komisaris independen bukanlah faktor yang mereka pertimbangkan dalam mengapresiasi nilai perusahaan. Hipotesis kelima yang menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan ditolak. Hal ini dapat dijelaskan melalui struktur pengelolaan di Indonesia yang cenderung terjadi cross-directorship (adanya keterhubungan antara anggota dewan komisaris perusahaan dengan anggota dewan komisaris lain) dapat memperlemah fungsi service dan kontrol dari dewan komisaris. Jika investor mengetahui bahwa anggota dewan komisaris suatu perusahaan menjadi pejabat di perusahaan lain maka investor akan memberikan penilaian yang rendah terhadap perusahaan. Hal ini wajar mengingat di Indonesia kondisi tesebut Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 99 dianggap sebagai kolusi dan nepotisme yang cenderung negatif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Dwi (2007) yang menemukan ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hipotesis keenam yang menyatakan bahwa kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan diterima. Artinya nilai perusahaan akan meningkat jika diaudit oleh auditor yang berasal dari KAP besar (big4). Kantor audit yang besar menunjukkan kredibilitas auditor yang semakin baik, yang berarti kualitas audit yang dilakukan semakin baik pula (Hogan, 1997; Teoh dan Wong, 1993 dalam Vinola, 2008). Hasil penelitian ini mendukung penelitian Piot (2001) dalam Vinola (2008) dan Vinola (2008). Hipotesis ketujuh yang menyatakan bahwa komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan ditolak. Anggota komite audit yang independen suatu perusahaan adalah merupakan salah satu dari anggota dewan komisaris independen. Telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya yang menyatakan bahwa banyak perusahaan menempatkan komisaris independen yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang akuntansi maupun keuangan sepertinya menjadi pengaruh hipotesis ketujuh ditolak. Hal ini mengindikasikan kurang efektifnya keberadaan komite audit sebagai salah satu praktik corporate governance di perusahaan yang terdaftar di BEI. Hasil ini diperkuat dengan penelitian Sekar (2003) yang menemukan bahwa keberadaan komite audit berhubungan negatif dengan integritas laporan keuangan, sedangkan Nuryanah (2004) dalam Tumirin (2007) menemukan bahwa komite audit tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Hipotesis kedelapan membuktikan bahwa kepemilikan institusional bukan merupakan variabel pemoderasi. Penyebab tidak signifikannya hubungan ini adalah karena dalam penelitian ini tidak mempertimbangkan batasan ukuran kepemilikan institusi dan juga ukuran institusi sendiri. Institusi yang kecil kurang aktif dalam memberikan tekanan pada aktivitas manajemen dibandingkan dengan institusi yang lebih besar. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian Vinola (2008) yang menemukan kepemilikan intitusional bukan sebagai variabel pemoderasi. Hal ini berarti bahwa variabel kepemilikan institusional tidak mampu menjadi salah satu mekanisme good corporate governance untuk memonitor manajemen dalam meningkatkan nilai perusahaan. Hipotesis kesembilan menemukan bahwa kepemilikan manajerial bukan sebagai variabel pemoderasi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kepemilikan manajerial tidak mampu menjalankan perannya untuk meminimalisir tindakan manajemen dalam memanipulasi laba. Alasan lain karena struktur kepemilikan manajerial di Indonesia masih sangat kecil dan didominasi oleh keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuniasih dan Wirakusuma (2007) yang menemukan bahwa kepemilikan manajerial bukan sebagai variabel pemoderasi terhadap hubungan return on asset dan nilai perusahaan. Hipotesis kesepuluh menemukan bahwa komisaris independen bukan sebagai variabel pemoderasi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kuatnya kendali pendiri perusahaan dan kepemilikan saham mayoritas menjadikan dewan komisaris tidak independen. Fungsi pengawasan yang seharusnya menjadi tanggungjawab anggota dewan menjadi tidak efektif (Asian Develepment Bank dalam Gideon, 2005). Hipotesis kesebelas menemukan bahwa ukuran dewan komisaris bukan sebagai variabel pemoderasi. Penjelasan yang dapat diberikan bahwa penambahan anggota dewan komisaris dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal, sementara pemegang saham mayoritas (pengendali/founders) masih memegang peranan penting sehingga kinerja dewan tidak meningkat (Gideon, 2005). Fungsi pengawasan yang seharusnya menjadi tanggungjawab anggota dewan menjadi tidak efektif maka kinerja perusahaan akan menurun, dengan menurunya kinerja perusahaan maka nilai perusahaan tidak Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 100 dapat tercapai. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian Andri dan Hanung (2007). Hipotesis keduabelas menemukan bahwa kualitas audit bukan sebagai variabel pemoderasi. Alasan mengapa kualitas audit bukan sebagai variabel pemoderasi karena kurangnya independensi auditor. Independensi auditor merupakan suatu hal penting yang sudah sejak lama menjadi pembicaraan baik di kalangan praktisi, pembuat kebijakan ataupun para akademisi (Sekar, 2003). Hal ini dikarenakan pendapat yang diberikan oleh auditor berkaitan dengan kepentingan banyak pihak. Auditor diharapkan dapat membatasi praktek manajemen laba serta membantu menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat umum terhadap laporan keuangan. Namun demikian efektifitas dan kemampuan auditor untuk mendeteksi manajemen laba tergantung kepada kualitas auditor tersebut. Hipotesis ketigabelas menemukan bahwa komite audit bukan sebagai variabel pemoderasi. Alasan mengapa komite audit bukan sebagai variabel pemoderasi antara manajemen laba dan nilai perusahaan karena banyak perusahaan menempatkan komisaris independen yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang akuntansi maupun keuangan sepertinya menjadi pengaruh hipotesis ketigabelas ditolak. Alasan lain yaitu aliran informasi dan komunikasi antara dewan komisaris, dewan direksi, dan komite audit tidak lancar, peran komisaris yang oportunis, pemahaman fungsi komite audit masih rendah, kendala implementasi Good Corporate Governance berkaitan fungsi Rapat Umum Pemegang Saham yang masih kabur. Penelitian ini mendukung penelitian I Putu (2008) yang menyatakan bahwa Good Corporate Governance yang diproksikan dengan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Ukuran perusahaan yang dijadikan variabel kontrol memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan, hal ini menandakan bahwa pasar lebih mengapresiasi perusahaan besar. Ukuran perusahaan yang besar dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan mempunyai komitmen yang tinggi untuk terus memperbaiki kinerjanya, sehingga pasar bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan sahamnya karena percaya akan mendapatkan pengembalian yang menguntungkan dari perusahaan tersebut. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada 2 hipotesis yang diterima yaitu kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan dan kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Sebelas hipotesis hasilnya ditolak yaitu kepemilikan institutional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, komite audit tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dan kepemilikan manajerial, kepemilikan institutional, komisaris independen, ukuran dewan komisaris, kualitas audit, komite audit bukan sebagai variabel pemoderasi antara manajemen laba dan nilai perusahaan. Saran 1. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan indeks corporate governance yang diterbitkan oleh Indonesian Institute of Corporate Governance (IICG) sebagai ukuran praktik corporate governance dalam perusahaan. 2. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan sampel dari jenis industri yang lain dan menambah periode pengamatan untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih baik. Keterbatasan 1. Ada masalah kurang teratasinya multikorelasi pada model regresi ketiga dengan variabel moderating. 2. Penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan industri manufaktur dengan periode pengamatan yang relatif pendek, yaitu hanya 4 tahun. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 101 DAFTAR PUSTAKA Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko, 2007, "Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar, 26-28 Juli 2007. Arif Ujiyantho dan Bambang Pramuka, 2007, "Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan'", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar, 26-28 Juli 2007 Dwi Yana, 2007, "Pengaruh Konservatisme Akuntansi terhadap Penilaian Ekuitas Perusahaan Dimoderasi oleh Good Corporate Governance", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar, 26-28 Juli 2007. Gideon Boediono, 2005, "Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur", Kumpualan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 8 Solo, 15-16 September 2005. Hamonangan Siallagan dan Mas'ud Machfoedz, 2006, "Mekanisme Corporate Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang, 23-26 Agustus 2006. I Putu, 2008, "Auditor Eksternal, Komite Audit, dan Manajemen Laba", Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 11, Januari, hal 97-116. Ietje N., 2005, Praktikum Komputer Statistika, UPFE, Yogyakarta. Imam Ghozali, 2007, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, BPUD. Marihot Nasution dan Doddy Setiawan, 2007, "Pngaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba di Industri Perbankan Indonesia" , Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar, 26-28 Juli 2007. Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 10 Makasar, 26-28 Juli 2007. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan: Sebuah Tinjauan Hubungan Non-Linear, The 2nd National Conference UKWMS, Surabaya, 6 September 2008. Pratana PM. dan Mas'ud Machfoedz, 2003. "Analisa Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi VI Surabaya. Ratna W., 2006, "Mekanisme Corporate Governance dalam Perusahaan yang Mengalami Permasalahan Keuangan (Financially Distressed Firms)", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 23-26 Aøustus 2006. Sekar Mayangsari, 2003, "Analisis Pengaruh Independensi, Kualitas Audit, serta Mekanisme Corporate Governance terhadap Integritas Laporan Keuangan', Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi VI Surabaya. Tumirin, 2007, "Analisa Penerapan Good Corporate Govern ance dan Nilai Perusahaan", Jurnal Beta, Vol 4, September, hal. 17-33. Untung W. dan Hartini P.P, 2006, "Implikasi Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan: Dengan Keputusan Keuangan Sebagai Variabel Intervening", Makalah Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang, 23-26 Agustus 2006. Vinola Herawaty, 2008, "Peran Praktik Corporate Governance Sebagai Moderating Variable Dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan", Kumpulan Makalah Simposium Nasional Akuntansi XI. Yuniasih dan Wirakusuma, 2007, "Perngaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan dengan Pengungkapan Corporate Social Responsibility dan Nizarul Alim, dkk., 2007, "Pengaruh Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 102 Good Corporate Governance sebagai Variabel Pemoderasi", www.ejournal. unud.ac.id Lampiran Tabel 2 Uji Normalitas Persamaan Pertama One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Kolmogorov-Smirnov Z 0,892 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,404 Tabel 3 Uji Normalitas Persamaan Kedua One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Kolmogorov-Smirnov Z 0,954 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,322 Tabel 4 Uji Normalitas Persamaan Ketiga One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Kolmogorov-Smirnov Z 0,854 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,474 Tabel 5 Hasil Uji Multikolinieritas Persamaan Pertama Variabel Tolerance Nilai VIF Kesimpulan DA 0,999 1,001 Tidak Terjadi Multikolinieritas UP 0,999 1,001 Tidak Terjadi Multikolinieritas Sumber: Olah Data Tabel 6 Hasil Uji Multikolinieritas Persamaan Kedua Variabel Tolerance Nilai VIF Kesimpulan Kep.Ins 0,974 1,027 Tidak Terjadi Multikolinieritas Kep.Man 0,942 1,061 Tidak Terjadi Multikolinieritas KI 0,888 1,126 Tidak Terjadi Multikolinieritas UDK 0,533 1,877 Tidak Terjadi Multikolinieritas KA 0,775 1,324 Tidak Terjadi Multikolinieritas KOMA 0,769 1,301 Tidak Terjadi Multikolinieritas UP 0,530 1,888 Tidak Terjadi Multikolinieritas Tabel 7 Hasil Uji Multikolinieritas Persamaan Ketiga Variabel Tolerance Nilai VIF Kesimpulan DA 0,022 45,763 Terjadi Multikolinieritas Kep.Ins 0,958 1,044 Tidak Terjadi Multikolinieritas Kep.Man 0,929 1,076 Tidak Terjadi Multikolinieritas KI 0,830 1,204 Tidak Terjadi Multikolinieritas UDK 0,509 1,966 Tidak Terjadi Multikolinieritas KA 0,721 1,387 Tidak Terjadi Multikolinieritas KOMA 0,695 1,439 Tidak Terjadi Multikolinieritas DA *Kep.Ins 0,409 2,442 Tidak Terjadi Multikolinieritas DA *Kep.Man 0,803 1,245 Tidak Terjadi Multikolinieritas DA *KI 0,030 33,553 Terjadi Multikolinieritas DA *UDK 0,079 12,726 Terjadi Multikolinieritas DA *KA 0,208 4,804 Tidak Terjadi Multikolinieritas DA *KOMA 0,117 8,528 Tidak Terjadi Multikolinieritas UP 0,493 2,029 Tidak Terjadi Multikolinieritas Sumber: Olah Data Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 103 Tabel 8 Hasil Uji Autokolerasi Persamaan Pertama Nilai Durbin-Watson Keterangan 1,961 Tidak ada Autokolerasi Sumber: Olah Data Tabel 9 Hasil Uji Autokolerasi Persamaan Kedua Nilai Durbin-Watson Keterangan 1,974 Tidak ada Autokolerasi Sumber: Olah Data Tabel 10 Hasil Uji Autokolerasi Persamaan Kedua Nilai Durbin-Watson Keterangan 1,976 Tidak ada Autokolerasi Sumber: Olah Data Tabel 11 Hasil Uji Heteroskedatisitas Persamaan Pertama Variabel t Sig Keterangan DA -0,493 0,623 Non Heteroskedatisitas UP -1,788 0,076 Non Heteroskedatisitas Sumber: Olah Data Tabel 12 Hasil Uji Heteroskedatisitas Persamaan Kedua Variabel t Sig Keterangan Kep.Inst 0,344 0,731 Non Heteroskedatisitas Kep.Man 0,051 0,959 Non Heteroskedatisitas KI -0,091 0,928 Non Heteroskedatisitas UDK 0,205 0,838 Non Heteroskedatisitas KA -1,485 0,140 Non Heteroskedatisitas KOMA 1,039 0,301 Non Heteroskedatisitas Up -0,951 0,344 Non Heteroskedatisitas Sumber: Olah Data Tabel 13 Hasil Uji Heteroskedatisitas Persamaan Kedua Variabel t Sig Keterangan DA 0,042 0,966 Non Heteroskedatisitas Kep.Ins 0,608 0,544 Non Heteroskedatisitas Kep.Man 0,095 0,925 Non Heteroskedatisitas KI -0,198 0,843 Non Heteroskedatisitas UDK 0,445 0,657 Non Heteroskedatisitas KA -1,431 0,155 Non Heteroskedatisitas KOMA 0,398 0,691 Non Heteroskedatisitas DAxKep.Inst 0,196 0,845 Non Heteroskedatisitas DAxKep.Man 1,099 0,274 Non Heteroskedatisitas DAxKI -0,668 0,506 Non Heteroskedatisitas DAxUDK 1,306 0,194 Non Heteroskedatisitas DAxKA 0,120 0,904 Non Heteroskedatisitas DAxKOMA -0,472 0,637 Non Heteroskedatisitas UP -0,958 0,340 Non Heteroskedatisitas Sumber: Olah Data Tabel 14 Hasil Goodness of Fit Test Model Regresi 1 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,359(a) ,129 ,116 1,1230463 Sumber: Olah Data Duwi Nur Romadhon, Barbara Gunawan, & Rudy Suryanto - Pengaruh Earnings Management … 104 Tabel 15 Hasil Pengujian Signifikan Nilai t Model Regresi 1 Model R Square Adjusted R Square Standardized Coefficients t Sig B Std. Error Beta 1 (Constant) DA UP 7,427 ,395 ,206 1,210 1,009 ,046 ,031 ,357 6,139 ,391 4,501 ,000 ,696 ,000 Sumber: Olah Data Tabel 16 Hasil Goodness of Fit Test Model Regresi 1 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,482(a) ,232 ,192 1,0738127 Sumber: Olah Data Tabel 17 Hasil Pengujian Signifikan Nilai F Model Regresi 2 Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression Residual Total 46,734 154,512 201,246 7 134 141 6,676 1,153 5,790 0,000(a) Sumber: Olah Data Tabel 18 Hasil Pengujian Signifikan Nilai t Model Regresi 2 Model R Square Adjusted R Square Standardized Coefficients t Sig B Std. Error Beta 1 (Constant) Kep.Ins Kep.Man KI UDK KA KOMA UP 8,401 ,343 -6,673 1,069 -,002 ,533 -,625 ,150 1,247 ,292 2,118 1,001 ,076 ,224 ,448 ,060 ,090 -,246 ,086 -,003 ,207 -,120 ,261 5,888 1,171 -3,151 1,068 -,031 2,379 -1,394 2,508 ,000 ,243 ,002 ,287 ,976 ,019 ,166 ,013 Sumber: Olah Data Tabel 19 Hasil Goodness of Fit Test Model Regresi 3 Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,510(a) ,260 ,178 1,0830557 Sumber: Olah Data Tabel 20 Hasil Pengujian Signifikan Nilai F Model Regresi 3 Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression Residual Total 52,274 148,972 201,246 14 127 141 3,734 1,173 3,183 ,000(a) Sumber: Olah Data Jurnal Akuntansi dan Investasi, 10 (2), 87-105 105 Tabel 21 Hasil Pengujian Signifikan Nilai t Model Regresi 3 Model R Square Adjusted R Square Standardized Coefficients t Sig B Std. Error Beta 1 (Constant) DA Kep.Ins Kep.Man KI UDK KA KOMA DAxKep.Inst DAxKep.Man DAxKI DAxUDK DAxKA DAxKOMA UP 8,334 1,743 ,368 -6,719 1,292 -,022 ,535 -,412 -2,374 ,425 9,956 -,826 -2,846 2,651 ,149 1,486 6,580 297 2,151 1,044 ,079 ,231 ,476 3,305 17,446 15,501 ,865 2,465 5,823 ,063 ,137 096 -,247 ,104 -,031 ,208 -,079 -,086 ,002 ,284 -,260 -,193 ,101 ,258 5,608 ,265 1,236 -3,123 1,238 -,286 2,310 -,867 -,718 ,024 ,642 -,955 -1,155 ,455 2,372 ,000 ,792 ,219 ,002 ,218 ,776 ,023 ,387 ,474 ,981 ,522 ,341 ,250 ,650 ,019 Sumber: Olah Data