Layout Juli 2014 PENDAHULUAN Perusahaan didirikan tidak hanya untuk memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara yang menguntungkan, tetapi perusahaan juga membutuhkan modal yang cukup besar untuk melakukan ekspansi usaha. Dalam membangun ekspansi usaha perusahaan memerlukan biaya modal yang cukup besar dan biaya modal yang cukup ekonomis hanya bisa didapatkan dengan cara menjual sebagian saham perusahaan kepada masyarakat atau go public. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba di Perbankan AL ADIYAT MAULANA* Prodi Akuntansi STIE Ahmad Dahlan Jakarta, Jl. Kramat Raya No.49, Senen, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10450, Indonesia *Corresponding Author, E_mail address: Aladiyatmaulana@gmail.com ABSTRACT The research was conducted to determine firm size , auditor reputation, institusional ownership, and financial leverage on the practice of income smoothing in financial companies banking industries listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). The sample in this study were financial companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the years 2009-2013. Data were collected through purposive sampling. The analysis is carried out multiple linear regression and t tests with the first test of classical assumptions. Through multiple linear regression analysis is known that the variable profitabilitas has a significant influence on the practice of income smoothing. This is indicated by regresional relationship between the dependent variable with several independent variables and a significance value smaller than 0.05. While the firm size variable, auditor reputation, institusional ownership, and financial leverage do not have effect on the practice of income smoothing because it has a significance value greater than 0.05. Key Words: Firm Size; Financial Leverage; Net Profit Margin (NPM); Income Smoothing. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menentukan ukuran perusahaan, reputasi auditor, kepemilikan institusional, dan leverage keuangan terhadap praktik perataan laba pada perusahaan keuangan industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) perbankan. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2009-2013. Data dikumpulkan melalui purposive sampling. Analisis dilakukan regresi dan t tes linear dengan tes pertama asumsi klasik. Melalui analisis regresi linier berganda diketahui bahwa variabel Profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktik perataan laba. Hal ini ditunjukkan dengan hubungan regresional antara variabel dependen dengan beberapa variabel independen dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel ukuran perusahaan, reputasi auditor, kepemilikan institusional, dan leverage keuangan tidak berpengaruh pada praktik perataan laba karena memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Kata Kunci: Ukuran perusahaan; Pengaruh keuangan; Laba Bersih Margin (NPM); Perataan laba. Widaryanti (2009) mengemukakan laporan keuangan merupakan suatu pencer-minan dari suatu kondisi perusahaan karena di dalam laporan keuangan terdapat informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pihak pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Sebagaimana dalam SFAC No.1 bahwa informasi laba pada umumnya merupakan perhatian utama dalam menaksir kinerja atau pertanggung jawaban mana-jemen dan informasi laba mebantu pemilik atau pihak ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI138 lain melakukan penaksiran atas earning power perusahaan dimasa yang akan dating. Kondisi yang dipaparkan tersebut memunculkan adanya niatan untuk memberikan gambaran laba yang “baik” meskipun tidak dalam arti yang sebenarnya. Perhatian yang besar dari investor terhadap tingkat laba yang dihasilkan perusahaan menjadi salah satu alasan yang mendorong manajemen untuk melakukan beberapa tindakan disfunctional behavior (perilaku tidak semestinya), yaitu dengan melakukan manipulasi laba atau manajemen laba. Perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu pola dari manajemen laba (Cahan, 2008). Tindakan manajemen untuk melakukan perataan laba umumnya didasarkan atas berbagai alasan di antaranya untuk memuaskan kepentingan pemilik perusahaan seperti menaikkan nilai perusa-haan sehingga muncul anggapan bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki risiko ketidakpastian yang rendah (Juniarti dan Corolina, 2005), menaikkan harga saham perusahaan (Kirschenheiter dan Melumad, 2002), dan untuk memuaskan kepenti-ngannya sendiri, seperti mendapatkan kompensasi danmempertahankan posisi jabatan (Juniarti dan Corolina, 2005). Anggraini (2005) menyebutkan beberapa alasan manajemen melakukan parataan laba yaitu: (1) Rekayasa untuk mengurangi laba dan menaikan laba pada periode berjalan dapat mengurangi hutang pajak; (2) Tindakan perataan laba dapat meningkatkan keperca-yaan investor karena mendukung kestabilan penghasilan dan kebijakan deviden sesuai keinginan; (3) Tindakan perataan laba dapat mempererat hubungan antara manajer dan karyawan; (4) Tindakan perarataan laba memiliki dampak psikologis pada pereko-nomian, sebab akan menurunkan harapan terlalu optimistik dan menaikan harapan terlalu pesimistik. Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba pada perusahaan publik yang listing pada Bursa Efek Indonesia juga telah banyak dilakukan Salno dan Baridwan, 2000; Narsa, 2003; Miqdad dan Fauziah, 2007; Wahyuningsih, 2009; Dwi, 2011; Prabayanti, 2011). Namun, hasil penelitian- penelitian tersebut tidak konsisten. Oleh karena itu, peneliti teratarik menguji kembali pengaruh variabel ukuran perusahaan, profitabilitas, dan financial leverageterhadap praktik perataan laba. Selain itu, peneliti juga melibatkan meka-nisme corporate governance yang diprok-sikan dengan kepemilikan saham institu-sional dan reputasi auditor eksternal untuk menguji pengaruhnya terhadap praktik perataan laba. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan temuan baru mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap praktik manajemen laba, khususnya di industry perbankan di Indone- sia. Dari hasil penelitian ini pula, diharapkan akan memberikan tambahan referensi dalam studi keakun-tansian khususnya akuntansi keuangan dalam kaitannya dengan teori keagenan. TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS MANAJEMEN LABA DAN TEORI KEAGENAN Menurut Wahyuningsih (2009) perataan laba terkait erat dengan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa manajemen memiliki informasi yang lebih banyak mengenai perusahaan dibanding dengan pemilik perusahaan. Sedangkan menurut Wahyuningsih (2009) adanya manipulasi laporan keuangan oleh pihak korporat menunjukan lemahnya praktik corporate governance, corporate governance meru-pakan konsep yang diajukan demi pening-katan kinerja perusahaan melalui supervise atau monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajamen terhadap stakeholder dengan VOL. 15 NO.2 JULI 2014 139 mendasarkan pada kerangka peraturan. Praktik perataan laba yang dilakukan manajemen juga didasari karenaadanya asimetri informasi dan konflik keagenan.Untuk meminimalisasi konflik keagenan dalam perusahaan dibutuhkan mekanisme good corporate governance dalam pengelolaan perusahaan. Adanya mekanisme corporate governance di peru-sahaan diyakini akanmembatasi pengelolaan laba yang opportunistic oleh manajemen (Siregar dan Utama, 2005). Menurut Ujiyantho (2007) mekanisme corporate governance memberikan perlin-dungan efektif bagi pemegang sahamdan kreditor sehingga mereka yakin akan memperoleh return atas investasinyadengan benar. Dalam penelitian ini corporate governance diproksikan dengan kepemilikan saham institusional dan reputasi auditor independen. Kehadiran kepemilikan institu- sional yang tinggi membatasi manajer untuk melakukan pengelolaan laba.Semakin besar kepemilikan institusional maka semakin kuatkendali dan pengawasan yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap 4 perusahaan. Jenis Perataan Laba Menurut Dewi (2011) terdapat dua jenis perataam laba yaitu naturally smooth dan intention- ally smooth. Intentionally smooth terbagi atas artificial smoothing dan real smoothing.perataan laba digolongkan ke dalam dua tipe, yaitu naturally smooth dan Intentionally Being Smoothed by Manage- ment. Naturally smooth (Perataan secara alami), perataan ini mempunyai implikasi bahwa sifat proses perataan laba itu sendiri menghasilkan suatu aliran laba yang rata. Hal ini dapat kita dapati pada perolehan penghasilan dari keperluan/pelayanan umum, dimana aliran laba yang ada akan rata dengansendirinya tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Intentionally Being Smoothed by Management (Perataan yang disengaja) dikenal juga dengan designed smoothing, perataan ini berbeda dengan naturally smoothing yang terjadi secara alami. Pada designed smoothing, perataan yang terjadi diakibatkan adanya intervensi atau campur tangan dari pihak lain dalam hal ini adalah manajemen. Designed smoothing dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: (1) Artificial smoothing (accounting smoothing), merupakan mani-pulasi akuntansi yang dilakukan manajemen untuk meratakan laba. Accounting smoothing bukan merupakan hasil dari perubahan keputusan operasimaupun masalah waktu, tetapi perataan ini mempengaruhi income melaluidimensi akuntansi, pengakuan suatu kejadian serta alokasi dan/atauklasifikasi dari dampak atas kejadian yang telah diakui (Stolowy dan Breton, 2000). Perataan laba yang dilakukan melalui prosedurakuntansi yang diharapkan untuk memindahkan biaya atau pendapatandari satu periode ke periode lain yaitu, dengan mengubah kebijakan akuntansi (Nasser dan Herlina, 2003). (2) Real smoothing (transactional atau economic smoothing), merupakan tindakan manajemen untuk mengendalikan peristiwa ekonomi (Eckel, 1981). Menurut Stolowy dan Breton (2000) variabel dari real smoothing terkait dengan keputusan bisnis. Sedangkan Stolowy dan Breton (2000) mengemukakan manajemen dapat meratakan penghasilan dengan mengubah keputusan produksi perusahaan dan/atau keputusan investasi perusahaan pada akhir tahun didasarkan pada bagaimana perusahaan meningkatkan performanya pada saat itu. Nasser dan Herlina (2003) menyatakan bahwa real smoothing adalah perataan laba real melalui transaksi nyata yaitu, dengan mengatur (menunda atau mempercepat) transaksi. TEKNIK PERATAAN LABA Cara-cara yang dapat digunakan untuk melakukan perataan menurut Ronen dan Simeha JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI140 (1981) adalah; (1) melalui kejadian dan pengakuan peristiwa. Maksudnya, untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan, manajemen dapat menentukan waktu terjadinya transaksi actual sehingga pengaruh transaksi tersebut terhadap laba yang dilaporkan cenderung rata sepanjang tahun; (2) melakukan alokasi. Manajemen melaku-kan perataan dan mengalokasikan pendapatan dan biaya selama beberapa periode pelaporan; dan (3) melalui klafikasi. Manajemen melakukan perataan dengan mengklafikasi laba sebagai ordinary dan extraordinary item. FAKTOR MEMPENGARUHI PERATAAN LABA Ukuran Perusahaan dan Perataan Laba Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara antara lain dengan total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain lain (Kusumawati, 2009). Ukuran perusahaan dibagi tiga, yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium firm), perusahaan kecil (small firm). Perusahaan besar memiliki daya pendapatan laba yang cukup besar, kemungkinan fluktuatif pada laba yang dihasilkan sangat di hindari oleh manajemen untuk menghindari sentimen pasar saat laba keuangan sedang turun dari pendapatan tinggi sebelumnya yang menyebabkan nilai saham turun dan akibat buruk daru pelanggaran kontrak, umumnya investor atau kreditur menginginkan keadaan laba yang selalu naik atau berkembang, manajemen menanggapi resiko atas sentiment pasar yang negative tersebut akan melakukan apa saja yang memungkinkan agar laba terlihat menaik. Menurut Naseer dan Herlina (2003) perusahaan dengan size yang besar mempunyai insentif yang besar untuk melakukan perataan laba dibandingkan perusahaan kecil. Menurut Utomo dan Siregar (2008) perusahaan yang memiliki aktiva dalam jumlah yang besar akan lebih diperhatikan oleh publik dan pemerintah. Sehingga, ukuran menjadi sesuatu yang dianggap memiliki pengaruh dalam perilaku suatu entitas. PROFITABILTAS DAN PERATAAN LABA Profitabilitas didefinisikan sebagai rasio pengukuran efektivitas manajemen berda-sarkan laba yang dilaporkan. Utomo dan Siregar (2008) menjelaskan bahwa profitabilitas merupakan komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan untuk menilai kinerja manjemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang dan menaksir resiko dalam investasi atau memin-jamkan dana (Dwiatmini dan Nurkholis, 2001). Dengan kata lain, profitabilitas menjadi tolak ukur kinerja bagi pihak eksternal (Assih dan Gudono, 2000) Perusahaan yang memiliki ROA yang lebih tinggi cenderung melakukan perataaan laba dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba pada masa mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba. Herawati (2013) menerangkan bahwa profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Ukuran ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajeman suatu perusahaan. Perusahaan cenderung melaku-kan perataan laba saat mencapai tingkat profitabilitas yang tinggi, untuk menghindari tidak tercapainya besar laba yang sama di tahun berikutnya sehingga akan membuat penurunan nilai saham, tingkat profitabilitas yang stabil akan memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik dalam meng- hasilkan laba. VOL. 15 NO.2 JULI 2014 141 Financial Laverage dan Perataan Laba Financial laverage merupakan hal penting dalam menentukan struktur modal perusahaan. Lang et al. (1996) menyatakan bahwa financial laverage merupakan penggunanaan dana yang disertai biaya tetap, perusahaan yang menggunakan dana dengan beban tetap dikatakan menghasilkan laverage yang menguntungkan (favorable financial laverage) atau efek positif jika pendapatan yang diterima dari penggunaan dana tersebut lebih besar dari pada beban tetap dari penggunaan dana itu. Riyanto (1995) menjelaskan financial laverage merugikan (unfavorable laverage) jika perusahaan tidak dapat memperoleh pendapatan dari peng- gunaan dana tersebut sebanyak beban tetap yang harus dibayar. Herawati (2013) menjelaskan financial laverage atau disebut juga Debt to Asset Ratio (debt ratio)merupakan rasio hutang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. .Dari hasil hasil pengukuran, apabila nilai yang dihasilkan tinggi, maka dapat disimpulkan pendanaan aktiva dengan hutang semakin banyak. Sehingg, semakin sulit perusahaan dalam memperoleh tambahan pinjaman, karna dikhawatirkan perusahaan tidak mampu melunasi seluruh hutangnya. Adanya indikasi perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang dapat dilihat melalui kemampuan perusahaan tersebut untuk melunasi hutangnya dengan menggunakan aktiva yang dimiliki, perusa-haan yang mempunyai tingkat laverage yang tinggi diduga melakukan praktik perataan laba, sehingga menajemen melakukan kebi-jakan yang dapat meningkatkan pendapatan. KEPEMILIKAN INTUTISIONAL DAN PERATAAN LABA Wahyudi dan Prawesti (2006) mengemukakan pemegang saham dalam suatu perusahaan terdiri dari berbagai kelangan, yang membentuk struktur kepemi-likan diperusahan tersebut. Struktur kepemi-likan dapat memperngaruhi kinerja perusa- haan dalam mencapai tujuan perusahaan karena mereka memiliki control terhadap perusahaan Struktur kepemilikan perusahaan public dan masalah keagenan merupakan isu sentral dalam literatur keuangan semakin besar dan luas usaha suatu perusahaan, pemilik tidak bisa mengelola sendiri perusahaannya secara langsung sehingga memicu timbulnya masalah keagenan. Herawati (2013) manajemen laba bisa timbul karena adanya agency problem, yaitu karena adanya pertentangan antara agen (manajer) dengan pemegang saham. Kepemilikan instusional berupa saham yang ditanamkan oleh investor mengharuskan manajemen untuk membuat pertanggungj-awaban atas dana yang disetor oleh investor melalui RUPS, kepemilikan institusional merupakan salah satu mekanisme yang dapat diterapkan dalam membatasi perilaku opportunistik manajer dalam melakukan teknik perataan laba sehingga asimetri informasi yang terjadi antara manajemen dan pemilik rendah. Hal tersebut meyebabkan manajemen tidak leluasa untuk melakukan pengelolaan atas labanya. REPUTASI AUDITOR DAN PERATAAN LABA Siregar dan utama (2005) mengemukakan adanya sistem pengelolaan perusahaan yan diyakini akan membatasi pengelolaan laba yang oportunis. Oleh karena itu peneliti menduga bahwa semakin tinggi kualitas audit, proporsi dewan komisaris independen dan komite audit maka semakin kecil pengelolaan laba yang oportunis. Jika pengelolaan laba tersebut efisien maka yang terjadi sebaliknya. Reputasi auditor.Kualitas auditor eksternal menjadi salah satu pengendali manajemen untuk melakukan perataan laba. Kualitas audit yang lebih JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI142 tinggi dari KAP yang besar menjadi salah satu pertimbangan manajemen untuk melakukan pengelolaan atas laba. Nama besar auditor akanmenghambat manajemen melakukan perataan laba dan menambah kredibiltas pelaporan laba. Jadi, perusahaan yang melakukan perataan laba akan menghindari penggunaan jasa auditor besar. Komite audit bertanggungjawab untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit eksternal dan mengawasi system pengendalian internal yang dapat mengurangi sifat opurtunis manajemen laba (Pradipta, 2011). METODE PENELITIAN OBYEK PENELITIAN Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder perusahaan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu laporan keuangan perusahaan.Data tersebut diperoleh dari ICMD dan www.idx.co,id periodisasi pelaporan mencakup tahun 2008-2013. Populasi sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di BEI, TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL Menurut Sanusi (2011) teknik pengam-bilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Kriteria kriteria sebagai berikut; (1) Perusahaan keuangan yang terdaftar di BEI dari tahun 2009-2013; (2) Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan secara lengkap berturut turut tahun 2009-2013 di BEI; (3) Perusahaan yang dalam laporan keuangannya tidak tidak melaporkan kerugian di tahun 2009-2013; (4) Perusahaan yang menyajikan laporan keuangannya dalam mata uang rupiah; dan (5) Perusahaan yang memiliki data kepemilikan saham institusional. Berikut adalah sampel penelitian yang dapat digunakan pada tahap analisis data. TABEL 1. HASIL SAMPLE PERUSAHAAN VARIABEL PENELITIAN Berdasarkan uraian yang telah dibahas dimuka, penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perataan laba yang diukur menggunakan indeks eckel sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini meliputi, ukuran perusahaan, profitabilitas, reputasi auditor, financial laverage, kepemulikan institusional. DEFINISI OPERASIONAL DAN ALAT UKUR VARIABEL Perataan laba (variabel dependent) Tindakan perataan laba diuji dengan indeks Eckel (1981: 70).Eckel menggunakan coefficient variation (CV) variabel pengha-silan dan variabel penghasilan bersih. Indeks perataan laba dihitung sebagai berikut (Eckel 1981): Indeks Pertaan Laba Di mana: CV“S: Perubahan perubahan pendapatan dalam satu periode CV“I: Perubahan laba bersih dalam suatu periode CV: Koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan rata-rata perubahan laba(I) atau penjualan/ pendapatan(s). VOL. 15 NO.2 JULI 2014 143 Apabila CV “S >CV “I, maka perusahaan tidak digolongkan sebagai perusahaan yang melakukan tindaka perataan laba CV”I: Koefisien variasi untuk perubahan laba. CV”S: Koefisien variasi untuk perubahan penjualan (manufaktur) atau perubahan pendapatan (perusahaan keuangan) CV”S dan CV”I dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: CV”S dan CV”I = atau CV”S dan CV”I ” x Dimana: “X: perubahan laba (I) Atau penjualan (s) ‘x: rata-rata perubahan laba (I) atau penjualan / pendapatan (S) n: banyaknya tahun yang diamati Adanya praktik perataan laba ditunjukan dengan nilai yang dihasilkan kurang dari satu. Menurut Ashari et al. ( 1994) , indeks eckel dikembangkan secara spesifik sebagai pengukuran dikotomus dari perataan laba. Oleh karena itu untuk tujuan penelitian laba atau tidak tergantung pada apakah indeks perataan laba kurang dari satu. Menurut Jin dan machfoedz (1998) indeks eckel dikembangkan secara spesifik sebagai pengukuran dikotomus dari perataan laba. Oleh karena itu dalam penelitian ini, perusahaan akan digolongkan apakah melakukan perataan laba atau tidak, tergantung apakah indeks yang dihasilkan kurang dari satu atau lebih dari satu. Menurut Jin dan Machfoedz (1998) menyebutkan ada tiga kemungkinan yang menjadi tujuan perataan laba yang dapat diteliti. Ketiga kemungkinan tersebut adalah laba operasi, laba sebelum pos luar biasa dan laba bersih setelah pajak, dalam penelitian ini peneliti hanya menguji laba operasi, dengan alasan perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari pajak. VARIABEL INDEPENDENT Variabel bebas dalam penelitian ini sebagai berikut: Ukuran perusahaan (x• ) Ukuran perusahaan adalah skala untuk menentukan besar kecilnya perusahaan. Ukuran perusahaan dihitung dengan menggunakan logaritma natural dari total aktiva, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut (Budiasih, 2009) ukuran perusahaan = Ln Total Aktiva. Financial laverage (x‚ ) Financial laverage adalah variabel yang terkait dengan kebijaksanaan perusahaan dalam menggunakan hutang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yang dihitung dengan rumus sebagaimana dipaparkan Miqdad dan Fauziah (2007).: Financial laverage Kepemilikan Institusional (xƒ ) Panca Wahyuningsih (2009) mengemu-kakan bahwa kepemilikan institusional diukur dengan menggunakan nilai persentase dari kepemilikan saham institusional. Reputasi Auditor (x„ ) Wahyuni et al. (2013) Merupakan viabel dummy. Bila perusahaan sampel diaudit laporan keuangan oleh kantor akuntan public yang tergabung dalam The Big Four, maka diberi nilai 1, sedangkan perushaan yang tidak diaudit laporan keuangannya oleh Kantor Akuntan Publik yang tergabung dalam The Big Four diberi nilai 0. Profitabilitas (x… ) Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan.Rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis rasio yang menunjukkan laba dalam hubungannya dengan JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI144 TABEL 2. HASIL UJI MULTIKOLINEARITAS TABEL 3. HASIL UJI GEJALA AUTOKORELASI GAMBAR 1. GRAFIK HETEROKEDASTISITAS TABEL 4. HASIL UJI HIPOTESIS penjualan dan rasio yang menun-jukkan efektifitas dengan investasinya. Kedua rasio ini secara bersama-sama menunjukkan efektivitas rasio profitabilitas dalam hubu-ngannya antara penjualan dengan laba. Pada penelitian ini rasio yang digunakan adalah Return on Asset (ROA). Rasio ini menunjukkan tingkat pengembalian yang dapat diperoleh atas penggunaan seluruh aktiva VOL. 15 NO.2 JULI 2014 145 perusahaan (Nurhikmah, 2012). Return On Asset METODE ANALISIS DATA Pembahasan hasil penelitian ini terdari dari pengujian asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, autokorelasi dan heteros- kesdatisitas), uji regresi linier berganda dan uji hipotesis. Uji regresi linier berganda dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang nantinya akan dapat menyimpulkan apakah hipotesis diterima atau ditolak (Prawesti dan Indrasari, 2014) . HASIL DAN PEMBAHASAN UJI ASUMSI KLASIK Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu diuji kualitas data untuk meyakinkan apakah data dapat digunakan sebagai bahan pengujian hipotesis atau tidak. Berdasarkan hasil uji normalitas dengan one-sample Kolmogorov-Smirnov test, bertujuan untuk mengetahui apakah data terdistribusi nor- mal atau tidak. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka variabel terdistribusi normal, sedangkan jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 maka variabel tidak terdistribusi normal. Berda-sarkan hasil pengujian normalitas pada Tabel 2 di atas, diperoleh nilai Asymptotic Significance lebih dari 0,05 pada variabel institusional, laverage, ROA, aktiva yang diuji, namun satu sampel yaitu Reputasi auditor tidak berdistribusi normal, Hal ini mengindikasikan bahwa data variabel variabel institusional, laverage, ROA, aktiva, tersebut berdistribusi normal. Berdasarkan hasil pengujian (lihat Tabel 2) dapat diamati bahwa semua variabel pene-litian menghasilkan nilai tolerance lebih dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel indepen. Hasil perhitungan nilai VIF juga menunjukkan hal yang sama. Tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi. Dari Tabel 3 dapat terlihat bahwa nilai Durbin- Watson Test untuk semua variabel menunjukkan nilai sebesar 1,584.Nilai DW terletak antara dU < DW < 4-dU, maka dapat disimpulkan tidak terjadi autokorelasi positif maupun negative pada model regresi yang digunakan.Dik nilai du=2.220Dl=0,562 Maka nilai autokorelasi diantara 2.220>1,584< 1,784. Dari Gambar di atas, terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tidak membentuk pola tertentu atau tidak teratur, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini mengindikasikan tidak terjadi situasi heterskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pada penelitian ini, analisis linier berganda digunakan untuk mengujipengaruh besaran perusahaan, financial leverage,reputasi auditor, profitabiitas terhadap perataan laba. Hasil dari analisis regresi linier berganda pada penelitian ini dengan menggunakan nilai sig secara parsial dengan tingkat signifikansi alpha 5% Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui sebuah persamaan regresi sebagai berikut : Y = 7,039 + 2,551 X1 + -12,326 X2 + -4,917 X3 +- 1,009 X4 +0,492 X5 + e Keterangan: Y = Indeks Perataan Laba (Income Smoothing) X1 = Kepemilikan Institusional X2 = Financial Leverage X3 = Return On Asset (ROA) X3 = Besar perusahaan X3 = Reputasi Auditor e = standard error (penyimpangan yang mungkin terjadi, yaitu sebesar 0,05 JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI146 UJI HIPOTESIS Uji t untuk mengetahui pengaruh secara parsial atau sendiri sendiri antara variabel independen dengan variabel dependen dengan mengasumsikan bahwa variabel independen lainya adalah konstan.Dasar dinilainya penerimaaan hipotesis berdasarkan besarnya nilau signifikansinya (sig). Jika nilai sig di bawah 0,05 makan H 0 ditolak dan hipotesis alternative diterima. Kepemilikan institusional memiliki nilai signifikansi sebesar 0,092 (> 0,05) yang memiliki arti bahwa H 0 diterima dan H 2 ditolak. Dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,092 tersebut, membuktikan bahwa kepemilikan instusional tidak mendorong terjadinya praktik perataan laba.Hasil ini konsisten dengan penelitian jiyanto dan bambang (2007) dan panca wahyuningsh (2009) dan Prabayanti (2011) yang telah membuktikan bahwa kepemilikan instusional tidak mempengaruhi praktik perataan laba. Financial leverage memiliki nilai signifikansi sebesar 0,160 (> 0,05) yang memiliki arti bahwa H 0 diterima dan H 2 ditolak. Dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,160 tersebut, membuktikan bahwa financial leverage tidak mendorong terjadinya praktik perataan laba. Hasil ini konsisten dengan penelitian Narsa (2003) dan Miqdad dan Fauziah (2007) dan Andreas Dwi (2011) yang telah membuktikan bahwa financial laverage tidak mempengaruhi praktik pera-taan laba. Return on asset (ROA) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,09 (> 0,05) yang memiliki arti bahwa H 0 ditolak dan Ha diterima. Dengan adanya nilai signifikansi sebesar 0,09 tersebut, membuktikan bahwa return on asset mendorong terjadinya praktik perataan laba. Hasil ini konsisten dengan penelitian dan suratna dan mediastuti (2004) dewi (2007) dan karina (2007) dan syafiont(2008), yang telah membuktikan bahwa return on asset mempengaruhi praktik perataan laba. Ukuran perusahaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,092 (> 0,05) yang berarti bahwa H 0 diterima dan H 1 ditolak. Hal ini membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh variabel besaran perusahaan terhadap praktik perataan laba. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ashari et al. (1994), Zuhroh (1996), Jatiningrum (2000), Jin dan Machfoedz (1998) dan Miqdad dan Fauziah (2007) dan Andreas Dwi (2011) yang telah membuktikan bahwa besaran perusahaan tidak mempe-ngaruhi praktik perataan laba. Reputasi auditor memiliki nilai signifikansi sebesar 0,212 (>0,05) yang berarti hipotesis ditolak. Hal ini membuktikan bahwa tidak adanya pengaruh variabel reputasi auditor terhadap praktik perataan laba. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh prabanyanti (2011) dan Yudhanta (2013) yang telah membuktikan bahwa reputasi auditor tidak mempengaruhi praktik perataan laba. Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa TABEL 5. HASIL UJI F VOL. 15 NO.2 JULI 2014 147 hasil uji kelayakan model berdasarkan tabel Chi- Square Test. Dimana pada tabel hasil uji F menunjukkan bahwa nilai Chi-Square adalah sebesar 3.030 dengan nilai sig > 0,05, yaitu diketahui bahwa pada tabel hasil uji F dengan nilai sig sebesar 0.071. Sehingga pada uji F tersebut membuat kesimpulan bahwa tidak ada pengaruh secara simultan / bersama sama terhadap variabel dependent (perataan laba). Penelitian ini berhasil membuktikan adanya praktik perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan yang terdaftar di BEI. Hal ini dibuktikan dengan adanya perhitungan indeks perataan laba dengan menggunakan indeks eckel. Dari 29 perusahaan yang diamati, ditemukan setidaknya 16 oerusahaan yang melakukan perataan laba. Dengan demikian, hasil tersebut mengindentifi-kasikan masih adanya praktk perataan laba di antara perusahaan keuangan jasa perbankan yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Berdasarkan perhitungan uji t, ditemukan hanya variabel return on asset (ROA) saja yang berpengaruh terhadap praktik perataan laba, sedangkan variabel besar perusahaan, finan- cial laverage, profitabilitas, reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba pada perusahaan keuangan jasa perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2009 – 2013 KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL Berdasarkan hasil uji t menunjukan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu 0,092. Hasil temuan ini terpaksa menolak hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kepemlikan institusional berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian penelitian jiyanto dan bambang (2007) dan panca wahyuningsh (2009) dan Prabayanti (2011) yang telah membuktikan bahwa kepemilikan instusional tidak mempenga- ruhi praktik perataan laba. Penjelasan yang dapat diberikan mengenai tidak berpengaruhnya variabel kepemilikan intitusional terhadap praktik perataan laba Hasil penelitian ini sejalan dengan pandangan atau konsep yang mengatakan bahwa institusional adalah pemilik yang lebih memfokuskan pada current earnings (Guna dan Herawaty, 2010). Akibatnya menejer terpaksa melakukan tindakan yang dapat mening-katkan laba jangka pendek, misalnya dengan manipulasi laba. FINANCIAL LAVERAGE Berdasarkan hasil uji t, menunjukan bahwa laverage tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu 0,160.Hasil temuan ini terpaksa menolak hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kepemlikan institusional berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Narsa (2003) dan Miqdad dan Fauziah (2007) penelitian Narsa (2003) dan Andreas Dwi (2011) yang telah membuktikan bahwa financial laverage tidak mempengaruhi praktik perataan laba. Mereka juga membuktikan bahwa financial leverage tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba.Oleh karena itu,hipotesis kedua yang menyatakan bahwa faktor financial leverage berpengaruh terhadap praktik perataan laba ditolak. Leverage dalam peelitian ini diukur dengan menggunakan rasio total hutang terhadap total aktiva. Maka , semakin tinggi tinggi hutang suatu perusahaan maka semakin tinggi pula rasio lever- age. Besarnya hutang akan meningkatkan resiko perusahaan dalam memperoleh kredit dan meningkatkan resiko pemilik perusahaan, rata rata leverage dalam penelitian ini adalah 0,648 sehingga resiko yang ditanggung pemilik modal JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI148 juga kecil, jadi tidak mempengaruhi dalam praktik perataan laba karna untuk memperoleh tambahan dana manajemen tidak harus menggunanakan dana kreditur tapi bisa diperoleh dari biaya operasional mereka. RETURN ON ASSET (ROA) Pada pengujian hipotesis kedua dapat disimpulkan bahwa Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap tindakan perataan laba. Hal tersebutberdasarkan hasil uji t yang menunjukkan angka signifikan yang lebih kecildari 0,05 yaitu 0,09. Oleh karena itu, hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap praktik perataan laba dapatditerima. Hasil ini konsisten dengan penelitian dan suratna dan mediastuti (2004) Dewi (2007) dan karina (2007) dan syafiont (2008), yang telah membuktikan bahwa return on asset mempengaruhi praktik perataan laba. Profitabilitas merupakan komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan untuk menilai kinerja manjemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang dan menaksir resiko dalam investasi atau meminjamkan dana (Dwiatmini dan Nurkholis, 2001). Dengan kata lain, profitabilitas menjadi tolak ukur kinerja bagi pihak eksternal. menurut Assih dan Gudono (2000) perusahaan yang memiliki ROA yang lebih tinggi cenderung melakukan perataaan laba dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba pada masa mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba. UKURAN PERUSAHAAN Berdasarkan hasil uji t, menunjukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu0,905.Hasil temuan ini menolak hipotesis pertama yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ashari et al. (1994), Zuhroh (1996), Jatiningrum (2000), Jin dan Machfoedz (1998) dan Miqdad dan Fauziah (2007) dan Andreas Dwi (2011) yang telah membuktikan bahwa besaran perusahaan tidak mempe-ngaruhi praktik perataan laba. Menuut penulis saat ini investor atau kreditur dalam mengalirkan dananya tidak menjadikan satu satunya ukuran perusahaan sebagai pertimbangannya, karna selain dari ukuran perusahaan yang dapat dinilai dari aktiva, terdapat pengukuran lainnya yang lebih penting yang dapat menggambarkan kinerja perusahaan seperti aliran cash flow serta rasio rasio yang lebih dapat menggambarkan kinerja perusahaan, karna belum tentu perusahaan besar bisa menangani kinerjanya dan dapat mengembalikan uang kreditur dan menmberikan keuntungan kepada investor. REPUTASI AUDITOR Berdasarkan hasil uji t, menunjukan bahwa reputasi auditor tidak berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 yaitu0,212.Hasil temuan ini menolak hipotesis kelima yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Prabanyanti (2011) dan Yudhanta (2013) yang telah membuktikan bahwa reputasi auditor tidak mempengaruhi praktik perataan laba. Secara umum dapat dijelaskan bahwa KAP the big Four ataupun non the big four cenderung tidak VOL. 15 NO.2 JULI 2014 149 memperngaruhi praktik perataan laba. Dapat disimpulkan perataan laba yang ditemukan dalam praktik audit merupakan perataan laba yang masih dalam batasan SAK atau praktik audit dilaksanakan bukan untuk mencari perataan laba tetapi lebih kepada kredibilitas laporan keuangan. SIMPULAN Penelitian ini menemukan bahwa aspek yang mempengaruhi industry perbankan dalam melakukan perataan laba adalah profitabilitas yang diproksikan dengan ROA. Hal itu tidak lepas dari profitabilitas sebagai bagian dari komponen laporan keuangan perusahaan yang bertujuan untuk menilai kinerja manjemen. Dengan kata lain, profitabilitas menjadi tolak ukur kinerja bagi pihak eksternal. Perusahaan yang memiliki ROA yang lebih tinggi cenderung melakukan perataaan laba dibandingkan dengan peru-sahaan yang lebih rendah karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba pada masa mendatang sehingga memu-dahkan dalam menunda atau mempercepat laba. Implikasi dari penelitian ini adalah perlu adanya pengawasan yang memdai kepada entitas perbankan yang memiliki laporan profitabilitas yang baik. Bias saja hal itu dikarenakan adanya aktivitas perataan laba yang dilakukan manajemen perbankan yang bersangkutan. Memang isu manajemen labamasih menjadi pro dan kontra dalam ranah etis. Namun, akan menjadi masalah jika praktik manajemen laba mempengaruhi kualitas laba dan kualitas laporan keuangan yang digunakan sebagai pemangku kepen-tingan dalam mengambil keputusan. Penelitian ini memiliki keterbatasan, yakni pada lingkup sampel. Oleh karena itu penelitian selanjutnya perlu memperluas lingkup sampel. Selain itu penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembang-kan variable yang menjadi penentu terjadinya praktik manajemen laba dan mengembangkan hubungan variable tersebut dalam desain atau model penelitian yang lebih berbeda. DAFTAR PUSTAKA Anggraini, F. 2005. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Manajerial, Pangsa Pasar, Dan Profitabilitas Terhadap Status Pemerataan Laba. Paper Dipresentasikan Pada Simposium Riset Ekonomi Surabaya. Ashari, N., H. C. Koh, S. L. Tan, dan W. H. Wong. 1994. Factors Affecting Income Smoothing Among Listed Companies In Singapore. Accounting And Business Research, 24 (96), 291- 301. Assih, P. dan Gudono. 1998. Hubungan tindakan perataan laba dengan reaksi pasar atas pengumuman informasi laba perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Disertasi Doktoral, Universitas Gadjah Mada. Breton, G., dan H. Stolowy. 2000. A Framework For The Classifica- tion Of Accounts Manipulations. Hec Accounting & Management Control Working Paper, (708). Budiasih, I. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba. Jurnal Ilmiah Akuntansi Dan Bisnis, 4 (1), 17-29. Cahan, S. F., G. Liu, dan J. Sun. 2008. Investor Protection, Income Smooth-ing, And Earnings Informativeness. Journal of Interna- tional Accounting Research, 7 (1), 1-24. Dewi, R. K. 2011. Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan Manufaktur Dan Keuangan Yang Terdaftar Di Bei (2006-2009). Disertasi Doktoral, Universitas Diponegoro. Dwi, A. S. 2011 Faktor-faktor yang Mempe-ngaruhi Perataan Laba pada Perusa-haan Keuangan. Skripsi, Universitas Negeri Jember. Eckel, N. (1981). The Income Smoothing Hypothesis Revisited. Abacus, 17 (1), 28-40. Ervia, J. K. 2013. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage Operasi Terhadap Praktik Perataan Laba (Studi Empiris Perususahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008–2010). Skripsi, Universitas Dian Nuswantoro. Guna, W. I., dan A. Herawaty. 2010. Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance, Independensi Auditor, Kualitas Audit dan Faktor Lainnya Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 12 (1), 53-68. Herawati, T. 2013. Pengaruh Kebijakan Dividen, Kebijakan Hutang Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusa-haan. Jurnal Manajemen, 2 (2), 113-125. Jin, L. S dan M. Machfoedz. 1998. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 1 (2), 174-191. Juniarti, C. 2005. Analisa Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan- Perusahaan Go Public. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 7 (2), 148-162. Kasmir, 2013. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI150 Kirschenheiter, M. dan N. D. Melumad. 2002. Can “Big Bath” And Earnings Smoothing Co Exist As Equilibrium Financial Reporting Strategies?. Journal Of Accounting Research, 40 (3), 761-796. Kusumawati, M. D. 2009. Pengaruh Kepemilikan Institusional, Corporate Governance Perception Index, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kualitas Akrual. Disertasi Doktoral, Universitas Sebelas Maret. Lang, L., E. Ofek dan R. Stulz. 1996. Leverage, Investment, And Firm Growth. Journal Of Financial Economics, 40 (1), 3-29. Miqdad, M. dan L. Fauziah. 2007. “Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Praktik Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Listed Di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi Universitas Jember, 5, 51-71. Narsa, I. M. 2003. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba Selama Krisis Moneter Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Surabaya. Majalah Ekonomi, (2), 128-145. Nasser, E. M. dan Herlina. 2003. Pengaruh Size, Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Go Publik. Jurnal Ekonomi, 7 (3), 291-305. Nurhikmah, S. 2012. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham (Studi Kasus Pada Industri Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia). Disertasi Doktoral, Universitas Hasanuddin. Pradipta, A. 2011. Analisis Pengaruh dari Mekanisme Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 13 (2), 93-106. Prawesti, L. dan A. Indrasari. 2014. Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi Terhadap Initial Return Saham. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 15 (1), 19-31. Salno, H. Dan M. Baridwan. 2000. Analisis Perataan Penghasilan (Income Smoothing): Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dan Kaitannya Dengan Kinerja Saham Perusahaan Publik Di Indonesia. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 3 (1), 17-34. Siregar, S. V. N., dan S. Utama. 2005. Pengaruh Struktur Kepemilikan. Ukuran Perusahaan Dan Praktik Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba. Paper Dipresen-tasikan di Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo. Ujiyantho, M. A., dan B. A. Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba Dan Kinerja Keuangan. . Paper Dipresentasikan di Simposium Nasional Akuntansi X, Makassar. Utomo, S. B., dan B. SiregarB. 2008. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Dan Kontrol Kepemilikan Terhadap Perataan Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Bei). Jurnal Akuntansi & Manaje-men, 71, 113-125. Wahyudi, U. dan H. P. Prawesti. 2006. Implikasi Struktur kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan: Dengan Keputusan Keuangan Sebagai Varia-bel Intervening. Paper Dipresentasikan pada Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang. Wahyuningsih, P. 2009. Pengaruh Struktur Kepemilikan Institusional Dan Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba. Fokus Ekonomi, 4 (2), 78-93. Yudhanta A. E. 2013. Analisi Faktor-Faktor yang memenuhi praktik income smoothing. Jurnal Akuntansi Uni-versitas trunojoyo, 1, 39- 42. A Accrual Accounting Agency theory alue Added Intellectual Coefficient APBN/APBD B Bursa Efek Indonesia C California Management Review Capital Employed Efficiency Company Performance Company Value Contemporary accounting research Costumer Duration Costumer Role Costumer Support Customer Success E Ethics F Financial Accountability & Management financial intermediation Financial Performance financial structure H Human capital Efficiency I IASC IFAC Indian Pharmaceutical Industry Industri Pertambangan Dan Pertanian Insider Trading intangible assets Intellectual Capital Intellectual Capital Disclosures International Accounting Standards Committee International Federation of Accountants J Journal of Intellectual capital Jurnal Akuntansi & Keuangan K Kinerja Perusahaan L Legitimacy Theory Local Government M Market Value McMaster Word Congress Modal Intelektual N New Public Management Nilai Perusahaan O Organizational Climate and Culture P Pemerintah Daerah Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Per Procedia Economics R Relevance of Intellectual Capital Disclosure Resource-Based Theory S Securities and Exchange Commis-sion's Signalling Theory SMAC Society of Management Accountants of Canada stakeholder Stakeholder Theory Structural capital Efficiency STVA T The Japanese Banking Sector Trader Tradisional Measures of Corporate Performance U Universitas Diponegoro US multinational firms V VACA VAHU VAIC value added W Working Unit