*Corresponding author, e_mail address: rudy@umy.ac.id Jurnal Akuntansi dan Investasi, Vol. 18 No. 1, Hlm: 102-118, Januari 2017 Artikel ini tersedia di website: http://journal.umy.ac.id/index.php/ai DOI: 10.18196/jai.18163 Determinan Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Rudy Suryanto*; Yosita Indriyani; Hafiez Sofyani Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, D.I. Yogyakarta, Indonesia A R T I C L E I N F O A B S T R A C T Article history: received 15 Nov 2016 revised 6 Des 2016 accepted 13 Des 2016 Keywords: Experience; Workload; Professional Skepticism; Personality Type NT; Ability to Detect Fraud This study aims to examine the influence of experience, workload, profesional skepticism, and personality type NT (Intution-thinking) toward the ability to detect fraud of auditors. The intensive search using the Rasch model approach developed by George Rasch with the involvement of auditors working in Yogyakarta and Surakarta as the study sample. This study fiund that the auditor's experience and personality type affect the auditor's ability to detect fraud. While the workload and profesional skpetisme auditor assessed not affect the auditor's ability to detect fraud. More detailed results of this study are presented in this paper. © 2017 JAI. All rights reserved PENDAHULUAN Maraknya kasus kecurangan pelaporan yang terjadi akibat adanya kerjasama “hitam” anatara perusahaan besar dan auditor eksternal (peme- riksa) memunculkan inisiasi oleh para akuntan, baik praktisi maupun akademisi, untuk disu- sunnya standar audit baru yang disebut ISA (International Standard on Auditing) (Sari dan Rustiana, 2016). ISA menekankan pada audit berbasis risiko, principles-based standard, berpa- ling dari model sistematis, kearifan profesional dan konsekuensinya, pengendalian internal, dan those change with governance. Ciri yang paling menonjol dari ISA adalah penekanan terhadap aspek resiko. Penilaian risiko diatur dalam ISA 315 yang meliputi: 1) risiko bisnis yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan; 2) estimasi berapa signifikannya risiko; 3) besarnya potensi terjadinya resiko; dan 4) tindakan untuk mena- ngani risiko (Tuanakota,2013). Selain basis risiko, ISA juga menekankan perubahan mendasar pada standar berbasis prinsip (principles-based stan- dard). Sehingga pemakai standar tidak terpaku pada aturan yang cenderung kaku dan terkadang tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Permasalahan audit dari satu klien dengan klien lain tidak tentu sama sehingga dengan basis prinsip, auditor dapat mengatasi suatu situasi dan kondisi dengan prinsip-prinsip bukan aturan. Akan tetapi, megacu pada kasus manipulasi pelaporan keuangan, hal semacam itu tidak hanya dapat terjadi karena adanya kerjasama “hitam” antara auditor dengan auditan, tetapi juga karena gagalnya auditor dalam mendeteksi kecurangan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kegagalan auditor dalam mendeteksi kecurangan (fraud) yaitu kompetensi teknis yang terkendala (Tuana- kotta, 2013). Kompetensi teknis yang terkendala dikarenakan tingkat pengetahuan, pengalaman, dan independensi auditor yang masih lemah (Koroy, 2009). Faktor lain yang menyebabkan kegagalan auditor pada penelitian Beasley et al., (2001) didasarkan pada AAERs (Accounting and Auditing Releases) berkaitan dengan rendahnya tingkat skeptisme profesional yang dimiliki oleh auditor (Carpenter et al., 2011), berlebihannya beban kerja auditor (Nasution, 2012), dan karakteristik kepribadian dari seseorang auditor (Noviyanti, 2008). Mengacu pada konsep Myers- Briggs Type Indicators (MBTI), terdapat empat pasang preferensi manusia, yaitu extraversion dan introversion, sensing dan intuition, thinking dan feeling, serta judging dan perceiving. Masing- masing preferensi memiliki ciri yang berbeda-beda. Ciri yang berbeda menyebabkan perbedaan dalam individu mengembangkan sikap untuk menyikapi suatu kondisi (Tesser 1993; Petty et al., 1997; Noviyanti, 2008). Berangkat dari berbagai argumentasi yang dipaparkan di atas, maka penelitian ini akan me- neliti pengaruh variabel beban kerja, pengalaman, skeptisme profesional, dan tipe kepribadian ter- hadap kemampuan auditor dalam mendeteksi Suryanto et al. – Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan 103 kecurangan dilihat dari sudut pandang teori perilaku yang direncanakan (Fishbein dan Ajzen, 1974; 1975; Ajzen dan Fishbein, 2005; Januarti (2011) dan konsep power distance (Hofstede, 2011). Penelitian ini didasarkan pada diterap- kannya standar baru dalam audit yaitu ISA yang menekankan auditor untuk menggunakan kea- rifan profesional khususnya dalam mendeteksi kecurangan. Perbedaan penelitian ini dengan pe- nelitian sebelumnya (Noviyanti, 2008; Carpenter et al., 2011; Nasution, 2012) adalah penelitian ini dilakukan di lokasi yang berbeda, yakni dengan melibatkan auditor di Yogyakarta dan Surakarta. Sedangkan kebaharuan dari penelitian ini adalah analisis data yang dijalankan menggunakan pen- dekatan Rasch Model. Rasch model merupakan alat analisis yang dapat menguji validitas dan reliabilitas data serta menguji kesesuaian person dan item secara simultan. Rasch model mampu memberikan skala linear dengan interval yang sama, melakukan prediksi terhadap data yang hilang, memberikan estimasi yang tepat, mendeteksi ketidaktepatan model, serta menghasilkan pengukuran yang replicable (Suminto, 2013). Keunggulan Rasch model dibanding model lain adalah kemampuan melakukan prediksi terhadap data yang hilang, yang didasarkan pada pola respon yang sistematis. Model lain memperlakukan data yang hilang dengan nilai nol, sedang Rasch menghasilkan kemungkinan terbaik dari data yang hilang. Pen- dekatan model ini diharapkan memiliki keaku- ratan yang lebih baik dalam pengukuran variabel, sehingga menghasilkan simpulan penelitian yang juga lebih baik. Penelitian ini juga memperbaharui penelitian Noviyanti (2008) yang menggunakan pendekatan eksperimen dalam pengujian hubungan tipe kepri- badian dengan kemampuan mendeteksi kecu- rangan. Penelitian model eksperimen cenderung kuat pada aspek validitas internal tetapi lemah pada aspek validitas eksternal (Nahartyo, 2012; Sofyani dan Pramita, 2013; Rahma dan Yulianti, 2016). Sementara, penelitian ini menggunakan pendekatan survei guna menemukan validitas eksternal atau kemampuan generalisasi hasil riset yang lemah dari penelitian Noviyanti (2008) tersebut. Kebaharuan lainnya adalah, penelitian ini dilakukan di Kantor Akuntan Publik (KAP) yang ada di kota Yogyakarta dan Surakarta yang notabene merupakan kantor akuntan publik berskala kecil. Aspek menarik dari obyek ini adalah adanya dugaan rendahnya isu skeptisme dan kaitannya dengan kemampuan auditor dalam upaya mendeteksi kecurangan yang disebabkan oleh KAP yang lebih berorientasi pada proyek pekerjaan dibandingkan orientasi profesionalisme. TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Teori Perilaku yang Direncanakan Ajzen (1991) dalam pandangannya mengenai konsep teori perilaku yang direncanakan (Theory of Planned Behavior) mengasumsikan bahwa manusia biasanya akan berperilaku pantas (behave in a sensible manner) sesuai dengan apa yang diinginkan lingkungannya. Tujuan dan manfaat teori ini dalam konteks penelitian ini adalah untuk meramalkan dan memahami pengaruh-pengaruh motivasi perilaku, baik kemauan individu itu sendiri maupun bukan kemauan dari individu tersebut. Teori perilaku yang direncanakan, menurut Januarti (2011), memiliki fungsi dari tiga dasar determinan. Pertama, terkait dengan sikap dasar seseorang, contohnya adalah sikap seseorang ter- hadap intuisi, orang lain, atau obyek. Teori ini dapat menjelaskan bahwa sikap dasar atau kepri- badian seseorang dapat terbentuk atas respon seseorang tersebut terhadap lingkungan, objek, dan intuisi. Berkaitan pula dengan penelitian ini, sikap skeptisme yang ditunjukkan auditor merupakan suatu sikap dalam menghadapi suatu kasus atau penugasan audit yang diberikan. Selain itu, jumlah beban dalam hal ini beban penugasan atau audit yang ditanggung seseorang juga akan mempengaruhi bagaimana ia akan bersikap. Kedua, menggambarkan pengaruh sosial yang disebut norma subjektif. Ketiga, berkaitan dengan isu kontrol. Faktor ini berkaitan dengan masa lalu dan persepsi seseorang terhadap seberapa sulit untuk melakukan suatu perilaku, contohnya ada- lah pengalaman audit dalam melakukan prosedur audit dalam penugasan auditnya. Beban Kerja dan Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Beban kerja (workload) adalah jumlah pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang. Setiawan dan Fitriany (2011) menyebutkan beban kerja auditor dapat dilihat dari banyaknya jumlah klien yang harus ditangani oleh seorang auditor atau terbatasnya waktu auditor untuk melakukan proses audit. Beban kerja seorang auditor bia- Jurnal Akuntansi dan Investasi, 18 (1), 102-118: Januari 2017 104 sanya berhubungan dengan busy season yang pada umumnya terjadi pada kuartal pertama awal tahun. Penyebab terjadinya busy season dari auditor adalah karena banyaknya perusahaan yang memiliki tahun fiskal yang berakhir pada bulan Desember. Menurut Nasution (2012) kelebihan pekerjaan pada saat busy season akan meng- akibatkan kelelahan dan ketatnya time budget bagi auditor sehingga akan menghasilkan kualitas audit yang rendah. Dari penelitian Nasution (2012) ditemukan beban kerja berpengaruh negatif pada skeptisme profesional. Pada konteks pendeteksian kecurangan, banyaknya beban kerja juga diduga berpengaruh negative terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini sejalan dengan temuan Murtisari dan Ghozali (2006) sebagai- mana dikutip Nasution (2012) yang menjelaskan bahwa beban pekerjaan dapat mengakibatkan menurunnya kepuasan kerja dan kinerja auditor. Penelitian Setiawan dan Fitriany (2011) mene- mukan beban kerja auditor berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Hasil-hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa beban kerja yang semakin meningkat akan menurunkan kemam- puan auditor dalam mendeteksi kecurangan atau kesalahan yang dilakukan manajemen karena kelelahan sehingga berakibat pada hasil audit yang rendah. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, diduga semakin banyak beban kerja yang ditanggung, tidak akan meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi kecurangan. Sehingga ditu- runkan hipotesis pertama, yaitu: H1: Beban kerja berpengaruh negatif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Pengalaman dan Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Pengalaman menjadi indikator penting bagi kualifikasi profesional seorang auditor (AU Seksi 110 paragraf 04) (Nasution, 2012). Pengalaman audit adalah pengalaman yang diperoleh auditor selama melakukan proses audit laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya penugasan yang pernah ditangani menurut Suraida (2005). Auditor yang telah memiliki banyak pengalaman tidak hanya akan memiliki kemampuan untuk menemukan kekeliruan (error) atau kecurangan (fraud) yang tidak lazim yang terdapat dalam laporan keuangan tetapi juga auditor tersebut dapat memberikan penjelasan yang lebih akurat terhadap temuannya tersebut dibandingkan dengan auditor yang masih dengan sedikit pengalaman menurut Libby dan Frederick (1990) sebagaimana dikuti Nasution (2012). Pengalaman auditor akan semakin berkem- bang dengan bertambahnya pengalaman audit, adanya diskusi mengenai audit dengan rekan sekerja, dan dengan adanya program pelatihan dan penggunaan standar. Perkembangan moral kognitif seseorang diantaranya sangat dipengaruhi oleh pengalaman (Nasution, 2012). Oleh sebab itu, pengalaman kerja dipandang sebagai suatu faktor yang penting dalam memprediksi kinerja auditor (Januarti, 2011). Penelitian Noviyani (2002) yang didukung oleh penelitian Tirta dan Sholihin (2004) dan Nasution (2012) menemukan auditor yang berpe- ngalaman akan memiliki pengetahuan tentang kekeliruan dan kecurangan yang lebih banyak sehingga akan menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam mendeteksi kasus-kasus kecurangan dibandingkan dengan auditor yang tidak berpe- ngalaman. Berdasarkan hasil penelitian sebe- lumnya, diduga terdapat pengaruh positif antara pengalaman dengan kemampuan mendeteksi kecurangan, yaitu semakin berpengalaman seo- rang auditor maka semakin meningkat kemam- puan dalam mendeteksi kecurangan. Sehingga diperoleh hipotesis kedua sebagai berikut: H2: Pengalaman audit berpengaruh positif terha- dap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Skeptisme dan Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Skeptisme profesional (professional skepti- cism) adalah sikap perilaku (attitude) yang sarat pertanyaan dalam benak (quetining mind), waspada (being alert) pada keadaan–keadaan yang mengindikasi kemungkinan salah saji karena kesalahan (error) atau kecurangan (fraud) dan penilaian yang kritis (critical assessment) terhadap bukti. (Tuanakotta, 2013). Pendeteksian kecu- rangan mengharuskan auditor mengumpulkan bukti-bukti yang cukup dan relevan. Maka dari itu, seorang auditor harus berpikir kritis dalam pengumpulan dan pemahaman bukti-bukti audit. Fullerton dan Durtschi (2004) menemukan bahwa auditor dengan skeptisme yang tinggi akan meningkatkan kemampuan mendeteksinya de- ngan cara mengembangkan pencarian informasi- informasi tambahan bila dihadapkan dengan gejala-gejala kecurangan. Berangkat dari argu- mentasi di atas, maka diduga semakin tinggi sikap Suryanto et al. – Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan 105 skeptisme yang dimiliki auditor maka semakin tinggi pula tingkat kemampuan dalam mendeteksi kecurangan. Namun demikian, pada konteks penelitian ini yang dilakukan di kota Yogyakarta dan Surakarta, yang notabene masuk dalam kawasan Jawa bagian tengah dimana auditor mayoritas berasal dari suku Jawa beretnis Jawa halus yang masih memiliki adab keraton yang kuat, maka skeptisme auditor dari etnis Jawa halus ini bisa saja termitigasi oleh karakteristik dari etnis tersebut yang senantiasa mengedepankan kehar- monisan hubungan masyarakat. Hofstede (2001) menilai fenomena kuatnya adab keraton di Jawa bagian tengah ini, selanjutnya memunculkan apa yang disebut dengan power distance, dan beri- kutnya mempengaruhi sikap orang suku Jawa bagian tengah menjadi lebih sungkan dan menjaga keharmonisan (Prayudi dan Basuki, 2014). Sikap semacam ini berkemungkinan memunculkan rendahnya skeptisme profesional auditor karena auditor dari suku Jawa halus lebih menge- depankan keharmonisan hubungan dibandingkan tuntutan profesionalisme. Oleh karenaya, mes- kipun auditor memiliki skeptisme profesional, namun hal itu tidak dimunculkan demi menjaga hubungan baik antara auditor dan auditan. Berangkat dari argumentasi tersebut, maka pada konteks penelitian ini hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut: H3: Skeptisme profesional tidak berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam men- deteksi kecurangan. Tipe Kepribadian NT (Intuition and Thinking) dan Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Penelitian Noviyanti (2008) menemukan bahwa auditor dengan tipe kepribadian ST (Sense and Thinking) dan NT (Intuition and Thinking) adalah auditor yang memiliki skeptisme profesio- nal yang lebih tinggi dibandingkan dengan auditor dengan tipe kepribadian lainnya. Skeptisme profesional yang tinggi akan memiliki kemampuan mendeteksi kecurangan yang tinggi. Kepribadian dengan tipe kombinasi ST dan NT merupakan tipe yang cenderung logis dalam mengambil keputusan karena mempertimbangkan fakta-fakta yang ada. Tipe kombinasi NT cenderung mene- kankan pola, konteks, dan hubungan dengan data yang meragukan dan tidak meyakinkan dimana pada kondisi tersebut auditor dituntut harus menebak-nebak makna dari data tersebut secara intuitif, dan selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menggali fakta dengan logika dan analisis yang obyektif serta kritis dalam situasi dimana keputusan harus diambil (Tuanakotta, 2013). Pada konteks audit, kecurangan umumnya bersifat sistematis atau memiliki pola, terkadang tidak meyakinkan, sehingga untuk menggalinya diper- lukan logika analisis yang obyektif dan kritis. Berdasarkan konsep tersebut, maka diduga ada pengaruh tipe kepribadian kombinasi NT yang ada pada diri auditor terhadap kemampuan auditor tersebut dalam mendeteksi kecurangan. Berangkat dari argumentasi tersebut, maka hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut: H4: Tipe kepribadian kombinasi NT berpenga- ruh terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. METODE PENELITIAN Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya Model penelitian disajikan pada Gambar 1. Pengalaman audit (EXP) merupakan suatu proses pembelajaran dan penambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa juga diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi (Bawono dan Singgih, 2011). Penga- laman diukur dari berapa lama seorang auditor telah bekerja. Apabila semakin lama, maka diang- gap auditor tersebut berpengalaman. Tipe kepribadian (TYPE) NT adalah kepri- badian dari individu yang memiliki kecendongan untuk memahami sesuatu dengan intuisi, khu- susnya terkait suatu keadaan yang dihadapinya. Individu dengan kepribadian NT akan mencoba untuk memahami makna atau lambang, hubungan serta pola-pola yang ada, dan kemungkinan- kemungkinan lainnya, lebih dari sekedar apa yang telah ditangkap melalui panca indra (Myers sebagaimana dikuti Noviyanti, 2008). Variabel tiperibadian NT akan diukur dengan dummy, dimana auditor yang memiliki tipe kepribadian NT akan diberi skor 1, sedang yang lain 0. Skeptisme profesional adalah sikap perilaku (attitude) yang sarat pertanyaan dalam benak (quetining mind), waspada (being alert) pada keadaan–keadaan yang mengindikasi kemungki- nan salah saji karena kesalahan (error) atau kecu- rangan (fraud) dan penilaian yang kritis (critical Jurnal Akuntansi dan Investasi, 18 (1), 102-118: Januari 2017 106 assessment) terhadap bukti (Tuanakotta, 2013). Skeptisme profesional (SP) diukur dari perta- nyaan-pertanyaan mengenai suatu sikap yang akan dilakukan terhadap suatu kondisi yang dikem- bangkan oleh Nasution (2012). Skala yang digu- nakan adalah skala likert. Sedangkan pada variabel dependen yaitu kemampuan mendeteksi kecurangan yaitu ke- mampuan untuk mengenali dan mengidentifikasi gejala-gejala kecurangan (fraud symptoms) yang dikembangkan oleh Fullerton dan Durtschi (2004) dan dimodifikasi oleh Nasution (2012) yang terdiri dari gejala kecurangan terkait dengan lingkungan perusahaan (corporate environment) dan gejala kecurangan terkait catatan keuangan dan praktek akuntansi (financial records and accounting practice). Skala yang digunakan adalah skala likert. Dalam penelitian ini terdapat empat variabel independen dan satu variabel dependen. Skala yang akan digunakan adalah skala Likert yang diolah terlebih dahulu diolah menggunakan Rasch Model. Dengan demikian data yang akan diolah menggunakan SPSS merupakan data yang sifatnya ukuran linier. Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kantor Akuntan Publik (KAP) Yogyakarta dan Surakarta pada tahun 2015 dengan subyek penelitian adalah auditor yang bekerja pada beberapa KAP di kota tersebut. Pemilihan sampel di Yogyakarta dan Surakarta didasarkan pada dua alasan, pertama karena auditor yang diteliti berasal dari KAP kecil. Penelitian terdahulu kebanyakan meneliti isu sejenis dengan menggunakan sampel auditor dari KAP madia dan besar (big four), sehingga hasil- hasil penelitian terdahulu masih dominan berlaku pada konteks auditor di kantor KAP madia dan besar, dan belum tentu berlaku pada auditor yang bekerja pada KAP kecil. Kedua, tempat penelitian (kota Yogyakarta dan Surakarta) masuk dalam kawasan Jawa bagian tengah dimana auditornya mayoritas berasal dari suku Jawa beretnis Jawa halus yang memiliki adab keraton yang masih kuat. Dalam pandangan Hofstede (2011), kuatnya adab keraton di Jawa bagian tengah ini memun- culkan apa yang disebut dengan power distance yang selanjutnya mempengaruhi sikap orang suku Jawa bagian tengah menjadi lebih sungkan dan menjaga keharmonisan (Prayudi dan Basuki, 2014). Sikap semacam ini berkemungkinan memunculkan rendahnya skeptisme profesional auditor karena auditor dari suku Jawa halus lebih mengedepankan keharmonisan hubungan diban- dingkan tuntutan profesionalisme. Metode penentuan sampel menggunakan purposive sample dengan kriteria sampel adalah auditor yang telah bekerja minimal satu tahun dan pernah melakukan tugas audit minimal tiga kali. Daftar KAP yang dijadikan obyek penelitian disajikan pada Tabel 1. Data dan Sumber Data Data dari penelitian ini adalah hasil jawaban kuesioner yang diisi oleh sampel secara langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey, yakni dengan cara mengirimkan kuesioner penelitian kepada sampel dan mengumpulkannya secara langsung dengan cara mendatangi ke kantor dimana sampel bertugas (Hartono dan Abdillah, 2008). Kuesioner yang diberikan menggunakan jenis pertanyaan tertutup dan terbuka pada beberapa informasi yang diperlukan. Gambar 1. Model Penelitian Kemampuan mendeteksi kecurangan Beban kerja Kepribadian NT Skeptisme profesional Pengalaman Jurnal Akuntansi dan Investasi, 18 (1), 102-118: Januari 2017 106 Skala yang digunakan adalah skala linear dengan interval yang sama. Interval yang sama diperoleh dengan menggunakan Rasch model. Beban kerja (WL) pada penelitian ini adalah banyaknya jumlah klien yang harus ditangani oleh seorang auditor atau terbatasnya waktu auditor untuk melakukan proses audit (Nasution, 2012). Beban kerja diukur dengan rata–rata jumlah pekerjaan yang dilakukan auditor selama satu tahun. Apabila jumlah pekerjaan yang dilakukan rendah atau sedikit maka beban kerja yang diterima oleh auditor adalah ringan. Teknik Analisis Data Analisis data penelitian dilakukan dengan Rasch model. Rasch model merupakan alat analisis yang dapat menguji validitas dan reliabilitas data serta menguji kesesuaian person dan item secara simultan. Rasch model mampu memberikan skala linear dengan interval yang sama, melakukan prediksi terhadap data yang hilang, memberikan estimasi yang tepat, mendeteksi ketidaktepatan model, serta meng- hasilkan pengukuran yang replicable (Suminto, 2013). Keunggulan Rasch model dibanding model lain adalah kemampuan melakukan prediksi terhadap data yang hilang, yang didasarkan pada pola respon yang sistematis. Model lain memperlakukan data yang hilang dengan nilai nol, sedang Rasch menghasilkan kemungkinan terbaik dari data yang hilang. Sehingga dengan Rasch model membuat data yang diolah sebagai data yang lengkap (Suminto, 2013). Pemodelan Rasch yang diperkenalkan George Rasch pada sekitar tahun 1960 merupakan model yang populer menghasilkan data pengukuran. Data pengukuran pada penelitian ilmu sosial yang didapat ini diukur menggunakan penerapan sistem pengukuran yang standar digunakan dalam ilmu eksakta. Selain itu dalam pengukuran obyektif, pengukuran harus memenuhi lima syarat, yaitu: (1) Memberikan ukuran yang linear; (2) Mengatasi data yang hilang; (3) Melakukan proses estimasi yang tepat; (4) Menemukan yang tidak tepat (misfit) dan tidak umum (outliners); dan (5) Memberikan instrumen pengukuran yang independen dari parameter yang diteliti (Suminto, 2013). Rasch Model dengan aplikasi Ministep akan menghasilkan beberapa pilihan untuk analisis data. Hasil statistik Ministep akan menunjukkan banyak data person dan aitem yang diolah, nilai rata-rata logit untuk person, nilai reliabilitas untuk person dan aitem, nilai cronbach alpha, dan error standar aitem. Nilai reliabilitas untuk person dan aitem memiliki ketentuan: Jika nilai reliabilitas < 0.67 maka dikatakan rendah; Jika nilai reliabilitas 0,67- 0.80 maka dikatakan cukup; Jika nilai reliabilitas 0,81-0.90 maka dikatakan bagus; Jika nilai reliabilitas 0,91-0.94 maka dikatakan bagus sekali; Jika nilai reliabilitas >0,94 maka dikatakan istimewa. Sedangkan untuk nilai cronbach alpha memiliki ketentuan sebagai berikut: Jika nilai cronbach alpha < 0.5 maka dikatakan buruk; Jika nilai cronbach alpha 0.5-0.6 maka dikatakan jelek; Jika nilai cronbach alpha 0.6-0.7 maka dikatakan cukup; Jika nilai cronbach alpha 0.7-0.8 maka dikatakan bagus; Jika nilai cronbach alpha > 0.8 maka dikatakan bagus sekali (Suminto, 2013). Selain itu, Rasch ini akan menghasilkan informasi berupa aitem yang sesuai dan tidak sesuai dengan data yang kita butuhkan, sehingga akan diketahui aitem mana yang harus direvisi atau dibuang. Ketentuan dari aitem tersebut adalah sebagai berikut: Nilai Outfit Mean Square (MNSQ) yang diterima: 0.5 0,94 yang berarti reliabilitas item atau butir pertanyaan tergolong 110 Suryanto et al. – Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Jurnal Akuntansi dan Investasi, 18 (1), 102-118: Januari 2017 Jurnal Akuntansi dan Investasi, 18 (1), 102-118: Januari 2017 110 istimewa. Person reliability yang tergolong bagus didukung person measure sebesar 0,33 menun- jukkan kemampuan rata-rata person rata-rata di atas item yaitu item measure 0,00. Nilai rata-rata eror standar item sebesar 0,56 dan nilai cronbach alpha sebesar 0,91. Nilai cronbach alpha sebesar 0,91 > 0,8 menunjukkan bahwa data pada variabel kemampuan mendeteksi kecurangan sangat bagus atau reliabel. Tabel 7. Person Measure dari Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Person Measure Outfit PT-Measure Corr Kesesuaian MNSQ ZSTD 1 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 2 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 3 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 4 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 5 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 26 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 27 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 28 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 29 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 30 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 41 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 42 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 43 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 44 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 45 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 46 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 47 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 48 2,5 0,75 -0,4 0,93 Sesuai 49 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 50 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 59 2,5 0,75 -0,4 0,74 Sesuai 11 1,63 1,29 0,8 0,47 Sesuai 21 1,63 1,29 0,8 0,47 Sesuai 35 1,63 1,29 0,8 0,47 Sesuai 53 1,63 1,29 0,8 0,47 Sesuai 6 0,85 0,69 -0,8 0,5 Sesuai 13 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 14 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 16 0,85 0,69 -0,8 0,5 Sesuai 23 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 25 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 31 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 32 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 40 0,85 0,69 -0,8 0,5 Sesuai 54 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 58 0,85 0,72 -0,7 0,83 Sesuai 60 0,85 0,69 -0,8 0,5 Sesuai 12 0,58 1,74 1,7 0,3 Sesuai 22 0,58 1,74 1,7 0,3 Sesuai 34 0,58 1,74 1,7 0,3 Sesuai 57 0,58 1,74 1,7 0,3 Sesuai 7 -1,03 1,98 1,5 0,06 Sesuai 17 -1,03 1,98 1,5 0,06 Sesuai 39 -1,03 1,98 1,5 0,06 Sesuai 55 -1,03 1,98 1,5 0,06 Sesuai 8 -1,92 0,11 -2 0,89 Sesuai 15 -1,92 3,41 2,4 -0,8 Tidak Sesuai 18 -1,92 0,11 -0,2 0,89 Sesuai 24 -1,92 3,41 2,4 -0,8 Tidak Sesuai 33 -1,92 3,41 2,4 -0,8 Tidak Sesuai 111 Suryanto et al. – Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan Suryanto et al. – Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan 111 Tabel 7. Person Measure dari Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Person Measure Outfit PT-Measure Corr Kesesuaian MNSQ ZSTD 38 -1,92 0,11 -2 0,89 Sesuai 52 -1,92 0,11 -2 0,89 Sesuai 61 -1,92 3,41 2,4 -0,08 Tidak Sesuai 9 -2,89 0,43 -0,6 0,67 Sesuai 19 -2,89 0,43 -0,6 0,67 Sesuai 37 -2,89 0,43 -0,6 0,67 Sesuai 56 -2,89 0,43 -0,6 0,67 Sesuai 62 -2,89 0,43 -0,6 0,67 Sesuai 10 -3,36 0,69 0 0,53 Sesuai 20 -3,36 0,69 0 0,53 Sesuai 36 -3,36 0,69 0 0,53 Sesuai 51 -3,36 0,69 0 0,53 Sesuai 63 -3,36 0,69 0 0,53 Sesuai Tabel 8. Item Measure dari Kemampuan Mendeteksi Kecurangan Item Outfit PT-Measure Corr Kesesuaian MNSQ ZSTD 1 2,7 2,7 0,2 Tidak Sesuai 2 0,41 -4,7 0,9 Tidak Sesuai 5 0,84 -1 0,54 Sesuai 3 1,38 2,1 0,84 Tidak Sesuai 10 0,93 -0,3 0,7 Sesuai 8 0,9 -0,5 0,71 Sesuai 4 1,05 0,3 0,83 Sesuai 7 0,94 -0,2 0,79 Sesuai 9 0,6 -2,2 0,91 Tidak Sesuai 6 0,41 -3,5 0,91 Tidak Sesuai Berdasarkan Tabel 7 terdapat person yang tidak sesuai dengan model 0.5