Jurnal Akuntansi & Investasi Vol. 14 No. 1, halaman: 65-77, Januari 2013 65 MAKNA KEUNTUNGAN BAGI PEDAGANG KAKI LIMA (Studi pada Pedagang Kaki Lima di Bangsri Jepara) Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi E-Mail: Ahmadubai45@gmail.com STIE Nahdlatul Ulama’ Jepara ABSTRACT This research’s goal is to understand the meaning of profit which is seen from cadger’s side. Cadger profession become focus because their relation directly between cadger, money, and society. Cadger profession, society and "money" is an endless circle. They related to the various circle of life. With Intensionalism Hermeneutic, researchers trying to interpret and explore the meaning of the words in the text or informant of what the language or what is thought by informants. This research concludes that there are three meanings of profit for cadger profession. The first meaning is material profit in the form of deposits or savings that used to cover personal necessity. The second meaning is spiritual profit will be seen from the street cadger’s to keep attention to the command of God to all His commandments. And the third meaning is inner satisfaction profit when can make others happy, even as street vendors still have the opportunity to share. These are the three meanings of “profit” found in this research, which was viewed from the cadger’s side. Keywords: Intensionalism Hermeneutic, Cadger, Profit. PENDAHULUAN Istilah “Pedagang Kaki Lima” atau PKL, sudah tidak asing lagi di telinga dan selalu kita jumpai di perkotaan Indonesia. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman- taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Problem kemacetan lalu lintas dan merusak keindahan kota menjadi sorotan yang tidak baik bagi PKL. Tetapi PKL ini berjuang untuk menghidupi keluarga dan menyambung hidupnya, maka PKL juga tidak terlepas dengan kehidupan ekonomi yang harus kita perhatikan untuk diteliti kaitannya dengan akuntansi. Dengan kata lain, bahwa akuntansi tidak terbatas hanya pada profesi akuntansi, melainkan semua umat manusia yang melakukan bisnis baik lingkup besar maupun kecil dalam kehidupannya membutuhkan yang nama-nya akuntansi. Profesi yang menjadi salah satu sorotan kurang sedap di masyarakat adalah profesi pedagang kaki lima. Untuk itu topik ini perlu diteliti dan diperbincang-kan, demi mengungkap dibalik sorotan yang kurang sedap dari sudut pandang akuntansi. Tidak hanya dalam segi perkembangan pedagang kaki lima yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, yang mengotori pandangan mata namun juga dari segi kemasya-rakatan. Profesi pedagang kaki lima sangat bersentuhan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Karena pedagang kaki lima dapat lebih mudah untuk dijumpai oleh masyarakat dari pada pedagang resmi yang kebanyakan bertempat tetap. Dengan adanya pedagang kaki lima, masyarakat dimudahkan untuk memenuhi kebutuhan untuk barang- Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 66 barang eceran. Dapat kita amati bahwa peran pedagang kaki lima dalam memenuhi kebutuhan manusia cukup menda-patkan tempat yang lumayan penting. Namun, sebagian orang masih memandang bahwa keberadaan pedagang kaki lima cenderung merugikan, misalnya karena menggangu para pengendara kendaraan ber-motor dan dianggap mengu- rangi keindahan kota, serta dalam aktivi- tasnya menyebabkan kesemerawutan. Selain itu ada pedagang kaki lima yang meng- gunakan sungai dan saluran air terdekat untuk membuang sampah dan air cuci. Cara pandang ini tentu tidak berarti tidak mengandung kebenaran, namun kalau kita mau melihat dari sisi lain yaitu dengan memandang sisi keuntungan dan kelebihan pedagang kaki lima dalam aktivitasnya bagi masyarakat. Bahwa pedagang kaki lima dapat memberikan skala pelayanan ekonomi yang cepat dan mudah, konsumen mempunyai kesan bahwa barang yang didagangkan umumnya lebih murah dari pada pasar-pasar swalayan atau pasar-pasar modern. Namun secara khusus juga memberikan keuntungan yaitu sebagai penyerap tenaga kerja dan sebagai pembayar retribusi. Seorang pedagang kaki lima merupakan manusia yang memiliki kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupannya. Pedagang kaki lima juga sama dengan orang kebanyakan yang memiliki kebutuhan- kebutuhan yang harus dipenuhi. Kenaikan berbagai harga yang ada juga tentu mempengaruhi pekerjaan dan kebutuhan hidup pedagang kaki lima. Belum lagi kebutuhan-kebutuhan primer dan pribadi yang dimiliki oleh pedagang kaki lima. Dengan kebutuhan yang cukup banyak, maka muncul pemenuhan kebutuhan yang banyak pula. Oleh karena itu makna “keuntungan” dari sudut pandang profesi pedagang kaki lima inilah yang menjadi tujuan dalam penelitian ini. Pemilihan profesi pedagang kaki lima, bukan profesi yang lain, didasarkan adanya hubungan yang erat antara profesi pedagang kaki lima, uang dan masyarakat. Profesi pedagang kaki lima, masyarakat dan “uang” merupakan sebuah lingkaran yang tidak berujung. Ketiganya saling ber-kaitan dan berhubungan dalam berbagai lingkaran kehidupan. Profesi pedagang kaki lima memang selalu bersentuhan dengan masyarakat. Namun, tetap ada “alat” temu di antara kedua pihak, yaitu “uang”. Hal ini terus menerus bergulir dan tidak terhenti. Selama terdapat masyarakat yang membutuhkan pedagang kaki lima, maka profesi pedagang kaki lima akan selalu ada. Uang kemudian akan menjadi pengikut “setia” terutama bagi mereka yang membutuhkan barang dagangan dan bertitik akhir pada pedagang kaki lima itu sendiri (Sari, 2010). Oleh sebab itu, pertanyaan yang menjadi pokok pemikiran dalam penelitian ini adalah bagaimana pedagang kaki lima memaknai keuntungan yang sebenarnya dalam hidup mereka. TINJAUAN LITERATUR DAN FOKUS PENELITIAN Definisi Laba Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya- biayanya dalam jangka waktu (periode) tertentu (Harnanto, 2003). Laba adalah perbedaan antara pendapatan dengan beban jika pendapatan melebihi beban maka hasilnya adalah laba bersih (Simamora, 2000) Laba merupakan selisih pendapatan dan keuntungan setelah dikurangi beban dan kerugian. Laba merupakan salah satu pengukur aktivitas operasi dan dihitung Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 67 berdasarkan atas dasar akuntansi akrual (J Wild, KR Subramanyan, 2003) Berdasarkan definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Laba adalah selisih antara seluruh pendapatan (revenue) dan beban (expense) yang terjadi dalam suatu periode. Keuntungan adalah Laba Akuntansi? Keuntungan seringkali dianggap sama dengan laba. Di mata masyarakat, laba yang dimaksud oleh keuntungan biasanya dilihat dari kenaikan kemakmuran. Perubahan profil, kepemilikan dan kemewahan dianggap seba-gai sebuah keuntungan. Konsep laba akun-tansi sebenarnya berasal dari konsep laba ekonomi yang dikembangkan oleh ahli ekonomi klasik, menurut Safitri sebagaimana dikutip dalam (Sari, 2010). Fisher, seba-gaimana dikutip oleh Belkaoui (2000) mende-finisikan laba ekonomi sebagai rangkaian kejadian yang berhubungan dengan kondisi yang berbeda, yaitu laba kepuasan batin, laba sesungguhnya dan laba uang. Laba kepuasan batin adalah laba yang muncul dari konsumsi seseorang sesungguhnya atas barang dan jasa yang menghasilkan kesenangan batin dan kepuasan atas keinginan dimana laba ini tidak diukur secara langsung, tetapi dapat diproksi-kan oleh laba sesungguhnya. Laba sesungguhnya adalah pernyataan atas kejadian yang meningkatkan kesenangan batin, dimana ukuran laba ini adalah biaya hidup. Untuk laba uang, diartikan bahwa laba ini menunjukkan semua uang yang diterima yang digunakan untuk konsumsi guna membiayai hidup. “Laba” seringkali pula disebut dalam banyak bahasa. Hal ini terjadi karena terdapat banyak istilah dalam bahasa asing yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Namun, dalam penerje- mahannya, biasanya banyak kata yang memiliki arti yang sama sehingga pengertian terhadap kata tersebut menjadi ambigu. Dalam PSAK no. 23 (2002) Revenue diartikan sebagai pendapatan dan Income adalah penghasilan. Revenue dan income memiliki hubungan karena dalam PSAK no. 23 disebutkan pendapatan (revenue) adalah penghasilan (income) yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda. Maka dapat disimpulkan bahwa income merupakan perolehan hasil suatu organisasi dari hasil kegiatan operasi-onalnya. Sedangkan revenue merupakan pendapatan yang diperoleh suatu organisasi baik dari kegiatan operasi-onalnya maupun dari kegiatan diluar operasional perusahaan. Agar tidak membingungkan, kita juga sering mende- ngar istilah profit dan earnings yang sering kita artikan sebagai laba juga. Earnings menurut Suwardjono (2005) lebih bermakna sebagai laba yang diaku- mulasi selama bebe-rapa periode sehingga earnings digunakan untuk menunjuk laba periode. Profit lebih mengarah pada pengertian awal laba, yaitu keuntungan. Melihat perbedaan bahasa tentang “laba” maka hubungan antara “laba” dan “keuntungan” semakin terlihat jelas. Berda- sarkan perbedaan tersebut, pendekatan “keuntungan” terhadap “laba” lebih tampak dalam bentuk “profit”. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, dalam dunia akuntansi, “Laba” bermakna pula sebagai sebuah “keuntungan”. Melihat hubungan ini, maka dapat diartikan bahwa salah satu arti dari “laba” adalah keuntungan. Namun, pemaknaan dari sudut pandang pedagang kaki lima, belum tentu “keuntungan” berarti sebagai “laba”. Pemaknaan dari sudut pandang yang berbeda inilah yang ingin ditangkap dalam penelitian ini. Pedagang Pedagang adalah spesialis dalam berniaga untuk barang dagangan tertentu. Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 68 (Sodikin, 2000) Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia (Hamzah,1996) pedagang adalah saudagar, orang yang berdagang. Berdagang adalah berjual beli. Dagang adalah usaha jual beli barang; niaga; jual beli barang untuk mendapatkan keuntungan; pekerjaan yang berhubugan dengan menjual dan membeli barang untuk memperoleh keuntungan. Macam-macam Pedagang Pedagang besar (Grosir) Adalah pedagang yang melakukan jual beli barang dalam jumlah besar atau pedagang yang membeli atau mendapatkan produk barang dagangan dari tangan pertama atau produsen secara langsung. Pedagang besar biasanya diberikan hak wewenang wilayah/ daerah tertentu dari produsen. Contoh dari agen tunggal adalah seperti ATPM atau singkatan dari Agen Tunggal Pemegang Merek untuk produk mobil. Pedagang Menengah (Agen) Agen adalah pedagang yang membeli atau mendapatkan barang dagangannya dari distributor atau agen tunggal yang biasanya akan diberi daerah kekuasaan penjualan/ perdagangan tertentu yang lebih kecil dari daerah kekuasaan distributor. Pedangan Eceran (Pengecer ) Pengecer adalah pedangan yang menjual barang yang dijualnya langsung ke tangan pemakai akhir atau konsumen dengan jumlah satuan atau eceran. Pedagang kecil (Retailer) Adalah pedagang yang menjual barang secara eceran langsung kepada konsumen. seperti: 1) Pedagang kaki lima (PKL) Adalah pedagang yang berjualan di pinggir jalan atau di tempat-tempat yang ramai dengan cara mendirikan tenda-tenda tidak permanen. seperti pedagang mie ayam, makanan dan lainnya. 2) Pedagang keliling Adalah pedagang yang menjajakan dagangannya dengan cara berke-liling dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti pedagang sayur, sate ayam madura, pedagang asongan dan lainnya. 3) Home industri Adalah mengusahakan atau mem- produksi barang hasil ketrampilan yang di lakukan di rumah-rumah penduduk. Seperti usaha konveksi, batik, kerajinan monel dan lainnya. Pedagang khusus (specialy seller) Adalah pedagang yang menjual barang-barang hasil produksi tertentu saja (Khusus). Pedagang jasa/biro Adalah badan/lembaga yang melayani jasa kepada masarakat. (Sodikin, 2000) Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terhadap pemaknaan laba sudah cukup banyak dilakukan dan beberapa penelitian juga dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sari (2010) dengan Judul Tarif “Keuntungan” Bagi Profesi Dokter. Salah satu penelitian yang membahas makna “laba” dari sudut pandang profesi adalah penelitian dilakukan oleh Subiantoro dan Triyuwono (2004) yang berjudul “Laba Humanis: Tafsir Sosial atas Konsep Laba dengan Pendekatan Herme- neutika”. Dalam penelitian ini, diungkapkan bahwa informan dengan profesi akuntan manajemen menggambarkan laba sebagai Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 69 selisih lebih pendapatan atas biaya sebagaimana ditemukan dalam teori, dan diartikan sebagai laba materi. Karena itu, diperlukan pemaknaan kembali dengan menggunakan pendekatan hermeneutika humanis yang berdasar pada dua aspek, yaitu aspek keadilan dan hakikat manusia. Penelitian-penelitian di atas menun- jukkan adanya usaha untuk memahami kata “laba” dengan cara yang berbeda-beda. Pemaknaan laba dari sudut pandang yang berbeda-beda juga memperkaya pemahaman kita mengenai sebuah kata (yang dirasa) penting, yaitu laba. Karena itu, pengem- bangan pemaknaan laba juga akan dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan “keuntungan” sebagai symbolnya dan dimaknai dari sudut pandang profesi peda- gang kaki lima. METODE PENELITIAN Lokasi dan jenis penelitian Berdasarkan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui makna keuntungan bagi pedagang kaki lima, maka lokasi penelitian ini dilakukan di pasar Bangsri, desa Bangsri, kecamatan Bangsri, kabupaten Jepara. Dan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuali- tatif. Penentuan Subjek Penelitian Subjek penelitian dipilih dengan menemui beberapa pedagang kaki lima yaitu satu sampai empat informan yang dapat memberikan informasi mengenai masalah yang akan diteliti. Penelitian yang dilakukan di sini, merupakan penelitian yang meng- gunakan paradigma non-positivistik untuk memahami konsep “keuntungan” dan meru- pakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi akan didapatkan setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian. Berdasarkan analisis tersebut, kemudian ditarik kesimpulan berupa pemahaman umum yang sifatnya abstrak tentang kenyataan yang terjadi (Sari, 2010). Penelitian ini berusaha untuk memahami makna sesuai dengan informasi yang diberikan oleh informan, karena penelitian ini merupakan analisis sosial yang menggunakan pendekatan subyektifisme, yang berusaha memahami keadaan apa adanya. Paradigma yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interpretif. Paradigma ini tidak dihasilkan teori organisasi apapun karena premis dari paradigma ini menganggap bahwa organisasi tidak lebih dari sekedar konsep yang diaktualisasikan. Penggunaan paradigma interpretif ini memberikan peluang agar diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai "keuntungan" dari sudut pandang yang berbeda dari manusia. Peneliti akan berusaha untuk memahami, bagaimana pandangan infor-man sendiri mengenai makna “keuntungan” dalam kehidupannya sebagai seseorang yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian ini, sumber data berasal dari catatan hasil wawancara dengan informan, pendalaman latar belakang informan, catatan hasil pengamatan serta dokumen-dokumen yang mungkin masih terkait dengan penelitian ini. Informan merupakan orang yang bersedia untuk memberikan informasi mendalam yang diperlukan dalam penelitian ini. Menurut Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 70 Sutopo (2003), sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah manusia yang menjadi narasumber atau informan. Untuk mengumpulkan informasi dari sumber data ini diperlukan teknik wawancara. Seperti telah dijelaskan di atas, penulis ingin memahami makna “keuntungan” bagi seseorang yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima. Hal ini diamati melalui informasi mendalam yang diberikan oleh informan yang didapat secara langsung (sumber primer) yang terekam baik melalui penca- tatan maupun dengan alat-alat elektronik. Untuk mempe-roleh data primer, peneliti berhubungan langsung dengan informannya. Tahap pertama, peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur yang dilakukan seperti bincang-bincang biasa untuk mengetahui informasi yang dimiliki infor- man tentang apa yang ingin diketahui oleh peneliti. Wawancara tidak terstruktur, sering pula disebut wawancara mendalam, dilakukan dalam suasana tidak formal dan dengan pertanyaan yang mengarah pada kedalaman informasi. Tahap yang kedua adalah pengumpulan dokumen-dokumen terkait. Dokumen-dokumen ini penting untuk mendukung hasil penelitian. Dari hasil pengumpulan data, peneliti berusaha menganalisis data-data yang telah dikum- pulkan dengan menggunakan metode hermeneutika. Setitik Pemahaman tentang Hermeneutika Intensionalisme Metode penelitian ini akan menggu- nakan metode hermeneutika. Hermeneutika merupakan sebuah cabang ilmu filsafat sebagai upaya untuk menafsirkan teks agar didapatkan suatu pemahaman. Hermenutika yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hermeneutika Intensionalisme. Melalui wawancara dan teks yang menjadi acuan dalam penelitian ini, peneliti ingin berupaya menafsirkan maksud yang terkandung dalam setiap ucapan serta bahasa yang digunakan oleh pemberi informasi. Penafsiran ini pada akhirnya akan memberikan sebuah pemahaman. Hermeneutika adalah sebuah cabang ilmu filsafat sebagai upaya untuk menaf- sirkan teks agar didapatkan suatu pema- haman. Hermeneutika adalah cara ataupun metode sang penafsir untuk menemukan makna tersembunyi di dalam teks (Palmer, 2005). Alasan penggunaan Hermeneutika Intensionalisme dalam penelitian ini adalah peneliti berusaha untuk menafsirkan dan menggali makna dalam teks atau perkataan informan dari apa yang dikatakan oleh bahasa maupun apa yang dipikirkan oleh informan. Tujuan awal dalam penelitian ini adalah ingin memahami makna “keuntungan” dengan menggunakan infor- masi yang berasal dari informan. Karena itu, penelitian ini akan berusaha untuk mengerti apa yang ingin disampaikan oleh informan dalam satu konteks pembahasan, yaitu pengertian “keuntungan” dalam sudut pandang seorang pedagang kaki lima. Dalam penelitian kualitatif, proses analisis tidak harus dilakukan menunggu selesainya proses pengumpulan data (Ludigdo, 2007). Maka, secara sistematis, proses analisis data ini akan dilakukan melalui tiga langkah. Pertama, peneliti akan mereduksi data. Langkah kedua, peneliti akan melakukan analisis hermeneutika dengan cara menafsirkan teks, bahasa, ekspresi para informan menjadi sebuah kesatuan dan dapat menghasilkan makna. Ketiga, peneliti akan menarik kesimpulan penelitian. Kesimpulan ini merupakan interpretasi dari hasil analisis yang dilakukan pada langkah kedua. Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 71 HASIL DAN PEMBAHASAAN Sebagai sebuah penelitian kualitatif, kehadiran informan menjadi sangatlah penting. Tanpa ada informan yang memiliki informasi-informasi mendalam yang dapat digali oleh peneliti, maka sebuah penelitian kualitatif juga tidak dapat terjadi. Pemilihan informan yang sesuai juga sangat penting. Latar belakang historis informan dan ada atau tidaknya pencatatan keuangan yang dilakukan menjadi pokok pertimbangan. Dengan berbagai pertimbangan kondisi, maka dipilihnya keempat informan yang dirasa mampu untuk memberikan informasi mendalam dan sesuai dengan konteks penelitian. Informan yang pertama adalah Ibu Kalipah yang tidak menyelesaikan sekolah dasar di Desa Kedung Leper Ampean. Beliau tidak memiliki catatan keuangan sejak dahulu sampai sekarang. Saat ini, Ibu Kalipah sedang berdagang di Bangsri yaitu sebagai pedagang kaki lima yang benjualan lontong, sego pecel dan lain-lain. Informan kedua yang dipilih adalah Ibu Istikomah. Ibu Istikomah hanya berpendidikan sampai jenjang SMP saja. Beliau adalah seorang pedagang kaki lima yang berasal dari Pecangaan, beliau di Bangsri berjualan kerang. Ibu Istikomah datang ke Bangsri ingin mencoba peruntungannya setelah lama di Pecangaan. Informan yang ketiga adalah Bapak Adi yang berasal dari Tegal. Bapak Adi hanya berjenjang lulusan MTs, dari dulu Bapak Adi sudah menjadi PKL, Bapak Adi di Bangsri berdagang martabak. Informan yang keempat adalah Bapak Baidi yang berasal dari Nganti, Bapak Baidi hanya berjejang lulusan SMP, dari dulu Bapak Baidi memang sudah berdagang cendol. Keempat informan ini dinilai cukup memberikan gambaran yang berbeda antara latar belakang kehidupan, tempat bekerja maupun pengalaman mereka. Dengan perbedaan tempat tinggal pula, tuntutan kehidupan juga akan berbeda. Seringkali disadari bahwa tuntutan kehidupan akan mengendalikan seluruh usaha manusia untuk pemenuhannya. Keempat informan ini dirasa mampu untuk memberikan perbedaan pemaknaan, namun dilihat dari sudut pandang yang sama, yaitu sudut pandang pedagang kaki lima. Mencari Makna Keuntungan Pedagang Kaki Lima Menurut Informan Pertama: Ibu Kalipah Ibu Kalipah adalah seorang pedagang kaki lima yang saat ini bekerja di daerah Bangsri yaitu dekat terminal Bangsri. Ibu Kalipah penjual lontong, sego pecel dan lain- lain. Ibu Kalipah tidak menyelesaikan sekolah dasar. Saat ini Ibu Kalipah berjualan sendiri karena anak-anaknya telah berkeluarga semua. Dengan usia 45 tahun Ibu Kalipah berjualan makanan dari jam 5 sore sampai jam 5 pagi, Ibu Kalipah berasal dari Desa Kedung Leper Ampean Bangsri yang setiap harinya berjualan di Bangsri, Ibu Kalipah telah lama berjualan di Bangsri kurang lebih 15 tahun. Sebelum Ibu Kalipah menjadi pedagang kaki lima Ibu kalipah pernah berjualan kelepon di Pasar tanpa memiliki sanak saudara Ibu Kalipah menjadi pedagang kaki lima, dengan bermula dari modal Rp. 400.000,00 (empat ratus ribu rupiah) Ibu Kalipah menjadi pedagang kaki lima, dan Ibu Kalipah berpenghasilan kotor rata-rata per hari Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) sampai Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah). Ibu Kalipah mengatakan keuntungan adalah “iso nyukupi keperluan sedino-dino lan iso digawe mangan. (dapat terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dan bisa dibuat makan).” Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 72 Dengan keberadaannya, tuntutan kehidupannya tentu tidaklah sebesar di kota- kota besar seperti yang ada. Lingkungan kehidupannya juga tidak menuntut kebutuhan uang yang melimpah. Kebutuhan hidup primer yang lebih banyak dipenuhi. Tentu saja dengan ditambah kebutuhan keluarganya. Ibu Kalipah tidak memiliki catatan hasil berdagangnya sejak beliau mulai berdagang. Sebagai seorang pedagang kaki lima, Ibu Kalipah berkata, “Alhamdulillah ko hasil nyisihake untung dagang iki aku iso nyekolahke anak-anakku pol kuliyah lan digawe nyukupi keperluan tiap dinane, karo digawe arisan, sumbangan lan liyo-liyane. (Alhamdulillah dari hasil penyisihan keuntungan dagang ini, saya bias menyekolahkan anak-anak saya sampai perguruan tinggi, dan memenuhi kebutuhan tiap hari, serta digunakan untuk arisan, sumbangan dan lain- lain)”. Penyisihan merupakan hasil dari pengurangan pendapatan terhadap biaya hidup yang harus dikeluarkan oleh Ibu Kalipah. Yang paling menarik dari kisah Ibu Kalipah adalah ketulusannya dalam mengembalikan apa yang menjadi milik Allah SWT. “Aku orak tau ngomong sumbangan atowo nyatet duwet seng tak tok’ke dalan Allah. Karena untungku ko Allah, dadi iku kabeh we’e Allah. (Saya tidak pernah bilang sumbangan atau mencatat uang yang saya keluarkan di Jalan Tuhan. Karena keuntungan yang saya dapatkan adalah dari tuhan, Jadi itu semua milik Tuhan)”. Dari hasil wawancara dengan informan pertama Ibu Kalipah “keuntungan” adalah dari hasil yang diperoleh setiap harinya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari makan, buat biaya pendidikan anak- anaknya, arisan sampai pada sumbangan (dana sosial). Karena Ibu Kalipah menganggap bahwa semua yang dipero- lehnya dari Tuhan, maka akan dikembalikan kepada Tuhan. Sehingga ini bisa diambil kesimpulan bahwa keuntungan dimaknai oleh Ibu Kalipah sebagai ketulusan dalam melangsungkan hidup baik untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Menurut Informan Kedua: Ibu Istikomah Ibu Istikomah merupakan seorang pedagang kaki lima yang sekarang bedagang di Bangsri, Ibu Istikomah berasal dari Pecangaan. Beliau berumur 27 tahun dan hanya berpendidikan sampai jenjang SMP saja. Serta telah bertempat tinggal di Bangsri kurang lebih 10 tahun, Ibu Istikomah di Bangsri berjualan kerang setiap harinya dari jam 6 sore sampai jam 11 malam, Ibu Istikomah telah berjualan selama 6 tahun di Bangsri, dengan modal Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) Ibu Istikomah memulai usaha PKL dengan berdagang kerang, sebelum Ibu Istikomah berjualan kerang beliau pernah membuat rempeyek dan di jual sendiri, Ibu Istikomah menjadi PKL karna pengha-silanya lumayan yaitu antara Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) sampai Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) setiap harinya, namun itu penghasilan kotor. Dan Ibu Istikomah mempunyai saudara juga yang menjadi PKL, Ibu Istikomah mengatakan keuntungan adalah “iso nyukupi keperluan sedino-dino wong sak omahku (dapat terpenuhinya kebutuhan sehari-hari keluargaku)”. Dalam kehidupan Ibu Istikomah, beliau tidak begitu mementingkan pencatatan penghasilanya dari jualan menjadi pedagang kaki lima, “Aku orak tau gawe catetan duwetku, tapi aku yo teko ileng kiro-kiro seng tak tokke sak dinone, Luwihe tak simpen. (Saya tidak pernah membuat catatan uang saya, tapi saya ingat kira-kira pengeluaran saya setiap hari. Sisanya buat simpanan saya)”, cerita ibu Istikomah. Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 73 Dalam pekerjaannya, hati nurani Ibu Istikomah juga sering terketuk oleh keadaan dirinya dan keluarganya yang kurang mampu. Oleh karena itu apabila masih ada sisa kerang yang tidak terjual biasanya diberikan ke orang atau tetangganya Ibu Istikomah, karena Ibu Istikomah mengetahui rasanya bagaimana menjadi orang yang tidak mampu sebagaimana ungkapan Ibu Istokomah: “Aku nek delok wong-wong orak duwe iku sa’ake, kadang tak wei duwet atowo siso dodolanku tapi mek sitik, seng penteng aku entok ganjaran ko Allah, iku wes ngawe aku puas. lan bantu membantu antar wong liyo kan perintah Allah. (Saya kalau melihat orang-orang yang tidak mampu itu kasihan, Kadang aku kasih uang atau sisa daganganku meskipun sedikit. Yang penting aku mendapat pahala dari Tuhan. Itu sudah membuat saya puas. Dan tolong menolong antar sesama kan perintah Tuhan)”. Cerita Ibu Istikomah. Hasil wawancara dengan informan yang kedua, yaitu Ibu Istikomah memaknai “keuntungan” ini tidak jauh dengan Ibu Kalipah bahwa keuntungan adalah hasil yang diperoleh bisa memenuhi kebutuhan keluarga setiap harinya. Karena Ibu Istikomah merasa bahwa dirinya tidak mampu dan juga memahami bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak mampu, maka ketika ada kesempatan untuk berbagi dengan orang yang tidak mampu meskipun sedikit rasanya sangat puas. Ibu Istikomah tidak berharap mendapatkan imbalan apapun kecuali pahala dari Tuhan, dan mendapatkan kepuasan ketika masih diberi kesempatan untuk menolong antar sesama. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa keuntungan dimaknai oleh Ibu Istikomah sebagai sebuah kepuasan batin, meskipun dia orang tidak mampu tetapi masih diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk bisa menolong antar sesama. Menurut Informan Ketiga: Bapak Adi Informan yang ketiga adalah Bapak Adi. Bapak Adi adalah seseorang yang telah cukup makan asam garam dalam kehidupannya sebagai seorang pedagang kaki lima. Bapak Adi berasal dari Tegal, dengan usia 53 tahun Bapak Adi mengadu nasib di Bangsri dengan berjualan martabak, Bapak Adi hanya berjenjang lulusan MTs, Bapak Adi sudah 9 bulan tingal di Bangsri dan juga sudah 9 bulan berdagang di Bangsri. Bapak Adi berdagang martabak setiap hari dari jam 4 sore sampai jam 11 malam, dengan pendapatan antara Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) sampai Rp. 350.000.00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) setiap harinya. Dari modal Rp. 3,5 juta Bapak Adi berdagang martabak, dari dulu Bapak Adi sudah menjadi PKL karna menguntungkan dan Bapak Adi juga punya saudara yang menjadi PKL di Semarang, Bapak Adi mengatakan keuntungan adalah “dengan tercukupinya buat makan setiap harinya”. Bapak Adi tidak memiliki catatan hasil berdagangnya sejak beliau mulai berdagang. “Saya tidak pernah mencatat semua pendapatan atau pengeluaran saya”, kata Bapak Adi. Bapak Adi memang sangat memperhatikan kebutuhanya karena menurutnya, Bayarlah apa yang menjadi kewajibanmu, yaitu kewajiban membayar iuran dagangannya dan jalankan apa perintah Tuhan”. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Bapak Adi untuk hidup jujur dan ikhlas pada semua aspek hidupnya. Lebih lanjut Bapak Adi juga mengatakan bahwa “kebutuhan setiap hari sudah saya rancang sendiri- sendiri. Mulai dari kebutuhan pribadi saya sampai pada kebutuhan keluarga saya. Sisanya saya simpan”. Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 74 Hasil wawancara dengan informan yang ketiga, yaitu Bapak Adi memaknai “keuntungan” ini tidak jauh dengan kedua informan diatas bahwa keuntungan adalah tercukupinya makan setiap hari. Tetapi bedanya Bapak Adi ini mempunyai prinsip dalam hidupnya yaitu “Bayarlah apa yang menjadi kewajibanmu, yaitu kewajiban membayar iuran dagangannya dan jalankan apa perintah Tuhan”. Dari prinsip hidup yang dimiliki Bapak Adi ini bisa diambil kesimpulan bahwa dalam hidup kita harus ingat dengan kewajiban kita, baik dari pengeluaran yang kita kelola maupun kewajiban kita terhadap perintah Tuhan. Karena Tuhan itu tidak pernah tidur dan apapun yang dijalankan manusia Tuhan selalu mengetahuinya, untuk itu sebuah kejujuran menjadi modal utama untuk kelangsungan hidup. Menurut Informan Ke-empat: Bapak Baidi Bapak Baidi adalah seorang pedagang kaki lima yang saat ini bekerja di daerah Bangsri. Bapak Baidi berjualan es cendol dan goreng-gorengan seperti bakwan, tahu sayur, mendowan dan lain-lain. Bapak Baidi hanya menyelesaikan sekolah sampai jenjeng SMP saja. Saat ini Bapak Baidi berjualan dengan istrinya. Diusia 62 tahun Bapak Baidi berjualan es cendol dan goreng-gorengan dari jam setengah delapan pagi sampai jam setengah delapan malam, Bapak Baidi berasal dari Desa Menganti yang setiap harinya berjualan di Bangsri, Bapak Baidi telah lama berjualan di Bangsri yaitu dari tahun 1968 sudah berdagang es cendol. Bapak Baidi dari dulu tidak pernah bekerja, pekerjaan Bapak Baidi adalah berdagang es cendol saja. Bapak Baidi tidak memiliki saudara yang menjadi pedagang kaki lima, dengan bermula dari modal Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) Bapak Baidi menjadi pedagang es cendol, dan Bapak Baidi berpenghasilan tidak tentu tapi rata-rata per hari Rp 20.000,00 (dua puluh ribu rupiah) sampai Rp. 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah). Dari hasil keuntungan penjualan tersebut Bapak Baidi mengartikan sebuah keuntungan adalah “Iso nyukupi keperluan sedino-dino lan iso digawe nyukupi keperluan anak’e. (dapat terpenuhinya kebutuhan sehari-hari dan bisa dibuat memenuhi kebutuhan anaknya)”. Bapak Baidi tidak memiliki catatan hasil berdagangnya sejak beliau mulai berdagang. Sebagai seorang pedagang kaki lima, Bapak Baidi berkata, “Seng penting iso nyukupi keperluan tiap dinone lan cukup kanggo mangan, nek soal simpenaku, aku orak utamaake tapi kanggoku simpenanku yo ndok anakku yoiku ilmu seng di golek nok sekolahan. (Yang penting dapat terpenuhinya kebutuhan tiap hari dan cukup untuk di makan, kalo soal tabungan, saya tidak utamakan tapi bagi saya tabungan saya adalah di anak yaitu ilmu yang di peroleh dari belajarnya disekolahan)”. Yang menarik dari kisah Bapak Baidi adalah keikhlasanya serta ketulu-sannya dalam mencari nafkah untuk anak-anaknya. “nek aku seng penting yo keluargaku, tak utama’ake anak-anakku, pie supoyo aku iso ngawe anak-anakku dadi uwong seng sukses lan ojo sampai anak-anakku dadi koyo aku, seng isane dodo es cendol. Aku dodol koyo ngene yo orak kanggo aku dewe tapi kanggo anak-anakku. Aku orak tau ngomong iku awehe atowo opo wae reng anakku. Aku yo orak nyatet duwet seng tak tokke kanggo anak-anakku. Aku anggep iku kabeh awehe ko gusti Allah kanggo anakku. Dadi aku orak tau nganggeb iku hakku. (Kalau saya yang terpenting adalah keluarga saya, terutama anak-anak saya, bagaimana supaya saya dapat membuat anak-anak saya menjadi orang yang berhasil dan jangan sampai anak-anak saya menjadi seperti saya, Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 75 yang hanya berjualan es cendol. saya berjualan seperti ini juga bukan untuk saya sendiri tapi untuk anak-anak saya. Saya tidak pernah bilang itu pemberian atau apa pun ke pada anak saya. Saya juga tidak mencatat uang yang saya keluarkan untuk anak-anak saya. Saya anggap itu semua pemberian dari Tuhan untuk anak saya. Jadi saya tidak pernah menganggap itu adalah hak saya)”. Hasil wawancara dengan informan yang ke-empat, Bapak Baidi memaknai “keuntungan” yaitu dapat terpenuhi kebu- tuhan sehari-hari dan bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dari hasil wawan- cara diatas Bapak Baidi ini yang dipentingkan dalam hidupnya adalah pendidikan buat anak-anaknya. Sembo- yannya, Bapak Baidi tidak menghendaki anak-anaknya seperti Bapaknya yaitu menjual es cendol. Sehingga pendidikan untuk anak adalah nomor satu, dengan harapan anaknya bisa berhasil. Bapak Baidi juga menganggap bahwa keuntungan yang diperoleh setiap harinya itu untuk anaknya, pemberian Tuhan untuk anaknya melalui dia (Bapak Baidi). Akhirnya informan yang terakhir bisa disimpulkan bahwa keuntungan diartikan sebagai sebuah keikhlasan demi pendidikan anak-anaknya agar menjadi orang yang berhasil. Empat Kehidupan dalam Sebuah Penafsiran Hermeneutika Intensionalisme Setiap manusia memiliki kehidupan dan kisahnya masing-masing. Tidak ada hal yang sama, namun dalam penelitian ini, kita dasarkan presepsi empat kehidupan manusia dalam sudut pandang profesi yang sama, yaitu profesi pedagang kaki lima. Dalam keempat kisah yang disampaikan diatas, terdapat persamaan dan perbedaan dalam setiap cerita yang dikisahkan. Salah satu pertanyaan mendalam kepada keempat informan kembali kepada pokok permasalahan penelitian ini. Ibu Kalipah, yang tidak memiliki catatan keuangan seluruh pendapatan dan pengeluaran. Menilai penyisihan atau simpanan keuntungan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Menurut Ibu Istikomah, Sisa keuntu- nganya dianggap sebagai simpanan. Sim- panan ini yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disaat dibutuhkan. Bapak Adi yang mengatakan, Sisa pendapatannya juga disimpan. Kemudian Bapak Baidi yang menyisishkan uangnya untuk keperluan anaknya. Dari keempat kisah tersebut, dapat ditangkap bahwa setiap informan menganggap sisa pendapatan dari hasil berdagang mereka adalah sebagai simpanan atau tabungan. Simpanan atau tabungan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka ataupun untuk kebutuhan tiba-tiba dimasa darurat. “Keuntungan” yang disebutkan diatas, dilihat dari sudut pandang para informan yang dianggap sebagai tabungan atau simpanan. Ini yang menjadi suatu makna “keuntungan” yang berkaitan dengan materi. Dimana tabungan dan simpanan adalah untuk kelangsungan kebutuhan hidupnya dikala sakit dan sudah tua semasa masih hidup di dunia. Namun, makna “keuntungan”tersebut tidak berhenti sampai disitu. Keempat pedagang kaki lima diatas memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Bapak Adi merupakan individu yang taat terhadap segala bentuk pengeluaran “wajib”. Hal ini ternyata terkait dalam pernyataannya, Bayarlah apa yang menjadi kewajibanmu, yaitu kewajiban membayar iuran dagangannya Dan jalankan apa perintah Tuhan. Keyakinan Bapak Adi untuk bertindak sejujur-jujurnya dilandasi oleh komitmennya dalam menjalankan apa yang dipercayainya. Hal ini menunjukkan Ahmad Ubaidillah, Sri Mulyani, Dwi Erlin Effendi, Makna Keuntungan Bagi Pedagang… 76 adanya sebuah “keuntungan” dari segi spiritual untuk menjalankan apa yang seharusnya memang menjadi perintah Tuhan. Hal ini sejalan dengan apa yang Ibu Kalipah katakan, Saya tidak pernah bilang sumbangan atau mencatat uang yang saya keluarkan di Jalan Tuhan. Karena keuntungan yang saya dapatkan adalah dari Tuhan, Jadi itu semua milik Tuhan. “Keuntungan” dari segi spiritual terlihat jelas dalam pembiacaraan dengan Ibu Istikomah, “Saya kalau melihat orang-orang yang tidak mampu itu kasihan, Kadang aku kasih uang atau sisa daganganku meskipun sedikit. Yang penting aku mendapat pahala dari tuhan. Itu sudah membuat saya puas. Dan tolong menolong antar sesama kan perintah Tuhan”. Dalam potongan pernyataan Bapak Baidi “Saya anggap itu semua pemberian dari tuhan untuk anak saya. Jadi saya tidak pernah menganggap itu adalah hak saya”. Keempat pendapat tersebut menunjukkan adanya kesamaan sudut pandang “keuntungan” spiritual yang semua tujuannnya dihubungkan dengan Tuhan dan mengedepankan kejujuran serta keikhlasan. “Keuntungan” kepuasan batin menjadi salah satu jenis keuntungan yang berhasil ditemukan. Dalam potongan pernyataan Ibu Istikomah, Saya kalau melihat orang-orang yang tidak mampu itu kasihan, Kadang aku kasih uang atau sisa daganganku meskipun sedikit. Yang penting aku mendapat pahala dari tuhan. Itu sudah membuat saya puas. Kepuasan batin ini dilihat dari kepuasan dimana Tuhan masih memberikan kesempatan bagi orang tidak mampu seperti Ibu Istikomah untuk berbagi dan tolong menolong antar sesama merupakan sebuah “keuntungan” yang penting bagi seorang pedagang kaki lima. “Keuntungan” kepuasan pribadi ini mungkin tidak akan sama dengan profesi lainnya. Setiap informan memiliki ceritanya sendiri- sendiri dalam makna “keuntungan”. PENUTUP Makna “keuntungan” yang terdapat dalam setiap kehidupan informan digali dan ditafsirkan sehingga menemukan titik terang. Dari keempat penafsiran tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga makna “keuntungan” dilihat dari sudut pandang profesi pedagang kaki lima. “Keuntungan materi” dalam bentuk simpanan atau tabu- ngan yang digunakan pula untuk memenuhi kebutuhan pribadi. “Keuntungan spiritual” terlihat dari kemauan para pedagang kaki lima untuk tetap memperhatikan perintah Tuhan atas semua perintah-Nya. “Keuntungan kepuasan batin” bisa membuat orang lain senang, meskipun sebagai pedagang kaki lima tetap menda- patkan kesempatan untuk berbagi. Mungkin pemaknaan “keuntungan” kepuasan batin dapat ditemui pada profesi lain, namun kepuasan batin dalam profesi pedagang kaki lima adalah kepuasan apabila dapat membuat hati orang lain senang. Ketiga pemaknaan “laba” ini muncul dari sudut pandang keempat pedagang kaki lima yang memiliki tuntutan dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Penelitian ini memang hanya difokuskan untuk melihat sudut pandang “keuntungan” dari profesi pedagang kaki lima. Penelitian ini memiliki keterbatasan bahwa hasil penelitian ini informannya masih kurang, mengingat jumlah pedagang kaki lima yang jumlahnya banyak. Selain itu, masih terbatasnya kajian-kajian lain sebagai pembanding dan referensi karena masih terbatasnya pemikir dan penelitian yang mengungkapkan makna dibalik keuntungan sesungguhnya, menyebabkan secara konsep- Jurnal Akuntansi & Investasi 14 (2), 65-77, Januari 2013 77 tual penelitian ini masih mengalami kendala kedalaman substansi. Hasil penelitian ini tidak menutup kemungkinan munculnya makna-makna lain yang belum terungkap dalam penelitian ini. Oleh karena itu, elaborasi yang lebih lanjut pada aspek yang lain perlu dilakukan. Sehingga untuk penelitian selanjutnya bisa menambah jumlah informan, dan menggunkan pende- katan dengan metode penelitian yang berbeda-beda juga dapat dikembangkan. DAFTAR PUSTAKA Ali, S. 2000. http;//Organisasi.org/jenis- macam-pedagang-distributor agen- grosir.com.7 januari 2011 ___________. 2000. Artikel tentang laba; http//Café-ekonomi. Blogspot. com/2009/09/artikel-tentang laba.html. 7 januari 2011 Belkaoui, A. R. 2000. Accounting Theory. Marwata dkk. (penerjemah).Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat. E. Palmer, Richard. 2005. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer diterjemahkan oleh Masnuri Hery dan Damanhuri dengan judul Hermeneutika; Teori Baru Mengenai Interpretasi. Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ahmad, H., A. Santoso. 1996. Kamus Pintar Bahasa Indonesian, Surabaya: Fajar Mulia. Harnanto. 2003. Akuntansi Perpajakan. Edisi Pertama, Yogyakarta: BPFE. Ikatan Akuntansi Indonesia. 2002. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta. Sari, D. P. 2010. Tarif Kentungan Bagi Profesi Dokter Dengan Pendekatan Hermeneutika Intensionalisme Jural Akunatansi Keuanagan dan Pasar Modal, Simposim Nasional Akuntansi 13. Purwokerto. Simamora, H. 2000. Akuntansi: Basis Pengambilan Keputusan Bisnis. Jakarta: Salemba Empat. Subiantoro, E. B., dan I. Triyuwono. 2004. Laba Humanis: Tafsir Sosial atas Konsep Laba dengan Pendekatan Hermeneutika, Malang: Bayumedia Publishing. Sutopo, H. B. 2003. Pengumpulan dan Pengolahan Data Penelitian Kualitatif, Dalam Metodologi Penelitian Kualitatif; Tinjauan Teoritis dan Praktis, Malang: Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang dan Visipress. Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Yogyakarta: BPFE. Wild, J. J., K. R. Subramanyan., dan R. E. Haley. 2003. Financial Statement Analysis (Analisis Laporan Keuangan). Jakarta: Salemba Empat.