BAB I Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 ISSN: 1411-6227 Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta Ifah Rofiqoh e-mail: ifahrofiqoh@gmail.com Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Yogyakarta ABSTRACT Research on the topic of the influence of economic and monetary crisis has been much written. This study also takes the topic of the crisis, but in this study to analyze the effect of the financial crisis on the performance of public companies in Indonesia that have been grouped into four industrial sectors in accordance with the Indonesian Capital Market Directory. In this study the ratio used is the ratio of liquidity, solvency (leverage), and profitability. While the selected samples are companies that do go public listing of the 1995, 1996, 1997 and 1998 with the assets at a medium level. Data from 1995 and 1996 represent the data prior to the crisis, while the 1997 data and 1998 data represents the time of the crisis. Parametric statistical analysis tool used is the T-test and Multivariate Analysis of Variance (MANOVA). The results showed that the average financial performance good liquidity, solvency, and profitability of public companies on the JSE has decreased during the financial crisis compared to the period before the crisis, and there was no significant difference mean financial ratio between the companies for each industry group. Keywords: Capital Market Directory, Liquidity, Solvency, Profitability, Monetary Crisis, Performance. ABSTRAK Penelitian dengan topik pengaruh krisis ekonomi dan moneter telah banyak ditulis. Penelitian ini juga mengambil topik tentang krisis, namun dalam penelitian ini menganalisis pengaruh krisis moneter terhadap kinerja perusahaan-perusahaan publik di Indonesia yang sudah dikelompokkan ke dalam empat sektor industri sesuai ketentuan dalam Indonesian Capital Market Directory. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah rasio likuiditas, solvabilitas (leverage), dan rentabilitas. Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 88 Sedangkan sampel yang dipilih adalah perusahaan-perusahaan go-public yang melakukan listing dari tahun 1995, 1996, 1997 dan 1998 dengan asset pada tingkat medium. Data tahun 1995 dan 1996 mewakili data sebelum krisis, sedangkan data tahun 1997 dan 1998 mewakili data saat terjadinya krisis. Alat analisis statistik parametrik yang digunakan adalah T- test dan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kinerja keuangan baik likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas perusahaan publik di BEJ mengalami penurunan pada masa krisis moneter dibandingkan masa sebelum krisis, dan tidak ada perbedaan yang signifikan mean rasio keuangan antar perusahaan- perusahaan untuk tiap-tiap kelompok industri. Kata Kunci: Capital Market Directory, Likuiditas, Solvabilitas, Rentabilitas, Krisis Moneter, Kinerja. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Sejak pertengahan tahun 1997 kawasan ASEAN dilanda krisis moneter yang menghantam hampir seluruh sektor perekonomian. Pengaruh krisis ini pertama kali menghantam sektor keuangan, sektor jasa dan akhirnya mempengaruhi secara signifikan sektor riil. Perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa yang go public di pasar modal merupakan pihak yang pertama kali merasakan dampak krisis moneter tersebut (Macfoedz; 1999) Kepanikan finansial menyebabkan terjadinya capital out flows di beberapa negara Asia, sehingga membuat nilai tukar mata uang serta indeks harga saham di negara-negara Asia tersebut merosot. Terpuruknya indeks harga saham tersebut merupakan cerminan dari jatuhnya harga saham perusahaan publik yang listed di bursa saham yang bersangkutan (Halim; 1999) Perusahaan go public merupakan perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat, oleh karena itu, operasi perusahaan yang efisien sangat mempengaruhi kinerja perusahaan dan akhirnya mempengaruhi apresiasi masyarakat pada perusahaan publik. Akibat krisis ekonomi perusahan yang go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) diduga akan merosot efisiensinya. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain: (Machfoedz; 1999) (1) Perusahaan yang go public pada umumnya menggunakan unsur elemen impor pada bahan bakunya. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 89 (2) Hampir seluruh perusahaan yang go public di BEJ mempunyai utang dalam bentuk dolar Amerika. (3) Kebanyakan perusahaan besar di Indonesia memperoleh proteksi dari pemerintah (4) Perusahaan yang go public di BEJ relatif menjual sahamnya dalam jumlah kecil (kurang dari 40 %); dengan demikian pengawasan oleh publik kurang efektif. Merosotnya nilai rupiah, lamanya perusahaan terproteksi,dan besarnya utang luar negeri, dimungkinkan menyebabkan adanya distorsi pada kinerja perusahaan. Likuiditas menjadi terganggu, disebabkan oleh rendahnya daya beli masyarakat untuk membeli produk perusahaan. Solvency perusahaan menjadi terganggu disebabkan oleh besarnya utang dalam bentuk dolar ketika dikonversikan ke dalam nilai rupiah, dan akhirnya akan berujung pada profitabilitas perusahaan. Dengan kondisi-kondisi tersebut di atas maka sangatlah masuk akal apabila perusahaan publik di Indonesia dipertanyakan efisiensinya ketika digoncang oleh krisis yang cukup parah sejak Juli 1997. Kinerja finansial yang paling umum digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan yaitu likuiditas, solvency atau solvabilitas, dan rentablitas atau profitabilitas. Likuiditas merupakan rasio finansial yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengantisipasi utang jangka panjang maupun utang jangka pendek tanpa mengganggu operasi perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang. Solvabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat resiko perusahaan dalam jangka panjang, sedangkan rentabilitas atau biasa juga disebut profitabilitas adalah rasio finansial yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan (Machfoedz; 1999) Rasio finansial digunakan untuk mengukur kinerja maupun tingkat efisiensi perusahaan karena terbukti secara empiris memiliki kemampuan untuk menjelaskan maupun memprediksi yang cukup tinggi. Memperhatikan begitu banyak kegunaan rasio finansial, timbul pertanyaan mengenai pengaruh krisis moneter terhadap efisiensi perusahaan publik yang ditunjukkan oleh rasio finansial. Pertanyaan tersebut muncul didorong oleh terpuruknya perekonomian Indonesia sejak tahun 1997 sebagai awal krisis moneter yang sudah pasti membawa perubahan bagi lingkungan usaha yang secara umum merugikan. Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 90 Hipotesis Penelitian Berdasarkan hasil penelitian Machfoedz (1999) sebelumnya dengan judul Pengaruh Krisis Moneter pada efisiensi Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta, dalam penelitian tersebut Machfoedz menggunakan data perusahaan manufaktur yang go publik selama tahun 1996 dan tahun 1997, alat analisis yang digunakan adalah T-test untuk tiap-tiap sektor industri tanpa memilih size, sehingga ada kemungkinan hasil kesimpulannnya bias. Hasil penelitian tersebut diketemukan secara signifikan perbedaan efisiensi kinerja perusahaan sebelum krisis moneter dan setelah krisis moneter, rasio yang digunakan adalah Return on Asset, Return on Equity, Current Ratio, Inventori Turn Over, Total Asset to Total Liabilities, dan Debt to Equity. Dari keenam rasio keuangan tersebut, hanya Debt to Equity Ratio dan Current Ratio yang menunjukkan perbedaan signifikan. Penelitian yang lain dilakukan oleh Halim (1999) dalam penelitian tersebut data yang digunakan adalah semua perusahaan yang listing di Bursa Efek Jakarta kecuali sektor industri Perbankan, Lembaga Kredit Non Bank, dan Perusahaan Sekuritas, alasannya karena ketiga kelompok perusahaan tersebut terdapat perbedaan elemen laporan keuangan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian tersebut, digunakan alat analisis Multivariate Analyisis of Variance (MANOVA), dengan menambah ukuran perusahaan menggunakan K-Means Cluster ke dalam tiga kelompok perusahaan yaitu perusahaan kecil, perusahaan menengah, dan perusahaan besar. Dari hasil penelitian, menunjukkan bahwa perusahaan yang berukuran kecil memiliki kinerja finansial yang lebih baik dibandingkan dengan kinerja perusahaan publik di BEJ yang berukuran sedang dan besar. Hal ini ditunjukkan oleh angka Current Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Return on Invesment yang lebih baik antara kelompok perusahaan publik di BEJ yang berukuran kecil dengan kelompok perusahaan publik lainnya di BEJ. Dalam penelitian ini juga akan diteliti topik yang sama, hanya di sini data yang digunakan merupakan laporan keuangan perusahaan sampel tahun buku 1995, 1996, 1997 dan 1998. Pemilihan keempat tahun buku tersebut karena mulai berlangsungnya krisis moneter di Indonesia adalah awal tahun 1997, dan pada tahun 1998 belum berakhir, sedangkan pemilihan tahun 1995 dan 1996 sebagai sampel sebelum krisis untuk menambah periode jendela karena ada kemungkinan periode tahun 1996 sudah ada indikasi krisis walaupun belum jelas. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah T-Test dan MANOVA, sedangkan rasio yang digunakan adalah Likuiditas yang Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 91 diproksikan dengan Current Ratio, Solvabilitas yang diproksikan dalam Debt to Equity Ratio, dan Rentabilitas yang diproksikan dalam Return on Invesment dan Return on Asset. Karena topik penelitiannya sama, maka hipotesis dalam bentuk alternatif yang dikembangkan untuk mengetahui pengaruh rasio keuangan dalam kelompok industri adalah: H1 : Tingkat efisiensi dalam bentuk likuiditas perusahaan pada saat krisis moneter lebih buruk dari tingkat efisiensi sebelum krisis moneter. H2 : Tingkat efisiensi dalam bentuk solvabilitas pada saat krisis moneter lebih buruk dari tingkat efisiensi sebelum krisis moneter. H3 : Tingkat efisiensi dalam bentuk profitabilitas pada saat krisis moneter lebih buruk dari tingkat efisiensi sebelum krisis moneter. Sehubungan dengan kelompok industri, secara intuitif dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan rasio finansial antara kelompok industri, untuk itu diajukan hipotesis alternatif mengenai hubungan antara rasio finansial sebagai proksi kinerja finansial dengan kelompok industri sebagai berikut: H4 : Terdapat perbedaan tingkat likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas diantara perusahaan dalam kelompok-kelompok industri. Selanjutnya diduga besarnya pengaruh krisis moneter terhadap kinerja finansial akan berbeda diantara kelompok-kelompok industri. Oleh karena itu diajukan hipotesis alternatif sebagai berikut: H5 : Terdapat perbedaan pengaruh krisis moneter terhadap kinerja finansial diantara perusahaan dalam kelompok-kelompok industri. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metodologi yang meliputi pengambilan sampel dari populasi, penggunaan analisis statistik, serta pemilihan variable. Populasi dan sampel Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder. Populasi yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang telah go publik sebelum 1995 yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Direktory. Sampel dari penelitian adalah perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan tahunan untuk tahun buku 1995, 1996, 1997 dan 1998 yang dipilih secara purposive dengan ketentuan: Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 92 (1) Perusahaan harus menerbitkan laporan keuangan untuk empat tahun berturut-turut yaitu tahun 1995, 1996, 1997 dan 1998. (2) Perusahaan dipilih dengan ketentuan jumlah assetnya ada ditingkat medium, tidak pada rangking sangat besar atau sangat kecil dengan cara merangking asset terlebih dahulu. (3) Perusahaan harus menjadi anggota sektor yang dipilih menjadi sample, menurut Machfoedz (1999) ada empat sektor yaitu: a. Sektor 1 terdiri dari: cement, ceramic and porcelain, metal and allied product, chemicals, plastics, wood industries, and pulp and paper. b. Sektor 2 terdiri dari machinery, automotive and component, textile, foot wear,and cable. c. Sektor 3 terdiri dari; food and beverages, tobacco, pharmaceuticals, cosmetic and household, and houseware. d. Sektor 4 terdiri dari property and real estate, building construction, telecomunication, transportation, durable goods, and computer. Dari kualifikasi tersebut dipilih 42 perusahaan terdiri dari : 8 perusahaan sektor satu, 13 perusahaan sektor dua, 13 perusahaan sektor tiga, dan 8 perusahaan sektor empat. Data yang dikumpulkan 4 tahun sehingga keseluruhan sampel yang digunakan adalah pooled data selama empat tahun. Jumlah data pooled 84 perusahaan mewakili periode sebelum krisis dan 84 perusahaan mewakili periode krisis. Penggunaan Analisis Statistik dan Pemilihan Variabel Sebagaimana telah disebutkan diatas, penelitian ini menggunakan model MANOVA sebagai alat analisis statistik. Namun sebelum menerapkan model tersebut, terlebih dahulu dilakukan pengujian statistik yang meliputi: pengujian asumsi data variabel dependen, dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menguji normalitas data, selanjutnya dilakukan analisis Deskriptive untuk menguji hipotesis 1 sampai dengan 3, T-Test dengan Paired Sampel T-test untuk menguji hipotesis 4, selanjutnya untuk menguji hipotesis 5 dengan mondel MANOVA. ANALISA DATA Persiapan Penelitian Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan analisis data adalah, mengumpulkan data sampel penelitian. Sampel yang dipilih adalah perusahaan go-publik yang melakukan listing dari tahun 1995, 1996, 1997 dan 1998, Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 93 dengan asset pada tingkat medium. Untuk mendapatkan perusahaan yang mempunyai asset medium tersebut dengan cara merangking asset semua perusahaan yang listing pada periode tersebut, kecuali sektor industri perbankan, lembaga kredit non bank, dan perusahaan sekuritas, karena terdapat perbedaan elemen laporan keuangan. Perusahaan sampel sebanyak 42 perusahaan. Langkah berikutnya adalah menentukan rasio yang akan digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Rasio yang digunakan adalah Current ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Asset, dan Return On Invesment. Rasio tersebut sudah ada pada Indonesian Capital Market Direktory. Hasil Penelitian Data penelitian yang digunakan memiliki desain dan distribusi kelompok industri serta rasio sebagaimana diperlihatkan pada tabel 1 Tabel 1 Desain data penelitian Krisis (X1) Kinerja Kelompok industri (X2) Total Sektor 1 (X21) Sektor 2 (X22) Sektor 3 (X23) Sektor 4 (X24) Masa Sebelum Krisis (X11) (1995) CR (Y1) DER (Y2) ROI (Y3) ROA (Y4) n = 8 n = 13 n = 13 n = 8 n = 42 Masa Sebelum Krisis (X11) (1996) CR (Y1) DER (Y2) ROI (Y3) ROA (Y4) n = 8 n = 13 n = 13 n = 8 n = 42 Total n = 16 n = 26 n = 26 n = 16 n = 84 Masa Krisis (X12) 1997 CR (Y1) DER (Y2) ROI (Y3) ROA (Y4) n = 8 n = 13 n = 13 n = 8 n = 42 Masa Krisis (X12) 1998 CR (Y1) DER (Y2) ROI (Y3) ROA (Y4) n = 8 n = 13 n = 13 n = 8 n = 42 Total n = 16 n = 26 n = 26 n = 16 n = 84 Total n = 32 n = 52 n = 52 n = 32 n = 168 Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 94 Hasil ringkasan pengujian normalitas dengan pengujian Kolmogorov Smirnov dengan program SPSS sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Statistik Uji Normalitas Data Variabel Dependen pada Faktor Kelompok Industri Rasio Industri K-S Z 2-Tailed P Current Ratio (X) Kelompok 1 1,6801 0,0071 Kelompok 2 1,8043 0,0030 Kelompok 3 1,6261 0,0101 Kelompok 4 1,1281 0,1568 Debt to Equity Ratio (X) Kelompok 1 0,9053 0,3854 Kelompok 2 1,7884 0,0033 Kelompok 3 1,0533 0,2172 Kelompok 4 1,1099 0,1701 Return On Invesment (%) Kelompok 1 1,1999 0,1123 Kelompok 2 1,0411 0,2285 Kelompok 3 0,7077 0,6984 Kelompok 4 0,8402 0,4804 Return On Asset (%) Kelompok 1 0,9557 0,3205 Kelompok 2 0,9502 0,3272 Kelompok 3 0,9680 0,3059 Kelompok 4 0,8154 0,5193 Total Probabilitas 3,9455 Rata-rata 0,24659375 Tabel 3 Hasil Statistik Uji Normalitas Data Variabel Dependen pada Faktor Krisis Rasio Krisis Moneter K-S Z 2-Tailed P Current Ratio (X) Sebelum Krisis 2,2004 0,0001 Setelah Krisis 1,4758 0,0257 Debt to Equity Ratio (X) Sebelum Krisis 1,3626 0,0488 Setelah Krisis 2,3283 0,0000 Return On Invesment (%) Sebelum Krisis 0,9420 0,3374 Setelah Krisis 1,4166 0,0361 Return On Asset (%) Sebelum Krisis 1,5461 0,0168 Setelah Krisis 1,4127 0,0369 Total Probabilitas 0,5018 Rata-rata 0,062725 Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 95 Dari hasil perhitungan pada tabel 2 dan 3 rata-rata probabilitasnya adalah 0,24659375 dan 0,062725 semuanya lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa baik hasil perhitungan menurut faktor krisis maupun faktor kelompok industri distribusinya normal sehingga analisis T-test dan ANOVA bisa dikerjakan. Tabel 4 Statistik Deskriptif untuk Faktor Krisis Rasio Krisis Moneter Deskriptif Statistic Standar Error Current Ratio (X) Sebelum Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 1,981 1,943 3,777 4,397 26,151 0,263 0,520 Setelah Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 1,590 0,970 0,940 1,520 3,013 0,263 0,520 Debt to Equity Ratio (X) Sebelum Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 1,161 1,033 1,066 1,553 2,604 0,263 0,520 Setelah Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 2,400 3,459 11,967 3,756 17,844 0,263 0,520 Return On Invesment (%) Sebelum Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 0,093 0,071 0,005 0,717 0,028 0,263 0,520 Setelah Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 0,051 0,110 0,012 0,378 2,331 0,263 0,520 Return On Asset (%) Sebelum Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness 0,175 0,153 0,023 1,769 0,263 Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 96 Rasio Krisis Moneter Deskriptif Statistic Standar Error Kurtosis 4,180 0,520 Setelah Krisis Mean Std. Dev Variance Skewness Kurtosis 0,064 0,287 0,082 -1,992 8,722 0,263 0,520 Tabel 5 Statistik Deskriptif untuk Faktor Kelompok Industri Rasio Industri Deskriptif Statistic Standar Error Current Ratio (X) Sektor 1 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 2,415 2,466 4,793 25,268 0,414 0,809 Sektor 2 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 1,495 0,982 1,610 2,151 0,414 0,809 Sektor 3 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 1,672 1,261 2,029 3,703 0,330 0,650 Sektor 4 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 1,812 1,534 2,005 4,670 0,414 0,809 Debt to Equity Ratio (X) Sektor 1 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,885 0,667 0,917 -0,117 0,414 0,809 Sektor 2 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 3,063 4,161 3,078 11,533 0,330 0,650 Sektor 3 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 1,505 1,305 1,811 4,047 0,330 0,650 Sektor 4 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 1,040 0,982 1,610 2,151 0,414 0,809 Return On Invesment (%) Sektor 1 Mean 0,084 Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 97 Rasio Industri Deskriptif Statistic Standar Error Std. Dev Skewness Kurtosis 0,088 2,350 7,620 0,414 0,809 Sektor 2 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,051 0,085 0,699 0,340 0,330 0,650 Sektor 3 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,097 0,086 -0,219 0,792 0,330 0,650 Sektor 4 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,053 0,118 -0,542 -0,321 0,414 0,809 Return On Asset (%) Sektor 1 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,138 0,116 1,895 6,013 0,414 0,809 Sektor 2 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,065 0,209 -0,993 1,458 0,330 0,650 Sektor 3 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,211 0,232 -0,126 1,404 0,330 0,650 Sektor 4 Mean Std. Dev Skewness Kurtosis 0,089 0,164 -1,001 3,572 0,421 0,821 Tabel 6 Mean keseluruhan perusahaan sampel Rasio Mean Sbl Krisis Mean Krisis Naik (Turun) Corr t- value Prob Diterima / ditolak CR 1,9813 1,5896 (turun) 0,341 1,94 0,056 diterima DER 1,1612 2,3995 (turun) 0,780 -4,15 0,000 ditolak ROI 0,0927 0,0511 (turun) 0,277 3,37 0,001 ditolak ROA 0,1755 0,0640 (turun) 0,312 3,65 0,000 ditolak Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 98 Dari tabel 6 bisa diketahui bahwa seluruh indikator efisiensi perusahaan mengalami penurunan (tanda naik untuk Debt to Equity Ratio juga menunjukkan makin tidak efisiennya perusahaan). Dari tabel tersebut juga bisa dilihat bahwa current ratio atau hipotesis nul 1 bisa diterima dan hipotesis alternatif 1 ditolak, sedangkan untuk hipotesis nul yang lain ditolak karena angka yang menunjukkan probabilitas > 0,05 hanya current ratio. Dari hasil tersebut dengan adanya krisis moneter perusahaan di BEJ masih mampu membayar hutang jangka pendeknya. Hal ini disebabkan oleh kecukupan aktiva lancar yang belum terdistorsi selama delapan belas bulan sejak krisis tersebut sedangkan rasio yang lain menunjukkan penurunan yang signifikan. Hasil Correlation menunjukkan secara positip keadaan krisis mempengaruhi kinerja perusahaan publik, yang paling kuat terpengaruh adalah kinerja jangka panjang yang tercermin dalam Debt to Equity Ratio, yaitu lebih dari 50%, sedangkan rasio yang lain kurang dari 50%. Hal ini disebabkan adanya ketidakpastian kinerja jangka panjang, terutama banyaknya biaya-biaya yang tidak bisa dikendalikan, termasuk biaya bunga. Tabel 7 Mean per sektor industri perusahaan sampel Rasio Sektor Mean Sbl Krisis Mean Krisis Naik / Turun t - value Prob Diterima / ditolak CR Sektor 1 2,7681 2,0612 Turun 0,86 0,404 Diterima Sektor 2 1,4350 1,5554 Naik -0,54 0,596 Diterima Sektor 3 1,8700 1,4750 Turun 1,47 0,154 Diterima Sektor 4 2,2631 1,3600 Turun 2,55 0,022 Ditolak DER Sektor 1 0,8688 0,9325 Turun -0,55 0,590 Diterima Sektor 2 1,6381 4,4873 Turun -3,21 0,004 Ditolak Sektor 3 1,1065 1,9031 Turun -2,41 0,024 Ditolak Sektor 4 0,7675 1,3119 Turun -2,85 0,012 Ditolak ROI Sektor 1 0,1336 0,0462 Turun 3,68 0,002 Ditolak Sektor 2 0,0977 0,0059 Turun 3,06 0,005 Ditolak Sektor 3 0,1379 0,0559 Turun 4,85 0,000 Ditolak Sektor 4 0,0694 -0,0278 Turun 2,52 0,023 Ditolak ROA Sektor 1 0,1601 0,0442 Turun 2,48 0,026 Ditolak Sektor 2 0,1661 -0,0357 Turun 3,78 0,001 Ditolak Sektor 3 0,2944 0,0839 Turun 5,24 0,000 Ditolak Sektor 4 0,1064 -0,1721 Turun 3,02 0,009 Ditolak Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 99 Dari tabel 7 bisa diketahui bahwa hasil analisis tiap sektor pada perusahaan sampel secara keseluruhan, indikator efisiensi perusahaan mengalami penurunan kecuali current ratio pada sektor 2, (tanda naik untuk Debt to Equity Ratio juga menunjukkan makin tidak efisiennya perusahaan). Dari tabel tersebut juga bisa dilihat bahwa semua hipotesis nul ditolak kecuali current ratio baik untuk sektor 1, sektor 2 dan sektor 3 dan debt to equity ratio pada sektor 1, sedangkan untuk hipotesis nul yang lain ditolak karena sebagian besar angka probabilitas menunjukkan < dari 0,05. Dari hasil tersebut dengan adanya krisis moneter perusahaan di BEJ masih mampu membayar hutang jangka pendeknya kecuali sektor 4, bahkan untuk sektor 1 masih mampu membayar hutang jangka panjangnya. Hal ini disebabkan oleh kecukupan aktiva lancar yang belum terdistorsi selama delapan belas bulan sejak krisis tersebut, bahkan untuk sektor satu masih tetap mampu membayar hutang jangka panjangnya. Sedangkan rasio yang lain menunjukkan penurunan yang signifikan. Tabel 8 Uji Multivariate Signifikan Model Effect Test Statistic Value Approx. F Hypoth Sig. of F Sektor Pillais 0,25398 3,67650 0,000 Hotellings 0,28669 3,71896 0,000 Wilks 0,76367 3,71605 0,000 Roys 0,13803 Krisis Pillais 0,08681 3,73105 0,006 Hotellings 0,09506 3,73105 0,006 Wilks 0,91319 3,73105 0,006 Roys 0,08681 Krisis by Sektor Pillais 0,14206 1,97590 0,025 Hotellings 0,15221 1,97445 0,025 Wilks 0,86329 1,97910 0,025 Roys 0,08458 Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 100 Tabel 9 Uji Univariate Signifikan Model Effect Variabel F Sig. of F Sektor CR 2,57399 0,056 DER 7,88478 0,000 ROI 5,45897 0,001 ROE 2,88093 0,038 Krisis CR 3,829092 0,052 DER 7,87244 0,006 ROI 8,31084 0,004 ROE 6,22827 0,014 Krisis by Sektor CR 0,91375 0,436 DER 3,07614 0,029 ROI 1,13644 0,336 ROE 1,73427 0,162 Dari hasil perhitungan Multivariate pada tabel 8 terlihat bahwa semua variabel dependen memiliki mean yang berbeda pada setiap level untuk masing- masing faktor, yaitu krisis dan sektor secara terpisah. Hal ini ditunjukkan dengan p-value 0 atau mendekati 0. Pengaruh level dari masing-masing faktor secara terpisah, hasil uji untuk pengaruh level interaksi kedua faktor terhadap variabel dependen tidak menunjukkan angka signifikan, yaitu dengan p-value dibawah 0,05. Hal ini dapat disimpulkan interaksi antara kedua faktor tidak ada membedakan variabel dependen untuk setiap levelnya. Dengan kata lain tidak ada interaksi antara kedua faktor dalam membedakan dependen variabel pada setiap levelnya. Dengan tidak adanya interaksi antara faktor krisis moneter dengan faktor kelompok industri maka hipotesis 5 tidak terbukti. Artinya perbedaan kelompok industri tidak membedakan pengaruh krisis moneter, dalam arti berbeda arah, bagi kinerja perusahaan. Secara univariate pada tabel 9 uji signifikansi pengaruh level faktor krisis pada keempat variabel dependen secara umum memberikan hasil yang signifikan. Namun untuk variabel current ratio (CR), tingkat signifikansinya tidak kuat karena p-value = 0,56 lebih besar dari 5%, ini berarti perbedaan current ratio antara sebelum krisis dengan setelah krisis menjadi besar, dan proporsi variansi current ratio yang disebabkan oleh terjadinya krisis sangat kecil. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 101 PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan analisis terhadap hasil penelitian, dapat diperoleh beberapa kesimpulan berkaitan dengan hipotesis yang diajukan. Kesimpulan tersebut meliputi: (1) Secara umum kinerja finansial yang ditunjukkan dengan rasio finansial dari perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta mengalami penurunan pada masa krisis moneter dibandingkan sebelum krisis moneter terjadi. (2) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta di masa krisis terutama pada tingkat kemampuan menghasilkan laba yang ditunjukkan dengan adanya penurunan Return On Invesment dan Return On Asset secara signifikan. Kesimpulan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya (Machfoedz, 1999 dan Halim, 1999) (3) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta juga ditunjukkan dengan meningkatnya angka Debt to Equity Ratio pada masa krisis dibandingkan sebelum krisis. Hal ini menunjukkan bahwa risiko jangka panjang perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta meningkat ketika krisis moneter terjadi. Kesimpulan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya (Machfoedz, 1999 dan Halim, 1999) (4) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dalam hal tingkat likuiditas yang ditunjukkan oleh current ratio dimasa krisis terbukti, tapi tidak signifikan. Berarti dengan adanya krisis moneter perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta masih mampu membayar hutang jangka pendeknya, hal ini disebabkan oleh kecukupan aktiva lancar yang belum terdistorsi selama delapan belas bulan sejak krisis terjadi. (5) Seluruh kelompok perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta, baik dalam kelompok sektor 1, sektor 2, sektor 3, dan sektor 4, mengalami penurunan kinerja finansial dimasa krisis dibandingkan dengan kinerja finansial sebelum krisis moneter terjadi. (6) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta untuk semua sektor di masa krisis terutama pada tingkat kemampuan menghasilkan laba yang ditunjukkan dengan adanya penurunan Return On Invesment dan Return On Asset secara signifikan. (7) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta untuk semua sektor juga ditunjukkan dengan meningkatnya angka Debt to Equity Ratio pada masa krisis dibandingkan sebelum krisis. Hal ini Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 102 menunjukkan bahwa resiko jangka panjang perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta meningkat ketika krisis moneter terjadi, kecuali untuk sektor 1. Pada sektor 1 walaupun terjadi penurunan, tapi pengaruhnya tidak signifikan. Untuk sektor 1 ini berarti tidak konsisten dengan hasil perhitungan secara keseluruhan. (8) Penurunan kinerja finansial perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta untuk semua sektor dalam hal tingkat likuiditas yang ditunjukkan oleh current ratio dimasa krisis terbukti, tapi tidak signifikan. Bahkan untuk sektor 2 menunjukkan kenaikan, berarti dengan adanya krisis moneter perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta masih mampu membayar hutang jangka pendeknya, hal ini disebabkan oleh kecukupan aktiva lancar yang belum terdistorsi selama delapan belas bulan sejak krisis terjadi. (9) Hasil Correlation menunjukkan secara positip keadaan krisis mempengaruhi kinerja perusahaan publik, yang paling kuat terpengaruh adalah kinerja jangka panjang yang tercermin dalam Debt to Equity Ratio, yaitu lebih dari 50%, sedangkan rasio yang lain kurang dari 50%. Hal ini disebabkan adanya ketidakpastian kinerja jangka panjang, terutama banyaknya biaya-biaya yang tidak bisa dikendalikan, termasuk biaya bunga. (10) Kelompok sektor 4 meliputi properti, real estate, building contruction dimasa krisis terbukti merupakan perusahaan yang mengalami penurunan paling parah, termasuk dalam hal tingkat likuiditas yang ditunjukkan oleh current ratio. Keterbatasan Banyak keterbatasan dari penelitian ini yang bisa ditemukan, mengingat penelitian ini menguji dampak ekonomi makro pada lingkungan mikro. Diantara keterbatasan tersebut adalah: 1. Perusahaan yang digunakan sebagai sampel adalah perusahaan dari berbagai macam level aset dan ekuitas, sehingga ada kemungkinan terdapat size effect yang tidak terakomodasikan dalam model analisis. 2. Peneliti sudah memberikan testing penjelasan pada empat sektor untuk mengurangi pengaruh industri, namun setiap sektor masih meliputi beberapa industri yang mungkin mempunyai karakteristik yang berbeda. 3. Kinerja finansial hanya diwakili oleh empat buah rasio keuangan, bisa jadi rasio finansial lainnya lebih signifikan perubahannya untuk setiap level faktor. Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 2 No. 2, hal: 87-104, Juli 2001 103 Saran Bagi peminat penelitian untuk mengetahui manfaat laporan keuangan, penelitian ini bisa memperhitungkan pengaruh besaran perusahaan yang bisa ditentukan berdasarkan skala aset atau ekuitas, atau bisa dengan menambah pengaruh industri, maka akan menambah informasi tentang industri apa yang paling rentan kinerja keuangan dan industri mana yang paling kuat. DAFTAR PUSTAKA Abdul Halim, dan Nasuhi Hidajat, 1999. Pengaruh Krisis Moneter dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Finansial Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta-Suatu Penerapan Multivariate Analysis of Variance, KOMPAK, Juli, hal 311-337. Hair, J.F, Jr. R.E Anderson, R.L Tathan, dan W.C Blank, Multivariate Data Analysis-With Reading, 4 th ed, Engelwood Cliffs, New Jersey : Prentince- Hall, Inc. Indonesian Capital Market Direktory 1996. 8th ed., Vol I dan II, Jakarta : Institute For Economic and Financial Research. Indonesian Capital Market Direktory 1999. 9 th ed., Vol I dan II, Jakarta : Institute For Economic and Financial Research. Mas’ud Machfoedz, 1989. Akuntansi Manajemen, Edisi 4, Buku satu, Yogyakarta: BPFE UGM. ------------------------, 1994. Manfaat Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Earning di Indonesia, KELOLA, September, hal 12-28. ------------------------, 1998. Financial Ratio dan Ukuran Kinerja Perusahaan Dalam Perangkat dan Teknik Analisis Investasi di Pasar Modal Indonesia, PT Bursa Efek Jakarta. ------------------------, 1999. Studi Efisiensi Perusahaan Sebelum dan Sesudah Krisis Moneter di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, No. 1, hal 36-49. Michael R. Tyran, 1986. Hand Book of Business and Financial Ratios, Engelwood Cliffs, New Jersey : Prentince-Hall, Inc. Singgih Santoso, 2000. SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional, Jakarta, PT Elex Media Komputindo, Kelompok Gramedia. Ifah Rofiqoh - Pengaruh Krisis Moneter Terhadap Kinerja… 104 LAMPIRAN No Sektor 1 No Sektor 4 1 Indah Kiat Pulp 1 Petrosea 2 Tjiwi Kimia 2 Bakrieland Development 3 Ekadharma Tape 3 Bhuwannatala 4 Berlina 4 Jaya Real Property 5 Dynaplast 5 Indosat 6 Igarjaya 6 Telkom 7 Citra Tubindo 7 Berlian Laju Tanker 8 Lion Metal 8 Centris Multi Persada No Sektor 2 No Sektor 3 1 Astra International 1 Aqua Golden Mississippi 2 Goodyear 2 Davomas Abadi 3 Modern Photo Film 3 Delta Djakarta 4 Astra Graphia 4 Fast Food Indonesia 5 Komatsu Indonesia 5 Multi Bintang Indonesia 6 Texmaco Perkasa 6 Sari Husada 7 Century Textile 7 Sinar Mas (SMART Corp.) 8 Eratex Djaja 8 Ultra Jaya Milk 9 Panasia Filament 9 BAT Indonesia 10 Roda Vivatex 10 Merck Indonesia 11 Teijin Indonesia 11 Tancho Indonesia 12 Texmaco Jaya 12 Unilever Indonesia 13 Sepatu Bata 13 Mustika Ratu