PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN DAN KEPUTUSAN KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 8 No. 2, hal: 167-180, Juli 2007 Terakreditasi Berdasarkan SK No.34/DIKTI/Kep/2003 Pengaruh Keputusan Keuangan dan Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan Muhammad Akbar* & Lela Hindasah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta *muhammadakbar179@yahoo.com ABSTRACT This research examines the effect of financial decision (debt policy, dividend policy and investment) and ownership structure (insider ownership and institutional ownership) to firm value. This study used 96 firm-year samples of firms listed in Indonesian Stock Exchange during 2002 until 2006. Data are analyzed using multivariate regression method. The result of this research indicated that the debt policy, dividend policy, insider ownership are not significantly affect to the firm value. The effect of investment to firm value is positively significant but institutional ownweship is negatively significant. Keywords: Debt, Dividend, Investment, Insider Ownership, Institutional Ownership, Firm Value. PENDAHULUAN Tujuan perusahaan adalah memak- simalkan nilai perusahaan (Brigham, 2000). Semakin tinggi nilai perusahaan menggam- barkan semakin sejahtera pula pemiliknya. Tujuan perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan fungsi manajemen keuangan dengan hati-hati dan tepat mengingat setiap keputusan keuangan yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan yang lainnya yang berdampak terhadap nilai perusahaan. Manajemen keuangan menyan- gkut penyelesaian atas keputusan penting yang diambil perusahaan, antara lain keputusan investasi, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen. Ketiga keputusan keuangan tersebut secara bersama-sama menentukan nilai perusahaan. Suatu kombi- nasi yang optimal atas ketiganya akan me- maksimumkan nilai perusahaan yang selan- jutnya akan meningkatkan kemakmuran kekayaan pemegang saham. Keputusan- keputusan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainya, sehingga kita harus memperhatikan dampak bersama dari ketiganya terhadap harga pasar saham perusahaan (Hasnawati, 2005). Selain keputusan keuangan struktur kepemilikan dalam teori keagenan meru- pakan mekanisme untuk mengontrol biaya keagenan sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Agrawal dan Knoeber,1996; Himmelberg dan Palia,1999; Bathala dkk,1994). Kepemilikan pihak dalam (insider ownership) dan kepemilikan insti- tusional dapat digunakan sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan antara peme- gang saham dan manajer. Kepemilikan insti- tusional menyebabkan pengawasan terhadap manajer menjadi lebih baik, pemilik institusi itu akan sangat berkepentingan terhadap kinerja perusahaan. Kepemilikan saham oleh insider dapat mengatasi masalah keagenan dalam perusahaan (Jensen dan Meckling 1976). Dengan kepemilikan saham oleh manajer atau insider maka manajer akan menanggung konsekuensi kemakmuran atas tindakannya (Bathala dkk, 1994). Dengan demikian kepemilikan saham oleh manajer merupakan insentif bagi manajer untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan meng- gunakan utang dengan optimal sehingga meminimalkan biaya keagenan dan hal ini akan mempengaruhi nilai perusahaan. 168 dari 180 Begitupun dengan kepemilikan institu- sional. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha penga- wasan yang lebih besar oleh investor institu- sional sehinga dapat mengurangi perilaku oportunistik dan perquisites manajer. Menurut Agrawal dan Knoeber (1996) konsentrasi kepemilikan saham oleh institusi atau blockholders dapat menambah penga- wasan pada manajer sehingga mening- katkan kinerja perusahaan. Penelitian ini berdasarkan penelitian- penelitian yang dilakukan sebelumnya, yaitu Hasnawati (2005); yang meneliti tentang implikasi keputusan keuangan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini juga menam- bahkan struktur kepemilikan seperti yang dilakukan peneliti sebelumnya Agrawal dan Knoeber (1996); Himmelberg dan Palia, (1999), Soliha dan Taswan (2002). Berda- sarkan teori dan penelitian sebelumnya, dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk kalimat Tanya, yaitu: apakah kepu- tusan keuangan (kebijakan hutang, kebi- jakan dividen dan investasi) dan struktur kepemilikan (kepemilikan insider dan kepe- milikan institusional) berpengaruh terhadap nilai perusahaan ? TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Keputusan Keuangan dan Nilai Perusahaan Manajemen keuangan menyangkut tiga keputusan penting yang diambil perusa- haan, antara lain keputusan investasi, kepu- tusan pendanaan dan kebijakan dividen (Brigham, 2000). Ketiga keputusan keua- ngan tersebut secara bersama-sama menen- tukan nilai perusahaan. Suatu kombinasi yang optimal atas ketiganya akan memak- simumkan nilai perusahaan. Kebijakan Utang Penggunaan hutang akan mencegah manajer untuk menggunakan free cash flow secara berlebihan bagi kepentingan priba- dinya karena perusahaan harus menyediakan arus kas bagi pembiayaan bunga pinjaman secara reguler dan tetap jumlahnya. Grossman dan Hart (1992) dalam Bathala dkk. (1994) menjelaskan hutang mendorong manajer untuk mengkonsumsi kurang perquisites dan menjadi lebih efisien. Ber- kurangnya arus kas akan menimbulkan risiko gagal bayar (default) sehingga peme- gang obligasi akan menyita aset perusahaan dan manajer akan kehilangan pekerjaannya. Berdasarkan hal tersebut hutang dapat meningkatkan kinerja manajer akibat kekha- watiran kehilangan pekerjaan (job loss). Menggunakan hutang akan membuat tindakan manajer dikendalikan oleh pasar modal karena jika pemegang obligasi me- mandang negatif terhadap kompetensi ma- najer maka mereka akan meminta pemba- yaran bunga pinjaman lebih besar dan atau perjanjian (covenant) lebih banyak. Perjan- jian (convenant) diharapkan dapat mengu- rangi agency problem antara kreditur dan debitur (Atmaja, 1999). Kebijakan Dividen Seringkali digunakan sebagai indikator atau sinyal prospek suatu perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang go public mempunyai kewajiban untuk melaporkan kinerjanya kepada investor dalam bentuk laporan keuangan dan pengumuman besarnya dividen yang dibagikan. Dalam melakukan penilaian terhadap perusahaan, investor sangat membutuhkan informasi– informasi yang berkaitan dengan perusahaan tersebut. Salah satunya adalah informasi mengenai kebijakan dividen. Perubahan pengumuman pembayaran dividen ini me- ngandung informasi yang dapat digunakan para investor untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi dan memprediksi pros- pek perusahaan di masa mendatang. Akibat dari perubahan dividen yang diumumkan, maka harga saham akan mengalami penye- suaian. Dividend signaling theory menje- laskan bahwa informasi tentang dividen yang dibayarkan digunakan oleh investor sebagai sinyal perusahaan di masa mendatang. Sinyal perubahan dividen dapat dilihat dari reaksi harga saham. Peningkatan 169 dari 180 dividen akan membuat pasar bereaksi positif akan mendukung dividend signaling theory bila pasar cenderung menginterpretasikan bahwa peningkatan dividen dianggap seba- gai sinyal tentang prospek cerah perusahaan di masa mendatang, demikian juga sebaliknya pasar akan bereaksi negatif jika terjadi penurunan dividen, yang dianggap sebagai sinyal yang kurang bagus tentang prospek perusahaan di masa mendatang. Prinsip signaling ini mengajarkan bahwa setiap tindakan mengandung informasi. Hal ini disebabkan karena adanya asymetric information. Asymmetric information adalah kondisi dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak daripada pihak lain. Misalnya, pihak manajemen peru- sahaan memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan pihak investor di pasar modal. Tingkat asymetric informa- tion ini bervariasi dari sangat tinggi ke sangat rendah. Bird in the hand theory memandang bahwa dividen tinggi adalah yang terbaik, karena investor lebih suka kepastian tentang return investasinya serta mengantisipasi risiko ketidakpastian tentang kebangkrutan perusahaan (Brigham dan Gapenski, 2000). Studi yang dilakukan Miller & Rock (1985) yang mengacu dari penelitian Ross (1978) dalam Hasnawati (2005), mengatakan bahwa dividen yang tinggi merupakan sinyal positif untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan di masa yang akan datang. Hasil penelitian Hasnawati (2005) menunjukkan bahwa dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya perusahaan akan membayar dividen sebesar-besarnya karena dapat meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Rozeff (1982); Easterbrook (1984), pembayaran dividen dengan jumlah yang lebih besar akan meningkatkan kemungkinan bahwa manajer menambah modal ekuitas eksternal. Apabila modal eksternal ditambah maka manajer akan diawasi oleh pasar modal, komisi sekuritas dan bursa, para bankir investasi, dan para penyedia modal baru. Pengawasan ini akan mendorong manajer (yang berusaha untuk mempertahankan pekerjaan mereka) untuk bertindak lebih sejalan dengan kepentingan- kepentingan para pemegang saham. Pengeluaran Investasi Memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan (signaling theory). Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Fama (1978) mengatakan bahwa nilai perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa keputusan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan perusahaan hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan (Modigliani & Miller 1958). Keputusan investasi tidak dapat diamati secara langsung oleh pihak luar. Beberapa studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi antara lain oleh Meyrs (1977) yang memperkenalkan IOS (Investment Oppor- tunity Set). IOS memberi petunjuk yang lebih luas dimana nilai perusahaan tergan- tung pada pengeluaran perusahaan di masa yang akan datang. Jadi prospek perusahaan dapat ditaksir dari IOS. IOS didefinisikan sebagai kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assest in place) dan pilihan investasi di masa yang akan datang dengan net present value positif. Menurut Gaver & Gaver (1993), IOS merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, di mana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang lebih besar. Dari pendapat ini dan sejalan dengan Smith & Watts (1992) bahwa komponen nilai perusahaan merupakan hasil dari pilihan-pilihan untuk membuat investasi di masa yang akan datang merupakan IOS. IOS tidak dapat diobservasi langsung (laten) sehingga dalam perhitungannya menggu- nakan proksi. Peneliti terdahulu telah mengembangkan proksi pertumbuhan dengan IOS seperti Smith& Watts (1992), 170 dari 180 Gaver & Gaver (1993) dan Kallaur & Trombley (1999). Hasil penelitian Hasnawati (2005) menyatakan bahwa keputusan investasi memiliki pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan ini mendukung dan konsisten pendapat yang dikemukakan dengan Fama (1978). Apabila dikaji melalui teori sinyal (signaling theory), hasil penelitian ini mendukung teori tersebut. Pengeluaran modal perusahaan tampak sangat penting dalam upaya meningkatkan nilai perusahaan. Karena jenis investasi tersebut akan memberi sinyal tentang pertumbuhan pendapatan perusahaan yang diharapkan dimasa yang akan datang dan mampu meningkatkan nilai pasar perusa- haan (Fama & French 1998, dalam Hasnawati 2005). Efek langsung keputusan investasi terhadap nilai perusahaan meru- pakan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi itu sendiri melalui pemilihan proyek atau kebijakan lainya seperti mencip- takan produk baru, penggantian mesin yang lebih efisien, serta research & development (Meyrs, 1976; Wight & Ferris, 1997;dalam Hasnawati, 2005). Struktur Kepemilikan dan Nilai Perusahaan Kepemilikan Institusional Kepemilikan institusional merupakan representasi grup dalam memonitor manajer. Dengan meningkatkan kepemilikan institu- sional berarti tindakan manajer oleh pemegang saham eksternal sehingga mem- bantu mengurangi masalah keagenan (Bathala dkk. 1994). Agrawal dan Knoeber (1996) menyatakan bahwa konsentrasi kepemilikan saham oleh institusi atau blockholder dapat menambah pengawasan pada manajer sehingga meningkatkan nilai perusahaan. Moh’d, dkk (1998) mengatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari luar yaitu institusional investor dan shareholder dispersion akan dapat mengurangi terjadinya biaya keagenan. Hal ini disebabkan karena kepemilikan mewakili suatu sumber kekuasaan (source of power) yang dapat digunakan untuk mendukung atau malah sebaliknya terhadap keberadaan manajemen. Jadi dengan adanya kepemi- likan institusional seperti perusahaan asuransi, perusahaan perbankan, perusahaan investasi dan kepemilikan lebih optimal terhadap kinerjanya. Fuert dan Kang (2000) dikutip dalam Untung dan Wahyudi (2006) menemukan hubungan yang positif antara insider ownership dengan nilai pasar setelah mengendalikan kinerja perusahaan. Nilai perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif Kepemilikan Pihak Dalam (Insider Ownership) Kepemilikah pihak dalam juga dapat mengurangi masalah keagenan selain kepemilikan institusional.. Untuk mengatasi masalah keagenan dan agency cost equity dapat dikurangi dengan menambah mana- gerial ownership dalam perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Kepemilikan saham oleh manajer juga membantu memecahkan masalah moral hazard sehingga menyela- raskan kepentingan manajer dengan shareholder (Himmelberg, 1999). Dengan kepemilikan saham oleh manajer maka manajer akan merasakan menanggung kon- sekuensi kemakmuran atas tindakannya (Bathala dkk. 1994), sehingga tidak mungkin manajer bertindak opportunistik lagi. Dengan demikian, kemilikan saham oleh manager merupakan insentif bagi manajer untuk meningkatkan kinerja perusa- haan dan menggunakan hutang dengan optimal sehingga meminimalkan biaya keagenan. Dalam kerangka keagenan kepemilikan saham oleh manajer mengu- rangi agency cost dalam perusahaan sehing- ga meningkatkan nilai perusahaan (Bathala dkk., 1994). Hipotesis Penelitian Berdasarkan teori dan penelitian diatas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1: Kebijakan hutang berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. H2: Kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. 171 dari 180 H3 : Investasi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. H4: Kepemilikan pihak dalam (Insider Ownership) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. H5 : Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. METODE PENELITIAN Model Penelitian Untuk menggambarkan hubungan antar variabel yang terkait dalam penelitian ini, maka dikembangkan suatu model penelitian (lihat gambar 1). Obyek Penelitian Perusahaan yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang go public atau terdaftar di BEI dari tahun 2002 sampai tahun 2006. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Sampel Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Data yang diambil diperoleh dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory). Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan purposive sampling method yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu (Cooper dan Emory, 1995). Kriteria yang digunakan adalah: 1) Perusahaan-perusahaan manufaktur yang telah beroperasi dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2002 sampai dengan 2006. 2) Perusahaan-perusahaan harus melaporkan keuangan secara lengkap dan dipublikasikan pada Indonesian Capital Market Directory. 3) Perusahaan tersebut harus mempunyai insider ownership seperti kepemilikan saham oleh direktur dan komisaris serta mempunyai institutional owner- ship yang terdaftar sebagai share- holder. Gambar 1. Model Penelitian DIVIDEN DIVIDEN INVESTASI KEPEMILIKAN PIHAK DALAM KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL HUTANG 172 dari 180 Definisi Operasional Variabel Variabel Dependen Nilai Perusahaan Nilai Perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV). Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada mana- jemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Soliha dan Taswan, 2002). Nilai Perusahaan = Harga Pasar Per Lembar saham Nilai Buku Per Lembar Saham Variabel Independen Kebijakan Hutang Kebijakan hutang (Debt) dihitung sebagai rasio total hutang terhadap total aset. Hutang adalah kewajiban yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan akan dilunasi dengan menggunakan aktiva lancar. Debt Ratio digunakan untuk menggambarkan kebijakan hutang perusahaan (Moh’d dkk, 1998). Secara matematis kebijakan hutang diformulasikan sebagai berikut: Debtit = TDit Total Assetit Keterangan: TDit = Jumlah total hutang perusahaan i pada perioda t. Total Assetit = Total asset yang dimiliki perusahaan i pada periode t. Dividen Kebijakan Dividen (DIV) merupakan rasio pembayaran dividen terhadap earning after tax. Variabel ini diukur dengan rasio pembayaran dividen terhadap earning after tax (laba bersih setelah pajak) (Moh’d dkk, 1998). Secara matematis kebijakan dividen diformulasikan sebagai berikut: Dividend Payout = Dividen Kas Net Income Insider Ownership Kepemilikan insider (INSD) adalah pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (Direktur dan Komisaris). Kepemilikan insider diukur sesuai dengan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajer (Tarjo, 2005). INSD = Jumlah saham dimiliki Komisaris dan Direktur Total Saham yang Beredar Kepemilikan Institusional Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan saham oleh investor institusi terhadap total saham yang beredar. Secara matematis kepemilikan institusional diformulasikan sebagai berikut: (Agus, 2001). INST = SI + SB TKS Keterangan: INST= Institusional ownership SI = Jumlah saham institusi SB = Jumlah saham blockholder TKS= Total seluruh saham Keputusan Investasi Variabel independen keputusan investasi didefinisikan sebagai kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) dan pilihan investasi di masa yang akan datang dengan positive net present value. Beberapa penelitian yang telah dilakukan Myers (1977), Kallapur & Trombley (1999), Gaver & Gaver (1993), IOS (investment opportunity set) digunakan sebagai proksi keputusan investasi, karena keputusan investasi tidak dapat diamati secara langsung. Karena IOS sebagai variabel laten yang tidak dapat diukur secara langsung, maka dalam analisis data yang bertujuan untuk memperoleh proksi IOS dengan pendekatan analisis faktor, proksi IOS antara lain: 1) Market to book value of equity (MVEBVE) 173 dari 180 MVEBVE =(jumlah lembar saham beredar x harga penutupan saham)/total ekuitas 2) Market to book value of assets (MVABVA) MVABVA=(asset - total ekuitas + (lembar saham beredar x harga penutupan saham)/total asset 3) Price earning ratio ( PER) PER =harga penutupan saham/(laba setelah pajak/lembar saham beredar) 4) Capital expenditure to book value of asset (CAPBVA) CAPBVA = (nilai buku aktiva tetapt – nilai buku aktiva tetapt-1) /total assets 5) Capital expenditure to market value of asset (CAPMVA) CAPMVA = (nilai buku aktiva tetap t - nilai buku aktiva tetap t-1 )/ (asset – total ekuitas + (lembar saham beredar x harga penutupan saham). HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Objek Penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2002 sampai dengan 2006, Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Hasil pemilihan sampel dengan metode purposive sampling, diperoleh jumlah sampel sebanyak 96 perusahaan, dengan rincian pada tahun 2006 sebanyak 21 perusahaan, tahun 2005 sebanyak 17 perusahaan, tahun 2004 sebanyak 18 perusahaan, tahun 2003 sebanyak 20 perusahaan, tahun 2002 sebanyak 20 perusahaan. Proses pemilihan sampel bisa dilihat pada tabel 1 Tabel 1 Prosedur Pemilihan Sampel KETERANGAN JUMLAH Indusrtri manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun 2002-2006 247 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan lengkap (4) Perusahaan yang tidak ada kepemilikan insider pada tahun 2002-2006 (106) Perusahaan tidak membagi dividen pada tahun 2002 s/d 2006 (188) Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria sampel 40 Analisis Faktor Dalam penelitian ini analisis faktor untuk membentuk proksi IOS. Variabel investasi dalam penelitian ini di proksi menggunakan lima variabel, yaitu: rasio market to book value of equity (MVEBVE), market to book value of assets (MVABVA), price earning ratio (PER), rasio capital expenditure to book value asset (CAPMBA), dan rasio capital expenditure to firm value assets (CAPMVA). Tahap pertama: Menilai variabel yang dianggap layak. Jika angka MSA diatas 0,5 dengan signifikansi bartlett’s test of sphericity = 0,000 maka kumpulan variabel dapat dianalisis lebih lanjut. Tabel 2 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .529 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 286.276 df 10 Sig. .000 Tahap kedua: Pengujian korelasi antar variabel. Logika pengujian disini adalah jika variabel mempunyai kecen- derungan mengelompokkan dan membentuk sebuah faktor maka dia harus mempunyai korelasi tinggi antar variabel (lebih besar dari 0,5). Tabel.3 174 dari 180 Anti-image Matrices MVEBVE MVABVA PER CAPBVA CAPMVA Anti-image Covariance MVEBVE .665 -.361 -.039 -.021 .026 MVABVA -.361 .619 -.057 .006 -.023 PER -.039 -.057 .977 .023 -.020 CAPBVA -.021 .006 .023 .074 -.071 CAPMVA .026 -.023 -.020 -.071 .074 Anti-image Correlation MVEBVE .510(a) -.562 -.049 -.095 .115 MVABVA -.562 .597(a) -.073 .028 -.107 PER -.049 -.073 .542(a) .085 -.076 CAPBVA -.095 .028 .085 .520(a) -.959 CAPMVA .115 -.107 -.076 -.959 .516(a) Tabel 4 Communalities Initial Extraction MVEBVE 1.000 .210 MVABVA 1.000 .405 PER 1.000 .010 CAPBVA 1.000 .797 CAPMVA 1.000 .794 Tabel 5 Total Variance Explained Componen t Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % Total % of Variance Cumulative % 1 2.216 44.311 44.311 2.216 44.311 44.311 2 1.386 27.717 72.027 3 .951 19.027 91.054 4 .409 8.189 99.243 5 .038 .757 100.000 Tabel 6 Component Matrix(a) Component 1 MVEBVE .458 MVABVA .637 PER .102 CAPBVA .892 CAPMVA .891 Dari tabel 3 Anti Image Matrices, terutama pada Anti Image Correlation yang bertanda (a), terlihat bahwa semua variabel (MVEBVE, MVABVA, PER, CAPBVA dan CAPMVA) secara berturut-turut mem- punyai korelasi yang kuat (lebih dari 0,5) yaitu 0,510; 0,597; 0,542; 0,520 dan 0,516. Karena tidak terdapat variabel yang punya nilai MSA kurang dari 0,5 maka tidak 175 dari 180 terdapat variabel yang dikeluarkan serta tidak dilakukan pengujian ulang. Tahap ketiga: Proses inti analisis faktor yaitu Factoring: ekstraksi terhadap sekumpulan variabel yang ada, dalam hal ini MVEBVE, MVABVA, PER, CAPBVA dan CAPMVA, sehingga terbentuk satu faktor atau lebih. Pada tabel 4. angka Communalities menunjukkan jumlah varian dari suatu variabel mula-mula yang bisa dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Nilai tersebut digunakan untuk menentukan jumlah faktor representasi atas variabel- variabel asli. Jumlah kelima variabel nilai communalities tersebut adalah 2,216. Pada tabel 5 Total Variance Explained terlihat bahwa faktor yang terbentuk dengan eigenvalues adalah sebanyak 1 faktor. Hal ini mengindikasikan bahwa 1 faktor yang terbentuk bisa menjelaskan interkorelasi diantara 5 variabel. Tahap keempat: Rotation. Proses rotasi dilakukan untuk memperjelas posisi variabel tertentu akan masuk ke faktor tertentu. Karena hanya terbentuk 1 faktor dan tidak terdapat korelasi ganda antara faktor terbentuk dengan variabel pemben- tuknya, maka proses rotasi tidak bisa dilakukan dan proses analisis faktor berhenti sampai disini Jumlah kelima variabel nilai communalities adalah 2,216 dan nilai tersebut sesuai dengan faktor yang memiliki nilai eigenvalues lebih dari satu yaitu faktor satu sebesar 2,216. Hal ini sesuai dengan the rule thumb bahwa jumlah faktor yang dipakai sebagai representasi adalah sebanyak faktor yang mempunyai nilai eigenvalues sama atau lebih dari satu (Hair, dkk: 1999 ) Tahap kelima, menghitung IOS berdasarkan perhitungan masing-masing proksi IOS dikalikan dengan komponen matriknya. Contoh perhitungan IOS untuk perusahaan AKRA adalah sebagai berikut: (1,636x0,458)+(1,278x0,637)+(13,276x0,10 2)+(0,084 x 0,892)+(0,066x0,891) = 3,046 Nilai IOS untuk perusahaan AKRA adalah 3,046 Analisis Deskriftif Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi, data kepemilikan orang dalam (insider owner- ship), kepemilikan institusional, kebijakan hutang, kebijakan dividen dan keputusan investasi terhadap nilai perusahaan. Statistik deskriptif variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 7. Tabel 7 Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation MV 96 .03625 5.45284 .8500773 .99701378 DEBT 96 .00475 .67727 .3685181 .17281447 DIV 96 .00080 1.05040 .2785854 .23847024 INVEST 96 -5.84131 68.34894 3.3606552 7.51332438 INSD 96 .00010 .31820 .0453625 .07115619 INST 96 .05640 .96850 .6051583 .19105250 Valid N (listwise) 96 Dari tabel 7 di atas dapat dijelaskan bahwa nilai perusahaan (MV), selama periode penelitian memiliki nilai rata-rata sebesar 0,850 dan standar deviasi 0,997. Variabel hutang (DEBT) memiliki nilai rata- rata sebesar 0,368 dengan standar deviasi sebesar 0,172. Variabel dividen (DIV) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,278 dengan standar deviasi sebesar 0,238. Variabel investasi (INVEST) memiliki nilai rata-rata sebesar 3,360 dengan standar deviasi sebesar 7,513. Variabel insider ownership (INSD) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,0453 dengan standar deviasi 0,071. Variabel kepemilikan institusional 176 dari 180 (INST) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,605 dengan standar deviasi 0,191. Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Untuk membuktikan ada satu atau tidaknya pelanggaran multikolinearitas dapat digunakan Uji VIF yaitu apabila nilai VIF kurang dari 5 atau besarnya toleransi lebih dari 0,1. Hasil uji multikolinearitas dapat ditunjukkan pada tabel 8. Tabel 8 Uji Multikoliniaritas Variabel Bebas Toleransi VIF Kesimpulan DEBT .956 1.046 Tidak terjadi Multikolinearitas DIV .922 1.084 Tidak terjadi Multikolinearitas INVEST .867 1.154 Tidak terjadi Multikolinearitas INSD .809 1.236 Tidak terjadi Multikolinearitas INST .755 1.324 Tidak terjadi Multikolinearitas Tabel 9 Hasil Uji Hipotesis Model Unstandardized Coefficients t Sig. Keterangan Simpulan Hasil Uji Hipotesis B Std. Error (Constant) 1.073 .453 2.369 .020 Signifikan DEBT .615 .547 1.124 .264 Tidak Signifikan DIV .479 .403 1.188 .238 Tidak Signifikan INVEST .041 .013 3.109 .003 Signifikan INSD .798 1.443 .553 .582 Tidak Signifikan INST -1.251 .556 -2.249 .027 Signifikan Adjusted R Square 0.184 F Hitung 5.291 Sig-F 0.00026 Dari hasil uji multikolinearitas ditemukan bahwa semua variabel bebas mempunyai nilai toleransi lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF kurang dari 5, sehingga dapat disim-pulkan bahwa tidak terjadi gejala multi-koliniaritas dalam model penelitian ini. Uji Heterokedastisitas Uji Heterokedastisitas untuk menge- tahui apakah terdapat variasi dari semua gangguan (ei) yang tidak konstan. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas menggunakan uji Breusch-Padan-Godfrey (BPG) (Wihandaru, 2004). Dengan melaku- kan regresi terhadap nilai p (e2/δ2) sebagai dependen dengan masing-masing variabel independent, hasilnya menunjukkan: Nilai X2hitung = 8,688 Nilai X2tabel Dengan α = 5%; df = 5-1 =4, diperoleh nilai X2tabel sebesar 9,488. Nilai X2hitung (8,688) < X 2 tabel (9,488), maka dapat disimpulkan model tidak terjadi heterokedastisitas. Uji Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang dikemu- kakan sebelumnya maka telah diajukan hipotesis bahwa insider ownership, institutional ownership, kebijakan hutang, kebijakan dividen dan keputusan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta antara tahun 2002 sampai dengan 2006. Selanjutnya peneliti akan menguji hipotesis yang diajukan tersebut dengan menganalisis histori data- 177 dari 180 data perusahaan dengan uji regresi linier berganda pada table 9. Berdasarkan Tabel 9, Keputusan keuangan yaitu kebijakan hutang dan kebijakan dividen tidak berpe- ngaruh terhadap nilai perusahaan sedangkan investasi sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusa- haan. Struktur kepemilikan khusus-nya yaitu kepemilikan pihak dalam, tidak berpe- ngaruh signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan kepemilikan institusional ber- pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Pembahasan Hasil regresi pada variabel kebijakan hutang (DEBT) terhadap nilai perusahaan adalah tidak signifikan. Hasil riset ini tidak mendukung hipotesis yang menyatakan kebijakan hutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Modigliani dan Miller (1963) dalam Mamduh (2004) yang menyatakan bahwa dengan memasukkan pajak penghasilan perusahaan, maka penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga hutang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak. Hasil riset yang menunjukkan bahwa kebijakan hutang pengaruhnya tidak signifikan terhadap perusahaan, boleh jadi hal ini dikarenakan kebijakan hutang menimbulkan trade-off antara penghematan pajak dengan risiko kebangkrutan, sehingga hutang tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian keputusan keuangan lainnyamenunjukkan bahwa pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan adalah tidak signifikan. Artinya, boleh jadi hal ini disebabkan oleh perilaku investor yang lebih menyukai kenaikan nilai modal (capital gains) dibandingkan pembagian dividen dikarenakan lebih memilih prospek jangka panjang dalam berinvestasi. Dengan kata lain temuan ini tidak relevan dengan teori bird in the hand theory yang bermakna bahwa pemegang saham lebih menyukai dividen tinggi karena memiliki kepastian yang tinggi dibandingkan dengan dividen yang akan dibagikan di masa depan dan capital gains. Sejumlah kalangan memper- debatkan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan (harga saham) dengan kata lain, kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalkan. Penganjur utama teori ketidakrelevanan dividen (dividend irrele- vance theory) adalah Merton Miller dan Franco Modigliani (MM). Mereka berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba serta risiko bergantung semata-mata pada pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan pada bagaimana pendapatan tersebut dibagi diantara dividen dan laba ditahan (atau pertumbuhan). MM berdalih (dan memang hal ini benar) bahwa semua teori ekonomi didasarkan pada asumsi-asumsi yang dise- derhanakan dan bahwa keabsahan suatu teori harus dibuktikan berdasarkan pengu- jian empiris, tidak berdasarkan realitas dari asumsi-asumsinya (Brigham, 1990). Kesim- pulannya, temuan ini tidak mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian lebih lanjut menun- jukan bahwa pengaruh keputusan investasi (INVEST) berpengaruh positif dan signi- fikan terhadap nilai perusahaan, temuan ini mendukung dan konsisten dengan hasil penelitian Hasnawati (2005). Apabila dikaji melalui teori sinyal (signaling theory), hasil penelitian ini mendukung teori tersebut. Pengeluaran modal perusahaan tampak sangat penting dalam upaya meningkatkan nilai perusahaan. Karena jenis investasi tersebut akan memberi sinyal tentang pertumbuhan pendapatan perusahaan yang diharapkan dimasa yang akan datang dan mampu meningkatkan nilai pasar perusa- haan (Fama & French 1998, dalam Hasnawati 2005). Efek langsung keputusan 178 dari 180 investasi terhadap nilai perusahaan merupa- kan hasil yang diperoleh dari kegiatan investasi oleh perusahaan itu sendiri. Hasil pengujian regresi terhadap struktur kepemilikan, menunjukkan bahwa pengaruh insider ownership terhadap nilai perusahaan adalah tidak signifikan. Temuan riset ini tidak relevan dengan hasil penelitian Soliha dan Taswan (2002) yang mengindi- kasikan bahwa kepemilikan insider meru- pakan insentif bagi peningkatan kinerja perusahaan, dimana para investor meman- dang proporsi kepemilikan saham sebagai sinyal yang baik. Variabel insider ownership hasilnya tidak signifikan, dapat terjadi karena persentase kepemilikan saham oleh insider pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) relatif kecil pada beberapa perusahaan. Dari observasi tahun 2002-2006 pada 96 perusahaan tahun (firms-year) sample perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang memiliki nilai kepemilikan saham oleh insider rata-rata sebesar 4,5%. Dengan kepemilikan saham oleh manajer atau insider yang kecil maka manajer akan merasa kurang atau bahkan tidak merasa menanggung konsekuensi atas tindakannya, sehingga memungkinkan manajer bertindak oportunistik dan perquisites. Sedangkan masalah keagenan yang lain adalah dengan kepemilikan saham oleh manajer yang kecil menyebabkan kurangnya pengawasan dari pihak perusahaan kepada pihak para agen. Kurangnya pengawasan dari pihak perusa- haan kepada para agen/manajer berdampak pada tidak signifikannya pengaruh insider ownership terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian pada variabel kepe- milikan institusional memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini tidak mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa kepemi- likan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini tidak mendukung teori terdahulu yang dikemukakan oleh Bathala dkk (1994) bahwa kepemilikan saham oleh institusional merupakan mekanisme untuk mengontrol masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham mempunyai hubungan yang positif dengan nilai perusahaan. Hasil riset pada variabel kepemilikan institusional memiliki nilai rata-rata sebesar 60% dan variabel ini berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan meng- indikasikan bahwa meningkatnya kepemi- likan institusional menyebabkan timbulnya masalah keagenan antara kepemilikan insti- tusional dengan perusahaan, karena memi- liki kepentingan yang berbeda sehingga kepemilikan institusional berpengaruh nega- tif terhadap nilai perusahaan. PENUTUP Simpulan Hasil uji F secara simultan pada variabel kebijakan hutang, kebijakan dividen dan keputusan investasi kepemilikan insider, kepemilikan institusional, menunjukkan ada pengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap nilai perusahaan. Secara statistik 18,4% variasi nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh kebijakan hutang, kebijakan dividen dan keputusan investasi, variabel kepemilikan insider, kepemilikan institu- sional, sedang sisanya sebesar 81,6% dijelaskan variabel lain di luar model. Selanjutnya, hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa hanya variabel keputusan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Adapun variabel kepemilikan insider, kebijakan hutang dan kebijakan dividen tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah pengaruh negative dan signifikannya variabel institusional terhadap nilai perusahaan, dimana hal ini mengin- dikasikan bahwa meningkatnya kepemi- likan institusional menyebabkan timbulnya masalah keagenan antara kepemilikan insti- tusional dengan perusahaan, karena memi- liki kepentingan yang berbeda. . Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan, diantaranya: periode pengamatan relatif pendek, yaitu periode 2002-2006 dan jumlah 179 dari 180 sampel yang terbatas dapat mengakibatkan hasil penelitian kurang dapat digeneralisir. Selain itu, proksi-proksi IOS dalam pene- litian ini hanya menggunakan lima variabel yang berbasis harga dan berbasis investasi. Saran Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan periode waktu yang lebih panjang sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih akurat dengan menggunakan proksi-proksi IOS yang seimbang jumlahnya baik proksi berbasis harga, investasi maupun yang berbasis varian untuk membentuk proksi gabungan. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan variabel kepemilikan insider dengan memisahkan antara kepemilikan insider tinggi dan rendah seperti penelitian yang dilakukan oleh Himmelberg dkk (1999). DAFTAR PUSTAKA Agrawal, Anub., dan Knoeber, C.R., 1996, “Firm Performance and Mechanisms to Control Agency Problem Between Managers and Shareholder”, Journal of Financing and Quantitative Analysis, Vol . 31, no. 3, September 377-397. Atmaja, L. S., 1999, Manajemen Keuangan, Edisi revisi, Perbit Andi Yogyakarta Bathala C. T., K.P. Moon, dan R.P. Rao., 1994, “Managerial Ownership, Debt Policy, and the Impact of Institutional Holdings: An Agency Perspective”, Financial Management, Vol. 23, No. 3, 38-49. Brigham, Eugene, F., Gapenski, Louis, C., Daves, Philip, R., 2000, Intermediate Financial Management, 6 th edition, The Dryden Press, Orlando Cooper, D.E., and Emory,W., 1995, Business Research Methods, Fifth Edition, Irwin Inc, Easterbrook, F., 1984,“Two Agency Cost Explanations of Dividends.” American Economic Review, September , hlm. 650-659 Fama, Eugene F., dan French, Kenneth R., 2000, Testing Trade off and Pecking Order Predictions about Dividend and Debt”, Working Paper, University of Chicago Gaver J. Jenniver dan Gaver Kenneth M, 1993, “Additional Evidence on the association between the investment opportunity set and Corporate Financing dividend and compensation”, Journal of accounting and Economics, 125-160 Gujarati,D., 1999, Ekonometrika Dasar, Erlangga, Jakarta. Hasnawati, 2005, “Implikasi Keputusan Investasi, Pendanaan dan Dividen Terhadap Perusahaan Publik di Bursa Efek Jakarta”, Usahawan: No. 09/Th XXXIX, September 2005. Hair, Joseph “ Multivariate Data Analysis with Reading”, 1999, Prentice Hall International USA Himmelberg,C.P, R.G. Hubbard, D. Palia, (1999), “Understanding the determinants of managerial ownership and the link between ownership and performance”, Journal of Financial Economics, 53, hlm. 353-383 Jensen dan Meckling, 1976, “Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure” Journal of Financial Economics, Oktober, 1976, Vol. 3, No. 4, 305- 360. Kallapur, S dan M.A Trombley., 1999, “The Association between Investment Opprtunity Set Proxies and Realized Growth”, Journal of Business Finance & Accounting, 26, pp 505- 519 Lela, Hindasah, 2005, “Kinerja Perusahaan dan Mekanisme untuk Mengontrol Masalah Keagenan antara Manajer dan Shareholder” Jurnal Utilitas Vol. 13 No. 1 Januari 2005, 71-91. Mamduh, 2004, “Manajemen Keuangan”, BPFE, Yogyakarta Modigliani, F & Miller., M., H., 1958, “The cost of Capital corporation Finance 180 dari 180 and The Theory of Investment ‘. The American Economic Review, 13(3), pp 261-297 Moh’d, .A., Perry,L.G., and Rimbey, J.M., (1998), “The impact of Ownership structure on Corporate Debt Policy: Time-Series Cross-Sectional Analysis”, The Financial Review, Vol 33, hlm. 85-98 Myers, Stewart C., 1977, “Determinant of Corporate Borrowing”, Journal of Financial Economics, volume 9, no 3, pp 385-398 Smith, Jr.C. W & Watts., RL., 1992, “The Investment Opportunity set and Corporate Financing, dividend, and compensation Policies”, The Journal of Financing Economics, December, pp 263-292 Soliha dan Taswan 2002, “Pengaruh Kebijakan Utang terhadap Nilai Perusahaan Serta Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya”, Jurnal Bisnis dan Ekonomi, September 2002, Semarang. Tarjo, 2005, “Analisis Free Cash Flow dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Kebijakan Utang pada Perusahaan Publik di Indonesia”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 8, No.1, 82-104. Untung, Wahyudi, 2006, “Implikasi Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan: Dengan Keputusan Keuangan sebagai Variabel Intervening“ Simposium Nasional Akuntansi 9, Padang 23-26. Wihandaru, 2004, “Ekonometrika Pengantar”, UPFE, Yogyakarta.