Jurnal Akuntansi dan Investasi Vol. 12 No. 1, halaman: 1-14, Januari 2011 1 PENGARUH PROPORSI KOMISARIS INDEPENDEN DAN KOMPOSISI KOMITE AUDIT TERHADAP INTERNAL CONTROL Makhdalena E-Mail: makhdalena@unri.ac.id Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRACT Accounting manipulation that occurred in recent years makes accounting experts to focus on internal control issues. The experts agree that internal control is an important issue through a substance that can be given by the internal control. Internal control can be effective if supported by the proportion of independent commissioners and audit committee composition are adequate. Based on that idea, the researchers interested in conducting research that aims to find out: the influence of the proportion of independent commissioners and audit committee composition of the internal control eithersimultaneously or partially. Research conducted by the survey in 48 listed companies in Jakarta Stock Exchange man- ufacturing drawn at random from the population. Data used in this study are primary data from the questionnaire and secondary data from the annual report. Data were analyzed using path analysis. The results showed that: the proportion of independent commissioners and audit committee composition has a significant influence on the internal control eithersimultaneously or partially. Keywords: Board of Commissioners, Independent Commissioner, Audit Com- mittee, Internal Control. PENDAHULUAN Manipuksi akuntansi yang me- nyebabkan bangkrutnya perusahaan raksasa dunia pada awal tahun 2000an telah meru- gikan pemegang saham, kreditur, pemasok dan karyawan perusahaan di berbagai negara. Perusahaan raksasa yang bangkrut pada saat itu antara lain adalah Peregrine Investment Ltd di Hongkong, Baring Fu- tures di Singapore, Enron Corporation Consesco, Global Crossing, WorldCom dan Tyco di Amerika Serikat, perusahaan asur- ansi raksasa HIH Insurance Ltd dan perus- ahaan telkom One-Tell Ltd di Australia, Maxwell Communication Corporation dan Mirror Group Newspaper di Inggris (Al- drige, 2005). Bangkrutnya perusahaan raksasa dunia menurut Justice Owen, Jill, aris dan Solo- mon, Stephen Cheung dalam Aldrige (2005), disebabkan sistem internal control perusahaan tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan begitu juga dengan Dewan Komisaris serta Komite Audit tidak ber- fungsi sebagai mana mestinya. Kasus PT Indofarma Tbk pada tahun 2001, kasus PT Kimia Farma Tbk pada tahun 2002 dan ka- sus PT Davomas Abadi Tbk, pada press re- lease tanggal 19 Maret 2003 disebabkan karena lemahya internal 0; i = 1,2 Untuk menguji hipotesis diatas dil- akukan dengan melakukan uji t. Ho ditolak apabila p-value untuk t di atas kurang dari α= 0,05 Operasionalisasi Variabel Variabel-variabel independen dalam penelitian ini adalah proporsi komisaris in- dependen (X,) dan komposisi komite audit (5Q sedangkan internal control (Y) sebagai variabel dependen. Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharap- kan, maka perlu dipahami konsep operasionalisasi dan indikator variabel penelitian, yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Penelitian Variabel Konsep Indikator Skala Proporsi Komisaris Independen (X1) Wakil dari pemegang saham mi- noritas yang bertanggung jawab mengatur dan memberikan pengarahan kepada manajemen yang berasal dari luar perusahaan yang tidak mempunyai hubungan bisnis dan keluarga dengan pe- rusahaan (Moenaf, 2000). Jumlah keanggotaan dewan yang berasal dari luar perusahaan (outside directors) terhadap keseluruhan jumlah anggota dewan, minimal 30% atau sebanding dengan kepemilikan saham minoritas (BEJ, 2000). Rasio Komposisi Komite Audit (X2) Komite Audit adalah sekelompok orang yang dibentuk untuk mem- bantu dewan komisaris (Arens et al, 2006). Kualitas Komite Audit merupakan syarat yang harus di- miliki oleh komite audit. Indikator Komposisi Komite Audit, yaitu: 1) jumlah anggota minimal tiga orang; 2) jumlah anggota yang berasal dari komisaris independen minimal satu orang yang merangkap se- bagai ketua; dan 3) jumlah anggota yang memiliki keahlian di bidang keuangan minimal satu orang (Jayanthi Krishnan, 2005). Rasio Internal Con- trol (Y) Proses yang dilakukan orang- orang dalam perusahaan yang bertujuan: 1) meningkatkan efek- tivitas dan dan efisiensi operasi; 2) meningkatkan keandalan laporan keuangan; dan 3) meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan (C0S0, 1992). Internal control diiihat dari di- mensi komponen internal con- trol, yaitu lingkungan pengen- dalian dengan indikator: integri- tas dan nilai etika, komitmen untuk kompetensi, partisipasi dewan direksi atau komite, filosofi manajemen dan gaya operasional, struktur organisasi Ordinal Makhdalena, Pengaruh Proporsi Komisaris Independen dan Komposisi..... 6 Variabel Konsep Indikator Skala dan penetapan wewenang dan tanggung jawab; - , penaksiran risiko dengan indikator: peru- bahan lingkungan operasi, per- sonal baru, sistem informasi ba- ru, pertumbuhan yang cepat, teknologi baru, aktivitas baru, restrukturisasi perusahaan, menilai resiko, pernyataan akuntansi; aktivitas pengendalian dengan indikator: pengendalian pemrosesan informasi, riview kinerja, pengendalian fisik, pemisahan tugas; informasi dan komunikasi dengan indikator: standar baku transaksi, keadaan sistim informasi, kelengkapan informasi keuangan, komputerisasi, transaksi, ketepatan dan kecepatan system pengolahan data serta monitoring dengan indikator: aktivitas yang berkelanjutan, evaluasi periode yang terpisah baik dari dalam maupun dari luar perusahaan, melalui internal auditor dan ek- sternal auditor HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji hipotesis yang dirumuskan bahwa " proporsi komisaris independen dan kompo- sisi komite audit berpengaruh baik secara simultan maupun secara parsial terhadap internal control'. Berikut ini hasil pen- golahan data yang diperoleh dengan menggunakan SPSS. Pengaruh Proporsi Komisaris Inde- penden dan Komposisi Komite Audit Terhadap Internal Control Secara diagram bentuk struktural var- iabel proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit terhadap internal control pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta dapat digambarkan se- bagaimana disajikan pada Gambar 2. Pen- gujian hipotesis secara simultan dapat dilihat dengan cara membandingkan p-value dengan a = 0,05. Hasil perhitungan seperti yang terlihat pada tabel 4.10 menunjukkan p-value sebesar 0,0027 lebih kecil dari pada a = 0,05. Karena p-value lebih kecil dari pada a = 0,05, maka pada tingkat kekeliruan 5% Ho ditoiak dan Ha diterima. Jadi ber- dasarkan hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa secara simultan proporsi komisaris inde- penden dan komposisi komite audit ber- pengaruh signifikan terhadap internal con- Jurnal Akuntansi dan Investasi 12 (1), 1-14, Januari 2011 7 trol pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Besarnya pengaruh secara simultan dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 23,10%. Nilai ini menunjukkan bahwa pengaruh secara simultan proporsi komisaris independen (X1) dan komposisi komite audit (X2) terhadap internal control (Y) adalah sebesar 23,10% sedangkan si- sanya sebesar 76,90% (1-R2) dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel yang diteliti. Gambar 2. Jalur Hasl Uji Hpotesis Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis Variabel Koefisien Jalur Sig. (p-value) Kesimpulan statistik Pengaruh Proporsi Komisaris Independen 0,3140 0,0238 Signifikan (Ho ditoiak) 9,86% Komposisi Kcynite Audit 0,2995 0,0307 Signifikan (Ho ditoiak) 8,96% R2 = 23,10% Sig. (p-value) = 0,0027 Hasil penelitian ini sejalan dengan te- ori yang dikemukakan Rindova (1999); Zaman (2001); COSO (1992); OECD (2004); Donaldson dan Davis (1991); Braiotta (2004); Jayanthi (2005) yang menyatakan bahwa dewan komisaris yang terdiri dari komisaris independen dan komite audit yang independensi dan pemahaman yang mendalam tentang laporan keuangan berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam memberikan pengarahan dan pengawasan dalam mendesain dan mengimplementasikan internal control. Interpretasi penelitian ini adalah bah- wa proporsi komisaris independen bersiner- gi dengan komposisi komite audit sangat menentukan keberhasilan dari internal con- trol pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Dengan adanya poroporsi komisaris independen dan komposisi komite audit yang memadai, maka internal control akan semakin baik. Jadi dengan adanya dewan komisaris yang terdiri dari komisaris inde- penden dan komite audit yang independensi serta pemahaman yang mendalam tentang laporan keuangan dapat berperan dalam Makhdalena, Pengaruh Proporsi Komisaris Independen dan Komposisi..... 8 memberikan pengarahan dan pengawasan dalam mendesain dan mengimplementasi- kan internal control. Rendahnya pengaruh proporsi komi- saris independen dan komposisi komite au- dit secara simultan terhadap internal control pada emiten manufaktur di Bursa Efek Ja- karta mengindikasikan terdapatnya faktor lain yang mempengaruhi internal control selain dari proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit. Faktor lain yang mempengaruhi internal control selain dari proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit adalah: 1) Internal Auditor. Internal Auditor da- lam suatu perusahaan bertugas salah satunya adalah meriview internal control apakah internal control telah memadai atau tidak dan apakah in- ternal control tersebut telah efektif atau tidak serta membuat rekomendasi kepada manajemen tentang perbai- kan-perbaikan internal control yang diperlukan (COSO, 1994; IAI, 2001). 2) External Audit. External auditor mempunyai hubungan dengan internal control. External auditor harus me- mahami internal control perusahaan yang digunakan perusahaan sebagai dasar untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Audit atas internal control dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pendapat atas internal control apakah internal control tersebut telah memadai atau tidak, dan apakah internal control tersebut telah efektif atau tidak (CO- SO, 1992; IAI, 2001; Boynton etal, 2006; SOA, 2002). 3) Badan Pengatur. Badan Pengatur sep- erti Bapepam dapat mengeluarkan standar internal control yang harus dipatuhi oleh emiten dan memantau kepatuhan emiten atas peraturan yang telah dikeluarkan (SOA, 2002). Pengujian hipotesis secara parsial pengaruh masing-masing variabel di- tunjukkan oleh p-value dibandingkan dengan a = 0,05. Hasil perhitungan di- peroleh bahwa semua variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel de- penden dan semuanya signifikan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.10 yang menunj ukkan bahwa p-value lebih kecil daria = 0,05. Variabel proporsi komisaris inde- penden (X1) diperoleh p-value 0,0238 lebih kecil dari a = 0,05, maka Ho ditolak. Hasil ini dapat disimpulkan bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh secara signifikan terhadap internal control pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Sementara, variabel komposisi komite audit (X2)diperoleh v-palue 0,0307 lebih kecil dari a = 0,05. maka Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa komposisi komite audit berpengaruh secara sifnifikan terhadap internal control pada emiten manufaktur di Bursa Efek Ja- karta. Hasil pengujian secara parsial variabel proporsi komisaris independen dan kompo- sisi komite audit terhadap internal control dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Pengaruh Proporsi Komisaris Inde- penden terhadap Internal Control Hasil pengujian menyatakan bahwa proporsi komisaris independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap internal control pada emiten manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Interpretasi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin memadai proporsi komisaris independen, maka se- makin baik internal control emiten man- ufaktur di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian ini memberikan dukungan kepada teori yang ada (COSO, 1992; OECD, 2004; Jurnal Akuntansi dan Investasi 12 (1), 1-14, Januari 2011 9 Turnbull, 2001; Root, 1998; Zaman, 2001; dan Boynton etal, 2006). Pengaruh Komposisi Komite Audit ter- hadap Internal Control Hasil pengujian secara parsial kompo- sisi komite audit terhadap internal control menunjukkan adanya pengaruh yang sig- nifikan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Komposisi komite audit berpengaruh positif terhadap internal con- trol, artinya perusahaan yang memiliki komposisi komite audit yang memadai pada umumnya memiliki internal control yang lebih baik. Hasil pengujian ini memberikan dukungan kepada teori yang ada (Fama & Jensen, 1983; Joscelyne,2004; Messier et al, 2006; Rmdova, 1999; Donaldson & Davis, 1991; Zaman, 2001; Jayanthi Krishnan, 2005;; Boynton etal, 2006; Keegan, 1997 dan Braiotta, 2004; FCGI, 2001). PENUTUP Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis yang telah dibangun serta analisis dari hasil penelitian, maka dapat disimpul- kan bahwa proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit berpengaruh signifikan terhadap internal control. Jadi, dengan bersinerginya komisaris independen dan komite audit pada emiten manufaktur di BEJ dapat meningkatkan internal control pada emiten manufaktur di BEJ. Kecilnya pengaruh proporsi komisaris dan komposisi komite audit secara bersma-sama terhadap internal control pada emiten manufaktur di BEJ disebabkan karena adanya faktor lain yang mempengaruhi internal control. Faktor lain tersebut adalah internal auditor, ekster- nal auditor dan badan pengatur. Adapun pengaruh yang diberikan oleh masing-masing variabel independen (pro- porsi komisaris independen dan komposisi komite audit) terhadap internal control adalah pertama, proporsi komisaris inde- penden berpengaruh positif dan signifikan terhadap internal control, artinya proporsi komisaris independen dapat mempengaruhi internal control untuk lebih baik. Jadi pro- porsi komisaris independen sangat menen- tukan keberhasilan internal control. Hal Ini juga berarti bahwa adanya pengaruh yang positif ini menjadikan proporsi komisaris independen sebagai mekanisme corporate governance dalam meminimalisasi persoa- lan keagenan (agency problem) karena komisaris independen dapat memonitor per- ilaku manajemen dalam mengelola perus- ahaan melalui internal control yang me- madai dan efektif yang ada pada emiten manufaktur di BEJ. Kedua, Komposisi komite audit ber- pengaruh positif dan signifikan terhadap internal control, artinya, komposisi komite audit dapat mempengaruhi internal control kearah yang lebih baik. Jadi komposisi komite audit menentukan mutu dari internal control. Ini juga berarti bahwa adanya pengaruh yang positif ini menjadikan kom- posisi komite audit sebagai mekanisme corporate governance dalam meminimal- isasi persoalan keagenan (agency problem) karena komite audit dapat memonitor per- ilaku manajemen dalam mengelola perus- ahaan melalui internal control yang me- madai dan efektif yang ada pada emiten manufaktur di BEJ. Berdasarkan hasil penelitian, selan- jutnya dapat dimunculkan implikasi pokok bagi pihak yang berkepentingan. Implikasi tersebut antara lain bagi pengembangan ilmu pertama, Hasil penelitian menunjukkan bahwa corporate governance yang di- wajibkan oleh Bapepam dan BEJ yang mekanismenya antara lain yaitu keberadaan komisaris independen dan komite audit Makhdalena, Pengaruh Proporsi Komisaris Independen dan Komposisi..... 10 memang telah dilakukan tetapi tidak efektif. Tidak efektifnya komisaris independen dan komite audit karena emiten melaksanakan corporate governance bukan berdasarkan atas kebutuhan perusahaan tetapi hanya un- tuk pemenuhan regulasi. Jadi, agar corpo- rate governance dapat dipahami dan dil- aksanakan dengan baik, disarankan kepada perguruan tinggi supaya memasukkan mata kuliah corporate governance pada kuriku- lum bidang akuntansi. Kedua, Dalam rangka pengembangan ilmu, hasil disertasi ini memberikan gam- baran kepada peneliti selanjutnya mengenai pengaruh proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit terhadap inter- nal control sangat kecil, hal ini bertanda bahwa masih banyak faktor lain yang dapat memberikan pengaruh terhadap internal control tersebut. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi internal control antara lain adalah audit eksternal, audit internal dan badan pengatur. Hal ini memberi peluang bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif dengan memperhatikan faktor-faktor diatas. Ketiga, Hasil penelitian ini memperoleh temuan baru berupa rekonseptualisasi, yaitu dengan mensinergikan konsep proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit dapat meningkatkan efektivitas internal control dalam perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi komisaris in- dependen dan komposisi komite audit secara simultan berpengaruh signifikan terhadap internal control. Hal ini menunjukkan bah- wa dengan bersinerginya variabel proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit dapat mengefektifkan internal control. Hasil penelitian ini menemukan bukti bahwa proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit berpengaruh sig- nifikan terhadap internal control pada emiten sektor manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Hal ini berarti bahwa proporsi komisaris independen dan komposisi komite audit dapat mempengaruhi internal control pada emiten sektor manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Jadi proporsi komisaris inde- penden dan komposisi komite audit sangat membantu dalam mendesain dan mengimplementasikan internal control pada emiten sektor manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Salah satu tujuan dibentuknya internal control adalah untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan (diproksikan dengan earnings management), maka Sar- banes-Oxley (2002) pada seksi 404 men- syaratkan manajemen dari perusahaan pub- lik untuk menerbitkan laporan internal con- trol yang secara eksplisit menerima tanggung jawab untuk menetapkan dan memelihara internal control yang memadai dan efektif atas pelaporan keuangan. Hal ini penting agar dapat menimbulkan ke- percayaan investor terhadap data yang dilaporkan perusahaan kepada publik. Apa- bila publik telah mempercayai perusahaan, maka perusahaan akan dengan sendirinya mudah untuk memperoleh dana dalam operasional perusahaan dengan biaya yang lebih rendah. Oleh karena salah satu tujuan diben- tuknya internal control adalah untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan, maka sebaiknya regulator mensyaratkan perusahaan publik untuk menerbitkan laporan internal control yang secara ek- splisit menerima tanggung jawab untuk menetapkan dan memelihara internal con- trol yang memadai dan efektif atas pelaporan keuangan serta mewajibkan agar internal control di audit oleh external audi- tor dengan memberikan opini atas internal control tersebut. Hal ini penting agar dapat menimbulkan kepercayaan investor ter- Jurnal Akuntansi dan Investasi 12 (1), 1-14, Januari 2011 11 hadap data yang dilaporkan perusahaan kepada publik. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, untuk lebih mendorong dan membangun praktik corporate governance, diberikan beberapa saran sebagai berikut: pertama, untuk penelitian selanjutnya, dis- arankan jika memakai variabel komposisi komite audit, disarankan untuk memper- hatikan indikator komposisi komite audit selain latar belakang keuangan, juga pen- galaman keuangan dan aktivitas komite au- dit seperti frekuensi rapat bersama internal auditor, external auditor dan direksi serta dewan komisaris dalam satu periode. Kedua, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan sum- bangan pemikiran dalam melengkapi dan menyempurnakan mutu kurikulum bidang akuntansi dengan menambahkan mata kuliah Corporate Governance. Bagi regu- lator, disarankan agar dalam penetapan proporsi komisaris independen sebaiknya jumlahnya lebih dari lima puluh persen, hal ini untuk mengimbangi suara pada dewan komisaris yang mayoritas serta komisaris independen sebaiknya terdiri dari berbagai bidang terutama bidang akuntansi dan keu- angan. Ketiga, mengingat pentingnya keberadaan internal control pada perus- ahaan, sementara kesadaran akan pent- ingnya internal control tersebut bagi mana- jemen masih sangat kurang, maka diharap- kan kepada otoritas pasar modal dalam hal ini Bapepam agar dapat mengeluarkan per- aturan yang berhubungan dengan internal control\ misalnya dengan mewajibkan pe- rusahaan untuk menciptakan internal con- trol yang memadai dan efektif, serta di- wajibkan internal control tersebut untuk diaudit oleh auditor independen dan mem- berikan opini atas internal control tersebut yang bersamaan dengan pelaporan keu- angan. Mengingat fungsi komite audit yang sangat penting dalam mengawasi mana- jemen perusahaan, sebaiknya regulator da- lam hal ini Bapepam dapat mengeluarkan peraturan untuk mewajibkan komite audit bekerja full-time di perusahaan yang mengangkat mereka agar komite audit dapat memonitor transaksi-transaksi yang tidak wajar yang ter jadi dalam perusahaan. Terakhir, diharapkan bagi perusahaan kesadaran akan pentingnya keberadaan in- ternal control yang cukup memadai dan efektif, komisaris independen dan komite audit yang efektif. Karena hal ini dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Para investor akan mempercayai penanaman modalnya pada perusahaan yang memiliki internal control yang baik dan memiliki komisaris independen serta komite audit yang efektif. Sebaiknya keberadaan komi- saris independen dan komite audit jangan hanya sekedar untuk memenuhi regulasi, tetapi keberadaan komisaris independen dan komite audit adalah untuk memenuhi kebu- tuhan dalam perusahaan. Jadi dalam penunjukkan komisaris independen dan komite audit harus berdasarkan atas kom- petensi dan kapabilitas bukan berdasarkan atas kedekatan hubungan. Hal ini bertujuan agar komisaris independen dan komite audit dapat bekerja secara profesional dan ber- fungsi sebagaimana mestinya. DAFTARPUSTAKA Aldrige E. John dan Siswanto Sutojo, 2005. Good Corporate Governance. Tata Kelola Perusahaan Yang Sehat. Penerbit DamarMulia,Jakarta. Bapepam. Siaran pers Badan Pengawas Pasar Modal Tanggal 27 Desenber 2002. Melalui (http://www. Bapepam. Co. id). http://www/ Makhdalena, Pengaruh Proporsi Komisaris Independen dan Komposisi..... 12 _______2003, Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-41/PM/2003. Tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Komite Audit. Boynton, W. C., N . J . Raymond an G. K.Walter. 2003. Modern Auditing. Seventh Edition. USA. Richard D. Irwin Inc. Corporation, Orlando, Florida. Braiotta, L. JR dan J. Zhou. 2006. "An Ex- ploratory Study of The Effects of The Sarbanes-Oxley Act, the SEC and United States Stock Exchange(s) Rules on Audit Committee Align- ment". Managerial Auditing Jour- nal. Vol 21. pp: 190 Bursa Efek Jakarta, 2000. Peraturan Pen- catatan Efek. Nomor l-A: Tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek- BersifatEkuitasdiBursa. Keputusan Direksi {T BEJ No. 315/BEJ/062000. Chtourou, S. M, Jean Bedard and Lucie Courteau, 2001 : Corporate Gov- ernance and Earnings Management". Working paper. Universite laval, Quebec City, Canada. April. Fama, E. F. and Jensen, M.C. 1983. "Sepa- ration of Ownership and Control". Journal of Law and Economics, 26: 301 -326. Forum for Corporate Governance in Indo- nesia (FCGI), 2001. Corporate Governance. Tata Kelola Perus- ahaan. Jilid 1 (Edisi ke-2). Jayanthi Krisnan, 2005. Internal Control Quality and Audit Committee Qual- ity: An Empirical Analysis. Ac- counting Review. Joscelyne, J. G. 2004. Ballancing Relation- ship : Archieving Symmetry Among the Internal Audit Function Board Management than Ever, Internal Auditor, Februari. Messier, William F. Jr. and Steven M. Glover and Douglas F. Prawitt. 2006. Auditing and Assurance Ser- vices: A Systematic Approach, Fourth Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. Rindova V. P, 1999. What Corporate Boards Have to do with Strategy: a Cogni- tive Perspective. Journal of Man- agement Studies. 36 (7). 953-975 dalam Luk Sarbanes-Oxley Act of 2002 (Sarbox), An Act., 107,h Congress USA. Sawyer, L. B., A. D. Mortimer dan H. S.James. 2005. Sawyer's Internal Auditing: The Practice of Modern Internal Auditing., Fifth Edition., Altamonte Springs, Florida: The In- stitute of Internal Auditors, Inc. Sitepu, Nirwana SK. 1994. Analisis Jalur (Path Analysis). Unit Pelayanan Statistika FMIPA UNPAD, Ban- dung. Zaman, Mahbub, 2001. Turn- bull-Generating in Due Expectations of the Corporate Governance Role of Audit Committees. Management Auditingjournal 16/1 / pp: 5-9. MCB University Press. Jurnal Akuntansi dan Investasi 12 (1), 1-14, Januari 2011 13 LAMPIRAN Daftar Sampel Penelitian No Kode Nama Emiten No Kode Nama Emiten 1 AKPI Argha Karya Prima In- dustry 25 INAF 2 AMFG 26 INDF 3 BRPT Barito Pasific Timber 27 KAEF Kimia Farma 4 DAVO Davomas Abadi 28 KLBF 5 HDTX Panasia Indosyntec 29 RMBA 6 INDR 30 SHDA Sari Husada 7 INTD 31 SMAR Sinar Mas Agro Resources (SMART) 8 IKSW 32 TSPC 9 MLPL 33 UNVR Unilever 10 SCCO 34 UNTR United Tractor 11 SIPO 35 ASGR Astra Graphia 12 SUDI 36 FAST Fast Food Indonesia 13 SULI Sumalindo Lestari Jaya 37 INTP Indocement Tunggal Perkasa 14 TBLA Tunas Baru Lampung 38 SMCB 15 TBMS Tembaga Mulia Semanan 39 TURI 16 TEJA 40 TRST 17 ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & Trading 41 SUBA 18 UNIC 42 MUA 19 INKP 43 SIMM Surya Intrindo Makmur 20 TKIM 44 MYOR Mayora Indah 21 ASH Astra Internasional 45 ADMG 22 AUTO Astra Otoparts 46 MYTX Apac Citra Centertex 23 GJTL Gajah Tunggal 47 BATI BAT Indonesia 24 HMSP HM Sampoerna 48 GGRM Gudang Garam Makhdalena, Pengaruh Proporsi Komisaris Independen dan Komposisi..... 14 Variables Entered/Removed b Model Variables Entered Variables Removed Method 1 X2, X1a Enter a. All requested variables entered, b. Dependent Variable: Y Model Summary Adjusted Std. Error of Model R R Square R Square the Estimate 1 .4807 a .2310 .1969 .3582 a. Predictors: (Constant), X2, XI ANOVA b Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1.735 2 .8676 6.7604 .0027 a Residual 5.775 45 .1283 Total 7.510 47 a. Predictors: (Constant), X2, X1 b. Dependent Variable: Y Coefficients a Model Unstandard- ized Coeffi- cients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.1396 .3665 3.1092 .0032 X1 1.2379 .5292 .3140 2.3390 .0238 X2 .1415 .0634 .2995 2.2315 .0307 a. Dependent Variable: Y