Jurnal Akuntansi dan Investasi Volume. 12 Nomor. 2, halaman: 144-160, Juli 2012 144 PERAN FAKTOR-FAKTOR KEUANGAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha E-Mail suryo@umy.ac.id Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ABSTRACT The objective of the study is to empirically examine the role of finacial factors ad economic growth to acceptance of regional own revenue. The samples of study are direct revenue, economic growth, and acceptance of regional own revenue in 2007–2009 at 391 municipal. The empirical results show that the employee ex- penditure has negative and significant directly effect to economic growth. While good and service expenditure has positive and significan on directly effect to eco- nomic growth. Capital expenditure has positive and not significan on directly ef- fect to economic growth. While the employee expenditure has positive and signifi- cant on indirectly effect to acceptance of regional own revenue by means of eco- nomic growth. Good and service expenditure has positive and significant on indi- rectly effect to acceptance of regional own revenue by means of economic growth. Capital expenditure has positive and not significan on indirectly effect to ac- ceptance of regional own revenue by means of economic growth. While directly effect of the economic growth to acceptance of regional own revenue are positve and not significant. Keywords: Direct Expenditure, Economic Growth, Acceptance of Regional Own Revenue, Municipal. PENDAHULUAN Data menunjukan proporsi pendapatan asli daerah (PAD) dalam membiayai belanja pemerintah daerah paling tinggi hanya sebesar 20 persen (Kuncoro, 2007). Apakah pemerintah daerah harus terus menggan- tungkan pendapatan daerah mereka kepada pemerintah pusat, di saat inilah kemandirian daerah itu dituntut untuk diwujudkan agar pemerintah daerah tidak ketergantungan dengan pemerintah pusat. Semangat otonomi ternyata telah membuat daerah–daerah Otonom memiliki obsesi yang sangat tinggi untuk bisa meningkatkan pendapatannya. Sema-ngat tersebut berlanjut pada penerbitan berbagai Peraturan Daerah yang sejak semula memang dimaksudkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Namun dengan terbitnya Peraturan Daerah tersebut, bukannya peningkatan PAD yang diperoleh, melainkan sepinya minat investor untuk datang ke daerah. Dengan pemaksimalan belanja pegawai, belanja modal dan belanja barang dan jasa diharapkan dapat meningkatkan PAD pada suatu pemda, dengan PAD yang tinggi otomatis segala kebutuhan pemda itu akan tercukupi dan hal ini juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah terse- but, dan daerah juga dituntut untuk Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 145 mengoptimalkan potensi pendapatan yang dimiliki dan salah satunya dengan memberikan porsi belanja daerah yang lebih besar untuk sektor-sektor produktif (Adi, 2007). Belanja modal dilakukan untuk membangun infrastruktur yang mendukung kegiatan disuatu pemda. Infrastruktur dan sarana prasarana yang ada di daerah akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah (David dan Adi, 2007). Secara logika jika sarana dan prasarana terbentuk dengan baik dan maksimal otomatis akan menarik investor untuk berinvestasi dan membuka usaha baru. Dengan bertambahnya usaha baru maka akan jelas berdampak pada pendapatan asli daerah itu sendiri. Belanja barang dan jasa tentunya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Ketika belanja barang dan jasa dipenuhi, para pegawai Pemda dapat dengan cepat melakukan tindakan pelayanan publik. Dengan cepat- nya pelayanan publik maka diharapkan dapat meningkatkan PAD. Belanja pegawai dilakukan sebagai upaya memaksimalkan kinerja tiap pegawai di suatu Pemda. Logikanya ketika dengan banyaknya jumlah pegawai di lingkuangan birokrasi pemda, beban kerja setiap individu akan menjadi lebih ringan, beban yang semakin ringan ini seharusnya berkorelasi terhadap pelayanan pada masyarakat dalam waktu yang semakin cepat. Hal tersebut di atas berhubungan dengan birokrasi dalam melaku-kan bisnis dan pekerjaan bagi masyarakat, dengan cepatnya pelayanan kepada publik ini makajalannya bisnis dalam dikalangan masyarakat juga akan semakin lancar. Dengan lancarnya kegiatan usaha masya- rakat akan meningkatkan pertum-buhan ekonomi daerah tersebut, dikarena-kan lancarnya kegiatan usaha masyarakat. Semakin tinggi tingkat investasi modal diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik dan pada gilirannya mampu meningkatkan tingkat partisipasi publik terhadap pembangunan yang tercermin dari adanya peningkatan PAD (Mardiasmo, 2002). Biaya pembangunan perlu dialokasikan dengan baik karena penelitian yang dilakukan Wong (2004) dalam Setiaji dan Adi (2007) menunjukkan bahwa pembangunan infras-truktur industri mempunyai dampak yang nyata terhadap kenaikan pajak daerah. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Peningkatan pendapatan asli daerah yang tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan ekonomi dirasa tidak akan memberikan arti. Brata (2004) menya-takan bahwa terdapat dua komponen penerimaan daerah yang berpengaruh positif secara signifikan terhadap pertum-buhan ekonomi regional. Kedua kom-ponen tersebut adalah PAD dan Bagian Sumbangan serta Bantuan. Penelitian Brata (2004) belum mencakup periode setelah otonomi daerah sehingga hubungan PAD dan pertumbuhan ekonomi dapat saja mengarah ke hubungan negatif jika daerah terlalu agresif dalam upaya peningkatan penerimaan daerahnya. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan meningkatkan investasi. Adi (2007) menya- takan pergeseran komposisi belanja merupakan upaya logis yang dilakukan pemerintah daerah setempat dalam rangka meningkatkan tingkat kepercayaan publik dan meningkatkan partisipasi publik dalam pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan fasilitas ini akan meningkatan Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 146 pendapatan asli daerah dan berujung pada peningkatan kemandirian daerah. Penelitian tentang belanja daerah berpengaruh terhadap PAD juga pernah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, seperti penelitian Adi (2007) yang menunjukan adanya pengaruh positif belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal terhadap PAD pemerintah se-Jawa Bali, demikian juga yang dilakukan oleh Putra (2010), yang menyimpulkan hasil yang sama yaitu adanya pengaruh positif belanja pegawai dan belanja barang dan jasa terhadap PAD, namun disini belanja modal berpengaruh negatif terhadap PAD, pada Pemda dengan kemampuan tinggi, sedang, rendah se- Indonesia. Hal ini didukung oleh penelitian Suryawan (2007) yang menyatakan adanya hubungan positif signifikan ketiga belanja yaitu belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal terhadap PAD se- Jawa Bali. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adi (2007) tentang pengaruh belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja modal terhadap penerimaan PAD, tinjauan pada pemda dengan kemampuan keuangan rendah se-Jawa Bali. Dalam penelitian ini penulis menambahkan variabel eksogen pertumbuhan ekonomi, dikarenakan pertum- buhan ekonomi adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah daerah maupun pemerintah, baik pusat maupun daerah. Peningkatan PAD yang tidak diikuti oleh peningkatan pertumbuhan ekonomi dirasa tidak akan memberikan arti positif terhadap peningkatan PAD dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang baik disuatu daerah akan mempengaruhi peningkatan PAD di daerah tersebut. Variabel belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal dalam penelitian ini menggunakan leg 2 tahun atau t-2, sedangkan untuk variabel pertumbuhan ekonomi menggunakan leg 1 tahun atau t-1. Dikarenakan belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal tahun 2007 digunakan untuk memprediksi PAD tahun 2009. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 digunakan untuk memprediksi PAD tahun 2009. Jika peneliti menggunakan belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal dan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 maka peneliti tidak dapat memprediksi PAD tahun 2009. Penulis juga menambahkan statistik deskriptif untuk menggambarkan data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Disamping itu analisis deskriptif dalam penelitian ini juga ditujukan untuk membandingkan antara factor-faktor keuangan yang berupa belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja modal, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan asli daerah ke dalam zona waktu Indonesia. Peneliti juga memperluas ruang lingkup studi empiris dengan meneliti pemda se- Indonesia. Perbedaan kontur geografis antara wilayah Indonesia Timur, Tengah dan Indonesia Barat tentunya akan memunculkan kebijakan masing-masing daerah. Dengan uraian diatas maka peneliti akan melakukan Penelitian dengan judul. TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Belanja (Pegawai, Barang dan Jasa dan Modal) dan Pertumbuhan Ekonomi Optimalisasi penerimaan PAD hen- daknya didukung dengan upaya pemda meningkatkan kualitas layanan publik. Ekploitasi PAD yang berlebihan justru akan semakin membebani masyarakat, menjadi Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 147 disinsentif bagi daerah dan mengancam perekonomian secara makro (Mardiasmo, 2002). Tidak efektifnya berbagai perda baru (terkait dengan retribusi dan pajak) selama tahun 2001 bisa jadi menunjukkan tidak adanya relasi positif antara berbagai pungutan baru itu dengan kesungguhan pemda dalam meningkatkan mutu layanan publik (Lewis, 2003). Wurzel (1999) menegaskan meskipun mempunyai kewe- nangan untuk menarik pajak dan retribusi (charge), kewenangan ini perlu dipertim- bangkan untung-ruginya (cost and benefit), misal dalam penentuan tarif layanan publik. Keengganan masyarakat untuk membayar pajak ataupun retribusi bisa jadi disebabkan kualitas layanan publik yang mempri- hatinkan. Akibatnya produk yang seha- rusnya bisa dijual justru direspon negatif (Mardiasmo, 2002). Berbagai belanja yang dialokasi pemerintah, hendaknya memberikan man- faat langsung bagi masyarakat. Untuk itu, untuk kepentingan jangka pendek, pungutan yang bersifat retribusi lebih relevan dibanding pajak. Alsan yang mendasari, pungutan ini berhubungan secara langsung dengan masyarakat. Masyarakat tidak akan membayar apabila kualitas dan kuantitas layanan publik tidak mengalami pening- katan (Mardiasmo 2002). Dari 803 perda penerimaan daerah, 90,3 % merupakan retribusi (Lewis, 2003). Namun, banyaknya perda ini tidak memberikan tambahan pendapatan daerah yang signifikan. Hal ini menunjukkan indikasi adanya tingkat layanan publik yang masih rendah. Belanja yang dikeluarkan peme-rintah daerah khususnya belanja lansung yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan belanja modal sangat ber- pengaruh terhadap pertumbuhan ekono-mi dikarenakan ketiga belanja tersebut mempu- nyai peran yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di peme-rintahan daerah yaitu da- lam peningkatan kinerja pegawai pemerintah di daerah dengan kinerja yang baik dari pegawai pemerintah daerah dan belanja barang dan jasa yang diperuntukkan untuk pembangunan infra-struktur public seperti jalan raya,dan fasiltas publik lain nya yang secara khusus diperuntukkan untuk peningkatan pelayanan masyarakat hal ini akan berdampak pada pendapatan asli dae- rah menjadi naik sehingga partum-buhan ekonomi di suatu daerah akan menjadi ting- gi juga. Belanja modal juga dilakukan untuk membangun infrastruktur yang mendu-kung kegiatan disuatu pemda. Infras-truktur dan sarana prasarana yang ada di daerah akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah (David dan Priyo, 2007). Secara logika jika sarana dan prasarana terbentuk dengan baik dan maksimal otomatis akan menarik investor untuk berinvestasi dan membuka usaha baru. Dengan bertam- bahnya usaha baru maka akan jelas berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Dan pendapatan asli daerah tersebut akan meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Adi (2006) membuktikan bahwa belanja modal mempunyai pengaruh positif terhadap per- tumbuhan ekonomi, alokasi belanja modal untuk pengembangan infrastruktur penun- jang perekonomian, akan mendorong tingkat produktifitas penduduk. Pada giliran-nya hal ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara umum yang tercermin dalam pendapatan perkapita. Pergeseran komposisi belanja ini, juga digunakan untuk pembangunan fasilitas modal yang dibutuhkan bagi pertumbuhan ekonomi. Penelitian yang dilakukan Wong (2004) menunjukkan pembangunan sektor Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 148 industri tertentu (dalam hal ini sektor jasa dan retail) memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan pajak. Lin dan Liu (2000) menyatakan bahwa pemerintah perlu untuk meningkatkan investasi modal guna me- ningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Mereka menemukan adanya korelasi yang kuat antara share (belanja) investasi pada infrastruktur dengan tingkat desentralisasi. Strategi alokasi anggaran pembangunan ini pada gilirannya mampu mendorong dan mempercepat pem-bangunan ekonomi nasional, sekaligus menjadi alat untuk mengurangi disparitas regional (Madjidi, 1997). Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik hipotesis: H1: Terdapat pengaruh positif Belanja Pegawai terhadap Pertumbuhan Ekonomi SeIndonesia. H2: Terdapat pengaruh positif Belanja Ba- rang dan Jasa terhadap Pertum- buhan Ekonomi Se-Indonesia. H3: Terdapat pengaruh positif Belanja Modal terhadap Pertumbuhan Ekonomi SeIndonesia. Belanja (Pegawai, Barang dan Jasa dan Modal) dan Pendapatan Asli Daerah Dengan pemaksimalan belanja pegawai, belanja modal dan belanja barang dan jasa diharapkan dapat meningkatkan PAD pada suatu pemda, dengan PAD yang tinggi otomatis segala kebutuhan pemda itu akan tercukupi dan hal ini juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah terse- but, dan daerah juga dituntut untuk mengoptimalkan potensi pendapatan yang dimiliki dan salah satunya dengan memberikan porsi belanja daerah yang lebih besar untuk sektor-sektor produktif (Priyo Hari Adi 2007). Belanja barang dan jasa tentunya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Ketika belanja barang dan jasa dipenuhi, para pegawai pemda dapat dengan cepat melukan tindakan untuk melakukan pelayanan publik. Dengan lancarnya pelyanan publik maka diharapkan dapat menaikan PAD. Belanja pegawai dilakukan sebagai upaya maksimalan kinerja tiap pegawai di suatu pemda. Logikanya ketika dengan banyaknya jumlah pegawai di lingkuangan birokrasi pemda, beban kerja setiap individu akan menjadi lebih ringan, beban yang semakin ringan ini seharusnya berkorelasi terhadap pelayanan pada masyarakat dalam waktu yang semakin cepat. Penyelesaian tugas kepada masyarakat ini diharapkan akan mening-katkan pertumbuhan ekonomi. Belanja-belanja yang dilakukan ini bertujuan untuk meningkatkan penda-patan asli suatu daerah. Semakin tinggi keperluan terhadap belanja pegawai maka pemerintah harus berusaha untuk untuk meningkatka PAD agar dapat memenuhi kebutuhan akan belanja pegawai, barang dan jasa, karena pembiayaan atas belanja ini diusahakan dari PAD. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis: H4: Terdapat pengaruh positif Belanja Modal terhadap PAD Se-Indonesia. H5: Terdapat pengaruh positif Belanja Pegawai terhadap PAD Se- Indonesia. H6: Terdapat pengaruh positif Belanja Barang dan Jasa terhadap PAD Se- Indonesia. Pendapatan Asli Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi Salah satu tujuan utama desentralisasi fiskal adalah menciptakan kemandirian daerah. Dalam perspektif ini, pemerintah daerah (pemda) diharapkan mampu menggali sumber-sumber keuangan lokal, khususnya melalui Pendapatan Asli Daerah (Sidik, 2002). Ketergantungan pada transfer Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 149 dari permerintah pusat dari tahun ke tahun harus semakin dibatasi. Oates (1995) memberikan alasan yang cukup rasional mengapa pemda harus mengurangi ketergantungan ini : 1) Transfer pusat biasanya disertai dengan persyaratan tertentu, sehingga otonomi relatif bersifat kompromis, terlebih bila dana transfer merupakan sumber dominan penerimaan lokal. 2) Ketergantungan pada transfer justru mengurangi kreatifitas lokal untuk mengambil kebijakan terkait dengan penerimaan lokal yang lebih efisien. Pendapatan Asli Daerah idealnya menjadi sumber utama pendapatan lokal. Sumber pendapatan lain relatif fluktuatif dan cenderung diluar kontrol (kewenangan) pemerintah daerah (Sidik, 2002; Bappenas 2003). Data menunjukkan bahwa kontribusi PAD meningkat dari 6,59 % pada tahun 2001 menjadi 7,33 % pada tahun 2002 (Badan Pusat Statistik, 2004), dengan sumber utama penerimaan dari pajak daerah dan retribusi. Namun demikian, kontribusi PAD ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan transfer pusat (DAU dan DAK) yang mencapai 79,14 %. Lewis (2003) menemukan terjadi kenaikan penerimaan yang cukup signifikan terkait dengan penerimaan pemda, yaitu sebesar 56 % untuk pemerintah propinsi dan 103 % untuk pemerintah kabupaten dan kota. Dari kenaikan tersebut, PAD memberikan kontribusi pada masing-masing pemda sebesar 76 % dan 46 %. Gambaran ini menunjukkan belum optimalnya pemda (khususnya kabupaten dan kota) dalam menggali potensi lokal yang dimiliki. Peningkatan PAD sebenarnya meru- pakan ekses dari pertumbuhan ekonomi (Saragih, 2003). Daerah yang pertum-buhan ekonominya positif mempunyai kemungkinan mendapatkan kenaikan PAD. Dari perspektif ini seharusnya pemda lebih berkonsentrasi pada pemberdayaan kekuatan ekonomi lokal untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi daripada sekedar mengeluarkan produk perundangan terkait dengan pajak ataupun retribusi. Sektor-sektor industri, khususnya jasa, perlu dioptimalisasi. Pajak dan retribusi (sebagai komponen terbesar PAD) sangat terkait dengan kegiatan sektor industri. Pajak dan retribusi sebenarnya merupakan ekses/nilai tambah dari lebih optimalnya sektor imdustri ini (Kadjatmiko dan Mahi dalam Sidik, 2002). Dengan kata lain pertumbuhan domestik dari sektor ini dapat digunakan untuk mengestimasi besarnya PAD (pajakdan restribusi) yang akan diterima. Pertumbuhan PAD seharusnya sensitif terhadap kenaikan PDRB. Analisis elastisitas PAD terhadap PDRB yang dilakukan oleh Bappenas (2003) pada pemerintah propinsi menunjukkan ada 12 propinsi (41,37 %) yang mempunyai nilai elastisitas β‰₯ 1 (lebih dari satu). Hal ini menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan PDRB akan memberikan dampak yang positif dan signifikan terhadap perubahan PAD. Sedangkan propinsi yang lain perubahan PDRB-nya tidak cukup mempengaruhi perubahan PAD. Patut diduga adanya kenaikan nilai tambah PDRB lebih banyak keluar dari daerah tersebut. Dalam era desentralisasi fiskal hal semacam ini wajar terjadi, mengingat adanya kompetisi antar pemerintah dalam memfasilitasi berbagai sektor guna memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Sebagai contoh adalah dibukanya peluang berinvestasi dengan berbagai kemudahan. Tingginya aktivitas investasi ini akan mendorong Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 150 Belanja Barang dan Jasa (X2) pertumbuhan ekonomi, dan pada gilirannya memberikan pemasukan yang signifikan bagi pemerintah daerah setempat (Lin dan Liu, 2000; Saragih, 2003; Bappenas, 2003). H7: Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif terhadap PAD Se-Indonesia. METODE PENELITIAN Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah data realisasi APBD tahun 2007-2009, belanja pegawai, belanja barang dan jasa dan bel- anja modal tahun 2007, laju pertumbuhan PDRB tahun 2008, dan pendapatan asli dae- rah tahun 2009 pada kabupaten dan kota se indonesia. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data penelitan diperoleh dan dikumpulkan dari hasil yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) berupa laporan realisasi APBD kabupaten dan kota se Indonesia tahun 2007 dan 2009 dan PDRB tahun 2008. Laporan realisasi APBD kabupaten se Indonesia tahun 2007-2009 digunakan untuk melihat nilai belanja modal . Belanja pegawai, belanja barang dan jasa Serta pendapatan asli daerah. Gambar 1. Model Penelitian Definisi operasional variabel Belanja Pegawai Belanja pegawai diukur dari total penjumlahan belanja pegawai/personalia pada kelompok belanja aparatur daerah dan belanja pelayanan publik. Data ini diperoleh dari laporan keuangan pemda untuk tahun pelaporan tahun 2007. Belanja Barang Jasa Belanja barang dan jasa diukur dari total penjumlahan belanja barang dan jasa pada kelompok belanja aparatur daerah dan belanja pelayanan publik. Data ini diperoleh dari Laporan Keuangan pemda untuk tahun pelaporan tahun 2007. Belanja Modal Belanja modal diukur dari total penjumlahan belanja modal pada kelompok belanja aparatur daerah dan belanja pelayanan publik. Data ini diperoleh dari Laporan Keuangan pemda untuk tahun pelaporan tahun 2007. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan rumus pertumbuhan ekonomi Belanja Modal (X3) Belanja Pegawai (X1) PAD (Y) PERTUMBUHAN EKONOMI Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 151 sedangkan kemandirian daerah diukur dengan rasio kemandirian. Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi, diambil data PDRB maupun data pendapatan per kapita tiap-tiap daerah pada tahun yang dianalisis. Sedangkan untuk kemandirian daerah digunakan data realisasi APBD. Adapun pertumbuhan ekonomi (dalam konteks daerah) maupun pendapatan per kapita dihitung dengan formulasi berikut ini (Kuncoro, 2004 dalam Adi, 2007): π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘‘π‘’π‘šπ‘π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘’π‘˜π‘œπ‘›π‘œπ‘šπ‘– = 𝑃𝐷𝑅𝐡𝑑 βˆ’ π‘ƒπ·π‘…π΅π‘‘βˆ’1 π‘ƒπ·π‘…π΅π‘‘βˆ’1 π‘₯100% Keterangan : PDRBt = Produk Domestik Regional Bruto pada tahun t PDRBt-1 = Produk Domestik Regional Bruto satu tahun sebelum tahun t Pendapatan Asli Daerah PAD diukur dari total penjumlahan pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan dan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah. Data ini diperoleh dari Laporan Keuangan pemda untuk tahun pelaporan tahun 2008. Analisis Data Analisis Diskriptif Analisis ini menggunakan alat-alat seperti rata-rata, nilai maksimum, minimum dan standar deviasi. Analisis ini ditujukan untuk memberikan gambaran awal tentang faktor keuangan, Pertum-buhan Ekonomi, dan PAD degan membandigkan dari masing masing daerah pembagian waktu di Indone- sia. Analisis Structural Equation Model (SEM) Analisis ini digunakan untuk menguji Hipotesis 1-7. Dengan alat ini dimung- kinkan pengujian pengaruh simultan sebuah variabel terhadap variabel-variabel lain. Pengujian asumsi klasik diperlukan sebelum dilakukan analisis struktural ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dalam penelitian ini juga ditujukan untuk membandingkan antara faktor-faktor keuangan yang berupa belanja pegawai, belanja barang dan jasa, belanja modal, pertumbuhan ekonomi, dan pen- erimaan pendapatan asli daerah yang dibandingkan ke dalam tiga zona waktu In- donesia, yaitu indonesia bagian Barat, Ten- gah, dan Timur. Berikut disajikan hasil deskriptif pada tabel 1. Analisis Structural Equation Models (SEM) Berdasarkan kajian teori, maka dapat dibuat diagram alur hubungan kausalitas antar konstruk beserta indikatornya. Hubungan tersebut dapat dilihat pada gambar 2. Persamaan Struktural dan Measurement Model Persamaan struktural dari model diagram alur pada gambar 2. dapat dinyatakan sebagai berikut: PAD = Ξ²1 PE + Z1 PE = Ξ²1 BP + Ξ²2 BBJ + Ξ²3 BM + Z2 PAD = Ξ²1 BP + Ξ²2 BBJ + Ξ²3 BM + Z3 Keterangan: PAD: Pendapatan Asli Daerah PE : Pertumbuhan Ekonomi BP: Belanja Pegawai BBJ: Belanja Barang dan Jasa BM: Belanja Modal Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 152 Tabel 1 Deskriptif Statistik Data Penelitian Varia- bel N Minumum Maximum Mean Std. Deviation Daerah Bagian Barat BP BBJ BM PE PAD 229 229 229 229 229 60.000.000.000 20.000.000.000 40.000.000.000 -7,71 4.555 1.000.000.000.000 500.000.000.000 1.000.000.000.000 14,74 864.083 300.000.000.000 100.000.000.000 200.000.000.000 5,4019 57.474,57 155.600.000.000 65.100.000.000 125.600.000.000 1,79136 80.629,97091 Daerah Bagian Tengah BP BBJ BM PE PAD 115 115 115 115 115 40.000.000.000 30.000.000.000 30.000.000.000 -9,78 6.992 600.000.000.000 700.000.000.000 2.000.000.000.000 14,44 667,559 200.000.000.000 80.000.000.000 200.000.000.000 6,0645 35.423,25 85.610.000.000 67.320.000.000 177.700.000.000 2,53298 64435,74175 Daerah Bagian Timur BP BBJ BM PE PAD 47 47 47 47 47 50.000.000.000 40.000.000.000 90.000.000.000 4,16 3.500 300.000.000.000 200.000.000.000 400.000.000.000 16,9 94.135 100.000.000.000 100.000.000.000 200.000.000.000 7,4098 17.553,55 52.140.000.000 40.210.000.000 74.800.000.000 2,49470 17556,82382 Gambar 2. Hasil Rangkaian Alur Structural Equation Model BP BBJ BM PE PAD 5 p5 1 p1 2 p2 3 p3 4 p4 Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 153 Tabel 2 Assessment of Normality Vari able min max skew c.r. kurtosis c.r. BM 32975538102.000 1670458200480.640 5.455 44.037 44.514 179.670 BBJ 23587458400.000 678127250681.210 3.712 29.966 23.463 94.703 BP 43226924239.000 1011482302493.400 1.589 12.825 3.714 14.991 PE -9.780 16.900 -.808 -6.520 12.977 52.378 PA D 3500.000 864083.000 6.457 52.126 57.018 230.140 Mult ivari ate 190.54 0 225.162 Sedangkan spesifikasi dari model pengukuran, persamaannya dapat disusun sebagai berikut: β€’ Konstruk Eksogen Belanja pegawai X1 = Ξ»1BP + e1 β€’ Konstruk Eksogen belanja barang dan jasa X2 = Ξ»2BBJ + e2 β€’ Konstruk Eksogen belanja modal X3 = Ξ»3BM + e3 β€’ Konstruk Endogen Pertumbuhan Ekonomi Y1 = Ξ³1PE + e4 β€’ Konstruk Endogen Penerimaan pen- dapatan asli daerah Y2 = Ξ³2PAD + e5 Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Evaluasi kriteria goodness of fit terhadap model yang dihasilkan secara lengkap dapat dilakukan sebagai berikut: Evaluasi Normalitas Data Evaluasi normalitas data dilakukan dengan menggunakan kriteria critical ratio skewness value sebesar Β± 2,58 pada tingkat signifikansi 0,01 (1%). Data dikatakan berdistribusi normal jika nilai critical ratio skewness value di bawah harga mutlak 2,58 (Ferdinand, 2000:134; Ghozali, 2004:105). Berdasarkan hasil perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 2, ternyata nilai critical ratio skewness value dari semua indikator berada di atas Β± 2,58. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data dari semua indikator berdistribusi tidak normal sehingga perlu dilakukan tranformasi dengan menggunakan log natural (Ln). Ber- dasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan data yang yang telah dihitung melalui tranformasi dengan meng-gunakan log-natural maka ditemukan hasil se- bagaimana yang disajikan pada tabel 3. Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa nilai critical ratio skewness value dari semua indikator berada pada rentang Β± 2,58. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data dari semua indikator berdistribusi normal, dan layak digunakan untuk penelitian. Selanjutnya data yang digunakan adalah data yang berasal dari tranformasi dengan menggunakan Log natural. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 154 Tabel 3 Assessment of Normality Dengan Menggunakan Tranformasi Ln Variable min max skew c.r. kurtosis c.r. LnBM 24.219 28.144 .095 .679 .045 .347 LnBBJ 23.884 27.243 .063 .578 .089 .628 LnBP 24.490 27.642 .058 .467 -.408 -1.638 LnPE .351 2.827 -.040 -.317 .073 .520 LnPAD 8.161 13.669 .054 .401 .544 2.180 Multivariate .497 1.984 Evaluasi Outlier Deteksi outlier dilakukan untuk melihat univariate outlier maupun multivariate outlier. Univariate outlier dideteksi dengan menggunakan dasar nilai z-score. Jika nilai z-score β‰₯ 3,0 maka data observasi tersebut ada yang outlier (Ferdinand, 2000:134). Hasil perhitungan z- score dapat ditunjukkan pada tabel 4 berikut. Tabel 4 Nilai Z-Score N Minimum Maximum ZscoreLnBM 386 .70979 .72814 ZscoreLnBBJ 386 .68006 .64851 ZscoreLnBP 386 .73384 .68377 ZscoreLnPE 386 -1.40839 -1.50930 ZscoreLnPAD 386 -.71529 -.55112 Valid N (listwise) 386 Sedangkan untuk mendeteksi multi- variate outlier dilakukan dengan melihat nilai mahalanobis distance. Nilai mahalanobis distance dibandingkan dengan nilai chi-square pada tingkat signifikansi 0,001. Apabila terdapat nilai mahalanobis distance yang lebih besar dari nilai chi- square, berarti terjadi masalah multivariate outlier (Ferdinand, 2000; Ghozali, 2004). Berdasarkan ketentuan tersebut, pada penelitian ini nilai chi-square dengan tingkat signifikansi 0,001 dan degree of freedom 3 atau Ο‡2 (3,0.001) diperoleh nilai sebesar 20,286. Tabel 5 Nilai Mahalanobis Distance Observation number Mahalanobis d-squared p1 p2 287 17.780 .003 .000 370 17.656 .003 .000 337 17.522 .004 .000 55 16.872 .005 .000 Sebagaimana ditunjukkan pada tabel 5, hasil perhitungan mahalanobis distance penelitian ini paling besar adalah 17,780, dan nilai tersebut lebih kecil dari nilai chi- square 20,286. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini tidak terdapat permasalahan multivariate outlier. Hal ini berarti data tersebut layak untuk digunakan. Evaluasi Multicollinearity dan Singularity Permasalahan multicollinearity dan singularity dapat dideteksi melalui nilai determinan matriks kovarian. Semakin besar nilai matriks kovarian, berarti data semakin baik. Dalam penelitian ini, nilai determinan matriks kovarian sebesar 0,056. Meskipun nilai tersebut mendekati angka nol, namun masih lebih besar dari nol sehingga data tetap layak untuk digunakan. Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 155 Tabel 6 Hasil Perhitungan Goodness of Fit Kriteria Hasil Model Nilai Kritis Kesimpulan X2-Chi-square 3.898 Kecil Baik Probability 0,269 > 0,05 Baik RMSEA 0,025 < 0,08 Baik GFI 1.063 > 0,90 Baik AGFI 0,915 > 0,90 Baik CMIN/DF 1.299 < 2,00 Baik TLI 0,973 > 0,95 Baik CFI 0,989 > 0,95 Baik Tabel 7 Estimasi Parameter Estimate S.E. C.R. P LnBP <--- p1 0,570 0,021 27,749 0,000 LnBBJ <--- p2 0,350 0,013 27,749 0,000 LnBM <--- p3 0,294 0,011 27,749 0,000 LnPE <--- LnBP -0,150 0,025 -6,000 0,000 LnPE <--- LnBBJ 0,153 0,029 5,304 0,000 LnPE <--- LnBM 0,009 0,028 0,323 0,746 LnPE <--- p4 0,140 0,005 27,749 0,000 LnPAD <--- LnBBJ 0,270 0,064 4,240 0,000 LnPAD <--- LnBP 1,025 0,056 18,374 0,000 LnPAD <--- LnBM 0,040 0,060 0,674 0,500 LnPAD <--- p5 0,267 0,010 27,749 0,000 LnPAD <--- LnPE 0,021 0,109 0,189 0,850 Evaluasi Indeks Kriteria Goodness of Fit Hasil perhitungan model SEM meng- hasilkan indeks goodness of fit sebagaimana ditunjukkan tabel 6. Berdasarkan tabel 7, dapat dilihat bahwa semua kriteria pengujian menunjukkan hasil yang baik. Pengujian model yang dilakukan menghasilkan konfirmasi yang baik atas dimensi-dimensi faktor dan hubungan kausalitas antar faktor. Dengan demikian maka model tersebut dapat diterima. Evaluasi Regression Weight untuk Uji Kausalitas Hasil perhitungan estimasi nilai parameter sebagaimana ditunjukkan pada tabel 7. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, nilai critical ratio (CR) yang identik dengan uji-t dalam regresi, tidak ada yang sama dengan nol. Hal itu berarti bahwa hipotesis nol yang menyatakan koefisien regresi antar hubungan kausalitas adalah sama dengan nol dapat ditolak. Dengan demikian maka hubungan kausalitas yang disajikan dalam model dapat diterima. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 156 Analisis Direct Effect, Indirect Effect, dan Total Effect Analisis ini digunakan untuk melihat kekuatan pengaruh antar konstruk, baik pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, maupun pengaruh totalnya. Pengaruh langsung dari model penelitian ini sebagaimana disajikan pada tabel 8. Tabel 8 Standardized direct effects – Estimates LnBM LnBBJ LnBP LnPE LnBM .000 .000 .000 .000 LnBBJ .000 .000 .000 .000 LnBP .000 .000 .000 .000 LnPE .015 .250 -.283 .000 LnPAD .024 .158 .691 .007 Tabel 9 Standardized indirect effects – Estimates LnBM LnBBJ LnBP LnPE LnBM .000 .000 .000 .000 LnBBJ .000 .000 .000 .000 LnBP .000 .000 .000 .000 LnPE .000 .000 .000 .000 LnPAD .001 .003 -.006 .000 Hasil pengukuran menunjukkan bahwa variabel yang memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap variabel pertum- buhan ekonomi adalah variabel belanja peg- awai, yaitu sebesar -0,283 dan variabel yang memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap variabel penerimaan pendapatan daerah adalah variabel belanja pegawai, yaitu sebesar 0,691. Terdapat tiga variabel yang memiliki pengaruh tidak langsung terhadap variabel penerimaan pendapatan asli daerah sebagaimana ditunjukkan pada tabel 9. Dari pengukuran tersebut, variabel yang memiliki pengaruh tidak langsung terbesar terhadap variabel penerimaan pendapatan asli daerah adalah variabel belanja pegawai, yaitu sebesar -0,006. Oleh karena adanya pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antar variabel dalam model penelitian ini, maka perlu diukur pengaruh totalnya. Hasil pengukuran pengaruh total antar variabel sebagaimana ditunjukkan pada tabel 10. Tabel 10 Standardized Total Effects – Estimates LnBM LnBBJ LnBP LnPE LnBM .000 .000 .000 .000 LnBBJ .000 .000 .000 .000 LnBP .000 .000 .000 .000 LnPE .015 .250 -.283 .000 LnPAD .025 .161 .685 .007 Berdasarkan hasil pengukuran tersebut diketahui bahwa variabel yang memiliki pengaruh total terbesar terhadap variabel pertumbuhan ekonomi adalah variabel bel- anja pegawai, yaitu sebesar -0,283 dan variabel yang memiliki pengaruh total terbesar terhadap variabel penerimaan pen- dapatan asli daerah adalah variabel belanja pegawai, yaitu sebesar 0,685. Pengujian Hipotesis Analisis regresi dalam model ini ditentukan dengan critical ratio-nya (C.R.) hipotesis akan diterima bila nilai C.R. lebih dari Nilai kritik sebesar 2,58 (Hair dkk, 1998) pada taraf signifikansi 1%. Gambaran lengkap hasil penghitungan tampak pada tabel 11. Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 157 Tabel 11 Hasil Uji Hipoteis Estimate S.E. C.R. P Keterangan LnPE <--- LnBP -0,150 0,025 -6,000 0,000 Ha tidak diterima LnPE <--- LnBBJ 0,153 0,029 5,304 0,000 Ha diterima LnPE <--- LnBM 0,009 0,028 0,323 0,746 Ha diterima LnPAD <--- LnBBJ 0,270 0,064 4,240 0,000 Ha diterima LnPAD <--- LnBP 1,025 0,056 18,374 0,000 Ha diterima LnPAD <--- LnBM 0,040 0,060 0,674 0,500 Ha diterima LnPAD <--- LnPE 0,021 0,109 0,189 0,850 Ha diterima Hipotesis 1: Belanja Pegawai Berpengaruh Positif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nilai C.R. untuk pengaruh antara belanja pegawai terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar -6,000 dengan Pvalue sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 atau Pvalue (0,000) < Ξ± (0,05). Belanja pegawai berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 1 tidak dapat diterima. Hipotesis 2: Belanja Barang dan Jasa Berpengaruh Positif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nilai C.R. untuk pengaruh antara BBJ terhadap PE adalah sebesar 5,304 lebih besar dari nilai kritis 2,58 dengan Pvalue sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 atau Pvalue (0,000) < Ξ± (0,05). BBJ berpengaruh positif dan signifikan terhadap PE. Dengan demikian Hipotesis 2 dapat diterima. Hipotesis 3 : Belanja Modal berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nilai C.R. untuk pengaruh antara Bel- anja modal terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,323 dengan Pvalue sebesar 0,746 dimana lebih besar dari 0,05 atau Pvalue (0,746) > Ξ± (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa belanja modal berpengaruh positif tetapi pengaruh tersebut secara statistik tidak signifikan terhadap per- tumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 3 dapat diterima. Hipotesis 4 : Belanja Modal berpengaruh Positif terhadap PAD Melalui PE Nilai C.R. untuk pengaruh antara belanja modal terhadap kinerja keuangan daerah adalah sebesar 0,674 dengan Pvalue sebesar 0,500 dimana lebih besar dari 0,05 atau Pvalue (0,500) > Ξ± (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa belanja modal berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kinerja keuangan daerah. Dengan demikian Hipotesis 4 diterima. Hipotesis 5: Belanja Pegawai berpengaruh Positif terhadap PAD Melalui PE Nilai C.R. untuk pengaruh antara belanja pegawai terhadap PAD melalui pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 18,374 dengan Pvalue sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 atau Pvalue (0,000) < Ξ± (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa belanja pegawai berpengaruh positif dan signifikan terhadap PAD mealui pertum- buhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 5 diterima. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 158 Hipotesis 6: Belanja Barang dan Jasa berpengaruh Positif terhadap PAD melalui Pertumbuhan Ekonomi Nilai estimasi untuk pengaruh antara secara tidak langsung belanja barang dan jasa terhadap PAD melalui pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 4,240, dengan Pvalue sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 atau Pvalue (0,000) < Ξ± (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa belanja barang dan jasa berpengaruh positif dan signifikan terhadap PAD mealui pertum- buhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 6 diterima. Hipotesis 7: Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh Positif terhadap PAD Nilai estimasi untuk pengaruh Per- tumbuhan Ekonomi terhadap PAD adalah sebesar 0,189, dengan Pvalue sebesar 0,850 dimana lebih besar dari 0,05 atau Pvalue (0,850) > Ξ± (0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PAD. Dengan demikian Hipotesis 7 diterima. PENUTUP Dari hasil analisis yang dilakukan, maka penelitian ini menyimpulkan: pertama, belanja pegawai berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 1 tidak dapat diterima. Kedua, belanja barang dan jasa berpengaruh positif dan signifikan terhadap per- tumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 2 dapat diterima. Ketiga, belanja modal berpengaruh positif tetapi pengaruh tersebut secara statistik tidak signifikan terhadap per- tumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 3 dapat diterima. Keempat, belanja modal berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penerimaan PAD melalui pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 4 diterima. Kelima, belanja pegawai berpengaruh positif dan signifikan terhadap PAD melalui pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 5 diterima. Keenam, belanja barang dan jasa berpengaruh positif dan signifikan terhadap PAD melalui pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian Hipotesis 6 diterima. Tera- khir, pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PAD. Dengan demiki Penelitian ini tentunya memiliki keterbatasan, yakni diantaranya: periode pengamatan merupakan periode yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, dalam hal ini adalah kondisi negara yang tidak stabil seperti ekonomi makro, kondisi politik, kebijakan pemerintah, tingkat inflasi, dan lain-lain yang juga berimbas pada kestabilan daerah. Oleh karenanya, saran untuk penelitian se- lanjutnya sebaiknya menam-bahkan variabel bebasnya berupa variabel-variabel antara yang dapat mempengaruhi PAD, hal ini dimaksudkan agar dapat lebih jelas melihat faktor-faktor tidak langsung yang mempengaruhi PAD tersebut DAFTAR PUSTAKA Abimanyu, A. 2005. Format Anggaran Terpadu Menghilangkan Tumpang Tindih, http://www.fiskal.depkeu.go. id/beta/kolom1.asp?kolom1=1100000. Adi, P. H. 2007. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Belanja Pembangunan Dan Pendapatan Asli Daerah (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa – Bali), Jurnal Akuntansi Dan Sektor Publik 08 (01), 1450-1465, Februari 2007. Suryo Pratolo & Binang Sukma Yudha, Analisis Faktor-Faktor dan Pertumbuhan..... 159 Bappenas. 2003. Peta Kemampuan Keuangan Provinsi Dalam Era Otonomi Daerah: Tinjauan Atas Kinerja PAD dan Upaya Yang Dilakukan Daerah, Direktorat Pengembangan Otonomi Daerah. Ghozali, I. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan SPSS, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Halim, A., dan S. Abdullah, 2003. Pengaruh Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah: Studi Kasus Kabupaten/Kota di Jawa Dan Bali. Prociding Simposiun Nasional Akuntansi VI. Harianto, D., dan P. H. Adi. 2007. Hubungan Antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Per Kapita. Prociding Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar. Irfan, R. S. Analisis Pengaruh Belanja Pegawai, Belanja Barang Dan Jasa, Belanja Modal Terhadap Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (Tinjauan Pada Pemda Dengan Kemampuan Keuangan Rendah Se Jawa-Bali). Kuncoro, H. 2007. Fenomena Flypaper Effect Pada Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kota Dan Kabupaten Di Indonesia, Prociding Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar. Lembaran Negara. 1999. UU No. 22 Tahun1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Lembaga Negara. 1999. UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah. Lembaga Negara. 2004. UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Lembaga Negara. 2004. UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah. Lembaga Negara. 2007. Permendagri No. 21 Tahun 2007 Tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran Dan Pertang-gungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif Dan Dana Operasional. Mardiasmo. 2002. Otonomi Dan Manajemen Keuangan Daerah, Yogyakarta: Penerbit Andi. Mardiasmo. 2002. Otonomi Daerah Sebagai Upaya Memperkokoh Basis Perekonomian Daerah. http://www.ekonomirakyat.org/edisi_4 /artikel_3.html Setiaji, W., dan P. H. Adi. 2007. Peta Kemampuan Keuangan Daerah Sesudah Otonomi Daerah: Apakah Mengalami Pergeseran. (Studi Pada Kabupaten dan Kota se Jawa – Bali). Prociding Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar. http://www.ekonomirakyat.org/edisi_4/artikel_3.html http://www.ekonomirakyat.org/edisi_4/artikel_3.html Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 144-160, Juli 2012 160 Sidik, M. 2002. Perimbangan Keuangan Pusat Dan Daerah Sebagai Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal (Antara Teori dan Aplikasinya Di Indonesia), Seminar Setahun Implementasi Kebijaksanaan Otonomi Daera Di Indonesia, Jogjakarta 13 Maret 2002. Sidik, M. 2002. Optimalisasi Pajak Daerah dan Restribusi Daerah Dlam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah,www.sikd.djapkd.go.id. Susilo, G. T. B., dan P. H. Adi. 2007. Analisis Kinerja Keuangan APBD Sebelum dan Sesudah Otonomi Daerah (Studi Empiris Propinsi Jateng), Prosiding Konferensi Akuntansi Dan Sektor Publik Pertama, Surabaya. www.bmkg.go.id http://www.sikd.djapkd.go.id/ http://www.bmkg.go.id/