Jurnal Akuntansi & Investasi Vol. 12 No. 2, halaman: 175-184, Juli 2012 175 PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN DAN KEJELASAN SASARAN ANGGARAN TERHADAP BUDGETARY SLACK DENGAN INFORMASI ASIMETRI, KOMITMEN ORGANISASI, DAN BUDGET EMPHASIS SEBAGAI PEMODERASI Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi E-Mail: alekmurtin@umy.ac.id Fakultas Ekonomi Universitas Muhammdiyah Yogyakarta ABSTRACT This study tries to understand the influences of (1) budget participation to budgetary slack, (2) budget goal clarity to budget slack, (3) asymmetry information on the relation of budget participation as well as budgetary slack, (4) organizational commitment on the relation of budget participation as well as budgetary slack, (5) budget emphasis on the relation of budget participation as well as budgetary slack, (6) asymmetry information on the relation of budget goal clarity as well as budgetary slack, (7) organizational commitment on the relation of budget goal clarity as well as budgetary slack, (8) budget emphasis on the relation of budget goal clarity as well as budgetary slack. The subjects of this study are middle and lower managers in local government instutions including section/department/sub-section head, under the municipality and regencies in the city government of Yogyakarta. The results show, (1) budget participation influences to budgetry slack, (2) budget goal clarity influences to budgetry slack, (3) asymmetry information act as moderating variable in the relation of budget participation with budgetary slack, (4) organizational commitment act as moderating variable in the relation of budget participation with budgetary slack. Keywords: Budget Participation, Budget Goal Clarity, Asymmetry Information, Organizational Commitment, Budget Emphasis, Budgetary Slack. PENDAHULUAN Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang- Undang No 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, menyebut- kan bahwa akuntabilitas atau pertanggung- jawaban pemerintah daerah terdiri dari pertanggungjawaban vertikal kepada peme- rintah pusat dan pertanggungjawaban hori- zontal kepada masyarakat terhadap fungsi penyusunan anggaran. Salah satu proses pe- nyusunan anggaran dapat dilakukan dengan partisipasi anggaran. Menurut (Merchant dalam Falikhatun, 2007) menyatakan bahwa budgetary slack merupakan masalah sering timbul dari adanya partisipasi manajer tingkat bawah/menengah dalam prnyusunan anggaran. Menurut Brownell dalam Falikhatun (2007) berpendapat bahwa partisipasi peng- Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi, Pengaruh PartisipasiAnggaran, Kejelasan.... 176 anggaran adalah proses yang menggam- barkan individu-individu terlibat dalam pe- nyusunan anggaran dan mempunyai penga- ruh terhadap target anggaran dan perlunya penghargaan atas pencapaian target ang- garan tersebut. Budgetary slack biasanya dilakukan dengan meninggikan biaya atau menurunkan pendapatan dari yang seha- rusnya, supaya anggaran mudah dicapai (Merchant dalam Dinni, 2008). Penelitian Kenis (1979) dalam Dinni (2008) dan Darma (2004) menunjukan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpe- ngaruh terhadap kinerja manajerial. Namun sebaliknya, penelitian Adoe (2002) menun- jukan kejelasan sasaran anggaran tidak berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Hasil temuan yang menunjukan adanya ketidak konsistenan dari penelitian peneli- tian-penelitian di atas menunjukan kemung- kinan adanya variabel lain yang mempe- ngaruhi hubungan antara kejelasan sasaran anggaran dengan dampaknya. Riyanto (2003) mengatakan perlunya penelitian mengenai pendekatan kontijensi yang memungkinkan adanya variabel lain seperti informasi asimetri, komitmen organisasi, dan budget emphasis yang bertindak sebagai moderating (Darma, 2004). Menurut (Schiff and Lewin dalam Falikhatun, 2007) menyatakan bahwa infor- masi asimetri meupakan salah satu faktor adanya budgetary slack, karena bagi tujuan perencanaan, anggaran yang dilaporkan seharusnya sama dengan kinerja yang diharapkan. Namun karena informasi bawa- han lebih baik daripada atasan maka bawa- han mengambil kesempatan dari partisipasi penganggaran dengan memberikan infor- masi yang bias dari informasi pribadi mereka serta membuat budget yang mudah dicapai sehingga terjadilah budgetary slack. Riyanto (2003) menyatakan komitmen organisasi salah satu faktor yang mempe- ngaruhi budgetary slack. Penelitian (Keller dalam Darma, 2004) menyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap budgetary slack. Pengertian dari Komitmen organisasi merupakan keyakinan dan dukungan yang kuat terhadap nilai dan sasaran yang ingin dicapai organisasi (Mowday et al dalam Darma, 2004). Menurut (Dunk dalam Dinni, 2008) menyatakan bahwa budgetary slack timbul karena adanya tekanan yang diberikan oleh atasan kepada bawahan untuk melaksanakan anggaran dengan baik atau budget emphasis. Apabila penilaian kinerja dilihat dari penca- pain anggaran maka para manajer akan memastikan anggarannya agar mudah dica- pai salah satu caranya dengan merendahkan pendapatan dan menaikkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah partisipasi anggaran ber- pengaruh positif terhadap budgetary slack, (2) kejelasan sasaran anggaran berpengaruh negatif terhadap budgetary slack?, (3) Apa- kah informasi asimetri berpengaruh positif terhadap hubunngan antara partisipasi ang- garan dengan budgetary slack, (4) Apakah komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap hubunngan antara partisipasi ang- garan dengan budgetary slack, (5) Apakah budget emphasis berpengaruh positif terha- dap hubungan antara partisipasi anggaran dengan budgetary slack?, (6) Apakah infor- masi asimetri berpengaruh negatif terhadap hubunngan antara kejelasan sasaran ang- garan dengan budgetary slack, (7) Apakah komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap hubunngan antara kejelasan sasa- ran anggaran dengan budgetary slack, (8) Apakah budget emphasis berpengaruh nega- tif terhadap hubungan antara kejelasan Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 175-184, Januari 2012 177 sasaran anggaran terhadap budgetary slack?. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mem- berikan sumbangan pemikiran bagi Peme- rintah Kota Yogyakarta dalam rangka penerapan anggaran berbasis kinerja, dapat menjadi masukan dan referensi bagi peneliti lain yang berminat dan tertarik memper- dalam penelitian akuntansi, khususnya kon- sentrasi akuntansi pemerintahan. TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Teori Agendi dan Teori Kontinjensi Agency theory merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual antara principal dan agent (Jensen dan Meckling, 1976). Riyanto (2003) menga- takan perlunya penelitian mengenai pende- katan kontigensi dalam menguji faktor konsektual yang mempengaruhi hubungan antara sistem pengendalian dengan kinerja salah satunya anggaran. Partisipasi Penganggaran dan Budgetary Slack Falikhatun (2007) menyatakan bahwa pertisipasi penganggran berpengaruh positif signifikan terhadap budgetary slack. Young dalam Falikhatun (2007) menyatakan partisipasi anggaran menyebabkan budge- tary slack. Adanya partisipasi anggaran maka akan menyebabkan budgetary slack, karena bahwa bawahan yang terlibat dalam penyusunan anggaran cenderung melong- garkan anggaran yang disusun agar mudah dicapai dengan menurunkan pendapatan dan menaikkan biaya pada proses penyusunan anggaran. Dari penjelasan diatas maka hipotesis yang diaju-kan adalah : H1: Partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap budgetary slack. Supanto (2009), menyatakan bahwa partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap budgetary slack dimoderasi oleh informasi asimetri. Dari penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa dalam proses penyu- sunan anggaran, perbedaan informasi asi- metri yang dimiliki oleh bawahan disem- bunyikan dari atasan untuk kepentingan bawahan semata agar bisa menciptakan budgetary slack sehingga anggaran mudah dicapai. Dari uraian diatas hipoteisi yang dikembangkan : H3: Informasi Asimetri berpengaruh positif terhadap hubungan antara parisipasi anggaran dengan budge- tary slack. Nouri & Parker dalam Suhartono dan Solichin (2006) menyatakan bahwa pening- katan komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran dari pekerja (bawahan), akan mengurangi berbagai masalah keagenan (agency problems) yang terdapat dalam proses penganggaran. Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa adanya partisipasi anggaran dalam proses penyusunan ang- garan yang dipengaruhi oleh komitmen organisasi dapat mengurangi timbulnya bu- dgetary slack, karena mereka memiliki rasa kesetiaan dan loyalitas pada organisasinya. Dari penjelasan diatas, maka hipotesis yang dikembangkan: H4: Komitmen organisasi akan berpe- ngaruh negatif terhadap hubungan antara parisipasi anggaran dengan budgetary slack. Dinni (2008) menyatakan bahwa budget emphasis berpengaruh positif terha- dap budgetary slack. Dunk dan Merchant dalam Dinni (2008) budgetary slack akan rendah jika tekanan rendah. Hal ini bisa dijelaskan bahwa adanya partisipasi ang- Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi, Pengaruh PartisipasiAnggaran, Kejelasan.... 178 garan dalam proses penyu-sunan anggaran yang dipengaruhi oleh budget emphasis dapat memperkuat terjadinya budgetary slack, karena dengan adanya tekanan dari atasan maka bawahan akan sebisa mungkin untuk mencapai anggaran yang telah ditetapkan. Dari uraian di atas hipotesis yang dikem-bangkan adalah: H5: Budget emphasis berpengaruh positif terhadap hubungan antara parti- sipasi anggaran terhadap budge-tary slack. Kejelasan Sasaran Anggaran dan Budgetary Slack (Suhartono dan Solichin, 2006) me- nyatakan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh negatif signifikan terhadap budgetary slack. Kejelasan sasaran anggaran akan memye-babkan aparat mengetahui secara pasti sasaran yang akan dicapai sehingga memiliki informasi yang cukup daripada tidak adanya kejelasan sasaran anggaran. Hal ini akan mengurangi keti- dakpastian lingkungan sehingga akan berpengaruh terhadap penurunan budgetary slack. Dari uraian di atas hipotesis yang dikembangkan : H2: Kejelasan Sasaran Anggaran berpe- ngaruh negatif terhadap budgetary slack. Menurut Nouri dan Parker (1996), Asnawi (1997) dan Darlis (2000), budgetary slack tergantung apakah indi-vidu memilih mangejar kepentingan individu atau kepen- tingan organisasi. Dari penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa dengan adanya kejelasan sasaran anggaran maka atasan dapat mengetahui target-target yang akan dicapai sehingga berimplikasi pada penu- runan terjadinya budgetary slack. Namun dengan adanya informasi asimetri dimana bawahan lebih mengetahui informasi yang dimiliki daripada atasan maka kesempatan ini digunakan bawahan untuk melakukan budgetary slack untuk memudahkan bawa- han mencapai target anggaran. H6: Informasi asimetri berpengaruh nega- tif terhadap hubungan antara kejela- san sasaran anggaran terhadap bu- dgetary slack. Hasil penelitian komitmen yang tinggi akan cenderung menurunkan budgetary slack dan signifikan terhadap kinerja (Keller dalam Darma, 2004) Dengan demikian, semakin jelas sasaran anggaran aparat pemerintah daerah dan dengan didorong oleh komitmen yang tinggi yang akan meningkatkan kesetiaan, loyalitas terhadap organisasi akan mengurangi budgetary slack pemerintah daerah. Hipotesis yang dikembangkan adalah: H7 : Komitmen oraganisasi berpengaruh positif terhadap hubungan antara kejelasan sasaran anggaran terha- dap budgetary slack. Dunk (1993) dan Merchant (1985) yang menyatakan bahwa budgetary slack akan rendah jika tekanan anggaran rendah dan sebaliknya Dari penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa dalam proses penyusunan anggaran dengan adanya kejelasan sasaran anggaran dapat mengurangi budgetary slack, tetapi dengan adanya budget empha- sis bawahan akan merasa tertekan dan bawahan cenderung akan melakukan budge- tary slack. H8 : Budget emphasis berpengaruh negatif terhadap hubungan antara kejela- san sasaran anggaran dengan budgetary slack. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 175-184, Januari 2012 179 METODE PENELITIAN Data Penelitian Objek dalam penelitian ini pada pemerintahan Kota Yogyakarta, diperoleh dari data primer melalui metode survey. Responden penelitian ini merupakam manajer tingkat menengah dan tingkat bawah dari pemerintah daerah yaitu pejabat setingkat kepala, kepala bagian/ bidang/ subdinas dan kepala subbagian/ subbidang/ seksi dari badan, dinas dan kantor di PEMKOT Yogyakarta. Pengam-bilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, dengan memasukkan kriteria yaitu ikut dalam penyusunan partisipasi anggaran. Pengukuran Variabel Variabel partisipasi anggaran diukur dengan menggunakan 6 item pertanyaan yang akan dikembangkan oleh Indriantoro (1993). Variabel kejelasan sasaran anggaran diukur dengan menggunakan instrument 3 butir pertanyaan dengan jelas, spesifik dan tidak membingungkan serta pentingnya anggaran dalam kegiatan. Variabel budetary slack diukur secara kualitatif untuk mengetahui persepsi individu tentang kecen- derungan dalam menciptakan budgetary slack (Yulia, 2004). Untuk mengukur variabel ini digunakan instrument (Dunk dalam Yulia,2004) yang terdiri dari 6 pertanyaan. Gambar 1. Model Penelitian Variabel informasi asimetri diukur dengan 6 item pertanyaan yang dikem- bangkan oleh Dunk (1993) yang telah dimodifikasi oleh Icuk (2006). Variabel komitmen organisasi diukur menggunakan 9 instrumen butir pertanyaan yang sebelumnya sudah digunakan oleh Darma (2004) yaitu kebanggaan karyawan, kerja keras karya-wan, kesejahteraan kantor, penawaran gaji, dan pengabdian karyawan. Variabel budget emphasis diukur menggunakan instrumen yang telah dipergunakan Supanto (2009) dengan 8 pertanyaan. Masing-masing variabel diukur dengan model skala Likert yaitu mengukur kinerja instansi pemerintah dengan menya- takan setuju atau ketidak setujuannya terhadap pertanyaan yang diajukan. Dengan pernyataan pada skala 1 sampai 5, dimana 1 menun-jukkan skor terendah dan Partisipasi Anggaran Kejelasan Sasaran Anggaran Budgetary Slack Informasi asimetri Komitmen organisasi Budget emphasis Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi, Pengaruh PartisipasiAnggaran, Kejelasan.... 180 skala 5 skor tertinggi, dengan skor 5 (SS=sangat setuju), 4 (S= setuju), 3 (R=ragu- ragu), 2 (TS= tidak setuju), 1 (STS=sangat tidak setuju). Tabel 1. Jumlah Sampel dan Tingkat Pengembalian Kuesioner Keterangan Jumlah Total penyebaran kuesioner 100 Jumlah kuesioner yang tidak dikembalikan 6 Jumlah kuesioner yang dikembalikan 94 Jumlah kuesioner yang tidak diisi lengkap 5 Total pengembalian kuesioner yang diolah 89 Response Rate (Tingkat Pengembalian) 94,68% HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan Data Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 100 kuesioner yang disebarkan kepada responden, kuesioner yang dikembalikan sejumlah 94 eksemplar atau dengan kata lain penelitian ini mempunyai response rate sebesar 94,68%. Dari 94 kuesioner yang dikembalikan terse- but, semua kuesioner yang terisi dengan baik dan data digunakan untuk analisis data sebanyak 89 responden. Uji Validitas dan Reliabilitas Untuk menguji validitas, alat ukur atau instrumen digunakan rumus Product Moment Pearso. Suatu instrument dpat dikatakan valid jika probabilitas sig. (2-tailed) < 0,05. Dari semua butir instrument pertanyaan semua menunjukan valid dan dapat digunakan untuk penelitian yakni memiliki nilai koefesien korelasi signifikan pada nilai p-value 0.00, Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha (α) > 0,6 (Nunnaly dalam Tri, 2005). Dari uji reliabilitas yang dilakukan ditemukan bahwa nilai koefisien Crobach Alpha pada masing-masing variabel nilainya lebih besar dari 0,6 yang berarti semua variabel reliabel. Uji Asumsi Klasik Multikolinearitas dapat dilihat pada tolerance value atau Variance Inflation Factor (VIF). Berdasarkan hasil uji statistik model 1 dan model 2 ditemukan bahwa semua variabel menunjukan nilai tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10 yang berarti model 1 dan model 2 mengandung multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan metode chart diagram Scatterplot. Dari uji tersebut dapat disimpulkan bahwa data residual tidak membentuk pola tertentu dan menyebar disekitar nol. Dengan demikian model regresi yang digunakan tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi normalitas dilaku- kan pengujian grafik P-P Plot of Regres- sion Standardized Residual. Dari hasil pengujian diketahui bahwa titik-titik yang terbentuk menyebar di sekitar garis diagonal. Dengan demikian data dalam penelitian ini telah berdis-tribusi normal. Pengujian Hipotesis Untuk membuktikan hipotesis perta- ma ini bisa dilihat dari tabel 5. Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien positif 1,240 dan nilai t sebesar 2,088 dengan signifikansi (0,04) < α (0,05). Dari hasil yang deperoleh tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh partisipasi anggaran terhadap budgetary slack berlaku secara signifikan. Dengan demikian hipotesis pertama dapat dikatakan terdu- kung. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 175-184, Januari 2012 181 Tabel 5. Pengujian Model 1 Model 1 Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) -3.315 2.217 -1.495 .139 Partisipasi anggaran (PA) 1.240 .594 1.769 2.088 .040 Informasi asimetri (IA) -1.437 .566 -2.009 -2.539 .013 Komitmen organisasi (KO) 1.982 .702 2.053 2.825 .006 Budget Emphasis (BE) 1.040 .709 1.005 1.467 .146 PA*IA .368 .145 3.491 2.534 .013 PA*KO -.397 .179 -3.158 -2.225 .029 PA*BE -.235 .187 -1.939 -1.256 .213 F 9.456 Sig F .000 R Square .450 Adjusted R Square .402 Tabel 6. Pengujian Model 2 Model 2 Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 13.174 5.246 2.511 .014 Kejelasan sasaran anggaran (KSA) -2.644 1.175 -2.486 -2.251 .027 Informasi Asimetri (IA) -.808 .900 -1.130 -.898 .372 Komitmen Organisasi (KO) -1.069 .948 -1.107 -1.127 .263 Budget Emphasis (BE) -.673 1.300 -.650 -.517 .606 KSA*IA .176 .199 1.456 .886 .378 KSA*KO .337 .213 2.345 1.582 .118 KSA*BE .188 .298 1.272 .629 .531 F 8.914 Sig F .000 R Square .435 Adjusted R Square .386 Untuk membuktikan hipotesis kedua ini dapat dilihat dari tabel 6 Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien negatif 2.644 dan nilai t sebesar negatif 2,251 dengan sig (0,027) < α (0,05), maka pengaruh kejelasan sasaran anggaran terhadap budgetary slack adalah signi-fikan. Dengan demikian hipotesis kedua dapat didukung. Untuk membuktikan hipotesis ketiga ini dapat dilihat dari tabel 4.5. Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien positif 0,368 dan nilai t sebesar 2,534 dengan sig 0,013 < α (0,05), maka informasi asimetri berpengaruh positif terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dengan budgetary slack adalah signifikan.Dengan demikian hipotesis ketiga dapat didukung. Untuk membuktikan hipotesis keempat ini dapat dilihat dari tabel 4.5 Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien negatif 0,397 dan nilai t sebesar negatif 2,225 dengan sig (0,029) < α (0,05), maka komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dengan budgetary slack adalah signifikan. Dengan demikian hipotesis Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi, Pengaruh PartisipasiAnggaran, Kejelasan.... 182 keempat dapat didukung. Untuk membuktikan hipotesis kelima ini dapat dilihat dari tabel 5. Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien negatif 0,235 dan nilai t sebesar negatif 1,256 dengan sig (0,213) > α (0,05), maka hipotesis budget emphasis berpengaruh negatif terha- dap hubungan antara partisipasi anggaran dengan budgetary slack adalah tidak signifi- kan. Dengan demikian hipotesis kelima tidak didukung. Untuk membuktikan hipotesis enam ini dapat dilihat tabel 6 Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien positif 0,176 dan nilai t sebesar positif 0,886 dengan sig (0,378) > α (0,05), maka hipotesis informasi asimetri berpe- ngaruh negatif terhadap hubungan antara kejelasan sasaran anggaran dengan budgetary slack adalah tidak signifikan. Dengan demikian hipotesis keenam tidak didukung. Untuk membuktikan hipotesis ketujuh ini dapat dilihat dari tabel 4.6. Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien positif 0,337 dan nilai t hitung positif 1,582 dengan sig (0,118) > α (0,05), maka hipotesis komitmen orga- nisasi berpengaruh positif terhadap hubungan antara kejelasan sasaran anggaran dengan budgetary slack adalah tidak signifikan. Dengan demikian hipotesis ketujuh tidak didukung. Untuk membuktikan hipotesis kede- lapan ini dapat dilihat pada tabel 465. Hasil pengujian diperoleh nilai koefisien positif 0,188 dan nilai t sebesar positif 0,629 dengan sig (0,531) > α (0,05), maka hipotesis budget emphasis berpengaruh negatif terhadap hubungan antara kejelasan sasaran anggaran dengan budgetary slack adalah tidak signi- fikan. Dengan demikian hipotesis kedelapan tidak didukung. Dari tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa nilai F sebesar 9,456 dan sig F (0,000) < α (0,005) artinya partisipasi anggaran (X1), informasi asimetri (X3), komitmen organisasi (X4), budget emphasis (X5) secara bersama-sama berpengaruh signi-fikan terhadap budgetary slack. Dari tabel diatas 6 dapat dilihat bahwa nilai F sebesar 8,914 dan sig F (0,000) < α (0,005) artinya kejelasan sasaran anggaran (X2), infor- masi asimetri (X3), komitmen organisasi (X4), budget emphasis (X5) secara bersa-- ma-sama berpengaruh signifikan terhadap budgetary slack. Pada tabel 5 dapat disimak besarnya adjusted R2 adalah 0,402 yang artinya bahwa 40,2% variabel budgetary slack dapat dijelaskan oleh variabel partisipasi anggaran, informasi asimetri, komitmen organisasi, budget emphasis dan sisanya 59,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. Pada tabel 6 dapat disimak besarnya adjusted R2 adalah 0,386 yang artinya bahwa 38,6% variabel budgetary slack dapat dijelaskan oleh variabel kejelasan sasaran anggaran, informasi asimetri, komitmen organisasi, budget emphasis dan sisanya 61,4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti. PENUTUP Kesimpulan dari penelitian diatas adalah 1)Dengan adanya keterlibatan bawahan dalam proses penyusunan ang- garan ternyata membuat peluang bawahan untuk melakukan budgetary slack semakin besar, 2)Dengan adanya informasi asimetri menyebabkan perilaku budgetary slack dalam proses penyusunan anggaran sema- kin meningkat, 3)Dengan adanya komit- men organisasi dalam partisipasi penyu- sunan anggaran, ternyata dapat menu- runkan budgetary slack, 4)Dengan adanya budget emphasis dalam partisipasi anggaran tidak membuat budgetary slack Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 175-184, Januari 2012 183 semakin meningkat, hal ini dimungkinkan adanya budaya power distance pada Pemerintah Kota Yogyakarta. Keterbatasan dari penelitian ini dianataranya Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya terbatas Dinas, Badan dan Kantor yang berada di Kota Yogyakarta. Oleh karena itu bagi peneliti yang akan datang diharapkan dapat menambah sampel di beberapa Kota atau Kabupaten di luar Kota Yogayakarta, sehingga hasilnya dapat digene- ralisasikan dengan lebih baik. Pada uji asumsi klasik semua model terjadi multikolinearitas walaupun sudah diuji berulang kali. Saran untuk Pemerintahan Kota Yogya- karta yaitu melakukan pengendalian internal yang lebih baik, perlu adanya keterbukaan informasi antara pimpinan hingga bawahan untuk mengurangi informasi asimetri, peme- rintah Kota Yogyakarta harus dapat menum- buhkembangkan komitmen kerja agar memi- liki komitmen yang tinggi dalam bekerja. Langkah yang dilakukan adalah dengan mem- berikan intensif tambahan yang sesuai dengan jabatan sekarang, remunerasi, sehingga aparat pemerintah loyal pada instansinya. Dengan langkah ini diharapkan budgetary slack akan menurun. DAFTAR PUSTAKA Adoe, M. H. 2002. Pengaruh Karakteristik Tujuan Anggaran Terhadap Perilaku, Sikap dan Kinerja Pemerintah Daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tesis. Program Pasca Sarjana. UGM: Yogyakarta. Ali, I. 2002. Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agency. Lintasan Ekonomi. Anthony, R. N., and V. Govindarajan. 1995. Management Control System. Mc-Graw-Hill. Asnawi, M. 1997. Partisipasi Anggaran, Komitmen Organisasi, dan Keterlibatan Pekerjaan Pengaruhnya Terhadap Senjangan Anggaran. Tesis. Program Pasca Sarjana. UGM: Yogyakarta. Baiman, S. 1982. Agency Research in Management Accounting. Journal of Accounting Literature. Brownell, P. 1982. The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, Budgetary Participative and Organizational Effectiveness. Journal of Accounting Research. Darlis, E. 2000. Analisis Pengaruh Komitmen Organisasi dan Ketidakpastian Lingkungan Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Dengan Senjangan Anggaran. Jurnal Riset dan Akuntansi Indonesia. Darma, E. S. 2004. Pengaruh Kejelasan Sasaran Dan Sistem Pengendalian Akuntansi Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Pemerintah Daerah. Tesis. Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. Dinni, A. 2008. Pengaruh Partisipasi Angggaran, Informasi Asimetri, Budget Emphasis Dan Komitmen Organisasi Terhadap Timbulnya Slack Anggaran (Studi Kasus Pada Alex Murtin & Taufiq Bayu Septiadi, Pengaruh PartisipasiAnggaran, Kejelasan.... 184 PT. Telkom Yogyakarta). Skripsi. UII, Yogyakarta. Dunk, A. S. 1993. The Effect of Budget Emphasis And Information Asymetry on Relation Between Budgetary Participation And Slack. The Accounting Review. Falikhatun, Dra., M.SI, AK. 2007. Interaksi Informasi Asimetri, Budaya Organisasi dan Group Cohesiveness Dalam Hubungan Antara Partisipasi Anggaran Dan Budgetary Slack (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Umum Daerah Se Jawa Tengah). Simposium Nasional Akuntansi X. Makasar. Fitri, Y. 2004. Pengaruh Informasi Asimetri, Partisipasi Anggaran dan Komitmen Organisasi Terhadap Timbulnya Senjangan Anggaran (Studi Empiris pada Universitas Swasta di Kota Bandung). Simposium Nasional Akuntansi VII. Denpasar Bali. Ghozali, I. 2002. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS. Hossein, N. Using Organizational Commitment and Job Involvement to Predict Budgetary Slack.: A Research Note. Accounting Organization and Society. Indriantoro, N. 1993. The Effect of Participative Budgeting on Job Performance and Job Satisfaction with Locus of Control nad Cultural Dimentions as Moderating Variables. Ph. D. University of Kentucky. Lexington Jensen., and Meckling. 1976. Theory of Firm Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Stucture. Journal of Financial Economic. Jumirin, A. 2001. Persepsi Kepala Instansi Pemerintah Terhadap Otonomi daerah dan Akuntabilitas Kinerja. Tesis. Program Pasca Sarjana. UGM, Yogyakarta. Kenis, I. 1979. Effect of Goal Chaaracteristics on Managerial Attitudes and Performance. The Accounting Riview. Lucyanda, J. 2001. Hubungan Antara Anggaran Partisipatif Dengan Kinerja Manajerial: Peran Locus of Control Sebagai Variabel Moderating dan Motivasi Sebagai Variabel Intervening. Tesis. Program Pasca Sarjana. UGM, Yogyakarta. Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi offset. Merchant, K. A. 1985. Budgeting and Propensity to Create Slack. Accounting Organization and Society. Mowday, R. S. R., and Porter. 1979. The Measurement of Organizational Commitment. Journal of Behavior. Nouri, H. dan R. J. Parker. 1996. The Effect of Organizational Commitment on Relation Between Budgetary Participation and Budgetary Slack. Behavioral Research In Accounting. Jurnal Akuntansi dan Investasi, 12 (2), 175-184, Januari 2012 185 Nunnally, J. 1967. Psychometric Methodes. New York: McGraw-Hill. Onsi, M. 1973. Factor Analysis of Behavioral Variables Affecting Budgetary Slack. The Accountting Riview. Republik Indonesia. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004. Tentang Pemerintahan Daerah. Republik Indonesia. Undang-Undang RI No. 33 Tahun 2004. Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Dalam Negeri No. 13 tahun 2006. Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Riyanto, B. 2003. Model Kontijensi Sistem Pengendalian: Integrasi dan Ekstensi untuk Future Research. KOMPAK: Jurnal Akuntansi, Manajemen, dan Sistem Informasi FE UTY Yogyakarta. (9). April.330- 342. Santoso, S. 2000. Mengatasi Masalah Statistik dengan SPSS, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.