- 58 - Special Edition | Bahasa Indonesia Mahasiswa Internasional dan COVID-19 [International Students and COVID-19] ISSN: 2162-3104 Print/ ISSN: 2166-3750 Online Volume 10, Issue S3 (2020), pp. 58-74 © Journal of International Students https://ojed.org/jis Thai Students' Experiences of Online Learning at Indonesian Universities in the Time of the COVID-19 Pandemic Pengalaman Mahasiswa Thailand dalam Pembelajaran Daring di Universitas di Indonesia pada Masa Pandemi COVID-19 Sandi Ferdiansyah Institut Agama Islam Negeri Jember, Indonesia Supiastutik Universitas Jember, Indonesia Ria Angin Universitas Muhammadiyah Jember, Indonesia ________________________________________________________________ ABSTRACT: The present interview study reports on eight Thai undergraduate students’ experiences of online learning at three different Indonesian universities based in East Java, Indonesia. Semi-structured interviewing was designed based on the sociocultural framework proposed by Ma (2017) to elucidate the students’ voices of online learning experience. The data garnered from online interviewing were transcribed and interpreted using thematic content analysis. The study elicits three important data themes: the agility of the student participants to adapt online learning to suit their learning needs, the participants’ strategies to build learning autonomy, and the participants’ ability to sustain their learning motivation. This study stresses the important roles of such other agents as teachers, parents, and friends in providing international students with mental and emotional support to help them get through COVID-19 affected online learning. - 59 - ABSTRAK: Studi wawancara ini melaporkan pengalaman belajar daring delapan mahasiswa Thailand di tiga universitas berbeda di Jawa Timur, Indonesia. Wawancara semi-terstruktur dirancang berdasarkan kerangka teori sosiokultural Ma (2017) untuk menggali pengalaman mahasiswa belajar secara daring. Data wawancara ditranskripsi dan ditelaah dengan menggunakan analisis konten tematik. Studi ini melaporkan tiga tema data penting yang mencakup kemampuan partisipan mahasiswa Thailand untuk beradaptasi dengan pembelajaran daring, strategi partisipan untuk membangun otonomi belajar dan kemampuan partisipan mahasiswa untuk meningkatkan dan mempertahankan motivasi belajar mereka. Studi ini menekankan pentingnya agen lain, seperti guru, orang tua dan teman dalam mendukung mahasiswa internasional secara mental dan emosional untuk membantu mereka melewati pembelajaran daring yang terdampak oleh pandemi COVID-19. Keywords: COVID-19 pandemic, international students, online learning, sociocultural theory [pandemi COVID-19, mahasiswa internasional, pembelajaran daring, teori sosial budaya] ________________________________________________________________ PENDAHULUAN Kesempatan belajar di luar negeri, baik dalam konteks pembelajaran penuh maupun dalam konteks pembelajaran singkat, menjadi salah satu impian bagi setiap orang dengan berbagai alasan. Andenoro dan Bletscher (2012) melaporkan bahwa belajar di luar negeri memberikan mahasiswa peluang untuk membangun kompetensi antarbudaya dan wawasan global. Nilsson dan Ripmeester (2016) juga mengamati bahwa lulusan mahasiswa internasional memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketika kembali ke negara asalnya. Pham (2020) menyimpulkan bahwa sepulang dari studinya, para alumni dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi negaranya serta membangun jejaring sosial dan profesional yang lebih beragam. Dengan kata lain, motivasi dan kontribusi menjadi dua hal penting bagi mahasiswa yang ingin berkuliah di luar negeri sebagai agen perubahan dalam tataran lokal maupun tataran global. Meskipun menjadi mahasiswa internasional memberikan sejuta impian dan harapan, mereka juga dihadapkan dalam berbagai tantangan yang tidak mudah sebagai mahasiswa asing. Dalam konteks bidang pendidikan keguruan, misalnya, Kabilan, Ramdani, Mydin, dan Junaedi (2020) melaporkan keterlibatan mahasiswa Indonesia dalam program praktik mengajar internasional di Malaysia. Mahasiswa Indonesia ini mendapatkan tantangan dalam menghadapi isu multikultural dan mengadaptasi pengajaran bahasa Inggris yang disesuaikan dengan konteks penggunaan bahasa, misalnya bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Di dalam studi pustakanya, Khanal dan Gaulee (2019) mengungkap tiga masalah utama mahasiswa internasional selama masa studinya, yaitu masalah diskriminasi dan rasisme, keuangan dan psikologis, serta permasalahan bahasa dan akademik. Oleh karena itu, mahasiswa internasional perlu mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun secara mental untuk menghadapi tantangan selama mereka berkuliah di luar negeri. - 60 - Selain permasalahan yang dipaparkan di atas, dalam kurun waktu sepuluh bulan terakhir ini, wabah COVID-19 menyebabkan penutupan sekolah dan perguruan tinggi, sehingga pihak institusi pendidikan mendesain pembelajaran daring (dalam jaringan). Penerapan pembelajaran secara daring menjadi pilihan terbaik di tengah pandemi untuk menjaga keberlangsungan proses pembelajaran. Azorin (2020) menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 ini tidak hanya menyebabkan hilangnya proses pembelajaran di kelas sementara waktu, tetapi juga berpeluang kehilangan sumber daya manusia jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Pembelajaran daring bagi mahasiswa internasional juga memberikan tantangan tersendiri. Secara psikologis, Raaper dan Brown (2020) menyimpulkan bahwa krisis pandemik ini dapat berdampak pada kondisi psikologis mahasiswa, misalnya isu kedisiplinan, kesehatan mental dan fisik, serta motivasi dan perasaan terisolasi selama diberlakukannya pembelajaran daring. Oleh karena itu, efektifitas pembelajaran daring di tengah pandemi serta dampaknya terhadap kondisi psikologis mahasiswa internasional menjadi hal yang penting untuk dikaji secara mendalam. KAJIAN PUSTAKA Dampak COVID-19 terhadap Moda Pembelajaran di Perguruan Tinggi Di konteks pendidikan tinggi, dampak penyebaran COVID-19 di klaster institusi pendidikan mengharuskan negara-negara di dunia memberlakukan pembelajaran daring secara penuh. Misalnya, Moorhouse (2020) melaporkan bahwa perkuliahan di universitas-universitas di Hongkong diselenggarakan secara daring baik secara sinkron maupun asinkron sejak awal Februari 2020. Di Spanyol, Azorin (2020) mengamati bahwa penutupan sekolah dilakukan sejak pertengahan Maret 2020 melalui hybrid schooling (sekolah daring). Sementara itu, di Indonesia pembelajaran daring secara penuh dilakukan mulai bulan Maret hingga akhir semester (Atmojo & Nugroho, 2020). Pembelajaran daring ini diharapkan dapat menjembatani proses pembelajaran karena dapat diakses oleh mahasiswa saat belajar di rumah. Sebelum masa pandemi COVID-19, pembelajaran daring telah banyak diterapkan dalam pendekatan pembelajaran campuran (blended learning) untuk mendukung pembelajaran tatap muka di kelas dan untuk memediasi interaksi dan keterlibatan mahasiswa di kelas daring. Secara umum, Stone (2019) memaparkan bahwa mahasiswa menyukai pembelajaran daring karena pembelajaran ini fleksibel, dan dapat diakses tanpa keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, De Paepe, Zu dan Depryck (2018) melaporkan bahwa dosen menganggap bahwa pembelajaran daring dapat memediasi mahasiswa membangun otonomi belajar dan membantu mereka memenuhi kebutuhan belajar dalam pembelajaran bahasa. Meskipun memberikan harapan, pembelajaran secara daring tentu saja tidak lepas dari tantangan terlebih keputusan tersebut diambil pada saat mendesak. Dyment, Downing, Hill dan Smith (2017) mengungkapkan keraguan efektifitas pembelajaran daring karena - 61 - tiga alasan, yaitu cara penyampaian materi, hubungan dengan mahasiswa yang terbatas dan penilaian. Secara teknis, Moorhouse (2020) menyimpulkan bahwa setidaknya ada dua permasalahan dalam pembelajaran daring yaitu pembelajaran menjadi berpusat pada dosen dan kesenjangan interaksi antara dosen dan mahasiswa menjadi semakin lebar dikarenakan berbagai kendala teknis dan keterbatasan akses. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan proses dan hasil pembelajaran daring, Karkar-Esperat (2018) menyarankan setiap dosen untuk: (1) menerima pelatihan teknis pembelajaran daring; (2) memberikan petunjuk yang jelas; (3) memberikan desain instruksi yang jelas; (4) memberikan aktivitas pembelajaran yang membangun interaksi dan (5) membangun semangat berkolaborasi. Sejalan dengan ide tersebut, dalam studi perbandingan dari hasil tiga proyek penelitian yang dilakukan di Australia, Stone (2019) memaparkan lima hal yang perlu diperhatikan untuk menerapkan pembelajaran daring, antara lain: (1) penyertaan mahasiswa secara adil; (2) persiapan yang matang; (3) komunikasi dan hubungan yang membangun interaksi; (4) dukungan institusi secara proaktif dan (5) desain pembelajaran yang membangun keterlibatan belajar. Memahami Pengalaman Belajar melalui Kerangka Teori Sosial Budaya Dari sudut pandang sosial budaya, pengalaman belajar banyak dipengaruhi oleh keterlibatan individu dalam aktivitas dan institusi sosial budaya yang dimediasi oleh artifak semiotik (Lantolf & Beckett, 2009; Rogoff, Radziszewska, & Masiello, 1995; Wertsch, 1985). Perkembangan zaman juga memberikan kontribusi terhadap dinamika dan produk sosial budaya, misalnya kehadiran teknologi digital seperti komputer dan internet yang digunakan untuk memediasi interaksi sosial dalam dunia maya. Kusumaningputri dan Widodo (2018) mengungkapkan bahwa banyak aktivitas sosial budaya dan interaksi antarbudaya yang dimediasi oleh teknologi digital, seperti internet dan media sosial. Penggunaan teknologi informasi saat ini semakin meluas di masa pandemi. Oleh karena itu, pendekatan sosial budaya dapat digunakan sebagai parameter untuk memaknai pengalaman belajar dalam situasi dan konteks tertentu. Dalam konteks pendidikan tinggi, memahami pengalaman belajar mahasiswa membantu dosen untuk merefleksikan pelaksanaan pembelajaran, penugasan dan ujian yang telah dilakukannya. Sebagai contoh, Widodo dan Ferdiansyah (2018) memaparkan bahwa refleksi penting untuk mengevaluasi pengalaman mengajar secara emosional dan pemahaman untuk merekonstruksi ulang praktik mengajar mereka supaya menjadi lebih baik. Sejalan dengan pentingnya refleksi tersebut, Ma (2017) mengembangkan kerangka teori sosial budaya yang relevan dengan perkembangan teknologi dalam memotret pengalaman belajar mahasiswa yang meliputi teknologi seluler (alat fisik), agen bahasa kedua (elemen psikologis) dan agen lainnya (mediator lainnya). Beberapa penelitian telah memanfaatkan pendekatan sosial budaya sebagai kerangka teori yang berkontribusi dalam memperkaya dinamika perkembangan - 62 - bahasa. Dalam penelitiannya, Rassaei (2020) menemukan bahwa penggunaan smartphone, yang dalam konteks sosial budaya menjadi salah satu alat untuk memediasi pembelajaran dan membantu mahasiswa mencari makna yang benar dari perbendaharaan kata. Selanjutnya, Niu, Lu dan You (2018) dalam penelitian yang melibatkan empat mahasiswa bahasa Inggris melaporkan bahwa mereka menggunakan 13 alat sosial budaya yang dikategorikan dalam artifak, aturan, komunitas dan peran untuk memediasi keterlibatan aktif mereka dalam pembelajaran bahasa Inggris lisan. Selain itu, Li dan Ruan (2015) melaporkan hasil pengamatannya dalam studi jangka panjang pada mahasiswa yang belajar bahasa Inggris untuk tujuan akademik. Dilaporkan bahwa ada perubahan keyakinan mahasiswa yang sangat signifikan disebabkan oleh faktor sosial budaya, antara lain mata kuliah yang diajarkan, aktivitas ekstrakurikuler, penilaian formatif dan hal penting lainnya yaitu dosen. Meskipun kerangka sosial budaya bermanfaat dalam membantu memahami pengalaman belajar mahasiswa, penggunaan kerangka teori tersebut untuk memahami pengalaman belajar mahasiswa internasional masih sangat terbatas. Oleh karena itu, perlu sebuah penelitian yang mengkaji pengalaman pembelajaran daring mahasiswa internasional selama pandemi COVID-19 dari sudut pandang sosial budaya. Berdasarkan pada pemikiran ini, penelitian ini bertujuan untuk (1) menggali pengalaman belajar mahasiswa Thailand selama pembelajaran daring pada masa COVID-19 dan (2) mengungkapkan adaptasi kebiasaan baru mahasiswa Thailand selama pembelajaran daring pada masa COVID-19. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dinamika pengalaman belajar mahasiswa internasional yang dibatasi oleh wabah korona dari aspek sosial budaya. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian wawancara yang mengikuti kerangka teori sosial budaya Ma (2017) untuk mengeksplorasi pengalaman mahasiswa Thailand yang belajar di Indonesia selama pandemi COVID-19. Kvale (2008) berargumentasi bahwa wawancara memungkinkan peneliti untuk menggali aktivitas, pengalaman dan pendapat partisipan dengan bahasanya sendiri. Transisi metode pembelajaran dari tatap muka di kelas reguler ke metode virtual (online classes) berpotensi memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa. Mereka merasakan pengalaman yang berbeda satu sama lain, berkaitan dengan dinamika yang terjadi. Wawancara semi-terstruktur digunakan sebagai panduan untuk menggali informasi terkait latar belakang partisipan penelitian, pengalaman akademik, kultural dan psikologis. Partisipan Penelitian melibatkan mahasiswa Thailand yang sedang belajar di tiga perguruan tinggi di Jawa Timur, Indonesia. Pemberitahuan tentang rekrutmen partisipan dalam penelitian ini dilakukan melalui kelompok belajar WhatsApp - 63 - mahasiswa Thailand yang terdiri atas 30 mahasiswa. Mahasiswa Thailand yang tertarik menjadi partisipan dalam penelitian ini, diminta secara sukarela menghubungi peneliti secara personal melalui obrolan pribadi. Calon partisipan yang bersedia bergabung diberi penjelasan bahwa mereka bisa mengundurkan diri apabila dirasa kurang berkenan dengan penelitian ini. Dari 30 mahasiswa Thailand yang tergabung dalam tiga kelompok belajar yang dimediasi dengan WhatsApp, delapan mahasiswa dengan rentang usia 22 tahun sampai 25 tahun, bersedia menjadi partisipan penelitian tanpa adanya paksaan. Data partisipan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Data partisipan mahasiswa Thailand Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini umumnya bertempat tinggal di rumah kos atau kontrakan di salah satu kabupaten di Jawa Timur selama lebih dari tiga tahun, kecuali satu partisipan yang baru bermukim di daerah ini selama satu tahun. Pada umumnya, partisipan mengalami kesulitan berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris pada tahun pertama pembelajaran mata kuliah inti, sehingga mereka harus belajar bahasa Indonesia kepada mahasiswa yang lebih senior maupun kepada teman-teman sekelas dari Indonesia. Berdasarkan penilaian diri sendiri mengenai kemampuan berbahasa Inggris, partisipan menyatakan bahwa kemampuan berbahasa Inggris mereka mulai mengalami kemajuan pada semester tiga dan selanjutnya, meskipun dua dari delapan partisipan (25%) menyatakan bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka masih rendah. Sebelum penelitian dimulai, peneliti meminta persetujuan partisipan untuk mengisi formulir kesediaan terlibat dalam penelitian ini. Peneliti menjelaskan tujuan penelitian, metode penelitian serta kemungkinan risiko yang mungkin dialami (Hammersley & Traianou, 2012). Mahasiswa yang terlibat menyatakan kesediaannya mengikuti rangkaian wawancara untuk berbagi pengalaman hidup yang terkait dengan fokus penelitian ini, sehingga informasi ini bisa dijadikan data hidup partisipan. Untuk melindungi privasi partisipan dan menjaga etika penelitian, peneliti tidak menyebutkan nama lengkap dari partisipan serta nama Partisipan Gender Universitas Semester ke Jurusan Usia (tahun) Sun Perempuan Unversitas A 6 Pendidikan Bahasa Inggris 22 Nur Perempuan Universitas A 6 Pendidikan Bahasa Inggris 22 Nad Perempuan Universitas A 6 Pendidikan Bahasa Inggris 22 Mar Laki-laki Unversitas B 3 Ilmu Komunikasi 22 Pas Perempuan Universitas B 4 Pendidikan Bahasa Inggris 22 Num Perempuan Universitas C 10 Sastra Inggris 24 Sar Perempuan Universitas C 12 Sastra Inggris 25 Haf Laki-laki Universitas C 12 Sastra Inggris 24 - 64 - perguruan tinggi (Widodo, 2014). Prosedur Penelitian Metode wawancara dipilih sebagai desain untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pertama, peneliti menjelaskan terlebih dahulu tujuan penelitian dan menanyakan kepada calon partisipan tentang kesediaannya menjadi partisipan penelitian. Setelah diperoleh kesepakatan, peneliti memberikan angket dengan mediasi Google form tentang latar belakang partisipan untuk diisi dan beberapa pertanyaan tentang pengalaman partisipan dalam perkuliahan di masa pandemi. Setelah wawancara tertulis diisi oleh partisipan, peneliti dan partisipan menyepakati kegiatan wawancara tatap muka sebagai lanjutan untuk konfirmasi mengenai data dan informasi yang dirasa kurang jelas. Wawancara virtual ini direncanakan oleh peneliti dan partisipan berdasarkan kesepakatan waktu dan tempat. Satu kali wawancara dilakukan selama 30-60 menit dan direkam dengan alat perekam digital baik dari aplikasi smartphone maupun laptop. Sebagian besar wawancara dilakukan melalui WhatsApp dan Zoom. Data rekaman kemudian didengarkan berulang-ulang dan ditranskripsi. Data wawancara melalui pesan WhatsApp dikumpulkan dan disalin ke dalam format tabel yang telah disepakati oleh peneliti untuk memudahkan identifikasi dan klasifikasi data. Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia, kecuali satu mahasiswa selalu menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris, sehingga dalam hal ini, peneliti melakukan penerjemahan hasil wawancara ke dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu. Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tertulis yang dikirim melalui Google form, dan dilanjutkan dengan wawancara semi-terstruktur yang meliputi pengalaman belajar daring dan refleksi mahasiswa terhadap proses belajarnya di masa pandemi COVID-19. Pertanyaan wawancara meliputi kendala yang dialami, bagaimana strategi untuk mengatasi masalah dan siapa yang berperan membantu menyelesaikan kendala tersebut. Secara umum, data diklasifikasikan menjadi empat bagian, yaitu: (1) informasi tentang latar belakang mahasiswa; (2) kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi; (3) strategi mahasiswa untuk menjadi pembelajar otonomi dan (4) strategi mahasiswa untuk mengembangkan motivasi belajar. Peneliti telah membangun kedekatan secara personal dengan partisipan sebelum penelitian dilakukan, sehingga partisipan dapat mengungkapkan pengalaman akademik dan pengalaman sosial budaya selama pembelajaran di masa pandemi ini pada saat wawancara. Ketika kedekatan secara emosional telah terbangun antara peneliti dan partisipan, wawancara menjadi lebih mudah dilakukan dan partisipan merasa nyaman. Selain itu, wawancara dilakukan dengan mempertimbangkan waktu dan situasi yang fleksibel bagi partisipan dan peneliti. Hal ini mendorong partisipan secara sukarela mengungkapkan - 65 - pengalaman dan pergulatan akademik selama pandemi, yang relevan dengan kebutuhan data penelitian. Sebelum data dianalisis, partisipan penelitian diberikan kesempatan untuk mengecek data wawancara (member checking) untuk membangun keterpercayaan data (data trustworthiness) dan menjaga etika dalam (re)konstruksi data (Harvey, 2015). Metode Analisis Data Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan analisis konten tematik (Fullana, Pallisera, Colomer, Pena & Perez-Buriel, 2014). Pendekatan tematik ini bertujuan untuk memahami “apa yang diceritakan” bukan pada struktur ceritanya serta untuk mengidentifikasi permasalahan dan pengalaman berdasarkan tema yang telah ditetapkan. Analisis berfokus pada pembacaan transkrip wawancara berulang-ulang untuk memahami makna dan diskursus cerita, kemudian transkrip tersebut diberi kode sesuai dengan tema, subtema dan tema yang kemungkinan berkembang. Secara rinci, prosedur analisis data wawancara mengikuti Widodo (2014), yang diawali dengan mentranskripsikan hasil wawancara dengan proses sebagai berikut: 1. mendengarkan data wawancara yang direkam berulang-ulang untuk menemukan tema-tema atau poin penting yang dibutuhkan; 2. menuliskan transkrip wawancara dalam format yang tepat agar mudah dalam pengodean, memilah dan mengklasifikasikan data yang penting; 3. menginterpretasikan data wawancara; memaknai setiap kata dan kalimat yang disampaikan oleh partisipan, mengomunikasikan pandangan, pendapat atau sudut pandang (inner voices) partisipan (lihat Tabel 2); 4. menghasilkan data yang terpercaya dengan cara memberikan kesempatan kepada partisipan untuk memberikan umpan balik terhadap hasil interpretasi data. Hal ini penting karena partisipan adalah sumber data sehingga suara partisipan harus bisa tersampaikan dengan benar. Umpan balik juga dibuat oleh peneliti ahli yang diundang dalam diskusi kelompok terpumpun. Tabel 2. Contoh prosedur analisa data yang dilakukan secara tematik Data wawancara Pengodean kata Tema Sun #1 Tetapi seiring waktu berlalu (kemampuan beradaptasi) kita harus membangun dorongan (motivasi). Berikan energi pada diri Anda untuk menghadiri kelas tepat waktu (strategi) dan pekerjaan rumah yang perlu tepat waktu karena disampaikan dalam sistem… Kemampuan beradaptasi Nur #2 … Jadwal tidak sesuai (permasalahan waktu) dengan waktu sebenarnya belajar di universitas. Cara saya memecahkan masalah adalah mencoba belajar sebanyak mungkin (semangat) Untuk memahami berbagai tugas Harus antusias setiap saat (semangat). Membangun motivasi - 66 - Haf #48 … Kedua, saya akan mulai dengan mempelajari (pembelajaran yang dikelola mandiri) dari materi pelajaran yang menarik, seperti buku cerita, satu bab buku dengan topik yang menarik, film, video di youtube untuk topik tertentu dan sebagainya (keaktifan) …. Otonomi belajar Dalam penelitian ini, data yang sudah terkumpul, diberi kode dan diklasifikasikan (lihat Tabel 2). Selanjutnya, data diinterpretasi menggunakan analisis wacana kritis untuk menemukan makna yang tepat dari setiap kata yang diucapkan oleh partisipan. Analisis ini berfungsi untuk mengungkapkan makna yang terkandung di dalam sebuah data sebagai teks empiris (Setyono & Widodo, 2019; Widodo, 2018). Halliday (1996) menekankan bahwa sebuah fenomena dapat ditafsirkan melalui makna, susunan kata dan ungkapan pengalaman dan hubungan sosial dalam sebuah konteks situasi tertentu. Dalam penelitian ini, data mengandung makna sosial yang tidak lepas dari konteks sosial dan budaya. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menghasilkan tiga tema temuan, antara lain (1) kemampuan mahasiswa Thailand untuk beradaptasi terhadap pembelajaran daring; (2) strategi mahasiswa Thailand untuk membangun otonomi belajar; dan (3) kemampuan mahasiswa Thailand untuk meningkatkan dan mempertahankan motivasi belajar. Kemampuan Mahasiswa Thailand untuk Beradaptasi dengan Pembelajaran Daring Pembelajaran daring yang diterapkan oleh universitas selama pandemi COVID- 19 merupakan pengalaman baru yang dialami oleh partisipan. Mereka memiliki pengalaman belajar melalui pendekatan pembelajaran campuran (blended learning) sebelum pandemi yang memungkinkan mereka mendapatkan kesempatan bertatap muka dengan dosen. Akan tetapi, selama karantina (lockdown) mahasiswa benar-benar didorong untuk membangun kemampuan beradaptasi dengan pembelajaran daring secara penuh dalam waktu yang sangat mendesak. Berdasarkan hasil wawancara, mahasiswa Thailand perlu beradaptasi dengan jadwal yang berubah-ubah dan jaringan internet yang tidak stabil. Hal ini diungkapkan partisipan dalam data wawancara sebagai berikut. Kendala untuk pembelajaran online adalah bahwa mungkin sinyal internet tidak bagus yang membuat pembelajaran tidak efisien. Selain itu, ada gangguan teknis misalnya pada saat dosen presentasi, sinyal tidak stabil sehingga komunikasi terputus-putus. (Nur #2, Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) Waktu perkuliahan kadang tidak tetap dan jadwal sering berubah karena dosen mengubah jam perkuliahan. Jika pembelajaran di kelas, saya masih sempat diingatkan oleh teman jika ada kelas tapi selama perkuliahan daring jadwal sering terlupa. (Nad #3, Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) - 67 - Koneksi internet sering putus sehingga presensi sering terhambat karena menunggu koneksi internet terhubung kembali sampai saya tertidur lagi sehingga terlambat untuk presensi (Num #6, Wawancara WhatsApp, 9 Juli 2020) Yang tidak menyenangkan bagi saya adalah kelas yang diganti jadwalnya oleh dosen. Karena gangguan jaringan lalu dosen itu lupa jadwal pengganti jadi kelas kosong di saat mahasiswa nunggu kelas dibuka. (Haf #8, Wawancara WhatsApp, 9 Juli 2020). Mahasiswa mengeluhkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran daring yang tidak maksimal karena hambatan koneksi internet yang berdampak pada perubahan jadwal yang terkadang tidak menentu, ketidakhadiran dosen pada saat perkuliahan daring dan kehilangan kesempatan belajar mahasiswa. Temuan penelitian ini serupa dengan apa yang dilaporkan oleh Harrison, Harrison, Robinson dan Rawlings (2018) bahwa meskipun mahasiswa saat ini sudah terampil menggunakan alat teknologi, koneksi internet masih menjadi masalah khususnya di daerah-daerah yang jaringan internet bermasalah dikarenakan kuota internet dan letak geografis. Untuk mengantisipasi perubahan jadwal dan ketidakstabilan koneksi internet sebagaimana diungkap mahasiswa dalam data wawancara, mereka belajar beradaptasi dengan kondisi tersebut. Partisipan menarasikan hal tersebut dalam data wawancara berikut. Jika wifi di kos lambat, saya harus memastikan paketan data tersedia. Selain itu saya biasanya pergi ke warung kopi dekat kos karena di sana ada jaringan nirkabel (Nad #3, Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) Selama pembelajaran online, saya mencoba mendisiplinkan diri, seperti bangun pagi, menunggu kelas depan monitor laptop atau telefon genggam seluler, adalah cara bagi saya untuk beradaptasi (Sun #33, Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) Berdasarkan data wawancara di atas, diketahui bahwa mahasiswa berupaya menghadapi permasalahan perubahan jadwal perkuliahan dan ketidakstabilan koneksi internet dengan mencari alternatif akses internet yang lebih baik sebagai jalan keluar. Meskipun kemampuan mahasiswa untuk mengatasi keterbatasan akses internet dinilai positif, Raaper dan Brown (2020) menyarankan kepada dosen untuk membantu mahasiswa menghadapi situasi krisis saat ini dengan menghadirkan pembelajaran daring yang dapat dijangkau oleh mahasiswa yang memiliki keterbatasan akses internet. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan menggunakan aplikasi teknologi yang hemat biaya. Poin penting selanjutnya adalah terbangunnya kedisiplinan diri untuk beradaptasi dalam situasi krisis saat pembelajaran daring di masa pandemi. Karkar-Esperat (2018) menegaskan bahwa salah satu keberhasilan dalam belajar adalah kedisiplinan diri yang tinggi. - 68 - Strategi Mahasiswa Thailand untuk Membangun Otonomi Belajar Pada masa krisis COVID-19, mahasiswa mencari banyak strategi untuk bisa tetap belajar, memahami materi perkuliahan dan menginternalisasi pemahaman tersebut menjadi pengetahuan baru secara mandiri. Meskipun pembelajaran tetap berlangsung secara daring dan mahasiswa banyak mengalami kendala, mereka tetap berusaha belajar secara mandiri supaya tidak tertinggal dalam perkuliahan. Hal ini dinarasikan oleh partisipan dalam data berikut. Untuk mengatasi masalah selama pembelajaran daring, saya harus meyakinkan diri bahwa saya telah membaca semua materi kuliah yang di unggah oleh dosen sebelum saya meneruskan membaca yang baru. Jika saya tidak paham juga, maka saya akan mencari tahu lewat internet atau saya tanyakan teman satu kelas yang berkaitan dengan masalah pelajaran yang saya sedang pelajari. (Haf #8, Wawancara WhatsApp, 9 Juli 2020) Jika saya mengalami kesulitan selama pembelajaran daring, saya mencari informasi di internet dan buku yang saya dapat dari kakak tingkat atau teman yang bisa saya temukan. Ini menjadi basis data untuk melakukan berbagai tugas dan mencari contoh-contoh lain dulu terus nanti kerja tugas. Untuk mengurangi kejenuhan, saya biasanya beristirahat, bermain HP, nonton YouTube, jalan dekat kos saat sore. (Sun #41, Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) Banyak ujian yang dihadapi selama perkuliahan online, terkadang saya sendiri merasa lelah dan menyerah dengan menghadapi kuliah online. Sejak mulai kuliah online saya belum paham sama sekali, kadang paham kadang tidak paham, sulit untuk memahami waktu mengerjakan tugas kadang-kadang minta bantuin sama tema teman Indonesia untuk menjelaskan apa yang diminta sama dosen dan bagaimana mengerjakan tugas. Selama perkuliahan online saya selalu minta bantuan kepada teman. (Pas #45, Wawancara WhatsApp, 8 Juli 2020) Data wawancara di atas menunjukkan bahwa dengan membaca materi perkuliahan yang telah diunggah oleh dosen pada sistem pembelajaran daring dan mencari sumber bacaan pada internet dilakukan oleh partisipan untuk memastikan bahwa mereka dapat memahami materi tersebut. Aktivitas belajar itu secara tidak langsung menuntun mahasiswa mengelola pembelajaran oleh mereka sendiri (self-regulated learning). Hal ini bermanfaat untuk membangun kemandirian belajar. Su, Li, Liang dan Tsai (2018) melaporkan bahwa terdapat hubungan antara pembelajaran yang dikelola sendiri oleh mahasiswa dengan sikap terhadap pembelajaran daring dalam mencapai tujuan belajar. Selain itu, pada umumnya mahasiswa juga berusaha membangun komunikasi dengan temannya. Raaper dan Brown (2020) menegaskan bahwa dukungan teman sejawat dapat berkontribusi terhadap pengembangan kemandirian belajar, misalnya dengan menjadi rekan dalam bertanya, berdiskusi dan berbagi tugas dalam membantu mereka belajar. Dalam konteks belajar di luar negeri, kemampuan mahasiswa internasional dalam membangun komunitas dengan - 69 - teman baru dari negara yang berbeda penting dilakukan untuk mendukung mereka secara pribadi dan sosial serta akademik maupun nonakademik (Pazil, 2019). Kemampuan Mahasiswa Thailand untuk Meningkatkan dan Memper- tahankan Motivasi Belajar Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga secara psikis yang membuat motivasi belajar mahasiswa menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, mahasiswa berusaha mengembangkan motivasi belajarnya baik yang bersifat intrinsik maupun yang bersifat ekstrinsik. Berikut kutipan wawancara yang disampaikan oleh Mar. Dosen berperan sangat penting karena mereka dapat memberikan dorongan bahwa tidak sulit untuk belajar dengan nyaman selama kampus ditutup. Kata-kata motivasi yang membuat saya tidak tertekan untuk belajar daring yang tidak pernah saya temukan saat di kelas. Dan dalam beberapa mata kuliah, dosen memberi mahasiswa kesempatan untuk bertanya setelah menyelesaikan pembelajaran secara terbuka yang menyebabkan siswa tidak merasa tertekan sendiri (Mar #17, Wawancara WhatsApp, 8 Juli 2020) Pernyataan Mar tersebut menunjukkan bahwa dosen berperan sangat penting dalam membangun motivasi belajar. Dia merasakan kata-kata motivasi yang disampaikan oleh dosen kepada dirinya memberikan perasaan nyaman. Selain dosen, partisipan juga menyampaikan peran penting keluarga dalam memotivasi mereka belajar. Hal ini diungkap oleh partisipan pada data berikut. Selama COVID -19 saya kuliah online, saya memang tidak harus pergi ke kampus tapi tetap membuat saya sibuk dengan tugas dan pusing dalam kuliah online. Kadang-kadang membuat saya lemah dan butuh semangat tapi saya ingat orang tua saya di rumah tidak bisa kerja juga tapi mereka juga cari apa yang bisa untuk dapat uang untuk kuliah saya. Itu menjadi motivasi buat saya untuk selalu ingat kepada orang tua (Nad #35 Wawancara Zoom, 7 Juli 2020) Di masa pandemi, mahasiswa merasakan ketidakstabilan semangat belajar. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan orang tua menjadi penyemangat tersendiri bagi mahasiswa. Harvey, Robinson dan Welch (2017) melaporkan bahwa saat jauh dari keluarga, mahasiswa internasional sering mengalami guncangan emosi. Menjalin komunikasi menjadi salah satu cara dalam menjaga emosi dan pikiran agar tetap stabil. Sebagaimana diungkapkan oleh Nad, orang tua menjadi agen lain yang berperan penting dalam membangun motivasi belajarnya. Berbeda dari Sun dan Nad, Haf membangun motivasi belajar dari hasil refleksi pribadinya. Dia selalu bertanya kepada dirinya sendiri cara mencapai tujuan dan mengemban tanggung jawab ketika dirinya memilih belajar di luar negeri agar dia kembali termotivasi dalam belajar. Haf mengungkapkannya pada data wawancara berikut. - 70 - Secara personal, menurut saya, sangat tidak umum bagi mahasiswa untuk tetap memiliki motivasi yang stabil selama pembelajarn daring. Motivasi selalu naik dan turun tergantung aspek internal dan eksternal. Namun, untuk meningkatkan motivasi diri, saya mengingatkan diri sendiri dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan untuk memotivasi diri misalnya “mengapa saya disini?”, “apa tanggung jawab saya selama disini?” (Haf #48, Wawancara WhatsApp, 9 Juli 2020) Data wawancara tersebut menunjukkan bahwa dosen dan orangtua sebagai agen lainnya memberikan kontribusi yang sangat penting dalam membangun motivasi belajar. Selain itu, refleksi diri juga berperan penting dalam membangun motivasi diri. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Wu, Zhai, Wall dan Li (2019) yang melaporkan bahwa motivasi diri merupakan salah satu hal yang sangat krusial bagi mahasiswa internasional untuk membangun semangat belajar. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman belajar mahasiswa Thailand yang sedang belajar di Indonesia secara daring pada masa pandemi COVID-19 dari perspektif sosial budaya yang dikembangkan oleh Ma (2017). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun dalam situasi pandemik, mahasiswa Thailand mampu beradaptasi dengan pembelajaran daring, mengembangkan kemandirian belajar dan membangun motivasi belajar. Secara empiris, penelitian ini memberikan pertimbangan penggunaan aplikasi teknologi digital yang tidak membutuhkan biaya mahal sebagaimana banyak dikeluhkan oleh para partisipan pada saat penerapan pembelajaran daring. Penelitian ini juga memberikan kontribusi secara teoretis bahwa kemandirian belajar mahasiswa dapat dibangun melalui kolaborasi belajar dengan teman, sehingga mahasiswa dapat saling bertanya, berdiskusi dan berbagi tugas. Selain itu, refleksi diri maupun dukungan dari orang-orang sekitarnya, misalnya dosen, orangtua dan teman menjadi faktor pendukung terbangunnya motivasi belajar. Walaupun peran perguruan tinggi dalam temuan penelitian ini tidak terungkap karena tidak secara eksplisit ditanyakan kepada partisipan, penelitian ini dapat berkontribusi terhadap pengembangan kebijakan perguruan tinggi dalam rangka membantu mahasiswa internasional selama pandemi COVID-19. Pernyataan Penulis [Disclosure Statement] Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan dalam hal riset, kepengarang- an, dan publikasi artikel ini. [The authors declared no potential conflicts of interest with respect to the research, authorship, and publication of this article]. Pernyataan Kontribusi Penulis [Authors’ Contribution Statements] Sandi Ferdiansyah: Mengonsep ide (utama), merancang metode penelitian (penguat), pengumpulan data (setara), menulis artikel awal (utama); mengevaluasi (setara) dan mengedit (setara) [Conceptualization of ideas (lead), methodology (supporting), data - 71 - collection (equal), writing-original draft (lead), review (equal), editing (equal)]. Supiastutik: Mengonsep ide (penguat), merancang metode penelitian (utama), pengumpulan data (setara), menulis artikel awal (penguat), mengevaluasi (setara) dan mengedit (setara).[Conceptualization of ideas (supporting), methodology (lead), data collection (equal), writing-original draft (supporting), review (equal), editing (equal)]. Ria Angin: pengumpulan data (setara), menulis artikel awal (penguat), mengevaluasi (setara) dan mengedit (penguat). [Data collection (equal), writing-original draft (supporting), review (equal), editing (equal)]. DAFTAR REFERENSI Andenoro, A. C., & Bletscher, C. G. (2012). Transforming the international learning experience for students: Moving beyond the principle of accompaniment. Journal of Leadership Studies, 6(1), 52-57. DOI:10.1002/jls Atmojo, A. E. P., & Nugroho, A. (2020). EFL classes must go online! Teaching activities and challenges during COVID-19 pandemic in Indonesia. Register Journal, 13(1), 49-76. Azorin, C. (2020). Beyond COVID-19 supernova: Is another education coming? Journal of Professional Capital and Community. Terbit pertama online (hlm. 1-10). DOI: 10.1108/JPCC-05-2020-0019 De Paepe, L., Zhu, C., & Depryck, K. (2018). Online Dutch L2 learning in adult education: Educators‟ and providers‟ viewpoints on needs, advantages and disadvantages. Open Learning: The Journal of Open, Distance and e- Learning, 33(1), 18-33. DOI: 10.1080/02680513.2017.1414586 Dyment, J., Downing, J., Hill, A., & Smith, H. (2017). „I did think it was a bit strange taking outdoor education online‟: Exploration of initial teacher education students‟ online learning experiences in a tertiary outdoor education unit. Journal of Adventure Education and Outdoor Learning, 18(1), 70-85. DOI: 10.1080/14729679.2017.1341327 Fullana, J., Pallisera, M., Colomer, J., Pena, R. F., & Perez-Buriel, M. (2014). Reflective learning in higher education: A qualitative study on students‟ perceptions. Studies in Higher Education. Terbit pertama online (hlm. 1-15). DOI: 10.1080/03075079.2014.950563 Halliday, M. A. K. (1996). 'On grammar and grammatics'. Dalam R. Hasan, C. Cloran & D. Butt (Editor), Functional descriptions: Theory into practice. (hlm. 1-38). Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins. Hammersley, M., & Traianou, A. (2012). Ethics in qualitative research controversies and context. London: Sage. Harrison, R. A., Harrison, A., Robinson, C., & Rawlings, B. (2018). The experience of international postgraduate students on a distance-learning programme. Distance Education, Terbit pertama online (hlm. 1-15). DOI: 10.1080/01587919.2018.1520038 Harvey, L. (2015). Beyond member – checking: A dialogic approach to the research interview. International Journal of Research & Method in Education, 38(1), 23-38. DOI: 10.1080/1743727X.2014.914487 Harvey, T., Robinson, C., & Welch, A. (2017). The lived experience of international students who‟s family remains at home. Journal of International Students. 7(3), 748-763. DOI: 10.5281/zenodo.570031 - 72 - Kabilan, M. K., Ramdani, J. M., Mydin, A., & Junaedi, R. (2020). International teaching practicum: Challenges faced by pre-service EFL teachers in ESL settings. LEARN Journal: Language Education and Acquisition Research Network Journal, 13(1), 114-126. Karkar-Esperat, T. M. (2018). International graduate students‟ challenges and learning experiences in online classes. Journal of International Students, 8(4), 1722–1735. DOI: 10.5281/zenodo.1468076 Khanal, J., & Gaulee, U. (2019). Challenges of international students from pre- departure to post study: A literature review. Journal of International Students, 9(2), 560-581. DOI: 10.32674/jis.v9i2.673 Kusumaningputri, R., & Widodo, H. P. (2018). Promoting Indonesian university students' critical intercultural awareness in tertiary EAL classrooms: The use of digital photograph-mediated intercultural tasks. System, 72, 49-61. DOI: 10.1016/j.system.2017.10.003 Kvale, S. (2008). Doing interviews. London: Sage. Lantolf, J. P., & Beckett, T. G. (2009). Sociocultural theory and second language acquisition. Language Teaching, 42(4), 459-475. DOI: 10.1017/S0261444809990048 Li, C., & Ruan, Z. (2015). Changes in beliefs about language learning among Chinese EAP learners in an EMI context in Mainland China: A socio- cultural perspective. System, 55, 43-52. DOI: 10.1016/j.system.2015.08.010 Ma, Q. (2017). A multi-case study of university students‟ language-learning experience mediated by mobile technologies: A socio-cultural perspective. Computer Assisted Language Learning. Terbit pertama online (hlm. 1-21). DOI: 10.1080/09588221.2017.1301957 Moorhouse, B. L. (2020). Adaptations to a face-to-face initial teacher education course „forced‟ online due to the COVID-19 pandemic. Journal of Education for Teaching. Terbit pertama online (hlm. 1-3). DOI: 10.1080/02607476.2020.1755205 Nilsson, P. A., & Ripmeester, N. (2016). International student expectations: Career opportunities and employability. Journal of International Students, 6(2), 614-631. Niu, R., Lu, K., & You, X. (2018). Oral language learning in a foreign language context: Constrained or constructed? A sociocultural perspective. System, 74, 38-49. DOI: 10.1016/j.system.2018.02.006 Pazil, N. H. A. (2019). Familiarity as a family: Close friendships between Malaysian students and their co-national friends in the UK. Journal of International Students, 9(3), 2166-3750. DOI: 10.32674/jis.v9i3.732 Pham, L. (2020). Capabilities and the “value” flows of international graduate returnees and their networks. Journal of International Students. 10(2), 2166- 3750. DOI: 10.32674/ jis.v10i2.1995 Raaper, R., & Brown, C. (2020). The Covid-19 pandemic and the dissolution of the university campus: Implications for student support practice. Journal of Professional Capital and Community. Terbit pertama online (hlm. 1-7). DOI: 10.1108/JPCC-06-2020-0032 Rassaei, E. (2020). Effects of mobile-mediated dynamic and nondynamic glosses on L2 vocabulary learning: A sociocultural perspective. The Modern Language Journal. Terbit pertama online (hlm. 1-20). DOI: 10.1111/modl.12629 - 73 - Rogoff, B., Radziszewska, B., & Masiello, T. (1995). Analysis of developmental process in sociocultural activity. Dalam Martin, L. M. W., Katherine, N., & Tobach, E (Editor), Sociocultural psychology: Theory and practice of doing and knowing (hlm. 125-149). Cambridge: Cambridge University Press. Setyono, B., & Widodo, H. P. (2019). The representation of multicultural values in the Indonesian Ministry of Education and Culture-endorsed EFL textbook: A critical discourse analysis. Intercultural Education, 30(4), 383-397. DOI: 10.1080/14675986.2019.1548102 Stone, C. (2019). Online learning in Australian higher education: Opportunities, challenges and transformations. Student Success, 10(2), 1-11. DOI: 10.5204/ssj.v10i2.1299 Su, Y., Li, Y., Liang, J. C., & Tsai, C. C. (2018). Moving literature circles into wiki- based environment: The role of online self-regulation in EFL learners‟ attitude toward collaborative learning. Computer Assisted Language Learning, 32(5-6), 556-586. DOI: 10.1080/09588221.2018.1527363 Widodo, H. P. (2014). Methodological considerations in interview data transcription. International Journal of Innovation in English Language Teaching and Research, 3(1), 101-109. Widodo, H. P. (2018). A critical micro-semiotic analysis of values depicted in the Indonesian Ministry of National Education-endorsed secondary school English textbook. Dalam H. P. Widodo, L. V. Canh, M. R. G. Perfecto, & A. Buripakdi (Editor), Situating moral and cultural values in ELT materials: The Southeast Asian context (hlm. 131–152). Cham, Switzerland: Springer. Widodo, H. P., & Ferdiansyah, S. (2018). Engaging student teachers in video- mediated self-reflection in teaching practica. Dalam K. J. Kennedy & J. C- K. Lee (Editor), The Routledge handbook of schools and schooling in Asia (hlm. 922-934). London: Routledge. Wertsch, J. V. (1985). Vygotsky and the social formation of mind. Cambridge, MA: Harvard University Press. Wu, M. Y., Zhai, J., Wall, G., & Li, Q. C. (2019). Understanding international students‟ motivations to pursue higher education in mainland China. Educational Review. Terbit pertama online (hlm. 1-17). DOI: 10.1080/00131911.2019.1662772 ___________________________________________________________________ BIOGRAFI SINGKAT PENULIS [NOTES ON CONTRIBUTORS] Sandi Ferdiansyah bekerja sebagai dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Indonesia. Minat akademik penulis meliputi metodologi pengajaran bahasa Inggris, penggunaan teknologi untuk peningkatan pembelajaran bahasa dan pengembangan profesi guru. Email: sanjazzyn@yahoo.com. Sandi Ferdiansyah is a lecturer in the Department of English Education of Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Indonesia. His research interests include methodology in TESOL, technology-enhanced language learning, and teacher professional development. Email: sanjazzyn@yahoo.com. mailto:sanjazzyn@yahoo.com mailto:sanjazzyn@yahoo.com - 74 - Supiastutik (penulis korespondensi) adalah seorang dosen senior di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, Indonesia. Minat penelitian penulis di bidang sastra, bahasa dan budaya, terutama yang berkaitan dengan kajian gender. Email: supiastutik.sastra@unej.ac.id Supiastutik (corresponding author) is a senior lecturer in the English Department of Faculty of Humanities, Universitas Jember, Indonesia. Her research interests lie in literary works, language, and culture, especially focusing on gender studies. Email: supiastutik.sastra@unej.ac.id Ria Angin mengajar di Program Studi Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jember, Indonesia. Minat penelitian penulis di bidang analisis kebijakan publik, studi gender dan politik dan tata kelola keuangan pemerintah. Email: ria.angin@unmuhjember.ac.id Ria Angin teaches in the Department of Government Sciences at the Faculty of Social And Political Sciences, Universitas Muhammadiyah Jember, Indonesia. She is interested in researching public policy analysis, gender studies, and government financial management. Email: ria.angin@unmuhjember.ac.id mailto:supiastutik.sastra@unej.ac.id mailto:supiastutik.sastra@unej.ac.id mailto:ria.angin@unmuhjember.ac.id mailto:ria.angin@unmuhjember.ac.id