- 126 - Special Edition | Bahasa Indonesia Mahasiswa Internasional dan COVID-19 [International Students and COVID-19] ISSN: 2162-3104 Print/ ISSN: 2166-3750 Online Volume 10, Issue S3 (2020), pp. 126-141 © Journal of International Students https://ojed.org/jis Emotional Geographies Experienced by an Indonesian Doctoral Student Pursuing her PhD in New Zealand during the COVID-19 Pandemic Pengalaman Geografi Emosi Mahasiswa Indonesia yang Menempuh Program Doktor di Selandia Baru selama Masa Pandemi COVID-19 Johanes Leonardi Taloko Universitas Negeri Malang, Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Indonesia Martin Surya Putra Universitas Negeri Malang, Indonesia Politeknik Negeri Samarinda, Indonesia Yenny Hartanto Politeknik Ubaya, Indonesia Universitas Surabaya, Indonesia ________________________________________________________ ABSTRACT: This narrative study explores the emotional experience of a female Indonesian pursuing her PhD in New Zealand when the COVID-19 pandemic hit this country. Garnered from the results of several virtual interviews with the participant, the data were analysed with the Hargreaves‟s emotional geography framework (2001) focusing on five different emotional dimensions: physical, sociocultural, moral, professional, and political. The findings showed that during the COVID-19 pandemic- https://ojed.org/jis - 127 - impacted PhD study, the participant experienced different emotions shaped by physical, sociocultural, moral, professional, and political factors while negotiating and coping with such emotions. ABSTRAK: Penelitian naratif ini memaparkan pengalaman emosi mahasiswa internasional asal Indonesia yang belajar di Selandia Baru saat COVID-19 melanda negara tersebut. Data diperoleh melalui wawancara virtual dan dianalisis menggunakan kerangka Geografi Emosi oleh Hargreaves (2001) yang berfokus pada aspek fisik, sosiokultural, moral, profesional dan politik. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa selama menempuh kuliah doktoral yang terdampak oleh COVID-19, partisipan mengalami berbagai emosi yang diakibatkan oleh faktor-faktor fisik, sosial budaya, moral, profesional dan politik serta cara mengatasi semua emosi tersebut. Keywords: COVID-19 pandemic, emotional geography, international student [pandemi COVID-19, geografi emosi, mahasiswa internasional] _______________________________________________________________ PENDAHULUAN Virus COVID-19 teridentifikasi pertama kali di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 dan menyebar ke berbagai belahan dunia. Wabah ini berdampak terhadap penutupan sekolah dan perguruan tinggi untuk menghindari kontak fisik dan sosial antar individu (Bayham & Fenichel, 2020). Secara global, pandemi ini berpengaruh pada keluarga dan siswa (Burgess & Sievertsen, 2020), pola pengasuhan anak (Bayham & Fenichel, 2020) dan mahasiswa internasional yang sedang menempuh kuliah di negara lain. Sebelum pandemi, mahasiswa internasional yang berkuliah di negara lain sudah mengalami berbagai kendala atau pengalaman kurang menyenangkan di negara tujuannya. Kendala yang terjadi di kampus antara lain: kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa internasional yang belum memadai, diskriminasi akademik oleh mahasiwa setempat dan perlakuan dosen yang tidak memahami kondisi mereka. Di luar kampus, dalam beberapa kasus, mahasiswa internasional diperlakukan tidak menyenangkan oleh masyarakat sekitar karena dianggap minoritas atau orang asing (Yan & Pei, 2018). Kendala lain yang dihadapi oleh mahasiswa internasional adalah kesehatan mental (Forbes-Mewett & Sawyer, 2016), misalnya depresi kejiwaan yang memungkinkan tindakan bunuh diri. Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru dan upaya mengatasi tekanan psikologis karena perubahan jejaring sosial, belajar keterampilan hidup, keterpenuhan tuntutan akademis di lingkungan pendidikan yang baru, serta konsumsi makanan merupakan faktor- faktor penting untuk mahasiswa internasional (Alloh, Tait & Taylor, 2018). Mereka yang tidak mampu mengatasi masalah tersebut akan merasa kesepian, mengalami depresi dan tidak mampu mengendalikan diri (Dutta & Chye, 2017). Tran (2020) menegaskan bahwa mobilitas mahasiswa internasional juga rentan dipengaruhi oleh perubahan politik, budaya, ekonomi, bencana alam, serta isu kesehatan. Ditinjau dari segi kesehatan, khususnya di masa pandemi COVID- - 128 - 19, karantina wilayah turut menambah beban para mahasiswa internasional yang tidak bisa kembali ke negara asalnya. Ketakutan yang dirasakan oleh mahasiswa internasional terhadap penularan virus dan peluang dirawat di rumah sakit tanpa didampingi oleh keluarga berpotensi menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa. Terlepas dari berbagai permasalahan yang dialami oleh mahasiswa internasional, kontribusi mahasiswa internasional secara ekonomi cukup substansial seperti dipaparkan oleh Bordia, Bordia, Milkovitz, Shen dan Restubog (2019), yaitu £14 miliar di Inggris Raya, AU$20 miliar di Australia dan US$30,5 miliar di Amerika Serikat per tahun. Hui, Lee dan Rousseau (2004) menekankan pentingnya hubungan keterikatan psiokogis, yaitu saling melengkapi antara harapan mahasiswa internasional dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh lembaga pendidikan tinggi di luar negeri. Perlakuan yang baik dari perguruan tinggi merupakan harapan mahasiswa internasional ditinjau dari keterikatan psikologis, yaitu terpenuhinya kewajiban oleh perguruan tinggi tempat mereka berkuliah (Morrison & Robinson, 1997) agar tidak tercetus reaksi negatif yang rentan terhadap sikap dan perilaku negatif (Zhao, Wayne, Glibkowski & Bravo, 2007). Penelitian tentang mahasiswa internasional yang telah dilakukan selama ini cenderung mendokumentasikan aspek-aspek seperti diuraikan sebelumnya, namun jarang yang memfokuskan geografi emosi yang dialami oleh mahasiswa internasional, seperti dicontohkan oleh Liu (2016) dan Hargreaves (2001). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman emosi mahasiswa internasional yang sedang menjalani program doktoral saat pandemi COVID-19 melanda Selandia Baru. Berikut dua pertanyaan yang dikaji dalam penelitian ini. 1. Pengalaman emosi apa yang dirasakan oleh mahasiswa internasional yang sedang menempuh program doktoral saat pandemi COVID-19 merebak di Selandia Baru? 2. Bagaimana cara mahasiswa internasional yang sedang menempuh program doktoral tersebut mengatasi tantangan emosi saat pandemi COVID-19 merebak di negara tersebut? LANDASAN TEORETIS: GEOGRAFI EMOSI Penelitian ini menggunakan teori geografi emosi yang dialami oleh partisipan selama masa pandemi COVID-19. Geografi emosi didefinisikan oleh Hargreaves (2001) sebagai: ‘pola spasial dan pengalaman dari kedekatan dan/atau kesenjangan dalam interaksi dan hubungan manusia yang membantu menciptakan, mengkonfigurasi, dan mewarnai perasaan dan emosi yang kita alami tentang diri sendiri, dunia kita, dan satu sama lain’ (hlm. 1061). Hargreaves (2001) mengungkapkan bahwa ada lima aspek penting dalam - 129 - geografi emosi, antara lain dimensi fisik/personal, dimensi sosiokultural, dimensi moral, dimensi profesional dan dimensi politik. Kelima dimensi tersebut menjadi landasan pembahasan dalam penelitian ini. Pertama, geografi fisik yang mengacu kepada kedekatan dan/atau kesenjangan yang terjadi akibat adanya dimensi ruang dan waktu. Belajar di luar negeri memiliki konsekuensi harus berpisah dengan keluarga, sanak saudara dan para sahabat hingga mengubah pola komunikasi yang telah terjalin selama ini. Perbedaan zona waktu menuntut pola penyesuaian komunikasi. Perbedaan dimensi ruang dan waktu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga membutuhkan pemahaman emosi antara satu dengan yang lain (Denzin, 1984, hlm. 1). Kurangnya pemahaman terhadap dimensi ruang dan waktu cenderung menyebabkan kesalahpahaman di berbagai aspek kehidupan. Bagi mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, dukungan keluarga dan sahabat sangat penting. Geografi moral mengacu kepada kedekatan dan/atau kesenjangan yang terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan keinginan untuk mencapai prestasi praktik profesional. Karena latar belakang kehidupan sosial yang tidak sama satu sama lain dan adanya sistem pendidikan dengan standar yang berbeda dari berbagai negara, mahasiswa internasional pun memiliki standar moral yang berbeda antara satu dengan yang lain. Berkuliah di tempat baru menyiratkan bahwa mahasiswa internasional perlu mendekonstruksi moral bawaan dan keyakinan epistemologis untuk memahami praktik legitimasi moral yang baru. Selama proses ini, mahasiswa internasional mengalami berbagai emosi seperti rasa bersalah, rasa malu dan keraguan diri, hingga memerlukan penanganan dan pengelolaan emosi secara berkelanjutan (Zembylas, 2007). Ketiga, geografi sosiokultural berkaitan dengan kedekatan dan/atau kesenjangan akibat adanya perbedaan jenis kelamin, ras, etnis, bahasa dan budaya. Mahasiswa internasional yang datang dari berbagai penjuru dunia membawa ciri khas masing-masing negaranya, terutama dari sisi sosial budaya. Masing-masing mahasiswa memiliki kebiasaan tersendiri dalam hidup bersosialisasi di komunitas yang baru. Kebiasaan ini tentu saja berpotensi menimbulkan friksi pada saat berinteraksi antarsesama mahasiswa internasional sendiri atau dengan pembimbing, dosen atau masyarakat sekitarnya yang berakibat pada keakraban atau kesenjangan interaksi sosial karena perbedaan tingkat emosi. Geografi profesional berhubungan dengan kedekatan dan/atau kesenjangan akibat adanya pemahaman yang berbeda terhadap norma profesionalisme dan praktik profesional. Cara belajar dan mengajar sangat dipengaruhi oleh perbedaan norma profesionalitas. Hal ini berdampak terhadap pemahaman tentang standar profesionalisme. Praktik yang dianggap baik dalam sistem pendidikan di sebuah negara mungkin saja dianggap tidak wajar, tidak pantas bahkan mungkin dipandang sebagai hal yang membahayakan di negara lain. Bagi mahasiswa internasional yang berprofesi sebagai dosen, kedekatan dan/atau perbedaan profesionalisme ini dapat memengaruhi emosi profesionalitas, legitimasi dan kepantasan mahasiswa tersebut. Hal ini tentu saja tercetus dalam berbagai emosi seperti kecemasan, tekanan dan frustrasi. - 130 - Terakhir, geografi politik adalah kedekatan dan/atau kesenjangan yang terjadi karena pemahaman yang berbeda terhadap kekuasaan, yaitu cara pandang terhadap orang lain yang memiliki jabatan tertentu. Mahasiswa internasional sering merasa segan pada saat berinteraksi dengan dosen pembimbing mereka. Perasaan tersebut dapat menimbulkan rasa rendah diri, cemas dan khawatir tidak diluluskan. METODE PENELITIAN Partisipan Partisipan dalam penelitian ini berjumlah satu orang yang bernama Melati (nama samaran). Ia berasal dari Indonesia berjenis kelamin wanita yang berusia hampir 30 tahun, baru menikah dan belum memiliki anak. Ia penerima beasiswa dari perguruan tinggi di Selandia Baru untuk menempuh kuliah lanjut doktoral di bidang pendidikan. Dia tiba di Selandia Baru kurang lebih dua bulan sebelum karantina wilayah diterapkan di negara tersebut. Jeda waktu yang pendek antara masa kedatangan dengan pemberlakukan karantina wilayah merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan penulis untuk merekrutnya sebagai partisipan penelitian. Cetusan emosi partisipan yang merupakan refleksi pengalamannya dalam menjalani kuliah di tengah-tengah pandemi COVID-19 mengungkapkan hal-hal yang unik untuk dibahas. Pengumpulan dan Analisis Data Data penelitian dalam artikel ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dilakukan secara virtual dengan aplikasi Zoom sebanyak tiga kali yang diawali pada tanggal 12 Juli 2020 sebanyak dua kali. Wawancara kemudian dilanjutkan pada tanggal 19 Agustus 2020. Tujuan wawancara adalah menggali pengalaman mahasiswa internasional ini dalam menghadapi berbagai macam isu, kebijakan dan tantangan selama pandemi COVID-19 di negara lain. Data yang diperoleh dari wawancara virtual mendalam ini kemudian ditranskripkan dalam format narasi untuk selanjutnya dianalisis. Esensi data dalam bentuk transkripsi seperti ditegaskan oleh Widodo (2014) memegang peran yang sangat penting dalam menganalisis bahasa percakapan, terutama untuk mencari dan mengungkapkan kerumitan dan pemahaman fenomena yang timbul secara alami seperti nilai, keyakinan, perasaan, pemikiran dan pengalaman dalam konteks sosial. Landasan untuk melakukan analisis melalui narasi geografi emosi ditegaskan oleh Albin-Clark (2018), Hargreaves (2001) dan Olson (2015), yaitu dengan cara mengamati pola-pola keakraban dan/atau kesenjangan dalam interaksi antarmanusia. Pola-pola demikian mencuat ke permukaan akibat konstruksi emosi yang timbul dalam hubungan antarmanusia. Realisasi emosi tentu saja terekam dan tersimpan dalam bentuk pengalaman di pikiran masing- masing individu. Panduan dalam menganalisis data percakapan seperti - 131 - ditekankan oleh Widodo (2014) terdiri dari lima tahap. Pertama, mendengarkan data percakapan, yaitu rekaman percakapan antara partisipan dengan tim penulis melalui aplikasi Zoom. Kemudian, mengetik data percakapan tersebut dalam bentuk transkrip untuk memudahkan analisis. Langkah ketiga adalah memilah- milah data percakapan yang telah berbentuk tulisan tersebut untuk ditafsirkan atau diinterpresikan. Pada tahap ini, para penulis berusaha semaksimal mungkin agar ungkapan kata-kata yang dipilih mampu menyingkap pengalaman emosi partisipan. Tahap selanjutnya adalah merekonstruksi data percakapan tersebut untuk memaknai diskursus narasi. Langkah terakhir adalah membangun kredibilitas data, yaitu memeriksa data dari sisi keakuratan informasi yang tersingkap. Verifikasi kredibilitas dilakukan untuk memberikan umpan balik tentang keakuratan data percakapan yang diperoleh dari semua sisi mulai dari penyajian dan penafsiran data, konstruksi data percakapan, hingga konstruksi kredibilitas data. HASIL PENELITIAN Data wawancara beserta pembahasannya berdasarkan geografi emosi yang terbagi atas geografi fisik, geografi sosiokultural, geografi moral, geografi profesional dan geografi politik disajikan berikut ini. Geografi Fisik: ‘Kegiatan-kegiatan itu juga membuat saya semakin mengenal ‘bubble’ dan tetangga-tetangga saya di sini’ Demi menyelamatkan nyawa penduduknya dan menghambat penyebaran virus COVID-19, pemerintah Selandia Baru akan memberlakukan isolasi di seluruh negara dan menutup semua sekolah dan perkantoran (Menon, 2020). Dengan berhentinya seluruh aktivitas akademik, para mahasiswa setempat tentu saja harus pulang ke rumah mereka masing-masing, sedangkan para mahasiswa internasional harus berada di apartemen mereka sendiri. Di apartemen inilah, para mahasiswa mancanegara ini banyak melakukan kegiatan bersama secara berkelompok sehingga mereka bisa saling berempati dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Hal ini terungkap dalam data berikut ini. Jadi karena ini international student accommodation, sebagian besar memang mahasiswa internasional. Yang mahasiswa lokal, sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Jadi kita saling bahu-membahu, saling menyemangati, saling cerita kondisi pandemi di negaranya masing-masing. Kita malah saling berempati dan saling membandingkan situasi dari satu negara dengan negara lainnya. Sejak itu saya malah semakin guyub dengan orang-orang di dalam gedung atau lantai ini. Dengan adanya pandemi ini, aktivitas di akomodasi semakin digalakkan. Setiap hari bisa ada tiga kegiatan, misalnya belajar bahasa Maori atau belajar budaya lokal di sini. Setiap hari selama empat minggu itu. Supaya kita tidak stres, tidak mendekam terus di dalam kamar, supaya ada semangat, terutama untuk mahasiswa yang baru pertama kali ke luar negeri. Di - 132 - akomodasi mahasiswa di tempat saya ini, setiap lantai ada ketuanya yang mengorganisir kegiatan setiap minggu. Ada „art and craft‟, diskusi tentang topik tertentu, atau lainnya. Kegiatan-kegiatan itu juga membuat saya semakin mengenal „Bubble‟ dan tetangga-tetangga saya di sini. (Melati, wawancara melalui Zoom, 12 Juli 2020) Pemberitahuan tentang akan diberlakukannya karantina wilayah di negara tersebut membuat masyarakat setempat sempat mengalami kepanikan. Bagi Melati yang tinggal di kamar apartemennya seorang diri, hal tersebut dirasakan cukup berat. Penelitian yang dilakukan oleh Brooks, Webster, Smith, Woodland, Wessely, Greenberg dan Rubin (2020) memaparkan bahwa masa karantina wilayah menyebabkan orang mengalami gangguan emosi, kecemasan, marah dan kebingungan. Khususnya untuk mahasiswa setempat yang kebanyakan berasal dari wilayah lain di negara tersebut yang sudah berada di rumah masing-masing. Melati beruntung karena memiliki banyak kegiatan yang bisa diikuti di apartemen untuk mengalihkan perhatiannya dari situasi yang harus dialaminya saat itu. Pengelolaan apartemen yang dialokasikan untuk mahasiswa internasional sangat memperhatikan kesehatan emosi para penghuni yang terkekang di dalamnya selama empat minggu masa karantina wilayah tersebut. Langkah ini sangat tepat mengingat kelompok usia 16-24 tahun pada umumnya termasuk kelompok usia yang rentan terhadap gangguan mental, seperti depresi, kecemasan dan penyalahgunaan zat kimia (Forbes-Mewett & Sawyer, 2016). Pihak pengelola membentuk “bubble” yaitu kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas empat hingga lima orang mahasiswa internasional yang tinggal satu lantai serta memperbanyak jumlah kegiatan sosial yang dapat dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain diskusi kelompok dan saling bertukar informasi tentang kondisi pandemi di negaranya masing-masing. Mahasiswa yang menyukai seni rupa dapat terlibat dalam kegiatan belajar bahasa dan budaya penduduk setempat. Setelah mengikuti kegiatan yang dialokasikan, mereka diwajibkan membuat laporan tertulis tentang setiap kegiatan yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar para mahasiswa internasional tersebut bisa merefleksikan apa yang telah dipelajari dan didapatkan selama mengikuti kegiatan belajar selama karantina demi perkembangan diri ke depan. Meskipun tidak bisa bebas keluar dari gedung tempat tinggalnya, Melati justru merasa semakin dekat dengan kelompok kecilnya dan para mahasiswa internasional lain yang senasib di apartemen tersebut. Tingginya intensitas kegiatan antarmahasiswa internasional dalam apartemen membuat mereka saling berempati dengan kondisi teman yang lain bahkan saling membantu antarsesama. Semua ini berdampak terhadap stabilitas emosi, yaitu tidak mengalami rasa jenuh dan tertekan, patah semangat atau mengalami emosi negatif lainnya. - 133 - Geografi Sosiokultural: ‘Saya merasa lumayan nyaman’ Kondisi sosial masyarakat, sistem pendukung yang baik dari kampus dan keberadaan orang-orang terdekat sangat membantu Melati untuk melewati masa transisi selama pandemi dengan baik. Hal ini diungkapkannya dalam bentuk narasi berikut ini. Selandia Baru ini sangat multikultural meskipun mayoritas memang dari Eropa tapi yang dari Asia dan Maori itu juga cukup besar jumlahnya. Orang-orang yang memegang posisi itu juga tidak melulu orang Eropa yang mendominasi. Jadi untuk rasisme saya rasa tidak terlalu kentara. Beberapa konselor di sini di unit yang bernama Student Learning untuk membantu mahasiswa yang kesulitan berbahasa Inggris juga yang dari Indonesia. Koordinatornya pun orang Asia. Jadi ya lumayan nyaman dan tidak terlalu bermasalah bagi mereka yang kemampuan bahasa Inggrisnya masih belum lancar atau masih terbata-bata. Saya juga punya beberapa sahabat/teman baik yang sama-sama berasal dari Asia dan dua orang di antara mereka sudah menikah dengan orang lokal di sini dan sudah menjadi Permanent Residence (PR). Jadi sudah cukup baik mengenal dengan budaya di sini. Ibu-ibu semua dan sudah menikah. Setiap kali ketemu kita tidak bicara tentang kehidupan pribadi tetapi membahas proposal setiap hari Selasa kira-kira sekitar dua-tiga jam dengan meminjam salah satu ruangan di kampus. Kita membicarakan tentang respons dari supervisor masing-masing. Bahkan sesekali kita mengundang kakak kelas untuk berbagi dengan kita tentang metode atau data analisis mereka. Tapi semenjak adanya pandemi ini, kita tetap berkumpul setiap hari Selasa lewat Zoom. (Melati, wawancara melalui Zoom, 12 Juli 2020) Universitas membantu lewat unit-unit di dalam kampus seperti Student Learning. Mereka memberikan lokakarya, bantuan konsultasi secara akademik, baik lewat Zoom atau telepon, bagaimana mengikuti kelas daring, bagaimana menulis esai yang baik, memperlancar Bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Saya juga ikut beberapa sesi well-being dari sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan universitas. Selama masa pandemi itu, kegiatan-kegiatan semacam ini lebih digalakkan dan terarah pada pembelajaran online. Secara keseluruhan universitas juga tidak menganjurkan pembelajaran synchronous. Itu saya rasa membantu sekali. Jadi lebih ke compassionate reason, bukan melulu untuk akademis. (Melati, wawancara melalui Zoom, 19 Agustus 2020) Penduduk Selandia Baru mempunyai sikap yang positif terhadap para imigran dan menghargai multikulturalisme lebih dari negara lain (Ward & Masgooret, 2008). Struktur sosial kemasyarakatan yang multikultural dan ketiadaan unsur-unsur rasialisme ini ternyata sangat membantu Melati untuk beradaptasi di lingkungan barunya dengan lebih mudah. Meskipun Selandia Baru didominasi oleh warga keturunan Eropa, orang-orang dari Asia, termasuk Indonesia, dan suku Maori, penduduk asli Selandia Baru menempati peran dan - 134 - posisi penting di kampus. Sibley dan Ward (2013) mengamati bahwa imigran dari Britania Raya dan Irlandia (29%), Asia (29%) dan Pasifik (15%) merupakan yang populasi terbesar di negara itu. Dari uraian Melati, terungkap bahwa sebagai mahasiswa asing, keberadaan orang-orang di sekitarnya yang juga berasal dari negara lain turut membantunya merasa nyaman dalam beradaptasi dan beraktivitas seperti mahasiswa setempat. Dukungan sistemik dari universitas tempat ia menuntut ilmu merupakan salah satu faktor pendukung bagi Melati. Student Learning, unit khusus yang ada di kampus yang bertugas membantu mahasiswa internasional dalam mengatasi kendala bahasa dan akademik membuat Melati merasa cukup nyaman untuk melanjutkan kuliah sebelum dan selama masa pandemi. Keberadaan unit tersebut menjadi semakin penting selama masa pandemi karena diharapkan mampu mengurangi beban psikologis mahasiswa akibat karantina wilayah. Pengalokasian kegiatan-kegiatan yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan akademik maupun nonakademik selama masa pandemi lebih ditingkatkan. Bahkan, pihak universitas juga tidak menuntut mahasiswa untuk melakukan pembelajaran secara sinkron. Tujuannya adalah agar para mahasiswa dapat melewati masa-masa sulit selama pandemi dengan baik. Hal ini dapat dikatakan sebagai upaya atau strategi yang dilakukan oleh universitas terhadap mahasiswa internasional dalam mengatasi kendala psikologis selama masa pandemi. Hal lain yang tidak kalah penting tentu saja keberadaan sahabat dan teman dekat yang senasib untuk berbagi banyak hal, terutama yang terkait dengan isu akademik. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari interaksi sosial pertemanan dan persahabatan dengan rekan-rekan sesama mahasiswa. Hal ini tentu saja sangat membantu Melati melewati masa pandemi dengan baik. Sebelum pandemi, mereka telah terbiasa berkumpul dan mengundang kakak kelas untuk berdiskusi mengenai metode penelitian, termasuk menganalisis data. Di masa pandemi, kegiatan rutin mingguan kelompok belajar ini tetap dipertahankan meskipun harus dilakukan secara maya melalui aplikasi Zoom. Geografi Moral: ‘Saya rasa saya egois karena membeli banyak barang dan lebih memikirkan proyek saya’ Dalam situasi pandemi yang penuh ketidakpastian, naluri mempertahankan hidup sebagai manusia membuat Melati cemas dan panik akan kebutuhan hidup sehari-hari. Ia pun melakukan bulk-buying yaitu membeli kebutuhan sehari-hari dalam jumlah besar agar bisa mencadangkan kebutuhan konsumsi selama masa karantina wilayah dan khawatir tidak mendapatkan suplai barang-barang konsumsi sebagai langkah antisipasi terjadinya penutupan toko grosir dan swalayan. Namun, sebagai mahasiswa internasional penerima beasiswa, pemberlakukan karantina wilayah dan pembatasan datang ke kampus tidak menyurutkan semangatnya untuk menyelesaikan proposal penelitian tepat waktu. Data naratif berikut menggambarkan pengalaman Melati tersebut. - 135 - Hari-hari pertama menjelang karantina wilayah itu saya merasa takut karena harus survive dan saya lari-lari karena belum shopping dan belum ada makanan untuk satu minggu ke depan. Saya juga merasa agak egois karena saya melakukan bulk-buying. Kemudian saya juga kepingin ketemu lebih sering dengan supervisor saya setiap satu minggu lewat Zoom. Dosen saya mengatakan saat karantina wilayah ini kalau tidak mau bertemu juga tidak apa-apa. Tapi saya tidak mau karena nanti [proposal saya] tidak selesai-selesai. Itu egoisnya saya karena lebih memikirkan proyek saya. Saya merasa harus ada kemajuan, jadinya ingin ketemu setiap minggu. (Melati, wawancara melalui Zoom, 12 Juli 2020) Saya juga pergi ke perpustakaan untuk meminjam banyak buku. Saya tetap ingin ada progress meski situasinya seperti itu. Saya takut karena masa persiapan proposal saya ini hanya satu tahun. Tapi ada beberapa mahasiswa yang bisa selesai lebih awal, tergantung dari tipe proyek mereka, terutama kalau harus ke luar negeri untuk ambil data. Biasanya proposal semacam itu harus dipersiapkan dalam waktu singkat enam atau sembilan bulan. Karena rencananya partisipan untuk penelitian saya itu di Indonesia maka saya harus bisa menyelesaikannya juga, batas waktunya semakin dekat. Akhirnya saya jadi cenderung depresi kapan ini bisa berakhir dan saya bisa segera selesai. (Melati, wawancara melalui Zoom, 19 Agustus 2020) Situasi karantina wilayah yang baru pertama kali diberlakukan di Selandia Baru membuat banyak orang yang mengalami kepanikan. Mereka berusaha memborong kebutuhan konsumsi pribadi maupun keluarganya untuk disimpan dalam jangka waktu yang agak lama. Makanan kaleng, kertas toilet dan kebutuhan pokok lainnya menjadi sasaran pembelian besar-besaran. Situasi demikian memengaruhi Melati karena dia melihat perilaku orang-orang di sekitarnya, sehingga ia pun melakukan hal serupa. Ia membeli keperluan pribadi dalam jumlah banyak untuk persediaan selama satu minggu ke depan di luar porsi kebutuhan normal. Namun, akhirnya ia menyadari bahwa tindakan yang dilakukan adalah sesuatu yang egois dan tidak tepat karena membeli banyak barang maupun makanan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, mungkin bisa lebih bermanfaat untuk orang lain. Cetusan emosi kecemasan Melati lainya adalah isu akademik. Ia berkeinginan kuat untuk menyelesaikan proposal penelitian tepat waktu di tengah situasi yang kurang menguntungkan tersebut. Hal itu mendorongnya untuk mewujudkan penyelesaian proposal tersebut tepat waktu sesuai jadwal yang ditetapkan oleh universitas tempat ia berkuliah. Situasi pandemi dengan pemberlakukan karantina wilayah juga membuat Melati cemas terhadap kebutuhan akademik berupa buku-buku sebagai bahan rujukan. Maka, ia mempersiapkan diri untuk meminjam banyak buku di perpustakaan universitas, karena khawatir tidak dapat mengakses fasilitas perpustakaan kampus selama masa pendemi. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi - 136 - penutupan fasilitas dan sarana kampus di masa pandemi. Ia selalu berusaha keras untuk menyelesaikan proposal penelitiannya tepat waktu dan pulang ke Indonesia untuk mengambil data dalam tenggat waktu setahun tersebut. Cetusan kecemasan merasa putus asa membayanginya apabila tidak dapat menyelesaikan proposal tepat waktu. Situasi pandemi tetap tidak menyurutkan semangatnya untuk berusaha menyelesaikan proposal penelitiannya sesuai target dan jadwal. Untuk itu, upaya yang dilakukannya kemudian adalah berusaha menghubungi dosen pembimbing agar tetap bersedia memberikan bimbingan setiap minggu secara daring. Meskipun partisipan mengakui secara lisan kalau ia egois, hal ini tidak dapat dimaknai sebagai cetusan emosi yang negatif atau mementingkan dirinya sendiri. Ungkapan ini merupakan kekuatan partisipan sebagai upaya untuk bersikap baik karena menyadari kekeliruan yang telah dilakukan dan memiliki tekad untuk menggapai impian akademik sesuai harapan. Geografi Profesional: ‘Saya merasa harus ada kemajuan’ Status mahasiswa internasional penerima beasiswa yang dibiayai oleh perguruan tinggi tempat Melati berkuliah terikat dengan perjanjian pertanggungjawaban penyelesaian kuliah tepat waktu yang skemanya tidak sama dengan mahasiswa internasional dengan biaya mandiri. Beban tanggung jawab ini memotivasinya untuk mencapai prestasi terbaik di kampusnya secara akademik, sebagaimana diungkapkan dalam narasi berikut ini. Sebagai penerima beasiswa dari kampus ini, kalau ada hal kecil-kecil, misalnya saya diminta menjadi koordinator kelompok tesis, kalau saya menolak juga tidak baik. Jadi saya bersedia. (Melati, wawancara melalui Zoom, 12 Juli 2020) Saya juga memberi tahu supervisor saya kalau beasiswa saya akan diberhentikan kalau saya tidak selesai dalam waktu satu tahun. “Tolonglah saya. Kalau tidak nanti saya bisa dipulangkan”. Saya rasa dia juga terkejut. Akhirnya dia mau menemui saya seminggu sekali. Saya merasa harus ada kemajuan, jadinya ingin ketemu setiap minggu. (Melati, wawancara melalui Zoom, 19 Agustus 2020) Keberadaan dirinya sebagai mahasiswa internasional di Selandia Baru, membuatnya sadar bahwa ia tidak mungkin berada di negara tersebut tanpa dukungan pembiayaan beasiswa program doktoral dari kampus tempat ia kuliah di negara tersebut. Kesadaran inilah yang membuatnya merasa terpanggil untuk menyisihkan waktu untuk membantu kegiatan-kegiatan di kampus. Cetusan kekhawatiran terhadap kegagalan studi doktoral juga mendorongnya untuk melanjutkan konsultasi dengan dosen pembimbing secara rutin mengenai proposal penelitiannya seperti sebelum masa pandemi. Ia sangat cemas dengan proposal penelitian yang tidak dapat terselesaikan dalam waktu satu tahun. Karena berdampak terhadap penghentian beasiswa dan akan memaksanya harus pulang ke Indonesia. Keberaniannya ternyata membuahkan hasil, karena dosen - 137 - pembimbing akhirnya mengerti situasi yang dihadapi Melati dan bersedia meluangkan waktu untuk secara rutin berkonsultasi setiap minggu. Geografi Politik: ‘Tetap tabah dan bijaksana. Semuanya akan baik-baik saja’ Untuk menenangkan masyarakatnya dalam menghadapi masa pandemi COVID- 19, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengeluarkan pesan yang sangat memotivasi: ‘Tetap tabah dan bijaksana. Semuanya akan baik-baik saja’ (Whyte, 2020). Seruan ini ditanggapi dengan baik oleh pihak universitas yang kemudian diteruskan ke pihak staf pengajar, pengelola apartemen, maupun pihak-pihak terkait lainnya, seperti terungkap dalam data naratif berikut ini. Dosen dianjurkan untuk tidak melakukan kelas sinkron. Kalau di sekolah atau fakultas saya itu sudah dilarang. Jadi harus asinkron karena jika sinkron itu memberi tekanan pada mahasiswa untuk membeli kuota dan universitas tidak mau itu terjadi. Universitas lebih mengutamakan well- being mereka daripada akademik. Akademik jadi nomor dua. Dosen saya mengatakan bahwa selama karantina wilayah jangan merasa harus membuat banyak progress. “Be easy on yourself”. “Be kind to yourself”. Jadi retorikanya selalu seperti itu. Saya rasa universitas sangat mengakomodasi kesehatan mental dan ketangguhan mahasiswa selama pandemi. (Melati, wawancara melalui Zoom, 12 Juli 2020) Saya rasa universitas selalu mengarahkan kebijakan atau keputusan mereka sejalan dengan keputusan pemerintah. Jadi kalau pemerintah mengeluarkan keputusan apapun, beberapa jam setelah itu vice chancellor kami selalu mengirim email. Dalam email itu selalu ditulis bahwa univesitas tidak akan bertindak melangkahi pemerintah. Saya rasa sebagian besar emailnya selalu kata-kata seperti itu “Be kind to yourself”, “Be safe”, “Stay at home”. Email dari manager akomodasi kami yang diregulasi oleh universitas di bagian bawah sebelum penutup itu selalu mengutip kata-kata Jacinda itu. Ada juga beberapa video dari universitas yang merekam keheningan kampus selama pandemi itu menggunakan suara pidato Jacinda sebagai latar belakangnya. Kita di sini satu suara mengikuti Jacinda. (Melati, wawancara melalui Zoom, 19 Agustus 2020) Cetusan geografi politik terungkap dalam bentuk kepercayaan kepada seorang pemimpin negara yang berada dalam kondisi bahaya. Melati melihat adanya unsur-unsur kepemimpinan dalam diri sang pemimpin dalam memberikan perlindungan kepada semua warganya, termasuk mahasiswa internasional yang berada di negara tersebut. Kepemimpinan negara dijalankan dalam bentuk penegakan hukum dan pemberlakuan bagi warganya (Morrell & Hartley, 2006). Himbauan kepada semua warga untuk tetap tegar dalam melalui masa-masa sulit karantina wilayah harus dipatuhi, namun tetap - 138 - mempertimbangkan interaksi hubungan sosial dengan diri sendiri dan dengan orang lain di sekitarnya. Warga manapun harus mengikuti protokol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Upaya yang dilakukan tentu saja bertujuan agar tidak ada orang yang terinfeksi, dan semua individu tetap selamat. Sebagai bagian dari warga masyarakat yang wajib mengikuti aturan dari pemerintah, universitas meneruskan seruan yang sama secara tertulis maupun himbauan narasi audio visual kepada ke segenap civitas academica. Pihak manajemen pengelola apartemen juga turut mengingatkan mahasiswa internasional yang tinggal di apartemen tersebut untuk selalu mematuhi aturan-aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Wujud nyata dari pihak kampus dalam merespons himbauan pemerintah itu adalah mengubah kebijakan yang terkait kegiatan akademik. Maksud perubahan tersebut tentunya untuk meringankan beban mahasiswa dan memastikan mereka tidak terganggu kesehatan mentalnya dalam melewati masa-masa sulit selama pandemi. Jadwal pertemuan akademik/perkuliahan, tugas-tugas dan asesmen semuanya diubah agar mahasiswa tidak merasa tertekan. Bahkan, dosen bersikap lebih longgar dalam konsultasi atau bimbingan akademik. Hal ini membantu mahasiswa tidak terbebani dengan tugas-tugas perkuliahan secara akademik dan tidak mengalami depresi. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman Melati, mahasiswa internasional asal Indonesia pada saat pandemi COVID-19 melanda Selandia Baru berlandaskan kerangka geografi emosi oleh Hargreaves (2001). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Melati mampu mengelola emosinya dengan baik selama masa karantina wilayah, meskipun ia pada awalnya mengalami kekhawatiran dan ketakutan pada saat pemberlakuan karantina wilayah itu diumumkan. Kekhawatiran dan ketakutan adalah suatu respons alami akibat keadaan yang dapat mengancam keselamatan seseorang terutama pada masa pandemi COVID-19 (Extremera, 2020). Namun demikian, ada dua faktor utama yang membuatnya mampu melewati masa itu dengan baik, yaitu faktor eksternal dan internal. Dukungan moral dari pihak pemerintah berupa himbauan untuk tetap tabah dan bijaksana diwujudkan dengan baik oleh pihak universitas dan pengelola apartemen. Pihak universitas lebih mengutamakan kesehatan mental para mahasiswanya dibandingkan isu-isu yang bersifat akademik, sedangkan pihak manajemen apartemen menjaga kesehatan mental para penghuni di dalamnya dengan menyelenggarakan berbagai macam aktivitas bersama. Selain itu, kultur masyarakat Selandia Baru yang menghargai perbedaan suku, agama, ras, maupun golongan serta perhatian yang baik dari para sahabat juga membuat Melati merasa aman dan nyaman dalam melewati masa karantina wilayah di negara tersebut. Faktor pendukung lainnya adalah Melati berusaha untuk selalu bersemangat dalam menyelesaikan studi dan mempunyai empati tinggi serta bersedia untuk saling membantu antarsesama penghuni di dalam apartemennya. - 139 - Semua hal yang dilakukan oleh Melati tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki kecerdasan emosional yang baik karena dia mampu mengatasi kondisi yang membuatnya tertekan dengan cara dan sikap yang tepat (Extremera, 2020). Penelitian ini memberikan kontribusi kepada para pihak pemangku kebijakan seperti kalangan pemerintah maupun perguruan tinggi untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk memelihara kesehatan mental para warganya, khususnya mahasiswa internasional. Selain itu, para mahasiswa internasional perlu didorong untuk memiliki kecerdasan emosional untuk menjaga kesehatan mental mereka dengan baik melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Pernyataan Penulis [Disclosure Statement] Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan dalam hal riset, kepengarangan, dan publikasi artikel ini [The authors declared no potential conflicts of interest with respect to the research, authorship, and/or publication of this article] Pernyataan Kontribusi Penulis [Authors’ Contribution Statements] Johanes Leonardi Taloko: Mengonsep ide (utama), merancang metode penelitian (utama), menulis artikel awal (utama), mengevaluasi (utama) dan mengedit (utama) [conceptualization of ideas (lead), methodology (lead), writing original draft (lead), review (lead), and editing (lead)]; Martin Surya Putra: Mengonsep ide (utama), merancang metode penelitian (utama), menulis artikel awal (utama), mengevaluasi (utama) dan mengedit (berimbang) [conceptualization of ideas (lead), methodology (lead), writing original draft (lead), review (lead), and editing (equal)]. Yenny Hartanto: Pengumpulan data (utama); mengevaluasi (pendamping) dan mengedit (pendamping) [data collection (lead); review (supporting); and editing (supporting)]. DAFTAR REFERENSI Albin-Clark, J. (2018). I felt uncomfortable because I know what it can be: The emotional geographies and implicit activisms of reflexive practices for early childhood teachers. Contemporary Issues in Early Childhood, 21(1), DOI:10.1177/1463949118805126 Alloh, F. T., Tait, D., & Taylor, C. (2018). Away from home: A qualitative exploration of health experiences of nigerian students in a U.K. university. Journal of International Students, 8(1), 1–20. DOI:10.5281/zenodo. 1101024 Bayham, J., & Fenichel, E. P. (2020). Impact of school closures for COVID-19 on the US health-care workforce and net mortality: A modelling study. The Lancet Public Health, 5(5), 271–278. DOI: 10.1016/S2468-2667(20)30082-7 Bordia, S., Bordia, P., Milkovitz, M., Shen, Y., & Restubog, S. L. D. (2019). What do international students really want? An exploration of the content of international students’ psychological contract in business education. Studies in Higher Education, 44(8), 1488–1502. DOI: 10.1080/03075079. 2018.1450853 Brooks, S. K., Webster, R. K., Smith, L. E., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N., & Rubin, G. J. (2020). The psychological impact of quarantine and how to reduce it: Rapid review of the evidence. The Lancet, 395(10227), 912– https://doi.org/10.1177%2F1463949118805126 - 140 - 920. DOI: 10.1016/S0140-6736(20)30460-8 Burgess, S., & Sievertsen, H. H. (2013). Schools, skills, and learning: The impact of COVID-19 on education. VOX EU CEPR. Diakses pada tanggal 7 September 2020. https://voxeu.org/article/impact-COVID-19-education Denzin, K. N. (1984). On understanding emotion. San Francisco, CA: Jossey-Bass. Dutta, O., & Chye, S. Y. L. (2017). Internet use and psychological wellbeing: A study of international students in Singapore. Journal of International Students, 7(3), 825–840. DOI: 10.5281/zenodo.570036 Extremera, N. (2020). Coping with the stress caused by the COVID-19 pandemic: Future research agenda based on emotional intelligence. International Journal of Social Psychology, 35(3), 631-638. DOI: 10.1080/ 02134748.2020.1783857 Forbes-Mewett, H., & Sawyer, A. M. (2016). International students and mental health. Journal of International Students, 6(3), 661–677. Hargreaves, A. (2001). Emotional geographies of teaching. Teachers College Record, 103(6), 1056–1080. DOI: 10.1111/0161-4681.00142 Hui, C., Lee, C., & Rousseau, D. M. (2004). Psychological contract and organizational citizenship behavior in China: Investigating generalizability and instrumentality. Journal of Applied Psychology, 89(2), 311–321. DOI: 10.1037/0021-9010.89.2.311 Liu, Y. (2016). The emotional geographies of teaching in a language teacher professional community. Teacher Development, 20(4), 482–497. DOI: 10.1080/13664530.2016.1161660 Menon, P. (2020, March 23). New Zealand prepares to enter lockdown as coronavirus cases double. Diakses pada tanggal 15 Agustus 2020. https://www.thejakartapost.com/news/2020/ 03/23/new-zealand-prepares-to- enter-lockdown-ascoronavirus-cases-double. html Morrell, K., & Hartley, J. (2006). A model of political leadership. Human Relations, 59(4), 483–504. DOI: 10.1177/0018726706065371 Morrison, E. W., & S. L. Robinson. (1997). When employees feel betrayed: A model of how psychological contract violation develops. Academy of Management Review, 22(3): 226–56. DOI: 10.5465/amr.1997.9707180265 Olson, E. (2015). Geography and ethics II: Emotions and morality. Progress in Human Geography, 40(6), 830-838. DOI: 10.1177/0309132515601766 Sibley, C. G., & Ward, C. (2013). Measuring the preconditions for a successful multicultural society: A barometer test of New Zealand. International Journal of Intercultural Relations, 37(6), 700–713. DOI: 10.1016/ j.ijintrel.2013.09.008 Tran, T. L. (2020). Teaching and engaging international students: People-to-people connections and people-to-people-empathy. Journal of International Students, 10(3), xii-xvii. DOI: 10.32674/jis.v10i3.2005 Ward, C., & Masgoret, A. M. (2008). Attitudes toward immigrants, immigration, and multiculturalism in New Zealand: A social psychological analysis. International Migration Review, 42(1), 227–248. DOI: 10.1111/j.1747- 7379.2007.00119.x Whyte, A. (2020, March 17). 'Be strong, be kind, we will be OK' – PM's message in face of coronavirus impact. 1 News. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2020. https://www.tvnz.co.nz/one-news/new-zealand/strong-kind-we-ok-pms- https://voxeu.org/article/impact-COVID-19-education https://www.thejakartapost.com/news/2020/%2003/ https://doi.org/10.5465/amr.1997.9707180265 https://doi.org/10.1177%2F0309132515601766 - 141 - message-in-face-coronavirus-impact Widodo, H. P. (2014). Methodological considerations in interview data transcription. International Journal of Innovation in English Language Teaching and Research, 3(1), 102–107. Yan, L., & Pei, S. (2018). Home away from home? How international students handle difficult and negative experiences in American higher education. Journal of International Students, 8(1), 453–472. DOI: 10.5281/ zenodo.1134338 Zembylas, M. (2007). Theory and methodology in researching emotions in education. International Journal of Research and Method in Education, 30(1), 57–72. DOI: 10.1080/17437270701207785 Zhao, H., Wayne, J. S., Glibkowski, C. B., & Bravo, J. (2007). The impact of psychological contract breach on work-related outcomes: A meta-analysis. Personnel Psychology, 60(3), 647–80. DOI: 10.1111/j.1744-6570.2007. 00087.x BIOGRAFI SINGKAT PENULIS [NOTES ON CONTRIBUTORS] Johanes Leonardi Taloko adalah mahasiswa doktor (S3) di Universitas Negeri Malang dan pengajar bahasa Inggris di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Indonesia dengan minat riset di bidang pengajaran bahasa Inggris dan pembelajaran bahasa Inggris berbantuan komputer. Email: jlltaloko@ukwms.ac.id Johanes Leonardi Taloko is a doctoral student at Universitas Negeri Malang (State University of Malang), and has been teaching English at Widya Mandala Catholic University Surabaya, Indonesia. His research interests lie in English language teaching (ELT) and computer-assisted language learning (CALL). Email: jlltaloko@ukwms.ac.id Martin Surya Putra (penulis korespondensi) adalah mahasiswa doktor (S3) di Universitas Negeri Malang dan pengajar bahasa Inggris di Politeknik Negeri Samarinda dengan minat riset di bidang pengajaran bahasa Inggris dan linguistik terapan. Email: mrtputra11@gmail.com Martin Surya Putra (corresponding author) is a doctoral student at Universitas Negeri Malang (State University of Malang) and teaches English at Politeknik Negeri Samarinda, Indonesia. His reseach areas include English language teaching (ELT) and applied linguistics. Email: mrtputra11@gmail.com Yenny Hartanto adalah pengajar bahasa Inggris, bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) di Politeknik Ubaya dan Ubaya Language Center, Universitas Surabaya selama lima belas tahun dengan minat riset di bidang pragmatik, semantik dan pemahaman lintas budaya. Email: yennyhart2020@gmail.com Yenny Hartanto teaches English, Mandarin, and Indonesian for foreigners at Politeknik Ubaya and Ubaya Language Center, University of Surabaya for 15 years. Her research interests include pragmatics, semantics, and intercultural communication. Email: yennyhart2020@gmail.com https://doi.org/10.1111/j.1744-6570.2007.00087.x https://doi.org/10.1111/j.1744-6570.2007.00087.x