Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 9 Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) Pada Anak Penyandang Autisme Di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek Eva Agustina Yalestyarini1, Choirimma Permatasari 2 ¹ ² Program Studi Pendidikan Ners STIKes Surya Mitra Husada Kediri Corresponding author: va-nyiel@yahoo.com ABSTRACT Knowledge is closely related to human success in obeying an objective. Knowledge and compliance about GFCF (Gluten Free Casein Free) diet is important for the parents with children autism. GFCF diet therapy (Gluten Free Casein Free) aim is to reduce the symptoms of autism and child hyperactivity.The objective of this study is to determine whether there is a relationship between maternal knowledge level with maternal obedience in the application of GFCF (Gluten Free Casein Free) diet at Mutiara Kasih Foundation Trenggalek.The research design of this study is observational analytical with cross sectional approach and questionnaire instrument. The population is all mothers who have autism children in the Mutiara Kasih Foundation Trenggalek as many as 32 people. The sample of research was 32 by using total sampling technique, while to know the relation between variables uses chi-square test by the significant level 0,05.The results showed that most (40,6%) of respondents knowledge in less category and most (58,8%) respondent's compliance in non compliance category. The result of statistical test shows that p value = 0,059> 0,05. There is no significant relationship between maternal knowledge with maternal compliance in the application of GFCF (Gluten Free Casein Free) diet in autistic children.Maternal compliance in the application of GFCF (Gluten Free Casein Free) diet has no relationship with knowledge. This happened because of several factors, such as the parent's life style, the attitudes of the child, and the lack of knowledge of the mother about the choice of food, so that many mothers are not obedient into therapy. Application of GFCF therapy will provide maximum results if done with good knowledge, obedience, and get good supervision from parents and health teams. Keywords: autism, knowledge, gluten and casein, adherence Received August 21, 2017; Revised September 07, 2017; Accepted October 01, 2017 How to Cite: Yalestyarini, E.A & Permatasari, C. (2017). Tingkat Pengetahuan Ibu Dengan Kepatuhan Ibu Dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) Pada Anak Penyandang Autisme Di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek. Journal Of Nursing Practice. 1(1). 9-16. The Journal of Nursing Practice, its website, and the articles published there in are licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 10 PENDAHULUAN Menurut Harlimsyah (2007) perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada diri anak dilihat dari berbagai aspek antara lain aspek fisik (motorik), emosi, kognitif, dan psikososial (bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan). Pada beberapa kondisi terdapat anak-anak yang mengalami masalah perkembangan. Salah satu kelainan yang diderita anak yang menjadi sorotan saat ini adalah autis. Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai adanya gangguan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial (Wong, 2009). Dengan adanya metode diagnosis yang makin berkembang hampir berbagai jenis terapi telah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan anak autisme sehingga gejala autisme dapat dihilangkan dan dapat hidup mendekati normal. Jika anak autisme tidak atau terlambat mendapat intervensi hingga dewasa, maka gejala autisme bisa menjadi semakin parah, bahkan tidak tertanggulangi. Melalui beberapa terapi anak autisme akan mengalami kemajuan seperti anak normal lainnya (Amilia, 2013). Salah satu jenis terapi untuk anak autisme adalah terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Diet Gluten Free Casein Free (GFCF) yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein. Gluten dan kasein merupakan jenis protein yang sulit dicerna. Gluten adalah protein yang terkandung dalam gandum/tepung/roti, sedangkan kasein adalah protein yang ditemukan di semua susu hewan dan produk-produk olahannya. Gluten dan kasein dapat mempengaruhi fungsi susunan syaraf pusat, menimbulkan keluhan diare dan meningkatkan hiperaktivitas, yang tidak hanya berupa gerakan tetapi juga emosinya seperti marah-marah, mengamuk atau mengalami gangguan tidur pada anak (Suryana, 2010). Akan tetapi, pada umumnya banyak orangtua yang tidak mengetahui akan terapi ini, dan ada sebagian yang mengetahui tentang terapi GFCF tetapi tidak diterapkan dan tidak patuh dengan terapinya karena ketidak tahuan orangtua tentang tahapan diet (Dwi Murni, 2011). Data wawancara pendahuluan yang telah peneliti lakukan didapatkan hasil bahwa 6 dari 15 ibu mengetahui tentang diet Gluten Free Casein Free (GFCF) dari dokter yang bekerjasama dengan yayasan akan tetapi belum mematuhi terapi dietnya dengan baik dikarenakan sulitnya dalam pemilihan makanan dan menghindarkan makanan yang mengandung gluten dan kasein dari anak. Sementara 9 dari 15 ibu tersebut belum mengetahui tentang terapi Diet Gluten Free Casein Free dikarenakan belum memeriksakan anaknya ke dokter yang bekerjasama dengan yayasan. Intervensi diet GFCF dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi gejala autisme, meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan status nutrisi yang baik. Intoleransi dan alergi makanan merupakan salah satu faktor pencetus yang perlu diperhatikan terhadap anak autis. Diet GFCF adalah terapi yang dilaksanakan dari dalam tubuh dan apabila dilaksanakan dengan terapi lain, seperti terapi perilaku, terapi wicara, dan terapi okupasi yang bersifat fisik akan lebih baik. Setelah mengikuti dan menjalani diet GFCF banyak anak autisme mengalami perkembangan pesat dalam kemampuan bersosialisasi dan mengejar ketinggalan dari anak-anak lain (Danuatmaja, 2008). Menurut Washnieski (2009), ada beberapa rintangan/hambatan dalam upaya menerapkan diet GFCF diantaranya adanya perlawanan dari anak, pembatasan diet yang membuat anak sulit untuk makan, masalah lingkungan sekolah, orang tua tidak tahu bagaimana menyiapkan makanan yang bebas kasein dan gluten, tidak tahu dimana harus menemukan sumber yang dapat membantu untuk mengimplementasikan diet.Tujuan Penelitianini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kepatuhan ibu dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada anak penyandang autis di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek. Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 11 METODE PENELITIAN Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan instrumen lembar kuesioner. Populasi adalah semua ibu yang memiliki anak penderita autis di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek sebanyak 32 orang. Besar sampel sebanyak 32 dengan menggunakan teknik total sampling, sedangkan untuk mengetahui hubungan antar variabel digunakan uji chi-square dengan taraf signifikan 0,05. HASIL PENELITIAN Karakteristik Subyek Tabel 1. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi pendidikan terakhir, pekerjaan, sumber informasi, usia anak responden, tingkat pengetahuan dan kepatuhan. No Karakteristik ΣN Σ% 1 Pendidikan SD SMP Diploma 4 24 4 13 75 12 2 Pekerjaan Tidak bekerja Petani Swasta Wiraswasta PNS 11 1 10 8 2 35 31 25 6 3 Sumber Informasi Dokter Non dokter 24 8 75 25 4 Usia anak 3-4 5-6 >7 1 11 20 3 34 63 5 Pengetahuan Baik Cukup Kurang 12 7 13 37,5 21,9 40,6 6 Kepatuhan Patuh Tidak patuh 12 20 35,3 58,8 7 Total 32 100 Sumber: Hasil analisa data, Tahun 2017 Berdasarkan tabel 1 diatas dari total32 responden sebagian besarberpendidikan terakhir SMA yakni sebanyak 24 (75%), sebagian besartidak bekerjayaitusebanyak 35% atau 11responden, 24 (75%) mendapatkan informasi tentang Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) dari dokter, usia anak responden sebagian besar berusia lebih dari 7 tahun yakni sebanyak 20 responden (63%), tingkat pengetahuan ibu tentang terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) sebagian besar dalam kategori kurangyakni sebanyak 13 (40,6%) dan tingkat kepatuhan ibu dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) dalam kategori tidak patuh yakni sebanyak 20 responden ( 58,8%). Tabel 2. Hasil uji statistis Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Pearson Chi-Square 5.665a 2 .059 Likelihood Ratio 5.828 2 .054 Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 12 Linear-by-Linear Association 1.141 1 .286 N of Valid Cases 32 a. 4 cells (66.7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.63. Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Phi .421 .059 Cramer's V .421 .059 Contingency Coefficient .388 .059 N of Valid Cases 32 Dari data tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan yang diperoleh, kemudian dilakukan uji stastistik menggunakan uji Chi Square dengan nilai α = 0,05 dengan bantuan SPSS 16 for windows. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai signifikan 0,059. Karena α > 0,05 maka dapat disimpulkan Ho diterima, berarti secara statistik 95% kita percaya bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan kepatuhan ibu dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek. . PEMBAHASAN Tingkat Pengetahuan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek Hasil penelitian tentang Tingkat Pengetahuan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek menunjukkan bahwa sebagian responden dalam kategori kurang yaitu sebanyak 13 (40,6%) sedangkan dari total 32 responden. Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Tingkat pendidikan terutama ibu, dapat mempengaruhi konsumsi keluarga. Tingkat pendidikan ibu yang tinggi akan mempermudah penerimaan informasi tentang gizi dan kesehatan anak serta mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi (WKNPG dalam Dwi Murni 2011). Kurangnya pengetahuan responden tentang cara penerapan terapi diet dan pemilihan makanan disebabkan oleh jarangnya interaksi antara ibu dengan pendidik atau tenaga kesehatan lain karena minimal 2 bulan sekali mereka harus mengajak anaknya untuk kontrol ke dokter yang telah bekerjasama dengan pihak yayasan. Mereka hanya sekali mendapatkan pengetahuan tentang terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada saat kunjungan pertama ke dokter tanpa evaluasi kembali atau mendapatkan pengawasan dari dokter dan terapis lain. Hal ini dikuatkan dengan hasil kuesioner pengetahuan dimana pada soal yang menuliskan bahwa susu sapi adalah minuman yang sangat penting bagi anak, 20 responden dari 32 reponden menjawab benar padahal terapi diet GFCF adalah terapi diet yang menghindari tepung (gluten free) dan susu sapi (free casein). Dari ibu sendiri juga kurang aktif untuk meningkatkan informasi tentang diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Hal ini didukung dengan hasil kuesioner dimana responden sebagian mendapatkan informasi dari dokter yayasan tanpa mendapatkan Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 13 sumber informasi dari sumber lain seperti buku, media elektronik dan tenaga kesehatan yang lain. Kondisi ini sesuai dengan ungkapan Notoatmodjo (2007) pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin baik pua pengetahuannya. Selain itu, didapatkan hasil yang beda tipis dengan jumlah pengetahuan responden dalam kategori kurang, sebagian besar responden juga dalam kategori pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 12 responden. Hasil ini terjadi karena responden yang mayoritas berpendidikan terakhir SMA dirasa cukup untuk menerima informasi-informasi dari dokter dan dari pendidik. Sehingga sebenarnya responden tahu tentang terapi bebas gluten dan kasein akan tetapi mereka tetap memberikan susu dan makanan yyang mengandung gluten dan kasein karena anak yang sulit untuk dicegah dan dihindarkan dari susu atau makanan tersebut. Tingkat Kepatuhan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek Hasil penelitian Tingkat Kepatuhan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam kategori tidak patuh yaitu sebanyak 20 (58,8%) responden dari total 32 responden. Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dan perilaku yang disarankan (Smet, 1994) dalam (Notoadmodjo, 2007). Kepatuhan dibedakan menjadi dua yaitu kepatuhan penuh (total compliance) dimana pada kondisi ini orang tua/ibu menerapkan dan mematuhi secara sungguh-sungguh terhadap diet kepada anaknya, dan penderita yang tidak patuh (non compliance) dimana pada keadaan ini orangtua atau ibu tidak melakukan diet. Dari hasil yang diperoleh diatas, didapatkan bahwa kebanyakan responden tidak patuh terhadap terapi diet GFCF (Fluten Free Casein Free) pada anak penyandang autis. Hal ini dapat dilihat dari hasil kuesioner dimana susu sapi masih sering dikonsumsi oleh anak penyandang autis yaitu sebanyak 11 anak dengan frekuensi konsumsi 1-2 x sehari, roti sebanyak 7 anak dengan frekuensi konsumsi 1-2x sehari, dan ayam bumbu tepung sebanyak 10 anak dengan frekuensi konsumsi 3 x seminggu. Hal ini terjadi karena beberapa faktor antara lain, kurangnya pengetahuan ibu tentang terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free), sulitnya dalam pemilhan jenis makanan yang harus dihindari karena makanan di lingkungan sekitar responden mayoritas berbahan dasar tepung terigu, susu sapi, dan bahan kimia tambahan lain sehingga anak kesulitan untuk menghindari makanan tersebut dan ibu tidak bisa menjauhkan makanan tersebut dari anaknya. Hal ini sesuai dengan ungkapan Niven (2008) bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan antara lain karena kompleksitas prosedur pengobatan/terapi, derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan, lamanya waktu pengobatan atau terapi, apakah prosedur tersebut berpotensi menyelamatkan hidup atau meningkatkan kualitas kesehatan, dan bagaimana persepsi keluarga terhadap anaknya atau klien. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam penerapan terapi ini pada penerapan pertama kali boleh minum susu dan jenis protein yang lain akan tetapi porsi dan frekuensi dikurangi dan bisa dicampur dengan bahan yang dianjurkan dan untuk anak yang sudah menerapkan diet lama diharapkan orangtua dapat mengawasi dan berhasil menghindari makanan yang mengandung gluten dan kasein. Dari hal ini maka responden dapat diberikan informasi ulang dengan melakukan Health Education secara mengelompok untuk memberi penjelasan yang lebih spesifik tentang penerapan terapi diet yang benar dengan melakukan kerjasama dengan pihak ahli gizi dan tim kesehatan lain. Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 14 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek Sesuai hasil penelitian yang terlihat dalam tabulasi data dapat diketahui bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan dalam kategori kurang, yaitu sebanyak 13 orang, 8 menunjukkan ketidakpatuhan dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) dan 5 menunjukkan kepatuhan dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik beda tipis dengan jumlah responden dalam kategori kurang yaitu sebanyak 12 orang, 10 orang menunjukkan hasil ketidakpatuhan dan 2 orang menunjukkan hasil kepatuhan. Berdasarkan ui statistik Chi Square dengan tingkat alpha sebesar 0,05 didapatkan Sig sebesar 0.059. Dengan demikian maka didapatkan Sig > α (0,059 > 0,05). Sehingga Ho diterima dan H1 ditolak. Tidak ada hubuungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada Anak Penyandan Autisme di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek. Berdasarkan analisa data dapat diketahui bahwa mayoritas responden dengan pengetahuan kurang menunjukkan adanya ketidakpatuhan, sebab dengan pengetahuan yang kurang mereka belum dapat mengetahui tentang apa dan bagaimana penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) serta dampak negatif jika terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) tidak dilakukan. Sesuai teori Lawrence Green yang dikutip oleh Notoadmodjo (2010) pengetahuan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan perilaku seseorang. Jadi responden yang memiliki pengetahuan dalam kategori kurang akan mempersulit responden dalam melakukan kepatuhan terhadap terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free). Padahal kita tahu bahwa pengetahuan ibu memiliki peranan dalam melakukan penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) sesuai dengan ungkapan Suhardjo (2008) bahwa pengetahuan gizi yang baik dapat menghindarkan seseorang dari konsumsi pangan yang salah dan buruk. Ibu memiliki peranan utama dalam menyediakan dan mengolah makanan bagi keluarga. Pemberian makanan yang tepat sangat diperlukan bagi anak autis, sehingga pengetahuan ibu tentang makanan bagi anak autis menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Dari data didapatkan sebagian besar responden tidak patuh dengan terapi. Hal ini terjadi karena banyak faktor antara lain pendidikan, pemberian informasi dan faktor lingkungan serta kebiasaan orang tua dalam pemilihan menu makanan sehari-hari. Menurut Brunner dan Suddart (2008) latar belakang pendidikan maupun kontak dengan professional kesehatan sangat mendukung kepatuhan seseorang terhadap program terapi. Menurut Dwi Murni (2011) Tinggi rendahnya pengetahuan ibu akan mempengaruhi pola makan anak autis. Tingkat pengetahuan ibu yang baik diharapkan dapat menghindarkan dari konsumsi pangan yang salah dan buruk. Diet sangat ketat bebas gluten dan kasein dapat menurunkan kadar peptida opioid serta dapat mempengaruhi gejala autis pada beberapa anak. Akan tetapi, pilihan makanan yang terbatas yang pada akhirnya berpotensi menjadikan anak mudah terserang penyakit atau mengalami gizi kurang. Oleh karena itu, diharapkan dengan tingkat pengetahuan ibu yang baik maka penerapan diet GFCF dapat dijalankan dengan baik dan kecukupan zat gizi anak tetap terpenuhi.Pendidikan yang cukup serta pemberian informasi yang benar dan terus-menerus serta dukungan keluarga, tim kesehatan, dan lingkungan sekitar sangat menunjang kepatuhan ibu dalam menerapkan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada Anak Penyandang Autisme. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 15 1. Sebagian besar pengetahuan ibu tentang Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada anak Penyandang Autisme di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek adalah kurang sebanyak 13 (40,6%) responden. 2. Sebagian besar kepatuhan Ibu dalam Penerapan Terapi Diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada Anak Penyandang Autisme di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek adalah tidak patuh sebanyak 20 (62,5%) responden. 3. Berdasarkan uji statistik Chi-Square didapatkan α = 0.059 yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan ibu dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) pada Anak Penyandang Autisme di Yayasan Mutiara Kasih Trenggalek. Saran 1. Bagi Responden Hendaknya orangtua lebih aktif dalam mencari informasi untuk meningkatkan kepatuhan dalam penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free) secara bertahap 2. Bagi peneliti lain Dapat mengembangkan dan melakukan penelitian selanjutnya tentang anak autis dan terapinya. 3. Bagi lahan penelitian a. Dari hasil skripsi ini dapat memacu tenaga pendidik dan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi secara terus-menerus, mendukung dan mengawasi ibu/orangtua dalam melakukan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free). b. Lahan penelitian dapat bekerjasama dengan ahli gizi untuk memberikan pengetahuan dan memberikan contoh jenis-jenis makanan agar orangtua dan tenaga pengajar dapat berperan aktif dan dapat meningkatkan pengetahuan tentang penerapan terapi diet GFCF (Gluten Free Casein Free). DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. (2008). Buku ajar keperawatan medikal bedah, Edisi 8. Jakarta: EGC. Capernito, Linda Jual(2009). Diagnosa keperawatan aplikasi pada praktek klinis. Jakarta : EGC,:730 Danuatmaja. B. (2008). Menu Autis. Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara Depdiknas. (2006). Definisi Perilaku. Jakarta : Depdiknas Dewi Kusumayanti, GA. (2011). Pentingnya Pengaturan Makanan Bagi Anak Autis. Jurnal. Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar. Harlimsyah. (2007). Aspek-Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: EGC Hoedijono S. 2011. Natural Therapy with Massages. Seminar dan Workshop. 30 Agustus 2011. Surabaya. Latifah RE. (2004). Studi konsumsi dan status gizi pada anak penyandang gangguan spektrum autisme di kota Bogor [skripsi]. Bogor : FakultasPertanian, Institut Pertanian Bogor. Journal Of Nursing Practice http://jurnal.strada.ac.id/jnp Vol.1 No.1 Oktober 2017. hlm 9 - 16 16 Lubis MU. 2009. Penyesuaian diri orang tua yang memiliki anak autis [skripsi]. Medan : Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara. Maulana, Mirza. (2008). Buku Pegangan Ibu Panduan Lengkap Kehamilan. Kata Hati : Yokyakarta. Murni Mujiyanti, Dwi. (2011). Tingkat Pengetahuan Ibu dan Pola Konsumsi pada Anak Autis di Kota Bogor. Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Niven, Nail. (2008). Psikologi Kesehatan Jakarta : EGC : 1192-1198 Notoatmodjo, S. (2007).Pendidikan Kesehatan, Promosi Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Sari ID. (2009). Nutrisi pada pasien autis. Cermin Dunia Kedokteran 36 : 89-93. Seroussi. (2004). Asupan Gluten dan Casien pada anak autism : Jakarta Sofia, Amilia Destiani. (2013). Kepatuhan Orang Tua dalam menerapkan Terapi Diet Gluten Free Casein Free pada Anak Penyandang Autisme di Yayasan Pelita Hafizh dan SLBN Cileunyi Bandung. Skripsi. Bandung : Universitas Padjadjaran. Suhardjo.(2008). Sosio Budaya Gizi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan GiziSupariasa IDN, Bakri B, Hajar I. 2006. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC. Suryana A. (2010). Terapi Autisme, Anak Berbakat, dan Anak Hiperaktif. Jakarta : Progress. Sutadi R. (2007). Autisme. Kongres/Konferensi Nasional Autisme Indonesia, 3-4 Mei 2003. Jakarta Wargasetia TL. 2003. Aspek Genetika pada Autisme. Di dalam : R. Sutadi LA, Bawazir, dan N Tanjung, editor. Penatalaksanaan Holistik Autisme.Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Washnieski, G., (2009). Gluten-free and casein-free diets as a form of alternative treatment for autism spectrum disorders. Stout : University of Wisconsin-Stout. Winarno dan Agustinah, Widya. 2008. Pangan dan Autism. Makalah. (http://Autim-dan- peran-pangan.Prof-Winarno-20-09-08.pdf, diakses tanggal 20 September 2016). Wong, D.L. (2009). Whaley and Wong’s Essentials of Pediatric Nursing 4th ed. USA : Mosby. Yuliana, Emilia E. (2006). Penanganan anak autis melalui terapi gizi dan pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 61 : 429-447.