Microsoft Word - 03_Budiman Notoatmojo_Peranan Gender dalam Usaha tani.doc Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 116 PERANAN GENDER DALAM USAHA TANI DI KAWASAN INDONESIA BAGIAN TIMUR Budiman Notoatmojo1 ABSTRACT The role of gender is dominant in agriculture development and income, especially the role of the housewife. They are dominant in house duties, controlling the financial, children’s education, village or farm events, and increase the income for their families. The research’s aims are to determined the role of gender in the household, farming, project activities in doing rural activities, and in increasing farmer’s income based on the research done in North Sulawesi, South Sulawesi, and Gorontalo. It can be concluded that the housewife’s role in doing daily chores, decising, farming activities, doing farming activities, joining rural activities, and increasing the family income are more dominant than male. Keywords: gender, farm agriculture ABSTRAK Peran gender sangat dominan dalam pembangunan usaha tani dan peningkatan pendapatan petani. Peran ibu rumah tangga sangat dominan dalam menyelesaikan tugas dan urusan rumah tangga, memegang kendali keuangan rumah tangga, dan mengatur pendidikan anak. Tujuan penelitian untuk menentukan peran gender dalam rumah tangga, usaha tani, kegiatan proyek dalam melakukan aktivitas pedesaaan, dan dalam meningkatkan pendapatan petani berdasarkan penelitian yang dilakukan di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, da Gorontalo. Dapat disimpulkan bahwa peran ibu rumah tangga dalam melakukan aktivitas sehari-hari, membuat keputusan, melakukan kegiatan pertanian, dan meningkatkan pendapatan lebih dominan daripada laki-laki. Kata kunci: peranan gender, usaha tani ternak 1 Peneliti Senior Balitbang, Deptan RI & Staf Pengajar Fakultas Ekonomi, UBiNus, Jakarta Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 117 PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam rangka pemerataan pembangunan di Indonesia, Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan suatu kawasan yang menjadi prioritas untuk dipacu pengembangannya, guna memperkecil ketinggalannya dari Kawasan Barat atau Kawasan lainnya di Indonesia. Percepatan pembangunan di kawasan Timur dapat menyeimbangkan derap pembangunan di Indonesia, sekaligus memanfaatkan potensi yang tersedia di kawasan itu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas. Salah satu upaya Pemerintah untuk mempercepat pembangunan Kawasan Timur Indonesia dengan melaksanakan Proyek Pengembangan Usaha tani dan Ternak (PUTKATI) di kawasan itu. Proyek Pengembangan Usaha tani dan Ternak merupakan proyek terpadu yang melibatkan tiga subsektor, yaitu subsektor peternakan sebagai leading subsektor, subsektor perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura sebagai subsektor pendukung. Tujuan proyek adalah meningkatkan pendapatan petani berpendapatan rendah di lokasi proyek, pembangunan usaha tani sebagai unit usaha terpadu pemanfaatan sumber daya lahan secara berdaya guna dan berhasil guna meningkatkan populasi ternak, dan pemerataan pendapatan petani. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Proyek Pengembangan Usaha tani dan Ternak (PUTKATI) mengembangkan dan melaksanakan berbagai komponen kegiatan di antaranya (a) penyebaran ternak sapi sebanyak 41.800 ekor kepada 19.000 petani dan 20.000 ekor kambing kepada 9.000 petani; (b) membangun dan meningkatkan prasarana dan sarana penunjang yang meliputi empat buah holding ground, 14 buah satuan pelayanan terpadu, 9 buah poskeswan, 33 pos pembantu pelayanan kesehatan hewan dan pembangunan jalan desa 100 km dan lima buah jembatan gantung; (c) menyediakan agro input sebanyak 28 000 paket; (d) mengadakan fasilitas penunjang yang meliputi kendaraan bermotor, peralatan pertanian, peralatan penyuluhan, peralatan kantor dan peralatan IB; (e) meningkatkan kelembagaan petani; (f) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan petugas proyek melalui pelatihan dan penyuluhan; (g) pengembangan produksi vaksin penyakit Jembrana di BPPH Denpasar melalui penyediaan peralatan laboratorium; dan (h) menyediakan jasa konsultan. Pembiayaan proyek berjumlah US$ 34,260,000, yang berasal dari dana IFAD sebesar US$ 13,800,000, IDB US$ 6,8484,000, pemerintah New Zealand sebesar US$ 1,401,000 dan dana pemerintah RI sebesar US$ 12,208,000. Evaluasi dampak proyek didesain untuk menyusun suatu data dasar (base line data) tentang sumber daya pertanian yang terdapat di lokasi proyek meliputi sumber daya ternak, usaha tani, sumber daya manusia (petani dan petugas), kelembagaan petani, pola pertanian, pendapatan serta faktor-faktor sosial dari kelompok sasaran (target group) yang terlibat dalam proyek. Data tersebut akan dipergunakan sebagai standar penelitian dalam mengevaluasi dampak proyek. Dampak proyek yang akan dievaluasi didasarkan pada rekomendasi hasil supervisi UNOPS yang meliputi peningkatan gizi dan ketahanan pangan keluarga, peranan wanita tani dalam menunjang kegiatan proyek, dampak proyek terhadap peningkatan pendapatan keluarga, Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 118 dampak pelatihan petani/kelompok tani, dan staf proyek terhadap peningkatan sumber daya manusia dalam menunjang pelaksanaan kegiatan proyek dan pengaruh desentralisasi terhadap pelaksanaan proyek. Peranan Gender di Indonesia PUTKATI merupakan proyek terpadu antara subsektor Peternakan (sebagai “executing agency”), Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan Perkebunan (sebagai “supporting agency”) yang bertujuan sebagai berikut. 1. Meningkatkan pendapatan petani berpendapatan rendah; 2. pembangunan usaha tani sebagai usaha terpadu; 3. pemanfaatan sumber daya lahan secara optimum dan ramah lingkungan; 4. peningkatan populasi sapi Bali; dan 5. pemerataan pendapatan petani melalui penyebaran ternak kepada petani miskin. Sesuai dengan tujuan tersebut, sangat wajar apabila peran “Gender” sangat penting. Hal itu dapat dimengerti karena dari hasil penelitian yang sudah ada (Siwi, 1997), peran gender sangat dominan dalam pembangunan usaha tani, dan peningkatan pendapatan petani. Peran gender juga sangat menentukan dalam usaha tani ternak dan usaha penyebaran ternak oleh pemerintah (Sri Wahyuni, 1997). Oleh karena PUTKATI sudah dilaksanakan sejak tahun 1996/1997, diharapkan peran gender sudah menjadi agenda kegiatan utama PUTKATI sehingga hasilnya akan sesuai dengan yang direncanakan Seperti diketahui, populasi wanita di Indonesia melebihi jumlah pria, yaitu mencapai 51 % dan cenderung meningkat setiap tahunnya, sebagian besar (66%) hidup di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian. Terdapat sekitar 15,9 juta wanita bekerja di sektor pertanian dan akan terus bertambah sampai 41,3 juta pada tahun 2000. Oleh karena itu, tingkat partisipasinya di dalam tenaga kerja juga meningkat, yaitu 46% tahun 1980, 54% tahun 1990, dan 64% tahun 1996 (BPS, 1996). Di sisi lain, terjadinya kerusakan lahan dan menyempitnya lahan pertanian telah mendorong pemerintah untuk mempersiapkan wanita menjadi tenaga kerja. Baharsyah (1997) menyatakan bahwa dalam pembangunan pertanian, perlu lebih banyak perhatian untuk memperdayakan sumber daya wanita. Lebih jauh lagi Wasito (1998) menekankan bahwa perempuan sebagai bagian dari sumber daya manusia perlu diberdayakan supaya tidak menjadi beban negara. Murpratomo (1992) mengumumkan bahwa diversifikasi pertanian melalui integrasi peternakan ke dalam usaha ani merupakan usaha efektif. Akan tetapi, masih terdapat sejumlah masalah dan hambatan dalam memajukan usaha peternakan. Masalah utama adalah kekurangan teknologi akibat rendahnya produktivitas disertai sistem pemasaran yang tidak efisien dan kurang teroganisir (Suhaji, 1991). Menurut strategi pembangunan, peternakan harus diarahkan ke peternak kecil yang memiliki ciri–ciri semua kegiatan dikerjakan oleh keluarga dan ketrampilan rendah dengan alat sederhana. Sehubungan dengan hal tersebut, pengembangan peternakan hendaknya ditempuh melalui peningkatan pengetahuan peternak disertai introduksi teknologi tepat guna. Tujuan Tujuan studi evaluasi peran gender di PUTKATI sebagai berikut. Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 119 1. Menentukan peran gender di rumah tangga; 2. menentukan peran gender di usaha tani ternak; 3. menentukan peran gender dalam kegiatan proyek; 4. menentukan peran gender dalam melaksanakan kegiatan di pedesaan; 5. menentukan peran gender dalam meningkatkan pendapatan petani; 6. menentukan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan proyek dan dampak yang diperoleh dari hasil proyek. Metodologi Penelitian 1. Teknik Pendekatan Teknik Pendekatan yang dipakai (a) lokasi penelitian; (b) klasifikasi wilayah penelitian berdasarkan zone; (c) kerangka penarikan contoh dan jumlah responden; (d) pengelompokkan rumah tangga petani berdasarkan luas penguasaan lahan dan pendapatan per kapita; dan (e) metode analisis data. Hasil analisis dijadikan dasar untuk mengevaluasi dampak proyek PUTKATI pada masing-masing wilayah. Pendekatan logical framework (Log-frame) digunakan agar kegiatan itu dapat dilaksanakan dengan hasil yang terukur (accountable) log-frame baseline disajikan pada lampiran I yang mencakup tujuan akhir (goal), manfaat (outcomes), luaran (outputs), kegiatan (activities) (Fardiaz dkk., 1999). Benchmark survey didasarkan pada hasil surpervisi UNOPS. Survei dilakukan dengan kuesioner terstruktur dan semistruktur. Pengumpulan data primer di tingkat petani maupun informan kunci dilakukan dengan wawancara yang mencakup hal berikut. a. Sumber daya yang ada; b. penggunaan sumber daya; c. rumah tangga; d. sasaran dan keinginan (di) rumah tangga petani; e. komunitas; f. dukungan kelembagaan; g. masalah dan kendala; h. kesempatan untuk perbaikan/pengembangan. 2. Kerangka Pemikiran Analisis gender adalah metode penelitian untuk identifikasi sebagai berikut. a. Profil kegiatan untuk menjawab siapa dan melakukan apa; b. profil akses dan kontrol untuk mengetahui siapa yang memiliki akses dan kontrol terhadap sumber daya dan keuntungan; c. faktor yang mempengaruhi kegiatan, akses, dan kontrol untuk menjawab bagaimana dan mengapa (KERSTAN, 1993). Sementara itu, FAO dan IIRR (1995) menekankan bahwa analisis gender menolong dalam hal berikut. Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 120 1. Mendesain program yang dapat membedakan antara berbagai peranan, interest, dan kebutuhan laki-laki dan perempuan; 2. meningkatkan peranan produktif dari wanita tanpa menambah beban mereka; 3. menciptakan proyek yang mendorong kemitraan antara laki-laki dan perempuan dalam menentukan masa depan mereka. Kedua metode tersebut sesuai dalam tujuan studi. Hal itu sesuai pula dengan dengan anjuran hasil penelitian Syarief (1997) dan Baharsyah (1997) yang menekankan pentingnya peranan analisis gender dalam pembangunan pertanian. Lokasi Penelitian Lokasi proyek meliputi propinsi Sulawesi Utara (Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow), Propinsi Gorontalo (Kabupaten Gorontalo dan Bualerno), Propinsi Sulawesi Selatan (Kabupaten Bulukumba, Polmas, Mamuju, Luwu dan Luwu Utara). Data dan Sumber Data Klasifikasi dampak proyek berdasar rekomendasi hasil supervisi UNOPS yang meliputi peningkatan gizi dan ketahanan pangan, peranan wanita tani, pendapatan keluarga tani, hasil pelatihan, dan pengaruh desentralisasi dari hasil pelaksanaan proyek Penarikan Contoh dan Model Analisis Penarikan contoh acak lengkap berdasar klasifikasi dampak dan target group maka dilakukan system stratified purposive random sampling. Stratifikasi berdasar target group penerima proyek dan tidak penerima proyek, petani, wanita tani, staf proyek (untuk dampak pelatihan), staf di dalam dan di luar proyek (untuk dampak desentralisasi), dan stratifikasi berdasar lokasi. Survei dilakukan dengan kuesioner terstruktur dan semistruktur. Pengumpulan data primer di tingkat petani maupun informan kunci dilakukan dengan wawancara yang mencakup (a) karakteristik rumah tangga tani; (b) struktur penguasaan lahan; (c) struktur pendapatan; (d) struktur pengeluaran; (e) tingkat penerapan teknologi dan struktur ongkos; (f) persepsi petani; dan (8) kendala. Jumlah responden mencapai 162 yang terbagi atas wanita tani 27, petani 63, staf proyek 18, staf di luar proyek 18, dan respoden di luar proyek sebanyak 36 orang. Di samping itu, dilakukan wawancara kepada kelompok tani, kelompok petani Putkati, dan kelompok wanita tani/arisan/simpan pinjam. Metode analisis yang digunakan adalah analisis before dan after proyek yang didasarkan pada rekomendasi hasil supervisi UNOPS. Analisis deskriptif dan tabulasi silang digunakan untuk memperoleh informasi yang komprehensif tentang data hasil evaluasi dampak proyek. Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 121 PEMBAHASAN Dari hasil kuesioner dan wawancara yang telah dilaksanakan kepada wanita tani responden, diperoleh hasil sebagai berikut. I. Karakteristik Rumah Tangga Pada umumnya, wanita tani memegang kendali dalam semua kegiatan rumah tangga, mulai dari memasak, mengurus anak, membersihkan dan membereskan rumah tangga dan sekitarnya. Kecuali di propinsi Gorontalo, hanya 67% dari wanita tani yang menangani kegiatan rumah tangga, baik dari kabupaten Gorontalo maupun dari kabupaten Bualeno. II. Keragaan Usaha Tani Untuk tugas dan pekerjaan usaha tani, peranan wanita tani sangat bervariasi, baik dari lokasi maupun dari macam pekerjaan. Adapun rincian diferensiasi peranan tersebut sebagai berikut. 1. Peranan wanita tani paling dominan dalam mengatur keuangan pengeluaran kegiatan usaha tani, di Sul Sel dan Sulut 100% dan di Gorontalo 67%. 2. Disusul dengan kegiatan menjual hasil usaha tani, peranan wanita tani mencapai 71% yang terinci untuk Sulsel 82%, Sulut 75%, dan Gorontalo 33%. 3. Peranan mereka juga masih dominan untuk memutuskan peminjaman uang atau faktor produksi (59%), yakni 75% wanita tani di Sulut masih memutuskan masalah keuangan usaha tani sedangkan Sulsel sebanyak 64 % dan, Gorontalo masih cukup besar 33%. 4. Untuk kegiatan bercocok tanam, ternyata peranan wanita tani masih lebih dominan dari laki, yaitu sebanyak 54%, wanita tani Sulsel mencapai 43%, Sulut 100 %, dan Gorontalo sebesar 33%. 5. Untuk kegiatan usaha tani ternak, ternyata 52% wanita tani di daerah proyek lebih berperan dari pada suaminya/ laki-laki 6. Sedangkan kegiatan yang menentukan komoditi yang akan diusahakan, kaum lelaki masih lebih menentukan (peranan wanita tani hanya sebesar 7 % , itu saja hanya di Sulut). 7. Begitu juga halnya keputusan untuk menentukan waktu tanam, panen pengadaan pupuk dan keputusan untuk pengadaan faktor produksi, peranan wanita tani baru mencapai 7 %, 7%, dan 11%. III. Kegiatan Proyek Dalam menyukseskan kegiatan proyek, ternyata peranan gender masih cukup menentukan. Para wanita tani (44 %) secara meyakinkan ikut aktif dalam proyek, 49% aktif dalam pengelolaan ternak yang telah disebarkan dari proyek dan 50 % yang berkaitan dengan menjual hasil ternak proyek, serta 25 % berkeputusan untuk melanjutkan kegiatan proyek IV. Keragaan di Tingkat Pedesaan Sebagai penduduk desa, peranan wanita tani ternyata juga sangat nenentukan suksesnya pembangunan pedesaan dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Dari hasil survei, 62% wanita Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 122 tani ikut secara aktif dalam kegiatan PKK (70%), kegiatan proyek di tingkat pedesaan/kampungnya (58 %), dan kegiatan organisasi wanita tani lainnya, seperti kelompok tani (61 %). V. Kegiatan untuk Menambah Pendapatan Keluarga Dalam kegiatan untuk menambah pendapatan keluarga, ternyata peranan wanita tani sangat menentukan. Mereka sangat aktif dalam berdagang (53%), beternak (38 %), dan membantu suami berusaha/berdagang (29%). VI. Dampak Dalam menentukan dampak yang dirasakan bermanfaat, 54% responden menyatakan hasil penggunaan pupuk khususnya dari penggunaan ternak dalam usaha tani terpadu sangat menentukan keberhasilan usaha taninya VII. Masalah Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan proyek adalah penyakit ternak (23%) dan kematian induk (14 %). VIII. Keragaan Peranan Gender di Tiap Propinsi Bila analisis peranan wanita tani dilihat dari lokasi proyek maka hasilnya sebagai berikut. 1. Daerah Sulawesi Utara Tabel 1 Keragaan Umum di Sulawesi Utara Kabupaten Tugas Rumah Tangga Tugas Usaha tani Dalam Proyek Kegiatan Desa Menambah Pendapatan Keluarga Minahasa 100 % 59 % 42 % 89 % 45 % Bolang Mangondow 100 % 44 % 19 % 58 % 25 % Sulawesi Utara 100 % 52 % 31 % 74 % 35 % Secara rinci, dari tiap kegiatan terdapat subkegiatan sebagai berikut. Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 123 Tabel 2 Keragaan Gender pada Usaha tani di Sulawesi Utara Subkegiatan UsahaTani Kab. Minahasa Kabupaten Bolang Mongandow Propinsi Sulawesi Utara Bercocok Tanam 67 % 100 % 86 % Beternak 100 % 50 % 71 % Menentukan komoditi yang diusahakan 33 % 0 % 14 % Mengatur keuangan usaha tani 100 % 100 % 100 % Menentukan waktu ber- usahatani 33 % 0 % 14 % Menentukan pengadaan faktor produksi 33 % 0 % 14 % Mencari Faktor Produksi 0 % 0 % 0 % Menjual hasil usaha tani 100 % 75 % 86 % Meminjam uang / faktor produksi 67 % 75 % 71 % Tabel 3 Keragaan Proyek di Sulawesi Utara Kegiatan Proyek Kab. Minahasa Kabupaten Bolang Mongandow Propinsi Sulawesi Utara Aktif ikut 33 50 43 Pelaksana pengelola ternak 67 25 43 Menjual hasil usaha 50 25 43 Meneruskan kegiatan lanjutan proyek 33 25 29 Tabel 4 Keragaan di Pedesaan Provinsi Sulawesi Utara Kegiatan di Pedesaan Kab. Minahasa Kabupaten Bolang Mongandow Propinsi Sulawesi Utara Ikut Kegiatan PKK 100 75 87 Ikut kegiatan proyek didesa/ kampung 100 50 71 Ikut kegiatan wanita tani lainnya 67 50 57 Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 124 Tabel 5 Keragaan untuk Menambah Pendapatan di Provinsi Sulawesi Utara Kegiatan untuk menambah pendapatan Kab. Minahasa Kabupaten Bolang Mongandow Propinsi Sulawesi Utara Berdagang 100 50 57 Membantu usaha suami 0 25 14 Beternak 33 25 29 2. Propinsi Gorontalo Tabel 6 Keragaan Umum di Prop. Gorontalo Kabupaten Tugas Rumah Tangga Tugas Usaha Tani Dalam Proyek Kegiatan Desa Menambah Pendapatan Keluarga Kab.Bualeno 67% 33% 59% 67% 67% Kab.Gorontalo 67% 19% 59% 67% 56% Prop.Gorontalo 67% 26% 59% 67% 50% Secara rinci, dari tiap subkegiatan sebagai berikut. Tabel 7 Keragaan Gender pada Usaha Tani/Kabupaten di Prop. Gorontalo Subkegiatan Usaha Tani Kab. Bualemo Kabupaten Gorontalo Propinsi Gorontalo Bercocok tanam 33 33 33 Beternak 66 33 50 Menentukan komoditi yang diusahakan 0 0 0 Mengatur keuangan usaha tani 67 67 67 Menentukan waktu ber- usahatani 0 0 0 Menentukan pengadaan faktor produksi 33 0 17 Mencari faktor produksi 0 0 0 Menjual hasil usaha tani 33 33 33 Meminjam uang / faktor produksi 67 0 33 Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 125 Tabel 8 Keragaan Proyek di Prop. Gorontalo Kegiatan Proyek Kab. Bualeno Kabupaten Gorontalo Propinsi Gorontalo Aktif ikut 67 67 67 Pelaksana pengelola ternak 67 67 67 Menjual hasil usaha 67 67 67 Meneruskan kegiatan lanjutan proyek 33 33 33 Tabel 9 Keragaan di Pedesaan Prop. Gorontalo Kegiatan Proyek Kab. Bualemo Kabupaten Gorontalo Propinsi Gorontalo Ikut Kegiatan PKK 67 67 67 Ikut kegiatan proyek di desa / kampung 67 67 67 Ikut kegiatan wanita tani lainnya 67 67 67 Tabel 10 Keragaan untuk Menambah Pendapatan di Prop. Gorontalo Kegiatan untuk menambah pendapatan Kab. Bualeno Kabupaten Gorontalo Propinsi Gorontalo Berdagang 67 67 67 Membantu usaha suami 67 0 33 Beternak 67 33 50 Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 126 3. Propinsi Sulawesi Selatan Tabel 11 Keragaan Umum di Prop. Sulawesi Selatan Kabupaten Tugas Rumah Tangga Tugas Usaha Tani Dalam Proyek Kegiatan Desa Menambah Pendapatan Keluarga Bulukumba 80 33 13 0 13 Polmas 93 44 33 33 25 Mamuju 87 37 42 100 88 Luwu 93 33 33 56 33 Luwu Utara 100 41 33 33 75 Propinsi Sulsel 91% 37% 27% 48% 26% Secara rinci, tiap kegiatan mempunyai subkegiatan sebagai berikut. Tabel 12 Keragaan Gender pada Usaha Tani/Kabupaten di Prop. Sulawei Selatan Macam- macam sub kegiatan UsahaTani Kab. Bulu - Kumba Kabupaten Polmas Kab. Mamuju Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Propinsi Sulawesi Selatan Bercocok Tanam 0 67 33 33 67 43 Beternak 0 33 33 33 67 36 Menentukan komoditi yang diusahakan 0 0 0 0 0 0 Mengatur keuangan usaha tani 100 100 100 100 100 100 Menentukan waktu ber usaha tani 0 0 0 0 0 0 Menentukan pengadaan faktor produksi 0 0 0 0 0 0 Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 127 Tabel 12 Keragaan Gender pada Usaha Tani/Kabupaten di Prop. Sulawei Selatan (lanjutan) Mencari faktor produksi 0 0 0 33 0 7 Menjual hasil usaha tani 100 100 67 100 67 79 Meminjam uang/ faktor produksi 100 100 67 33 67 64 Tabel 13 Keragaan Proyek di Prop. Sulawesi Selatan Kegiatan Proyek Kab. Bulu - kumba Kabupaten Polmas Kab. Mamuju Kab. Luwu Kab.Lu- wu Utara Propinsi Sulawesi Selatan Aktif ikut 0 33 0 33 33 21 Pelaksana pengelola ternak 0 33 33 33 67 36 Menjual hasil usaha 50 33 33 33 33 36 Meneruskan kegiatan lanjutan proyek 0 33 0 33 0 14 Tabel 14 Keragaan Gender di Pedesaan Prop. Sulawesi Selatan Kegiatan di pedesaan Kab. Bulu - Kumba Kabupaten Polmas Kab. Mamuju Kab. Luwu Kab.Lu- wu Utara Propinsi Sulawesi Selatan Ikut kegiatan PKK 0 33 100 100 33 57 Ikut kegiatan proyek di desa/ kampung 0 33 100 0 33 36 Journal The WINNERS, Vol. 2 No. 2, September 2001: 116-129 128 Tabel 14 Keragaan Gender di Pedesaan Prop. Sulawesi Selatan (lanjutan) Ikut kegiatan wanita tani lainnya 0 33 100 67 33 50 Tabel 15 Keragaan untuk Menambah Pendapatan di Prop. Sulawesi Selatan Kegiatan untuk menambah pendapatan keluarga Kab. Bulu - Kumba Kabupaten Polmas Kab. Mamuju Kab. Luwu Kab.Lu - wu Utara Propinsi Sulawesi Selatan Berdagang 50 33 33 67 0 36 Membantu usaha suami 0 0 0 0 33 7 Beternak 0 0 100 0 67 36 PENUTUP Simpulan Dari hasil analisis studi, didapat simpualan sebagai berikut. 1. Peran ibu rumah tangga sangat dominan dalam menyelesaikan tugas dan urusan rumah tangga. Mereka juga dominan dalam memutuskan masalah rumah tangga yang terdiri dari memasak, mengurus anak, membersihkan, membereskan rumah, memegang kendali keuangan rumah tangga, dan mengatur pendidikan anak 2. Tenyata, wanita tani sangat berperan sebagai menteri keuangan dan menteri perencanaan dalam melaksanakan dan memutuskan kebijakan dan tugas usaha tani. Fungsi bapak tani lebih berperan dalam pengadaan faktor produksi dan menentukan macam komoditi yang diusahakan. 3. Dalam kegiatan proyek (seperti dalam paket sapi dan kambing), peran wanita tani juga menentukan. 4. Dalam kegiatan pedesaan, para wanita tani sangat berperan secara aktif, seperti PKK, dan sebagainya. 5. Untuk kegiatan menambah pendapatan keluarga, ibu yang berdagang dan beternak sangat dominan. 6. Analisis hasil berdasar lokasi, peran wanita tani di propinsi Gorontalo perlu lebih didorong dibandingkan dengan propinsi Sulut dan Sulsel. Peranan Gender dalam Usaha Tani… (Budiman Notoatmojo) 129 Saran 1. PUTKATI disarankan lebih menyerahkan kegiatan proyek kepada wanita tani, misalnya penanganan dan penentuan distribusi ternak dan agro input, pelatihan, penyuluhan, dan lain sebagainya 2. Disarankan agar peserta kegiatan pelatihan banyak dari wanita tani. 3. Kegiatan proyek untuk gender lebih ditingkatkan di propinsi Sulut dan Sulsel. DAFTAR PUSTAKA Adnyana, M.O., dan R.S. Rivai. 2000. Survei Pendasaran Pengembangan Teknologi Spesifik Lokasi. Lembaga Penelitian IPB Bekerja Sama dengan Badan Litbang Pertanian. Baharsyah, J.S. 1997. “Potensi, Permasalahan, dan Alternatif Pendekatan Pemberdayaan Sumber Daya Wanita Memasuki Industrialisasi Pedesaan.” Lokakarya Pemberdayaan Sumber Daya Wanita Pengembangan Agribisnis di pedesaan. Jakarta, 28 Juli 1997. Berlo, D.K. 1960. The Process of Communication. Chicago: Chicago Press. Fardiaz, D., J. Hartmann, E. Armanto, S. Kusumohadi, E.D. Arifin. 1999. Bahan Lokakarya Analisis SWOT bagi Tim Asistensi Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Paket II, PAATP. Gandarsih, Tuty Retno Widaningrum dan Harsoyo. 1997. Peranan Tenaga Kerja Wanita Tani pada Berbagai Usaha Tani di Kelurahan Duren, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pusat Studi Wanita.Yogyakarta: Univ. Gajah Mada. Manwan, I and M.O. Adnyana. 1992. “Research and Development for Sustainable Farming System in Indonesia.” Journal Asian Farming System Association. 1:395-495. Bangkok. Sumaryanto dan S.M. Pasaribu. 1997. “Struktur Penguasaan Lahan di Pedesaan Lampung: Studi Kasus di Enam Desa Provinsi Lampung.” Prosiding Agribisnis: Dinamika Sumber Daya dan Pengembangan Sistem Usaha Pertanian. Buku II. hlm. 209-223. Bogor: Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Szal, R and R. Robinson. 1997. “Measuring Income Inequality,” dalam C.R. Frank and R.C. Webb (ed), Income Distribution an Growth in Less Developed Countries. The Brooking Institution, hlm. 491-533. Wahyuni, Sri. 1998. Analisis Gender pada Usaha Ternak Perah. Bogor: Balai Penelitian Ternak. Wasito dan Nova P. 1998. “Pemberdayaan Wanita dalam Usaha Tani.” Seminar Nasional Teknologi Spesifik Lokasi. Jakarta.