Microsoft Word - 07_Dedi W._Industri.doc Journal The WINNERS, Vol. 7 No. 2, September 2006: 164-173 164 POTENSI DAN PROSPEK INDUSTRI KECIL Dedi Walujadi 1 ABSTRACT The manufacturing sector has retained its importance in the Indonesian Economy. Since 1990 it has surpassed the agricultural sector as the main contributor to the Gross Domestic Product (GDP). Article analyses strenght and weaknesses of the small-scale manufacturing industries (SSIs). By ussing the economic contribution approach and the framework proposed by Pyke, based on 2003 data provided by BPS- statistics Indonesiathe study investigates the SSIs performance in relation to their economic contribution, the collective efficiency, constant innovation and economic of scope strategy. It is conluded that Pyke’s framework was not apply since SSIs facing lack of social infrastructures and knowledge, and mostly less educated compared with the larger one. The empirical evidence also shows that in terms of value added and labor absorption, its share less than 1 % and 16 % respectively of the whole of industrial sectors. Keywords: small scale industries ABSTRAK Sektor industri pengolahan merupakan merupakan sektor penggerak dalam perekonomian Indonesia, menggantikan sektor pertanian sejak tahun 1990. Berdasarkan pendekatan kontribusi ekonomi dan kerangka pikir kerja sama yang berdasarkan sistem efisiensi kolektif, inovasi secara terus menerus, dan strategi ruang lingkup ekonomis yang diajukan oleh Pyke (1993). Artikel menganalisis kekuatan dan kelemahan usaha industri berskala kecil menggunakan data tahun 2003. Hasil analisis menunjukkan kerangka pikir kerja sama belum terjadi karena lemahnya SDM dan infrastruktur sosial. Selain itu, hasil studi juga menunjukkan nilai tambah IK kurang dari 1 persen dengan tingkat penyerapan tenaga kerja sebesar 16 persen. Kata kunci: Industri kecil 1 Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, UBiNus, Jakarta Potensi dan Prospek… (Dedi Walujadi) 165 PENDAHULUAN Saat ini, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memperoleh tugas yang penting dalam perencanaan pembangunan ekonomi nasional. Hal itu dibuktikan dengan semakin besarnya kepercayaan pemerintah berupa pemberian berbagai fasilitasi modal, promosi, dan kesetaraan akses bagi UMKM dalam mengikuti tender proyek pemerintah. Aspek pengembangan dan pembinaan UMKM sebenarnya sudah semakin ditingkatkan sejak tahun 1994, meliputi bukan hanya pada aspek teknis, melainkan juga pada aspek usaha, yaitu dengan dibentuknya Departemen Koperasi dan PPK. Disadari bahwa aspek pengembangan dan pembinaan UMKM pada umumnya dan Industri berskala Kecil (IK) pada khususnya, sangat penting ditinjau, baik dari sisi sosial maupun sisi ekonomi (UN, 1969). Dari sisi sosial, industri berskala kecil merupakan salah satu alat utama untuk menstimulir kewirausahaan pribumi, mengembangkan keterampilan pengrajin tradisional, dan sebagai alat ampuh menanggulangi masalah pengangguran. Dari sisi ekonomi, IK mampu memberikan jalan keluar bagi tidak tersedianya prasarana fisik penopang industri berskala besar di kota besar dengan industrial dispersal-nya. IK juga terbukti mempunyai fleksibilitas lokasi yang tidak dipunyai industri berskala besar, yaitu dapat didirikan di daerah pinggiran dan mampu memanfaatkan tenaga kerja murah dengan sistim sub-kontrak. Selain itu, IK sangat bermanfaat dari sisi diversifikasi struktur industri dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak tersentuh oleh industri berskala besar yang pada akhirnya meningkatkan aspek pembentukan modal masyarakat. Masalahnya, keunggulan komparatif tersebut di atas tidak menjadikan IK sebagai suatu usaha yang secara teknis dan ekonomis dapat didirikan oleh siapa pun dan dimana pun dia berada. Keunggulan komparatif tersebut yang pada sisi lain dapat ditunjukkan oleh kemampuan IK untuk berkompetisi dengan industri besar (co-exist) hanya terdapat pada beberapa jenis industri tertentu. Oleh karena itu, merupakan pekerjaan rumah bagi strategi pembangunan industri Indonesia adalah mengenali jenis industri kompetitif tersebut dan mengembangkannya. Penelitian ini akan mengulas peta kekuatan IK dari aspek kontribusi ekonomi dan dalam konteks industri nasional, selain menganalisis potensi dan kendala yang dihadapi IK menggunakan kerangka kerja (framework) yang dikembangkan oleh Pyke (1993) sebagai collective efficiency, economic of scope, dan constant innovation yang diperoleh atas dasar prinsip kerja sama. Journal The WINNERS, Vol. 7 No. 2, September 2006: 164-173 166 PEMBAHASAN Strategi Kedepan Industri Berskala Mikro dan Kecil Dalam menganalisis kemampuan industri kecil menghadapi era persaingan global, studi ini menggunakan dua metode analisis. Pertama adalah berdasarkan aspek kontribusi ekonomi dalam bentuk perbandingan jumlah industri berdasarkan skala usaha dengan besaran kontribusi yang dihasilkannya, berupa penyerapan tenaga kerja dan nilai tambah yang dihasilkan. Kedua adalah berdasarkan potensi dan prospeknya di masa yang akan datang, berupa pendekatan strategi dengan lingkup ekonomis yang tepat. Untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi dalam era globalisasi dimana persaingan semakin ketat dan perubahan selera konsumen yang semakin cepat, diperlukan berbagai strategi (Cooper, A.C., 1981). Berdasarkan potensi yang dipunyainya, sebenarnya terdapat berbagai strategi yang masih relevan untuk dapat digali dan dikembangkan pada industri kecil untuk dapat sukses berkompetisi. Strategi tersebut adalah sistem collective efficiency, economic of scop, dan constant innovation yang diperoleh atas dasar prinsip kerja sama (Pyke, 1993). Menurut Pyke, collective efficiency dilakukan dengan cara berikut. Pertama, setiap usaha industri kecil melakukan spesialisasi, bahkan kalau perlu membeli mesin yang mahal sekali pun dan digunakan secara kolektif. Selain itu, setiap usaha sejenis dapat memanfaatkan tenaga kerja pada usaha lain secara bergantian dan saling memanfaatkan informasi yang diperoleh. Kedua, menggunakan jasa asosiasi, jaringan usaha kecil dan dilakukan secara kolektif, atau menggunakan jasa pemerintah (unit pelaksana teknis) untuk semua kebutuhan yang berkaitan dengan pembuatan desain baru, riset pasar, advertensi, penjualan dan distribusi, keuangan, pelatihan kerja, dan pembelian bahan baku. Dengan cara tersebut, skala ekonomis dapat dicapai dan peningkatan kapasitas produksi dan penggunaan secara penuh kapasitas yang tersedia akan mengamankan tingkat efisiensi dan mengurangi biaya per unit produksi. Selain dituntut kemampuannya dalam menghasilkan produksi dalam jumlah yang cukup besar, dalam menghadapi perubahan dan fluktuasi permintaan konsumen yang sangat cepat, industri kecil dituntut untuk memberikan respon secara cepat terhadap berubahnya pola produksi dan persyaratan pemasaran (economies of scope). Dengan kata lain, suatu usaha yang hanya mengandalkan skala ekonomis tanpa memperhatikan lingkup ekonomis akan mengalami kesulitan dengan terjadinya perubahan permintaan pasar. Menurut Pyke, lingkup ekonomis dapat terwujud antara lain oleh: Kemampuan berwirausaha; Fleksibilitas yang tinggi, baik di dalam maupun di luar perusahaan, yang dimungkinkan oleh tersedianya teknologi mutakhir, tenaga terdidik, dan kerja sama antarindustri; Kerjasama antarperusahaan; Jaringan informasi yang cepat, kuat, dan keinginan untuk bertukar pengalaman; Dan tersedianya institusi khusus pemberi jasa. Potensi dan Prospek… (Dedi Walujadi) 167 Apabila syarat tersebut terpenuhi, industri kecil mampu menawarkan produk yang bervariasi dengan harga bersaing dan memenuhi selera konsumen, berpenampilan menarik, berkualitas, dan dapat diproduksi secara cepat dan efisien. Strategi ketiga yang merupakan kunci keberhasilan industri kecil dalam era globalisasi adalah “kerja sama” antarberbagai industri yang berbeda tahapan produksinya, misalnya industri pembuat mesin dengan industri pemakai mesin tersebut. Kerja sama antartahapan produksi yang berbeda mengakibatkan terakomodirnya permintaan konsumen yang cepat berubah dengan munculnya inovasi baru (constant innovation). Data yang digunakan untuk menganalisis peta kekuatan industri berskala kecil dan dan sekaligus mikro (kerajinan rumah tangga) pada penelitian ini adalah Survei Usaha Terintegrasi (SUSI) 2003 yang dilaksanakan oleh BPS. SUSI merupakan sumber data dan informasi bagi usaha berskala mikro dan kecil di delapan sektor kegiatan ekonomi, selain pertanian yang dilakukan secara rutin setiap tahun, sejak tahun 1998. Sementara, untuk usaha industri berskala sedang dan besar, data dan informasi yang diperoleh adalah dari Survei Perusahaan Industri Manufaktur Tahunan yang dilakukan secara lengkap ke seluruh perusahaan di Indonesia (Sensus) sejak Sensus Industri tahun 1975. Arus Globalisasi dan Potensi Industri berskala Mikro dan Kecil Dalam masyarakat yang mengarah ke era globalisasi dan mempunyai kecenderungan “membayar untuk barang yang berkualitas”, eksistensi industri kecil perlu dipertanyakan. Meningkatnya secara alamiah pendapatan masyarakat mengakibatkan harga tidak lagi menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Masyarakat konsumen lebih peka terhadap kualitas dan tampilan produk, disamping keragamannya. Hal itu mengakibatkan permintaan pasar menjadi mudah berubah-ubah. Menghadapi perubahan pasar dan semakin ketatnya kompetisi pada pasar global, industri kecil perlu mengubah cara mengorganisasikan dirinya. Sebagai gambaran umum bagaimana pentingnya industri berskala mikro dan kecil terhadap penyerapan tenaga kerja dan nilai tambah (value added) industri manufaktur secara keseluruhan, berikut disajikan beberapa tabel dan grafik dari hasil sensus dan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2003. BPS mendasarkan pembagian kriteria skala industri atas dasar tenaga kerja. Industri dikatakan berskala besar apabila mempunyai tenaga kerja > 100 orang, industri menengah antara 20-99 orang, industri kecil 5-19 orang, dan industri berskala mikro (rumahtangga) sebesar 1-4 orang. Journal The WINNERS, Vol. 7 No. 2, September 2006: 164-173 168 Banyaknya Perusahaan Besar dan Sedang 0,76%Kecil 8.86% Rumahtangga 90,38% Tabel 1 Jumlah Perusahaan Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Skala Industri Banyaknya Persentase Rumahtangga 2,406,058 90.38 Kecil 235,851 8.86 Besar dan Sedang 20,324 0.76 Jumlah 2,662,233 100.00 Sumber data: BPS, diolah kembali Grafik 1 Jumlah Perusahaan Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Data tahun 2003 yang disajikan dalam tiga tabel menggambarkan potensi masing-masing industri berdasarkan skala. Seperti yang dilihat pada Tabel 1, dari sisi jumlah perusahaan industri kecil dengan jumlah sebanyak 235,851 perusahaan, secara relatif cukup dominan. Populasinya hampir mendekati 9 persen atau merupakan 1 dari sebelas usaha dari belantara industri manufaktur sebanyak hampir 2.7 juta usaha dan kebanyakan berskala sangat kecil (micro enterprises). Sementara dari sisi penyerapan tenaga kerja (Lihat tabel 2), terlihat bahwa industri berskala mikro (rumahtangga) merupakan penyerap tenaga kerja terbesar diikuti oleh industri besar/sedang, yaitu masing-masing sebesar 43.57 dan 40.18 persen. Industri Kecil dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebesar 16.25 persen mempunyai potensi yang relatif cukup besar bagi peningkatan tenaga kerja, yaitu sebesar hampir 2 (dua) kali lipat dari jumlah usahanya (BPS, 2005a). Potensi dan Prospek… (Dedi Walujadi) 169 Tenaga Kerja Rumahtangg a 43,57% Kecil 16,25% Besar dan Sedang 40,18% Tabel 2 Jumlah Tenaga Kerja Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Skala Industri Banyaknya Persentase Rumahtangga 4,634,561 43.57 Kecil 1,729,004 16.25 Besar dan Sedang 4,273,880 40.18 Jumlah 10,637,445 100.00 Sumber data: BPS, diolah kembali Grafik 2 Jumlah Tenaga Kerja Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Dari sisi nilai tambah, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3, walaupun dari sisi jumlah perusahaan industri besar/sedang merupakan yang paling kecil (kurang dari 1 persen) tetapi dari sisi perolehan nilai tambah merupakan yang terbesar, yaitu sebesar 96.8 persen dari total perolehan nilai tambah industri manufaktur. Presentase perolehan nilai tambah industri kecil jauh lebih kecil dibandingkan dengan proporsi jumlah usahanya maupun tenaga kerjanya, yaitu hanya sebesar 0.95 persen. Tabel 3 Besarnya Nilai Tambah, atas dasar Harga Pasar, Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Skala Industri Besarnya (Milyar Rp) Persentase Rumahtangga 7,762.1 2.30 Kecil 3,194.7 0.95 Besar dan Sedang 326,784.0 96.75 Jumlah 337,740.8 100.00 Sumber data: BPS, diolah kembali Journal The WINNERS, Vol. 7 No. 2, September 2006: 164-173 170 Nilai Tambah Kecil 0,95% Rumahtang ga 2,3% Besar dan Sedang 96,75% Grafik 3 Besarnya Nilai Tambah, atas dasar Harga Pasar, Industri Manufaktur Menurut Skala, Tahun 2003 Masih berkaitan dengan potensi industri berskala kecil adalah sumber kepemilikan modal. Sebesar 160,622 usaha (68 persen) mengakui bahwa modal yang digunakan untuk menjalankan usahanya adalah 100% milik sendiri. Sementara sebanyak 72,718 usaha (31 persen) sudah memperoleh kepercayaan pihak lain sehingga modal digunakan baik untuk menjalankan maupun memperluas usahanya sebagian adalah berasal dari pihak lain. Sebanyak 32,827 usaha kecil (45 persen) dari yang memperoleh dana pinjaman tersebut mengakui memanfaatkan pinjaman dari Bank, sementara 23,657 usaha (29 persen) memperoleh pinjaman tersebut dari keluarga dan perorangan (BPS, 2005b). Dalam survei tersebut juga terungkap, terdapatnya kesulitan untuk memperoleh tambahan modal yang berasal dari pinjaman dari Bank Pemerintah yang merupakan program untuk meningkatkan peran ekonomi usaha kecil. Sebesar 32.3 persen responden mengakui tidak pernah memperoleh pinjaman dari bank karena tidak memiliki agunan. Sebanyak 17 persen responden mengakui karena tidak memahami prosedurnya, 15 persen responden mengakui karena prosedur untuk mengajukan pinjaman sangat sulit, dan sebanyak 10 persen responden menganggap suku bunga pinjaman terlalu tinggi. Alasan tersebut antara lain yang dapat menjelaskan mengapa tingginya persentase sumber pinjaman yang berasal dari perorangan, sebesar 12 persen, dan keluarga, sebesar 17 persen. Aspek menarik lainnya berkaitan dengan potensi dan perluasan usaha adalah kemitraan yang dilakukan oleh industri kecil dengan principal usaha (bapak angkat). Sebanyak 22.4 persen mengakui memiliki kemitraan dengan bapak angkat, dengan rincian 19 persen usaha memperoleh bantuan uang atau barang modal, 40 persen usaha memperoleh kemudahan pengadaan bahan baku, 63 persen usaha berupa bantuan pemasaran, dan sebesar 6 persen usaha memperoleh bantuan berupa bimbingan/pelatihan. Potensi dan Prospek… (Dedi Walujadi) 171 Kendala yang Dihadapi Industri Kecil Merupakan satu keunggulan dari industri kecil yang menyebabkannya mampu bertahan dari gempuran dan ketatnya persaingan dari usaha berskala besar atau sedang adalah kedekatan jangkauannya dengan konsumen. Dengan semakin meningkatnya kualitas infrastruktur, seperti jalan raya dan kemudahan sarana transportasi, kemajuan tersebut disatu sisi apabila tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh industri kecil dapat menjadi bumerang, yaitu membanjirnya produk industri besar dan sedang ke wilayah pemasarannya. Sebanyak 69 persen responden mengakui masih mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya dan 44 persen responden (mayoritas) menyatakan bahwa kesulitan utama yang dihadapi usahanya adalah kelangkaan modal. Sementara responden yang mengakui kesulitan utama yang dihadapi usahanya adalah pemasaran hasil produk adalah sebesar 38.4 persen,dan yang mengakui kesulitan utama yang dihadapi usahanya adalah kontinuitas pengadaan bahan baku untuk produksi sebesar 10 persen. Merupakan suatu rahasia umum, berbagai industri berskala besar mendiversifikasi produknya secara terintegrasi sehingga dengan modal, teknologi, dan penguasaan bahan bakunya dapat menjual barang dengan kualitas lebih baik dan harga lebih murah yang mengakibatkan kematian industri kecil. Adalah suatu upaya bijaksana apabila industri kecil diberi hak hidup dengan cara industri besar mentransfer teknologi dan menyediakan bahan baku yang lebih baik sementara industri kecil mengerjakan tahapan awal proses produksinya. Hal menarik lainnya untuk digali berkaitan dengan eksistensi industri kecil dalam memasuki era globalisasi adalah persepsi pengusaha industri, mengenai prospek usahanya dalam 6 bulan ke depan. Sebanyak 23,080 usaha (9.8 persen) mengaku pesimis dan menganggap 6 bulan kedepan lebih buruk dari kondisi sekarang, 59.6 persen manganggap kondisi akan sama saja, dan sebanyak 30.6 persen optimis bahwa prospek bisnisnya pada 6 bulan kedepan akan lebih baik dari sekarang. Industri Kecil dan Prinsip Kerja Sama Berdasarkan Collective Efficiency, Economic of Scope, dan Constant Innovation, Sejauh Mana Dapat Dilakukan? Untuk menggambarkan sejauh mana potensi sumber daya manusia dan jaringan kerja sama antarperusahaan industri berskala kecil di Indonesia yang merupakan prasyarat dari collective efficiency, economic of scope, dan constant innovation, berikut data dan informasi hasil Survei Usaha terintegrasi (SUSI) 2003. Secara umum, sumber daya manusia di industri kecil secara formal adalah rendah. Sebagian besar (75.6 persen) pengusaha adalah berpendidikan di bawah SLTA dan hanya 2.4 persen tamat perguruan tinggi sehingga diperlukan berbagai upaya terobosan untuk meng-upgrade skill dan knowledge-nya untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia tadi, antara lain melalui penambahan kemampuan, peningkatan wawasan dan informasi melalui berbagai pelatihan jangka pendek atau media penerangan. Journal The WINNERS, Vol. 7 No. 2, September 2006: 164-173 172 Dari sisi kerja sama antarperusahaan, hasil SUSI 2003, juga menunjukkan hanya 6.9 persen responden (sebesar 16,199 usaha) memiliki kerja sama dengan koperasi dan sebesar 52,719 perusahaan (22.4 persen) memiliki kemitraan dengan bapak-angkat (foster-parent). Keadaan itu kiranya memerlukan perhatian yang lebih serius karena disinilah letak kekuatan industri kecil. Potensi kemitraan yang sudah cukup kuat (hampir mendekati 30 persen) perlu lebih ditingkatkan lagi, khsususnya dalam pengembangan dan pelatihan SDM. Sebagaimana diuraikan dibagian terdahulu, jaringan kerja sama, menjadi salah satu kunci kisah sukses industri kecil di negara maju. Sekali hal tersebut rapuh, sulit bagi industri kecil berperan di pentas ekonomi nasional. PENUTUP Industri berskala mikro dan kecil keberadaannya sangat krusial bagi perekonomian Indonesia. Seperti yang dapat dilihat dari hasil Survei Usaha Terintegrasi (SUSI) 2003, peran industri kecil masih dapat ditingkatkan lagi. Perolehan nilai tambah yang rendah sangat berkaitan dengan tingkat teknologi yang dikuasai, kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya, dan berbagai dukungan yang belum diperoleh dari pembuat kebijakan. Dari berbagai aspek kepentingan, secara jelas dan nyata keberadaan industri berskala mikro dan kecil sangat dibutuhkan. Dari aspek potensi penyerapan tenaga kerja dan daya tahannya terhadap gejolak dan fluktiuasi ekonomi, ketahanan industri berskala kecil dan mikro tidak perlu diragukan sehingga merupakan suatu keniscayaan bagi pemerintah untuk lebih gencar lagi memberikan berbagai bantuan dan kemudahan kepada industri berskala mikro dan kecil. Bantuan tersebut dapat dilakukan, baik berupa aspek pembinaan, seperti refreshment training; Peningkatan kembali peran UPT sebagai supporting unit; Bantuan desain, informasi pasar, maupun dengan lebih disederhanakannya kembali prosedur pemberian kredit pinjaman lunak untuk UKM. Selain itu, pemerintah perlu memfasilitasi keberadaan UKM dengan membentuk forum kerja sama, baik pada level horisontal dan vertikal sehingga kegiatan bisnis industri kecil dapat lebih sinergi dan optimal. Potensi dan Prospek… (Dedi Walujadi) 173 DAFTAR PUSTAKA BPS. 2005a. Statistik Indonesia 2004. BPS- Jakarta. _______. 2005b. Profil Industri Kecil dan Kerajinan Rumahtangga 2003. BPS- Jakarta. Cooper, A.C. 1981. “Strategic Management: New Ventures and Small Business.” Long Range Planning. Vol. 14, no. 5, pp.39-45. Dedi, W. 1994. Mencari Kiat Mengembangkan Usaha Kecil. YPUK- Bogor. _______. 1995. “Industri Kecil Menapak Era Globalisasi.” Business News. Jakarta: Pyke, Frank. 1993. Industrial Development Through Small Firm Cooperation: Theory and Practice. Geneva: International Labour Office. Unido. 1969. Small-Scale Industry. New York: United Nation.